1

Mishil

Mishil

Nidariah S HS

 

Note : Cerita ini terinspirasi dari drama The Great Queen Seon Deok. Dan diambil dari beberapa sumber artikel catatan sejarah Dinasti Silla. Cerita ini juga hanya fiktif belaka, karena tokoh sebenarnya hanya tercatat dalam buku Hwarang Segi.

 

Ooo Baca lebih lanjut

1

Love Again

Love Again

Nidariah S HS

“I Thought this was the end of my memory
the faces I’ll never see again pass me by
I stood at the end where I couldn’t do anything
I put my hands together and just prayed

So I could show how you my heart
that still hasn’t done everything

Get up again
I want to see you who has waited for me
go back again
I want to say “I Love You”

I thought the entire world stopped
only the happy times pass me by
I stood at the end I thought I wouldn’t have
I just prayed like that

So I can feel the love
that I’ve passed by

Get up again
I want to see you who has waited for me
go back again
I want to say “I Love You”

I’ve lived without knowing
how precious you are

Get up again
I want to see you who has waited for me
go back again
I want to say “I Love You” “
 (S.M The Ballad Kyuhyun – Love Again [english translate])

Cho mengambil kursi belakang kemudi untuk didudukinya, dengan suara gaduh teman-temannya, Cho dan teman-temannya –Jung, Jae, dan Shin- menaiki mobil menuju rumah masing-masing.

“Hei, Cho! Hari ini kau mau pulang kemana?” Tanya Jae yang duduk disamping Cho. Cho menoleh sebentar kemudian membuang napas berat, teringat sesuatu yang nyaris dilupakannya.

“Jung, kau tak keberatan aku menginap dirumahmu, kan? Ini terlalu malam untuk pulang ke rumah, dan terlalu lelah untuk menghalau emosi saat pulang ke rumah,” Beo Cho pada Jung yang duduk di kursi depan, di sisi kursi kemudi.

“Oh, tentu.” Jawab Jung dengan senang hati, sangat mengerti perasaan Cho belakangan ini.

Dan mobilpun mulai melaju.

“Lagipula, kenapa kau tak memberi pengertian pada ayahmu saja soal profesimu, kurasa ia akan mengerti. Daripada kau memaksakan diri seperti ini,” Shin memecah keheningan malam yang menggelantung didalam mobil. Mencoba bersaing dengan suara deru mobil.

“Aku sudah mencobanya, tapi tak membuahkan hasil,” Sahut Cho agak malas. Malas membahas masalahnya lagi dan lagi.

“Bicarakan dengan kepala dingin Cho,” Jung ikut menimbrung dari tempatnya, membuat Cho mendelik malas ke arah jendela.

“Lalu kenapa tidak kau saja yang katakan pada ayahku?” Balas Cho ketus yang langsung membungkam mulut seisi mobil. Sadar jika Cho sudah sangat malas berbicara.

Cho memejamkan matanya, menikmati kesunyian yang diciptakan malam. Bukan hanya tubuhnya yang kelelahan, pikirannya juga ikut lelah. Meskipun tidak tertidur, tapi memejamkan mata salah satu cara ampuh yang bisa membuatnya tenang, walau hanya sebentar. Ia juga tak yakin akan langsung tidur sesampainya di rumah Jung, tugas kuliah masih meraung-raung mengingatkannya jika Dosen tidak suka ‘pemalas’. Pemalas? Tidak. Kata itu tidak tepat, bagaimanapun ia hanya lelah dan seharusnya ia diberi toleransi karena tubuh manusia itu punya kapasitas sendiri bukan? Tapi itu tidak berlaku untuk tata tertib kuliahnya.

Cho mengintip ke arah jam tangannya, 12.20, bagus, sekarang ia malah berpikir untuk tidak kuliah besok. Mengerjakan tugas malam ini sepertinya tidak akan memberikan hasil yang bagus. Dosen seharusnya tidak mengecapnya sebagai ‘pemalas’ jika dia ada alasan karena tidak masuk, bukan? Ya, seharusnya begitu.

Cho kembali memejamkan matanya, hingga tiba-tiba sopir kehilangan kendali sehingga mobil mereka berputar beberapa kali hingga terbalik dan menabrak trotoar.

Cho tidak begitu menyadari apa yang terjadi, ia hanya mendengar suara hantaman keras . Ia menyadari sesuatu yang tidak beres, mobil itu berputar beberapa kali! Cho kemudian menyadari dirinya sudah terhempas ke sisi jalan dan langsung tidak sadarkan diri.

Hanya beberapa saat, kemudian Cho kembali siuman, meskipun ia merasakan seluruh tubuhnya remuk dan sulit digerakan. Ia sadar satu hal lagi, ia sedang tergeletak di jalanan. Hanya matanya yang bisa bergerak, ia mencari objek apapun atau mendengar suara apapun untuk menjelaskan semuanya. Mimpi, kah?

Cho menghela napas panjang –meskipun membuat dadanya sakit-, ia benar-benar baru mengalami kecelakaan. Ia mencoba menggerakan tubuhnya. Tidak. Tak satupun anggota tubuhnya mau mengikuti perintah otaknya. Hanya rasa sakit yang berteriak-teriak dari tubuhnya, ditambah hangatnya darah yang menembus pori-pori kulitnya.

Saat tengah melawan rasa sakit ditubuhnya dan mencoba untuk sekuat tenaga untuk bangun, tiba-tiba ia melihat Jae yang berlari ke arahnya. Cho juga melihat Jae terluka, meskipun terlihat tidak begitu parah. Cho tidak begitu menangkap apa yang di katakan Jae, tapi ia tahu Jae berdoa di sampingnya dan menggenggam tangan Cho erat.

Cho masih berusaha menggerakan tubuhnya, mencoba bangun dan mengabaikan dadanya yang juga ikut terasa sakit tiap kali ia bernapas. Sia-sia. Dan kali ini ia melihat cahaya putih melesat cepat di depannya, seperti kilat. Kemudian gelap.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, tapi semua seperti…

Apa ini? Cho bisa melihat dirinya sendiri di masalalu. Itu dia! Dia bisa melihat saat ia berkumpul dengan ayah, ibu dan kakak perempuannya. Ia melihat dirinya sedang berlibur di pantai dengan senyum bodoh penuh kebahagiaan terpampang di wajahnya sendiri. Ia juga melihat dirinya saat pertama mengenal sekolah, berteman, dan termasuk kejadian saat…

Seandainya ada pilihan untuk tak melihatnya, maka Cho memilih untuk tak melihatnya. Tapi film di otaknya masih terus berputar, terus bermain. Ia melihat dengan jelas kejadian itu.

‘ayah…’.

‘Apakah sekarang saatnya aku mati?’

 

^^^

Aku memutar tubuhku saat Jae tiba-tiba menarik lenganku dengan langkah lebar-lebar. Aku mengerutkan dahiku bingung, apa-apaan anak ini? Tapi aku tetap mengikutinya dari belakang hingga aku dan Jae keluar dari perpustakaan. Kemudian Jae menghadap ke arahku.

“Kau gila Cho?! Aku menunggumu disini sejak satu jam yang lalu, dan kau malah asyik diam di dalam?!” Pekik Jae yang membuatku sedikit menjauh, dia seperti anak perempuan jika berteriak seperti itu.

“Aku yang sudah menunggumu sejak tadi bodoh! Aku kan sudah bilang, aku menunggumu di perpustakaan. Apa kau tidak mengerti? PERPUSTAKAAN. Bukan DI DEPAN PERPUSTAKAAN.” Aku memberikan penekanan dalam ucapanku, tak terima dengan ucapan Jae.

“Kau mau kita mengobrol di tempat yang hanya boleh mengeluarkan suara 1 desibel? Jangan bercanda Cho!” Balas Jae tak mau kalah.

“Hiii! Jadi, kau mau apa menemuiku? Mau marah-marah dan menyalahkanku terus?” Akupun melipat tangan di dada, dengan tatapan mata angkuh dan menantang.

“Hhh…kau akan menarik sikapmu itu saat kau mendengar berita dariku,” Jae ikut menantangku dengan lagak yang sama. Sial! Dia berhasil membuatku penasaran. “Memangnya ada apa?” Tanyaku yang berhasil membuat senyum kemenangan sekaligus meremehkanku itu mengembang.

“Kita…aku, kau, Jung, dan Shin,” Jae menghentikan ucapannya.

“Iya, ada apa dengan kita berempat? Jangan sengaja membuatku penasaran begitu Jae!” Sungutku sebal, tak habis pikir dia malah mau mempermainkanku begini.

“Kita akan menjadi penyanyi sungguhan. Kita berempat! Menjadi sebuah grup!”

 

 

Aku mengendap masuk ke dalam rumah, memastikan tak ada orang yang memperhatikanku, khususnya ayah. Hari ini aku pulang malam, lagi. Hanya saja jika biasanya aku pulang karena latihan biasa, tapi hari ini aku baru saja menemui produser, aku akan mewujudkan mimpiku sebentar lagi! Tidak sia-sia bukan aku mengambil jurusan musik untuk kuliahku?

“Darimana saja kau, Cho?” Suara dingin itu menggelegar bagai petir, tapi terdengar menyeramkan dan membuat bulu kudukku merinding. Aku menoleh ke arah samping, ayah disana.

“Ini sudah jam berapa Cho? Sejak kapan kau mengambil kuliah malam?” Ayah mulai menginterogasiku, membuatku tersudut untuk yang kesekian kali dan membuat emosiku naik.

“Ayah tahu, aku…”

“Kau pikir kau bisa apa dengan bernyanyi, hah? Kau pikir dengan menyanyi kau bisa membuat masa depanmu lebih baik? Jurusan Musik? Hah! Kau ingin membuat lelucon untuk masa depanmu? Ini bukan saatnya bermain-main dengan masa depanmu!”

Akupun memberanikan diri menghadap ke arah ayah, untuk pertama kalinya aku berani menatap mata ayah secara langsung. “Aku tidak bermain-main. Aku tidak sedang membuat lelucon. Inilah masa depan yang kuinginkan, inilah mimpiku.” Ucapku kemudian, mendengar itu rahang ayah langsung mengeras.

“Kau ini cerdas Cho! Ayahmu seorang dosen. Dan kau menyia-nyiakan waktumu hanya untuk hal-hal bodoh seperti ini? Bagaimana bisa, aku yang berkecimpung di dunia pendidikan memiliki anak seorang penyanyi?!” Ayahpun maju selangkah, matanya terus membuntuti mataku, membuat mentalku terpuruk sekarang. “Saat kau SMA, kau juga membuat masalah. Dan semenjak kau bergabung dengan grup musik yang berisikan bocah-bocah ingusan itu, kau malah mulai bertingkah. Apa itu yang kau sebut dengan impian?” Cho memejamkan matanya, itu berbeda ayah! Dulu aku nakal karena aku memang hanya remaja labil! Tapi sekarang berbeda.

“Aku tidak peduli ayah adalah siapa dan ayah berpikir bagaimana. Tapi aku tidak akan berhenti.” Aku menjeda sesaat, mencoba mengendalikan napasku sendiri, kemudian aku berlutut tepat dihadapan ayah, “Aku sudah menandatangani kontrak. Debut. Itu yang aku tunggu. Aku tidak peduli dengan semua yang ayah pikirkan tentang mimpiku, tapi aku bersungguh-sungguh tentang itu. Musik adalah gerbang utama yang ingin kubuka kuncinya, dan sekarang kuncinya sudah ditanganku. Dengan dan tanpa izin ayah, aku akan terus melakukannya.”

 “Terserah! Aku tidak mau peduli! Lihat saja, kau akan kembali dan meminta maaf padaku. Kau akan mengakui bahwa semua omong kosongmu tak lebih dari seonggok batu yang kedinginan di jalan raya.” Ayah berbalik, dia mulai menjauh.

“Tidak akan pernah!” Entah bagaimana suaraku bisa meninggi. Bahkan terlalu keras untuk didengar kupingku sendiri. Dan itu membuat ayah kembali berbalik, “Aku akan membuktikannya ayah, kau hanya perlu menunggu. Kemudian ayah yang akan mengakui, bahwa ucapan ayah itu salah!” akupun bangun dan melangkahkan kakiku kasar menjauh dari ayah. Malas berdebat dengan keadaan lelah seperti ini. Apa ayah tidak mengerti juga? Aku ingin menjadi penyanyi! Sesederhana itu. Masa bodoh dengan segudang prestasi atau dengan kecerdasanku yang selalu ayah bangga-banggakan di depan semua orang jika ayah terus meremehkan mimpiku.

Hanya perlu sedikit lagi waktu ayah…tunggu aku!

 

^^^

“Selain tulang pinggulnya yang patah, enam tulang rusuknya juga patah,” Dokter mengabari keluarga Cho yang sudah menunggu diluar, airmata ibu Cho semakin deras. “Anak ini sudah sekarat, dia harus dioperasi lewat tenggorokan untuk membuka saluran pernapasannya. Tapi, persentase keberhasilan operasi ini hanya 20%.” Dokter itu melanjutkan.

Dan tanpa disangka, ayah Cho langsung angkat bahu dan menolak opsi dokter itu, “Anak ini seorang penyanyi, bernyanyi adalah impiannya. Jika kalian mengoperasi tenggorokannya, bukankah itu sama saja, kalian merebut harapannya yang terakhir? Kalaupun ia mampu bertahan hidup, apa ia mampu melanjutkan hidupnya?” Nada tinggi itu berhasil memancing emosi dokter, tidak habis pikir dengan pemikiran ayah Cho.

“Apa anda sudah gila?” nada suara Dokter itu sedikit meninggi, “Nyawa anak anda di ujung tanduk, dan anda masih berpikir soal impiannya bernyanyi? Kita harus segera melakukan apapun yang terjadi!”

Bahu Ayah Cho sedikit melemas, namun ia masih tak mau kalah berargumen, baginya saat ini impian putranya sangat penting. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana jika Cho benar-benar harus berhenti bermimpi. Ia tidak ingin melihat putranya sedih, tidak. Ia tidak bisa dan tak akan membiarkannya!

Tiba-tiba seorang dokter datang menghampiri Ayah Cho dan dokter tersebut. Profesor Wang. Ia yang tahu titik masalah perdebatan antara kedua pria itu, langsung menengahi dan memberi alternatif  lain. “Agar anak ini tetap bisa bernyanyi, aku akan melakukan operasi dengan metode lain…” Ucap Profesor Wang yang membuat Ayah Cho cukup merasa lega.

 

Cho membuka matanya yang berat secara perlahan, cahaya disekitarnya langsung menusuk ke retinanya. Membuat Cho harus beradaptasi beberapa saat sebelum ia benar-benar bisa melihat ke sekelilingnya. Rumah sakit. Ruang ICU.

Dan haripun berganti, setelah Cho siuman, 3 hari kemudian ia dipindahkan ke ruang rawat biasa. Cho bisa bernapas lega, ia sangat bersyukur bisa kembali melihat orang-orang yang dicintainya. Dan mereka semua dengan setia menungguinya di rumah sakit. Meskipun ia masih merasakan tubuhnya terlalu sakit untuk merayakan kebahagiaannya.

Ia hampir mati. Itu yang selalu dipikirkannya tiap kali momen itu berkelebat di ingatannya. Tak ada satupun yang bisa membayar kebahagiaanya saat ia bisa kembali membuka matanya. Ia sangat bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Melihat dunia, dan melihat wajah orang-orang yang dicintainya.

78 hari menjadikan rumah sakit sebagai rumah sementara bukan hal yang menyenangkan apalagi dikenang, bukan? Cho tidak memilih untuk mengingat banyak hal saat ia berada di rumahsakit. Ia masih bisa membayangkan dirinya berada di ruangan yang sunyi mencekam dengan seluruh tubuhnya terasa sakit. Bahkan ia juga harus mencicipi rasa udara dari tabung oksigen. Tidak ada yang menyenangkan.

Tapi Cho akan menolak jika ia diberi kesempatan untuk melepas ingatannya selama berada di rumah sakit. Ya. Ia ingat saat ibunya mengatakan bahwa ayahnya ikut andil atas masa depan Cho. Cho agak bingung awalnya, sampai ia tahu bahwa ayahnya adalah orang yang paling menentang saat ia hampir di operasi lewat tenggorokan. Ayahnya melihat mimpinya, ia membela mimpi Cho.

Seandainya ada kata-kata yang tepat untuk mengatakannya, maka Cho akan mengatakannya meskipun akan menghabiskan waktu berhari-hari. Cho terlalu senang, terlalu terharu saat tahu semuanya.

Selalu ada hikmah di balik kejadian bukan? Cho bisa saja tidak menyukai kejadian itu, tapi Cho akan menghargai kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya itu.

“Kakak,” Panggil Cho saat ia berada di dalam mobil, menuju rumah.

“Apa?” Wanita yang dipanggi kakak oleh Cho itu menyahut.

“Katakan pada ayah,” Cho mengembangkan senyumnya, “Aku sangat mencintainya. Salah satu alasan aku bisa bertahan hidup, karena ayah mempertahankan hidupku, juga mimpiku.”

 

Cho dan teman-temannya memasuki studio dan memulai acara talk show di salah satu stasiun TV. Ia diundang untuk diwawancarai seputar kesehariannya, percikan masalah pribadinya, hingga akhirnya MC menanyakan masalah kecelakaan yang menimpa Cho.

“Selama ini, ayah adalah orang pertama yang menentang keinginanku menjadi penyanyi. Ayah memiliki latar belakang akademisi. Karenanya, setiap kali aku mengutarakan cita-cita menjadi seorang penyanyi, ia selalu menentang, ‘Bagaimana mungkin, aku yang berkecimpung di dunia pendidikan memiliki anak seorang penyanyi?!’” Cho menirukan kata-kata ayahnya tempo hari, kalimat itu tertempel permanen sepertinya.

“Namun, ayah yang selama ini bersikeras menentang impianku, ternyata dengan caranya sendiri yang tidak ku ketahui, berusaha melindungi mimpi itu untukku. Saat diceritakan tentang hal ini, aku langsung menangis sejadi-jadinya.” Tutur Cho lagi, mengenang saat-saat paling mengharukan. Bahkan ia dapat merasakan airmata nyaris terjatuh kembali saat ia mengatakannya. “Aku bersyukur, aku bisa kembali diberi kesempatan hidup satu kali lagi, untuk membalas semua kasih sayang mereka padaku.”

Setelah acara selesai, Cho di persilahkan untuk menyanyikan sebuah lagu.

“Aku menyanyikan lagu ‘Love Again’ ini untuk orang-orang yang kucintai, orang yang mencintaiku, dan setia menungguku, khususnya ayah. Terimakasih. I Love You.”

 

=FIN=

 

Garut, 06 Juni 2013, 10;01PM

-Chang Nidhyun-

1

If It was Me bab 4

-4-

***

 

Kaki itu melangkah pelan mengikuti irama kesunyian yang ditimbulkan gedung apartemennya. Ya. Ini sudah jam 11 malam, dan seharusnya semua penghuni apartemen di gedung ini sudah beristirahat di kamarnya masing-masing. Kecuali dirinya.

Tentu saja. Bagaimana bisa dia dengan cepat pulang ke apartemennya, jika adik sepupunya terus saja merecokinya soal janji menemaninya belanja ke daerah Myeongdong. Jika saja bocah ingusan itu bukan sepupunya, mungkin ia sudah mengomeli gadis berumur 12 tahun itu, berbeda 4 tahun darinya. Namun begitu menyukai kata ‘belanja’.

Koridor lantai 4 –dari 15 lantai— tempat apartemennya berada terlalu gelap untuknya. Bagaimana tidak? Lampu yang seharusnya menerangi koridor di depan apartemennya justru mati dan belum mendapatkan simpati untuk segera di ganti. Membuatnya kadang jengah dengan pemilik gedung ini. Bisakah mereka sedikit memperhatikan kenyamanan penghuni gedung apartemen mereka? Setidaknya untuk orang-orang sepertinya, yang tidak suka kegelapan.

Tap…tap…tap…

DEG

Shin Eun Na, gadis itu merasa jantungnya baru saja terhentak keras saat ia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Dan dari tempatnya, ia dapat melihat seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Sial. Wajahnya tertutup oleh kerudung jaketnya, membuat wajah itu tidak begitu jelas, ditambah orang itu menunduk, begitu fokus dengan sesuatu ditangannya.

Dan masalahnya, dia benci orang asing yang mendekat ke arahnya itu. Ia segera ingin mengakhiri detak jantungnya yang membabi buta karena ketakutan. Tapi kenapa tubuhnya begitu kaku? Apa jangan-jangan itu vampire? Perampok? Penjahat? Atau…pemerkosa?

Gadis itu bergidik ngeri membayangkan tuduhan yang dilontarkan otaknya sendiri pada orang yang sudah diamininya itu adalah seorang pria. Ia sangat tahu kamar apartemen di depan apartemennya tak berpenghuni. Di tiap lantai hanya ada 6 kamar. Dan satu lagi, apartemennya berada di ujung koridor lantai 4 ini. Sial. Sial. Sial. Cepatlah bergerak dan lakukan sesuatu Eun Na~ya.

“ANDWAE!!! ULJIMA!!!” pekik gadis itu histeris sembari meringkuk menekuk lututnya, berjongkok sembari menutup telinga dan menyembunyikan wajahnya dibalik pahanya.

“Nde?” laki-laki itu bersuara. Begitu polos di telinga Eun Na, namun tak sedikitpun menyurutkan tuduhan otaknya yang tidak menganggap pria itu pria baik-baik.

“Kau…jangan mendekat! Atau aku…atau aku…”

“Ada apa Nona Shin?” suara wanita paruh baya itu memotong ucapan gugup Eun Na. Tidak. Saat Eun Na mendongak, beberapa kepala telah menoleh ke arahnya, menatapnya bingung. Dan pria yang kini berdiri dihadapannya, justru menatap semua orang dengan mata polosnya.

“Apa ada masalah?”

“Sesuatu terjadi padamu?”

“Dia menyakitimu?”

“Aku?” timpal pria itu menyambung pertanyaan dari para tetangga Eun Na. Pria itu mulai merasa terintimidasi.

 

***

 

Dingin. Kata itu begitu tepat untuk disesuaikan dengan cuaca malam ini. So Ae tidak begitu menyukai cuaca dingin, itu begitu mengganggu. Tapi ia sendiri merasa bosan berada di dalam rumah. Tidak ada Tae Woon, benar-benar berefek besar pada kehidupannya. Meskipun ia kadang merasa jengah dengan kecerewetan adiknya yang rewel dengan banyak hal, tapi keputusannya pergi ke Seoul, ternyata berdampak negatif juga untuknya. Kehilangan ‘aktivitas’nya dalam diam, mendengarkan.

So Ae pun menghembuskan napas beratnya. Untuk pertama kalinya ia merasa rindu pada anak cengengesan dan polos itu. Dan untuk pertama kalinya ia merasa menyesal telah membiarkan anak laki-laki itu meninggalkannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya juga, ia benar-benar merasa sendiri. Terlalu banyak kata ‘pertama kalinya’ disini, membuatnya sadar bahwa dia memang terlalu bergantung pada laki-laki cerewet itu. Tapi tidak akan disangkalnya, ia memang merasa perlu hidup untuk anak manja itu, adiknya sendiri, Lee Tae Woon.

Bagaimana dengannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia makan dengan benar? Apa dia beristirahat cukup? Apa dia tidak kesepian? Apa dia tidak merindukan kakaknya?

Ya. Benar. Dia merasa kesal karena anak manja itu tak kunjung menghubunginya juga, bahkan hanya untuk sekedar mengiriminya sms. Mulai sibuk, kah? Apakah dia belajar dengan benar? Setahunya, anak manja itu tidak menyukai kata belajar. Membuatnya agak ragu apakah dia benar-benar baik-baik saja di Seoul?

“Tidak perlu khawatir. Dia sudah besar. Jangan terlalu berlebihan merindukannya, So Ae~ya.” So Ae menoleh kebelakang, ke arah sumber suara. Dan ia dapat menangkap sosok neneknya yang berjalan ke arahnya.

Sebuah senyum tersungging begitu saja di bibir gadis itu, ia pun mengangkat bahu dan membiarkan sang nenek mengusap rambut sang cucu dengan lembut dan kasih sayang.

Benar, aku masih punya nenek. Batin So Ae.

“Nenek selalu membuatku takut, selalu bisa menebak isi pikiranku.” Canda So Ae kaku, semakin merapatkan jaketnya karena merasa udara semakin tidak bersahabat dengannya.

Tidak menjawab. Namun nenek hanya tersenyum simpul mendengar pernyataan cucunya. “Kau terlalu terbiasa bersama dengan Tae Woon. Menghabiskan waktu bersama tanpa peduli pada apapun. Seolah dunia ini hanya milik kalian berdua.”

So Ae tersenyum kaku, “Sepertinya kalimat itu tidak begitu tepat, nek.” Sahut So Ae.

“Memang tidak. Tapi seperti itulah yang kulihat dari mataku sendiri. Kadang, kupikir kau berlebihan dengan menghalangi dirimu untuk berinteraksi lebih dalam dengan dunia luar. Dan hanya membiarkan Tae Woon yang bisa melihatmu”

So Ae terdiam, namun tetap tersenyum menanggapi ucapan neneknya. Matanya terus mengarah pada bintang-bintang yang sepertinya menguping pembicaraan So Ae dan neneknya.

“Tidak boleh terlalu senang, dan tidak boleh terlalu sedih. Emosi-emosiku harus selalu stabil, dan bisa berefek buruk jika aku melanggarnya. Awalnya aku tidak suka dengan kalimat itu, tapi melihat Tae Woon yang selalu berkata ‘hiduplah baik-baik untukku Noona’, membuatku selalu berpikir untuk harus tetap hidup, setidaknya sampai dia menemukan gadisnya, lalu menikah. Ya…sampai ada seseorang yang bisa menjaganya dengan baik, dan menua bersamanya. Dan…mungkin yang kulakukan sekarang, adalah cara yang bisa menunda waktu terburukku.”

“So Ae~ya, jangan bicara seperti itu. Kau juga harus menikah, dan memiliki seorang anak. Berbahagia dengan keluargamu kelak.”

So Ae tertunduk, ia tidak pernah berharap sejauh itu. Harapan-harapannya dulu juga hanya sebatas harapan, kemudian dibabat habis oleh takdir. Kadang ia berharap takdir sedang berbohong, tapi apa mungkin takdir seperti itu? Bahkan anak kecilpun tahu, takdir itu sangat nyata dan tak terbantahkan. Dan sepertinya kesalahan besar jika So Ae lagi-lagi berharap takdir yang di laluinya tidak benar-benar nyata. Misalnya, mimpi mungkin? Tapi mimpi ini terlalu panjang untuk sebuah tidur, terlalu detail.

“Sesekali kau harus mengunjungi ibumu di Daegu, tidak baik menghindari ibumu sendiri.” Lagi, tangan sang nenek mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang, satu-satunya wanita yang menggantikan peran seorang ibu bagi So Ae.

“Aku tidak pernah menghindarinya. Tapi ibu yang tidak begitu nyaman dengan keberadaanku disekitarnya, mungkin ibu khawatir suaminya tidak nyaman dengan keberadaanku.” Balas So Ae sedikit lantang, dadanya sedikit teronggok sakit. Lalu sesak.

Andwae. So Ae buru-buru menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Kemudian menggeleng pelan, berharap pikiran-pikiran menyebalkan itu akan lenyap dan berhenti bergentayangan di otaknya.

“So Ae~ya…”

“Bukankah memang begitu, nek? Alasan kenapa akhirnya aku dan Tae Woon tinggal disini, karena keberadaan kami tidak begitu menyenangkan. Kadang aku rasa materiil justru adalah api untuk keluargaku,” So Ae terkekeh pelan, menertawakan nasib keluarganya yang begitu kelam di matanya, “Tapi seandainya materiil itu tidak ada, mungkin saja aku juga sudah menghilang dari dunia ini.”

“Lee So Ae…”

“Aku bisa memaklumi ayah dan ibu, keputusan mereka. Aku bisa memaklumi. Aku juga perlu hidup, bukan? Sedikit lebih lama lagi. Sedikit lebih lama lagi. Aku tidak ingin buru-buru meninggalkan impian terbesarku, yang pada awalnya bukan impianku. Setidaknya. Aku bisa melihat dunia lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi. Dan kehidupanku saat ini juga karena materiil yang di berikan  ibu, atas nama…”

“Hentikan Lee So Ae!”

Tidak. Tidak bisa. Airmatanya berhasil membobol pertahanannya. Sakit. Dadanya benar-benar sakit.

“Aku tahu mereka menyayangiku. Juga nenek yang selalu disisiku, dan juga Tae Woon yang menjadi alasanku untuk hidup saat ini. Jadi aku tidak perlu khawatir bukan? Tuhan juga lebih menyayangiku. Aku tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja.”

Entah sejak kapan, kepala So Ae sudah bersandar di bahu neneknya. Ya. Setidaknya ia merasa lebih baik sekarang.

“Seharusnya aku tidak pernah membahas soal ibumu.”

 

***

1

If It was Me bab 3

-3-

***

 

Dong Hyuk mempercepat kayuhan sepedanya saat menyadari Hyun Sik mulai menyusulnya dari belakang. Sesuatu yang jarang –atau bahkan nyaris tidak pernah— di lakukannya, menaiki sepeda untuk berangkat dan pulang sekolah. Dan sekarang, ide gilanya muncul, menantang Hyun Sik yang payah mengendarai sepeda untuk balapan menuju sekolah.

Bukan Dong Hyuk namanya jika tidak memiliki ide gila lainnya untuk mengerjai sepupunya habis-habisan. Taruhan. Ia sudah membuat perjanjian sebelah pihak yang diputuskannya dan memulai semuanya dengan persetujuannya sendiri. Kadang tanpa sadar, Hyun Sik ingin sekali mengenyahkan Dong Hyuk karena semua sifat menyebalkannya itu.

“Kau kalah Hyun Sik-a~” ujar Dong Hyuk bangga sembari memamerkan deretan gigi putihnya.

“Aku tidak pernah merasa menyetujui kesepakatan apapun denganmu, jadi tidak ada kalah menang disini.” Jawab Hyun Sik santai, membuat Dong Hyuk mencibir karena dia yakin sepupunya itu hanya berpura-pura tenang dan mencoba menghindari kesepakatan mereka. Tidak. Tepatnya kesepakatan yang dibuatnya dan disepakatinya sendiri, namun memaksa Hyun Sik untuk menyetujuinya juga.

Dong Hyuk hendak menyusul Hyun Sik yang sudah berjalan menjauhinya, sedangkan Dong Hyuk adalah murid baru disini, di sekolah Hyun Sik yang sekaligus menjadi sekolahnya. Dan ia tidak mau harus repot-repot menyelesaikan banyak hal sendirian atas status barunya sebagai siswa baru, dan Hyun Sik harus menemaninya.

“Hyun Sik-a! Tunggu aku!” panggil Dong Hyuk saat menyadari punggung itu malah semakin menjauhinya. Namun, rutukan di otaknya bermunculan saat langkahnya terpaksa terhenti karena menyadari ia baru saja menabrak bahu seseorang. Dan sebuah pekikan menahan sakit membuatnya sadar bahwa pemilik bahu itu terjatuh karenanya. Dan dia seorang gadis.

Dong Hyuk terpaksa menoleh ke samping, menatap gadis berambut panjang yang dibiarkannya tergerai, namun begitu rapi. Wajahnya tertutupi oleh rambutnya, tubuh itu begitu kurus dan membuat Dong Hyuk merasa wajar jika gadis itu begitu ringkih dan mudah terjatuh jika melihat fisik gadis itu.

Dong Hyuk membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu, “Mianhaeyo. Aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa, kan?” basa-basi yang di amini hatinya dan patut di lakukannya.

Gadis itu mendongak dan menolak uluran tangan Dong Hyuk. Gadis itupun bangun dan menjawab ringan, “Tidak apa-apa, aku yang ceroboh. Maaf.”

Dong Hyuk mengernyit mendengar suara gadis itu, melihat wajahnya juga. Ia mengenal wajah itu dan…

“Kau gadis yang kutemui tempo hari di stasiun, kan? Kau juga yang menjaga restoran yang berada di dekat pantai itu, kan?” tebak Dong Hyuk antusias, membuat gadis di hadapannya sedikit berjengit.

“Ah, ya. Benar. Kita bertemu lagi.”

Dong Hyuk, entah mengapa ia senang sekali bisa melihat wajah itu lagi, terlebih menyadari saat ini dirinya juga akan satu sekolah dengan gadis yang menurutnya begitu dingin itu. Tapi ia takkan menolak jika ia harus memuji gadis itu begitu cantik. Kenyataannya gadis itu memang cantik, walau di polesi dengan ekspresi dingin dan tak bersahabat.

“Maaf, aku harus segera pergi.” Ucap gadis itu lalu melangkahkan kakinya menjauh. Tidak tahu kemana, tapi gadis itu berjalan ke luar gedung sekolahnya. Dan tanpa ia sadari, bahkan ekor matanya terus saja membuntuti tubuh gadis itu yang semakin menjauh.

“Kau harus berhati-hati, apalagi jika kau menabraknya lagi.” Tegur seseorang yang merebut paksa kesadarannya untuk kembali.

“Siapa dia?” tanya Dong Hyuk refleks mengabaikan pernyataan sepupunya.

Hyun Sik sedikit menautkan alisnya, tidak suka dengan nada bicara Dong Hyuk yang kelewat antusias menanyai sosok gadis yang di tabraknya.

“Lee So Ae. Dia juga calon teman sekelasmu, dan teman sekelasku, juga teman kecilku.”

 

***

 

So Ae sibuk mencari kalung yang menurutnya jatuh di jalan tadi, saat ia baru datang ke sekolah. Sial. Kenapa ia harus menjatuhkan kalung itu lagi? Kali ini tidak ada Tae Woon yang akan selalu membantunya, ia harus mandiri dalam situasi apapun. Sudah cukup ia merepotkan neneknya, sekarang ia tidak boleh berpikir untuk mudah meminta tolong, membuatnya terlihat begitu lemah dan manja.

“Kau mencari ini nona Lee?” suara yang begitu familiar di telinga So Ae, membuat So Ae mendongakkan kepalanya pada gadis tinggi yang sudah berdiri di hadapannya, Jung Na Na. Sepupunya dari pihak ibu.

Mata So Ae langsung berbinar mendapato benda yang di cari-carinya bergelantung manis di jari-jari lentik gadis yang memiliki tinggi 169 cm itu. Dan tanpa pikir panjang, So Ae langsung menyambar kalung itu, tak lupa mengucapkan ‘terimakasih’ yang sangat tulus.

“Kau menolongku.” So Ae kembali bicara pada Na Na yang mulai merangkulnya, mendorong So Ae untuk masuk ke gedung sekolah.

“Kita harus saling membantu. Jangan selalu segan dan bersikap angkuh saat kau membutuhkan orang lain.”

So Ae tersenyum miris mendengarnya. Begitu tersindir dengan ucapan Na Na yang begitu kentara dengan sindiran halusnya. Ia memang selalu membutuhkan orang lain, itu seringkali membuatnya takut akan selamanya bergantung pada orang lain dan tidak mandiri. Baginya itu begitu mengerikan dan menakutkan.

 

***

 

Mata So Ae terbelalak saat mendapati bangkunya diisi oleh penghuni baru. Tidak. Bahkan selama sekolah So Ae selalu memilih untuk duduk sendiri, ia tidak ingin di ganggu orang lain. Lalu, kenapa tiba-tiba seseorang dengan beraninya menduduki bangkunya itu?

Dengan agak kasar, So Ae melangkahkan kakinya cepat, meninggalkan Na Na yang menatapnya bingung dari belakang. Dan saat dia sudah berada di bangkunya…

“Kau siapa? Kenapa kau duduk di bangkuku?” tanya So Ae sinis dan membuat kepala itu mendongak setengah kaget ke arah So Ae.

Dan lagi, mata So Ae terbelalak kaget saat mendapati wajah itu lagi, seseorang yang begitu hobi menabrak tubuhnya, dan seseorang aneh –yang menurutnya agak idiot, karena dia memperkenalkan dirinya dengan cengiran terkonyol yang pernah di temuinya tempo hari. Tidak cukupkah hari ini dia menabrak So Ae lagi? Dan kali ini dia harus menunjukkan tampangnya dan dengan berani menduduki bangkunya? Jujur saja, So Ae tidak suka pria itu.

Tidak berbeda jauh, So Ae dapat melihat mata itu begitu antusias menatapnya, namun masih di baluti keterkejutan yang sama.

“Jadi ini bangkumu? Ah, aku begitu beruntung Lee So Ae-ssi.”

Cukup. Jantungnya bisa saja beraksi parah jika ia terus melihat laki-laki ini. Atau ia perlu belajar melihat positif laki-laki di hadapannya, dan meminimalisir ketidaksukaannya dan tidak egois? Tapi kenapa laki-laki ini ada dibangkunya? Lalu dia tahu darimana namanya?

“Kau masih ingat namaku, kan? Kim Dong Hyuk. Aku akan sekolah disini mulai hari ini, dan sepertinya akan menjadi teman sebangkumu mulai hari ini.”

GLEEK

Dia menelan ludahnya yang seperti batu. Pria cengengesan ini menjadi teman sebangkunya?

Dan tiba-tiba saja jantungnya agak sedikit sakit, seperti di tarik paksa dan membuat goresan luka akibat tarikan itu. Emosinya tidak stabil.

‘Terserah kau saja.”

 

***

1

If It was Me (bab 2)

-2-

 

***

 

So Ae sedikit merapikan rambut panjangnya ketika tubuhnya terpatut sempurna di depan cermin di hadapannya. Memperhatikan penampilannya agar tidak terlihat begitu buruk. Ia harus membantu neneknya hari ini, selagi masih libur, seharusnya tidak ada kata bermalas-malasan bukan?

Setelah dirasa cukup, ia pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Kemudian berjalan cepat menuju restoran kecil yang berada di samping rumahnya. Ia agak sedikit bergidik saat udara di luar mulai menerpanya perlahan, membuatnya semakin berharap musim semi segera tiba dan menghalau udara yang menurutnya begitu dingin, meskipun tidak sedingin puncak musim dingin kemarin yang berhasil membuatnya banyak meringkuk di dalam kamar.

So Ae sedikit menyampirkan anak rambutnya yang bermain liar di wajahnya, menyampirkannya di belakang telinga, kemudian mempercepat langkah kakinya menuju meja panjang yang berada di ujung ruangan ini. Hari ini restoran begitu ramai.

“Nenek, apa ada yang perlu ku kerjakan hari ini?” meskipun So Ae mencoba untuk membuat nada suaranya berubah riang, tapi tetap tidak bisa. Membuatnya sedikit meringis karena menyadari beberapa sekat, atau bahkan terlalu banyak sekat yang menghalanginya. Bahkan termasuk menjaga perasaannya, membuat ekspresi dan nada bicaranya ikut-ikutan terbiasa dengan serba kestabilan, atau tepatnya kedataran yang dibuat sekatnya.

Tidak. Tidak ada ekspresi bagus ketika neneknya mendapati So Ae berada tepat di depan matanya, justru sorot mata khawatir yang begitu kentara menusuk mata So Ae, salah satu hal yang paling tidak di sukainya.

“Tidak apa-apa,” sela So Ae cepat sebelum neneknya bicara banyak hal yang tidak ingin di dengar So Ae, “Aku baik-baik saja, nenek tahu, kan? Cucumu ini terlalu kuat.”

Tidak ada jawaban, hanya helaan napas berat yang terdengar di telinga So Ae, namun tak menghalanginya untuk berdiri di samping neneknya, memperhatikan segala dan mulai mengetahui apa yang harus di kerjakannya sekarang.

“Lebih baik kau memulai belajarmu di rumah So Ae-ya, cuaca tidak begitu bagus.” Nenek mulai berkomentar.

“Aku tidak suka sendirian di rumah, salahkan Tae Woon yang berani meninggalkanku.” Canda So Ae ringan, namun masih dengan nada datar yang sama.

“Mulai besok Na Na akan tinggal di rumah kita, menemanimu.”

So Ae memandang neneknya terkejut.

“Tidak perlu, itu merepotkan.”

“Tidak ada yang di repotkan, dia juga tidak begitu banyak bicara namun dekat denganmu. Bisa menemanimu belajar bersama di rumah, ibunya juga sudah mengizinkan.”

So Ae hanya menghela napas panjang. Ia tahu Jung Na Na, sepupunya itu tidak akan keberatan, tapi justru So Ae yang merasa keberatan. Terlalu keberatan malah, ia justru merasa begitu payah dan merepotkan. Seharusnya ia tidak mengatakan pada neneknya bahwa ia tidak suka sendiri di rumah, cukup berkata bahwa ia ingin membantu neneknya dan semua beres.

“Gamsahamnida…” pandangannya teralih pada neneknya dan seorang pria tinggi yang baru saja meninggalkan kasir dan mulai berbalik menjauh. Dia juga hanya perlu melakukan itu, seharusnya neneknya tidak perlu khawatir bukan?

“Eh, tunggu! Uang anda lebih tuan…” baru saja So Ae mengalihkan pandangannya, ia kembali melihat ke arah neneknya yang memanggil pria tadi.

Dengan refleks dan gerakan cepat, So Ae mengambil uang yang di lambaikan neneknya dan berkata, “Biar aku saja.”

Tidak berlari, hanya memperlebar langkah kakinya menuju seorang pria yang sudah mulai melewati pintu keluar. Dan sedikit lagi, ketika pria itu mulai menaiki sepedanya, So Ae akhirnya terpaksa berteriak, “Agassi!”

Berhasil. Pria itu menoleh dan mengurungkan niatnya untuk mengayuh pedal sepedanya. Tak ingin buang-buang waktu, So Ae langsung berjalan cepat menghampiri pria tersebut.

“Uang anda lebih,” So Ae sedikit membungkukkan tubuhnya saat memberikan selembar uang.

Ia tidak yakin apa yang dilakukan pria itu, karena dia hanya bergeming tak menggubris sedikitpun ucapan So Ae. Tak butuh waktu lama, akhirnya So Ae mengangkat kepalanya, dan ia sedikit mengernyit saat mendapati sepasang mata teduh di hadapannya justru tengah menatapnya dalam diam.

Tidak. So Ae tidak tahu arti dari diam yang dilakukan laki-laki itu. Ia ingin bertanya sebenarnya, tapi hanya membuang waktu menanyakan sesuatu yang tidak penting, bukan? Akhirnya So Ae segera membungkukkan badannya sebelum berbalik dan pergi.

“Tunggu! Kau yang ku temui kemarin di stasiun, bukan?” laki-laki itu akhirnya bersuara, memaksa So Ae untuk membalikkan tubuhnya kembali.

“Ye?” hanya kata itu yang bisa diucapkan So Ae. Tidak begitu yakin apakah ia pernah menemui pria dihadapannya atau tidak. Dan…stasiun?

Laki-laki itu sedikit tersenyum, “Benar. Kemarin aku yang tidak sengaja menabrakmu, maaf ya…” ucap laki-laki itu lagi.

So Ae menghilangkan kerutan di dahinya berganti dengan sebuah lampu yang menyala di otaknya, ia ingat, laki-laki yang kemarin menatapnya dalam diam, sama seperti yang dilakukannya beberapa saat lalu.

“Ah, kau…ya, aku ingat. Tidak perlu minta maaf lagi.” Ucap So Ae pada akhirnya, kemudian ia kembali membungkukkan badannya, “Saya permisi.”

“Tunggu! Aku Kim Dong Hyuk!” laki-laki itu kembali bersuara, namun kali ini So Ae benar-benar berjengit parah. Kenapa laki-laki itu menyebutkan namanya? Aneh. Sama sekali tidak penting.

 

***

 

“Gadismu itu begitu berisik Dong hyuk-a~, aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau memilih wanita secerewet itu untuk…” keluh Hyun Sik saat Dong Hyuk baru saja masuk ke kamarnya. Ia merasa perlu tidur agak lama mkarena perutnya kekenyangan setelah makan di restoran sea-food tadi.

“Bisakah kau diam sebentar dan tidak ikut-ikutan cerewet seperti Eun Na?” potong Dong Hyuk cepat sebelum Cha Hyun Sik terus mengomel tanpa peduli dengan panasnya telinga Dong Hyuk.

Hyun Sik hanya mencibir pada Dong Hyuk yang benar-benar di abaikan Dong Hyuk. Tidak penting.

Dong Hyuk berjalan keluar menuju teras rumah Hyun Sik, perlahan ia mendekatkan ponselnya ke telinga setelah menekan sederet angka yang sudah di hafalnya. Ia tahu, Eun Na pasti akan sangat marah karena Dong Hyuk tidak mengabarinya sama sekali soal  kepergiannya ke Donghae. Jika Eun Na sudah terus menerus menelponnya, ada kemungkinan Eun Na tidak akan mengangkat telponnya. Cara merajuk Eun Na yang sudah sangat di kenalnya.

Dong Hyuk terus menunggu panggilannya segera di jawab. Tanpa sadar, tangannya semakin mengeratkan jaketnya, cuaca malam ini tidak menunjukkan bahwa musim dingin akan segera berakhir.

Dong Hyuk nyaris menyerah ketika akhirnya sebuah suara menyela gerakan lambannya untuk menutup telepon. Dan dengan gerakan cepat ia sudah mengembalikan posisi ponselnya seperti semula, menempelkannya di telinga Dong Hyuk.

“Yak!!! Kau kemana saja, eo? Kenapa kau tidak memberitahuku jika mau pergi? Menyebalkan!” tanpa sadar, seulas senyum tertarik sempurna begitu saja saat telinganya mendengar teriakan emosi dari seberang sana. Eun Na mengkhawatirkannya, sesuatu yang disukainya.

“Mianhae…” Dong Hyuk memulai ucapannya dengan senyum yang belum berbenah pergi, “Aku sangat buru-buru, kepergianku ini juga sangat mendadak. Jadi aku tidak sempat menghubungimu.” Lanjutnya lagi.

“Kapan kau pulang?” tanya gadis di sebrang sana dengan nada sarkatis, membuat Dong Hyuk semakin mengulum senyum.

Tapi sedetik kemudian ia sadar, jawaban yang akan di kemukakannya bukan jawaban yang ingin didengar oleh Eun Na. Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa ia akan tinggal di Donghae untuk menyelesaikan sisa masa sekolahnya di jenjang senior high school? Sedangkan Eun Na sendiri tahu, setelah ini ayah Dong Hyuk tidak akan memberikan kompensasi apapun dan akan langsung mengirimkan Dong Hyuk ke New York, memulai strata satunya.

“Dong Hyuk-a, kau masih disana?” Eun Na sedikit menyentak Dong Hyuk untuk kembali ke kesadarannya.

Dong Hyuk menghela napas panjang, “Aku akan tinggal disini sampai lulus sekolah tahun depan.”

“MWO?!”

 

***

 

“Jadi dia marah padamu?” tanya Hyun Sik tak acuh sembari memainkan gitar yang di pegangnya, namun matanya sesekali menoleh ke arah Dong Hyuk yang sedang berbaring di atas ranjang Hyun Sik.

“Tentu saja.” Jawab Dong Hyuk datar, matanya lurus menatap langit-langit kamarnya.

Hyun Sik bergeming, merasa suasana hati sepupunya itu sedang tidak begitu baik. Namun baginya agak sedikit lucu jika pria itu diam dan hatinya berubah abu karena gadis cerewet tadi marah padanya.

“Kupikir, aku hampir tidak memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Bahkan aku memutuskan untuk datang kemari dengan alasan mandiri, adalah hal paling ajaib yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak tahu bagaimana jika ayah benar-benar langsung mengirimku ke New York seminggu lalu, mungkin aku akan menjadi orang paling bodoh dan orang disana akan menganggapku bisu karena bahasa  inggrisku yang kelewat buruk.” Dong Hyuk memulai pembicaraannya, mengutarakan isi hatinya yang belakangan begitu hitam bagi Dong Hyuk.

Selama ini, bahkan Dong Hyuk tidak pernah merasa punya teman bicara, tak terkecuali Eun Na yang menurutnya hanya sebagai pelampiasan rasa sukanya saja. Tidak. Bahkan Dong Hyuk tidak berniat membiacarakan sedikitpun soal masalahnya pada Eun Na, hanya akan membuat beban untuk Eun Na. Mendengar masalah orang lain belum tentu menyenangkan, bukan? Tapi kali ini Dong Hyuk seolah kehilangan pertahanannya. Dia tidak begitu yakin Hyun Sik suka mendengarnya, tapi Dong Hyuk tahu sepupunya itu sering menawarkan diri untuk menjadi pendengarnya.

Diam. Hanya itu yang didapan Dong Hyuk dari Hyun Sik. Membuat Dong Hyuk sedikit memiringkan tubuhnya dan menatap sepupunya yang sedang sibuk berkutat dengan gitarnya.

“Menurutmu, impian itu apa? Seperti apa?” tanya Dong Hyuk lagi, berusaha mengalihkan fokus sepupunya yang menurutnya sama sekali tak menarik mendengarnya.

Dan berhasil, Hyun Sik menoleh ke arah Dong Hyun, “Sebuah keinginan yang ingin kau wujudkan di masa depan, kurang lebih seperti itu. Seperti yang kau katakan di telepon 2 minggu lalu, kau ingin menikah dengan Eun Na. Itu juga impian,” sahut Hyun Sik datar.

Dong Hyuk sebenarnya tidak begitu puas dengan jawaban Hyun Sik.  Tapi ia tertegun soal ucapannya beberapa hari lalu, menyentaknya akan memori yang seolah ikut terhempas oleh angin yang menerpanya 2 hari ini di Donghae. Benar, dia ingin menikahi Eun Na. Dan ia sempat berpikir untuk membahagiakan gadis itu dengan caranya. Meskipun ia sendiri tidak begitu yakin, pernikahan itu apa? Seperti apa? Bahkan memikirkan nilai matematikanya yang sempat jeblog saja seperti tak tertampung, apalagi soal menikah. Sangat konyol.

“Kau tidak perlu terlalu memikirkan semuanya, kau hanya perlu menikmatinya. Kau sudah punya harta, kau pewaris tunggal perusahaan ayah dan butik ibumu, kau juga hanya sudah tahu kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Semuanya. Bahkan jika kau menginginkan terbang keliling duniapun, atau melamar Eun Na-mu itu sekalipun malam ini, itu tidak akan menjadi hal sulit untukmu.” Hyun Sik kembali menyambung ucapannya.

“Sudahlah, lupakan. Aku di Donghae juga untuk melupakan sejenak soal perusahaan, harta, dan yang lainnya. Istirahat. Satu tahun ke depan mungkin akan begitu penting untukku. Karena setelahnya aku akan memulai semua kesibukan yang tidak aku sukai.”

“Terserah kau saja,” Hyun Sik sedikit tersenyum, namun Dong Hyuk tidak berhasil mengartikan senyumnya. “Jika aku jadi kau, mungkin aku akan meminta untuk sekolah di Eropa sejak memulai senior high school, atau bahkan elementary school.”

Dong Hyuk hanya tersenyum tipis mendengar serentetan ucapan sepupunya, benar apa katanya. Hanya tinggal menikmatinya, membuatnya senormal mungkin, mungkin akan mengubah sedikit sudut pandangnya, atau bahkan menghilangkan kebosanannya sama sekali.

 

***