If It was Me (bab 1)

-1-

 

Matahari berdiri angkuh menyaingi musim dingin yang siap berlalu, mencoba menghangatkan bumi beserta isinya tanpa peduli dengan angin yang terus saja berlari kian kemari, membuat siapapun harus melindungi kulitnya agar tidak membeku. Setidaknya, itu bagi Kim Dong Hyuk.

Pagi ini, akhirnya kegelapan hatinya di mulai, tiba di Donghae, Ganwon. Kepindahannya memang tidak mendadak, tapi suasana hatinya terlalu sering mendadak merasakan perubahan suasananya yang buruk. Tidak. Jangankan Donghae, bahkan Daegu, Meokpo, Insadong, atau Jeju sekalipun tidak pernah menjadi tempat impiannya untuk dijadikan sebuah ‘rumah’.

Seoul. Hanya Seoul yang dia inginkan. Tidak dimana-mana. Hanya satu tempat, Seoul. Dimanapun itu, asalkan Seoul ia baru bisa merasakan dadanya merasakan udara masuk. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada tempat pelarian terbaik selain Donghae. Tidak ada pilihan alasan terkuatnya.

Pria itu –Kim Dong Hyuk—, lebih memilih mendengarkan musik lewat MP3 Player-nya saat ini. Tidak peduli dengan seorang pria yang diperintahkan pamannya untuk menjemput di stasiun dan begitu sibuk membawa barangnya. Duduk di bangku panjang stasiun dan mendengarkan musik, melupakan sejenak emosi yang bisa saja membuatnya terlihat bodoh. Apalagi musim dingin belum berakhir sepenuhnya, membuatnya ingin sekali menuntut udara dingin untuk segera enyah. Ia ingin segera melepas baju hangatnya yang terasa begitu merepotkan.

Dong Hyuk menoleh sedikit saat sebuah tangan menepuk paha kanannya, kemudian melepas sebelah headset-nya dan mulai memperhatikan pria berkepala tiga yang berdiri di hadapannya. “Sudah selesai, kita bisa berangkat sekarang,” ucapnya ringan dan hanya dibalas oleh kedikkan bahu Dong Hyuk.

Dong Hyuk berjalan malas menuju sebuah mobil sedan milik pamannya –adik ipar ayahnya. Ya. Keputusannya adalah untuk tinggal bersama pamannya. Dan ia harus meninggalkan orangtuanya di Seoul, termasuk gadisnya yang bahkan tidak tahu keberangkatannya ke Donghae, Shin Eun Na. Ia harap gadis itu tidak mengamuk dengan keputusannya tiba-tiba.

BRUUK

Dong Hyuk sedikit terkejut saat menyadari tubuhnya baru saja menubruk sebuah bahu, dan seseorang yang di tubruknya langsung jatuh begitu saja ke atas tanah, membuat kesadarannya kembali seutuhnya.

“Aah…” seorang gadis, pikir Dong Hyuk. Gadis itu meringis sembali memegangi telapak tangannya yang agak sedikit lecet akibat menghantam aspal, menahan tubuhnya.

“Kau tidak apa-apa? Maaf, aku tidak sengaja.” Dong Hyuk membungkuk dan mengulurkan tangannya, mencoba memperbaiki sedikit kecerobohannya.

Satu…

Dua…

Tiga…

Tiba-tiba ia merasa dunianya terhenti beberapa saat, seolah waktu baru saja menghantam dunia untuk berubah bergerak lambat. Kemudian matanya tiba-tiba hanya terfokus pada satu objek di hadapan matanya. Tepat saat gadis itu mendongak,  mata gadis itu seolah membuat dunianya tertelan oleh kehampaan dan menyisakan dirinya dan gadis dihadapannya. Wajah dengan ekspresi dingin itu membuat detak jantungnya berubah drastis, begitu cepat berdetak, membuatnya merasa jantung itu akan segera melompat dari tempatnya.

“Noona!!!” (noona : nuna = panggilan oleh laki-laki untuk kakak perempuan)

Sreeet…

Dunianya kembali. Semuanya kembali normal. Kecuali detak jantungnya.

 

***

 

“Noona!!!”

Lee So Ae mengalihkan pandangannya pada objek suara, ia tahu siapa pemilik suara itu, adik laki-lakinya, Lee Tae Woon.

Belum selesai urusannya dengan rasa sakitnya, rasa terkejutnya, juga rasa bingungnya dengan tatapan yang diberikan laki-laki yang menubruknya dan kini tengah terpaku menatapnya –dan entah apa yang ditatapnya, sekarang ia harus menghalau rasa khawatir berlebihan dari adiknya sendiri.

“Noona! Gwanchana (gwenchana = tidak apa-apa)? Aish…kenapa Noona begitu ceroboh? Noona harus lebih hati-hati.” Tae Woon begitu heboh merespon kejadian yang memalukan menurut So Ae. Tanpa ba bi bu lagi, So Ae sudah berdiri dibantu Tae Woon. Meskipun sebenarnya ia merasa masih bisa berdiri sendiri.

So Ae pun menepuk beberapa bagian di bajunya, membersihkan debu yang menempel pada pakaiannya yang berwarna terang, membuatnya terlihat begitu kontras dengan warna debu yang menempel.

“Kau…Kau tidak apa-apa? Maaf, aku tidak sengaja.” Bukan hanya perhatian So Ae yang beralih pada laki-laki yang diperkirakan memiliki tinggi hampir 180cm itu, tapi juga Tae Woon yang menatapnya agak garang. Bagaimanapun Tae Woon sangat khawatir pada kakaknya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk? Ia pasti tidak akan memaafkan laki-laki itu.

Dengan tenang, bahkan nyaris tanpa ekspresi, So Ae hanya mengangguk kecil dan menjawab datar, “Aku tidak apa-apa. Aku juga minta maaf, tidak memperhatikan jalan.” So Ae sedikit membungkuk, kemudian berlalu dari hadapan pria itu. Diikuti oleh Tae Woon dari belakang.

“Baiklah Tae Woonie, jaga dirimu baik-baik selama di Seoul. Ingat. Jangan macam-macam, belajar dengan benar, jika kau berani macam-macam, aku tidak akan memaafkanmu dan akan langsung menarikmu pulang kemari. Dan jaga dirimu baik-baik, hubungi aku jika terjadi sesuatu, arrachie?” So Ae pun memeluk adiknya, sebagai tanda ia telah merelakan keputusan adiknya untuk melanjutkan sekolahnya di Seoul. Entah sebuah keyakinan apa yang membuat Tae Woon begitu menginginkan dirinya menginjakkan kakinya di Seoul dan menimba ilmu disana, dan bahkan begitu keras kepala ingin kuliah di Kyunghee University.

“Noona juga,” balas Tae Woon masih memeluk tubuh kurus kakaknya, dan tanpa sadar airmata mulai menggenangi kelopak matanya, “Jaga dirimu baik-baik untukku noona, aku ingin kau tetap baik-baik saja di setiap napasku, aku ingin kau selamanya terus berada disisiku, dan tidak meninggalkanku barang selangkahpun dari duniaku. Dan noona harus berjanji, noona harus melanjutkan kuliahmu di Seoul, agar kita bisa hidup disana bersama-sama, oke? Hanya noona yang aku punya, dan…”

“Sudahlah. Aku akan selalu baik-baik saja, percayalah.” So Ae melepas pelukannya, menatap wajah adik kecilnya lekat-lekat, sedikit tercengang karena menyadari adik kecilnya mulai berubah menjadi seorang pria remaja. Waktu begitu cepat berlalu bukan? Bahkan impian Tae Woon begitu egois, terlalu egois malah, karena dengan cepatnya menggeser rasa cinta Tae Woon padanya. Tapi tidak apa-apa, itu bagus bukan? Ia juga tidak ingin selamanya menjadi beban untuk Tae Woon. Bukan hanya Tae Woon yang perlu terus berjalan, juga So Ae. Dunia masih terlalu luas untuk membuatnya berhenti melangkah.

“Aku akan memastikan diriku selalu baik-baik saja, dan ada untukmu Tae Woon-a~”

 

***

Iklan

One thought on “If It was Me (bab 1)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s