If It was Me (bab 2)

-2-

 

***

 

So Ae sedikit merapikan rambut panjangnya ketika tubuhnya terpatut sempurna di depan cermin di hadapannya. Memperhatikan penampilannya agar tidak terlihat begitu buruk. Ia harus membantu neneknya hari ini, selagi masih libur, seharusnya tidak ada kata bermalas-malasan bukan?

Setelah dirasa cukup, ia pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Kemudian berjalan cepat menuju restoran kecil yang berada di samping rumahnya. Ia agak sedikit bergidik saat udara di luar mulai menerpanya perlahan, membuatnya semakin berharap musim semi segera tiba dan menghalau udara yang menurutnya begitu dingin, meskipun tidak sedingin puncak musim dingin kemarin yang berhasil membuatnya banyak meringkuk di dalam kamar.

So Ae sedikit menyampirkan anak rambutnya yang bermain liar di wajahnya, menyampirkannya di belakang telinga, kemudian mempercepat langkah kakinya menuju meja panjang yang berada di ujung ruangan ini. Hari ini restoran begitu ramai.

“Nenek, apa ada yang perlu ku kerjakan hari ini?” meskipun So Ae mencoba untuk membuat nada suaranya berubah riang, tapi tetap tidak bisa. Membuatnya sedikit meringis karena menyadari beberapa sekat, atau bahkan terlalu banyak sekat yang menghalanginya. Bahkan termasuk menjaga perasaannya, membuat ekspresi dan nada bicaranya ikut-ikutan terbiasa dengan serba kestabilan, atau tepatnya kedataran yang dibuat sekatnya.

Tidak. Tidak ada ekspresi bagus ketika neneknya mendapati So Ae berada tepat di depan matanya, justru sorot mata khawatir yang begitu kentara menusuk mata So Ae, salah satu hal yang paling tidak di sukainya.

“Tidak apa-apa,” sela So Ae cepat sebelum neneknya bicara banyak hal yang tidak ingin di dengar So Ae, “Aku baik-baik saja, nenek tahu, kan? Cucumu ini terlalu kuat.”

Tidak ada jawaban, hanya helaan napas berat yang terdengar di telinga So Ae, namun tak menghalanginya untuk berdiri di samping neneknya, memperhatikan segala dan mulai mengetahui apa yang harus di kerjakannya sekarang.

“Lebih baik kau memulai belajarmu di rumah So Ae-ya, cuaca tidak begitu bagus.” Nenek mulai berkomentar.

“Aku tidak suka sendirian di rumah, salahkan Tae Woon yang berani meninggalkanku.” Canda So Ae ringan, namun masih dengan nada datar yang sama.

“Mulai besok Na Na akan tinggal di rumah kita, menemanimu.”

So Ae memandang neneknya terkejut.

“Tidak perlu, itu merepotkan.”

“Tidak ada yang di repotkan, dia juga tidak begitu banyak bicara namun dekat denganmu. Bisa menemanimu belajar bersama di rumah, ibunya juga sudah mengizinkan.”

So Ae hanya menghela napas panjang. Ia tahu Jung Na Na, sepupunya itu tidak akan keberatan, tapi justru So Ae yang merasa keberatan. Terlalu keberatan malah, ia justru merasa begitu payah dan merepotkan. Seharusnya ia tidak mengatakan pada neneknya bahwa ia tidak suka sendiri di rumah, cukup berkata bahwa ia ingin membantu neneknya dan semua beres.

“Gamsahamnida…” pandangannya teralih pada neneknya dan seorang pria tinggi yang baru saja meninggalkan kasir dan mulai berbalik menjauh. Dia juga hanya perlu melakukan itu, seharusnya neneknya tidak perlu khawatir bukan?

“Eh, tunggu! Uang anda lebih tuan…” baru saja So Ae mengalihkan pandangannya, ia kembali melihat ke arah neneknya yang memanggil pria tadi.

Dengan refleks dan gerakan cepat, So Ae mengambil uang yang di lambaikan neneknya dan berkata, “Biar aku saja.”

Tidak berlari, hanya memperlebar langkah kakinya menuju seorang pria yang sudah mulai melewati pintu keluar. Dan sedikit lagi, ketika pria itu mulai menaiki sepedanya, So Ae akhirnya terpaksa berteriak, “Agassi!”

Berhasil. Pria itu menoleh dan mengurungkan niatnya untuk mengayuh pedal sepedanya. Tak ingin buang-buang waktu, So Ae langsung berjalan cepat menghampiri pria tersebut.

“Uang anda lebih,” So Ae sedikit membungkukkan tubuhnya saat memberikan selembar uang.

Ia tidak yakin apa yang dilakukan pria itu, karena dia hanya bergeming tak menggubris sedikitpun ucapan So Ae. Tak butuh waktu lama, akhirnya So Ae mengangkat kepalanya, dan ia sedikit mengernyit saat mendapati sepasang mata teduh di hadapannya justru tengah menatapnya dalam diam.

Tidak. So Ae tidak tahu arti dari diam yang dilakukan laki-laki itu. Ia ingin bertanya sebenarnya, tapi hanya membuang waktu menanyakan sesuatu yang tidak penting, bukan? Akhirnya So Ae segera membungkukkan badannya sebelum berbalik dan pergi.

“Tunggu! Kau yang ku temui kemarin di stasiun, bukan?” laki-laki itu akhirnya bersuara, memaksa So Ae untuk membalikkan tubuhnya kembali.

“Ye?” hanya kata itu yang bisa diucapkan So Ae. Tidak begitu yakin apakah ia pernah menemui pria dihadapannya atau tidak. Dan…stasiun?

Laki-laki itu sedikit tersenyum, “Benar. Kemarin aku yang tidak sengaja menabrakmu, maaf ya…” ucap laki-laki itu lagi.

So Ae menghilangkan kerutan di dahinya berganti dengan sebuah lampu yang menyala di otaknya, ia ingat, laki-laki yang kemarin menatapnya dalam diam, sama seperti yang dilakukannya beberapa saat lalu.

“Ah, kau…ya, aku ingat. Tidak perlu minta maaf lagi.” Ucap So Ae pada akhirnya, kemudian ia kembali membungkukkan badannya, “Saya permisi.”

“Tunggu! Aku Kim Dong Hyuk!” laki-laki itu kembali bersuara, namun kali ini So Ae benar-benar berjengit parah. Kenapa laki-laki itu menyebutkan namanya? Aneh. Sama sekali tidak penting.

 

***

 

“Gadismu itu begitu berisik Dong hyuk-a~, aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau memilih wanita secerewet itu untuk…” keluh Hyun Sik saat Dong Hyuk baru saja masuk ke kamarnya. Ia merasa perlu tidur agak lama mkarena perutnya kekenyangan setelah makan di restoran sea-food tadi.

“Bisakah kau diam sebentar dan tidak ikut-ikutan cerewet seperti Eun Na?” potong Dong Hyuk cepat sebelum Cha Hyun Sik terus mengomel tanpa peduli dengan panasnya telinga Dong Hyuk.

Hyun Sik hanya mencibir pada Dong Hyuk yang benar-benar di abaikan Dong Hyuk. Tidak penting.

Dong Hyuk berjalan keluar menuju teras rumah Hyun Sik, perlahan ia mendekatkan ponselnya ke telinga setelah menekan sederet angka yang sudah di hafalnya. Ia tahu, Eun Na pasti akan sangat marah karena Dong Hyuk tidak mengabarinya sama sekali soal  kepergiannya ke Donghae. Jika Eun Na sudah terus menerus menelponnya, ada kemungkinan Eun Na tidak akan mengangkat telponnya. Cara merajuk Eun Na yang sudah sangat di kenalnya.

Dong Hyuk terus menunggu panggilannya segera di jawab. Tanpa sadar, tangannya semakin mengeratkan jaketnya, cuaca malam ini tidak menunjukkan bahwa musim dingin akan segera berakhir.

Dong Hyuk nyaris menyerah ketika akhirnya sebuah suara menyela gerakan lambannya untuk menutup telepon. Dan dengan gerakan cepat ia sudah mengembalikan posisi ponselnya seperti semula, menempelkannya di telinga Dong Hyuk.

“Yak!!! Kau kemana saja, eo? Kenapa kau tidak memberitahuku jika mau pergi? Menyebalkan!” tanpa sadar, seulas senyum tertarik sempurna begitu saja saat telinganya mendengar teriakan emosi dari seberang sana. Eun Na mengkhawatirkannya, sesuatu yang disukainya.

“Mianhae…” Dong Hyuk memulai ucapannya dengan senyum yang belum berbenah pergi, “Aku sangat buru-buru, kepergianku ini juga sangat mendadak. Jadi aku tidak sempat menghubungimu.” Lanjutnya lagi.

“Kapan kau pulang?” tanya gadis di sebrang sana dengan nada sarkatis, membuat Dong Hyuk semakin mengulum senyum.

Tapi sedetik kemudian ia sadar, jawaban yang akan di kemukakannya bukan jawaban yang ingin didengar oleh Eun Na. Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa ia akan tinggal di Donghae untuk menyelesaikan sisa masa sekolahnya di jenjang senior high school? Sedangkan Eun Na sendiri tahu, setelah ini ayah Dong Hyuk tidak akan memberikan kompensasi apapun dan akan langsung mengirimkan Dong Hyuk ke New York, memulai strata satunya.

“Dong Hyuk-a, kau masih disana?” Eun Na sedikit menyentak Dong Hyuk untuk kembali ke kesadarannya.

Dong Hyuk menghela napas panjang, “Aku akan tinggal disini sampai lulus sekolah tahun depan.”

“MWO?!”

 

***

 

“Jadi dia marah padamu?” tanya Hyun Sik tak acuh sembari memainkan gitar yang di pegangnya, namun matanya sesekali menoleh ke arah Dong Hyuk yang sedang berbaring di atas ranjang Hyun Sik.

“Tentu saja.” Jawab Dong Hyuk datar, matanya lurus menatap langit-langit kamarnya.

Hyun Sik bergeming, merasa suasana hati sepupunya itu sedang tidak begitu baik. Namun baginya agak sedikit lucu jika pria itu diam dan hatinya berubah abu karena gadis cerewet tadi marah padanya.

“Kupikir, aku hampir tidak memiliki kesempatan untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Bahkan aku memutuskan untuk datang kemari dengan alasan mandiri, adalah hal paling ajaib yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak tahu bagaimana jika ayah benar-benar langsung mengirimku ke New York seminggu lalu, mungkin aku akan menjadi orang paling bodoh dan orang disana akan menganggapku bisu karena bahasa  inggrisku yang kelewat buruk.” Dong Hyuk memulai pembicaraannya, mengutarakan isi hatinya yang belakangan begitu hitam bagi Dong Hyuk.

Selama ini, bahkan Dong Hyuk tidak pernah merasa punya teman bicara, tak terkecuali Eun Na yang menurutnya hanya sebagai pelampiasan rasa sukanya saja. Tidak. Bahkan Dong Hyuk tidak berniat membiacarakan sedikitpun soal masalahnya pada Eun Na, hanya akan membuat beban untuk Eun Na. Mendengar masalah orang lain belum tentu menyenangkan, bukan? Tapi kali ini Dong Hyuk seolah kehilangan pertahanannya. Dia tidak begitu yakin Hyun Sik suka mendengarnya, tapi Dong Hyuk tahu sepupunya itu sering menawarkan diri untuk menjadi pendengarnya.

Diam. Hanya itu yang didapan Dong Hyuk dari Hyun Sik. Membuat Dong Hyuk sedikit memiringkan tubuhnya dan menatap sepupunya yang sedang sibuk berkutat dengan gitarnya.

“Menurutmu, impian itu apa? Seperti apa?” tanya Dong Hyuk lagi, berusaha mengalihkan fokus sepupunya yang menurutnya sama sekali tak menarik mendengarnya.

Dan berhasil, Hyun Sik menoleh ke arah Dong Hyun, “Sebuah keinginan yang ingin kau wujudkan di masa depan, kurang lebih seperti itu. Seperti yang kau katakan di telepon 2 minggu lalu, kau ingin menikah dengan Eun Na. Itu juga impian,” sahut Hyun Sik datar.

Dong Hyuk sebenarnya tidak begitu puas dengan jawaban Hyun Sik.  Tapi ia tertegun soal ucapannya beberapa hari lalu, menyentaknya akan memori yang seolah ikut terhempas oleh angin yang menerpanya 2 hari ini di Donghae. Benar, dia ingin menikahi Eun Na. Dan ia sempat berpikir untuk membahagiakan gadis itu dengan caranya. Meskipun ia sendiri tidak begitu yakin, pernikahan itu apa? Seperti apa? Bahkan memikirkan nilai matematikanya yang sempat jeblog saja seperti tak tertampung, apalagi soal menikah. Sangat konyol.

“Kau tidak perlu terlalu memikirkan semuanya, kau hanya perlu menikmatinya. Kau sudah punya harta, kau pewaris tunggal perusahaan ayah dan butik ibumu, kau juga hanya sudah tahu kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Semuanya. Bahkan jika kau menginginkan terbang keliling duniapun, atau melamar Eun Na-mu itu sekalipun malam ini, itu tidak akan menjadi hal sulit untukmu.” Hyun Sik kembali menyambung ucapannya.

“Sudahlah, lupakan. Aku di Donghae juga untuk melupakan sejenak soal perusahaan, harta, dan yang lainnya. Istirahat. Satu tahun ke depan mungkin akan begitu penting untukku. Karena setelahnya aku akan memulai semua kesibukan yang tidak aku sukai.”

“Terserah kau saja,” Hyun Sik sedikit tersenyum, namun Dong Hyuk tidak berhasil mengartikan senyumnya. “Jika aku jadi kau, mungkin aku akan meminta untuk sekolah di Eropa sejak memulai senior high school, atau bahkan elementary school.”

Dong Hyuk hanya tersenyum tipis mendengar serentetan ucapan sepupunya, benar apa katanya. Hanya tinggal menikmatinya, membuatnya senormal mungkin, mungkin akan mengubah sedikit sudut pandangnya, atau bahkan menghilangkan kebosanannya sama sekali.

 

***

Iklan

One thought on “If It was Me (bab 2)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s