If It was Me bab 3

-3-

***

 

Dong Hyuk mempercepat kayuhan sepedanya saat menyadari Hyun Sik mulai menyusulnya dari belakang. Sesuatu yang jarang –atau bahkan nyaris tidak pernah— di lakukannya, menaiki sepeda untuk berangkat dan pulang sekolah. Dan sekarang, ide gilanya muncul, menantang Hyun Sik yang payah mengendarai sepeda untuk balapan menuju sekolah.

Bukan Dong Hyuk namanya jika tidak memiliki ide gila lainnya untuk mengerjai sepupunya habis-habisan. Taruhan. Ia sudah membuat perjanjian sebelah pihak yang diputuskannya dan memulai semuanya dengan persetujuannya sendiri. Kadang tanpa sadar, Hyun Sik ingin sekali mengenyahkan Dong Hyuk karena semua sifat menyebalkannya itu.

“Kau kalah Hyun Sik-a~” ujar Dong Hyuk bangga sembari memamerkan deretan gigi putihnya.

“Aku tidak pernah merasa menyetujui kesepakatan apapun denganmu, jadi tidak ada kalah menang disini.” Jawab Hyun Sik santai, membuat Dong Hyuk mencibir karena dia yakin sepupunya itu hanya berpura-pura tenang dan mencoba menghindari kesepakatan mereka. Tidak. Tepatnya kesepakatan yang dibuatnya dan disepakatinya sendiri, namun memaksa Hyun Sik untuk menyetujuinya juga.

Dong Hyuk hendak menyusul Hyun Sik yang sudah berjalan menjauhinya, sedangkan Dong Hyuk adalah murid baru disini, di sekolah Hyun Sik yang sekaligus menjadi sekolahnya. Dan ia tidak mau harus repot-repot menyelesaikan banyak hal sendirian atas status barunya sebagai siswa baru, dan Hyun Sik harus menemaninya.

“Hyun Sik-a! Tunggu aku!” panggil Dong Hyuk saat menyadari punggung itu malah semakin menjauhinya. Namun, rutukan di otaknya bermunculan saat langkahnya terpaksa terhenti karena menyadari ia baru saja menabrak bahu seseorang. Dan sebuah pekikan menahan sakit membuatnya sadar bahwa pemilik bahu itu terjatuh karenanya. Dan dia seorang gadis.

Dong Hyuk terpaksa menoleh ke samping, menatap gadis berambut panjang yang dibiarkannya tergerai, namun begitu rapi. Wajahnya tertutupi oleh rambutnya, tubuh itu begitu kurus dan membuat Dong Hyuk merasa wajar jika gadis itu begitu ringkih dan mudah terjatuh jika melihat fisik gadis itu.

Dong Hyuk membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu, “Mianhaeyo. Aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa, kan?” basa-basi yang di amini hatinya dan patut di lakukannya.

Gadis itu mendongak dan menolak uluran tangan Dong Hyuk. Gadis itupun bangun dan menjawab ringan, “Tidak apa-apa, aku yang ceroboh. Maaf.”

Dong Hyuk mengernyit mendengar suara gadis itu, melihat wajahnya juga. Ia mengenal wajah itu dan…

“Kau gadis yang kutemui tempo hari di stasiun, kan? Kau juga yang menjaga restoran yang berada di dekat pantai itu, kan?” tebak Dong Hyuk antusias, membuat gadis di hadapannya sedikit berjengit.

“Ah, ya. Benar. Kita bertemu lagi.”

Dong Hyuk, entah mengapa ia senang sekali bisa melihat wajah itu lagi, terlebih menyadari saat ini dirinya juga akan satu sekolah dengan gadis yang menurutnya begitu dingin itu. Tapi ia takkan menolak jika ia harus memuji gadis itu begitu cantik. Kenyataannya gadis itu memang cantik, walau di polesi dengan ekspresi dingin dan tak bersahabat.

“Maaf, aku harus segera pergi.” Ucap gadis itu lalu melangkahkan kakinya menjauh. Tidak tahu kemana, tapi gadis itu berjalan ke luar gedung sekolahnya. Dan tanpa ia sadari, bahkan ekor matanya terus saja membuntuti tubuh gadis itu yang semakin menjauh.

“Kau harus berhati-hati, apalagi jika kau menabraknya lagi.” Tegur seseorang yang merebut paksa kesadarannya untuk kembali.

“Siapa dia?” tanya Dong Hyuk refleks mengabaikan pernyataan sepupunya.

Hyun Sik sedikit menautkan alisnya, tidak suka dengan nada bicara Dong Hyuk yang kelewat antusias menanyai sosok gadis yang di tabraknya.

“Lee So Ae. Dia juga calon teman sekelasmu, dan teman sekelasku, juga teman kecilku.”

 

***

 

So Ae sibuk mencari kalung yang menurutnya jatuh di jalan tadi, saat ia baru datang ke sekolah. Sial. Kenapa ia harus menjatuhkan kalung itu lagi? Kali ini tidak ada Tae Woon yang akan selalu membantunya, ia harus mandiri dalam situasi apapun. Sudah cukup ia merepotkan neneknya, sekarang ia tidak boleh berpikir untuk mudah meminta tolong, membuatnya terlihat begitu lemah dan manja.

“Kau mencari ini nona Lee?” suara yang begitu familiar di telinga So Ae, membuat So Ae mendongakkan kepalanya pada gadis tinggi yang sudah berdiri di hadapannya, Jung Na Na. Sepupunya dari pihak ibu.

Mata So Ae langsung berbinar mendapato benda yang di cari-carinya bergelantung manis di jari-jari lentik gadis yang memiliki tinggi 169 cm itu. Dan tanpa pikir panjang, So Ae langsung menyambar kalung itu, tak lupa mengucapkan ‘terimakasih’ yang sangat tulus.

“Kau menolongku.” So Ae kembali bicara pada Na Na yang mulai merangkulnya, mendorong So Ae untuk masuk ke gedung sekolah.

“Kita harus saling membantu. Jangan selalu segan dan bersikap angkuh saat kau membutuhkan orang lain.”

So Ae tersenyum miris mendengarnya. Begitu tersindir dengan ucapan Na Na yang begitu kentara dengan sindiran halusnya. Ia memang selalu membutuhkan orang lain, itu seringkali membuatnya takut akan selamanya bergantung pada orang lain dan tidak mandiri. Baginya itu begitu mengerikan dan menakutkan.

 

***

 

Mata So Ae terbelalak saat mendapati bangkunya diisi oleh penghuni baru. Tidak. Bahkan selama sekolah So Ae selalu memilih untuk duduk sendiri, ia tidak ingin di ganggu orang lain. Lalu, kenapa tiba-tiba seseorang dengan beraninya menduduki bangkunya itu?

Dengan agak kasar, So Ae melangkahkan kakinya cepat, meninggalkan Na Na yang menatapnya bingung dari belakang. Dan saat dia sudah berada di bangkunya…

“Kau siapa? Kenapa kau duduk di bangkuku?” tanya So Ae sinis dan membuat kepala itu mendongak setengah kaget ke arah So Ae.

Dan lagi, mata So Ae terbelalak kaget saat mendapati wajah itu lagi, seseorang yang begitu hobi menabrak tubuhnya, dan seseorang aneh –yang menurutnya agak idiot, karena dia memperkenalkan dirinya dengan cengiran terkonyol yang pernah di temuinya tempo hari. Tidak cukupkah hari ini dia menabrak So Ae lagi? Dan kali ini dia harus menunjukkan tampangnya dan dengan berani menduduki bangkunya? Jujur saja, So Ae tidak suka pria itu.

Tidak berbeda jauh, So Ae dapat melihat mata itu begitu antusias menatapnya, namun masih di baluti keterkejutan yang sama.

“Jadi ini bangkumu? Ah, aku begitu beruntung Lee So Ae-ssi.”

Cukup. Jantungnya bisa saja beraksi parah jika ia terus melihat laki-laki ini. Atau ia perlu belajar melihat positif laki-laki di hadapannya, dan meminimalisir ketidaksukaannya dan tidak egois? Tapi kenapa laki-laki ini ada dibangkunya? Lalu dia tahu darimana namanya?

“Kau masih ingat namaku, kan? Kim Dong Hyuk. Aku akan sekolah disini mulai hari ini, dan sepertinya akan menjadi teman sebangkumu mulai hari ini.”

GLEEK

Dia menelan ludahnya yang seperti batu. Pria cengengesan ini menjadi teman sebangkunya?

Dan tiba-tiba saja jantungnya agak sedikit sakit, seperti di tarik paksa dan membuat goresan luka akibat tarikan itu. Emosinya tidak stabil.

‘Terserah kau saja.”

 

***

Iklan

One thought on “If It was Me bab 3

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s