If It was Me bab 4

-4-

***

 

Kaki itu melangkah pelan mengikuti irama kesunyian yang ditimbulkan gedung apartemennya. Ya. Ini sudah jam 11 malam, dan seharusnya semua penghuni apartemen di gedung ini sudah beristirahat di kamarnya masing-masing. Kecuali dirinya.

Tentu saja. Bagaimana bisa dia dengan cepat pulang ke apartemennya, jika adik sepupunya terus saja merecokinya soal janji menemaninya belanja ke daerah Myeongdong. Jika saja bocah ingusan itu bukan sepupunya, mungkin ia sudah mengomeli gadis berumur 12 tahun itu, berbeda 4 tahun darinya. Namun begitu menyukai kata ‘belanja’.

Koridor lantai 4 –dari 15 lantai— tempat apartemennya berada terlalu gelap untuknya. Bagaimana tidak? Lampu yang seharusnya menerangi koridor di depan apartemennya justru mati dan belum mendapatkan simpati untuk segera di ganti. Membuatnya kadang jengah dengan pemilik gedung ini. Bisakah mereka sedikit memperhatikan kenyamanan penghuni gedung apartemen mereka? Setidaknya untuk orang-orang sepertinya, yang tidak suka kegelapan.

Tap…tap…tap…

DEG

Shin Eun Na, gadis itu merasa jantungnya baru saja terhentak keras saat ia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Dan dari tempatnya, ia dapat melihat seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Sial. Wajahnya tertutup oleh kerudung jaketnya, membuat wajah itu tidak begitu jelas, ditambah orang itu menunduk, begitu fokus dengan sesuatu ditangannya.

Dan masalahnya, dia benci orang asing yang mendekat ke arahnya itu. Ia segera ingin mengakhiri detak jantungnya yang membabi buta karena ketakutan. Tapi kenapa tubuhnya begitu kaku? Apa jangan-jangan itu vampire? Perampok? Penjahat? Atau…pemerkosa?

Gadis itu bergidik ngeri membayangkan tuduhan yang dilontarkan otaknya sendiri pada orang yang sudah diamininya itu adalah seorang pria. Ia sangat tahu kamar apartemen di depan apartemennya tak berpenghuni. Di tiap lantai hanya ada 6 kamar. Dan satu lagi, apartemennya berada di ujung koridor lantai 4 ini. Sial. Sial. Sial. Cepatlah bergerak dan lakukan sesuatu Eun Na~ya.

“ANDWAE!!! ULJIMA!!!” pekik gadis itu histeris sembari meringkuk menekuk lututnya, berjongkok sembari menutup telinga dan menyembunyikan wajahnya dibalik pahanya.

“Nde?” laki-laki itu bersuara. Begitu polos di telinga Eun Na, namun tak sedikitpun menyurutkan tuduhan otaknya yang tidak menganggap pria itu pria baik-baik.

“Kau…jangan mendekat! Atau aku…atau aku…”

“Ada apa Nona Shin?” suara wanita paruh baya itu memotong ucapan gugup Eun Na. Tidak. Saat Eun Na mendongak, beberapa kepala telah menoleh ke arahnya, menatapnya bingung. Dan pria yang kini berdiri dihadapannya, justru menatap semua orang dengan mata polosnya.

“Apa ada masalah?”

“Sesuatu terjadi padamu?”

“Dia menyakitimu?”

“Aku?” timpal pria itu menyambung pertanyaan dari para tetangga Eun Na. Pria itu mulai merasa terintimidasi.

 

***

 

Dingin. Kata itu begitu tepat untuk disesuaikan dengan cuaca malam ini. So Ae tidak begitu menyukai cuaca dingin, itu begitu mengganggu. Tapi ia sendiri merasa bosan berada di dalam rumah. Tidak ada Tae Woon, benar-benar berefek besar pada kehidupannya. Meskipun ia kadang merasa jengah dengan kecerewetan adiknya yang rewel dengan banyak hal, tapi keputusannya pergi ke Seoul, ternyata berdampak negatif juga untuknya. Kehilangan ‘aktivitas’nya dalam diam, mendengarkan.

So Ae pun menghembuskan napas beratnya. Untuk pertama kalinya ia merasa rindu pada anak cengengesan dan polos itu. Dan untuk pertama kalinya ia merasa menyesal telah membiarkan anak laki-laki itu meninggalkannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya juga, ia benar-benar merasa sendiri. Terlalu banyak kata ‘pertama kalinya’ disini, membuatnya sadar bahwa dia memang terlalu bergantung pada laki-laki cerewet itu. Tapi tidak akan disangkalnya, ia memang merasa perlu hidup untuk anak manja itu, adiknya sendiri, Lee Tae Woon.

Bagaimana dengannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia makan dengan benar? Apa dia beristirahat cukup? Apa dia tidak kesepian? Apa dia tidak merindukan kakaknya?

Ya. Benar. Dia merasa kesal karena anak manja itu tak kunjung menghubunginya juga, bahkan hanya untuk sekedar mengiriminya sms. Mulai sibuk, kah? Apakah dia belajar dengan benar? Setahunya, anak manja itu tidak menyukai kata belajar. Membuatnya agak ragu apakah dia benar-benar baik-baik saja di Seoul?

“Tidak perlu khawatir. Dia sudah besar. Jangan terlalu berlebihan merindukannya, So Ae~ya.” So Ae menoleh kebelakang, ke arah sumber suara. Dan ia dapat menangkap sosok neneknya yang berjalan ke arahnya.

Sebuah senyum tersungging begitu saja di bibir gadis itu, ia pun mengangkat bahu dan membiarkan sang nenek mengusap rambut sang cucu dengan lembut dan kasih sayang.

Benar, aku masih punya nenek. Batin So Ae.

“Nenek selalu membuatku takut, selalu bisa menebak isi pikiranku.” Canda So Ae kaku, semakin merapatkan jaketnya karena merasa udara semakin tidak bersahabat dengannya.

Tidak menjawab. Namun nenek hanya tersenyum simpul mendengar pernyataan cucunya. “Kau terlalu terbiasa bersama dengan Tae Woon. Menghabiskan waktu bersama tanpa peduli pada apapun. Seolah dunia ini hanya milik kalian berdua.”

So Ae tersenyum kaku, “Sepertinya kalimat itu tidak begitu tepat, nek.” Sahut So Ae.

“Memang tidak. Tapi seperti itulah yang kulihat dari mataku sendiri. Kadang, kupikir kau berlebihan dengan menghalangi dirimu untuk berinteraksi lebih dalam dengan dunia luar. Dan hanya membiarkan Tae Woon yang bisa melihatmu”

So Ae terdiam, namun tetap tersenyum menanggapi ucapan neneknya. Matanya terus mengarah pada bintang-bintang yang sepertinya menguping pembicaraan So Ae dan neneknya.

“Tidak boleh terlalu senang, dan tidak boleh terlalu sedih. Emosi-emosiku harus selalu stabil, dan bisa berefek buruk jika aku melanggarnya. Awalnya aku tidak suka dengan kalimat itu, tapi melihat Tae Woon yang selalu berkata ‘hiduplah baik-baik untukku Noona’, membuatku selalu berpikir untuk harus tetap hidup, setidaknya sampai dia menemukan gadisnya, lalu menikah. Ya…sampai ada seseorang yang bisa menjaganya dengan baik, dan menua bersamanya. Dan…mungkin yang kulakukan sekarang, adalah cara yang bisa menunda waktu terburukku.”

“So Ae~ya, jangan bicara seperti itu. Kau juga harus menikah, dan memiliki seorang anak. Berbahagia dengan keluargamu kelak.”

So Ae tertunduk, ia tidak pernah berharap sejauh itu. Harapan-harapannya dulu juga hanya sebatas harapan, kemudian dibabat habis oleh takdir. Kadang ia berharap takdir sedang berbohong, tapi apa mungkin takdir seperti itu? Bahkan anak kecilpun tahu, takdir itu sangat nyata dan tak terbantahkan. Dan sepertinya kesalahan besar jika So Ae lagi-lagi berharap takdir yang di laluinya tidak benar-benar nyata. Misalnya, mimpi mungkin? Tapi mimpi ini terlalu panjang untuk sebuah tidur, terlalu detail.

“Sesekali kau harus mengunjungi ibumu di Daegu, tidak baik menghindari ibumu sendiri.” Lagi, tangan sang nenek mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang, satu-satunya wanita yang menggantikan peran seorang ibu bagi So Ae.

“Aku tidak pernah menghindarinya. Tapi ibu yang tidak begitu nyaman dengan keberadaanku disekitarnya, mungkin ibu khawatir suaminya tidak nyaman dengan keberadaanku.” Balas So Ae sedikit lantang, dadanya sedikit teronggok sakit. Lalu sesak.

Andwae. So Ae buru-buru menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Kemudian menggeleng pelan, berharap pikiran-pikiran menyebalkan itu akan lenyap dan berhenti bergentayangan di otaknya.

“So Ae~ya…”

“Bukankah memang begitu, nek? Alasan kenapa akhirnya aku dan Tae Woon tinggal disini, karena keberadaan kami tidak begitu menyenangkan. Kadang aku rasa materiil justru adalah api untuk keluargaku,” So Ae terkekeh pelan, menertawakan nasib keluarganya yang begitu kelam di matanya, “Tapi seandainya materiil itu tidak ada, mungkin saja aku juga sudah menghilang dari dunia ini.”

“Lee So Ae…”

“Aku bisa memaklumi ayah dan ibu, keputusan mereka. Aku bisa memaklumi. Aku juga perlu hidup, bukan? Sedikit lebih lama lagi. Sedikit lebih lama lagi. Aku tidak ingin buru-buru meninggalkan impian terbesarku, yang pada awalnya bukan impianku. Setidaknya. Aku bisa melihat dunia lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi. Dan kehidupanku saat ini juga karena materiil yang di berikan  ibu, atas nama…”

“Hentikan Lee So Ae!”

Tidak. Tidak bisa. Airmatanya berhasil membobol pertahanannya. Sakit. Dadanya benar-benar sakit.

“Aku tahu mereka menyayangiku. Juga nenek yang selalu disisiku, dan juga Tae Woon yang menjadi alasanku untuk hidup saat ini. Jadi aku tidak perlu khawatir bukan? Tuhan juga lebih menyayangiku. Aku tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja.”

Entah sejak kapan, kepala So Ae sudah bersandar di bahu neneknya. Ya. Setidaknya ia merasa lebih baik sekarang.

“Seharusnya aku tidak pernah membahas soal ibumu.”

 

***

Iklan

One thought on “If It was Me bab 4

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s