Mishil

Mishil

Nidariah S HS

 

Note : Cerita ini terinspirasi dari drama The Great Queen Seon Deok. Dan diambil dari beberapa sumber artikel catatan sejarah Dinasti Silla. Cerita ini juga hanya fiktif belaka, karena tokoh sebenarnya hanya tercatat dalam buku Hwarang Segi.

 

Ooo

Aku baru saja sampai di Seorabol, ibu kota Kerajaan Silla, dan meninggalkan ibuku yang masih bersikeras untuk tinggal di perbatasan.

Aku tidak pernah berpikir tentang kekuasaan dan politik, terlebih aku hanya perempuan yang dengan beruntungnya lahir dari keturunan bangsawan. Tapi aku rasa takdir mencatat garisku dengan cara yang lain, aku terlahir dengan atas nama dendam yang sudah menjadi darah daging antara ayahku dan ibu suri Jiso.

Lalu apakah aku di didik untuk membalas dendam? Jawabannya tidak. Aku hanya kebetulan diundang untuk datang ke istana dan dipertemukan dengan Raja Silla ke-24, Raja Jinheung. Mungkin takdir memang sedang berpihak padaku, karena dengan sebuah ramalan yang entah bagaimana bisa membuatku bisa menjadi bagian dalam istana ini.

-0-0-0-

Salah satu keinginan terbesarku adalah menjadi seorang permaisuri resmi disini. Mengikuti taktik politik setelah semua pengorbanan yang aku lakukan. Kekuasaan kerajaan memang sudah dalam genggamanku, tapi apa gunanya kekuasaan jika statusku bahkan tak bisa membuatku benar-benar menjadi penguasa?

Kuhirup teh yang ada dihadapanku. Perang ini membuatku lelah memang, umurku juga sudah tua, seharusnya aku bisa menikmati masa tuaku, bukannya malah terus memutar otak ini untuk memenangkan perang.

Dan pria di dekat pintu itu mendekat, aku tersenyum puas, dia mewarisi bakatku dengan kekuatanku.

 

-0-0-0-

Ini bukan pertama kalinya aku berperang, bukan pertamakalinya melakukan kudeta. Tapi jika diizinkan untuk berterus terang, saat ini rasanya hampir seperti melawan takdir. Memang sudah hampir tidak mungkin untuk menang, tapi juga tidak mungkin untuk membiarkan diriku kalah bukan?

Aku hanya tidak ingin menjadi lemah. Aku sudah menghabiskan separuh hidupku untuk kemenanganku, untuk membayar semua penderitaanku karena ulah Ibu Suri Jiso. Membayar atas kepergian Sadaham, atas keputusan Raja Jinheung dan memaksaku untuk menghianatinya, membayar penghianatan Jinji, juga atas semua pengabdianku untuk negri yang tak juga mau memandangku.

Aku masih ingat jelas persaingan yang terjadi antara ayahku dan Ibusuri Jiso. Bagaimana Ibusuri Jiso sangat membenciku, bagaimana strateginya untuk menyingkirkanku dari istana. Tapi lihat, takdir berpihak padaku. Raja Jinheung sendiri yang memintaku untuk tinggal di Istana dan membiarkanku belajar layaknya para bangsawan-bangsawan Seorabol.

Aku juga masih dapat mengingat dengan jelas, bagaimana saat pertamakali aku mengenal Sadaham, seseorang yang menjanjikan fase kehidupan baru untuk kami berdua dimasa depan. Dimasa depan? Hari inikah? Lalu aku harus menyalahkan siapa saat aku tahu masadepan yang dijanjikan Sadaham hanya menjadi kenangan yang bahkan lebih kecil daripada sebuah titik? Siapa yang membuatku menjadi seperti saat ini?

Ibusuri Jiso. Seandainya ada orang yang berhak untuk aku salahkan atas semua yang aku lakukan saat ini, aku akan menunjuk ibusuri Jiso. Dengan senyum sinis yang melengkung sempurna, aku dapat mengingat dengan jelas bagaimana taktiknya untuk mendepakku dari istana. Mulai dari kesialan istana yang dituduhkan padaku, dan dia menyuruhku untuk berdoa menurunkan hujan. Bagaimana bisa aku membuat hujan turun? Aku bukan Tuhan! Lalu apa yang terjadi? Hujan itu benar-benar turun, kau kalah kembali ibusuri.

Tidak. Bukan hanya itu. Aku masih ingat jelas saat ia memaksaku untuk menikah dengan putranya, pangeran Sejong. Aku tidak ingin membuat diriku sendiri menjadi seorang penghianat, aku akan menunggu Sadaham dari perangnya. Tidak peduli harus berapa lama, aku harus menunggunya. Tapi apa yang dilakukannya? Atas nama kekuasaan dia dengan sesukanya memberiku ultimatum.

Tapi dia bisa melihat sendiri, atas kesulitan dan saat dia tahu aku tidak bisa memilih, justru aku bisa bertahan menjadi wonhwa dan memenangkan peranku juga perang di negri ini. Lihat! Seandainya dia masih hidup saat ini, aku ingin berteriak didepannya, akulah pemenangnya! Bukan dia!

Karenanya Sadaham harus meninggal. Mati karena menungguku? Ya, itu sangat konyol. Tapi itulah kekonyolan yang sangat menyakitkan, membuatku sadar akan sesuatu, wanita itu sedang mengajakku berperang. Apakah dia buta dan tuli atas kemenanganku? Terimakasih Ibusuri, karenamu aku dapat memenangkan semua perang yang kita buat. Terimakasih karena membuatku menjadi lebih kuat dan lebih kuat demi waktu ke waktu.

Saat itu Kekuasaan mulai terbuka memang, aku bersyukur karena telah berhasil menduduki posisi menjadi Seju. Pemegang tertinggi para hwarang dan nando. Pemegang stempel istana. Perang, perang dan perang. Semua strategiku tepat pada sasaran. Seperti anak panah yang tetancap tepat pada titik pusat. Lihat! Aku kembali menang! Bagaimana aku berhasil menduduki posisi selir raja Jinheung. Bagaimana aku menjadi kaki tangan raja dengan mudahnya.

Aku mencintainya, karena dia juga mencintaiku. Bagaimana dia mengundangku datang ke istana, bagaimana dia membiarkanku untuk terus bernapas dan terus menguatkaku di dalam istana. Meskipun saat itu aku yakin, dia tidak tahu aku sedang berusaha melebarkan sayapku dan berusaha menduduki kekuasaan tertinggi di negri. Hanya itu. Sesederhana itu.

Lalu apa yang ia lakukan? Dengan kekuatan mata lainnya, ia bisa mengetahui tujuan utamaku. Menjadi selir raja sedangkan aku adalah istri seseorang? Kegelapan istana memang. Tapi apakah ada cara lain untuk mencapai posisi tertinggi itu? Bukan aku yang menginginkan Sejong, tapi Sejong yang menginginkanku!

‘Sejong dan Mishil tidak diperkenankan untuk ikut campur urusan Negara.’ Itu potongan wasiat yang ia katakan. Aku tercengang. Bagaimana bisa dia membayarku dengan cara seperti itu? Dan yang lebih membuatku sadar dia tengah memulai perang denganku, di akhir hayat hidupnya, dia meminta hwrang Seolwon untuk membunuhku. Membunuhku? Seharusnya dia sadar dia telah salah orang. Tidak! Mereka semua orang-orangku dan bukan orang-orang Raja Jinheung. Tentu saja saat itu Seolwon tidak membunuhku, dan justru aku memenangkan istana. Kudetaku memang berhasil, bahkan tanpa harus membunuh Raja Jinheung. Dia mati sebelum puncak kudeta.

Lagi, senyum itu mengembang. Aku ingat bagaimana aku berteriak didepan jasad Raja Jinheung. Berkata padanya bahwa akulah pemenangnya! Manusia tidak perlu memiliki hati dan menjalani semua kekuasaan dengan hati. Untuk apa? Untuk menyaksikan dirinya di jajah oleh orang lain yang jelas-jelas hatinya membusuk karena kekuasaan itu sendiri?

Maafkan aku Paduka, seandainya anda tidak memulai, maka aku sendiri tidak akan memulai ini semua.

Mungkin Raja Jinheung tahu aku akan mengganti surat wasiatnya, dimana didalamnya juga tertulis bahwa penerus kerajaan bukan putra keduanya, melainkan cucu dari putra pertamanya, Baekjong.

Tapi Baekjong adalah anak kecil. Meskipun dia berhasil terangkat menjadi raja, tetap saja semua kekuasaan tidak akan dilakukan atas kehendaknya. Dia tidak tahu apa-apa. Dia terlalu lemah. Hanya anak kecil. Bahkan seandainya meskipun dia sudah menginjak 14 tahun, dia tetap tidak akan mampu memikul masalah kerajaan.

Mengganti wasiat dan mempengaruhi Jinji adalah satu-satunya cara. Tidak. Seandainya dia menolak, aku masih memiliki 1000 cara untuk memenangkan diriku dibawah nama kerajaan Silla. Tentu saja, apa yang tidak dapat dilakukan Mishil?

Dan aku berhasil menjadikan diriku sebagai permaisuri. Terlalu mudah malah, laki-laki itu hanya laki-laki lemah yang haus akan kekuasaan. Dengan iming-iming menukar surat wasiat dan menjadikanku permaisurinya, dia sudah terhasut dan langsung setuju. Aku sangat ingin mengatakannya saat itu, selamat datang didunia Mishil.

Seandainya dia tidak menghianatiku, mungkin saat ini aku sudah menjadi ibu suri. Tidak, bahkan mungkin aku sudah menjadi ratu di negri ini. Sial, dia malah menceraikanku saat aku telah melahirkan seorang putra. Padahal seharusnya anak itu menjadi sumber kekuatanku bukan? tapi tidak. Bahkan aku meninggalkan anak itu saat aku tahu, kekalahan sedang mengancamku.

Bodoh! Raja itu lupa satu hal, dia sedang membohongi semua orang dengan menukar wasiat. Mungkin dia lupa siapa yang menulis dan berhasil menukar surat wasuat itu. Aku! Akulah orangnya! Mishil!

Dia boleh berhasil membuatku sangat kecewa dan marah padanya, bersikap seolah-olah aku manusia lemah dengan memohon dan menangis dihadapannya. Tapi dia tidak bisa menyingkirkanku begitu saja. Aku! Aku yang berhasil menyingkirkannya!

Dengan mudahnya aku menunjukkan wasiat Raja Jinheung yang sebenarnya, tentunya setelah aku menghilangkan bagian yang didalamnya tertera namaku dan nama Sejong. Kudeta. Aku kembali melakukan kudeta dengan diikuti seluruh hwarang yang aku punya. Dihadapan Raja Jinji, didepan seluruh para menteri, pejabat dan bangsawan, para hwarang itu menyatakan kudeta dan menusuk tubuh mereka sendiri, menolak Raja Jinji atas nama kekalahannya dalam berbagai perang dan memiarkan peta kerajaan Silla semakin mengecil.

Di kesempatan yang sama, aku mengumumkan tentang kebohongan raja Jinji masalah wasiat yang sengaja ditukarnya. Dan mengangkat Baekjong menjadi raja saat itu juga.

Apakah hanya itu yang aku lakukan? Tidak. Tentu saja tidak. Baekjong telah menikah. Dan salah satu cara untuk mencapai posisi permaisuri adalah menyingkirkan istri Baekjong.

Awalnya semua itu berhasil. Wanita itu tak pernah kembali dan menunjukkan atang hidungnya. Satu tahun adalah batas menunggu kedatangan wanita yang dianggap menghilang itu. Peraturan tetaplah peraturan, bagaimanapun Baekjong tidak bisa mengelak. Dan aku tentunya adalah pemenang disini, 8 dari 10 mentri yang hadir adalah orang-orangku. Sudah tentu seharusnya aku akan kembali menduduki posisi permaisuri.

Tidak. Kembali masalah terjadi, aku terjepit dengan kenyataan bahwa wanita itu kembali. Moonnoh, aku lupa dengan pria itu. Satu-satunya orang yang menolak kekuasaanku dibelakang raja, dan kini ia berhasil membawa wanita yang dalam pikiranku seharusnya kini telah mati. Aku kalah telak. Tidak ada celah lagi, terlebih melihatnya kini sedang mengandung.

 

Cenayang itu mengatakan bahwa kandungan Permaisuri sedikit bermasalah. Aku tidak begitu paham pada awalnya, tapi melihat rasi biduk bintang utara, aku baru tahu apa yang akan terjadi, permaisuri akan melahirkan anak kembar. Sedangkan menurut kepercayaan yang sudah mendarah daging dalam kerajaan, anak kembar hanya akan membawa kesialan untuk kerajaan.

Satu celah ini tidak akan aku sia-siakan. Dan yang aku harus pertimbangkan adalah Monnoh, jika dia berhasil membawa permaisuri pulang, maka tidak menutup kemungkinan ia akan membawa kabur satu dari anak kembar itu.

Kembali kukerahkan seluruh prajurit yang ada, kuperintahkan adikku Misaeng untuk menyuruh seluruh prajurit untuk tidak membiarkan satu orangpun bisa masuk ataupun keluar.

Tidak. Nasibku sedang tidak bagus sekarang. Ramalan itu malah tertuju pada kekalahanku, Monnoh, dia sendiri yang mengatakan bahwa anak kembar itu justru akan menjadi pedang yang akan menusukku. Bayi itu adalah musuh Mishil? Terdengar tidak mungkin memang.

Aku tidak ingin mengakui ramalan Monnoh, tapi bagaimanapun aku merasakan firasat buruk berjalan di antara pikiran dan perasaanku. Tidak ada cara lain. Setelah aku tahu bayi itu berhasil dibawa kabur, aku memerintahkan agar Cheolsok, hwarangku yang paling setia, untuk mencari dan membawa bayi itu. Aku tidak akan membunuh bayi itu atas ramalan Monnoh, tapi dengan membongkar kelahiran bayi kembar itu, maka aku akan menggulingkan permaisuri, dan kemungkinan aku akan mendapat celah baru untuk mencapai kekuasaanku.

Gagal. Cheolsok tak pernah kembali, bersama dengan bayi dan Monnoh, dan aku? Dengan perihnya aku melihat bayi yang satu, Putri Cheon Myeong resmi tengah diangkat dan diakui sebagai putri kerajaan. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat, tangan Baekjong bergetar hebat. Dia menang, dia hampir saja terkalahkan.

 

Takdir agak sedikit lucu memang. Siapa kira bayi itu akan kembali dan dengan mudahnya menduduki singgasana putri Cheon Myeong yang mati tebunuh. Bayi yang sudah menjadi wanita kuat dan dengan mata kepalaku sendiri, dia berhasil memerangiku.

Dan yang lebih tak terduga, putraku juga putra biologis Raja Jinji, dia tepat didepan mataku dan tengah ikut memerangiku. Dia berpihak pada gadis sialan itu. Monnoh, dia memungut anak itu saat aku membuangnya seperti Raja Jinji yang membuangku.

 

Bidam, putraku dan putra Jinji ini hanya bisa membiarkan hatinya menangis. Aku, meskipun aku telah membuangnya, meskipun aku tak pernah membesarkannya, aku tetap menyayanginya. Dia datang kemari untuk memintaku menyerah? Dia menyayangiku?

Hebat. Bahkan dia membuatku berhasil menemukan hati nuraniku yang selama ini sengaja kukubur dalam-dalam. Dia anakku, dan aku, aku menyayanginya. Hati nuraniku sebagai ibu saat ini tengah memimpin, tapi mana mungkin bisa aku bisa menyrah pada hati nuraniku yan hanya akan membuatku kalah?

Mataku terpaku saat gadis yang berdiri dilamunanku kini tengah berjalan mendekat kearahku, Putri Deokman, wanita yang diramalkan akan menusuku ini benar-benar beridiri dihadapanku. Jangan katakan. Tapi aku tahu apa yang akan dikatakannya, dia menang. Nyaris menang.

Dia nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Bidam yang menjadi kekasihnya ada tepat disisiku. Dengan cucuran airmata, matanya memmohon padaku. Deokman tentu takkan percaya itu. Takkan mudah percaya.

Melihat Putri Silla ini sudah berhasil mendatangi kediamanku, membangunkanku bahwa ini sudah akhir dari ceritaku. Tidak. Aku tidak mau dikalahkan. Perang masih belum usai bukan? aku belum sepenuhnya kalah. Tidak benar-benar kalah.

Kembali bayangan masalaluku berkelebat hebat dalam pikiranku. Bagaimana perjalananku bisa sampai berdiri di tangga ini. Aku memang tidak berhasil mencapai tujuan tertinggiku, tapi setidaknya aku tahu aku pernah memimpin negri ini sesukaku, kapan kerajaan ini perlu tersenyum, kapan kerajaan ini harus menangis. Aku. Mishil.

Aku sudah merasakan diriku siap mati sekarang. Racun tadi. teh? Ya. Anggap saja itu adalah teh. Teh yang akan membawa diriku untuk segera mengakhiri namaku diatas negri ini. Membiarkan catatan sejarahku menguap bersama rohku yang akan meninggalkan jasadku.

Aku lebih baik mati saat ini, seperti ini, kalah terhormat dibandingkan menerima kenyataan telak bahwa kekuasaanku akan habis di gerogoti kenyataan takdir berpihak pada Deokman. Bukan padaku.

Aku memang tidak memenangkan perang, tapi kekuasaanku memenangkan kerajaan ini. Aku Mishil, satu-satunya wanita yang menduduki dan melakukan tugas yang seharusnya di lakukan pria.

Selamat tinggal Silla, selamat tinggal Mishil.

 

30/05/13/22:28

 

Iklan

One thought on “Mishil

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s