Tali Sepatu

Tali Sepatu

A story by Chang Nidhyun

Ooo

 

-Februari 1989, Beijing-

 

“Aku tidak mau tau, kau harus mengugurkan kandunganmu itu secepatnya,” Dengan tatapan tajam, Lin terus menekan agar atlet-nya ini mau mendengarkannya saat ini. Mei terdiam, ia tidak tahu harus memberikan pembelaan apalagi terhadap pelatihnya ini. Memang tidak ada pilihan baginya, semua salahnya. Semua berawal darinya dan sekarang ia harus mempertanggung jawabkannya. Saat ini masa depannya, cita-citanya yang telah dibangunnya bertahun-tahun tengah dipertaruhkan. Hanya karena kejadian malam itu, cinta buta sesaat yang menjerumuskannya. Hanya satu malam, tapi satu malam itu membuat masalah yang bakal lebih panjang.

“Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak mungkin melakukannya,” Mei menggeleng pelan, ia tahu yang ada dalam rahimnya kini adalah calon manusia. Dia hidup. Meskipun hanya 1cm, dia hidup. Apakah salah jika ia menginginkan janin yang hidup dirahimnya ini tetap hidup?

“KAU GILA!” Lin menggebrak meja didepannya dengan sangat keras, “Kau bahkan hanya bertemu dengannya diacara liburan bodohmu itu di Bali, lalu kau dengan mudahnya menyerahkan dirimu pada lelaki hidung belang sepertinya malam itu? Kemudian kau berpikir untuk menemukannya dan terus mencarinya di Indonesia sana, hah? Bahkan kau hanya tahu dia tinggal di Jawa Timur, tapi kau tidak mempunyai alamatnya?”

“Aku punya. Aku tahu alamatnya,” Mei memotong.

“Lalu dengan itu Kau bisa menemukan pria itu? Kau menemukannya dan apakah dia akan bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan padamu? Berhenti jadi wanita bodoh!” Lin mendesah panjang, “Kau pelari Mei, kau pelari. Kau punya masadepan yang panjang, masih sangat panjang dank au akan menyerahkan semua itu karena janinmu itu?”

“Dia anakku!” Mei mulai berkaca-kaca, “Aku tetap bisa menjadi pelari meskipun aku telah memiliki seorang anak. Dia juga calon manusia, kau tidak bisa dengan kasarnya hanya merendahkan anakku!” suara Mei meninggi. Ia tidak tahan.

“Siapa yang akan menjaminnya? Apakah ada yang akan membawamu dan menarikmu lagi setelah satu tahun itu? Kau pikir memiliki seorang anak sama dengan kau memiliki peliharaan?! Kau bodoh Mei, kau bodoh! Jika kau masih ingin jadi pelari, gugurkan kandunganmu. Kau masih berumur 20 tahun. Aku beri waktu kau satu bulan, jika kau tidak kembali, maka saat itu aku anggap semua berakhir,”

 

Ooo

 

-Februari 1990, Banten- *tepat ultah kyuppa yang ke-2 dan ke-3 menurut korea ^^*

 

Hujan malam itu cukup deras mengguyur daratan. Ia sudah menghabiskan waktu satu tahunnya di Indonesia. Ia sudah menyerah, ia sudah tidak ingin mencari siapapun lagi. Ia sudah menyerahkan mimpinya, dia juga sudah mendapati jalannya begitu sangat sulit.

Ia membenci malam itu. Dia bahkan tidak dapat menganggap dirinya sebagai manusia. Ia telah membela bayi itu habis-habisan, tapi kenyataannya ia tidak bisa membawa bayi itu dalam pelukannya setiap saat. Ia tidak bisa melindungi bayi itu  dalam tiap lembaran waktunya. Ia tidak bisa. Ia mampu, tapi ia tidak bisa. Tidak.

Ia tidak tahu sejak kapan, tapi airmatanya begitu saja turun. Menemani tiap tetesan air yang turun dari langit. Mungkin dunia mencemoohnya saat ini, termasuk dirinya sendri, seluruh dirinya membenci dan mencemooh dirinya sendiri. Ia membenci dirinya. Sangat.

Didepan bangunan berwarna putih dengan bertuliskan ‘Panti Asuhan’, ia menaruh bayinya disana. Ditemani dengan cucuran airmata yang tak kunjung henti-hentinya menghancurkan kekuatannya untuk tegar saat ini. Tidak. Bahkan ia tidak pantas untuk tegar. Disamping bayi itu, ia tak lupa menaruh kertas yang bertuliskan :

‘Fang Yin Chang,
Jakarta, 08 Januari 1990, 06.00 WIB.

Mei Chang,
Beijing, Cina’

Dan ia juga menaruh sebuah tali sepatu yang telah diikat rapi olehnya. Tali sepatu yang telah menemani hari-harinya saat mengejar mimpinya. Saat ia masih mampu berlari dan terus berlari. Sama seperti dirinya yang terus berlari melawan dunia ini. Meskipun kini, tali sepatu dan sepenggal hidupnya yang saat itu dinyatakan untuk dirinya sebagai pelari, telah ia serahkan dan telah ia hentikan. Ia memang tidak tahu harus memulai darimana, tapi setidaknya ia telah mengambil keputusan.

Kata maaf memang tidak cukup. Bahkan untuk darah dagingnya sendiri. Ia tidak pantas dimaafkan.

 

Ooo

 

-Juni 1995, Jakarta-

 

Hari ini, Fang Yin Chang telah memiliki rumah baru. Tidak, bukan hanya rumah baru. Tapi juga keluarga baru. Sama seperti oranglain, ia memiliki ibu, memiliki ayah, memiliki seorang kakak perempuan dan kakak laki-laki. Mereka tidak berbeda dengannya, mereka sama. Mereka memiliki mata sipit yang sama sepertinya, mereka memiliki kulit putih yang sama dengannya, mereka juga memiliki nama cina yang sama sepertinya. Dan yang lebih menyenangkan, mereka juga bisa memakai bahasa mandarin seperti yang diajarkan oleh Ibunya di Panti Asuhan. Rumah lamanya.

Ia menatap tiap sudut kamar barunya. Ini sangat bagus. Tidak, bahkan kelewat sangat bagus. Meskipun ia merindukan rumah lamanya, juga ibu dan teman-temannya, juga beberapa suster yang sudah menemaninya, tapi ia merasa memiliki rumah dan keluarga adalah impian terbesarnya.

“Aku mencintai mereka semua,” gumam Fang pelan, dia sangat senang karena akhirnya Tuhan mengabulkan do’anya.

Setelah asyik merebahkan diatas ranjang dengan alas berwarna merah muda yang terang, senada dengan dinding dan beberapa benda lain dikamar barunya, ia mengambil sesuatu dalam sakunya. Sebuah tali sepatu. Tidak sepasang, hanya sebelah. Ibunya dulu bilang, bahwa itu pemberian mamanya. Ia memang tidak pernah melihat wajah mamanya, tapi ibu bilang mungkin mamanya memiliki satu urusan atau masalah yang harus diselesaikannya, sehingga ia harus tinggal bersama ibu dan teman-temannya. Ia sempat bertanya apakah ia bisa menemui mamanya,  dan ibunya menjawab bahwa bisa. Entah kapan tapi satu hari nanti, ia pasti bisa. Dan dengan tali sepatu berwarna biru muda ditangannya itu, menandakan bahwa mamanya menyayanginya. Meskipun ia tidak bisa melihat mamanya.

“Aku sayang mama,” Fang tersenyum kecil menatap tali sepatu ditangan kanannya.

 

Ooo

 

-Mei 1998, Jakarta-

 

Fang hanya memeluk lututnya disudut kamarnya. Ia belum dibolehkan untuk keluar dari kamarnya. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia tahu jika hari itu adalah hari yang buruk dan menakutkan. Ia dapat mendengar suara orang-orang diluar sedang berteriak. Bahkan ia juga dapat mengisap aroma asap yang tajam menusuk hidungnya.

Ia tidak tahu apa itu politik, tapi kakak laki-lakinya selalu berkata bahwa “politik itu gila!”. Dan yang ia bisa pahami sekarang adalah, bahwa kerusuhan yang terjadi saat ini karena politik. Apakah kata politik itu begitu buruk, sehingga ia merasa bahwa seluruh dunia tengah dibakar dipenuhi dengan teriakkan-teriakkan penuh kebencian?

Ia juga membaca dari sebuah media cetak, bahwa orang-orang seperti diluar rumahnya itu membenci etnis tionghoa. Mereka membenci orang-orang cina. Apakah itu termasuk dirinya? Ia memang dibesarkan dan lahir di Indonesia, tapi ibunya berkata dia tetap orang cina. Apakah itu artinya ia juga sama dibenci dan juga dia bukan bagian dari orang-orang diluar itu?

Apa salah kami? Fang semakin ketakutan. Ia sudah berpikiran yang tidak-tidak, tidak pernah terbayang sebelumnya jika akan ada hari seburuk ini.

Tiba-tiba ia mendengar suara teriakkan kakak perempuannya dari bawah. Ia tidak ingin keluar, tapi ia ingin tahu.ia ingin melihat. Tidak. Ia harus tahu. Perlahan, dengan perasaan yang sangat takut, iapun membuka pintu kamarnya. Dan ia melihat hal terburuk yang pernah dilihatnya. Airmatanya turun. Ia sangat takut. Berdo’a, hanya itu yang ia tahu. Kenapa orang-orang itu begitu jahat pada kami, Tuhan?

 

Ooo

 

-Januari 2000, Jakarta-

‘kami etnis tionghoa tidak pernah meminta untuk dilahirkan dan tinggal di Indonesia’. Kalimat itu masih terngiang jelas ditelinganya. Kakak laki-lakinya, dengan emosi yang meluap-luap dan airmata yang terus berjatuhan, ia terus mengatakan kalimat itu berulang kali. Ia sangat marah. Meskipun ia juga mengalami luka serius karena kejadian 2 tahun lalu, tapi ia masih tidak dapat menahan kemarahannya saat itu.

Ia tidak pernah diajarkan untuk membenci siapapun. Tapi akhirnya ia bisa mengetahui seperti apa itu perasaan benci. Ia membenci orang-orang Indonesia. Ia tidak peduli apakah semua orang itu salah atau tidak, tapi dengan pernyataan mereka dan perbuatan mereka, ia bahkan tidak berpikir untuk memaafkan mereka seandainya mereka meminta maaf. Tidak. Tidak akan pernah. Ia membenci orang-orang itu, karena mereka kakak perempuannya dirawat cukup lama dirumah sakit, dan setelah sembuh ia harus tinggal di rumah sakit jiwa. Bukankah itu sangat buruk? Dan kakaknya juga mengalami luka bakar yang cukup parah dikakinya.

Ia tidak bisa menerima. Ia berjanji, kapanpun ia bisa, ia akan meninggalkan tempat ini dan membawa keluarganya pergi. Tidak menutup kemungkinan jika mereka melakukan hal yang sama bukan? Aku memang tidak mengerti politik, tapi kebencianku tidak perlu mengerti politik itu apa. Tidak. Tidak perlu.

Pergantian presiden Negara inipun tidak akan berpengaruh banyak. Semua pembenahan dari yang berkuasa di Negara ini tidak akan mengembalikan keluarga bahagianya. Seandainya dia orang dewasa, hari itu ia akan membela dan menolong orangtuanya dan kedua kakaknya habis-habisan.

Ia menatap tali sepatu biru muda-nya, “Mama bagaimana? Mama baik-baik saja, kan? Mama harus baik-baik saja. Karena nanti, saat aku sudah besar, aku akan mencari mama dan bertemu dengan mama. Mama harus melihat dan mengenal keluargaku sekarang.”

 

Ooo

 

-April 2005, Jakarta-

 

Ia tidak yakin dengan apa yang dipikirkannya saat sebelum ia bertanding. Tapi ia tiba-tiba terpikir untuk memakai tali sepatu biru muda-nya. Ia memang sudah besar. Ia juga tahu mungkin akan terasa sia-sia jika ia mencari mamanya, juga belum tentu yang dikatakan ibunya dip anti asuhan itu benar. Seharusnya seorang ibu melindungi putrinya, apapun keadaannya. Bukannya melepasnya begitu saja.

Tapi ia harus berhenti memikirkan kebenciannya itu. Sia-sia. Bahkan membenci mamanya yang bahkan belum ia lihat sama sekali itu. Ia masih menyimpan kasih sayang disudut hatinya. Ia masih menyimpannya baik-baik. Ia mungkin memang berhak marah, tapi ia perlu berpikir dewasa untuk ini. Lagipula ia sudah punya keluarga baru sekarang. Dan kakak perempuannya sudah sembuh, meskipun ia masih sering melamun sendiri. Tapi ia bersyukur, setidaknya keluarganya mulai kembali utuh.

Hari ini sebuah penghargaan ia dapatkan. Ia tidak pernah tahu jika ia memiliki bakat menjadi seorang pelari. Dan penghargaan itu akan diberikannya pada keluarganya yang telah membesarkannya dan hidup bersamanya selama ini.

“Dan untuk mama yang sudah memberikan kekuatan lewat tali sepatu ini,” batin Fang.

 

Ooo

 

-Maret 2006, Jakarta-

“Kamu nggak berhak membenci kami semua karena alasan itu, Fang!” suara itu terdengar sangat marah. Anak perempuan bernama Amanda ini sangat membenci mendengar alasan Fang mengasingkan diri dari orang-orang disekolah.

Kelas memang kosong, tapi Fang benci mendengar orang dihadapannya itu berteriak-teriak seperti itu. Ia tidak tuli.

“Kamu nggak ngerti. Yang penting kamu gak keganggu sama keberadaan aku, kan? Dan aku nggak ngerasa keganggu sama keberadaan kamu,” jawab Fang santai.

“Tapi kamu udah keterlaluan, Fang!!”

“Kalau kamu ngerasa gak nyaman, aku bakalan pergi dari sekolah ini dalam waktu dekat, kok. Jadi kamu gak perlu khawatir,” jawab Fang masih dengan nada suara yang stabil.

“Kamu…maksud aku…”

“Terus apa yang harus kita lakuin sama kamu, supaya kamu percaya kalau kita semua nggak seburuk mereka yang udah ngerusak kebahagiaan kamu?” Rei berdiri diambang pintu. Fang mendesah panjang, sejak kapan anak laki-laki yang menjabat sebagai ketua OSIS itu berdiri disana? Jangan katakan jika ia mendengar semua yang dikatakan Fang pada Amanda.

“Nggak ada. Aku rasa aku Cuma perlu sekolah sama orang-orang yang sama kayak aku, bukan kalian.” Jawab fang kemudian. Ia tahu Rei juga memiliki darah cina, sama seperti dirinya. Tapi ia tidak pernah merasa nyaman dengan siapapun disekolah ini, tak terkecuali orang-orang seperti Rei. Ia tidak merasa aman.

“Kamu perlu berubah, kamu nggak bisa selamanya kayak gini,” nada bijak itu membuat Fang mencibir dalam hati.

“Aku pergi sekarang, aku harus siap-siap buat tanding lari besok,” Fang pun mengakhiri omong kosong itu.

 

Ooo

 

-Agustus 2007, Banten-

 

“Papa serius? Beasiswa ke cina?” Fang sangat bersemangat saat papanya menceritakan seputar sekolah di cina yang menyediakan beasiswa. Papanya memang memiliki banyak kenalan di cina. Dulu, dia juga bersekolah di cina.

“Ya. Sederhana. Kamu Cuma tinggal perlu belajar sungguh-sungguh, kamu bisa ke cina. Papa bakal usahain supaya kamu supaya kuliah disana,”

“Xiexie!”

 

Ooo

 

-Desember 2007, Banten-

Fang duduk mencoba menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. Sekarang ia sedang ditawarkan untuk menjadi seorang atlet nasional. Tentu saja itu bagus. Tapi jika ia melakukannya, kemungkinan ia tidak akan bisa pergi ke cina. Ia memang suka lari, tapi ia tidak memiliki cita-cita untuk menjadi seorang atlet lari.

Cita-citanya yang paling utama adala menjadi seorang dosen besar. Atau menjadi seorang dokter. Seputar itu. Sama seperti cita-cita orang pada umumnya. Dan tiba-tiba sebuah tawaran datang padanya.

“Biaya hidupmu selama bersama kami akan dijamin. Jadi, kamu nggak perlu khawatir.” Uap laki-laki dihadapan Fang .

“Aku memang sangat suka lari. Aku juga sangat senang tiap kali aku bisa berlari dilapangan. Tapi tidak sedikitpun aku berpikir untuk menjadi seorang pelari, aku tidak punya cita-cita semacam itu.”

“Benarkah? Tapi kamu punya bakat Fang Yin Chang, pikirkan kembali. Kamu bisa mewakili Negara ini,” lagi-lagi pria itu meyakinkan. Namun darahnya terasa dingin saat laki-laki itu mengatakan kata ‘negara ini’. Mungkin maksud dari kata laki-laki yang lebih tua darinya ini adalah, satu kebanggaan yang akan didapatnya. Tapi bahkan ia tidak berpikir untuk itu. Ia masih merasakan sakit hatinya. Meskipun ia tahu, itu juga salah satu cita-cita yang mungkin diimpikan oleh orang lain.

“Aku tidak punya cita-cita menjadi seorang pelari. Aku minta maaf,”

 

Ooo

 

“Kenapa kamu tolak tawaran itu? Bukannya bagus kalau kamu jadi atlet? Atlet nasional. Itu hebat, kan?” suara rei sedikit mengagetkan fang. Fang tidak habis pikir, bagaimana laki-laki dihadapannya ini sering muncul tiba-tiba?

Fang menutup lokernya dengan agak kasar, dongkol dengan sikap Rei yang selalu ingin tahu. “Bukan urusan kamu. Aku mau jadi atlet atau nggak, aku terima tawaran itu atau nggak, itu bukan urusan kamu. Dan berhenti ikut campur urusan oranglain” Fang pun melewati Rei dengan sedikit tabrakan bahu yang disengaja. Rei menyadari jika Fang sedikit marah, tapi baginya bertanya pada Fang adalah hal yang wajar. Karena gadis itu akan semakin dingin jika dibiarkan saja.

 

ooo

 

Hari itu Fang agak sedikit terlambat pulang. Jam 5 sore ia baru keluar dari gerbang sekolah. Latihan club atletik hari ini memang agak sedikit lama, banyak pengarahan karena saat itu detik-detik menjelang pertandingan di akhir desember nanti.

Fang menyebrang dengan santainya. Ia memang hanya perlu menunggu taksi menjemputnya di sebrang sekolah. Arah jalur yang sama dengan jalur taksi.

“Fang Yin!” ia mendengar seseorang memanggil namanya dari arah sekolah. Fang langsung mendongak mengalihkan pandangannya dari ponsel kearah seseorang yang tengah berlari kearahnya. Fang menyipitkan matanya, “Manda?”

Dan denngan cepat, entah bagaimana Manda menyebrang begitu saja tanpa memperhatikan jalan. Dan tepat saat itu sebuah mobil menabrak tubuhnya. Mata fang terbelalak, otaknya belum memproses kejadian yang baru dilihatnya. Hanya saja kakinya langsung berlari kearah Amanda.

 

Ooo

 

“Kenapa kamu tolong Manda?” Tanya Rei mencoba mensejajarkan kakinya dengan kaki Fang. Fang memang berjalan jauh didepan teman-temannya, termasuk Rei.

Fang menghentikan langkah kakinya, ia melihat kearah Rei dengan tatapan mata yang tajam, “Aku ingetin kamu satu kali lagi, jangan pernah mau tau urusan aku.” Fang pun melanjutkan langkah kakinya, mencoba menjauhkan diri dari Rei.

“Tapi kan aneh aja, kalian gak deket. Tapi kamu bisa sepanik itu dan ikut nganterin ke Rumah Sakit segala. Jadi, wajar aja kan aku nanya?” Rei mengeraskan suaranya, Fang sudah berjalan terlalu jauh didepannya.

Teman-teman Fang dan Rei yang lain dibelakang hanya saling berbisik melihat tingkah Rei dan Fang.

“Jangan teriak dirumah sakit!” Fang berbalik sekilas kemudian melanjutkan langkah kakinya.

“Makanya tungguin!”

‘dasar aneh!’ umpat Fang dalam hati.

 

Ooo

 

-Januari 2008, Jakarta-

 

Fang mengikatkan tali sepatu biru mudanya di sepatu kanannya. Meskipun warna tali sepatu pemberian ibunya itu tidak senada dengan tali sepatu Fang yang berwarna merah muda, tapi Fang merasa ada kekuatan dari tali sepatu itu tiap kali Fang memakainya saat pertandingan seperti ini.

Hari itu tepat tanggal 8, hari ulangtahunnya yang ke-18. Orangtuanya sudah memberinya kejutan besar semalam, dan ia kini akan mencoba mengejar hadiahnya sendiri dengan perlombaan lari tingkat nasional itu. Hadiah ulang tahunnya.

“Kenapa pakai tali sepatu yang itu?” Rei lagi-lagi tiba-tiba muncul. Ia kini berdiri tepat disamping Fang.

“Bawel,” gumam Fang kesal. Laki-laki disampingnya itu terlalu cerewet menurutnya.

“Tapi, kan aneh aja. Gak enak liatnya,”

“So, gak usah diliat.” Jawab Fang ketus.

“Fang Yin!” Mata Fang beralih pada teman-teman sekelasnya yang baru datang. Fang membalas lambaian teman-temannya itu. Sejak Manda kecelakaan, Fang menjadi dekat dengan Manda. Bukan hanya Manda, tapi juga teman-teman sekelasnya yang lain.

Fang pun langsung menghampiri teman-temannya yang lain dan mengabaikan Rei yang berdiri dibelakangnya. Rei memang tidak secara khusus datang untuk melihat pertandingan Fang, tapi mengetahui Fang yang selalu menyabet gelar juara dengan kecepatan larinya itu, membuat Rei sedikit penasaran dan ingin melihatnya secara langsung. Bagaimana gadis dingin itu berlari saat dilapangan.

 

Ooo

 

Mei Chang merapikan kado yang sudah dibungkus rapi olehnya. Ia memang sudah sangat lama tidak datang ke Indonesia. Dan di akhir tahun kemarin, Mei memutuskan untuk datang menjenguk putranya. Sekaligus ingin mencoba bertanggung jawab, memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya 18 tahun terakhir. Ia harus melakukannya. Ia tidak boleh bersembunyi lagi.

Kemarin ia sudah datang ke panti asuhan itu, ke tempat ia menitipkan putrinya dulu. Ia memang tidak begitu suka melihat kearah masalalunya. Tapi bagaimanapun juga ia harus menemui putrinya. Ia sudah menjadi seorang ibu sekarang, saatnya ia bertanggung jawab.

Nihil, ia hanya mendapatkan secarik kertas alamat dari orangtua baru bagi putrinya itu. Ia menjadi sangat ragu dengan keputusannya. Bagaimanapun ia telah meninggalkan putrinya itu, bagaimanapun ia telah melakukan kesalahan. Dan setelah putrinya mendapatkan keluarga baru, apakah mungkin putrinya mau menerimanya? Jika putrinya merasa sangat kecewa, dan bahkan tidak menyukainyapun itu hal yang wajar. Tapi ia harus melihat putrinya. Ia harus.

Dan hari ini, tepat tanggal 8 Januari, adalah tepat ulangtahun putrinya yang ke-18. Ia akan menemui putrinya, ia akan memberikan hadiah sederhana yang sudah dibelinya. Ia harap, putrinya itu dapat menerimanya.

 

Ooo

 

Ia tercengang saat ia tahu ia berhadapan dengan siapa. Laki-laki itu. Ia tidak akan lupa. 19 tahun memang telah berlalu, tapi ia tidak akan pernah lupa dengan laki-laki yang telah berhasil menjatuhkannya malam itu, ia tidak akan melupakan ‘cinta sesaat’ nya. Laki-laki yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah biologis dari putrinya Fang Yin Chang, Marteen. Lalu, kenapa dikertas itu dia bernama Hendra?

Sama dengan laki-laki itu, ia tidak percaya akan bertemu lagi dengan wanita itu. Setelah liburan mereka habis di Bali, 19 tahun yang lalu, setelah ia berusaha menghindari wanita itu saat ia memberitahunya bahwa ia hamil, ternyata waktu membawa wanita itu kembali kehadapannya. Kali ini dengan masalah yang berbeda.

Hanya keheningan yang menghiasi meja makan tempat mereka bertemu. Mei mendapat no.telepon Marteen alia Hendra dari pembantu rumah tangganya, setelah ia menjelaskan maksud kedatangannya. Dan saat itu Mei tahu, yang selama ini mengadopsi putrinya adalah, ayah kandungnya sendiri.

“Aku hanya ingin memberikan ini pada Fang Yin, hari ini hari ulangtahunnya. Aku juga ingin bertemu dengannya. Setelah 18 tahun, aku rasa aku harus memperbaiki semuanya.” Mei menyodorkan kantong plastic berisi kado yang telah disiapkannya.

“Apakah…apakah…saat itu…”

“Ya,” Mei memotong ucapan Hendra, “saat itu aku hamil. Dan Fang Yin Chang adalah putriku, juga putri biologismu”

“Tidak mungkin. Kau hanya berbohong, kan? Kau hanya ingin bertemu denganku, dan kau…”

“Kau tidak perlu panik, aku tidak akan menuntut apapun darimu. Aku hanya ingin kau memberikan ini dulu padamu. Setelah itu, kita harus memberitahunya,”

“Memberitahu? Memberi tahu apa?”

“Tentu saja kenyataan kita, bahwa aku adalah ibunya. Dan kau adalah ayahnya, ayah kandungnya.”

“Tidak. Kau telah meninggalkannya dan kau pikir dia akan begitu saja menerima semua kenyataan ini? Pikirkan perasaannya, Mei.”

“Gadis itu akan mengerti, karena dia putriku. Dia berhak tau. Dan lagipula, sejak kapan kau peduli terhadap perasaan oranglain? Kau sudah meninggalkanku begitu saja sejak hari itu. Karenamu, aku terpaksa melepaskan semua atributku sebagai pelari.”

“A…apa?”

“Ya. Demi mempertahankan janinku. Tapi setelah berbulan-bulan mencarimu, aku rasa semuanya sia-sia. Aku tidak bisa bertemu dengan keluargaku dengan keadaan aku memiliki seorang anak, akhirnya aku putuskan untuk menitipkannya di panti asuhan. Setelah itu aku pulang ke cina,”

Hendra terdiam,

“Tak lama seorang pria Indonesia menikahiku. Akupun memulai hidup baru, dan sekarang aku memiliki seorang putra. Dan demi mengurus perusahaan, terpaksa aku menitipkan Rei di sini bersama nenek dan kakeknya 3 tahun lalu.” Mei mengambil jeda sejenak, “Jangan sampai kita membuat kesalahan lagi setelah 19 tahun yang lalu, demi Fang Yin Chang”

 

Ooo

 

-Mei 2008, Jakarta-

 

“Jadi, kau menyukai wanita itu?” Mei mencoba memasang telinga mendengarkan putranya bercerita tentang gadis yang disukainya.

“Bu…bukan begitu…” Mei terkikik melihat putranya jadi salah tingkah.

“Tapi dia gadis yang aneh, mom.” Mei kembali mendengarkan, “memangnya kenapa?” Tanya Mei kemudian.

“Dia memakai tali sepatu berwarna biru muda tiap kali ia akan bertanding. Padahal talisepatunya itu bukan pasangan tali sepatunya yang lain. Dan teman-temanku bilang katanya dia memiliki semacam kekuatan dari tali sepatu berwarna biru itu.” Mei terdiam. Ia kembali teringat pada sebelah tali sepatu yang diberikannya pada Fang Yin Chang dulu. “Sayang sekali dia akan kuliah di cina. Katanya dia ingin mencari ibu kandungnya,”

“Ibu kandungnya?”

“Hmm…” Rei –putra Mei- mengambil sepotong kue yang ada dimeja didepannya, “Dia itu anak adopsi. Hebat bukan? Dia bahkan tidak malu dengan statusnya sendiri,” Mei semakin tercekat.

“siapa namanya?”

“ya?”

“nama gadis itu?”

“mom kenapa?”

“Rei, katakan, siapa namanya?”

“Fang Yin Chang.”

 

Ooo

 

-Juni 2008, Jakarta-

 

Hendra hanya menyampaikan kado itu pada Fang, tapi Hendra benar-benar menghindarkan Fang dari Mei. Seminggu setelah pertemuannya di januari itu, Hendra langsung memutuskan untuk pindah rumah. Tidak. Ia tidak ingin ada masalah kembali. Dulu mungkin ia memang menyukai Mei, tapi itu dulu. 19 tahun lalu, saat ia lupa bahwa ia telah memiliki istri saat itu. Dan kesalahan terbesarnya adalah Mei. Dan sekarang ia harus menghindari masalah barunya. Ia tidak boleh bertemu dengan Mei. Mei adalah masalah.

Meskipun ia merasakan perasaan bersalah yang amat sangat pada Fang, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak ingin membuat semuanya rusak. Tidak.

“Apa ayah besok akan mengantarku sampai ke Cina?” suara Fang langsung membuyarkan lamunannya. Ia terdiam sesaat. Ia masih tidak bisa percaya jika gadis yang berada dihadapannya kini adalah putrinya. Putri kandungnya.

“Yah…?”

“Eh? Ya?”

“ayah kenapa melamun?”

“Ah…tidak. Kenapa?”

Fang menghela nafas, “Ibu besok ikut sampai ke Cina, apa Ayah juga?” Tanya Fang sekali lagi.

“Maaf, Fang. Ayah tidak bisa. Ada beberapa hal yang harus ayah kerjakan disini. Lagipula semua sudah siap, kan? Kau hanya tinggal mendatangi asrama barumu disana. Dan lagi ibumu akan berlibur disana selama beberapa hari,”

“Hmmm…ayah, terimakasih” ucap Fang tulus.

“Terimakasih untuk?”

“Untuk menjadi keluargaku selama 13 tahun terakhir. Dan…doakan aku agar aku bisa bertemu dengan ibu kandungku juga ayah kandungku,”

 

Ooo

 

-November 2010, Shanghai-

 

Fang memainkan smartphone-nya dengan agak bosan. Ia tidak tahu bagaimana ceritanya sekarang ia sedang berada diacara fansigning artis asal korea. Entah bagaimana temannya begitu mengidolakan artis-artis seperti itu.

Ditengah kesibukannya dengan smartphone-nya, tiba-tiba sebuah e-mail masuk. Ayahnya dari Jakarta rupanya.

 

‘Fang Yin Chang, bagaimana kabarmu disana?
ayah sangat merindukanmu.
fang, ayah ada hal yang ingin dikatakan padamu. Ayah harap minggu depan kau bisa pulang ke Jakarta.
ini cukup penting’

Fang mengerutkan keningnya. Hal penting? Sepenting itukah? Ia tidak pernah mendapati ayahnya yang mengatakan ‘ada hal penting yang ingin dikatakan’. Entah kenapa perasaan Fang jadi tidak enak. Apa terjadi sesuatu dengan keluarganya di Jakarta? Apalagi sudah 1 tahun ini dia memang tidak pulang ke Jakarta. Dan yang lebih mengecewakan, ia tidak dapat menemukan orangtua kandungnya. Orang yang memiliki nama ‘Chang’ itu sangat banyak. Dan terakhir saat ia menanyakan pada ibunya dipanti asuhan, ia hanya ingat nama belakang orang yang tak lain adalah ibunya, yaitu Chang. Saat itu umurnya masih 5 tahun.

“Menunggu lama?” Huan menepuk pundakku dan langsung duduk disampingku.

“Apa yang kau lakukan didalam? Hanya minta tanda tangan lalu pulang?”

“Ya…kurang lebih seperti itu. Tapi mereka sangat tampan, Fang,”

“Hhhh…lupakan. Kita pulang sekarang, aku harus menyelesaikan tugasku minggu ini,” Fang bangun dari tempat duduknya.

“Kenapa? Bukannya tugas dosen itu baru dikumpulkan 2 minggu lagi? Lagipula aku percaya kau bisa menyelesaikannya dalam waktu 3 hari,” Huan mengikutiku dari belakang.

“Ayahku memintaku untuk pulang minggu depan. Aku agak sedikit khawatir, dan mungkin aku akan sedikit lama di Jakarta,”

 

Ooo

 

Fang mencari-cari kunci apartemennya didalam tas. Sudah satu tahun ini ia tidak lagi tinggal di asrama dan lebih memilih menyewa sebuah apartemen. Agar ia punya waktu lebih banyak untuk sekedar tidur siang panjang, atau yang lainnya.

Setelah menemukan kuncinya, Fang langsung membuka pintu apartemennya. Dan saat pintu dibuka, “Fang Yin Chang?” langkah Fang langsung terhenti. Kepalanya langsung berputar kearah si pemilik suara yang sebenarnya sudah tidak asing lagi ditelinganya.

“Rei…?”

 

Ooo

 

“Jadi kau datang kemari hanya untuk menemuiku?” Tanya Fang tidak percaya saat mendengar jawaban singkat Rei yang mengatakan ia datang ke Shanghai hanya untuk menemuinya.

“Ya. Begitulah. Aku juga ingin jalan-jalan ke Cina, aku sudah lama tidak datang kemari,” jawab Rei tanpa menatap Fang. “Kau berubah drastis, ya? Kau jauh lebih baik sekarang, tidak sedingin dulu” Rei kembali berbicara.

Fang tertawa kecil mendengarnya, “Tidak. Aku tidak berubah. Aku masih tetap sama, kok. Oya, kau bilang kau sudah lama tidak kemari? Berarti kau pernah kemari sebelumnya? Atau….? Bahasa mandarinmu juga sangat fasih,”

Rei menghela nafas, “Ya. Karena aku lahir disini dan dibesarkan disini,”

Fang tersedak saat mendengar jawaban Rei. Rei adalah orang cina?

“Kau hanya bercanda, kan?”

“Tidak. Aku serius. Orangtuaku sibuk dengan pekerjaan mereka, tidak ingin aku terbengkalai, akhirnya aku tinggal di Indonesia,” Fang mengangguk mendengar jawaban Rei.

“Kau sendiri…apakah kau masih mencari orangtuamu?” Rei agak ragu menanyakan hal yang ingin ditanyakannya. Tidak. Bahkan ia tidak ingin menanyakannya, tapi ia harus.

Fang agak sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rei, setahunya dia tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya ataupun masalalunya pada Rei. Tapi Rei sepertinya selalu mencari tahu tentang dirinya, sampai-sampai masalah asal-usulnya pun dia sudah tahu.

“Kau masih suka menguntitku, ya?” Fang agak sedikit bergurau, tapi Rei diam. Bahkan bagi Fang, Rei terkesan terlalu serius. “Ya…ya…aku mencari ibuku. Mungkin seharusnya aku bertanya lagi pada pihak panti asuhan siapa nama ibu kandungku, aku hanya mengingat nama belakangnya yang sama denganku, Chang.”

“Kau belum menemukannya?”

“Belum. Lagipula aku juga harus fokus kuliah. Oya, ngomong-ngomong kau kuliah dimana sekarang?” Fang mencoba membelokkan pembicaraan.

“Ini…” Rei mengabaikan pertanyaan Fang dan memberikan sebuah tali sepatu berwarna biru muda kehadapan Fang. Fang terkejut melihat tali sepatu itu. Tali sepatu itu sangat mirip dengan yang ia miliki. “Aku tahu kau sudah tidak menjadi pelari lagi sekarang, tapi setidaknya mungkin kau masih mengingat tentang tali sepatu itu,”

“Bagaimana kau…”

“Aku tahu siapa ibumu,”

 

Ooo

 

-Desember 2010, Jakarta-

Fang memutuskan untuk tidak langsung menemui ayahnya, atau siapapun yang ia kenal di Jakarta. Fang lebih memilih untuk menghabiskan waktu satu minggu di rumah temannya. Ia belum siap pulang.

Ia masih khawatir dengan apa yang dikatakan Rei saat menemuinya seminggu lalu, “Kau mungkin akan mengetahui hal yang baik setelah kau kembali ke Jakarta, namun tidak denganku,”. Entah kenapa kepala Fang terasa berdenyut-denyut tiap kali ia memikirkan ucapan Rei. Ia terlalu ketakutan.

Fang juga tidak mendapat penjelasan apapun dari tali sepatu yang diberikan Rei padanya, tapi walau bagaimanapun, ia tahu jika tali sepatu yang di berikan Rei adalah pasangan tali sepatu miliknya. Bagaimana Rei mendapatkannya? Apakah jangan-jangan orangtuanya adalah kenalan Rei? Mungkin saja, laki-laki itu terus menguntitnya, bukan?

Dan sejujurnya, Fang memang tidak suka mengingat tali sepatunya. Bukan karena masalah ibunya, tapi ini karena cidera di kakinya yang menyebabkan dirinya tidak bisa lari kembali. Itu memang menyakitkannya. Meskipun itu tidak berefek luar biasa, tapi entah kenapa ia merasa berat hati meninggalkan hobinya itu. Ia juga merasa tidak ada kekuatan khusus saat memakai tali sepatu itu. Aneh.

Drrrrtttt….

Fang mengambil smartphone-nya, satu pesan dari ayahnya…

‘pulanglah sekarang,’

 

Ooo

 

-Januari 2011, Jakarta-

Ia benar-benar baru bisa pulang setelah 4 hari kemudian. Fang merasa tidak yakin, tapi ia harus pulang setelah mendengar ibunya sakit.

Sesampainya didepan rumah ayahnya, Fang melihat sebuah mobil terparkir tepat didepan pintu gerbang rumahnya. Apakah ada tamu? Itu pikiran pertama yang muncul. Fang pun segera masuk kedalam. Dan dia melihat Rei disana, apakah dia juga menguntit Fang sampai kerumahnya?

 

Ooo

 

Hari ini mungkin hari airmata bagi Fang. Ia seharusnya merasa senang seutuhnya saat bisa bertemu dengan ibu kandungnya. Dia bisa melihat wajah ibunya. Dia cantik. Dia juga masih terlihat muda. Dan akhirnya setelah 21 tahun akhirnya dia bisa merasakan pelukan ibunya, ia bisa mencium bau aroma ibu kandungnya. Ia sangat bahagia.

Dan entah Fang harus merasa senang atau apa, saat ia mendengar bahwa ayah kandung Fang adalah, ayahnya yang selama ini merawatnya. Orang yang telah mengadopsinya, membuatnya merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Ayah Hendra itu, ternyata adalah ayah kandungnya.

Dan Fang merasa dadanya sakit saat ibu kandungnya, menceritakan semua yang terjadi padanya hingga akhirnya dia disimpan dipanti asuhan. Sakit. Hanya satu kata itu yang dirasakan Fang. Dan yang membuatnya bertambah sakit, ketika ibu angkatnya, ibu Yuan jatuh sakit setelah mendengar semua kenyataan ini. Bagaimana tidak? Ibu Yuan mengangkat seorang anak yang tidak lain adalah anak hasil perselingkuhan suaminya? Bahkan Fang tidak berani bertatap muka dengan ibu angkatnya itu.

Dan satu lagi alasan dari tali sepatu yang diberikan Rei, dia adalah putra ibu kandung Fang.

‘Kenapa semua jadi sangat rumit? Dan satu keputusanku, aku harus kembali ke Cina. Ayah sempat menahanku, juga ibuku yang selalu kupanggil mama, dulu saat aku masih suka berbicara dengan tali sepatuku.

Dan jawaban yang bisa kukatakan adalah, “Seharusnya kita menyelesaikan masalah sejak dulu, dan bukan menghindarinya. Tapi jika memang ini takdir, apa mau dikata? Semua sudah terjadi, dan inilah…”’

 

Ooo

 

-September 2012, Hong Kong-

 

Fang membuka kembali kertas usang itu, hampir 2 tahun ia tidak pernah membukanya. Dan lagi sekarang semua telah berubah. Ia juga telah membuat keputusannya untuk tinggal di Cina. Sejak kejadian itu…

Ia sebenarnya masih tidak tega meninggalkan ibunya yang sakit, membiarkan mamanya yang terus berharap aku ada disana, dan juga ayah. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin ia masih terlalu kekanakan untuk menghadapi masalah ini. ia sudah menghadapinya dan menyelesaikannya hari itu, walaupun sebenarnya itu semua memang tidak memberikan efek apapun.

Dan liburan kali ini, entah bagaimana Fang tanpa sengaja membawa surat yang diberikan Rei saat terakhir ia menemui Fang di bandara sebelum ia kembali ke Cina.

 

‘even if it hurts, pretending that it’s nothing. Even if tears fall, knowing how to hide them. Placing it in one side of the heart. And knowing how to smile as if nothing’s wrong. The way to break up.
My heart is growing dim again. The many lingering attachments are pulling down. It will probably be erased, I will probably become faint. We will probably forget each other.
My meaningless day will probably pass by our one of a kind love is like it never happened. Even is I say, I miss you, I can’t ever see you. Even if it hurts, I need to withstand it. This is the way to break up.
I’m used to days without you now. Tomorrow will be a little more comfortable. I will forget you little by little.
sometimes, iw ill think of you. Only good memories will remain.
I’m sorry again for being so late, now I will tell you,
I Love You.’ #By song : Kyuhyun – The Way To Break Up & Donghae ft Ryeowook – Just Like Now

Fang  menutup kertas itu dengan helaan nafas panjang. Mana pernah terpikir olehnya, jika Rei…

Ia menatap kedua tali sepatu biru mudanya. Mungkin saatnya nanti, ia akan mengikat kuat semua orang yang dicintainya. Termasuk keluarganya. Entah kapan, tapi pasti. Sama halnya ketika ia mengikat tali sepatu menjelang pertandingan, ia akan mengikat tali sepatunya sangat kuat. Dan jika terlepas sedikit saja, ia akan langsung mengikatnya kembali.

 

Ooo~The End~ooO

Iklan

One thought on “Tali Sepatu

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s