Gee! (1)

Gee !

***

 

-Paris-

Marcus Cho mengeratkan pegangannya pada cangkir kopi yang berada di atas meja, tatapannya hanya terpaku pada jalanan yang sama sekali tidak menarik di matanya, tapi itu semua jauh lebih baik ketimbang ia harus menatap wajah pria paruh baya yang sekarang tengah berbicara padanya. Sebuah kesalahan ketika Marcus menerima ajakan pria itu. Sekarang, justru hatinya dibuat kacau.

“Kuharap kau mengerti, ini demi putriku.” Tuan Yoon kembali angkat suara, membuat Marcus mendongakkan kepalanya untuk menatap langsung pria paruh baya itu.

Mata itu terlihat begitu lelah, cukup sejalan dengan raut wajah yang tak lagi berseri seperti 3 tahun saat pertama kali ia menemui pria itu. Pria yang selama ini sudah dianggapnya sebagai keluarga. Dan sejarang, Marcus bahkan tidak yakin dengan komunikasi berikutnya seandainya keputusannya ke untuk kembali ke Korea sudah bulat.

Marcus menghela napas panjang, kemudian menunduk dan kembali mengangkat gelas kopinya dan menyesapnya perlahan. Ia tidak bisa memaksakan kehendaknya, ia tidak bisa mengutamakan keinginannya saat ini. Meskipun mungkin akhirnya akan berbuntut kata perpisahan…seperti yang tengah diinginkan oleh ayah gadis itu.

 

***

 

-Seoul-

“Eonni !!! Jinnie menyembunyikan bukuku lagi!!!” teriak Lee Hyo Eun mengadu sambil terus memelototi sepupu laki-lakinya –Seok Jin Ah yang dipanggil Jinnie- yang hanya cengengesan dengan langkah waspada, bersiaga kalau-kalau gadis dengan rambut sepunggung itu mengejarnya.

“Aku tidak melakukannya, Hyo! Sungguh!” Jin Ah mencoba membela diri saat kakak perempuan Jin Ah –Seok Hye Mi- sudah berdiri di depan pintu kamar Hyo Eun.

“Lalu mau apa kau masuk ke kamarku, hah?” tuduh Hyo Eun tidak terima, ia sangat yakin pelakunya adalah Jin Ah, karena ini bukan pertamakalinya Hyo Eun kehilangan barang secara tiba-tiba, tapi yang kesekian puluh kali. Dan semua itu Jin Ah yang melakukan.

“Aku hanya mau mengambil buku biologiku yang kau pinjam kemarin sore!” Jin Ah masih membela dirinya sambil mengacungkan buku paket yang cukup tebal.

“STOP! Sebenarnya ada apa disini?” tanya Hye Mi yang sudah kegerahan melihat dua bocah yang setiap hari hanya merecokinya dengan hal-hal tak berguna, belum lagi pertengkaran mereka yang begitu kekanakan, terlalu membuat kepala Hye Mi pusing.

“Dia menyembunyikan buku tugasku! Hari ini aku harus mengumpulkannya!” adu Hyo Eun berapi-api, matanya terus saja berlari ke arah Jin Ah dengan tajam.

Hye Mi mendengus pelan, lalu menoleh ke arah adik laki-lakinya yang sudah menyudut di salah satu sudut kamar Hyo Eun karena terjebak oleh Hyo Eun yang menghalanginya.

“Kembalikan bukunya, Jinnie. Kau tahu, aku tidak suka keributan di pagi hari. Jika eomma yang mendengarnya, kau akan tahu rasa terkena omelannya.”

Mendengar pembelaan telak dari Hye Mi, Hyo Eun langsung berjalan mendekat dengan tatapan membunuhnya, “Kembalikan bukuku Seok Jin Ah.”

“Arra! Arrseo! Bukumu ada di kamarku, aku belum mengerjakan tugas, jadi aku meminjam punyamu dulu.”

Mendengar pengakuan Jin Ah, Hyo Eun langsung melayangkan tangannya dan memukul Jin Ah bertubi-tubi. Bagaimana tidak? Ia susah payah mengerjakan tugas matematika itu, dan dengan enaknya Jin Ah mencuri pr nya dan menyalinnya. Dasar tidak mau berpikir.

Hye Mi yang tadinya sebagai penengah bagi dua bocah SMA itu, sekarang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian berlalu dari pintu kamar. Toh, nanti juga keduanya capek sendiri dan akan turun untuk sarapan. Kalaupun terlambat, itujadi urusan mereka, bukan urusan Hye Mi.

 

***

 

Hyo Eun baru saja kan berpamitan saat tanpa sengaja ia melihat kamar sebelahnya tengah dirapikan oleh Hye Mi. Hyo Eun yang penasaran sedikit memajukak tubuhnya hingga di palang pintu lalu melongokkan kepalanya. Setahunya kamar itu sudah lama dibiarkan kosong sejak Hyo Eun tinggal di Seoul setahun lalu, lalu kenapa kamar ini tiba-tiba dibereskan?

“Ada apa?” Jin Ah mendorong tubuh Hyo Eun dengan iseng. Dan sekali lagi, Jin Ah mendapat pukulan keras di lengannya. Hyo Eun tak habis pikir bisa memiliki sepupu yang amat sangat menyebalkan seperti Jin Ah sekarang.

“Berhenti memukulku! Aku bisa melaporkanmu ke polisi!” cerca Jin Ahtak terima.

“Aku juga bisa mengadukanmu ke polisi dengan tuduhan mengganggu ketenangan oranglain!” Hyo Eun membalas tak mau kalah.

“Memangnya ada yang seperti itu? Dasar aneh.” Jin Ah mendelik malas, dan lagi, Hyo Eun membalasnya dengan pukulan.

“YAK!”

“WAE?” Hyo Eun memajukan tubuhnya seolah menantang.

“Yak! Yak! Kalian tidak sekolah? Cepat pergi! Sampai kapan mau bertengkar terus, huh?” Hye Mi akhirnya membuka suara setelah merasa jengkel karena kedua bocah itu tak henti-hentinya membuat keributan di rumah mereka.

Setelah saling memelototi satu sama lain, Hyo Eun pun mendekat ke arah Hye Mi dan langsung mengecup pipi wanita yang berumur 4 tahun lebih tua darinya itu, “Aku berangkat. Tapi…kenapa, eonni membereskan ini semua? Siapa yang akan emnempati kamar ini?” tanya Hyo Eun setelah ingat ia tanda tanya besar yang memukul kepalanya.

“Anak kerabat Appa. Dia berasal dari Paris, dulu juga dia sempat tinggal disini, tapi ia kembali ke Paris untuk kuliahnya.” Jin Ah menimbrung dari belakang dengan tatapan bergerilya ke setiap sudut kamar, mencoba mengenang apa saja yang dilakukan orang itu selama di kamar ini.

“Oya? Dia orang paris?” Hyo Eun kembali bertanya, tapi bukan pada Jin Ah melainkan pada Hye Mi yang hanya mengangguk mengiyakan.

“Dasar bodoh,” Jin Ah menoyor kepala Hyo Eun, “Dia orang Korea yang tinggal di Paris.”

“Tidak usah menoyor kepalaku! Lagipula aku tidak tahu, kan? Dan apa kau bilang? Bodoh? Lebih bodoh mana dengan dirimu yang selalu mencontek PR ku?”

“Nilaiku lebih besar darimu!”

Hyo Eun tersenyum mencemooh, “Aku curiga itu bukan murni hasil kerjaanmu.”

Mata Jin Ah membulat kaget, “Jadi kau menuduhku mencontek? Begitu?”

“Bisa saja, kan? Tidak ada yang tidak mungkin bagimu Jinnie~ya.”

“Oke stop! Sekarang lebih baik kalian berangkat, dan setelah itu kalian langsung pulang, oke? Aku membutuhkan kalian nanti. Dan lagi aku ada kelas 3 jam lagi,” sela Hye Mi ketika sadar perdebatan tidak penting itu akan terus berkepanjangan.

 

***

 

Hyo Eun memutar menghentikan aktivitasnya yangs edang merapikan buku pelajarannya di atas meja dan menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah So Hyun, teman sebangkunya. Sebenarnya gadis itu selalu tidak tertarik dengan obrolan gadis itu, karena notabennya So Hyun akan membicarakan soal laki-laki yang disukainya.

“Guru baru? Matematika?” tanya Hyo Eun memastikan sekali lagi. ia benar-benar kecewa jika guru baru itu adalah guru matematika. Bayangkan saja, ia sudah mati-matian mengerjakan pr nya yang hampir membuat kepalanya meledak, dan tiba-tiba saja wanita cerewet itu digantikan oleh orang lain? Oh, bagus sekali. Bahkan Hyo Eun sudah merelakan waktu menonton TV acara kesayangannya demi PR itu. Menyebalkan.

So Hyun mengangguk antusias, “Katanya dia berasal dari Paris! Ah! Pasti gurunya tampan sekali!”

“Laki-laki?” sekarang Hyo Eun merasa tolol karena terus saja menanyakan hal-hal yang sudah jelas. Jika tampan pasti laki-laki, kan? Tidak mungkin perempuan.

So Hyun kembali mengangguk dengan antusias, “Aku jadi tidak sabar ingin melihatnya.”

Hyo Eun mencebikkan bibirnya, kemudian melanjutkan aktivitasnya, “Memangnya setampan apa? Kalau dia bisa mengalahkan aktor Kim Bum, kurasa aku akan terpikat dalam sekejap mata.”

Hyo Eun mengerjap kaget saat So Hyun menggebrak mejanya dengan tubuh sedikit di condongkan ke arah Hyo Eun. Sekarang ia merasa muak dengan tatapan antusias yang tidak disembunyikan Hyo Eun sama sekali.

“Ah Jung bilang dia sangat tampan! Mirip anggota boyband Super Junior!”

Sekarang Hyo Eun menaikkan alisnya bingung, “Kenapa Ah Jung bisa tahu wajahnya?”

“Dia sudah melihatnya kemarin!”

Hyo Eun mengangguk-angguk mengerti. Baguslah jika ada guru baru yang memang benar-benar setampan itu, setidaknya ia tidak akan terlalu bosan ketika menghadapi pelajaran Matematika, kan? Selama ini, ia selalu hampir tertidur di kelas. Dan semoga saja dengan guru yang So Hyun bilang mirip anggota Suju itu bisa mengurangi sifat jeleknya itu, terutama nilai jeleknya.

“Dia masuk! Dia masuk!”

Hyo Eun memanjangkan lehernya ke arah pintu masuk depan kelasnya saat seorang siswa membuat heboh hampir separuh siswi di kelasnya. Guru dari paris itu? Tebak Hyo Eun dalam hati. Ah, perasaan ia terus mendengar kata paris. Bahkan orang yang akan tinggal di rumah Jin Ah saja berasal dari Paris. Apakah nanti ia juga akan pergi ke Paris dan menikah dengan orang Paris? Ah, tidak-tidak. Ia lebih suka orang Korea, seperti Kim Bum, Kim Kyu Jong SS501 atau Minho SHINee. Atau. Aktor Kim So Hyun mungkin?

Sreet.

Pintu kelas yang sengaja di tutup oleh seorang siswa itu mendadak terbuka sedikit, lalu membawa seorang pria bertubuh tinggi dengan kulit putih susu masuk ke dalamnya. Dan…Hyo Eun menggigit bibir bawahnya saat pria itu berbalik menghadap ke arah seluruh murid di kelasnya. Jantungnya. Hyo Eun merasakan kerja jantungnya begitu berat. Belum lagi telinganya yang mendadak tuli dari riuhnya kehebohan siswi yang sedikit menjerit.

Apa-apaan ini? Kenapa ia seperti ini? Bola matanya seperti bunga matahari yang baru saja menemukan mattaharinya yang selama ini dicari.

“Lihatkan! Dia sangat tampan!”

Hyo Eun tersadar saat temab sebangkunya itu menyikutnya. Hyo Eun menggeleng sebentar, lalu menatap pria dengan ekspresi datar itu. Hyo Eun menghela napas panjang.

“Dia benar-benar tampan.” Gumam Hyo Eun setengah tidak sadar lagi. tapi ia sudah jauh lebih normal ketimbang sebelumnya.

“Jadi, kalian bisa tenang sekarang?”

Sreet. Seisi kelas mendadak hening saat pria dengan rambut pirang itu bersuara. Bukan karena terpana lagi, tapi karena suara itu begitu dingin, datar dan ketus. Seolah ia baru saja mengatakan bahwa ia tidak menyukai kelas yang baru saja di datanginya ini.

Hyo Eun meringis pelan, ternyata karakter laki-laki itu tidak seindah fisiknya. Tampan, hidung mancung, mata yang…entahlah, Hyo Eun suka mata itu. Juga tubuh tingginya. Mungkin saja pria itu setinggi Kyuhyun Super Junior. Hyo Eun membulatkan matanya. Ya ampun! Mata mereka juga hampir sama!

Ah, ia mulai lagi. mencoba membaca karakter oranglain.

“Dia…angker.” So Hyun mendesis pelan, terlihat raut mkekecewaan tapi tak memudarkan rasa ketertarikannya sepertinya, Hyo Eun bisa melihat jelas pancaran mata gadis itu.

“Annyeong Haseyo. Namaku Marcus Cho, aku lahir di New York tapi di besarkan di Korea, dan aku baru saja menyelesaikan kuliahku di Universitas Paris beberapa bulan lalu. Aku disini akan menjadi guru fisika kalian yang baru, aku harap kalian bisa menerimaku. Semoga kita bisa bekerjasama.” Pria itu membungkukkan badannya dengan kaku. Terlihat sekali jika dia tidak benar-benar menggunakan budaya Koreanya sejak lama.

Dan lagi, kelas mulai berubah bising karena suara pria itu yang begitu…Hyo Eun mendengus pelan. Entahlah, ia juga tidak tahu. Tapi yang pasti pria ini memiliki daya pikat dari sikap dinginnya, seolah-olah memiliki magnet khusus yang tercipta hanya untuk membuat orang berdecak kagum padanya. Entah kagum pada apanya, tapi Hyo Eun takkan menyangkal soal wajah pria itu. Meskipun pria itu juga bisa dikatakan agak kurus.

“Baiklah, kalau begitu kita langsung mulai saja pelajaran hari ini.”

Hyo Eun membelalakan matanya dengan syok. Apa-apaan? Tidak asyik sama sekali, ia baru datang dan langsung akan memulai mata pelajaran? Hah…ternyata guru baru ini tidak jauh membosankan dari guru lamanya, hanya saja sepertinya Hyo Eun tidak akan terlalu jenuh jika belajar dengan laki-laki ini, karena ia bisa saja memandangi wajah tampannya secara gratis bukan?

“Lee Hyo Eun?” tiba-tiba saja pria itu mencoba mengabsen nama muridnya secara acak. Hyo Eun yang belum pulih dari lamunannya, mendadak mendapat teriakan-teriakan kecil dari murid perempuan dengan heboh.

“Hyo-ya!” kali ini So Hyun yang menendang pelan kaki Hyo Eun. Hyo Eun yang tidak terima langsung memelototkan matanya ke arah So Hyun.

“Ada yang bernama Lee Hyo Eun disini?” Marcus kembali bersuara dengan mata mulai bergerilya ke seluruh wajah murid-murid barunya. Lalu ia mendapati wajah seorang siswi yang mendadak…memerah? marcus menaikkan alisnya bingung, tapi tidak mempermasalahkannya. Sekarang ia mendapat feeling gadis itu bernama Lee Hyo Eun.

“Sa…saya?” Hyo Eun mengangkat bahunya gugup. Tangannya mengacung menyusul. Sekarang ia dilanda kegugupan besar. Ah! Menyebalkan! Kenapa guru baru itu malah memanggilnya?

“Kau Lee Hyo Eun? Baiklah, maju ke depan.” Perintah Marcus datar, namun cukup tegas bahkan ditelinganya sendiri.

Hyo Eun mengangguk kecil, lalu dengan ragu-ragu ia melangkahkan kakinya maju ke depan. Aigo~ sekarang ia benar-benar seperti kehilangan roh nya. Jantungnya yang menyebalkan seolah tidak mau berkompromi dengan dirinya. Ia tidak boleh kelihatan gugup! Itu amat sangat memalukan! Terlebih berdiri di depan pria ini.

Marcus memajukan tubuhnya mendekat ke arah Hyo Eun dan justru membuat Hyo Eun refleks mundur. Entah kenapa, tapi syaraf motoriknya seolah memerintahkan agar kakinya mundur dan menjaga jarak dari laki-laki itu.

“Kerjakan soal ini. Aku menjadikanmu sampel. Aku ingin tahu seberapa jauh kemampuan murid di kelas ini.”

Mulut Hyo Eun sekarang sudah menganga parah. Apa-apaan ini? Pria itu baru saja menjadi gurunya bahkan Hyo Eun baru menebak-nebak sikap dari pria dingin itu, dan sekarang dengan cueknya dia menghadiahkan soal padanya sebagai hadiah perkenalan?

“Tunggu apa lagi?”

Mendengar itu Hyo Eun langsung menuliskan soal dari buku yang disodorkan Marcus padanya tadi. Sial sial sial. Hyo Eun tak henti-hentinya mengumpat dalam hati. Ternyata guru lamanya bisa membuatnya rindu juga, ketimbang ia harus menghadapi pria yang datang entah darimana lalu menghadiahkannya soal. Menyebalkan. Perkenalan yang tidak asyik.

Eh, tunggu dulu, Hyo Eun meralat. Pria itu berasal dari Paris. Dan apakah pria di Paris memang menyebalkan seperti laki-laki yang menyandang status sebagai guru barunya itu?

 

***

 

“Kau sungguh keren tadi! Kalau kau lihat ekspresi wajahmu…hahaha.”

Hyo Eun mendelik malas saat So Hyun mencoba bernostalgia soal momen tadi pagi, momen yang begitu buruk baginya. Hah, wajah tampannya tidak setampan sikapnya. Meminuskan nilai penuhnya saat pandangan pertama mereka tadi.

“Hoah, pasti kau akan selalu diingat Marcus Songsaengnim. Kau pasti keren sekali di matanya, menjawab soal dengan sempurna.” Jin Young ikut menimbrung obrolan 2 gadis yang duduk di depannya ini.

“Berhenti mengejekku! Jangan merusak mood makan siangku.”

Tawa mereka semua –So Hyun, Jin Young dan Jin Ah- langsung meledak bersamaan. Seolah-olah Hyo Eun adalah badut terlucu yang sedang melakukan sulap dipinggir jalan Insadong. Memuakkan.

“Tapi tetap saja tidak mengurangi ketampanannya.” So Hyun masih saja mengoceh soal ‘Marcus yang tampan’, ‘Marcus yang keren’, dan banyak lagi sampai-sampai Hyo Eun berpikir mulut gadis itu akan berbusa.

“Oya, nuna tadi mengirimku sms, katanya kita harus membeli persediaan makan malam.” Kali ini Jin Ah bersuara, tdan Hyo Eun bisa bernapas lega karena pria itu tidaii mengejeknya.

Hyo Eun mendongak menatap Jin Ah, “Memangnya tamu itu sangat spesial, ya? sampai-sampai harus mengadakan acara makan malam besar seperti itu.”

Jin Ah mengedikkan bahunya, “Keluarganya dan keluarga appa sangat dekat. Bahkan keluarga mereka yang membantu appa saat keadaan restorannya buruk, juga appa dengan senang hati mau menampung laki-laki itu ketika oranguanya pindah ke Paris.” Jelas Jin Ah sambil tetap melahap makananya.

“Jadi dia laki-laki?”

Jin Ah mengangguk.

“Paris lagi? ya ampun, sepertinya sedang terjadi migrasi dari Paris ke Korea.” Han So Hyun ikut menimbrung mendengar kata ‘paris’.

Memang agak sedikit unik, entah satu kebetulan atau apa. Mungkin saat ini Korea sedang menjadi tempat favorit bagi mereka yang tinggal di Paris. Meskipun bukan orang Paris sungguhan, tapi itu cukup keren bagi Hyo Eun.

Diam-diam Hyo Eun berharap, laki-laki yang akan tinggal di rumahnya akan jauh lebih tampan dan tidak memiliki sikap dingin seperti guru matematikanya saat ini.

 

***

 

Hyo Eun ikut menata meja makan di hadapanya. Semua makanan yang disiapkan oleh bibinya juga kakak sepupunya, sekarang sudah berjajar rapi menghiasi meja makan sederhana di ruang makan itu.

“Selesai!” Hyo Eun menepuk tangannya seolah ia baru saja menyelesaikan satu tugas penting. Senyumnya tak juga hilang sejak pulang sekolah tadi, khayalannya soal laki-laki yang akan tinggal di rumahnya begitu sibuk menghantuinya.

Entah sejak kapan, tapi Hyo Eun sadar, di usianya yang ke 17 ini ia merasa lebih mudah tertarik pada mahluk bernama laki-laki. Salah satunya…Jin Young. Kim Jin Young adalah salah satu teman laki-laki terdekatnya sejak SMP dulu selain Han So Hyun dan Seok Jin Ah tentunya. Dan sudah bukan rahasia lagi jika Jin Young merupakan siswa favorit di sekolahnya sejak SMP dulu. Dan entah sejak kapan, Hyo Eun juga menjadi salah satu nama fans dari Kim Jin Young itu.

“Dia belum datang juga? Kemana saja dia…” Hyo Eun menoleh ke arah kakak sepupunya yang sudah terlihat tidak sabar untuk kedatangan orang baru di rumah itu. Pria Paris yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya juga.

“Memangnya orang itu begitu penting?” Hyo Eun berbisik penasaran pada Jin Ah yang kebetulan lewat.

Jin Ah memutar bola matanya malas, “Kau akan tahu nanti.” Balasnya acuh sambil menepuk bahu Hyo Eun.

Hyo Eun mencebikkan bibirnya kemudian berlalu dari ruang makan. Jin Ah memang menyebalkan jika tahu ia tertarik atau penasaran soal sesuatu, dan Jin Ah pasti sengaja membuatnya penasaran dengan menjawab asal pertanyaannya yang serius.

Hyo Eun memperhatikan acara musik yang kini tengah ditayangkan oleh salah satu chanel TV yang tengah di tontonnya. Sayangnya, otaknya sama sekali tidak fokus pada acara musik di hadapannya, padahal itu salah satu acara favorit Hyo Eun. Tanpa perintah, saat ini otaknya lebih senang berimajinasi soal laki-laki yang akan tinggal di rumah bibinya itu. Ia membayangkan wajah Lee Min Ho dengan badan tegap dan sispax, tinggi, hidung mancung dan…ya. semuanya. Hyo Eun mengangguk kecil, pasti keren sekali jika laki-laki nmirip aktor Lee Min Ho ada di rumahnya. Ia akan membuat teman sekelas perempaunnya mati karena iri.

“Berhenti melamun bodoh! Buka pintunya!”

Bibir Hyo Eun bergerak samar merutuki sikap Jin Ah padanya. Ia sekarang tidak habis pikir, bagaimana bisa ia memiliki sepupu yang sangat menyebalkan bahkan nyaris kejam seperti laki-laki itu?

Sambil masih bersungut, Hyo Eun berjalan malas ke arah pintu yang ternyata sejak tadi belnya ditekan beberapa kali. Aish, ternyata efek mengkhayal Lee Min Ho bisa menghentikan kerja konsentrasinya secara keseluruhan. Apalagi jika laki-laki itu benar-benar mirip Lee Min Ho? Atau Choi Siwon malah?

Ceklek.

Untuk beberapa detik, Hyo Eun tidak sadar ia menahan napasnya dengan detak jantung yang berat, lengkap dengan matanya yang membulat sempurna melihat sosok di depannya. Bukan. Ia bukan sedang terpesona atau terpana pada pandangan pertama layaknya drama-drama ataupun seperti yang diceritakan dalam novel. Tidak sama sekali. Meskipun Hyo Eun tidak menyangkal sama sekali jika pria dihadapannya itu memang tampan. Hanya saja masalahnya…

“Songsaengnim? Kenapa kau ada disini?” tanya Hyo Eun masih dengan kekagetan yang belum hilang sepenuhnya. Matanya masih meneliti sosok pria ini dari ujung kaki sampai ujung kepala. Benar, matanya tidak salah, laki-laki ini adalah guru matematikanya yang seperti sengaja mengerjainya. Hyo Eun tidak akan lupa ledekan dari teman-temannya selama dikantin tadi.

Dan Marcus –pria dihadapan Hyo Eun- sedikit menyipitkan matanya. Gadis kecil dihadapannya itu masih terpaku tidak menyembunyikan keterkejutannya sama sekali, dan gadis kecil itu memanggilnya songsaengnim. Dia salah alamat? Atau Jin Ah sedang membawa teman belajarnya ke rumah? Gadis ini pasti muridnya. Tapi Marcus tidak mengingatnya.

“Hai hyeong? Sampai kapan mau berdiri disana?” sapa Jin Ah menghentikan pikiran-pikiran yang bekerja pada otak 2 insan yang hanya saling menilai satus ama lain di sisi daun pintu yang terbuka.

Dan lagi, Hyo Eun membelalakan matanya kaget sambil memandang tidak pervaya pada Jin Ah. Entah laki-laki itu sedang sengaja bergurau atau memang…gurunya ini adalah pria paris yang akan tinggal di rumahnya?

Marcus mengabaikan tatapan yang masih dilemparkan Hyo Eun, meskipun ia sangat risih. Tapi mau bagaimana lagi? ia juga tidak begitu mengenal gadis itu, jadi ia tidak perlu berbasa-basi bukan?

“Kau datang? Masuklah, ibuku sudah lama menunggu.” Kali ini Hye Mi yang menyambut Marcus dengan ramah.

Hyo Eun mendengus geli. Ia batal memiliki kenalan baru yang mirip dengan Lee Min Ho ataupun Choi Siwon.

 

***

 

Hyo Eun memperhatikan Marcus yang sedang duduk santai di tepi kolam renang, namun telinganya memperhatikan dengan seksama apa yang tengah dijelaskan Jin Ah soal guru matematikanya itu. Karena sejak makan malam selesai, Hyo Eun terus saja merecoki Jin Ah soal dirinya yang menyembunyikan rahasia besar ini –menurut Hyo Eun-.

“Jadi, dia anak sepupu ayahmu?” tanya Hyo Eun memastikan lagi informasi yang ditangkapnya.

Jin Ah mengangguk, “Keluarga kami sangat dekat. Dan saat itu orangtua Marcus hyeong memutuskan untuk pindah ke Paris. Untuk urusan bisnis. Tapi Marcus hyeong tidak mau ikut ke Paris dan ingin tetap tinggal di Korea. Well, akhirnya dia tinggal disini.” Jin Ah kembali menjelaskan panjang lebar soal sejarah laki-laki itu.

“Apakah dulu dia juga menyebalkan dan dingin seperti itu?” tanya Hyo Eun lagi dnegan mata masih mengawasi gerak-gerik Marcus yang membosankan.

Jin Ah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Dia tidak sedingin itu sebenarnya, tapi katanya ia putus dengan kekasihnya di Paris. Dan membuatnya seperti sekarang ini.”

Hyo Eun menoleh antusias. Bagus sekali, ini gosip yang menarik, “Jadi dia sedang mengalami patah hati, begitu?”

Jin Ah mendelik tajam, “Jika kau membocorkan ini pada yang lainnya, tamatlah riwayatmu Lee Hyo Eun.” Jin Ah memperingatkan sambil menyentil dahi Hyo Eun yang langsung di balas oleh pukulan keras di lengan Jin Ah.

Dan seperti biasa, mereka kembali ribut dan tanpa mereka sadari, itu menarik perhatian Marcus yang sejak tadi tengah merenungu. Ia sedikit mengernyit melihat pemandangan itu, kemudian mendesis pelan, “Kekanakan.”

“Apa yang kalian lakukan, bodoh?!” tegur Hye Mi galak saat melihat adik-adiknya kembali meributkan hal tak berguna. Lalu, dengan ketus ia menyuruh bocah-bocah itu segera masuk ke kamarnya masing-masing.

Hye Mi mendengus jengkel. Bagaimana bisa ibunya begitu sabar menghadapi 2 bocah seperti itu?

Lagi, di sisi kolam renang Marcus memperhatikan. Kali ini dengan senyum geli yang tidak disembunyikannya. Seok Hye Mi tidak pernah berubah. Meskipun 2 bocah itu adalah bocah SMA, tapi Hyemi tetap menganggap mereka anak kecil. Dan Hyemi tidak suka anak kecil. Meskipun ia tidak terlalu mengenal gadis kecil bernama Lee Hyo Eun tadi. Dan sekarang ia ingat, gadis itu adalah salah satu muridnya yang di suruh menjawab soal di depan kelas tadi, ia hampir lupa jika gadis itu tidak mengungkitnya saat di meja makan.

“Kau tidak masuk kamarmu, oppa?” Marcus tersentak saat tahu-tahu Hyemi sudah duduk di sampingnya dan menghadapan ke arah kolam renang yang terlihat tenang.

“Kau sendiri juga ada disini.” Sahut Marcus asal, namun tepat sasaran. Tahu-tahu Hyemi sudah mendengus mendengar jawaban Marcus.

“Kupikir oppa tidak tertarik untuk kembali ke Korea.” Ia mencoba membuka pembicaraan dengan pria yang terlihat kaku dis ampingnya ini. Entah karena waktu yang telah lama memisahkan mereka atau karena sekarang mereka bukan lagi murid SMA yang membuat keduanya agak sungkan.

Marcus tersenyum tipis mendengar ucapan Hyemi. Entah mengapa orang-orang selalu berpikir bahwa Paris begitu menarik danterlalu sayang di lewatkan, membuat mereka selalu bertanya kenapa dirinya harus kembali ke Korea? Padahal, menurutnya Korea jauh lebih menarik ketimbang Paris ataupun New York sekalipun.

“Mencari suasana baru, kau tahu suasana hatiku tidak terlalu bagus saat ini.” Aku Marcus sejujur-jujurnya. Ia tetap sama dengan yang dulu, selalu terbuka dan jujur dengan semua pertanyaan yang Hyemi ajukan. Meskipun seandainya Marcus tidak ingin menjawabnya.

Hyemi menoleh ke samping kanan, tepat ke arah Marcus yang masih menyembunyikan rasa sakit yang disimpannya sendirian di balik senyum tipisnya itu. Hyemi menghela napas panjang, “Kupikir tidak akan ada orang yang akan menolakmu, oppa. Jika mengingat kau begitu di gemari saat di sekolah dulu…” Hyemi tidak bermaksud bergurau, tapi entah mengapa Hyemi sendiri merasa ucapannya hanya sebuah lelucon. Kau tahu, mengenang seusuatu yang telah lama terjadi danmembandingkannya dengan saat ini, rasa-rasanya itu tidak tepat. Meskipun itu hanya teori yang dibuat Hyemi.

Marcus menoleh, “Kau masih menganggapku tampan dan cerdas seperti dulu? Aigo ~ aku jadi merindukan masa-masa Sma, saat banyak gadis yang bertengkar memperebutkanku.”

Hyemi tertegun mendengar jawaban Marcus. Benar, kan? Ucapannya terdengar seperti lelucon. Ia hanya mendecak sebalmendengar kenarsisan Marcus. Ternyata, meskipun pria itu berubah pendiam, tetap saja ia seorang yang narsis dan begitu percaya diri.

“Apakah di Paris tidak ada yang mengakuimu tampan? Kasihan sekali, kau seperti merindukan masa-masa kejayaanmu sebagai bintang sekolah, oppa.” Sindir Hyemi agak tajam dan di balas kekehan oleh Marcus.

“Kau tahu, meskipun disana aku berbeda ras dengan yang lainnya, tetap banyak gadis yang mengejar-ngejarku. Terutama penduduk asli. Sayangnya, aku justru tetap tertarik pada orang Korea.” Marcus sedikit serius sekarang. Ia tidak bercanda soal para teman perempuannya yang cukup banyak mengakui tertarik padanya, tapi ternyata Marcus yang dulu sempat berkhayal akan mengikat orang Eropa, justru menelan khayalannya setelah ia jatu hati pada gadis berdarah Korea yang lahir dan di besarkan di Paris. Artinya, ia tetap terpikat pada orang-orang yang satu ras dengannya.

“Tapi seleramu tidak buruk, dia cantik.” Puji Hyemi sambil mengingat-ingat wajah gadis yang disebut Marcus sebagai kekasihnya beberapa tahun lalu saat Marcus mengatakan bahwa ia baru saja jatuh cinta. Dans etelah melihat fotonya yang dikirim Marcus melalui e-mail, kesan pertama Hyemi adalah, gadis itu cantik.

“Beruntung sekali bukan mereka yang telah kujadikan kekasih?” lagi, Marcus membanggakan dirinya secara tersirat.

“Berhenti dengan kenarsisanmu oppa, kau terlihat bodoh.”

“Aku cerdas. Kau tahu nilai ku selalu berada di atas rata-rata.”

Hyemi mencebik, “Biasanya orang cerdas tidak pernah mengatakan dirinya cerdas.”

“YAK!”

Hyemi tertawa puas telah berhasil memancing kekesalan Marcus. Artinya ia sedikit berhasil menghibur Marcus yang baru saja terkena masalah di Paris hingga ia memutuskan untuk kembali ke Korea. Ini baru namanya Marcus…Hyemi membatin.

“Oya, kau jangan terlalu galak pada Jin Ah dan Hyo Eun. Kau tahu mereka sudah Sma, artinya mereka sudah dewasa. Jangan memarahi mereka seolah mereka itu anak kecil.”

Hyemi membelalakan matanya mendengar nasihat yang dibuat-buat oleh Marcus, setidaknya itu menurutnya, “Come on oppa! Kau memebla mereka? Mereka itu sangat berisik sekali. Bahkan lebih parah daripada anak TK!” keluh Hyemi sebal, sambil mencoba mngurai apa saja yang telah mereka lakukan hingga membuat Hyemi selalu kesal.

Marcus mendecak, “Bukan begitu. Kau terlihat berlebihan sekali.”

“Mereka itu menjengkelkan.”

“Saat kau SMA dulu, kau lebih menjengkelkan daripada mereka.”

“OPPA!!!”

 

***

 

Hujan baru saja mengguyur Seoul di jam yang bisa dikatakan masih cukup pagi ini. Sayangnya, semua orang tidak merasa terganggu dan tetap memilih menjalankan aktivitasnya seperti biasa di tengah hujan yang semakin lama semakin deras ini. Termasuk Hyo Eun yang dengan acuhnya berjalan di tengah hujan sambil memegang erat payungnya yang sesekali ia geser dengan sengaja agar kepalanya dapat merasakan sentuhan dingin yang menenangkan dari tetes hujan tersebut. Kekanakan memang, tapi siapa peduli? Hyo Eun sangat suka hujan dan Hyo Eun tetap bisa mentolerir dirinya sendiri jika hanya seidkit basah hingga ia sampai sekolah.

Sesampainya di sekolah,. Hyo Eun buru-buru merapikan beberapa barangnya di dalam lokernya yang belakangan ini jarang sekali dikunjunginya. Entahlah, memiliki 2 loker sepertinya tidak terlalu menguntungkan bagi Hyo Eun. Karena tetap saja, loker yang terletak didalam kelasnya jauh lebih terpakai ketimbang lokernya yang diletakan di ruang loker. Ia hanya menggunakannya untuk mengambil sepatu olahraganya, namun satu bulan terakhir ia sudah tidak menaruh sepatu itu lagi di loker itu.

Setelah selesai, Hyo Eun buru-buru berjalan ke arah kelasnya sambil merapikan rambutnya yang agak basah. Jika tahu hujan akan selebat ini, Hyo Eun pasti memilih untuk mengikat kuda rambutnya ketimbang menggerainya seperti sekarang ini. Rambut panjangnya ini mudah kusut, terlebih ia tidak suka bermanja ria di salon.

“Hyo…So Hyun ada?” langkah Hyo Eun langsung terhenti saat namanya dipanggil seseorang, dan Hyo Eun tahu meskipun ia tidak menoleh langsung. Itu Kim Jin Young.

Hyo Eun sebenarnya senang Jin Young belakangan ini mulai dekat dengannya, tapi Hyo Eun tidak senang dengan kenyataan sederhana bahwa Jin Young lebih dekat dengan So Hyun. Yah, walaupun Hyo Eun juga sadar, ia mengenal Jin Young pun karena So Hyun yang mengenalkannya.

Hyo Eun mengedikkan bahunya, “Aku baru datang. Mau kupanggilkan?” Hyo Eun mencoba bersikap ramah dan menyembunyikan harapan kecil tentang kedekatan Hyo Eun dan Jin Young.

“Ah, tidak perlu. Berikan saja ini padanya, katakan padanya terimakasih.”

Hyo Eun mengambil sebuah buku yang diulurkan padanya, dan detik berikutnya ia mengernyitkan dahinya bingung, “Akuntansi? Kurasa kelas jurusanmu tidak mempelajari soal akuntansi?” Hyo Eun melambai-lambaikan buku rangkuman akuntansi yang seminggu lalu diberikan oleh guru ekonominya.

Jin Young tersenyum penuh arti, “Kau lupa aku ingin jadi pebisnis? Kupikir tidak ada salahnya mempelajari banyak hal soal materi ekonomi.”

Hyo Eun mendengus panjang, “Kau aneh Jin Young-ah, seharusnya kau menjadi seorang dokter atau ilmuwan.”

Jin Young mengedikkan bahunya, “Hanya cita-cita. Yasudah, aku kembali ke kelas dulu, annyeong!”

Dan setelah Jin Young benar-benar hilang dari sudut mata Hyo Eun, ia pun meneruskan langkah kakinya untuk masuk ke kelasnya. Ia sedikit iri dengan kedekatan Jin Young dan So Hyun. Dan tentu saja Hyo Eun tahu alasan kedekatan mereka, karena mereka sama-sama suka belajar dan itu membuat mereka semakin dekat saja. Hyo Eun berdoa, semoga mereka tidak mengalami semacam falling in love.

 

***

 

Hyo Eun mencorat-coret kertasnya dengan malas, ia sebenarnya sedang tidak mood belajar matematika saat ini, meskipun Hyo eun mengakui laki-laki yang tengah mengajar di hadapannya saat ini begitu menarik dan enak di pandang mata. Tapia pa boleh buat? Pikiran Hyo Eun terus berputar-putar mencari inspirasi baru untuk tulisannya. Biasanya, jika hujan sudah turun maka idenya akan sama derasnya dengan hujan. Tapi entah kenapa, sekarang Hyo Eun merasa bodoh sekali karena tidak memiliki setitik inspirasipun.

“Kau tahu, kakak kelas kita Choi Ha Ni, kudengar katanya dia telah menjadi seorang trainee di salah satu perusahaan menejemen entertaiment,” So Hyun yang ternyata sama bosannya dengan Hyo Eun mencoba membubarkan kebosanannya dengan membahas gosip baru yang didapatnya dari teman kelompok cheer-nya.

Hyo Eun yang memang sangat tertarik dengan dunia entertaiment sedikit memekik kaget saat mendengar informasi hangat yang didapatnya, “Benarkah?” matanya membulat kaget dan setengah tidak percaya, jarang sekali ada salah satu murid di sekolahnya yang menjadi trainee semacam itu. “Di perusahaan apa? SM? DSP? Atau…?” Hyo Eun melanjutkan rasa penasarannya. Dan hatinya terus menjerit setengah iri, hebat sekali.

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang pasti, teman-teman sekelasnya tanpa sengaja melihat fotonya bersama teman-teman trainee-nya.”

Hyo Eun menyangga kepalanya dengan tangan kirinya tanpa berniat mengakhiri gosip hangatnya, “Dia seperti merahasiakannya, kenapa dirahasiakan?” tanya Hyo Eun lagi dengan suara di jaga agar tidak terdengar oleh Marcus yang masih berkutat dengan terorinya yang entah apa.

So Hyun mengedikkan bahunya, “Kudengar orangtuanya tidak mengizinkannya menjadi seorang artis.” So Hyun kali ini menunjukkan tampang ibanya.

“Kyuhyun oppa juga dulu tidak diizinkan menjadi artis, tapi pada akhirnya justru ayahnya yang membela habis-habisan mimpinya itu.” Hyo Eun jadi teringat soal idol-nya yang juga dulu sempat di tentang orangtuanya.

So Hyun mencebikkan bibirnya, “Kurasa setiap orangtua tidak terlalu suka jika anaknya menjadi seorang artis.” Komentar So Hyun akhirnya.

“Tapi aku yakin, jika sukses nanti pasti orangtuanya mengizinkan. Kau tahu sendiri, kan. Suara Ha Ni onni juga sangat bagus. Bahkan kupikir suaranya lebih bagus daripada IU.”

“Kau pernah mendengar suaranya?” tanya So Hyun penasaran.

Hyo Eun mengangguk antusias, “Saat ia menyanyikan lagu ulangtahun untuk sahabatnya, kau tidak ikut di acara pesta topeng itu?”

Bahu So Hyun sedikit merosot, “Kau lupa? Aku sakit saat itu.”

“Ah, benar. Aku lupa.”

“Kalian berdua, Lee Hyo Eun-ssi dan teman sebangkunya, apakah kalian sedang mendiskusikan sesuatu?”

Hyo Eun dan So Hyun sama-sama terkesiap saat mendengar suara datar, dingin namun tegas itu menyambar nama mereka. Dan sekarang, mereka dalam diam dapat merasakan detak jantung mereka yang memburuk akibat rasa bersalah. Ah, tepatnya rasa takut. Dan akhirnya, mereka menegakan bahu mereka bersamaan dan menghadap ke arah Marcus yang sudah menatap tajam mereka berdua.

Kenapa bisa ketahuan, Hyo Eun membatin sebal.

“Kenapa tidak menjawab? Kalian sedang mendiskusikan soal yang ku terangkan barusan? Ah, kau…” Marcus menunjuk So Hyun dengan tatapan matanya yang agak menusuk.

“Sa…saya?” So Hyun menjawab terbata.

“Ya, kau. Terangkan kembali apa yang aku jelaskan barusan.”

Deg.

Sial sial sial. So Hyun mengigit bibir bawahnya dengan tegang. Bagaimana tidak? Ia bahkan sama sekali tidak menangkap apa saja yang telah diucapkan oleh guru di depannya. Dan sekarang ia di suruh menerangkan di depan kelas? Astaga, yang benar saja! Ini sepertinya karma karena ia kemarin sudah menertawakan Hyo Eun. Ini pasti akan menjadi momen memalukan.

“Kenapa diam? Atau kau ingin kuberi soal yang tarafnya sedikit sulit dari soal ini?”

Hyo Eun mendengus sebal. Pria di hadapannya ini begitu mengerikan. Padahal semalam ia menangkap pribadi lain dari senyum ramahnya yang beberapa kali diam-diam membuat degup jantung Hyo Eun terhentak. Tapi sepertinya, pria itu memiliki topeng jika sudah berada di sekolah. Bahkan dengan tanpa rasa tega sedikitpun Marcus mencoba mempermalukannya lagi.

“A…aniyo.” So Hyun kali ini menoleh ke arah Hyo Eun berharap mendapat bantuan apapun itu. Tapi Hyo Eun juga hanya bisa menatap mata So Hyun tanpa memberikan solusi. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa, dan ia justru bersyukur karena bukan dirinyalah yang dipanggil kedepan. Kemarin saja ia memasang ekspresi bodoh di depan sudah cukup, meskipun ia bis amenjawab soalnya. Sekarang ia tidak mau terlibat dengan menjawab soal di papan tulis.

Dan mau tidak mau, akhirnya So Hyun maju juga. Dengan masih mengigit bibir bawahnya, So Hyun mulai membaca deretan angka yang disuguhkan padanya dengan senang hati. Detik berikutnya ia sudah meurutuk tidak jelas dalam hatinya. Hebat sekali, bahkan ia tidak ingat cara-cara mengerjakan soal yang kemarin di terangkan oleh pri atampan yang sepertinya akan berubah menjadi malaikat kegelapannya itu.

“Kenapa diam? Kau hanya perlu menerangkannya kembali, itu saja. Kecuali kau emmang tidak mendiskusikan soalku tadi,”

Hyo Eun mengetuk meja dengan pulpennya, merasa jengkel sendiri karena merasa Marcus begitu menyebalkan. Ah, atau memang seluruh guru matematika dunia ini memang begitu? Menjengkelkan dan sok galak. Sekarang lihat temannya, nasibnya begitu malang dengan segala tekanan yang diberikan sosok Marcus Cho dan digentayangi angka yang benar-benar memusiangkan mata.

“Chan Hee-ya, bantu aku!” kali ini Hyo Eun mulai bergerak. Dengan sedikit mengganggu Lee Chan Hee yang duduk di depannya. Dan jangan tanya soal prestasinya, meskipun dia sangat playboy, tapi otaknya juga begitu encer jika sudah berkaitan dengan soal matematika begini.

Chan Hee yang mulau merasa terusik langsung menoleh ke belakang dan memandang tajam Hyo Eun, mulutnya memang tidak berkata apapun, tapi matanya mengatakan ‘apa yang kau inginkan?’

“Bantu aku…” Hyo Eun sedikit mencondongkan tubuhnya, berharap agar Marcus tidak mendengar ucapannya kali ini. Ia sempat berpikir, mungkin pria itu memiliki telinga setajam anjing atau kucing. Jadi, ia harus lebih berhati-hati sekarang.

Chan Hee sebenarnya tidak berniat membantu gadis berisik yang juga sorang fangirl maniak itu, tapi jika ia mengikuti kata hatinya untuk tidak menolong gadis itu, sama saja membiarkan dirinya menjadi pendengar setia ocehan tak berguna gadis itu selama sehari penuh. Belum lagi jika dia melibatkan teman-temannya, ah itu pasti merepotkan.

“Chan Hee-ya…”

“Arra!”

Chan Hee menyerah. Akhirnya ia membuat salinan kotretan cara pengerjaan soal yang di berikan Kyuhyun pada Sohyun. Jika di pikir-pikir, seharusnya Hyo Eun tidak perlu meminta bantuan Chan Hee untuk menyelesaikan soal di papan tulis itu, tapi justru itu kelebihan yang dimiliki oleh Hyo Eun. Meskipun hanya selembar kertas berisikan angka-angka, Hyo Eun dengan cepat langsung bisa menangkap isi pengerjaan soal itu. Hebat bukan?

Dan sayangnya, Hyo Eun merupakan pembenci matematika, yang membuatnya selalu mendapat nilai di bawah nilai normal. Juga, gadis itu lebih senang menonton konser ketimbang berkutat di depan buku pelajaran. Chan Hee tahu sedikit rahasia tentang gadis yang sempat di kaguminya dulu. dulu. dan itu sudah sangat lama. Tapi Chan Hee tetap tahu, gadisitu suka belajar meskipun hanya mata pelajaran yang berupa bacaan. Tepatnya karena gadisi tu senang membaca.

Ah, pokoknya gadis itu gadis aneh.

“Ini,” tangan Chan Hee terulus ke belakang tanpa menoleh kesana, ia juga takut jika Marcus ikut-ikutan membully-nya dengan soal mematikan miliknya. Ia memang sangat terpukau dengan kelihaian pria itu soal angka, tapi ia juga memiliki banyak titik kelemahan jika sudah bertemu dengan soal luar biasa milik Marcus.

Hyo Eun dengan cepat menyambar kertas itu danmembaca baris demi baris deretanangka yang di tulis oleh Chan Hee. Perlahan, gadis itu mengangguk paham. Tidak paham sepenuhnya, setidaknya ia mengerti apa yang harus ia lakukan jika ia berada di posisi Sohyun sekarang.

Dan di depan kelas, Sohyun mendengus pelan sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu sama sekali bagaimana cara menyelesaikan soal di papan tulisitu. Kalaupun ia tahu, ia juga tidak akan tertariks am asekali untuk mempelajarinya lebih dalam selain untuk ulangan. Dan sekarang bukan waktunya ulangan, tapi tetaps aja harga dirinya di pertaruhkan disini. Mungkin teman sekelasnya tidak akan mempermasalahkan dirinyayang tidak tahu tentang kebencian dirinya dengan angka, tapi image-nya turun drastis di mata pria yang kini masih emnatapnya tajam. Pria yang sering membuat dadanya berdesir jika sudah terpana dengan karisma miliknya.

“Songsaengnim…aku…”

“Boleh aku menggantikannya?” Sohyun dan Marcus langsung menoleh kebelakang, tepat ke arah bangku yang diduduki Hyo Eun. Gadis itu, dengannada bangga dan angkuh yang secara bersamaan mengacungkan tangannya.

Sebenarnya, dalam lubuk hati Hyo Eun ia benar-benar tidak yakin untuk mengambil resiko menggantikan Sohyun. tapi ia jauh lebih tidak tega jika harus melihat Sohyun menjadi santapan lezat Marcus. Ah, mungkin kalimat itu tidak tepat untuk menjadi deskripsi Hyo eun, tapi ia benar-benar tidak suka jika Marcus lagi-lagi hari ini mempermalukan siapapun di kelasnya.

Marcus menyeringai kecil, kemudian menegakkan bahunya dan melipat kedua tangannya did epan dada. Gadis berani, pikirnya.

“Baiklah, kalau begitu maju kedepan.” Tantang Marcus tak kalah angkuh, ia cukup tertegun dengan sikap gadis itu. Sejak menemuinya semalam, ia hanya melihat sosok gadis bodoh yang sangat berisik, kekanakan, egois,d an masih banyak kata-kata yang bisa mewakilkan untuk penggambaran gadis itu yangs ecara keseluruhan, menggambarkan gadis itu dalam kesatuan kekanakan. Tapi di sekolah, terutama saat menghadapinya gadisitua kan berubah sangat angkuh dengan emosi yang meluap-luap di matanya. Entah bagian mana yang tidak di sukai gadis itu. Entah sikap Marcus sediri atau pelajaran yang dibawakan Marcus.

Sekarang, Hyo Eun melangkah maju ke depan. Berdiri tepat di sisi Sohyun dan berbalik menghadap teman sekelasnya. Untuk beberapa saat, gadis itu tak bersuara sama sekali dan membuat Sohyun cukup panik berdiri di sisi Hyo Eun. Sekarang Sohyun meragukan jika sahabatnya itu hanay berniat mengemban malu, dan bukannya memecahkan masalah ini.

“Apa ada yang kalian tidak mengerti?”

Bukan hanya Sohyun, tanpa sadar mulut Marcus juga sudah menganga sekarang. Ia tidak begitu yakin dengana apa yang baru di ucapkan oleh gadis yang kini menatap tajam keseluruh penjuru kelas, menyudutkan seluruh teman sekelasnya untuk tidak berkata tidak saat ini.

“Aku memintamu untuk menjelaskan ulang, Nona Lee.” sindir Marcus yangs udah menormalkan ekspresinya.

Hyo Eun dengan malas memutar bola matanya ke arah Marcus. Dalam hati ia terus berteriak, persetan dengan masalah tatakrama dan sopan santun. Mungkin, di Eropa sana orang-orang jauh lebih tidak sopan daripada ini, kan? Dan jika laki-lakitu memang benar berasal dari luar negri, seharusnya tidak masalah jika Hyo Eun bersikap seperti sekarang ini.

“Tapi, untuk apa aku menjelaskan soal yang sudah di mengerti oleh semua orang. Bukankah itu pecuma saja?” balas gadisi tu sedikit sinis.

Marcus menarik sebelah sudut bibirnya, “Kau begitu yakin, lalu bagaimana dengan temanmu ini?” Marcus balik bertanya yang membuat Sohyun meneguk ludahnya pahit. Sekarang namanya benar-benar di pertaruhkan. Seharusnya Hyo eun tidak pernah maju dengan alasan apapun. Lihat, bukannya membantu gadis itu malahs emakin memojokkan harga diri Sohyun. ah, kandas sudah harapannya untuk berjalan berdampingan dengan Marcus kelak.

Hyo Eun dengan ragu menoleh ke arah Sohyun, dan saat itulah Sohyun memberi sinyal agar Hyo Eun menyerah saja. Toh, kalaupun dilanjutkan mereka akan benar-benar mendapat hukuman, ia tidak bis amembayangkan jika harus berdiri di tengah lapang seharian sambil berteriak ‘kami akan lebih sopan terhadap guru’. Itu lebih memalukan.

Hyo Eun menarik napas panjang, lalu kembali menghadap ke arah Marcus, “Dia hanya gugup. Aku yakin, saat ulangan nanti kami akan mendapat nilai yang tinggi.”

Chan Hee yang menonton adegan tak menyenangkan di depan kelas ini cukup tertegun dnegan ketidaksopanan Hyo Eun yang diluar batas, namun juga kagum dengan keberanian yang dimiliki oleh gadis itu. Lagipula, siapa yang akan seberani itu? Chan Hee ingin sekali melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh Hyo Eun, sayangnya ia terikat kata ‘chaebol’ dalam darahnya. Membuatnya hanya bisa menonton asyik drama ini.

Dan Sohyun merasa mentalnya semakin kebas. Yang benar saja! Nilai bagus dalam matematika? Astaga, ia lebih suka mengikuti ujian Geografi selama seminggu bertrut-turut –karena ia tidak suka pelajaran itu- ketimbang harus menjamin dirinya mendapat nilai bagus dalam pelajaran matematika. Sohyun harus menghajar Hyo Eun sepertinya.

“Kau cukup percaya diri, sayangnya aku tidak begitu yakin. Setahuku, kau terikat dengan angka 5 di kertas ulanganmu,”

Hyo Eun yang merasa di remehkan mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi roknya, kemudian ia dengan setenang mungkin menghela napas panjang, “Aku dapat menjaminnya, itua kan berubah.”

 

***

 

“Kau menyebalkan! Kau bisa saja mendapatkan nilai tinggi! Dan aku?” Sohyun masih saja berteriak-teriak ke arah Hyo Eun yang membuat Hyo Eun harus sedikit menjauh dari Sohyun. ia tahu dimana letak kesalahannya, tapi ia juga bukan tipe orang yang suka mundur. Ia sudah menjaminnya, dan ia tidak mau meralatnya.

“Kita bisa. Kenapa harus takut,” balas Hyo Eun enteng dan masih emlanjutkan alngkah kakinya ke arah kantin.

Berbeda dengan Sohyun yang sudah menghentikan langkah kakinya dan menatap Hyo eun tak percaya. Ia merasa terhina sekalis ekarang, dan sangat menyesal karena telah memiliki teman yang cukup jenius namun malas itu, membuatnay terlihat begitu setara dengan sohyun. dan Sohyun tahu dimana standar dirinya yang sebenarnya.

“Kalau begitu kau saja yang lakukan! Aku tidak peduli lagi! kau sudah mempermalukanku! Membuat image-ku turun di depan Marcus songsaengnim!”

Hyo Eun yang merasa jengah akhirnya berputar dan menatap Sohyun sengit, “Lalu siapa yang memulai? Kau yang membicarakan soal trainee itu, lalu kenapa kau menyalahkanku?!” Hyo Eun membentak balik. Ia tidak suka dirinya terus saja disalahkan. Padahal tadi dengans angat jelas gadis itu duluan yang membahas soal Ha Ni atau siapalah itu, dan sekarang gadis itu memutar kesalahan padanya? Yang benar saja!

“Tapi kau memperkeruh saja bodoh! Kau membuat nama kita semakin jatuh! Kau tidak menolongku sama sekali, jika tidak bisa membantu diam saja!”

Hyo Eun tidak terima dengan semua tuduhan yang dilayangkan padanya. Dengan geram, ia mendekati gadis yang masih menatap jengkel sahabatnya itu, kemudian berhenti tepat di hadapan So Hyun. Jarak mereka saat ini hanya 2 langkah.

“Aku hanya mau menolongmu, dan apa katamu tadi? Bodoh?”

“Ya, bodoh. Kau bodoh!” tuding So Hyun bertubi-tubi.

“Kau yang bodoh! Seharusnya dengan sekali lihats aja kau langsung bisa mengisi soal itu! Bahkan kita sudah belajar dasar dari pelajaran itu dulu saat SMP! Aku sengaja melakukan itu agar dia bisa menutup mulutnya! Apa susahnya untuk berusaha keras mendapat nilai tinggi! Lagipula dia takan melirikmu jika nilaimu masih saja dibawah standar!”

“Kau kira nilaimu tinggi, huh?!”

“Setidaknya aku baik di pelajaran yang lain, dan kau?” Hyo Eun menatap remeh ke arah So Hyun, “Bahkan menghapal dinasti cina saja kau tidak becus!”

TAP! Rasanya ada tamparan keras yang mengenai hatinya beberapa sata llu. Sakit. Ia sangat sakit dengan semua ucapan Hyo Eun. Gadis itu memang benar, dia memang tidak sepintar Hyo Eun. Standarnya benar-benar jauhd engan gadisitu. Tapi apakah pantas Hyo Eun berkata seperti itu padanya? Menghinanya. Gadis itu barus aja menghinanya.

“Aku kecewa padamu, Hyo…” dengan mata yang sudah berair, So Hyun pun melewati Hyo Eun begitu saja. Tidak peduli dengan gadis itu yang mendadak mematung di tempatnya.

Hyo Eun mulai memeluk tubuhnya sendiri. Ia merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya sekarang. Menyesal. Ia menyesal dengan semua ucapannya. Ia tidak bermaksud begitu…hanay saja…ah! ini gara-gara Marcus! Jika saja pria itu tidak mempermalukan Sohyun tadi, pasti ia juga tidak akan melakukan tindakan gila itu.

“Mianhae…” lirih gadis itu entah pada siapa.

 

***

Iklan

One thought on “Gee! (1)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s