His Smile

His Smile/ OneShot

13 Juli 2012 pukul 23:28

Title : His Smile
Author : Chang Nidhyun

OoO

Aku termenung diantara titik titik salju yang mulai turun. Dingin? Tidak. Sama sekali tidak. Apakah aku sudah mulai mati rasa sekarang? Entahlah. Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.
Semakin detik berjalan, semakin salju itu lebat turun. Mungkin mereka menyorakiku, karena aku sedari tadi hanya menjadi orang bodoh yang berdiri didepan sekolah yang sudah sangat sepi.
Tentu saja. Apakah musim liburan orang-orang akan tetap berada disekolah? Kurasa tidak. Hanya ketololanku yang membuatku berada disini.

“Tanggal 7 aku akan segera berangkat.” itu kalimat aman terakhir yang ia katakan. Ia akan pergi. Ketempat yang jauh, sangat jauh. Yang tak memungkinkan mataku tuk melihatnya lagi . Yang tak memungkinkan telingaku dapat mendengar suaranya lagi.

Sebenarnya telah lama ia pergi. Namun nanti, ditanggal 7 yang ia janjikan pada kalender itu, ia akan benar benar pergi. Miris.

“Bahkan, di jam ini pun kau pergi aku tidak masalah.” Itu kataku saat ingin mengusirnya dari hidupku. Bohong. Ia tidak pernah tahu aku telah berbohong. Bahkan mendengarnya akan pergi pun aku menangis. Dan aku berkata aku tidak masalah dengan kepergiannya? Itu adalah kebohongan terbesar! Aku tidak pernah mau ia pergi. Tidak pernah..

Airmataku kembali meleleh. Oh Tuhan, kapan tangisku berakhir? Hatiku sudah hancur berantakkan, apakah masih pantas aku menangisinya? Apakah atas dasar pertemanan aku menangis? Atau karena yang lain?

Kupejamkan mataku perlahan, aku…merindukan senyumnya. Sungguh. Aku belum pernah melihatnya tersenyum tulus seperti itu. Aku ingin melihatnya tersenyum lagi. Skali lagi saja…sebelum ia beranjak pergi..

Ia tidak pernah tersenyum. Bahkan, ia sendiri yang mengatakannya, tak ada alasan baginya untuk tersenyum. Separah itukah Tuhan? Padahal, aku tahu saat ia tersenyum hatinya ikut tersenyum lega. Biarkan ia tetap tersenyum seperti itu Tuhan.

Bukankah, ia pergi untuk menggapai mimpinya? Dan bukankah itu adalah kebahagiaan dalam hidupnya? Bukankah harusnya aku ikut bahagia? Lalu…kenapa aku memberontak? Bukankah sejak lama memang kami ada masalah?

Errggghh…aku benci perasaan seperti ini Tuhan.

“Aku melihatmu sebagai teman, bukan sebagai laki laki. Dan hatiku yang sakit pun bukan sebagai perempuan, tapi sebagai teman.” Itu ucapku kala itu padanya. Lalu…bagaimana jika aku tak lagi melihatnya sebagai teman, melainkan sebagai laki-laki? Dan bagaimana jika memang benar adanya hatiku pernah sakit sebagai perempuan, bukan teman? Seandainya aku memang dapat melihatmu tersenyum kembali, aku rela mencari cara -apapun itu- agar kau tersenyum. Termasuk merelakan kepergianmu sekarang. Tak peduli seberapa berat dan sakit hati ini, asal aku dapat melihat senyummu terbit.

Aku akan tersenyum melihatmu tersenyum, juga akan ikut bahagia dalam kebahagiaanmu.

Es itu smakin menjadi menghujam tanah. Juga mulai mematikan syaraf syaraf kulitku. Baiklah. Aku tidak ingin mati konyol disini.

Aku tengadah menatap sekolah yang akan menjadi catatan terindah juga terpahit mungkin disini. Dinding sekolah ini menjadi saksi bisu hati kecilku. Dimalam ini..diatas bongkahan es yang ku injak, juga dibawah langit hitam berhiaskan titik titik putih dari awan itu. Biar hatiku ikut terkubur disini. Biar masalahku terhadapmu menjadi rahasia antaraku terhadapmu-selamanya-

Akupun melangkah pergi. Dengan sangat berat.

Goodbye Cho Kyu Hyun.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s