July Story

“July Story”

A story by Chang Nidhyun

***

-July 30th 2011-

 

‘Kadang, kau bisa salah mengartikan perasaanmu sendiri.’

Aku termenung saat mengingat kata-kata itu. Kalimat yang tanpa sengaja menempel –mungkin akan permanen- karena bacaanku semalam dari sebuah fanfiction milik seseorang. Ku hela napas panjang. Yah, mungkin kata-kata itu belum bermakna sekarang, tapi satu hari nanti kalimat itu sepertinya akan berguna untukku.

Kupercepat langkah kakiku menyusuri koridor sekolah ini. Ya. Hari ini ada acara seminar tentang kesehatan. Aku sebagai anggota OSIS, kali ini tengah bebani tugas untuk memeriksa tiap kelas, takut-takut ada siswa bolos dan absent untuk acara yang menurut pihak sekolah itu penting. Menurutku, ada untungnya aku menjadi anggota OSIS dan di embani tugas ini, setidaknya aku yang merupakan bagian daro orang-orang yang merasa malas untuk ikut acara itu, bisa sedikit mangkir dan mengulur waktu untuk menjejali otakku dengan materi yang akan disampaikan oleh seorang dokter nanti.

Setelah mengelilingi semua koridor dan mengecek ruangan yang kemungkinan menyembunyikan siswa atau siswi yang akan lari, akupun kembali menuju ruangan aula stelah merasa semuanya aman. Dan baru beberapa langkah aku menuruni tangga –karena aula ada di lantai dua dan aku ada di lantai tiga, tiba-tiba sebuah tangan menarikku.

Aku cukup terkesiap awalnya. Bagaimana tidak? Seseorang menarik tanganku disaat aku yakin sekolah kosong. Dan aku sedikit mencubit lengan Hyejin –orang yang menarikku— karena dia berani mengagetkanku.

“Yak! Kau seram sekali tahu! Kau…” aku menghentikan ucapanku saat melihat matanya yang bengkak. Hei, ada apa dengan gadis ini? Kenapa matanya sembab, hidungnya merah, dan…ah, aku ingat. Dia menangis di kelas tadi.

“Ada apa?” tanyaku pada akhirnya. Mencoba menurunkan volume suaraku yang menurutku terlalu tinggi tadi.

“Bisa bantu aku?”

***

Sebenarnya aku tidak perlu repot-repot berjalan dan menunggu ayah Hyejin datang. Tapi entah kenapa kakiku malah terus berjalan menuju gerbang sekolah. Padahal disana ada penjaga, setidaknya ayah Hye Jin alias Tuan Park bisa menitipkan uang yang Hye Jin minta dan memberikannya padaku –yang rencananya akan menunggu di depan pintu aula.

Tapi…yasudahlah. mempermasalahkan soal kakiku yang tiba-tiba ingin pergi ke gerbang itu, bukan sesuatu yang begitu penting. Lagipula kau sudah menyanggupi diri untuk menolong Hye Jin, jadi tak ada lagi ba bi bu untuk dipusingkan.

Dan…lihat! itu Tuan Park!

Aku sedikit berlari kecil saat melihat tuan Park yang mulai mendekatigerbang. Aku sedikit berbicara pada penjaga sekolah dan langsung menghampiri Tuan Park. Sebenarnya wajahnya tidak menunjukan ekspresi begitu baik. Apakah dia baru saja bertengkar dengan putrinya? Dan membuat Hye Jin menangis tiba-tiba? Tapi mungkin tidak. Ini hanya soal uang, meskipun aku tahu Hye Jin terlalu boros belakangan, dia begitu terobsesi dengan Super Junior-nya, dan berharap dapat menonton konsernya nanti. Aku juga sangat berharap bisa melihat aksi Kyu Hyun saat bermain drama musical. Sesuatu yang nyaris tidak mungkin mengingat sakuku yang nyaris kering.

Setelah berbicara beberapa kalimat dan berbasa-basi sebelum Tuan Park pulang, tanpa sengaja aku mendengar suara yang memanggilku. Aku sedikit menengok ke kanan dan ke kiri. Suaranya laki-laki. Tapi apa mungkin? Mengingat aku tak memiliki banyak teman dari kalangan laki-laki. Dan menurutku mereka tidak punya kebutuhan khusus denganku.

“Ye, Annyeong…” setelah Tuan Park pergi, aku berbalik dengan mata terfokus pada lembaran uang di tanganku. Jika suasana hati Hye Jin sedang baik, seharusnya aku bisa memintanya mentraktirku. Dia baru saja dapat uang.

“Lee Ye Jin!” lagi, aku mendengar namaku dipanggil. Kali ini lebih jelas. Membuat mataku sibuk menyelami tiap sudut yang bisa kulihat.

“Yejin-ssi! Disini!” aku mendongak ke arah koridor balkon lantai 2 sekolahku. Disana ada 2 laki-laki yang tengah sibuk melambai ke arahku. Hingga akhirnya…DEG!

Apakah baru saja ada sebuah panah menusuk jantungku? Rasanya waktu berhenti seketika. Telingaku seolah tuli dan hanya bisa mendengar suaranya. Mataku juga seolah buta dan hanya bisa melihatnya. Choi Nak Hee. Tatapan mata yang hangat itu menusuk mataku. Senyumnya juga. Membuat duniaku serasa hilang tertelan bumi. i…ige mwoya?

Aku terkesiap saat Lee Jun Ho –laki-laki yang berdiri di sebelah kiri Nak Hee sedikit berbisik ke arah Nak Hee, membuat ribuan anak panah dari senyumnya berhenti menyerang kesadaranku.

Aish…jinjja paboya! Aku ini kenapa?! Memalukan! Mematung di depan Nak Hee dan malah bengong menatapnya, terlalu menunjukkan jika kau begitu terpesona dengannya. Baiklah. Jangan salahkan aku begitu terpesona dengan senyum ketua OSIS sekolahku itu, karena dia memiliki senyum yang hangat dan mata yang terang, membuat kebanyakan gadis bisa jatuh hanya sekali lirikan.

Dan sialnya, dari sekian gadis-gadis bodoh itu, aku adalah bagian dari mereka.

“A…ada apa?” tanyaku pura-pura tidak terjadi apa-apa. Padahal bernapas saja aku belum normal. Hah…bisa dikatakan, ini pertama kalinya di tersenyum sehangat itu padaku. Membuatku langsung berubah menjadi batu. Membuat semua orang selalu berpikir aku menyukainya. Atau mungkin memang benar? Ya. Bisa saja.

“Bisa kau ambilkan kameraku di ruang OSIS? Kurasa kau akan melewati ruang itu sebelum ke Aula.”

Memangnya aku pembantu…sifat menyebalkan dari Choi Nak Hee, dapat memerintah orang dengan mudah.

***

Choi Nak Hee. Benarkah aku menyukainya? Kkk~

Baiklah, jika dulu aku mengatakan diriku menyukainya karena senyum hangat dan tatapan matanya, maka apa sekarang aku harus menjadikan alasan itu karena aku menyukainya?

Aku masih sering mematung tiap kali mata itu menatapku hangat. Tiap kali dia tersenyum padaku, bahkan sekarang aku bisa mendengar tawa ringannya tepat di kupingku. Choi Nak Hee, menjadi temanmu adalah satu keberuntungan besar untukku. Bukan lagi sebagai atasan-bawahan dalam garis OSIS.

Kulirik Nak Hee yang asyik memainkan kembang apinya. Malam tahun baru ini dia terlalu kesepian sepertinya, menyeretku sampai ke atas gedung ini untuk melawan kembang apilainnya di Namsan Tower.

Aku tidak lagi menyukainya. Tidak. Mungkin tidak pernah. Hanya saja aku menyukainya, sama seperti ketika aku menyukai senyum yang dimiliki Kim Bum dan tatapan hangat yang dimiliki Dong Hae. Mungkin seperti itu.

Jika aku bisa menyalah artikan perasaanku terhadap Nak Hee, lalu apakah kisahku kali ini juga tengah disalah artikan oleh hatiku sendiri?

 

_The End_

13/08/13/09:45PM

 

Iklan

One thought on “July Story

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s