Your Eyes

Your Eyes

A story by Alwan Abdillah Ds

(beta-read : Chang Nidhyun)

-o0o-

Dari waktu ke waktu, entah itu detik yang berjalan menuju menit, menit yang berjalan menuju jam, dan jam yang terus merangkai waktu yang semakin panjang, membentuk rangkaian cerita, mempertemukan aku banyak dengan titik kisah yang kadang sangat bisa terkenang, ataupun hanya sekedar menjadi kenangan kecil yang menjadi jejak yang hilang. Seperti halnya aku dan dirimu, kita tidak pernah memohon untuk saling bertemu dan merangkai kisah yang saling menyambung bukan? Tapi apa daya, kita hanya tokoh dalam dramaNya. Dan jika aku dapat meminta, aku hanya meminta satu hal, tetaplah disampingku dan jangan pernah pergi. Karena kau terlanjur menjadi bagian dari dalam diriku, separuh hidupku adalah dirimu.

OoO

‘staying near me
Fiery gently gap peace alwaysdisappear before the tragedy
a little piece of love
the second is the broad and I have been one or two’

 

Dengan langkah berat, aku menyeret kakiku menuju halaman bandara. Entah buruk atau tidak, okaasan (ibu) tidak jadi menjemputku disini. Padahal dia yang memintaku pulang, tapi dia sendiri yang mengatakan dia tidak bias dating. Dan seseorang akan menjemputku. Entah siapa, aku tidak begitu peduli dan ingin tahu.

Aku dapat menciumnya, aroma Tokyo yang telah bertahun-tahun aku tinggalkan, kini tepat diusia ke-20 aku kembali, ketempat aku dilahirkan, ketempat yang telah membesarkanku dan mengajarkanku, dan sebenarnya kembali kemari bukan hal buruk, malah mungkin akan menjadi hal yang baik.

Satu langkah…

Dua langkah…

“Minato-kun!” kakiku reflex berhenti melangkah, kepalaku langsung berputar dan mataku sibuk mencari si pemilik suara yang telah memanggil namaku. Suaranya tidaka asing. Tapi siapa?

Dan…sret. #lebih mirip suara kertas dibalik ya -,-# mataku terhenti pada sosok seorang wanita yang berdiri tak jauh dariku. Dengan senyum lebarnya yang seolah menyapa hangat, dia sangat terlihat ceria dan berhasil membuat kedua sudut bibirku tertarik dan melengkung, aku ikut membalas senyum hangatnya itu. Aku menyipitkan mataku.

“Waaaah, kau benar-benar sudah berubah ya Minato!” dia mendekat kearahku, masih dengan senyum hangatnya –yang menjadikan kesan pertamaku-.

“Sora?!” aku tertegun saat memoriku mulai menyeruakkannya, Sora. Dia teman lamaku! “Ya ampuuun, kenapa kau sekarang menjadi can…eh,” aku buru-buru membekap mulutku. Apa kataku barusan? Apa yang akan aku katakana?

“Apa? Kau mau bilang apa? Aku apa?” dia masih sama, sifatnya tidak berubah. Tapi sungguh! Penampilannya sekarang sudah berubah drastis. Bahkan aku belum pernah melihat senyumnya yang sehangat tadi.

“Tidak, tidak ada. Tapi sungguh, kau sangat berubah sekarang” aku menggelengkan kepalaku ttdak percaya, terakhir aku bertemu dengannya saat kelas 2 SMP, dan saat itu Sara yang aku kenal sangat cengeng dan…ekhm, berpenampilan culun. Tapi demi apapun, dia teman yang sangat baik.

“Kau berlebihan Minato. Kau sendiri juga berubah drastis, maksudku secara penampilan. Dan….oke, hentikan tatapanmu itu.”

“Kau kemari mau menjemputku?” tanyaku padanya. Dan dengan cepat dia mengambil alih koperku.

“Ya. Ibumu memintaku untuk menjemputmu disini, dia ada keperluan.” Ia mendongak melihat kearahku, kembali senyum itu merekah. “Kau tidak keberatan, kan?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Justru itu bagus, aku juga sangat merindukanmu. Lagipula aku juga belum mau mendengar serentetan ceramahan dari ibuku saat ia bertemu denganku, aku terlalu capek.”

“Hei, jangan begitu. Aku justru sangat ingin merasakannya” Well, dia berhasil menarik perhatianku kembali. Aku melupakan sesuatu…

“Gomen’na” ucapku kemudian. Dan dia hanya mengangguk dengan senyumnya yang seolah tak akan pernah pergi darinya.

 

Ooo

‘But only so much hope to meet
my love from the tears
sigh floating in the sky spills
(please stay with me)’

 

Musim dingin sudah tiba. Tidak terasa, rasanya seperti baru kemarin musim semi datang menyapa pagiku yang agak monoton, dan sekarang musim dingin sudah didepan mata dengan butiran-butiran salju yang menari-nari dari langit. Terlalu dingin, namun terlalu sayang untuk melewatkan momen seperti ini. Dan karena ini musim salju pertamaku lagi di Jepang. Terlalu banyak kenangan yang terlupakan rupanya.

Dan aku rasa aku tidak ada kerjaan hari ini, tidak ada tugas membosankan untuk datang ke perusahaan otousan, tidak ada jadwal kuliah yang mengejar-ngejarku. Dan itu artinya aku tidak ada kegiatan khusus hari ini.

Kulirik jam dinding yang bernyanyi riang lewat jarum jam detiknya dikamarku ini, dan cuaca juga tidak buruk kurasa. Akupun bangkit dari kasurku yang sedaritadi memanjakanku, Sora. Nama itu yang pertama muncul di pikiranku, semenjak musim panas lalu, aku sangat jarang bertemu dengannya. Dia terlalu sibuk, dan aku rasa tidak ada salahnya untuk mengajaknya jalan-jalan sebentar.

 

Ooo

Sudah hampir 2 jam aku mencarinya. Dia tidak ada dirumahnya, tidak! Dia tidak ada dimana-mana! Aku tidak dapat menemukannya. Untuk pertamakalinya dia benar-benar membuatku merasa khawatir. Gadis itu keterlaluan! Bagaimana bias dia tidak mengangkat telponku, tida membalas sms ku satupun?! Dia ada dimana? Ditengah salju yang turun lebat seperti ini? Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, depresi ringan.

Dan tanpa perintah dari otakku, entah bagaimana aku menjalankan mobilku sampai ke sebuah taman. Tempat ini memang tidak asing, taman komplek didekat rumahku. Hanya saja…”Sora?!” aku bergumam, lebih kepada diriku sendiri.

Aku melihatnya, diantara butiran salju yang menabrak daratan, dia disana. Dengan tatapan kosongnya. Apa yang dia pikirkan? Ditengah cuaca buruk seperti ini dia malah duduk sendirian di taman tanpa baju hangat?! Gadis itu bermasalah! Aku buru-buru turun dari mobil dan dengan cepat aku berjalan kearahnya.

“Sora? Apa yang kau lakukan? Kau bisa membeku disini!” dengan cepat tanganku menarik lengannya untuk bangun. Siapapun tahu dia bisa mati kedinginan. Apa dia tidak pernah dengar tentang dongeng gadis kecil yang mati kedinginan dimalam saat turun salju? Apa dia tidak tahu dia bisa saja bernasib sama dengan gadis didalam dongeng itu? #ini nidar ngedadak inget dongeng di LKS Indonesia kelas 8 -_-#

Dia hanya mendongak sekilas, menatapku dengan tatapan….jinjja! kenapa sorot matanya mengatakan bahwa dia sangat tidak baik sekarang? “Aku tidak peduli, biarkan saja” ia menepis tanganku.

“Kau kenapa?” tanyaku saat melihat Sora sangat berbeda. Dia mengingatkanku pada kejadian hari itu, kejadian yang benar-benar mengerikan. Aku tidak ingin melihat sorot matanya kembali sama seperti hari itu, tidak mau. Seharusnya aku bisa melakukan sesuatu agar dia tidak kembali mengalami kesakitan yang sama.

“Tidak. Aku tidak apa-apa” dia menyunggingkan senyumnya, senyum palsu yang ditarik-tarik.

“Kita bicarakan nanti, yang terpenting kita harus segera pergi darisini” tidak peduli apapun, aku tetap menarik lengannya dan membawanya masuk kedalam mobil. Aku sendiri tidak suka berlama-lama diam diluar saat cuaca sedang buruk seperti saat ini. #musim dingin itu rasanya gimana yaaa u.u# kemudian, dengan reflex tanganku melepas mantel yang kukenakan dan memakaikannya(?)*apa bahasa yang tepatnya coba* di bahu sora.

 

Ooo

 

“Biarkan saja dia pergi, dia bukan laki-laki yang baik. Jika dia orang baik-baik, dia tidak akan meninggalkanmu. Jadi, berhenti menjadi lemah seperti ini karena hanya seorang laki-laki” aku menelan ludahku sehabis mengucapkan kalimat itu. Aku sendiri pernah mengalaminya, pernah. Anggap saja Tokyo sebagai tempat pelarianku kini.

“Aku sangat cengeng ya Minato?”

“Ya, jadi berhenti jadi perempuan cengeng”

Kamipun sampai di halaman rumah Sora. Hening, Sora bergeming ditempatnya. Matanya sibuk mengamati rumahnya sendiri.

“Sudahlah~jangan menangis lagi, kau tahu matamu itu indah, jadi jangan merusak keindahannya karena airmatamu”

Sora langsung mengalihkan pandangan matanya kearahku, kemudian ia tertawa kecil seolah ada yang lucu disini.

“Kenapa?”

“Kau belajar menjadi pria romantis ya di Korea? Kudengar drama korea sedang naik daun sekarang” jawabnya sambil berusaha menghentikan tertawaanya.

Aku mendesis kecil, “aku serius tau! Lagipula itu tidak lucu, dan aku tidak suka menonton drama atau apapun itu selama di Korea”

“benarkah? Baguslah, lagipula terasa aneh juga jika seorang Minato menonton drama bukan? Apalagi drama korea itu sedikit mendayu-dayu”

“baiklah, lupakan itu. Cepat kau masuk”

“kau masuk juga ya?”

“ne?”

“hei, ini jepang. Bukan korea. Jadi berhentilah menggunakan patahan bahasa korea”

“tidak, kau masuk saja. Aku akan langsung pulang” aku mengabaikan ocenyataannya barusan.

“kenapa? Sebentar saja. Kau bilang tadi kau ingin mengajakku jalan-jalan bukan? Tapi aku malah merepotkanmu, sebagai gantinya aku akan memasakkan sesuatu untukmu malam ini”

“makan malam? Kencan?”

“apa kubilang, kau sudah tertular laki-laki di drama-drama korea itu. Makan malam bersama tidak harus dikatakan kencan bukan? Apalagi kita teman”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kenapa aku mendadak menjadi bodoh seperti ini?

“ayo cepat turun! Jangan membuatku lama-lama menunggumu disini” sora kembali memanggilku diambang pintu mobil. Kemudian aku menyusulnya untuk berkunjung kerumahnya. Apa itu tidak apa-apa? Dia tinggal sendiri disini. Huft… baiklah, sekarang kau benar-benar bodoh minato.

 

Ooo

 

“aku tidak menyangka kau bisa menjadi chef” komentarku saat masakan sora berbaris rapi melambai-lambai kearahku, dan tiba-tiba saja cacing diperutku berteriak keras seolah aku benar-benar kelaparan.

“tinggal sendiri menuntutku untuk menjadi seorang yang mandiri, dan masalah sekecil inipun aku harus bisa melakukannya” sora menjawab sambil menata makanan meja makan didepan kami.

“itu bagus, kau calon ibu yang baik” jawabku lagi, dan sora hanya menjawab dengan senyumannya. Yang keberapakali aku mengatakan ini? Senyumannya yang enggan pergi dari wajahnya. Walaupun senyumnya tidak sehangat biasanya.

“aku benci kesepian. Aku benci ditinggalkan” sora memecah keheningan di meja makan ini, sedari tadi kami memang hanya sibuk dengan pikiran masing-masing ditambah dengan makanan yang menemani kami.

Aku hanya bisa diam, menunggu dia melanjutkan. Tapi tidak ada. Dia tetap bergeming. Hanya helaan nafas panjang yang terdengar olehku. Dia lelah. Matanya mengatakan dia lelah, aku baru menyadarinya. Dia memang terlihat lelah. Dibalik senyum hangatnya, dia menyimpan rasa lelah yang sepertinya ia simpan rapat-rapat. Memikulnya tanpa melepaskan atau membaginya.

Selama itukah aku berpisah dengannya? Hingga aku benar-benar tidak tahu apa-apa lagi tentangnya. Setelah kejadian itu, setelah kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang, dan saat itu, saat kami baru duduk di kelas 1 smp, aku pertama kali melihatnya sangat terpukul. Dia terjatuh, sama seperti daun yang berjatuhan dimusim gugur itu. Dia menangis, menangis bersama hujan yang menangis. Matanya menyiratkan dia sangat terluka. Sangat. Dan setahun setelah kejadian itu aku pindah ke Korea.

Dan sekarang dia memang benarbenar tinggal sendiri setelah kakaknya berkeluarga. Aku tidak tahu kenapa dia memutuskan untuk tinggal sendiri disini dibandingkan untuk ikut dengan kakaknya. Bukankah dia benci sendirian? Ia tidak suka kesepian. Aku sangat tahu itu.

Tapi aku tidak berani bertanya. Aku tidak ingin mengorek lukanya yang sengaja ia tutupi, meskipun aku tahu luka itu tidak mengering.

“oya, malam tahun baru nanti kau tidak ada acara, kan?” dan sekarang sora tersenyum lebar, seolah tidak terjadi sesuatu. Aku sendiri tidak habis pikir gadis ini bisa menangis hanya karena diputuskan oleh seorang pacar.

“tidak. Memangnya kenapa?”

“tadinya aku dan kekasihku itu berencana akan merayakan malam tahun baru di shizuoka, tapi karena itu tidak mungkin terjadi, bagaimana kau yang menemaniku ke sana?”

“ha? Aku?”

“iya. Bagaimana? Kau bisa kan?”

Dan sekarang apa ini? Kenapa sekarang detakkan jantungku agak aneh? Tidak. Ada yang slah. Kenapa detakan jantungku berubah? Dan kenapa dadaku terasa melayang? Apa yang terjadi padamu minato?

“Minato-kun?”

“ya? Ah…ya, ya. Tentu. Aku juga tidak ada acara untuk malam tahun baru nanti. Mungkin rasa bosanku akan hilang jika aku berjalan-jalan menghabiskan waktu diluar rumah”

“tidak ada acara keluarga, kan?”

“tidak, tenang saja.”

“baguslah. Arigatou gozaimasu’ minato-kun”

“umm”

Senyum itu lagi. Baiklah, kurasa aku harus segera pulang jika aku tidak ingin mentadapati diriku menjadi semakin aneh didekat sora. Entah itu melihat tatapan matanya, ataupun melihat senyumnya. Tidak untuk semua itu.

 

Ooo

 

‘Reason only persists,
but I hold back good change from one day
to the truth in words
even during times
without breaking more than a dark dream
Oh and when you have one or two’

 

-31 Desember, 10:24, kami bersiap berangkat ke shizuoka. Kami berangkat ke stasiun Tokyo dan menunggu keberangkatan kereta. 20 menit kami menunggu dan kereta itupun tiba. Sesampainya didalam kereta, kami bersyukur karena masih tersedia tempat duduk kosong. Setidaknya untuk kami berdua.

1 jam perjalanan menuju shizuoka, aku menikmati semuanya. Semua hal-hal yang telah lama ku tinggalkan. Meskipun aku tahu, aku tidak terbiasa menggunakan kereta seperti ini. Tentu saja aku bisa mengendarai mobil untuk pergi ke shizuoka, tapi atas permintaan sora akhirnya aku malah duduk dikereta ini.

Salju memang belum terlihat menapaki daratan, tapi udara dingin tidak akan membuatku lupa meskipun salju belum turun kembali, tapi cuaca masih belum bersahabat untukku melepas baju hangatku. Setiap yang dilewati kereta ini seolah melambai ramah dan hangat padaku, juga orang-orang yang tak lepas dari pandanganku, meskipun aku tahu mereka sama sekali mengacuhkanku. Lagipula aku bukan apa-apa dari bagian hidup mereka, jadi sangat wajar jika aku hanya menjadi benalu yang kebetulan lewat didepan mereka.

Tapi aku suka. Sangat suka. Semua ini tidak membuatku merasa bosan ataupun jenuh #bukan jenuh dalam kimia ya -,-#

Dan sesampainya di shizuoka, dengan riangnya sora berjalan memandangi semua pemandangan yang bisa ditangkapnya. Ia terlihat sangat senang. Dan…aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi aku ikut senang melihatnya juga senang seperti sekarang ini.

“Ini masih jam 2 siang, kita mau kemana dulu?” tanyaku disela-sela kebahagiaan yang seolah-olah berputar-putar mengelilinginya.

“terserah kau saja, menurutmu bagusnya kita kemana?”

“aku sudah hampir lupa tempat-tempat di shizuoka. Dan lagi aku sangat jarang kesini, dulu” jawabku sambil melongokkan kepalaku kekanan dan ke kiri. Memang benar, aku sangat jarang datang kemarin hingga aku lupa ada tempat apa saja disini.

“bioskop? Bagaimana? Sepertinya ada film bagus yang bisa kita tonton”

“kau tahu tempatnya?”

Sora mengangguk mantap, “tentu saja. Mana mungkin aku mengajakmu ketempat yang tidak kuketahui. Tempatnya tak jauh darisini”

“baiklah, aku ikut padamu saja. Jangan-jangan nanti kita malah tersesat jika aku yang memimpin” sora terkekeh mendengar itu.

Sesampainya di bioskop, semua tetap sora yang mengatur. Termasuk membeli popcorn, dan minumannya.

“ayo! Kuharap kau suka dengan filmnya!” ucapnya sebelum kami masuk kedalam, dan apa? Aku terkejut saat sora memegang tanganku dan menarikku masuk. Kenapa? Apa-apaan? Kenapa hanya karena hal sepele begitu jantungku langsung tidak karuan? Aku memang agak sedikit tidak beres. Tapi dia memang memegang tanganku! Maksudku…

“sora, kau memegang tanganku” ucapku refleks sambil menunjuk tangan kami berdua #serius! Gak tau kenapa tiap kali baca bagian ini aku suka ketawa xD#

Mata sora ikut berlari kearah yang sama yang ditunjuk mataku, semburat senyum mekar diwajahnya, “tidak apa-apa” jawabnya kemudian dan semakin erat memegang tanganku.

Bukan hanya kejadian barusan yang membuatku terkejut, saat ditengah film berlangsungpun tiba-tiba sora mengagetkanku saat ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku tahu itu mungkin normal baginya, tapi untukku? Tidak! Maksudku, jantungku. Aku baik-baik saja, dan otakku mengiyakan setuju. Tapi tidak dengan jantungku. Ini benar-benar keterlaluan. Bisakah kau sedikit tenang jantungku?!

 

‘speaking of suffering
would meet again
it tears my love
every time it goes dear disagree
(please stay with me)’

 

ooo

‘Learn More
Hear your voice
I’m confused is weak cry’

 

 

“Sora, kau lapar?” tanyaku saat kami baru saja keluar dari gedung bioskop. Aku tahu mungkin agak sedikit merepotkan tidak membawa mobil pribadi, itu artinya aku harus naik taksi atau berjalan kaki jika ingin kemana-mana. Kenapa aku begitu saja menerima permintaannya? Aku kan bisa menolak tadi. Oh, tunggu. Kenapa aku baru menyesalinya sekarang? Ugh!

“Ya, sepertinya aku lapar. Kenapa?” sora sedikit memiringkan kepalanya kearahku, “kau mau mentraktirku?”

“kau yang mengajakku kemari dan seharusnya kau juga yang mentraktirku tau” gurauku sambil melipat tangan didada.

Sora mengangguk, dia terlihat berpikir. Kepolosannya masih belum hilang, “tidak aku bercanda. Ayo kita makan, biar aku yang traktir. Kurasa perutku juga sudah sangat terasa lapar” aku mengelus-elus perutku.

Senyum sora mengembang mendengarnya, “benarkah?”

“umm. Tentu. Seorang laki-laki lebih pantas mentraktir perempuan” jawabku sambil melangkahkan kakiku.

“oya? Kata siapa? Apakah di Korea seperti itu?” sora menyusulku dari belakang.

Dan akupun menghentikan langkah kakiku, “kau tahu dimana kita bisa menemukan sebuah restoran, kan sora?” ucapku kemudian.

 

 

“kau mau pesan apa?” aku memajukan kepalaku melihat menu yang sedang dilihat sora di sebrang meja.

“ini saja,” sora menunjuk salah satu menu.

Setelah selesai memilah-milih makanan ini itu, akhirnya akupun memanggil pelayan yang menuliskan makanan yang kami pesan. Dan dalam waktu kurang dari 5 menit, pelayan itu sudah berlalu dari pandanganku.

“kau ada uang untuk membayarnya kan?” Tanya sora setelah pelayan itu tidak ada.

“tentu saja, kau ini” aku menggelengkan kepalaku mendengarnya. Aku sendiri tidak akan menyanggupi mentraktirnya jika aku sendiri tidak punya uang.

“ummm…aku takut kau tidak bisa membayarnya” sora mengangguk-ngangguk. Hhh, entah kenapa aku merasa dia terlihat lucu dengan ekspresi bodohnya itu.

“adaada saja” gumamku sambil menyebarkan pandanganku.

“oya minato, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tanyakan saja,”

“apa selama di korea kau memiliki kekasih? Atau…pernah memilikinya?” matanya. Ck, kenapa tiba-tiba saja aku merasa tidak nyaman dengan tatapan matanya. Juga pertanyaannya, perpaduan sempurna untuk mengusikku.

“Minato?” dia menyadarkanku dari serentetan lamunan yang tiba-tiba menyerangku.

“pernah…” aku agak ragu menjawabnya.

“oya? Lalu bagaimana responnya saat kau kembali kemari? Apakah dia masih menjadi pacarmu? Atau kalian malah berpisah? Bagaimana orangnya? Apakah dia cantik? Menarik? Baik? Pintar? Apa dia juga memiliki suara bagus? Atau…”

“Sora-chan! Kau tahu berapa banyak pertanyaan yang kau keluarkan?”

“eh, maaf…” dia menutup mulutnya, “lalu? Ceritakanlah, sepertinya kau sangat jarang menceritakan tentang hidupmu selama di Seoul”

Hening sejenak…”Dia sudah pergi, dan tak akan pernah kembali” jawabku perlahan. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang, kejadian itu…

“maksudmu?” dia menyipitkan matanya.

“dia sudah pergi, untuk selama-lamanya…dia pergi…dan tidak akan pernah kembali. Penyakit leukemia mengambilnya dariku. Ah, tidak. Maksudku, Tuhan mengambilnya dariku,..” good! Selain suasana hatiku yang memburuk, aku sendiri kembali gugup menceritakan gadis itu. Kenapa juga sora bertanya hal seperti itu?

“oh, gomennasai minato-kun” bahunya merosot, “aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud…mengungkitnya”

“tidak apa-apa. Mungkin itu yang terbaik untuknya, untukku, untuk kami berdua dari Tuhan”

“kau sangat mencintainya?”

Hening sejenak…”ya.” Aku mendesah panjang, “aku sangat mencintainya” lanjutku.

Sora masih bergeming, mungkin menungguku untuk mengatakan sesuatu?

“tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja, aku pasti menemukan penggantinya” mataku membelalak saat menyadari kata-kata itu meluncur begitu lancarnya, apa kataku? Pengantinya? Hati kecilku tertawa miris, tentu saja saat itu aku bahkan terus berkata tidak aka nada yang dapat menggantikannya. Yah…saat itu aku masih anak kecil yang hanya tahu cinta pertamaku baru saja direnggut sang waktu.

“aku tahu, kau tidak cengeng sepertiku, kan?” ucap sora sambil tersenyum menghibur.

 

ooo

 

-19:28-

“Minato, sebelum kita pergi melihat kembang api, kita main beberapa permainan dulu!” sora dengan semangat menarik tanganku untuk masuk dan mencoba beberapa permainan di pasar malam ini. #bukan pasar senen?#

Dan…dia kembali menarik tanganku, kembali memuatku terpesona dengan tatapan matanya yang teduh, dengan senyum hangatnya, dan kembali membuat jantungku seperti hendar=k berlari dari tempatnya.

Aku senang melihatnya senang seperti sekarang ini. Entahlah, maksudku bukan senang yang seperti itu. Bukan sekedar senang biasa, tapi seperti apa ya? Ah, entahlah. Pokoknya aku senang dan perasaan senang itu sangat berbeda dari rasa senang pada normalnya.

Dia agak seenaknya padaku sekarang, dia menarikku kesana dan kemari suseukanya. Seolah-olah dia sudah tahu betul tempat ini dan merasa yakin setiap tempat yang kami datangi adalah tempat tebaiknya. Meskipun aku tidak menampik, itu memang benar.

Dan kamipun sampai ditempat melempar anak panah. #ada ibu bapaknya gak? Kakek neneknya sekalian? -____- *abaikan*#

“minato, kau bisa kan? Menangkan untukku ya” ucap sora sambil menatapku dalam-dalam.

“akan kucoba” jawabku sambil mengangguk yakin, untuknya…

Sekali…

Dua kali…

Tiga kali…

“berhasil!” sora memekik kegirangan. Aku tersenyum melihatnya sangat senang.

“selamat! Kalian boleh memilih satu, apa saja. Silahkan” ucap paman penjaga permanan itu sambil menunjukkan beberapa hadiah yang bisa kupilih.

“nah, sora. Ambilah yang kau suka” ucapku sambil menarik bahu sora kedepan, aku mempersilahkan tuan putri yang entah bagaimana terlihat bahagia sekali saat ini.

“ah, minato! Terimakasih, kau hebat!” pujinya kemudian matanya mulai menyelami beberapa benda yang ada. “aku pilih yang ini saja! Aku suka!” dia memilih boneka koala yang berukuran sedang.

“kalian ini pasangan kekasih, ya? Serasi sekali” pujian yang salah dari penaga itu sesaat setelah sora mendapatkan bonekanya. Dan entah mengapa aku merasa…malu ? aku tidak tahu. Tapi yang pasti aku hanya bisa melihat pipi sora memerah.

“ah, tidak. Kami hanya teman, kok” sora mengibaskan tangannya yang sebelah.

“oh…baiklah. Selamat bersenang-senang ya!” jawab penjaga itu ramah.

“iya, terimakasih paman” sahut sora.

 

“nah, minato, sekarang giliranku!” ia membawaku ke tempat permainan yang dinamakan ‘skill crane’, ia menggerakkan pencengkramnya lalu menekan tombol. Setelah menunggu agak lama, akhirnya dia berhasil mendapatkan satu hadiah.

“minato, maaf. Aku hanya mendapatkan gantungan ponsel ini untukmu, hehe” ia cengar-cengir sambil menunjukkan apa yang didapatnya.

“tidak apa-apa. Aku suka. Lagipula hanya untuk mendapatkan ini kau sampai berkeringat” gurauku sambil mengambil mengambil gantungan itu darinya. Dan satu pukulan ringan mendarat dilenganku.

“lihat, cocok sekali. Arigatou sora-chan” aku menunjukkan gantungan itu yang sudah kupasangkan diponselku.

 

Ooo

 

Setelah beberapa jam menghabiskan waktu untuk bermain, tiba saatnya detik-detik menjelang malam pergantian tahun baru. Aku memang tidak merasa malam tahun baru itu special, tapi kurasa menonton kembang api yang akan menari diudara adalah momen yang bagus. Dan aku juga sudah cukup lama tidak melihat kembang api.

“sora, sudah jam 11 lebih, ayo cepat kita dating ketempat yang kau katakana tadi”

“oya? Tapi kita beli makanan dulu. Kau mau apa?”

“dasar tukang makan”

“hei, aku serius minato! Kau mau apa?”

“tokoyaki saja” #tokoyaki itu apa dan kayak gimana? -_-“#

“baiklah..”

 

Dan setelah membeli tokoyaki, sora mengajakku ke sebuah jembatan. Aku tidak tahu gadis ini bisa menemukan tempat seindah ini darimana, tapi yang membuatlku benar-benar merasa terkagum-kagum adalah gunung fuji yang menjuntai hebat dihadapanku dan lautan yang terlihat jelas disini. Bahkan aku bisa mendengar ramainya ombak yang ikut merayakan kebahagian orang-orang.

“kau suka tempat ini?” tanyaku pada sora, dia terlihat masih mengagumi pemandangan didepan kami berdua.

“ummm…aku suka. Sangat suka” jawabnya pelan namun sangat semangat.

Hening. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing, ditemani suara deburan ombak yang mengingatkan bahwa waktu masih berjalan.

“kau tahu kan minato, dulu aku dan keluargaku sering marayakan tahun baru disini?” suara sora kini mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.

“ya,” jawabku singkat masih menunggu lanjutan ceritanya.

“meskipun kami sudah terpisah ditempat yang berbeda, “jeda sejenak, sora menatap kearah langit, “tapi aku masih sering dating kesini jika aku sempat. Ibuku sangat suka tempat ini, terutama saat malam tahun baru. Kita bisa melihat gunung fuji yang tersinarii oleh cahaya kembang api, juga pesta kembang api dipantai. Kita bisa melihat keduanya dengan sangat jelas disini” lanjutnya.

“dan rencananya kau akan mengajak pacarmu kesini?”

“ya” dia mengangguk sambil melahap tokoyukinya.

“kau sendiri? Bagaimana denganmu jika di seoul?” tanyanya sambil melihat kearahku.

Akupun mengangkat bahu, memoriku mulai memutarkan film lamanya yang sengaja kusimpan. “biasanya aku melewati malam tahun baru di namsan tower” aku memulai ceritaku, “atau…kadang-kadang di sungai han, atau sungai cheonggyecheon. Tapi aku lebih sering melewatkannya di namsan tower dengan ratusan penduduk seoul –atau bahkan ribuan- untuk melewati malam tahun baru disana. Hanya untuk sekedar menikmati udara malam sambil melihat kembang api. Itu menyenangkan” aku menghentikan ceritaku dan melihat kearah sora, dia masih terlihat bersemangat untuk mendengarkan ceritaku.

“dan hal yang paling unik disana, ada satu kepercayaan, ‘jika kau mengucapkan satu permintaan atau keinginanmu tepat saat tiupan terompet pertama bersamaan dengan jarum jam yang menunjukkan tahun telah berganti, maka keinginanmu akan terwujud’.” Aku menghentikan ucapanku, tenggorokanku tiba-tiba saja tercekat saat mengingat momen itu.

“oya? Dan kau meminta apa?.” Bagus, dia malah mengucapkan pertanyaan yang sebenarnya sangat tidak ingin kudengar.

“minato-kun?” sora menunggu. Aku menarik napas dalam-dalam,

“sampai terakhir aku melalui tahun baru disana, aku meminta…agar aku dapat melihat sooyoung sekali lagi. Satu kali lagi, aku…aku sangat merindukannya” aku tertunduk. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajah sora. Yang aku tahu hanyalah aku. Aku dan hatiku. Aku dan secercah rinduku yang sengaja aku tutup tutupi, tapi kini aku sadar aku memang masih merindukannya. Rinduku ikut terbawa ke jepang. Aku masih belum bisa melupakannya.

Hening. Sora tidak menanggapi ceritaku. Mungkin dia tahu maksud ceritaku, mungkin dia mengerti bagaimana perasaanku, dan mungkin dia juga tahu siapa sooyoung itu meskipun aku tidak menceritakannya secara gamblang.

 

11:48PM. Aku menatap jam tanganku. Dan kami masih sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Suasana tida mencekam, tapi terlalu sepi untuk hidup diantara keramaian yang ada sekarang.

“minato, boleh aku bicara sesuatu?” ia memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti kami.

Aku mendongak menatapnya, “tentu, katakana saja”

Kemudian ia diam sejenak. Mungkin dia memikirkan sesuatu? Atau mungkin dia bingung untuk menceritakan sesuatu padaku. Tapi dari gerak-geriknya agak sedikit aneh, aku tidak tahu apa dan tidak dapat menjelaskannya secara detail, tapi…

“seandainya kau tidak pernah pergi ke korea, mungkin sejak awal hanya kau. Hanya kau dan aku hanya akan memilihmu” ucapnya tiba-tiba. Aku tidak menangkap apa yang dikatakannya, terlebih aku tidak dapat melihat wajahnya. Dia menunduk, tapi samar-samar kulihat pipinya memerah.

“maksudmu?” aku menautkan alisku belum menangkap kemana larinya arah pembicaraan kami.

Ia menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya, cukup lama aku menunggunya untuk menjelaskan lebih mendetail. “sejak dulu, sejak kita kecil dan sampai kita memang benar-benar berteman, hingga kau pergi ke korea dan hingga saat kau kembali kemari, kau…tetap sama. Kau baik, kau selalu ada untukku. Kau juga mengerti aku, dan…aku tidak tahu aku harus menjelaskannya bagaimana dan darimana. Aku juga tidak tahu sejak kapan, namun kurasa itu sudah sangat lama hingga aku sulit untuk menemukan jejak akar awalnya dari semua ini, tapi…aku…aku…aku…aku menyukaimu..mi…minato”

“kau menyukaiku?” aku sangat terkejut mendengar pernyataannya barusan. Apa katanya? Dia menyukaiku?

“aku tidak tahu apa alasanku bisa sampai menyukaimu, tapi…aku tahu betul, sekarang aku benar-benar tahu alas an dibalik rinduku yang kerapkali dating tiba-tiba semenjak kau pergi, aku menyukaimu. Ya…aku..menyukaimu”

Hening. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sendiri mendapati hatiku seperti melebur, tidak. Aku tidak membencinya. Aku malah senang mendengarnya, atau….aku tidak tahu! Aku tidak ingin menjelaskan ataupun mencari tahu dari semua isyarat hati kecilku. Bahkan aku kehabisan kata-kata untuk menjawabnya. Tapi menjawab apa? Apa yang harus aku katakan?

“kenapa? Kau…tidak suka?”

“bu…bukan” aku buru-buru membantah. Baiklah minato! Kau seorang pria dan sekarang berhenti menjadi seorang pecundang!

“aku tahu kau masih mencintai kekasihmu itu, tapi…aku tidak tahu apakah aku berhak mengatakan ini atau tidak, tapi…tapi…apakah kau bisa memulainya…kembali, minato-kun?”

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Katakana sesuatu minato! Katakana sesuatu!

“10…9…8…7…6…” orang-orang mulai menghitung mundur, apakah sudah waktunya?

“jadi…bagaimana menurutmu?” sora menyela cepat, ia bahkan terlalu terburu-buru kurasa. Dan aku tetap bergeming.

“5…4…”

Aku menatapnya yang tengah menatap lurus kearah kembang api yang siap melayang berterbangan menghiasi langit malam ini.

“3…2…” katakan sesuatu MINATO!

“1…” dan kembang apipun melayang keuadara dan menari-nari disana, seolah tersenyum hangan dan menyapa ramah setiap orang yang memandangnya. Bahkan kembang api itu terlalu cantik aku rasa.

“Minato?”

“hmm?”

“indah sekali bukan?

“ya, sangat indah” akhirnya aku dpat menemukan suaraku. Akupun menunduk, kembali memikirkannya. Memikirkan ucapan gadis disampingku ini yang secara spontan, terlalu spontan malah.

“aku juga menyukaimu sora” jawabku kemudian.

Dan mata sora langsung berlari kearahku, “ya. Aku menyukaimu. Jika kau memintaku untuk memulainya kembali, I do”

Dan semburat senyuman mekar diwajah sora.

 

Ooo

‘but only so much hope to meet
my love from the tears
sigh floating in the sky spills
(please stay with me)’

 

4 tahun berlalu, aku sudah menyelesaikan kuliahku yang seharusnya selesai 2 tahun lalu, tapi karena kepindahanku ke jepang maka aku memulainya dari awal kembali.

Dan hari ini adalah hari kelulusanku, kulihat ayah, ibu, kak hinata dan sora ada disini. Aku sangat merasa ramai. Jarang sekali ayah dan ibu memiliki waktu senggang untukku. Dan aku tidak akan menyiakan waktu kebersamaan seperti ini, bisa dikatakan ini juga cukup langka.

Ucapan selamat hilir berganti tertuju padaku, tak terkecuali dari ayah, ibu, dan kak hinata #BTW, gak konsis ya. Di awal jepang kesininya kagak -_-v# juga sora.

Setelah itu ayah sudah mulai membicarakanku untuk posisi baruku diperusahaannya, tentu saja sebagai anak laki-laki aku sudah tahu aku akan meneruskan perusahaan ayah.

Dan ditengah-tengah pembicaraan masalah perusahaan itu, tiba-tiba ibu menyela. “oya, bagaimana dengan rencana pertunanganmu dengan sora, minato?”

Aku dan sora serentak melihat kearah ibu. Apa? Pertunangan? Apakah aku sebelumnya pernah membicarakan soal ini dengan ibu?

“kalian harus cepat-cepat menikah” kali ini ibu terlalu terlihat antusias. Dan itu membuat pipi sora mengeluarkan semburat kemerahan.

“masalah pernikahan, aku ingin setelah…aku benar-benar sudah bekerja”

“semakin cepat, semakin bagus minato!” #jadi inget novel spring in London, Danny Jo with 😛 :D#

 

Ooo

 

5 bulan kemudian…

 

“Minato, aku ingin pergi ke pantai dulu. Kau bisa menemaniku, kan?” ucap sora saat kami baru selesai makan siang.

Aku berpikir sejenak, “baiklah” aku mengangguk mantap membalas senyum sora yang menggantung sedari tadi.

 

 

Dan kamipun sampai dipantai ini. Aku tidak tahu kenapa sora tiba-tiba ingin datang kemari, ah tidak. Itu normal saja, hanya perasaanku saja yang agak aneh dengan sikapnya. Memang tidak ada yang ganjil, tapi…

Sora terlihat sangat menikmati suasana pantai sore ini. Angin yang memainkan rambutnya membuat dirinya terlihat cantik dari biasanya #-,-# .

“kau senang?” tanyaku menyela lamunannya. Dia tidak lagi telihat menikmati angin sore, melainkan mulai melamun. Dan…aku tidak tahu kenapa, tapi hati kecilku agak melarangnya untuk melamun.

“ya, tentu” ia mengangguk pelan sambil tersenyum meyakinkanku. Apakah dia bisa membaca kekhawatiranku sekarang?

“by the way, bagaimana menurutmu tentang cincin ini? Kurasa kau tadi terlalu terburu-buru untuk memilihnya” ucapku mengalihkan semua perhatiannya juga pikiranku untuk focus untuk acara pertunangan kamu minggu depan.

“bagus.” Sora mengambil cincin itu dari kotak merah yang kupegang, “lihat, sangat cantik bukan? Kurasa ini cocok untuk dipasangkan dijariku. Dan, aku tidak merasa aku terlalu terburu-buru memilihnya, kok” lanjut sora.

“apapun yang kau pakai, meskipun itu hanya cincin dari tanaman liar, semua itu cocok dijarimu dan akan membuat benda itu cantik karena bersanding (?) denganmu”

Sora memukul pelan lenganku sambil tertawa, “hei, ucapan apa itu? Kau jadi senang sekali merayu, ya?”

“aku tidak sedang merayumu sora-chan, aku bersungguh-sungguh”

“benarkah?”

“ya, tentu. Untuk apa aku berbohong”

Sora memperhatikan cincin yang dipegangnya itu, aku jadi tidak sabar untuk segera memasangkannya dijari milik sora. #cincin tunangan itu apa di pasangin di jari manis tangan kiri?#

“Minato-kun, arigatou” suara sora kembali menyadarkanku dari sebagian lamunan yang mulai merayapiku. Aku menatap kedua matanya, dan…kenapa rasanya aku merindukan tatapan mata itu?

“untuk apa?”

“untuk…semuanya. Karena kau telah mengisi hidupku, karena kau telah…menerima cintaku”

“tidak” bantahku buru-buru.

“ya?”

“bukan menerima cintamu, tapi karena telah mencintaimu” #aaaadddaaaay#

Sora mungkin agak sedikit terkejut mendengar ucapanku. Meskipun seharusnya, dia tidak merasa terkejut mendengar itu. Seharusnya dia sudah tahu, bukan?

“yah, apapun itu. Aku berterimakasih”

“oya, kurasa kita harus segera pulang. Otousan sudah menunggu dirumah”

 

Ooo

 

Sejak awal aku tidak yakin untuk naik taksi, tapi entah bagaimana mobilku tiba-tiba mogok tadi. Membuatku terpaksa untuk memakai jasa taksi. Dan yang lebih aneh, sora malah memintaku untuk naik taksi ketimbang meminta supirku untuk menjemput kami berdua.

“minato, aku punya firasat buruk” bagaikan sebuah petir yang menyambarku, lengkap sudah perasan yang sedari tadi membuatku tidak nyaman. Dadaku menjadi terasa berat. Dan tanpa ada penjelasan apapun, tiba-tiba perasaan khawatir memelukku, seolah aku tahu sesuatu. Meskipun kenyataannya tidak.

“tenang saja, semua baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Kita berdoa saja ya” ucapku menenagkannya dan juga menenagkan diriku sendiri. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Pasti.

Tiba-tiba, dijalanan yang sepi ini terdengar bunyi sirine mobil polisi yang berbunyi cukup keras memekakkan telinga. Kulihat kebelakang memastikan apa yang terjadi, sebuah mobil melaju cukup cepat kearah kami. Mobil itu akan menabrak bagian belakang mobil ini!

“sora awas!” menyadari apa yang akan terjadi, aku mencoba untuk melindungi sora. Dan mobil itupun benar-benar menghantam taksi yang kami tumpangi. Sangat keras.

Aku masih bisa membuka mataku. Aku tidak benar-benar ingat apa yang terjadi, tapi aku sangat sadar taksi ini sekarang terbalik! Aku tidak tahu kenapa mobil itu tiba-tiba bisa menghantam taksi ini, tapi yang aku tahu sekarang adalah tubuhku terasa remuk dan sakit semua. Pandanganku juga agak kabur.

Sora. Mataku mulai menyebar mencari sora. Ada. Dia ada disana. Dia bergeming dan menutup matanya. Aku ingin sekali menyentuhnya dan membangunkannya. Perasaanku saat ini terlalu buruk. Sangat buruk!

Sora! Kau harus bangun sora! Aku mohon! Biarkan dia membuka matanya Tuhan, aku mohon! Selamatkan dia!

Dan perlahan pandanganku mulai kabur, hingga semua gelap.

 

Ooo

‘reason only persists,
but I hold back Good change from one day
to the truth in words
even during times
without breaking more than a dark dream
oh and when you have one or two.
(please stay with me)’

 

-behind story-

“bagaimana keadaannya, dok?”

“keadaannya cukup parah, terutama yang perempuan. Tulang belakang dan rusuknya patah, dan bisa saja menusuk jantung atau paru-parunya. Kemungkinan akan sangat sulit untuk menyelamatkannya”

“bagaimana dengan minato?”

“kaki dan tangannya patah. Dan yang lebih parah, dia mengalami buta permanen”

“apa? Ya tuhan…” ibu minato membekap mulutnya tak percaya. Ia tidak tahu apa-apa lagi selain menangis, ia hanya bisa menangis dan berdoa untuk keselamatan keduanya. Terutama putranya.

 

Sora membuka matanya perlahan, ia merasakan kepalanya sangat berat dan sakit. Tidak. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Ia merasakan kesakitan hamper disekujur tubuhnya.

“di…dimana aku?” dengan susah payah sora mengeluarkan suaranya.

“kau di rumah sakit sora” suara ibu minato menyentuh gendang telingaku. Dia mendekat kearahku dan membelai lembut kepalaku.

“mana minato?” setelah beberapa saat, akhirnya sora sadar apa yang telah menimpanya tadi.

“dia ada diruangan lain. Dia…koma” ibu minato menahan dirinya untuk tidak kembali menangis, di depan sora.

“apakah…separah…itu?” perlahan sora mengeluarkan suaranya dengan susah payah.

“dia…” dan entah perintah darimana, ibu minato menceritakan semua yang menimpa putranya tersebut.

“tapi kau tenag saja,” ucap ibu minato pada akhirnya. “dia pasti akan segera bangun. Dan…sebentar lagi kau akan menjalani operasi”.

“aku benci operasi” gumam sora lebih kepada dirinya sendiri.

“okaasan,” sora memanggil ibu minato.

“ya, sora?”

“jika memang harus, tidak…maksudku, jika aku tidak selamat, berjanjilah untuk memberikan mataku pada minato”

“kau bicara apa sora-chan, kau pasti selamat. Harus.”

“tidak okaasan, mungkin…ini terakhir bagiku. Terimakasih kau telah bersedia menjadi ibuku” dan airmatapun kembali menghiasi ruangan itu.

 

Ooo

 

(Minato P.O.V)

Aku membuka mataku perlahan, sangat gelap dan berat. Ta…tapi apa? Apakah aku benar benar sudah membuka kedua mataku? Kenapa semua gelap?

“a…aku dimana? Kenapa semua gelap?” ucapku dengan penuh kekhwatiran. Bagaimana mungkin aku tidak bisa melihat…oh tidak! Jangan katakana aku…

“minato? Kau sudah sadar?” kudengar suara ibu, dan tangannya langsung menyentuh kulitku. Kehangatannya langsung menenagkan seluruh keteganganku.

“aku dimana, bu? Kenapa semua gelap? Dimana sora?”

Ibu diam sejenak. Aku benar-benar tidak sabar mendengar jawabannya.

“kau…kau mengalami kebutaan, sayang. Tapi kau jangan khawatir, ibu akanmencarikan donor mata untukmu. Pasti” aku terhenyak mendengar jawaban ibu. Apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Dan aku merasakan seluruh tubuhku sangat sakit, bahkan tidak bisa bergerak.

“lalu, mana sora? Bagaimana keadaannya?”

“dia sedang menjalani operasi. Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja. Berdoalah”

Dan…aku merasa jantungku terhempas dari tempatnya. Semua kejadian ini…semua ini…aku merasakan dadaku sesak, hatiku sakit. Jangan lagi Tuhan…aku mohon, jangan lagi…

 

Ooo

 

“Minato?” sebuah suara memanggilku. Aku mencari si pemilik suara itu, Sora. Aku sangat tahu suara itu adalah milik sora.

Aku mencoba menyusuri pantai ini, mencarinya. Dia sangat suka pantai. Terutama tempat ini, dimana disini ia bisa melihat gunning fuji dan pantai secara bersamaan. Tempat malam tahun baru pertama yang aku lalui saat pertama aku datang kemari.

Disana! Aku menemukannya! Dengan cepat, aku berlari kearahnya. Dan langkahku terhenti saat pandanganku berubah gelap. Apaapaan ini? Kenapa aku tidak bisa melihat apapun?!

“sora? Kau dimana? Aku tidak bisa melihatmu” teriakku sedikit khawatir, aku merasakan perasaan buruk tengah bermain dihatiku. Kenapa ini?

“tidak, kau akan bisa melihat kembali” dan kurasakan telapak tangannya menyentuh mataku, lalu dengan halus ia melepasnya.

Eng ing eng…#lemparin sandal! *abaikan ini*#

Dan akhirnya aku bisa melihat kembali, termasuk sora yang kini berada didepanku. Dan refleks aku memeluknya.

“jangan pernah tinggalkan aku, sora”

“aku tidak akan meninggalkanmu minato. Aku akan selalu ada dihatimu, dan bersamamu aku akn melihat segala sesuatu yang indah. Semuanya. Semua yang dapat kau lihat. Berjanjilah untuk tidak menangis minato…” dan entah bagaimana kini ia sudah menjauh dariku. Tidak, dia semakin jauh, dan semakin jauh.

“sora!” aku mencoba mengejarnya, tidak. Dia tidak terkejar. Dia mau pergi kemana?!

“aishiteru, minato-kun” suaranya yang terdengar samar begitu jelas dan langsung menghentikan langkahku. Tidak, aku merasa sesuatu menarikku tanpa bisa aku berontak dan menolak sedikitpun.

 

Ooo

Akupun langsung terbangun saat…apa ini? Semua gelap. Kenapa?

Dan sebuah ingatan kembali menabrakku. Tidak. Aku tidak ingin ini. Demi apapun aku berharap semua ini hanyalah mimpi burukku.

“minato, kau bangun?” kali ini kudengar suara kak hinata disampingku.

“ada apa ini? Apakah aku…”

Dengan cepat tangan kak hinata menyentuh tanganku dan menggenggamnya erat.

“sebentar lagi perban dimatamu akan dibuka”

Aku hanya bergeming. Entahlah, aku merasa diriku sangat lelah. Terlalu lelah malah. Bahkan rasanya aku tidak ingin memikirkan apapun. Tapi…sora? Bagaimana dengannya? Diamana dia sekarang? Hhh…mimpi itu. Aku benci saat mengingat mimpi itu. Apakah itu sebuah….tidak! jangan memikirkan hal aneh minato!

Namun tiba-tiba kurasakan kamarku menjadi ramai. Banyak suara orang yang membicarakan sesuatu. Dan…

“baiklah, sekarang kita bisa membuka perbanmu” akhirnya. Setelah seminggu seperti ini, akhirnya aku bisa melihat lagi. Smoga. Setelah itu aku akan mencari sora. Entah bagaimana semua orang malah diam tiap kali aku menanyakan tentang keadaannya.

Dan sebuah cahaya menerobos kedua mataku. Silau. Aku menyipitkan mataku, beusaha beadaptasi dengan cahaya yang ada.

“kau bisa melihat minato!” ibu langsung menghambur memelukku. Aku belum bisa membalas pelukannya sepenuhnya karena tangan kananku dibebat. Tidak bisa bergerak.

Dan tak lama setelah itu, kak hinata mendekatiku dan duduk di kursi yang tersedia disamping ranjang. Aku menatapnya bingung, dia terlihat tidak nyaman.

“ada apa? Apa kau akan mempertemukanku dengan sora?” tanyaku mencoba masuk kecelah kegelisahannya.

Kak hinata menatapku serius, kemudian dia mendesah panjang, dan…

“bacalah, dan…bersabarlah”

“apa maksudmu oneechan?”

Hening..kak hinata mengabaikan perntanyaanku dan malah menyodorkan sebuah kertas. Perasaanku langsung memburuk. Ini sangat tidak lucu. Kenapa semua orang seperti ini.

Dengan tangan kiriku, aku mengambil dan mulai membaca isi dari kertas itu.

‘~Minato, maaf aku meninggalkanmu. Aku sangat ingin bersamamu, aku bahagia disisimu. Tapi takdir menentukan lain. Aku berikan kedua mataku untukmu, berjanjilah untuk tidak menangis. Jika kau bahagia dengan apa yang kau lihat, akupun ikut bahagia.

Aku hidup lewat penglihatanmu, aku akan selalu bersamamu, dihatimu…

Aithiteru Minato…

-sora-~’

 

Ooo

 

satu tahu berlalu sejak kejadian itu. Aku tidak tahu harus bagaimana menata ulang perasaanku tiap kali aku mengingat semuanya. Jika aku diizinkan untuk memilih, maka aku lebih memilih untuk tidak pernah mengingat apapun darimasalaluku.

Sora. Aku merasa semua sangat tidak adil. Kesakitanku karena kepergian sooyoung sudah membuat diriku merasa nyaris tidak bernapas, dan kali ini sora yang harus pergi. Apakah takdir memang harus sekejam itu?

Alu tidak ingin menyalahkan takdir. Dan aku rasa aku harus mengehentikannya. Meskipun hati kecilku berkata bahwa ini memang tidak adil.

“apa kau melihat itu sora? Indah sekali bukan?” aku berbicara dengan udara hampa disekitarku, menatap bunga sakura yang mulai mekar. Tidak. Aku berbicara pada sora, aku tahu dia mendengarku.

Akupun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju bunga itu, “akan kubawakan untukmu”

 

“matamu memang indah sora” ucapku sambil menatap batu nisan yang berada tepat dihadapanku. Disisi batu itu, kulihat sora tersenyum padaku. Senyum itu…senyum hangat yang menjadi kesan pertamaku. Senyum hangat yang selalu membuatku terpesona dan merindukannya.

Aishiteru sora-chan…

 

Ooo

 

 

THE END

 

Created : 29/12/11&08/03/13

 

 

 

Iklan

One thought on “Your Eyes

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s