You’re Just A Boy

You’re Just A Boy

Written by Chang Nidhyun

***

 

Aku terpana dengan pria yang berdiri di hadapanku. Aku tersenyum miris dengan tangan terus saja merapatkan baju hangat yang ku kenakan, bukan karena dingin, sungguh. Udara yang semakin menusuk ini sama sekali tidak berpengaruh untukku.

Aku suka desember, aku suka musim dingin, dan aku suka salju. Aku selalu menantinya di setiap tahun. Tentu saja karena ada seorang pelengkap di balik semua itu, dan aku juga selalu menantinya sama seperti aku menanti desember yang hanya datang setiap satu kali dalam setahun.

Tapi hari ini, detik ini, kurasa aku takkan lagi berharap desember datang. Aku mungkin akan kehilangan segala obsesi dan harapan tentang desember dan semua yang berada di dalamnya. Sakit ini menyerapnya terlalu mudah, terlalu cepat, terlalu…kejam.

“Beginikah? Beginikah akhirnya?” desisku pelan dengan kepala tertunduk, seolah leherku tak lagi mampu menyangganya dengan baik. Aku tahu pandanganku sudah memburam sekarang, dan sedari tadi aku mati-matian menahannya. Sama seperti pertahananku selama ini. Dan pada akhirnya? Ya, akhirnya aku tahu semua yang kusebut pertahanan itu berakhir sia-sia.

“Aku lelah. Kau tahu, kau tidak pernah membuatku menjadi lebih baik.”

Aku memejamkan mataku menahan sakit, berharap telingaku dapat tertutup sama seperti mataku agar aku tak mendengar suaranya lagi. aku membenci semua ini. Aku membenci semua sesak yang kurasakan, aku membenci rasa nyeri yang menghentak-hentak dadaku dengan kurang ajarnya.

“Kau selalu menggangguku, kau hanya bisa menyakitiku. Apa kau tidak sadar selama ini aku lelah? Aku bosan, aku frustasi menghadapi semua ini, dan kau hanya menambah bebanku. Aku kembali ke Daegu justru untuk mencari ketenangan, bukan untuk menanggung masalah lagi dan lagi. kau tahu bagaimana menderitanya hidupku di Seoul, hah?” nada bicaranya meninggi, seolah menekanku untuk semakin mundur dan mundur dan mendepakku setelah aku benar-benar menjauh.

Ah, ralat. Aku memang benar-benar telah di buang.

“Kau memuakkan.” Ia masih melanjutkan, seolah tidak bosan-bosannya menghujatku dengan semua kata-kata yang keluar dari lidah tajamnya.

“Aku percaya padamu, kau orang yang sangat baik.”

Kepalaku mendadak sakit saat kilasan memori itu menyerangku dengan brengseknya.

“Kau teman terbaikku. Terimakasih karena telah menjadi temanku.”

Aku memejamkan mataku, mencoba menahan segala gejolak gila yang melandaku saat ini. Seolah ingin membuatku meledak saat ini juga, membuang rasa sakit dan membalas semua ucapan tajamnya.

“Jika ada satu atau beberapa doa yang akan Tuhan kabulkan malam ini, aku rela doa itu untukmu asal kau bisa kembali seperti semula, seperti seseorang yang pernah membantuku untuk bangkit dari keterpurukanku.”

Bolehkah aku meminta sesuatu Tuhan? Aku benar-benar butuh penyangga sebelum aku ambruk saat ini juga, tolong aku Tuhan…

Jangan pernah mencoba meninggalkanku, kau tahu, kan? Teman tidak pernah bisa berakhir.”

Aku tidak pernah meminta untuk mencintainya seperti saat ini. Aku juga tidak akan pernah bertahan selama ini jika seandainya aku tidak pernah mencintainya. Tapi kenyatannya aku mencintainya, dia juga temanku, dia juga orang yang berjasa dalam hidupku, dan aku tidak pernah bisa dengan tega meninggalkan orang yang membutuhkanku…ya, setidaknya dulu ia membutuhkanku. Alasan kenapa aku tidak pernah meninggalkannya, karena ditinggalkan oleh orang yang kau butuhkan begitu menyiksa. Aku tahu rasanya, dan aku tidak ingin melakukannya pada siapapun. Aku tidak ingin oranglain perlu merasakan perasaan yang sama denganku.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku soal ketidaknyamananmu? Kenapa kau tidak pernah mencoba untuk…” ucapanku terhenti. Suaraku terlalu tercekat, dan aku betapa mengerikannya itu semua. Sama mengerikannya dengan sakit yang terus memerangiku tanpa henti.

“Kau…lebih baik tidak pernah melakukan apapun untukku.”

Cih…ternyata semua yang kulakukan hanya sebuah kelakuan picisan yang buta. Tidak berguna. Semuanya memang tidak berguna. Padahal, dulu pria itu yang membuatku merasa sedikit berguna, padahal pria itu yang selalu mendukungku.

Dan sekarang…? Mimpinya, sifatnya, merubahnya sekaligus. Arogan. Pria arogan ini tidak pernah menyadari kesalahannya. Ia hanya menyelesaikan masalah dengan kata maaf, dan selebihnya ia tidak tahu letak kesalahannya dan tidak pernah mencoba untuk memperbaikinya. Ia merasa telah emiliki semuanya, ditambah kemampuan lebihnya yang membutakan.

Ya…dia tidak pernah membutuhkanku yang hanya bisa mengkritik, yang hanya bisa mempermasalahkan hal-hal yang menurutku cacat untuk hubungan kami. Aku merasa sudah sangat dekat dengannya, membuatku tidak menjadi segan untuk berkata jujur dengan semua apa yang ada dalam pikiranku. Bahkan dia juga meminta seperti itu dulu.

Dia hanya orang yang mau melihatnya dan selalu mendukungnya. Mengakui bahwa dia mampu dengan semua yang ia pilih. Tentu saja, kerja keras bisa merubah nasib bukan? Tapi aku juga pernah belajar, Tuhan memberikan batasan bagi tiap-tiap kemampuan yang beriringan dengan impian.

Aku mendongakkan kepalaku, aku benar-benar tidak ingin terlihat lemah saat ini. Aku akui aku memang menjadi biang kerok masalah yang saat ini melandaku.

Kenapa tidak sejak dulu ia mengatakan jika ia tidak menyukai keadaanku yang…menyukainya? jika ia tidak nyaman, ia bisa mengatakannya. Atau jika aku punya kesalahan fatal, ia bisa mencoba mengutarakannya agar aku tidak melakukan kesalahan yang sama bukan?

Kuhela napas panjang, “Beginikah cara Seoul merubahmu? Seperti inikah Seoul merubahmu? Menghilangkan pria yang selama ini kukenal, beginikah? Miris sekali, rasanya seperti sia-sia kau menghabiskan waktumu dengan mimpimu di Seoul, jika begini hasilnya. Kau hanya perlu melakukan semuanya tanpa mengeluh, tapi apa sulit? Ah…tutup telingamu. Maaf, aku tahu kau tidak membutuhkan ceramahku.”

Kuangkat bahuku, seolah tak pernah tersentuh oleh beban yang saat ini mencabik mentalku dengan mudahnya.

“Baiklah, kalau begitu selamat menikmati liburanmu Jong In-ssi.”

Akupun berbalik dan berjalan meninggalkannya. Berjalan diantara tumpukan salju tipis yang mendadak kehilangan daya tariknya dimataku. Cuaca dingin juga sekarang begitu menyiksaku, jika biasanya aku mengabaikan berbagai keluhan fisikku yang tidak begitu bagus di musim dingin, sekarang aku merasa badanku sakit semua karena tusukkan suhu yang begitu rendah.

Tidak ada lagi desember yang menarik tahun depan.

Yeah ~ you’re just a boy. You don’t understand how it feels. You don’t know, how it hurts when you lose the one you wanted. You don’t care how it hurts. You don’t care how it feels. Yeah, cause you’re just a boy.

 

=fin=

26/12/13-3:23PM

Iklan

One thought on “You’re Just A Boy

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s