A Miracle

Title     : A Miracle

Genre  : Family

Main Cast: Cho Kyuhyun, Lee Ye Jin (OC), Cho Ahreum (OC), Cho Minhyuk (OC)

Length : Oneshot

Rating : General

Auhtor : Chang Nidhyun

Note : FF ini terinspirasi dari cerpen yang judulnya ‘A Miracle’ dari buku paket Bahasa Inggris BSE kelas XI, dan tentunya ada perubahan dalam cerita. Thanks For Reading ^^ maaf kalau gak seru, masih amatir 🙂

***

 

Kyuhyun masih memperhatikan hasil pemeriksaan putra bungsunya yang baru keluar hari ini. Ucapan sang dokter masih terngiang jelas di telinganya, seolah kalimat itu ditiupkan angin hanya untuk berputar-putar di sekitarnya dan membuat Kyuhyun semakin sakit kepala menghadapi kenyataan ini.

Kyuhyun mendesah pelan, kali ini tangannya sudah berlari ke arah pelipisnya dan memijitnya sedikit. Ia agak sakit kepala sekarang. Sudah cukup dengan kebangklutan perusahaannya dan membuatnya harus menjual salah satu rumahnya di daerah Hanok Village, juga mengganti 3 mobil mewah koleksinya, dan terakhir adalah rumah besar nan mewah yang dulu ia rancang sendiri sebagai hadiah pernikahannya dengan Ye Jin. Dan sepertinya roda kehidupan baru saja berputar, ia harus mengalami masa jatuh saat ini. Di tambah, putranya yang baru menginjak ulangtahun pertamanya sekarang di vonis harus menjalani operasi yang tidak memakan biaya sedikit.

Ini salahnya. Kyuhyun mulai berkelakar dalam hati. Seandainya ia mengikuti saran ayahnya dulu, mungkin setidaknya ia tidak akan jatuh separah ini. Hanya karena ditipu oleh karyawan sendiri, membuatnya harus benar-benar jatuh dan terhempas ke tanah. Membuat nama Cho Kyuhyun yang menggaet gelar ‘cerdas’ mendadak sangat tolol.

Tapi mau bagaimana lagi? ia sudah tidak ingin mempermasalahkan soal uang lagi. ia hanya ingin kesembuhan putranya. Titik.

“Kau sudah makan?”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke arah Ye Jin yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Kyuhyun hanya menggeleng sambil tersenyum lemah, ia pun memilih meletakan kertas pemeriksaan dokter itu ke atas meja dan melupakannya sejenak. Ia cukup tenang melihat istrinya yang tersenyum itu. Entah bagaimana, sosok itu justru terlihat 1000x lebih tegar. Padahal, Kyuhyun tidak buta soal Ye Jin yang berdoa setiap saat –dan terkadang menitikkan airmatanya-.

“Kalau begitu kita makan bersama, Ahreum sudah menunggu. Kau tahu, putrimu itu tidak suka menunggu.” Ye Jin pun melebarkan pintu dan berjalan mendekat ke arah Kyuhyun.

“Ayahmu menawarkan bantuannya, kau sudah bertemu dengannya? Ah Ra Eonni tidak henti-hentinya merecokiku untuk datang ke rumah mereka.” Ucap Ye Jin sambil duduk di tepi ranjang, tepat di sisi Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecut. Satu lagi, ia lupa bahwa pernikahannya dan Ye Jin juga berjalan tanpa restu orangtuanya. Bukan karena Ye Jin berasal dari keluarga miskin atau apalah yang membuat orangtuanya tidak menyukai Ye Jin, tapikarenamasalah pribadi anara keluarga Ye Jin dan Kyuhyun yang membuat ayahnya sam sekali menentang pernikahannya dulu.

Dulu…itu sudah sangat lama sekali, tapi Kyuhyun tidak akan pernah lupa bagaimana sikap ayahnya dulu. Alasan kenaap hingga kini ia tetap bertahan tanpa uluran tangan orangtuanya yang masih sangat sanggup membantu biaya hidupnya dan Ye Jin. Tapi entah dorongan apa, Kyuhyun bersikukuh ingin tetap memperbaiki taraf hidup keluarganya dengan kerja kerasnya sendiri. Ia kepala keluarga sekarang, ia tidak ingin terus-terusan bergantung pada harta orangtuanya yang melimpah ruah. Dan sepertinya Ye Jin juga begitu, wanita itu sama sekali tidak mengeluh pada orangtuanya yang kini tinggal di Taiwan.

“Kau sudah tahu jawabannya,” sahut Kyuhyun dengan nada menyedihkan. Ia tersenyum hambar, bahkan ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Berkebalikan dengan Ye Jin yang tetap bisa tegar.

Ye Jin hanya mengangguk tanpa ada minat untuk melanjutkan obrolan mereka.

“Kalau begitu, ayo kita makan. Kau tidak inginmelihat Ahreum merengek karena menunggu kita, kan?” Ye Jin pun bangkit saat mendengar suara ketukan antara piring dan sendok daria rah ruang makan yang dekat dengan kamar mereka.

“Kalian saja yang makan, aku tidak lapar.”

“Kyu, sudah cukup dengan Minhyuk yang sakit, kau tidak ingin membuatku semakin repot, kan? Makanlah walau hanya sedikit.” Ye Jin mengingatkan dengan nada jengkel. Belakangan, Kyuhyun seperti anti pada makanan. Dania sangat khawatir jika Kyuhyun yang memang sangat rentan sakit harus ikut ambruk.

“Tapi…”

“Aku tidak mendengar penolaan apapun.”

 

***

 

Ye Jin kembali menaruh buku tabungan yang baru saja di tengoknya beberapa saat lalu. Ia berharap ada satu keajaiban yang bisa membuat buku tabungan itu bertambah angka nominalnya. Sayangnya itu hanya dongeng, ia memang penghayal tapi tidak gila dengan khayalan semacam itu. Tabungannya habis untuk membantu Kyuhyun membayar hutangnya dulu. belum lagi berobat jalan yang harus di lakukan Minhyuk, meskipun itu belum membuahkan hasil dan hampir berubah sia-sia. Ah, tidak. Ye Jin meralat. Tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini.

“Mom, Minhyuk bangun. Dia menangis, sepertinya dia ingin melihatmu.”

Ye Jin tersentak dengan kehadiran putri sulungnyayang baru berumur 5 tahun itu. Dengan cepat, ia menghapus airmata yang entah sejak kapan sudah mengotori pipinya. Dengan cepat dan erusaha tenang, ia berbalik ke arah Ah Reum yang berdiri di ambang pintu.

“Ah, benarkah?” ia pun segera keluar untuk melihat Minhyuk. Dan tanpa di ketahui, diam-diam Ahreum mengintip ke dalam laci yang barus aja ditutup oleh ibunya. Dan ia tahu, ibunya sedang membaca sebuah buku kecil dan tipis yang tergeletak did alamnya. Perlahan, Ahreum membaca tulisan itu. Ia baru saja belajar membaca, dan ia ingin tahu apa yang sednag di baca ibunya.

“Buku tabungan?” Ahreum mencebikkan bibirnya dan menggeleng malas. Dan ia tahu, buku itu sama sekali tidak asyik dan wajar saja ibunya menangis melihat buku itu. Mungkin ia harus menyarankan ibunya untuk membaca buku dongeng yang di berikan gurunya di sekolah kemarin.

 

***

 

Kyuhyun menyudahi kegiatan browsing-nya di internet. Sejauh ini, ia belum menemukan solusi untuk putranya. Lagi, untuk yang kesekian kali pria berusia 30 tahun itu memijit kepalanya yang berdenyut sakit. Mungkin, saat ini ia juga harus meulau mencari pekerjaan baru. Kemudian, setelah itu ia membuka usaha baru jika ia sudah memiliki cukup uang. Dan…entahlah, ia juga sepertinya harus menerima bantuan orangtuanya yang sama sekali belum tahu keadaan Minhyuk. Meskipun Kyuhyun sangat tersinggung saat bertemu dengan ayahnya semalam, bagaimana ayahnya begitu menyudutkannya. Itu memuakkan.

Lamunan Kyuhyun buyar saat ia mendapat panggilan dari nomor tak di kenal yang tertera di layar ponselnya. Dengan setengah rasa malas, Kyuhyun mengangkatnya.

“Appa! Kapan kau akan menjemputku? Aku sudah menunggumu daritadi.” Kyuhyun terkejut bukan main saat ia baru ingat belum menjemput Ahreum.

“Baiklah. Tunggu disana, ayah akan segera datang.”

 

***

 

Ahreum mengayunkan kakinya sambil memandangi pemandangan luar melalui kaca tembus pandang di sisi bis. Ia cukup menikmati perubahan hidupnya. Dulu ia sellau di jempu mobil mewah milik ayahnya, sekarang ia bisa pulang dengan melihat banyak orang. Ahreum suka itu.

“Appa, kapan komputer kita di kembalikan? Apa orang-orang itu akan terus meminjamnya? Aku ingin bermain game lagi~”

Kyuhyun menoleh cepat ke arah putrinya. Ada rasa sakit yang terguran secara tersirat di dadanya. Komputer. Putrinya menginginkan komputer baru. Di pinjam? Ahreum hanya tahu orang-orang yang tak di kenalnya itu membawa komputer kesayangannya juga. Membuatnya berpikir komputer itu hanya di pinjam. Kyuhyun hanya bisa tersenyum miris.

“Nanti, mereka akan mengembalikannya lagi.” jawab Kyuhyun sambil mengusap kepala putrinya.

“Kapan?” tanya Ahreum tak sabar dengan nada ceria.

“Sebentar lagi. saat…Minhyuk sembuh.”

Ahreum langsung tersenyum lebar mendengarnya, “Ah! Aku harus bilang pada Minhyuk dan meminta pada Tuhan agar dia cepat sembuh. Aku sangat merindukan semua permainan disana.”

Dan setelah mendengar itu, mata Kyuhyun mulai berair lagi.

 

***

 

“Mom!!!” Ahreum langsung berlari ke arah ibunya yang sedang membuat sesuatudi dapur.

Dengan senyumlebar, Ye Jin berlutut dan merentangkan kedua tangannya, membiarkan putri kecilnya memeluknya dengan erat dan mencium kedua pipinya.

“Lain kali kau jangan berteriak, Minhyuk sedangs akit.” Ye Jin mengingatkan putri kecilnya dan di balas anggukan oleh gadis kecil itu.

“Aku hampir lupa menjemputnya,” suara berat Kyuhyun membuat Ye Jin mendongak menatap pria itu. Kemudian hanya tersenyum penuh arti, “Sudah kubilang kau jangan terlalu banyak pikiran Kyu.”

“Mom! Aku punya sesuatu untukmu,” Ahreum menyela tatapan antara Kyuhyun dan Ye Jin, dan mebuat perhatian Ye Jin kembali beralih pada Ahreum sepenuhnya.

“Apa itu?” tanya Ye Jin antusias. Ia harus tetap terlihat riang di hadapan putrinya, juga suaminya. Ia tidak inginmenekan mental siapapun disini. Jika ia salah satu penopang keluarganya untuk tetap berdiri, maka Ye Jin akan melakukannya. Apapun dan bagaimanpun caranya.

“Tada…aku membawa buku cerita yang kemarin di berikan songsaengnim padaku. Kulihat kemarin mom menangis karena membaca buku tabungan itu, dan sepertinya buku itu tidak seru. Makanya, aku bawakan ini untuk mom.”

Ye Jin terpekur. Ia tidak tahu perasaan apa yang baru saja menyayat dadanya. Senang? Terharu? Atau sedih? Tidak. Ia tidak tahu. Ia juga tidak ingin terlalu mempedulikannya. Yang ia tahu, ia hanya bisa mengucapkan terimakasih yangs angat tulus pada putrinya sambil menciumi pipi gembulnya.

Dan Kyuhyun tak kalah terkejutnya dengan Ye Jin. Ia hampir terhenyak malah.

‘aku berjanji akan membahagiakan kalian dengan caraku,’ janji Kyuhyun dalam hati.

 

***

 

“Tidak ada cara lain. Hanya operasi satu-satunya jalan.” Ucap Kyuhyun dengan suara lemas.

Ye Jin yang tahu suasana hatis uaminya yang tidak bagus hanya bisa mendekat dan menggenggam tangan Kyuhyun erat. Ia ingin memberikan kekuatan pada suaminya, tidak peduli itu berhasil atau tidak.

“Kukira, Minhyuk hanya akan sembuh dengan keajaiban jika keadaan kita terus seperti ini…” bisik Kyuhyun frustasi. Ia sudah mulai lelah. Dan beberapa pikirannya yang dulu ia tolak, mendadak ia tarik kembali untuk menyembuhkan putranya. Ia tidak bisa seegois ini. Ia bukan lagi pemuda 25 tahun yang keras kepala dengan argumennya dengan sang ayah.

Ye Jin mulai mengusap pundak Kyuhyun, “Hidup ini adalah keajaiban. Miracle is another word for hardwork. Tuhan melihat semua usaha kita, kau jangankhawatir. Tuhan selalu siap mendengarkan, Tuhan akan selalu menolong kita. Dengan atau tanpa operasi itu, aku yakin, Minhyuk akan sembuh. Aku akan membantumu mencari cara jikakau masih tidak mau menerima bantuan orangtuamu,”

Dan di balik pintu, Ahreum memperhatikan orangtuanya dengan perasaan sedih. Selama ini ia hanya mendengar kata sedih lewat cerita-cerita, tapi sekarang ia tahu rasanya sedih. Dan menurutnya, itu sama sekali tidak enak. Apakah orangtuanya juga merasakan yang sama? Keajaiban…adiknya butuh keajaiban.

Dan tiba-tiba, ia tersenyum kecil karena lampu di otaknya baru saja menyala.

 

***

 

Ahreum memekik senang saat ia menemukan celengan yang dicarinya sedari tadi. Sejak ia pindah ke rumah barunya, ia selalu berhasil menyembunyikan celengannya dari kedua orangtuanya. Tadinya, ia ingin membeli sebuah PSP seperti dulu, persis seperti yang di pinjam oleh teman ayahnya. Dan sepertinya, sekarang ia harus menunda dulu untuk membeli sebuah PSP. Ia tidak ingin melihat orangtuanya sedih, ia tahu itu rasanya tidak enak.

Dan dengan cepat, Ahreum langsung pergi diam-diam keluar rumah. Ia ingin memberikan kejutan untuk orangtuanya.

 

***

 

Ahreum bersungut sebal saat penjaga toko obat di hadapannya tidak juga menggubris keberadaannya. Dan yang membuatnya kesal, karena ia selalu terhalangi oleh orang-orang dewasa yang memiliki tinggi badan yang berbeda dengannya. Ia sepertinya harus mengubah cita-citanya untuk menjadi burung, ia harus memiliki cita-cita menjadi orang tinggi agar tidak diacuhkan lagi.

“Eonni!” panggil Ahreum sambil melambaikan tangannya saat orang yang tadi berdiri di hadapannya sudah berlalu.

Wanita dengan rambut di gulung asal ke atas itu menoleh ke arah gadis kecil yang sedang menekuk wajahnya namun menatapnya dengan tatapan penuh harap.

Seramah mungkin, gadis itu mulai melayani anak kecil yang diperkirakannya tidak lebih dari 5 tahun itu.

“Ada apa, nak?” tanyanya langsung tak lupa dengan senyum yang disunggingkannya.

“Eonni. Aku ingin membeli sesuatu untuk adikku…”

“Oya? Katakan, kau butuh obat apa?”

“Aku butuh keajaiban. Di toko ini menjualkannya, kan? Aku akan membelinya.”

Gadis itu mengerutkan dahinya. Ia cukup terkejut dan juga…entahlah, ia juga sedikit ingin tertawa mendengar penuturan gadis kecil di hadapannya ini.

“Keajaiban? Maaf, kami tidak menjualnya.” Sahut gadis itu.

Ahreum menggeleng dengan keras kepala. Ia tidak mau percaya begitu saja. Ia melihat banyak obat disini, mana mungkin tidak ada keajaiban?

“Aku mohon. Berikan padaku keajaiban itu. Adikku sangat membutuhkannya, orangtuaku sedih karena belum menemukan keajaiban itu. Aku akan membayarnya, berapapun itu. Aku membawa uang sekarang.”

Gadis itu cukup terenyuh mendengar ucapan gadis kecil itu. Ia baru saja hendak mengatakan sesuatu, tapi seseorang menyelanya dan mengalihkan perhatian gadis kecil itu. Dan menyadari siapa yang datang, ia segera membungkukan badannya.

“Ahreum?” wanita paruh baya itu terperangah melihat cucunya tengah berdiri sendirian di apotek miliknya. Ia hampir mengabaikannya, tapi ia cukup mengenal siluet cucu kesayangannya ini.

Dan gadis kecil itu hanya mengerutkan keningnya, namun detik berikutnya ia langsung memekik senang, “Halmeoni!”

Dengan cepat, Ny.Cho menggendong cucuknya yang semakin besar itu. Ia langsung mengecup Ahreum dengan penuh rasa sayang. Ia sangat merindukan cucunya ini. Sudah sangat lama ia tidak melihatnya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini? Kenapa kau sendirian? Mana orangtuamu?” tanya Ny.Cho sambil memandangi sekitar, mungkin saja orangtua gadis kecil itu tengah berada disana. Tapi, ia tidak menemukannya sendiri.

Ahreum tersenyumlebar, “Aku mau memberikan kejutan pada mom dan appa. Mereka sedang sedih sekarang, dan mereka membutuhkan keajaiban. Aku datang kesini untuk membeli keajaiban, tapi eonni itu bilang ia tidak menjualnya. Apa halmeoni tahu dimana aku bis amembeli kejaiban?”

Ny.Cho terhenyak, kejaiban…?

“Keajaiban?”

Ahreum menngangguk, “Minhyuk bisa sembuh dengan keajaiban. Aku membawa tabunganku, jumlahnya ada 2000 won. Ini cukup untuk membeli kejaiban, kan? Ini satu-satunya uang yang aku miliki. Aku ingin menghadiahkannya pada mom, appa dan Minhyuk.”

Ny.Cho menghela napas panjang. Ia tidak tahu keadaan keluarga putranya seburuk ini. Lagipula setan apa yang membutakan dirinya? Membuatnya kesal saja. Ia masih punya keluarga dan mau membiarkan cucunya menderita? Dasar pria bodoh…kapan anak itu akan dewasa? Dan ia bisa bayangkan, bagaimana anak itu terus saja berkata ia menolak bantuan keluarganya dan membuat Ye Jin hanya mengiyakan saja. Ah, keluarga itu benar-benar bodoh.

“Aku punya kejaiban. Kau mau?”

Ahreum mengangguk semangat, “Benarkah halmeoni punya?”

Ny.Cho mengangguk, “Bawa aku ke rumahmu.”

 

***

 

Kyuhyun terus mengucapkan syukur dalam hatinya. Ia terlalu senang saat ini, ia sekarang sudah bis abernapas lega karena Minhyuk baru saja menyelesaikan operasinya yang berhasil. Ia sempat panik, takut operasi ini mengancam nyawa putranya yang baru bisa berjalan itu.

Tangannya kini sudah beralih ke pundak Ye Jin yang terus mengusap dan menciumi putranya itu.

Dan di balik pintu, Ahreum tersenyum karena ia yakin orangtuanya sudah tidak sedih lagi sekarang. Meskipun ia agak negeri karena adiknya sekarang malah terlihat bertambah sakit karena harus menginap di rumah sakit, tapi dokter bilang adiknya sudah membaik dan akan sembuh.

Ahreum segera diturunkan oleh neneknya saat Kyuhyun keluar dari kamar. “Kau pergilah dengan Ahra Imo, kau belum makan, kan?” Ahreum mengangguk semangat dan langsung berlari ke arah Ahra. Ahra yang tahu maksud dari ibunya, menyambut Ahreum dan langsung membawanya pergi.

Detik berikutnya, Ny.Cho langsung melayangkan tamparannya ke pipi Kyuhyun. Emosinya sudah berada di ubun-ubun sekarang.

“Kau merelakan keluargamu menderita demi mengikuti keegoisanmu? Apakah aku perlu menamparmu lagia gar kau mau membuka mata hatimu? Ayahmu sangat mencintaimu. Dia sangat peduli padamu. Jika dia tidka peduli, dia tidak akan melakukan smeua ini untukmu.”

Iya. Kyuhyun mengakui semua kesalahannya. Semua kebodohannya. Semuanya salahnya. Ia yang tidak mendnegarkan semua orang dan lebih membesarkan keangkuhannya. Ia memang pria bodoh. Sangat sangat bodoh. Membuatnya merasa tidak pantas menjadi seorang kepala keluarga, ia merasa gagal…

“Kau tahu betapa paniknya kami, hah? Sekali lagi kau seperti ini, aku akan memberikan pukulan yang lebih keras padamu.”

Mendengar gertakan itu, Kyuhyun langsung menghambur ke pelukan ibunya. Mendadak, ia merasa menjadi bocah SMP yang menangus di pelukan ibunya sambil mengucap maaf. Ny.Cho yang tadinya di kerubuni emosi, mendadak semua hilang dan membala spelukan putranya. Ia mengelus punggung putranya dengan lembut.

“Maaf…”

“Berterimakasihlah pada putrimu. Jika dia tidak senekat itu, mungkin sampai akpanpun aku tidak tahu keadaanmu. Ingat Kyu, keluarga adalah rumah sebenarnya, keluarga adalah teman yang nyata untuk salng berpegangan saat kau menghadapi badai hidup. Sekali lagi kau seperti ini,a ku tidak akan memaafkanmu… dan aku harus mengajarkan menantuku bagaimana agar ia sedikit keras untuk melawan keras kepalamu. Dia sama bodohnya denganmu.”

 

***

 

“Imo, apa menurutmu aku perlu membayar untuk keajaiban yang Halmeoni berikan?” tanya Ahreum di sela-sela makannya.

Ahra langsyng menatap mata Ahreum dengan bingung, “Membayar?”

Ahreum mengangguk, “Halmeoni tidak bilang dia menjualnya atau memberikannya gratis. Tadinya aku mau memakai uang itu untuk membeli PSP. 2000 won! tapi, melihat mom dan appa sedih, juga Minhyuk yang belum sembuh, membuatku ingin memberikan hadiah untuk mereka. Dan halmeoni ternyata punya keajaiban itu. Apa menurut imo aku harus membayarnya?”

Ahra terpekur. Ia tidak menyangka gadis kecil di hadapannya ini sangat berebda dengan adiknya, meskipun ia mewarisi wajah duplikat ayahnya, tapi Ahreum sangat berebeda dengan adiknya. Bocah itu terlalu kekanakan, dan Ahreum? Atau jangan-jangan Ye Jin yang sedewasa ini? Ah, tidak. Seingatnya Ye Jin sama saja. Meskipun tidak separah Kyuhyun. Ia jadi ingin belajar dari Ye Jin bagaimana ia mendidik gadis kecil ini.

Ahra kemudian menggeleng, “Kau tahu? Kebaikanmu itu sudah membayar keajaiban yang halmeoni berikan. Jadi, kau tidka perlu khawatir. Dan soal PSP, besok kita pergi bersama dengan Kim Youngmin, oke? Kita beli PSP sama-sama.”

“Jinjja?!”

Ahra mengangguk, “Kakak sepupumu juga suka dengan game. Kalian bisa bermain bersama.”

Ahreum mengangguk semangat. “Terimakasih imo!”

 

=The End=

03/02/14 10:15PM

Iklan

One thought on “A Miracle

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s