Bad Autumn

Bad Autumn

A story written by Chang Nidhyun

***

 

Kyuhyun beridiri di samping sebuah gerbang sekolah yang menjulang tinggi, masih menunggu seseorang untuk keluar darisana. Seseorang yang telah ditunggunya sejak satu jam yang lalu. Percayalah, seorang Cho Kyuhyun bukan tipe orang yang suka menunggu. Tapi untuk gadis itu? Kesabarannya bisa bertambah bersekian lipat. Jangan tanya kenapa, biar hatinya saja yang menuntunnya tanpa perlu banyak penjelasan yang memusingkan.

“Sudah kubilang, kau jangan menungguku Cho Kyuhyun.” Ucap sebuah suara pada Kyuhyun yang tengah memandang lurus ke arah trotoar yang tengah di pijaknya. Dan detik berikutnya, Kyuhyun sudah mendongakkan kepalanya dan menatap mata indah dari gadis itu, mata yang selalu menjadi pemandangan favoritnya.

Senyumnya merekah kemudian.

“Menunggumu sesuatu yang menyenangkan Kim Ji Hyun. Dan…apa kau bilang? Kau tidak memanggilku oppa? Hhh…sejak kapan kau menjadi begitu sopan padaku?” Kyuhyun berpura-pura mengeluh, membuat Ji Hyun terkekeh mendengarnya.

“Kau sendiri tidak pernah memanggil oppa kandungku dengan panggilan hyung. Jadi, untuk apa aku memanggilmu oppa?” gadis itu memiringkan kepalanya. Masih dengan senyum yang sama, dan senyuman itu selalu berhasil memancing Kyuhyun untuk ikut tersenyum.

“Percayalah, kau tidak pantas meniru gayaku.” Sahut Kyuhyun cuek lalu berjalan ringan menuju mobil mewahnya.

Mewah? Tentu saja. Seorang putra pebisnis senior di Korea Selatan, jangan tanya bagaimana dengan finansial keluarga dengan marga Cho itu, karena siapapun takkan meragukan tentang masalah itu.

Ji Hyun mendengus pelan, kemudian berlari-lari kecil mengikuti Kyuhyun yang berjalan di depannya. Langkah pria itu begitu besar, membuatnya agak kewalahan untuk mensejajarkan langkah mereka.

“Jadi, hari ini kita akan kemana?” tanya Ji Hyun kemudian ketika mereka sudah berada di dalam mobil Kyuhyun.

Kyuhyun mengetuk-ngetuk dasbor mobilnya untuk beberapa saat, mencoba menimbang-nimbang kemana tujuan mereka sekarang. Bahkan, sebenarnya Kyuhyun tidak memiliki rencana untuk menjemput gadis itu. Tapi sialnya, sebersit pikiran untuk ‘memanah perasaannya’ pada Kim Ji Hyun yang masih duduk di bangku SMA itu cukup kuat menghadang otak jernihnya hari ini.

“Hangang Park…?” beo Kyuhyun kemudian. Agak ragu memang, ia mendadak kehilangan ide untuk membuat sebuah suasana romantisnya hari ini. Tapi yang membentur otaknya adalah, ingatannya soal Ji Hyun yang begitu menyukai taman itu. Entah kenapa, tapi itu justru memancing sebuah ide. Meskipun, ia sendiri tidak menilai ide itu adalah ide yang bagus.

Percayalah, Kyuhyun begitu bosan menjamah tempat itu.

“Setuju!!!” pekik Ji Hyun riang dan berhasil membuat mata Kyuhyun berputar malas ke arah Ji Hyun. Dugaannya tepat bukan? Gadis itu tidak memerlukan tempat seindah Jeju, cukup Hangang Park dan gadis itu akan menunjukan keantusiannya yang cukup berlebihan di mata Kyuhyun.

Walaupun…Kyuhyun sangat menyukai ekspresi antusias Ji Hyun.

 

***

 

Ji Hyun memijit pelan kakinya yang mulai terasa agak pegal. Entah karena hari ini dia baru saja melalui pelajaran olahraga di sekolahnya tadi, atau memang dia yang sudah jarang berjalan-jalan –khususnya di Hangang Park, alhasil membuat kakinya cukup kewalahan sekarang.

“Minum?” kata Kyuhyun sambil menyodorkan sebotol jus mangga ke arah Ji Hyun, salah satu minuman favorit Ji Hyun. Dan Kyuhyun sangat tahu soal itu.

Ji Hyun menoleh ke samping kiri, tempat Kyuhyun berada sekarang. Tepat duduk disampingnya di salah satu bangku disana. Dan tanpa perlu repot-repot berbasa-basi apalagi ucapan terimakasih, Ji Hyun langsung menyambar botol itu dari tangan Kyuhyun.

“Kau curang, selalu tahu apa yang aku sukai.” Gerutu Ji Hyun yang dibuat-buat, seolah tidak suka dengan sikap Kyuhyun yang tidak terduga. Tepatnya, mengetahui banyak soal Ji Hyun, padahal Ji Hyun sama sekali tidak pernah menceritakan apapun pada pria itu, meskipun mereka sudah saling mengenal sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Bukankah itu bagus?” sahut Kyuhyun asal, “Membuatku tidak sulit melakukan pendekatan padamu, nona Kim.”

Ji Hyun mendengus pelan, “Kita sudah terlalu dekat, pendekatan macam apalagi yang ingin kau lakukan?” tatarnya kemudian setelah meneguk sebagian isi botol minumannya.

Kyuhyun berpura-pura memutar bola matanya, seolah memikirkan jawaban yang tepat untuk Ji Hyun, “Pendekatan seorang laki-laki terhadap perempuan.” Jawab Kyuhyun pada akhirnya, matanya sudah beralih kembali memandangi Ji Hyun.

Ji Hyun tertawa kecil mendengar jawaban dari Kyuhyun, merasa begitu lucu dengan jawaban dari pria yang lebih tua 2 tahun darinya itu, “Aku wanita keberapa yang oppa dekat?” ledek Ji Hyun.

Kyuhyun mendengus sebal, “Kau pikir aku seorang playboy? Aigo…padahal gadis-gadis itu yang berusaha mendekatiku.” Sungutnya kemudian yang masih ditanggapi tawa oleh Ji Hyun.

“Benarkah? Aku tidak ingin percaya kata-katamu.”

“Tapi kau akan mempercayai sesuatu dariku nantinya.”

Ji Hyun menegakkan bahunya, menyandarkannya ke kepala bangku yang mereka duduki, masih memandang Kyuhyun, “Apa?”

“Jika aku menyukaimu, Kim Ji Hyun.”

 

***

 

Ji Hyun menggigit bibir bawahnya sambil memainkan jemarinya sendiri. Ia sangat tidak suka hari ini, sungguh. Seandianya ia tidak perlu melewati hari ini, ah tidak! Tepatnya ia tidak menginginkan hari ini terjadi. Tidak perlu ada dan tidak pernah ada. Tapi nyatanya, kenyataan yang ia harapkan hanya kata ‘seandainya’ itu benar-benar terjadi.

“Kau yang memintaku untuk menjadi kekasihmu, dan sekarang malah kau yang mau meninggalkanku. Kau sangat lucu Cho Kyuhyun.” Desis Ji Hyun tajam saat memandang Kyuhyun yang sekarang berbalik ke arahnya, kemudian meletakan kopernya di sisi kirinya.

“Ini demi mimpiku. Ternyata, diam-diam kau mulai ‘sangat mencintaiku’, sampai-sampai tidak mau melepaskanku, eoh?” Kyuhyun bermaksud bercanda. Tapi sungguh, Ji Hyun sedang tidak menganggap ini semua dalah sesuatu yang perlu dijadikans ebuah candaan.

“Berapa lama kau akan berada di Kanada?” tanya Ji Hyun skeptis dengan tangan bersilang di depan dadanya.

“Setelah strata 2 ku selesai, aku akan kembali.” Kyuhyun kembali ke ekspresi semulanya, ekspresi normal dengan nada bicara yang serius.

“Autumn kali ini sangat menyebalkan,” sungut Ji Hyun kemudian, ia pun berbalik dan hendak meninggalkan Kyuhyun tanpa sepatah katapun.

Kyuhyun hanya tersenyum kecut melihat ekspresi Ji Hyun yang seperti ini. Gadis itu sepertinya benar-benar marah.

“Percayalah! Aku akan segera kembali! Seperti kau hanya perlu percaya bahwa aku mencintaimu.” Teriak Kyuhyun kemudian.

Ya…dia sudah bertekad, akan kembali secepatnya. Untuk menepati sepenggal ucapan janjinya.

 

***

 

Aku memperlambat langkah kakiku ketika kakiku benar-benar telah menginjak lantai bandara incheon international airport. Ia baru saja kembali dari Kanada, dan tidak perlu bertanya apa-apa, ia hanya ingin segera menemui keluarganya…dan gadisnya.

Aku menimati aroma Kota Seoul yang hampir terlupakan olehku. Ah, tidak. Tepatnya hal-hal kecil seperti ini memang sering luput dari perhatianku, sesuatu yang berkutat dihidupmu justru terkadang berubah status tidak penting, dan kau menyadari penting ketika kau telah terlepas dari kutatannya.

Aku merindukan negriku.

“Kyu~ya!” panggil seorang wanita.

Aku buru-buru menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati kakak perempuanku –Cho Ah Ra, tengah melambai dengan warna wajah ceria ke arahku. Aku balas tersenyum dan dengan cepat melangkahkan kakiku ke arah wanita yang berumur 2 tahun lebih tua dariku itu. Kemudian, dengan ringan tanganku menarik wanita itu kepelukanku. Salah satu orang yang begitu kurindukan.

“Hanya nuna yang datang kemari? Eomma mana?” tanyaku dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat. Ayolah, ibuku terlalu sibuk mengurusi butiknya itu. Aku sering merasa jengah jika menyadari aku terlahir di tengah keluarga yang notabane nya adalah worcaholic.

Ah Ra nuna menoyor kepalaku, “Mau berupura-pura bodoh, eo? Kau menelpon ibumu itu ketika aku sedang bersamanya, tahu!”

Aku menunjukan cengiranku padanya, ternyata salah aku berpura-pura menanyakan eomma.

“Tapi nuna tahu, aku begitu merindukannya.” Sergahku kemudian sambil merangkul bahunya, berjalan menuju mobilnya.

“Sama sepertinya, dia juga begitu merindukanmu Cho Kyuhyun.”

 

***

 

Aku meringis mendengar serentetan ucapan dari sahabatku, Kim Jong Woon. Perlu aku mendetail? Pria itu adalah kakak dari Kim JI Hyun. Dan gadis itu….aish, rasa-rasanya ia merasa sangat tidak beruntung dengan keputusannya kembali ke Korea dengan cepat.

Tidak beruntung? Tidak. Tepatnya semua yang menimpanya sangat tidak bagus.

“Kau tahu Kyu, adikku bukan tipe orang yang terlalu setia. Menunggu 2 tahun, kurasa itu terlalu melelahkan untuknya menunggumu.” Ujar Jong Woon yang membuatku berhasil mengalihkan pandangan dari gelas berisi cappuchino dan beralih pada wajahnya.

Aku tersenyum kecut menanggapinya, “Dia menerima perjodohan itu…apakah dia benar-benar menyukai Lee Donghae?” tanyaku kemudian, merasa tidak yakin dengan sebuah kenyataan jika Ji Hyun menerima perjodohannya dengan Donghae, bahkan meskipun pria itu tidak menyukai Ji Hyun. Seingatnya, Donghae dan Ji Hyun tidak memiliki perasaan lebih, hanya seorang kakak terhadap adiknya.

Tapi sekarang?

Aku tertawa miris dalam hati, gadis itu lebih memilih oranglain dibandingkan menungguku. Ternyata…rasanya cukup menyakitkan. Bahkan aku benar-benar latar suasana hatiku berubah drastis menjadi warna kelabu yang nyaris berwarna hitam.

“Jika kau mau mencoba meraihnya kembali, cobalah. Kurasa dia masih memiliki perasaan terhadapmu.” Ucap Jong Woon lagi.

Aku tidak lagi memandang wajahnya, mataku lebih memilih untuk memandangi pemandangan kafe yang dimataku begitu…membosankan.

Ah. Sial, suasana hatinya begitu buruk sekarang.

 

***

 

Dug…dug…dug…

Irama detak jantungku tidak pernah berubah, tapi kali ini aku tahu rasanya bagaimana ketika jantungmu sama-sama menanggung kebasnya hatimu, begitu…menyakitkan.

Aku baru saja akan turun dari mobilku –dan berniat menerobos hujan- untuk menghampiri gadis itu. Gadis yang tengah berlari-lari kecil menuju halte untuk pulang. Tumben, setahuku gadis itu sangat tidak tahan untuk menaiki kendaraan umum. Baik taksi ataupun bis, dimata gadis itu tak ubahnya hanya sebagai pengurang waktu percuma.

Tapi niatku terbekap saat aku melihat sebuah mobil lamborghini hitam melesat ke hadapannya. Kaku. Kakiku begitu kaku ketika mendapati siapa yang keluar dari mobil itu. Sekarang, sialnya hatiku ikut-ikutan membeku, terbelenggu rasa nyeri yang…menyesakkan.

Bagus, sekarang aku tahu alasan gadis itu tidak mengendarai mobil seperti biasanya, ternyata Lee Donghae itu penyebabnya.

Dan entah sejak kapan, tanganku terkepal di atas stir. Aku mendengus kasar, tololnya, aku begitu pengecut sekarang.

Kenapa aku tidak menemui gadis itu saja? Bukankah semua itu akan lebih mempermudah dirinya untuk menyusutkan kelabu hatinya jika memang gadis itu masih menyukaiku? Tapi…tapi apa?

Aku memejamkan mataku kasar.

Tapi hati kecilku tidak mengamini logikaku yang mengaung keras, temui Kim Ji Hyun.

Tidak ada, sama sekali.

Padahal, aku sempat berpikir untuk…mengikat gadis itu.

Jika hari itu gadis itu mengatakan autumn-nya adalah autumn terburuk saat itu, maka sekaranga ku akan menimpalinya dengan jawaban, autumn kali ini begitu menyakitkan.

 

The End.

 

2013/09/10 09:02PM

Iklan

2 thoughts on “Bad Autumn

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s