Dark Love (1)

dark-love

Title     : Dark Love

Genre  : AU, Romance, Drama, Angst

Main Cast: Suzy, Kim Myung Soo, Kim Jong In, Kris

Other Cast : Find by your self

Rating : PG 15

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Poster by : Kiyorel @ESFAG

***

-Toronto, Canada:2005-

“…Anak itu sangat spesial, dia memiliki kemampuan diaatas rata-rata. Prestasinya juga sangat memukau. Dia benar-benar kebanggaan milik sekolahnya saat ini,” jelas seorang wanita berkepala 3 pada seorang pria yang tengah berkunjung ke sebuah panti asuhan di Toronto. Dan saat ini, mereka tengah berjalan menyusuri lorong panti asuhan.

“Dia orang Asia?” tanya pria tersebut saat mereka berhenti di depan sebuah ruangan. Tempat dimana si gadis kecil yang mereka bicarakan berada.

Wanita itupun menarik kedua sudut bibirnya, “Seperti yang kau lihat. Dia memiliki mata sipit sama seperti orang-orang Asia Timur. Dan sepertinya dia berdarah Korea. Dia bermarga Bae.” Jelasnya lagi.

Dan si pria kembali menganggukkan kepalanya, “Berapa umurnya?”

“10 tahun. Dan dia terbilang cukup mandiri untuk anak seusianya. Mungkin karena sejak umur 4 bulan dia sudah berada disini,”

Pria itu termenung sesaat ketika mendengar jawaban tersebut, “Kau tahu dimana orangtuanya?”

Wanita berambut pirang itu langsung menghadap ke arah si pria berwajah Asia itu. Kemudian ia pun mengedikkan bahunya, “Dia hanya ditinggal di depan pintu dengan sepucuk surat nama dan tanggal lahir. Tidak ada keterangan lebih.”

Setelah menimang-nimang, akhirnya si pria kembali angkat suara, “Baiklah. Aku ingin mengadopsinya.”

 

***

 

-Seoul, South Korea:2012-

 

“Sudah kubilang berkali-kali, aku tidak suka kau pergi dengannya. Bisakah kau mendengarkanku sekali saja?” omel Kris yang hanya ditanggapi gumaman asal dari Suzy. Menurutnya, Kris terlalu berisik dan lebih cerewet dari nenek-nenek. Yang benar saja, Kris terlalu banyak mengaturnya semenjak mereka pindah ke Korea 3 tahun lalu. Dan yang terburuk, Kris juga selalu merecoki hubungannya dengan kekasihnya. Oh, ayolah. Ia bukan lagi anak kecil yang perlu diceramahi soal sebuah hubungan. Ini pilihannya dan Kris terlalu rewel.

“Suzy!!!” bentak Kris yang membuat Suzy akhirnya menoleh ke ambang pintu setelah meletakkan komiknya dengan jengkel.

“Kris. Kau terlalu berisik! Memangnya apa yang salah dengan Jongin? Dia baik. Bahkan dia sangat pengertian. Lagipula aku yang jadi pacarnya, bukan kau.” Balas Suzy tak mau kalah. Kris harus mengeti bahwa Suzy dan Kim Jong In saling mencintai. Jadi, harusnya tidak ada yang salah disini.

Dengan gusar, Kris pun menyeret kakinya ke arah ranjang Suzy yang dipenuhi buku-buku tak berguna –komik-komik dan novel. Yeah, Kris sangat jengah sebenarnya. Hanya saja prestasi Suzy membuat Kris tidak begitu ambil pusing soal kebiasaan buruk Suzy yang satu ini.

“Dengar Suzy Hilton, jika sedikit saja aku lengah karenamu, Dad bisa menembak kepalaku.” Ucapnya dengan nada serius, meskipun kata-katanya tidak serius. Karena tidak mungkin ayah mereka membunuh putra-putrinya begitu saja.

Suzy pun memutar bola matanya malas, “Aku bingung Kris…” kata Suzy tanpa mengalihkan pandangannya dari gambar-gambar menarik di komiknya, “Kau sepertinya sangat tidak menyukai Jongin. Padahal, kau belum pernah bertemu dengannya.” Lanjutnya lagi dengan nada kecewa, “Aku tidak mengerti dengan apa yang kau pikirkan.” Imbuhnya lagi sambil menggeleng pelan.

Kris hendak membalas ucapan Suzy, tapi ia urung saat ponselnya bordering nyaring. Membuat kepala Kris mendadak sakit karena terganggu oleh si penelepon yang belum ia ketahui.

“Aku serius Zy, aku takkan membiarkan Jongin memilikimu.” Dan setelah mengatakannya, Kris pun berlalu dari hadapan Suzy dan langsung mengangkat telponnya dengan terburu-buru.

Suzy pun hanya bisa memandang Kris dengan bingung. Ayahnya saja tidak serewel itu, kenapa Kris sangat memusingkan hubungannya yang bahkan tidak pernah memusingkan Suzy? Kris benar-benar membingungkan.

 

***

 

Pagi itu, Jongin kembali menjemput Suzy seperti pagi-pagi biasanya. Meskipun awalnya ia sangsi karena tatapan membunuh Kris yang membuatnya takut. Tapi karena Suzy meyakinkannya, ia tak lagi segugup dulu saat membawa motor ke hadapan halaman rumah Suzy yang bisa dikatakan cukup luas.

Ia kira, ia takkan bertemu dengan Kris pagi itu. Sayangnya, pria itu ternyata malah berdiri di depan gerbang dengan gaya angkuhnya. Oh yeah. Siapapun tolong selamatkan Jongn dari tatapan buas milik Kris.

Kris memang tidak pernah mengatakan apapun. Tapi Jongin selalu dibuat ciut oleh tatapannya. Seolah-olah hidup Jongin bisa berubah menjadi perjalanan penuh pedang jika ia mengenal Kris.

Tapi sangkalan Suzy selama ini membuatnya yakin bahwa Kris hanya khawatir pada adiknya. Sesuatu yang wajar, kan?

“Hai! Lama menunggu?” dan akhirnya bidadarinya muncul juga. Jongin pun menarik kedua sudut bibirnya senang. Ia tak perlu berlama-lama lagi memandangi wajah sangar milik Kris yang benar-benar menakutkan.

“Tidak. Tapi waktu terasa sangat lama jika kakakmu melihatku seperti itu,” adu Jongin dengan suara sepelan mungkin. Ia pun menyerahkan helm yang dibawanya pada Suzy.

Suzy hanya terkekeh pelan, “Tenang saja. Sebenarnya dia sangat baik kok,” hibur Suzy meyakinkan. Kakaknya hanya terlalu protektif padanya. Dan ia yakin, suatu saat ia pasti bisa menerima keberadaan Jongin dengan baik.

 

***

 

“Kau tidak akan mengambil jurusan musik? Bukannya kemarin kau bilang kau mau masuk ke jurusan itu?” tanya Jongin bingung pada Suzy. Saat ini mereka tengah mengisi jam kosong mereka untuk berdiskusi mengenai pelajaran Biologi yang entah mengapa bisa beralih mendiskusikan masalah universitas.

Sambil mengisi soal di depannya, Suzy hanya tersenyum kecil dan menyahut, “Kris ingin aku masuk dunia kesehatan. Dia ingin aku masuk Jurusan Farmasi. Padahal aku jauh lebih tertarik menjadi dokter hewan,” dan sekali lagi Suzy tersenyum saat mengakhiri tatarannya.

Jongin yang mendengarkan hanya terdiam, kemudian ia pun ikut mengisi soal yang sempat diabaikannya karena terkejut pada jawaban Suzy.

“Pasti setelah itu kita akan sulit bertemu. Padahal, aku harap kita bisa sama-sama berada di universitas yang ada.” Gumam Jongin tanpa maksud ingin didengar oleh Suzy. Meskipun pada kenyataannya Suzy tetap mendengarnya.

Suzy hanya tersenyum mendapati wajah Jongin yang tiba-tiba ditekuk. Oh, ayolah. Ini baru sekedar rencana. Bisa saja ia batal mengambil Farmasi dan justru berbelok pada jurusan musik atau seni. Tidak ada yang tahu, kan? Lagipula biasanya ia berhasil membujuk Kris. Dan ia rasa, tidak ada salahnya untuk mencoba membujuk pria jangkung itu sekali lagi.

“Akan kuusahakan untuk masuk ke Kyunghee. Dengan begitu, kita bisa berada di kampus yang sama, kan?” hibur Suzy kemudian.

Jongin hanya mencebik dan menoleh sebentar ke arah Suzy, “Tetap saja, kampusnya akan berbeda.”

“Yak ~ ! yang penting kita masih bisa saling bertemu, kan? Lagipula apa salahnya jika kita jarangbertemu? Toh, aku bukan pergi ke negri lain.”

Dan baiklah. Jongin sebenarnya ingin menyangkal sekali lagi. tapi ia memilih diam dan meneruskan soal-soalnya yang mendadak tak menyentuh otaknya sama sekali. Ia lebih khwatir akan hubungannya yang sudah berjalan setahun ini. Dan tahun ini pula, Jongin dan Suzy akan menamatkan status pelajar mereka dan menginjak jenjang universitas.

“Kau janji tidak akan meninggalkanku, kan?”

Suzy langsung mendongak menatap Jongin geli. Jongin ini benar-benar aneh, apanya yang harus dikhawatirkan? Hal yang wajar kan jika mereka terpisah hanya karena dinding fakultas yang berbeda? Mereka hanya berpisah tempat, bukan berarti mereka tidak akan bisa bertemu lagi apalagi sampai berpisah.

“Kau berlebihan,”

“Aku serius Zy. Aku….khawatir.”

Suzy pun tersenyum kecil dan menyentuh tangan Jongin, “Jika takdir memang menuliskan kita bersama, kita akan tetap menyatu meskipun waktu merentangkannya cukup lama. Jangan khawatir, lagipula aku tidak berniat untuk meninggalkanmu.”

Dan akhirnya, Jongin bisa kembali tersenyum mendengar kata-kata Suzy. Dan ia langsung berdoa agar Suzy benar-benar menjadi jodohnya kelak. Ia terlanjur mencintai Suzy. Sangat sangat yakin bahwa gadis itu adalah gadis yang tepat.

 

***

 

“Bagaimana dengan prestasi adikmu? Ada kemungkinan dia bisa mengikuti arahan kita, kan?” tanya John Hilton di sebrang telepon. Tepatnya di Kyoto Jepang. saat ini ia tengah menjalankan bisnis baru disana.

Kris hanya mengangguk kecil meskipun ia tahu John –ayah angkatnya dan Suzy- tidak akan melihatnya, “Sejauh ini Suzy masih mengikuti arahanku. Lagipula, menjadi apoteker bukan hal yang terlalu buruk bagi Suzy. Pasti mudah baginya untuk mengikuti jurusan kuliahnya.” Sahut Kris dengan yakin. Ia sama sekali tidak meragukan kemampuan adiknya itu. Kecerdasan otaknya saat ini benar-benar dibutuhkan.

Dan kini, Kris bisa mendengar suara tawa senang dari John di sebrang telpon sana, “Aku percayakan Suzy padamu Kris. Jaga dia baik-baik. Dan soal Kim Yeon Woo, aku akan mengurusnya sesegera mungkin.”

“Hmm. Aku mengerti. Aku akan menunggu aba-aba Papa.”

“Baiklah, sampaikan salamku oada Suzy. Aku sangat merindukan tingkah gads itu.”

Kris pun tersenyum kecil, “Akan kusampaika. Dia juga pasti sangat merindukanmu.”

Dan setelah itu, Kris menutup telponnya dan meletakan ponselnya di atas meja kerjanya. Sebenarnya ia harap ayahnya akan menelponnya lebih lama, agar ia tidak mengingat beberapa proyek lainnya yang harus ia kerjakan. Oh yeah, bergelut dalam dunia bisnis sebenarnya bukan ide terlalu bagus. Tapi mau bagaimana lagi? ayahnya yang memintanya. Dan ia tidak tega untuk menolak sedangkan ia tahu ia adalah satu-satunya harapan.

“Kris ~ ! aku pulang!”

Kris langsung memutar kepalanya ke arah pintu yang baru saja menjeblak terbuka. Menampakan sesosok gadis berambut panjang yang terlihat cukup berantakan dengan seragam lengkapnya yang belum ia lepas. Tambahan, seragamnya juga terlihat kusut.

Tapi…tunggu. suzy sudah pulang? Kris pun menoleh ke arah jam dinding ruangannya dan kembali menatap Suzy bingung.

“Kenapa sudah pulang? Tidak ada jam tambahan?” tanya Kris dengan kening berkerut.

Dan Suzy hanya tersenyum dan langsung meletakkan jarinya diantara kerutan di kening Kris, “Come on boy ~ kau akan terlihat cepat tua jika menunjukkan wajahmu yang seperti itu,” katanya sambil menarik tangannya lagi.

Kris pun mendengus pelan, “Kutanya sekali lagi. kenapa sudah pulang?”

Suzy hanya mengedikkan bahunya dan langsung berbaring seenaknya di atas sofa Kris yang tadi didudukinya, “Tidak ada jam tambahan. Mungkin ada rapat mendadak? Bukannya bagus, Kris? Aku bosan belajar.” Gerutunya sambil setengah mengadu. Ia tidak bohong. Ia bosan belajar. Ia lebih suka tidur seharian di kamarnya seperti di akhir pekan ketimbang duduk berjam-jam di atas bangkunya.

“Aku tidak percaya, gadis sepemalas dirimu ternyata adalah juara umum di sekolah.” Sindir Kris yang kini mulai menekuni kembali pekerjaannya.

Suzy hanya menguap mendengar ucapan Kris yang menurutnya tidak penting itu. Toh, siapa peduli dengan gelar juara umum sekolah? Ia tidak menginginkannya, kok. Ia hanya perlu belajar saat waktunya belajar dan bermain-main saat waktunya bermain-main. Dan sebenarnya, Suzy jauh lebih tertarik membaca komik-komiknya daripada membaca buku pelajaran.

“Oya, tadi Ayah menelpon. Dan katanya ia merindukanmu. Dia juga menitip salam untukmu,” kata Kris saat teringat ucapan ayahnya.

Dan dnegan cepat, Suzy membuka matanya dan langsung menegakkan punggungnya, “Dad menelpon? Kenapa dia tidak pernah menelponku langsung sih,” gerutu Suzy kemudian.

Kris hanya menarikkedua sudut bibirnya tanpa menyahuti apapun. Entah sengaja atau bagaimana, ayahnya memang tidak pernah secara sengaja menghubungi Suzy. Mungkin, ia pikir putri kesayangannya ini adalah si kutu buku yang tenggelam dalam dunia belajarnya. Padahal salah besar, Suzy justru pemalas tingkat dewa yang bahkan cukup membingungkan bagaimana ia bisa meraih prestasi cemerlang dengan kemalasan tingkat dewa pula.

“Oya. Bagaimana dengan universitas pilihanmu? Kau akan tetap memilih kuliah di Korea?” tanya Kris membelokan topik perbincangan mereka mengenai sang ayah.

Dan Suzy langsung menatap minat Kris. Ia juga berniat untuk membicarakan ini. Untuk membujuk Kris agar Suzy tidak perlu masuk ke bidang kesehatan semacam apoteker atau apapun. Ia lebih tertarik dengan seni dan musik. Dan jika ada yang berpikir ia melakukannya karena Jongin, salah besar! Karena Suzy sudah merancang impainnya sejak jauh-jauh hari.

“Kyunghee University. Aku pilih universitas itu,” ucapnya masih setengah ragu. ingin melihat bagaimana reaksi yang akan diberikan Kris. Yeah…walaupun ternyata Kris tak berkata apapun setelahnya, mungkin dia masih ingin mendengarkan kelanjutan ucapannya.

“Dan…Kris, ngomong-ngomong soal jurusan yang ingin kupilih. Apa tidak apa-apa aku tidak mengambil Jurusan Farmasi?” dan volume suara Suzy semakin menipis saat ia mengutarakan topik utamanya.

Dan ekor mata Kris yang tajam langsung mengejar mata Suzy, menuntut penjelasan lebih mengenai ucapan Suzy meskipun akhirnya ia tetapa ngkat suara, “Kenapa? Memangnya kau ingin mengambil jurusan apa?”

Suzy sedikit menggigit bibir bawahnya, “I…iya, aku…”

Kris mendengus kasar dan langsung meletakan laptop yang tadi dipangkunya, “Dengar Zy. Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri urusan mengenai impianmu kedepan. Karena bagaimanapun itu adalah hak mu. Tapi ini mengenai Dad. Kau tahu, Dad sangat menaruh harapannya padamu untuk menjadi seorang apoteker.” Dan Kris mulaimembuka sesi ceramahnya pada Suzy.

Suzy sedikit memutar bola matanya, “Aku tahu Kris. Hanya saja…aku lebih tertarik…”

“Dad punya rencana lain untuk masa depanmu. Dia sudah merancangnya sedemikian rupa, jadikuharap kau tidak melenceng sedikit saja Zy. Dad selalu mengabulkan keinginanmu, dan keinginannya kali ini kurasa tidak bertentangan denganmu, kan?”

Suzy pun memilih bangkit daripada meneruskan obrolannya yang satu ini. Ayahnya memang sering aneh jika ini sudah mengenai masalah masa depannya. Padahal apa yang perlu dikhawatirkan jika berkecimpung di sunia seni? Ah, tidak. Bukan hanya itu saja. Ayahnya juga kurang begitu setuju saat ia mengajukan dokter hewan sebagai pilihannya. Aneh, kan?

“Kau marah?” tanya Kris saat mendapati Suzy justru hampir meninggalkannya.

Suzy hanya menggeleng dan menunjukkan cengirannya yang sedikit dipaksakan, “Aku hanya bosan mendengar ceramahmu. Yasudah aku ke kemar dulu, komik-komikku sudah menunggu.”

Meskipun Suzy masihs etengah bercanda terhadapnya, Kris tetap tahu gadis itu tengah memendam kekecewaannya. Ia hanya bisa mengusap wajahnya sebelum akhirnya ia kembali menarik laptopnya.

Jika ia bisa, ia juga ingin terbebas dari segala keinginan ayahnya.

Tapi ini juga mengenai dirinya, juga Suzy.

 

***

 

Suzy sengaja tidak mengangkat telpon dari Kris sejak 2 jam yang lalu. Tepatnya setelah acara kelulusan di sekolahnya. Bukannya ia dengan sengaja ingin membuat Kris kesal ataupun sedang melepas soal tatakrama. Hanya saja, ia sedang ingin menikmati waktu bersamanya dengan Kim Jongin.

Saat-saat terakhir? Oh, tidak. Itu terlalu dramatis. Hanya saja ini saat-saat sebelum Jongin dan Suzy tenggelam dalam kesibukan mereka saat menyandang gelar mahasiswa. Oh ya, sekedar informasi, mereka kini sudah sama-sama diterima di Universitas Kyunghee.

“Menurutmu, apa aku perlu membuat jadwal berkencan kita nanti?”

Suzy hanya mendengus pelan saat mendapat pertanyaan kekanakan dari Kim Jongin yang terkenal dengan sikap cool nya di sekolah. Padahal, Suzy lebih suka Jongin yang suka tebar pesona –meskipun ia benar-benar ingin menjambak Jongin.

“Kau berlebihan Kim Jongin. Sudah kubilang kita hanya berbeda fakultas, bukan berbeda negara. Kau tidak perlu berlebihan begitu.” Sahut Suzy sambil menggelengkan kepalanya.

Dan saat Suzy melihat ada bangku tersisa diantara ramainya oengunjung di sungai han, Suzy pun langsung menduduki bangku itu yang disusul Jongin dari belakang.

“Bagaimana jika nanti ada laki-laki lain yang mendekatimu? Lebih keren, lebih tampan dan lebih pintar dariku? Atau bagaimana jika ada senior yang mengincarmu. Bagaimanapun mereka pasti memiliki cara untuk merebut perhatianmu. Dan…”

“Aku justru lebih khawatir, bagaimana jika ada mahasiswi yang memikat perhatianmu? Awalnya kalian hanya berkenalan biasa, lalu tanpa sengaja kau jatuh hati padanya. Atau yang lebih parah, bagaimana jika kau menidurinya? Teman Kris dulu juga pernah sepertiitu, dan…”

“yak! Kenapa kau malah memutar balikan ucapanku? Aku serius Zy…”

“Dan kau kira aku tidak serius?”

“Aku hanya…” dan ucapan Jongin terhenti saat Suzy mengecup pipi kiri Jongin. Meskipun detik berikutnya ia menyesal melakukannya. Apakah itu tidak terkesan genit? Apakah dia tidak terlalu agresif?

Dan untuk persekian detik, Jongin hening dalam pusaran lamunanya sendiri. Kemudian secara perlahan ia memutar kepalanya ke arah Suzy yang terlihat gugup di tempatnya.

“Siapa yang mengajarkanmu seperti itu?” tanya Jongin dengan nada datarnya. Dan tentunya, ini membuat Suzy panik dan gelagapan. Benar, kan? Ia sudah melakukan sebuah kesalahan! Harusnya ia tidak melakukan itu tadi. Mungkin jika ia berada di Kanada itu bukan hal besar. Tapi ini Korea, negri penuh tatakrama yang sebenarnya…sedikit membosankan.

“Ma…maaf. aku…aku hanya…” dan kali ini Jongin yang balas mengecup Suzy. Tidak di pipi, tapi Jongin mengecup gadis itu tepat di bibirnya. Dan itu hanya benar-benar kecupan sekilas, juga Jongin pikir ia baru saja berbuat sesuatu yang romantis –sebelum Jongin mendapat jeweran di telinganya.

 

***

 

Tawa Kim Yeon Woo kini nyaring terdengar di setiap sudut ruangan kerjanya. Bersama dengan Kris, ia baru saja membicarakan beberapa hal mengenai kerjasama yang akan mereka lakukan. Meskipun sebelumnya sang ayah –John Hilton- melarang Kris untuk maju selangkah terlebih dahulu, tapi ada satu ketidak sabaran yang membuat Kris tetap melanjutkan misinya tanpa perlu membuat sang ayah kecewa.

“Kau tahu, aku sempat tercengang saat tahu JH Group ternyata dipegang olehmu. Umurmu masih terlalu muda untuk menanggung tanggung jawab sebesar itu,” katanya sambil memuji Kris untuk yang kesekian kali. Dan yang dipuanya menarik kedua sudut bibirnya. Ia memang sering mendengar pujian semacam itu, dan apa yang diucapkan pria paruh baya di depannya bukan hal aneh lagi bagi Kris.

“Ah, andai saja aku memiliki seorang putri aku pasti sangat ingin mengenalkannya padamu,”s dan sekali lagi Kris tersenyum.

“Kudengar kau memiliki 2 orang putra, benar begitu?” tanya Kris yang sedikit merasa ada peluang untuk memulai rencana tahap pertamanya.

Kim Yeon Woo mulai menarikkeuda sudut bibirnya dengan tulus, “Ya. anak pertamaku baru saja menyelesaikan gelar magister-nya. Dan putra keduaku baru saja menginjakan kakinya di bangku jenjang kuliah. Ah, sayangnya mereka punya perbedaan yang sangat kentara. Jika putra pertamaku penurut padaku, maka yang kedua sedikit membangkang,” tuturnya setengah bercerita tentang kehidupan pribadinya. Tentang 2 putranya yang selama ini selalu menjadi beban pemikirannya.

Dan Kris lagi-lagi tersenyum, “Tentu saja. Setiap keluarga pasti memiliki perbedaan. Dan perbedaan-perbedaan itu tentunya akan menjadi warna tersendiri,” sahutnya kemudian. Meskipun tidak berniat melenceng dari pembahasan kerja sama mereka, tapi ia rasa topik ini cukup bagus.

Kim Yeon Woo lagi-lagi tersenyum, “Ya. benar sekali. Dan aku selalu berharap warna yang akan muncul adalah warna yang terang,”

Kris tak lagi menarik keuda sudut bibirnya. Ia justru termenung mengingat ucapan sang ayah.

“Ah. Kudengar kau memiliki seorang adik?”

Kris mengangkat kepalanya dan langsung mengangguk, “Ya. namanya Suzy, Suzy Hilton. Dia baru menjalani semester ke dua nya.”

Dan Kim Yeon Woo langsung berdecak kagum, “Dia pasti gadis yang pintar ya, sama sepertimu.”

Dan lagi-lagi Kris hanya tersenyum menanggapi ucapan pria itu.

“Ah, bagaimana jika aku mengenalkan putra sulungku pada adikmu itu? Boleh, kan? Aku sangat penasaran dengan keluargamu. Kukira, jika kau tidak bisa jadi menantuku, aku masih bisa memiliki hubungan kekerabatan dengan keluargamu melalui adikmu itu.”

Dan bagus sekali. Kris hampir berteriakkegirangan karena tanpa secuil kesulitan untuk meluruskan rencananya, justru semuanya terbuka lebar bagi Kris. Keberuntungan tengah berpihak padanya, dan tentunya Kris tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

“Tentu saja. Suatu kehormatan bagiku.”

Dad ~ aku berhasil dengan langkah pertamaku.

“Ah, iya. Nama putra sulungku adalah Kim Myungsoo. Dan tahun depan, dia akan kembali dari New York.”

Dan rahang Kris langsung mengeras seketika. Ia ingat nama Myungsoo. Nama yangs elalu ayahnya sebut-sebut, nama yang selalu dibanggakan dan menjadi harapan bagi ayahnya. Meskipun nama Myungsoo tidak benar-benar menyentuh kehidupan seorang John Hilton.

 

~To Be Continued~

 

 

Iklan

11 thoughts on “Dark Love (1)

  1. Suzy mau dijodohkan sama Myungsoo padahal dah pacaran sama Jongin, Myungsoo sama Jongin kakak-adik kan? jadi ribet hubungannya. Ceritanya bagus, thanks^^

    Suka

  2. keknya john hilton sama kris orang jahat deh,mereka seperti ingin menghancurkan keluarga Kim Yeon Woo dengan cara menjodohkan myungzy,di part ini belum ada myungzy yathor.kerenkeren joahh

    Suka

  3. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

  4. wah seruseru kayanya anak satunya lagi kim jongin nih ahaha
    dan kris cemburu sama myungsoo hah great ‘-‘
    apa yang bakalan terjadi selanjutnya ya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s