Last Snow

“Setiap pertemuan yang terjadi adalah suatu kebahagiaan, tidak peduli dimana, kapan, dengan siapa kau bertemu dan hasilnya seperti apa, setiap pertemuan adalah sesuatu hal yang membahagiakan”.(by MV Ariel Lin – Fireflies)

***

Siapa yang tidak mengenal Zhang Yi Xing di kampusnya? Mahasiswa jurusan musik dengan kejeniusan yang dibanggakan dan selalu dielu-elukan atas prestasi yang selalu diraihnya tanpa memberi celah bagi orang lain.

Tampan dan kaya merupakan nilai plus untuk pemuda berusia 20 tahun itu. Belum lagi kemampuan dance-nya yang membuatnya selalu diingat oleh teman-teman yang pernah satu sekolah dengannya selama masa SMA.

Tidak peduli seburuk dan sedingin apa sikap pemuda itu, semua orang selalu kagum padanya. Dan persis cerita picisan yang membanjiri dunia, setiap gadis akan memiliki ketertarikan sendiri pada pemuda itu. Pemuda yang selalu mengasingkan dirinya dari duna luar, pemuda yang lebih suka berkencan dengan piano ketimbang dengan seoran gadis.

Walaupun masih banyak sebagian besar gadis yang berharap Yi Xing menyatakan cinta pada mereka, terutama dengan lagu-lagu romantis yang dibuat khusus Yi Xing untuk mereka. Lalu mereka berpacaran, menikah dan tadaaa. Mereka hidup bahagia selamanya.

Dan tidak ada yang perah berkata seperti itu, kan?

Yi Xing adalah Yi Xing. Bukan pemuda yang tertarik dengan dunia luar dan lebih suka bergelut dengan kertas-kertas untuk menciptakan sebuah lagu yang sayangnya bukan ia ciptakan untuk siapapun.

Ia hanya suka musik. Ia suka piano dan menggantungkan impiannya pada piano.

Seperti hari itu, 30 Noveber 2013. Yi Xing kembali berkencan dengan pianonya dengan jemarinya yang menari di atas tuts piano. Berhenti sesekali untuk menghapus atau menambah nada pada kertas lagunya, kemudian melanjutkan atau mengulang lagu yang dibuatnya.

Ia lebih suka seperti ini ketimbang kuliah. Tapi bagaimanapun keluarga Zhang adalah keluarga terpandang. Dengan tersenyum masam, mau tidak mau Yi Xing tetap harus kuliah setelah hampir diseparuh hidupnya ia tidak dibiarkan begitu saja hidup bebas di dunia luar. Dan mungkin ia terlalu terbiasa seperti itu, terlalu biasa menjalani hidup membosankan seperti itu.

Man, kau tidak bosan? Ibumu terus merecokiku untuk membawamu ke meja makan. Kau belum makan apapun sejak tadi,” gerutu Xi Lu Han –sepupu Yi Xing- yang tiba-tiba muncul sambil mengacungkan ponselnya dengan wajah masam. Agak jengkel dengan 2 hal, Yi Xing yang keras kepala dan bibinya yang cerewet.

Yi Xing mendongak sekilas tanpa rasa tertarik, lalu ia kembali menunduk dan bergumam pelan, “Kau saja yang pergi. Aku baik-baik saja.”

Lu Han mendengus pelan dan langsung menarik kertas-kertas lagu milik Yi Xing. Tidak peduli dengan tatapan bengis yang dilemparkan sepupunya, Lu Han tersenyum ditarik-tarik dan berkata, “Kita ke kafe? Bagaimana? Aku ada tempat bagus. Kau harus melihatnya.”

Yi Xing mendengus dan memalingkan wajahnya, tangan pemuda itu mulai kembali bermain di atas piano, “Kubilang tidak…”

“Tidak ada penolakan Zhang Yi Xing!” Lu Han menekan tuts piano itu dengan telapak tangannya dan cukup merusak mood Yi Xing sekaligus nada menenangkan yang mengalun indah di ruang tengah kediaman keluarga Zhang tersebut, “Kau harus ikut.” Lanjut Lu Han tanpa mau repot-repot membalas tatapan tajam Yi Xing.

Tahu Lu Han takkan berhenti merecokinya –persis ibunya, Yi Xing pun bangkit setelah mendelik ke arah Lu Han, “Kau yang traktir.”

Lu Han tersenyum penuh kemenangan, “Ternyata orang kaya sepertimu perhitungan juga.”

***

Yi Xing memejamkan matanya dengan telinga terfokus pada alunan musim yang menyentuh lembut gendang telinganya, seolah membawanya pada satu tempat dimana ia bisa bernapas dengan udara segar diantara kehangatan musim semi.

Ia bisa saja menolak dan mengelak untuk mengakui betapa ia tidak menyesalnya telah ikut bersama Lu Han. Tapi ia lebih memilih diam saat Lu Han mengejeknya. Ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar dengan Lu Han.

“Ini lagu favoritnya,” ucap Lu Han tiba-tiba sambil menggoyang-goyangkan gelas kopi rasa cocoa-nya, “Lagu Jay Chou. Xing Qing.” (Xing Qing = Clear Star)

Yi Xing pun membuka matanya dan menatap Lu Han yang baru saja menghabiskan minumannya, “Kau mengenalnya?”

Lu Han tersenyum dan melipat tangannya di atas meja, “Tidak juga. Aku hanya sering datang kemari untuk mendengarkan gadis itu memainkan pianonya. Namanya La Yi. Huang La Yi. Dia tidak bisa melihat, tapi dia bisa memainkan piano seolah-olah ia bisa melihat semua tuts yang ia sentuh dengan jarinya, padahal jarinya yang melihat tuts itu. Bukan matanya.” Kata Lu Han lagi dengan mata terkunci pada gadis bernama La Yi itu.

Yi Xing hampir membuka mulutnya, tapi ia mengatupkannya lagi dan lebih memilih ikut-ikutan memperhatikan gadis itu dengan…takjub. tidak bisa melihat? Pasti gadis itu sangat jenius sampai ia tidak perlu melihat piano yang tengah dimainkannya.

Dan tiba-tiba saja, ia suka menyimpan nama La Yi di memori otaknya. Padahal sebelumnya, Yi Xing lebih suka tidak mengingat apapun yang menurutnya tidak penting…tapi bukan berarti Yi Xing mengatakan gadis itu penting, kan?

***

Lu Han bilang, La Yi akan memainkan piano lagi di kafe yang tempo hari didatanginya hanya pada hari sabtu sore. Yi Xing tidak tahu alasan paling tepat bagi Lu Han untuk selalu datang ke kafe itu setiap sabtu sore, ia hanya sempat mengatai Lu Han tolol dan kekanakan dengan sifatnya yang satu itu.

Dan ejekan yang ia lemparkan pada Lu Han kini berbalik memakannya. Entah sejak kapan Yi Xing ikut-ikutan tolol dan kekanakan seperti Lu Han. Datang ke kafe itu sabtu sore hanya untuk melihat gadis itu. Untuk melihat dan mendengarkan lagu yang dimainkan La Yi lewat pianonya dengan segelas minuman hangat menemaninya.

Dan yang lebih menyebalkan, Yi Xing sekarang tidak mau datang bersama Lu Han. Ia merasa terganggu saat Lu Han selalu bercerita tentang La Yi seolah-olah mereka begitu saling kenal. Yi Xing tidak tahu apa alasannya, tapi ia benar-benar tidak suka.

Yi Xing tersenyum kecil saat La Yi memainkan lagu Ariel Lin yang berjudul Fireflies. Dan ini salah satu rahasia memalukannya,Yi Xing menggemari penyanyi wanita itu.

Dan entah ketololan darimana, Yi Xing tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri seorang pria berjas yang selalu memandangi La Yi dari kejauhan. Mungkin mengawasi La Yi? Entahlah, Yi Xing tidak tahu. Tapi ia perlu berbicara dengan pria yang diperkirakan berumur 35 tahun itu.

Dan setelah berbicara sebentar, Yi Xing pun mendekati piano yang berada di atas panggung itu dan duduk di sebelah La Yi, kemudian ia mulai menekan beberapa tuts piano yang membuat jemari La Yi berhenti menari.

Ia sedikit menoleh ke samping dengan mata tertuju ke arah lain, “Siapa?” tanya gadis itu ragu. Ia terlihat agak terganggu, meskipun nada suaranya terdengar cukup ramah bagi Yi Xing.

Yi Xing menarik kedua sudut bibirnya, lalu ia kembali memainkan jemarinya di atas tuts piano itu tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan La Yi.

“Lay. Kau…panggil saja aku Lay.” Ucap Yi Xing akhirya. Ia merasa tidak nyaman karena La Yi tidak melanjutkan permainannya. Walaupun Yi Xing tidak menyebutkan nama aslinya…entah kenapa, Yi Xing juga tidak tahu. Tapi ia menyebutkan nama lainnya itu begitu saja.

“Belakangan kulihat kau selalu memainkan lagu EXO M, grup musik asal Korea itu, kan? Bagaimana kalau kita memainkannya bersama? Hmmm…bagaimana jika lagu…”

“Miracle in December.” Sela La Yi cepat, begitu kentara menunjukkan rasa sukanya terhadap boyband yang tengah naik daun itu. Dan yang Yi Xing suka, La Yi tidak lagi terlihat terganggu.

Yi Xing pun mengangguk, “Padahal lagu itu begitu menyedihkan…”

La Yi tersenyum kecil, “Jika kau tidak mau…”

“Aku mau. Kita mulai…” lagi-lagi Yi Xing menyela cepat. Terlalu cepat malah. Dan ini mengundang senyum geli merekah di kedua sudut bibir La Yi. Merasa agak lucu dengan tingkah seseorang bernama Lay yang tiba-tiba datang dan mengganggunya itu.

Yi Xing pun memulai permainannya terlebih dahulu, dan setelah beberapa saat La Yi pun mulai menyentuh beberapa tuts piano itu dan mensejajarkan nada yang mereka buat.

Yi Xing semakin takjub. Ia harus tahu siapa yang telah mengajarkan gadis ini. Selama ini, semua orang mengatakan Yi Xing begitu jenius jika sudah berhadapan dengan piano, tapi ia justru merasa terkalahkan saat bersama La Yi sekarang.

***

Januari 2014. Hampir mendekati Februari dan entah sudah berapa kali Yi Xing menemui gadis bernama La Yi itu. Dan entah sudah berapa kali pula mereka selalu memainkan lagu yang sama, Miracle in December.

Dan sekali lagi untuk yang kesekian kali, Yi Xing selalu tidak memiliki alasan bagus saat ditanya mengenai La Yi. Ia tidak tahu kenapa ia selalu ingin datang ke kafe itu, bermain piano bersama dengan La Yi bahkan sering bertemu di lua Hari Sabtu –saat La Yi bemain piano di sana.

Dan hari ini, Yi Xing kembali berencana menemui La Yi seperti biasanya. Bermain piano bersama sampai waktu makan malam tiba, mengobrol tentang keseharian masing-masing hingga malam menjemput sang mentari.

“Kau mau pergi lagi? Yi Xing, bahkan tanganmu belum sembuh sepenuhnya.” Tegur sang ibu yang tiba-tiba muncul saat Yi Xing hendak membuka pintu rumahnya. Mata wanita itu menatap lengan Yi Xing yang terlihat bengkak dan membiru, matanya mengatakan bahwa Yi Xing harus berada di rumah sore ini.

Yi Xing mendengus pelan, “Aku harus pergi, Ma. Aku baik-baik saja.” Bela Yi Xing sambil menunjukkan tangannya yang sebenarnya tidak terasa terlalu baik itu. Gara-gara jatuh, Yi Xing harus merasakan lengannya digigiti rasa sakit dan kembali berdarah…membuat ibunya terus mengomel tentang Hemofilia (Penyakit dimana darah sukar untuk membeku) yang diidap pemuda itu sejak kecil.

Yi Xing benci mengingat hal itu. Alasan utama kenapa Yi Xing begitu dibatasi orangtuanya untuk menghirup udara bebas di luar sana. Tapi Yi Xing sudah dewasa, ia bukan lagi remaja 14 tahun yang mendramatisir keadaan. Ia baik-baik saja dan…percayalah, ini bukan pertama kalinya Yi Xing mendapati bagian tubuhnya lebam seperti ini.

Wanita paruh baya itu tidak menjawab, matanya menggelap dan berubah tajam saat menatap mata putra sulungnya itu, “Kau mau menemui gadis buta itu lagi?” tanyanya sarkatis.

Yi Xing mendengus, apa-apaan ini? Apa sekarang ia akan mengalami masalah seperti cerita picisan di TV? Dimana ia dibatasi bergaul dengan seseorang yang stratanya berada di bawahnya? Yang benar saja! Ini bukan lagi era dinasti-dinasti yang begitu kolot dengan konfusianisme.

“Ma…”

“Zhang Yi Xing. Masuk.” Ujar sang ibu lagi. Kali ini dengan nada yang lebih tegas, menandakan ia serius menyuruh Yi Xing tinggal di rumah.

Dan Yi Xing hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat 2 orang bodyguard ibunya berdiri di depan pintu. Bagus. Sekarang ia sepertinya akan berperan menjadi seorang pangeran yang harus tinggal di istananya. Benar-benar seperti dongeng anak kecil!

Yi Xing benar-benar masuk ke kamarnya.

Dan ia akhirnya melakukan adegan picisan, memalukan dan tidak berguna itu.

Zhang Yi Xing tetaplah pemuda 20 tahun dengan emosi meluap-luap, masih berjalan dengan pikiran pendeknya, mementingkan keegoisannya dan mencari alasan untuk membenarkan perbuatannya.

Yi Xing tetap memutuskan pergi diam-diam. Ia tahu dimana tempat tinggal La Yi. Ia bisa datang kesana. Ia bisa bermain piano dengan La Yi lagi hari ini. Tanpa ada yang menghalanginya…

***

La Yi menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia tidak tahu salju sedang turun atau tidak. Tapi yang ia tahu, ia bisa merasakan udara dingin tengah menusuk kulitnya meskipun ia sudah mengenakan baju hangat di teras rumahnya sat ini.

Ada yang aneh hari ini. Dan meskipun La Yi berusaha mengenyahkan perasaan aneh yang mencekiknya seharian ini, La Yi tetap merasa terkungkung dengan perasaan aneh itu. Sangat mengganggunya.

Dan semua mengarah pada Lay, entah karena laki-laki itu tidak datang atau bagaimana. Tapi harusnya La Yi baik-baik saja mengenai itu, kan? Ia sama sekali tidak berhak mengatur Lay untuk datang atau tidak. Hanya saja rasanya benar-benar aneh. Dan mengganggunya…

“La Yi!”

Tubuh La Yi langsung menegak saat ia mendengar suara yang tak asing baginya itu. Lay. Itu suara Lay. Dan tanpa sepengetahuan La Yi, seutas senyum terbentuk di antara kedua sudut bibirnya.

“Lay?”

Yi Xing tersenyum kecil dan mendekat ke arah La Yi yang tengah duduk di tepi undakan tangga teras rumahnya.

“Salju hampir turun. Kau tidak kedinginan diam diluar? Paman mana?” tanya Yi Xing basa-basi, walaupun sebenarnya ia hampir menggigil kedinginan karena harus berjalan kaki untuk menemui La Yi. Jika ia naik kendaraan, sama saja dengan bunuh diri, kan? Dan rencananya ia akan meminta Lu Han untuk menjemputnya nanti.

La Yi menggelng dan tersenyum, “Aku jadi ingin melihat salju. Orang-orang selalu menggambarkannya cantik meskipun salju begitu dingin,” gumam La Yi tiba-tiba.

Yi Xing tersenyum kecil, “Kau pasti bisa melihatnya, pasti…” setelah mengatakannya Yi Xing langsung menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit di lengannya yang digigiti udara dingin petang itu.

“Jangan menyemangatiku, aku tahu itu mustahil.”

“Kenapa tidak? Sama seperti saat tanganmu memainkan tuts piano, aku pikir itu hampir tidak mungkin. Tapi itu terjadi juga, kan? Tidak ada salahnya kau berharap.”

La Yi menarik kedua sudut bibirnya, ia ingin menyanggah sesuatu. Tapi ia tidak tahu harus menyanggah apa, ia suka dengan apa yang dikatakan Lay. Dia benar, kan? Tidak ada salahnya berharap.

Satu jam. Yi Xing dan La Yi sama-sama tidak menyadari berjalannya waktu. Baik Yi Xing maupun La Yi, mereka sama-sama lebih tertarik pada obrolan mereka ketimbang cuca yang semakin menggila.

Hingga tiba-tiba, Yi Xing melihat beberapa pria yang tak asing berjalan mendekat ke arahnya. Ia pun memejamkan matanya dengan helaan napas beratnya.

Bagus, mereka datang di saat yang tidak tepat…

Belum sempat Yi Xing bereaksi, beberapa pria itu langsung menyeret Yi Xing tanpa mau mendengar penolakan Yi Xing yang setengah berteriak dan membentak pada mereka. Mereka hanya megikuti perintah untuk menjemput Tuan Muda mereka yang kabur. Dan kemana lgi Yi Xing akan pergi jika bukan kemari? Ibunya sudah hapal tentang itu.

La Yi menautkan alisnya dan hanya terus bertanya pada Lay yang sama sekali takd isahutinya, dan La Yi justru mendengar erangan suara Lay yang semakin menjauh.

“Lay? Kau baik-baik saja? Ada apa? Kau dimana?” tanya La Yi panik dan mulai mendekat –tepatnya mencari sumber suara Lay. Dan tanpa ia tahu, Lay sudah diseret masuk ke dalam mobil hitam yang sudah melaju menjauhi pekarangan rumah La Yi.

La Yi yang sama sekali belum menemukan paham dengan apa yang terjadi terus berjalan maju, berarap ia dapat mendengar suara Lay lagi. Sayangnya ia sedang sendiri sekarang, ia tidak bisa berteriak pada orang rumah untuk mengatakan padanya apa yang sedang terjadi.

Hingga yang terakhir disadari La Yi, bunyi klakson mobil yang memekakkan telinganya dan detik berikutnya La Yi merasakan tubuhnya melayang ke udara untuk beberapa detik setelah sesuatu membenturnya sanga keras. Dan La Yi terhempas begitu saja, menyisakan rasa sakit di sekujur tubuhnya hingga ia tidak mengingat apapun lagi.

***

Lu Han berjalan cepat ke arah ruang musik kampusnya. Rahang pemuda itu terlihat mengeras, sebisa mungkin ia berusaha agar tidak menghajar Yi Xing tiba-tiba.

Dan setelah sampai, Lu Han langsung membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Dan lagi-lagi Lu Han menghela napas panjang, merasa agak jengkel karena Yi Xing sama sekali tidak terlihat terusik dengan kebisingan yang diciptakan Lu Han dan justru masih terfokus pada piano dihadapannya.

“Yi Xing…” panggil Lu Han dengan nada tertahan, rahang pemuda itu masih terlihat mengeras.

Yi Xing hanya menatap kosong pianonya dengan jemarinya yang semain menggila di atas tuts pianonya.

“Yi Xing!”

Yi Xing pun berhenti dan memejamkan matanya,Yi Xing benar-benar terlihat kacau sekarang. Hampir seperti seseorang yang terkena insomnia selama berhari-hari dan tidak bisa beristirahat sedikitpun. Ia benar-benar mirip zombie.

“La Yi…kau sudah tahu?” ucap Lu Han akhirnya dengan napas tersenggal, ia terus berdoa dalam hatinya agar tidak tiba-tiba menghajar Yi Xing.

“Dia berada di rumah sakit mana?” tanya Yi Xing datar tanpa menatap wajah Lu Han.

Lu Han menghela napas panjang, “Kau sudah tahu?”

Tanpa menjawab pertanyaan Lu Han, Yi Xing pun mendongak menatap manik mata Lu Han. Dan tanpa keduanya sadari, mata mereka sama-sama menyiratkan luka yang sama.

“Dia dimana? Antarkan aku kesana.”

“Yi Xing…”

“Kumohon…”

***

Dengan gerakan ragu, Lu Han mengangkat tangannya dan mulai menyentuh bahu Yi Xing yang terasa ringkih. Ia hampir saja menemui La Yi-nya, sosok yang bisa merubah warna hidup Yi Xing begitu cepat. Sosok yang Yi Xing akui sebagai teman pertamanya di seumur hidupnya selain Lu Han. Dan hari ini, Yi Xing berhasil melihat gadis itu. Hanya melihat, sebelum akhirnya Yi Xing mendapat satu tendangan menyakitkan saat ayah La Yi menyuruh mereka –Yi Xing dan Lu Han pergi.

Sakit…akhirnya selama 20 tahun, ia bisa merasakan bagaimana rasanya penggeambaran sakit hati yang ditorehkan orang luar. Perasaan semacam itu tidak mengada-ada, dan Yi Xing berjanji akan berhenti meremehkan perasaan itu.

Man. Semuanya baik-baik saja.” Hibur Lu Han kikuk. Ia sendiri sama sakit hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Lu Han juga pasti akan melakukan hal yang sama jika ia berada di posisi Tuan Huang.

Yi Xing tersenyum kecut, “Aku tahu.” Jawabnya singkat, datar dan dingin. Ia masih tidak tahu tengah melihat ke arah mana, “Dia ingin melihat dunia kembali. Aku benar-benar ingin membantunya. Ia ingin meliat salju… Han, apa sebaiknya aku mendonorkan mataku?”

Lu Han menautkan alisnya dan langsung memukul pelan kepala sepupunya, “Bodoh! Kau kira kau ada dalam drama murahan di TV, hah?” bentak Lu Han kesal dengan pikiran bodoh Yi Xing. Oh dear…apakah ini akibat seseorang yang tidak pernah bersosialisasi sempurna dengan dunia luar?

Hingga di ujung koridor, Yi Xing dan Lu Han tetap tak bergeming. Kemudian, Yi Xing meminta Lu Han untuk pergi terlebih dahulu dengan alasan ia ingin pergi ke toilet. Awalnya Lu Han terlihat ragu, tapi akhirnya ia membiarkan Yi Xing pergi sendiri.

Dan Yi Xing tidak bohong, ia benar-benar pergi ke toilet…dengan pikiran disesaki kata penyesalan terhadap La Yi.

Ini semua salahku…

***

“Aku tidak lapar,” sewot Yi Xing ketika Lu Han memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe. Dan Lu Han hanya mengedikkan bahunya cuek, “Aku yang lapar. Ayo turun!”

Dan hari itu, Lu Han seperti menemukan kembali Yi Xing lamanya. Yi Xing yang pendiam dan tidak tertarik pada apapun. Dan yang terparah, Yi Xing sering mengabaikan ejekannya ketimbang memilih bertengkar dengannya.sesuatu yang sama sekali bukan dirinya.

“Apakah sebesar itu pengaruh La Yi bagimu?”

Yi Xing mengerjapkan matanya dan menatap Lu Han agak linglung, ia tidak terlalu mendengarkan.

“Jika kalian suka lagu Miracle in December, maka aku akan menyebut La Yi miracle for Yi Xing,” Lu Han tersenyum hambar tanpa menatap Yi Xing, “Tenang saja…semua bukan salahmu.”

Yi Xing mendengus malas, ia merasa konyol dengan kalimat ‘miracle for Yi Xing’ tapi ia juga merasa…entahlah, apa yang ia rasakan saat Lu Han menghiburnya? Bukan salahnya?

“Aku harus membeli bunga, kau mau ikut?” tanya Lu Han sambil menunjuk toko bunga disebrang kafe melalui ekor matanya, “Adikku ulangtahun. Dan kau tahu, kan? Adikku maniak bunga.” Gerutu Lu Han setengah bercanda yang tak ditanggapi Yi Xing sama sekali.

Yi Xing hanya ikut bangkit dan mengikuti Lu Han dari belakang dengan jarak yang agak jauh. Entah Yi Xing yang berjalan lambat atau Lu Han yang berjalan cepat. Yang pasti Yi Xing tertinggal oleh Lu Han.

Dan setelah setengah menyebrangi jalan, Yi Xing tiba-tiba merasa langkahnya semakin berat. Ia mengerutkan dahinya dan menatap kakinya bingung, ada yang aneh. Dan baru saja Yi Xing mendongak, tiba-tiba dari arah kiri datang sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Yi Xing bahkan tidak sempat bereaksi apapun, tiba-tiba ia merasakan seluruh tubuhnya sakit –sangat sakit setelah dibentur mobil itu. Dan yang terakhir diingatnya adalah teriakan Lu Han yang begitu mengerikan di telinga Yi Xing.

***

Kritis.

Itu yang di dengar keluarga Yi Xing terakhir kali sebelum Yi Xing dinyatakan koma. Yi Xing terlalu kehilangan banyak darah. Dan dia hampir saja tidak selamat jika tidak cepat-cepat dibawa ke rumah sakit.

Dan di satu sisi, Yi Xing memandangi keluarganya dengan peasaan hambar. Ada rasa sepi menyelusup di dadanya. Ia ingin menangis, sungguh. Tapi apakah ia bisa meneteskan airmatanya?

Ia ingin memeluk ibunya, memeluk ayahnya, mengecup adik perempuannya dan mentertawakan Lu Han yang menangis…dan berlari pada La Yi. Ia hanya ingin mengucapkan satu kalimat pendek, “I’m sorry”.

Tapi Yi Xing tahu itu hampir tidak mungkin…tidak mungkin? Yi Xing menggeleng cepat, tidak. Ia masih punya harapan. Tidak ada salahnya untuk tetap berharap, kan? Dan Yi Xing mengerutkan dahinya, merasa silau dengan sebuah cahaya yang tiba-tiba muncul dan seolah menyedotnya untuk masuk ke dalam. Tidak. Ia tidak merasakan apapun, selain rasa sepi. Tepat di dadanya yang terasa kosong.

***

1 month later…

La Yi berjalan perlahan ke arah piano yang telah menjadi sahabatnya hampir di seumur hidupnya. Hanya saja, kali ini La Yi mengalaminya dengan keadaan berbeda. Ia melihatnya…La Yi bisa melihat bagaimana bentuk piano yang selama ini menjadi kawannya, ia bisa melihat bagaimana bentuk tiap sudut dan benda yang mendengar alunan tuts pianonya.

Walaupun ada ketukan rasa sakit bercapur sepi yang menggentayangi hatinya. Dan perasaan itu selalu merusak perasaannya. Dan meskipun ia mencoba untuk mengenyahkannya, La Yi akan semakin terkungkung pada perasaan menyebalkan itu.

La Yi terperanjat saat lamunannya pecah tepat ketika ia menemukan seorang laki-laki tengah memunggunginya dan menyentuh pianonya dengan pelan…sangat pelan. Seolah ia tengah menyentuh bayi yang begitu ringkih.

Dan satu nama langsung mencuat begitu saja, “Lay? Kau kah itu?”

Lu Han memejamkan matanya. Kau memuakkan Yi Xing, kau bahkan membuatku ingin menangis dan memakimu bersamaan. Seharusnya kau yang berada disini…

“Lagu ini untuk salju terakhir musim dingin. Kau tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa merasakannya. Juga…maaf.” Kata Lu Han dalam satu tarikan napas. Terlalu cepat, kan? Lu Han benar-benar payah sekarang.

La Yi menautkan alisnya, benarkah itu Lay? Ia tidak begitu yakin iu suara Lay. Tapi bahasa itu…itu Lay yang mengucapkannya. Ya. Seharusnya itu Lay. Hanya Lay yang selalu mendengarkannya mengoceh tentang salju dan musim dingin. Hanya Lay yang hampir mengahbiskan musim dingin kali ini bersamanya.

La Yi tersenyum kecil saat mendengar lagu Miracle in December mengalun lembut di ruangan itu. Lagu dingin yang begitu hangat di telinga La Yi.

Dan airmata La Yi benar-benar meleleh. Rasa rindunya pecah bersama rasa bahagianya. Iatu Lay…itu benar-benar Lay. Lay benar-benar datang. Lay kembali lagi. Adakah satu deskripsi yang tepat untuk menggambarkan perasaan yang tengah menghimpit dadanya sekarang? Jika ada, bolehkah La Yi meminjamnya?

La Yi pun berjalan dengan mendekat dan gadis itu duduk di sisi pria yang menurutnya adalah Lay dan mulai menyentuh tuts piano di depannya dan jemarinya pun mulai menari mengikuti alunan musik yang dibuat Lay.

Ia senang…akhirnya ia bisa melihat jemarinya bermain di atas tuts-tuts itu.

Dengan penuh emosi, La Yi mengekspresikan isi hatinya melalui lagu yang dimainkannya, melupakan makna lirik asli lagu itu dan membuat liriknya sendiri. Dalam hati, tentu saja. Ia tidak mungkin menyanyi dan membiarkan jemarinya yang menyanyi melalui tuts piano yang disentuhnya…bersama Lay.

Dan setelah selesai, mereka berdua sama-sama tak bergeming. Hanyut dalam 2 perasaan yang begitu bertentangan. Tersenyum dengan 2 arti yang berbeda. Dan tenggelam dalam lamunan dengan arus yang berlawanan.

Dan dalam diam La Yi berharap…selamanya ia bisa merasakan bahagia seperti ini…dengan Lay… seorang laki-laki misterius yang membuatnya terjebak dalam warna hidup yang baru. Seandainya warna paling indah adalah merah muda, maka hidupnya berwarna merah muda. Ya. ia menyetujui pemikiran kekanakannya.

“Lay…xiexie.” (xiexie=terimakasih) ucap La Yi ragu dengan senyum tulus yang tertarik sempurna. Sayangnya ia belum berani melihat wajah asli Lay. Entah mengapa, ada seonggok ragu yang mengganjal di dadanya.

Lu Han memejamkan matanya, “Goodbye winter, welcome spring…” gumam Lu Han pelan. Sangat pelan. Ia bahkan berharap La Yi tak mendengarnya, yang sayangnya justru di balas senyuman oleh gadis itu.

Kau lihat Yi Xing? Gadis ini tersenyum…ah, tentu kau melihatnya. Apa yang ia lihat bukankah apa yang kau lihat juga?

(I stare wistfully, at you whom I’m not able to see

 

I listen intently, to you whom I’m not able to hear

 

Seeing what I used to not see, hearing the voice I used to not hear

 

You gave me supernatural powers

 

After you left me

 

Back then I was too selfish, only caring about myself

 

Back then I was such a fool, I didn’t understand your heart

 
Yet now I’m changing, everyday, even though you are obviously not next to me

 

Yet now I’m changing, because of you, because of the love you gave me

 

Every time I think of you, every corner of the world turns into you

 

The falling snow under the night-sky, are like your teardrops

 

How I wish you are suddenly in front of me

 

How I wish you could come back to me

 

This useless power of mine, can’t even bring you back to me

 
Back then I was too selfish, only caring about myself

 

Back then I was such a fool, I didn’t understand your heart

 

Yet now I’m changing, everyday, even though you are obviously not by my side

 

Yet now I’m changing, because of you, because of the love you gave me

 

Freeze the time

 

Returning to your side

 

That book of memory

 

Flipping back to that page

 

You and I, on that page; you and I, at that moment

 

I, who didn’t have enough determination, am changing everyday

 

Because of your love

 

You have changed everything (My entire life)

 

All of it (My entire world)

 

Back then I didn’t know how to appreciate and treasure love

 

Back then I used to think that a severed love is not worth a pity.

 

Yet now, I am changing, because of you

 

Even though you are obviously not next to me

 

My love is still continuing, as if it is borderless

 

Freeze the time (Oh,I’m still thinking of)

 

Returning to your side (Returning to your side)

 

That book of memory (Oh that memory)

 

Filled with words of sorrow

 

Disappearing with the tears

 

Going back to the white season

 

I stare wistfully, at you whom I’m not able to see

 

I listen intently, to you whom I’m not able to hear)

 

EXO (Baekhyun, Chen, Luhan) – Miracle In December (Chinese Version) [english translate]

 

 

 

=Fin=

22/05/2014 01:24AM

Iklan

One thought on “Last Snow

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s