Losing You

Losing You.

A story written by Chang Nidhyun.

***

 

Choi Ji Eun berjalan ragu ke arah halaman utama kampusnya. Bagaimanapun ia takut gelap, dan sekarang entah bagaimana teman-teman sekelasnya berbondong-bondong mengerjainya seperti ini, -berjalan di koridor kampus yang gelap- dan sekarang ia di minta untuk pergi ke halaman utama kampus.

Sial dan menyebalkan. Meskipun Ji Eun merutuki ketololannya 1000x, tetap saja kakinya mengikuti perintah teman-temannya, seolah tak menggubris logika Ji Eun yang masih bekerja dengan baik, yakni menolak permintaan teman-temannya.

Entah apa maksud dari itu semua, tapi rasa-rasanya Ji Eun tidak memiliki kendali atas dirinya untuk menolak, seolah semua telah terskenario dengan baik dan Ji Eun hanya perlu mengikutinya. Hatinya…hatinya tidak membantah satupun permintaan teman-temannya. Ini gila bukan?

Dan Ji Eun pun menghentikan langkah kakinya tepat ketika ia berada di ujung batas lantai yang terhubung langsung dengan undakan tangga. Ia berhenti tepat disana, dengan keadaan sekeliling yang tidak berubah sama sekali, gelap.

Ji Eun mendengus pelan dan menoleh ke belakang, tepat ke arah Yoo Na Ra yang hanya cengengesan bersama dengan beberapa temannya yang lain.

“Sekarang apalagi?” tanya Ji Eun ketus. Maksudnya memang menyindir, tapi sama sekali tidak terdengar seperti sindiran. Dan itu justru membuat teman-temannya yang lain semakin tergelitik tidak tahan untuk berhenti tertawa.

“Apakah kalian mulai gila?” tanya Ji Eun dengan nada emosi, sekarang ia merasa di permainkan.

JREP…

Tiba-tiba seluruh halaman menjadi…terang. Hanya halaman kampusnya, tidak dengan kampusnya yang masih terkungkung gelap gulita. Tapi justru ini semua membuat Ji Eun terperangah dan…terpesona. Bagaimana tidak? Tepat di hadapannya, seorang pria tengah duduk di sebuah kursi dengan sebuah gitar ditangannya. Juga, pria itu yang duduk tepat di pusat sebuah ruang yang di bentuk oleh lampu-lampu berwarna putih. Dan yang membuat Ji Eun semakin terpesona, lampu itu membentuk hati.

Pria ini memang romantis dan jago menggombal, tapi kali ini…rasanya pria itu tengah berada di puncak kegilaannya akan sebuah romantisme.

Ingin tahu siapa pria itu? Siapa lagi jika bukan Lee Dong Hae, pria yang menjadi kekasihnya selama 5 tahun. Ya, menurut pria itu adalah 5 tahun, sedangkan bagi Ji Eun hanya 3 tahun. Sisa 2 tahun yang lainnya, Ji Eun merasa tidak pernah menyukai pria itu.

Ji Eun tidak mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Lidahnya kelu dan otaknya seperti berhenti bekerja sekarang. Seolah-olah ia hanya menanti kejutan berikutnya yang akan di berikan laki-laki itu terhadapnya.

Lee Donghae, pria itu mulai memetik gitarnya tanpa sedikitpun melirik Ji Eun. Dan ia pun…mulai menyanyi.

Menyanyi? Ji Eun tertawa kecil dalam hatinya. Ia tahu betul Donghae suka menyanyi, dan belakangan ia selalu mengatakan bahwa ia sibuk menulis sebuah lagu, apakah lagu yang dimaksud adalah lagu ini? Lagu yang ternyata diam-diam direncanakan untuk membuatnya terbang karena terharu? Sekarang otaknya begitu sibuk menebak, apakah telinganya akan sakit setelah ini? Atau justru kembali dijatuhkan pada pesonanya?

nan geudeman-e oppa geuden naman-e yoja

hangsang ne gyote isso julge

nan geudeman-e oppa dalkomhan uri sarang

oppan noman saranghalle

 

ichon yung-nyon iwori-il nege on geu nal hayan nunchorom

geu moseup giokheyo nan jageun geu ttollimmajodo

nege gideoso jamdeun geude dalkomhan immatchumeul

 

u~~~u~~~ nol saranghe

 

saranghe i mal bakken saranghe i mal bakken

jul ge igotppuninde

chang bakke nuni neryo garodeung bulbit are

geu ane nowa nega isso

 

nan geude man-e oppa

geuden naman-e yoja

oppan noman saranghalle

 

———————

 

(Donghae – First Love)

 

Belum selesai Ji Eun berurusan dengan jantungnya yang dibuat bekerja tidak normal akibat perbuatan Donghae, sekarang pria itu membuat kerja jantungnya semakin berat ketika pria itu memanahkan senyumnya, tepat ke arah Ji Eun. Kemudian pria itu bangkit dan menaruh gitarnya, mengambil sesuatu di belakangnya dan berjalan ke arah Ji Eun.

Mungkin Ji Eun tuli sekarang, di tulikan oleh suara pesona pria itu yang membuatnya…nyaris kehilangan roh nya. Tepuk tangan orang-orang yang entah sejak kapan menjadikan momen ini sebagai tontonan gratis, sama sekali tak mengusik telinga Ji Eun.

Ia berhenti di jarak satu meter di hadapan Ji Eun. Lalu tanpa di sangka-sangka, pria itu berlutut di hadapan Ji Eun. Dan dengan gerakan cepat yang halus, Donghae menjulurkan tangannya dengan sebuah kotak cincin di tangannya.

“Aku memang bukan pria sempurna, dan aku tidak bisa menjamin kehidupan yang sempurna untukmu. Tapi aku sudah meyakinkan diriku, bahwa dirimulah penyempurna diriku. Dan untuk itu, apakah kau bersedia menjadi penyempurna diriku? Juga hidupku? Berada disisiku, menjadi pendamping hidupku, apakah kau bersedia? Will you marry me?” *OEEEK. Thanks buat kak Haega yang udah ngeracuni otak aku pake kata-kata beginian-.-v #Lirik ff FLR*

Ji Eun, entah sejak kapan matanya mulai berkaca-kaca. Sekarang, ia benar-benar yakin dengan ketulusan pria itu, juga kesungguhannya. Tidak perlu banyak berpikir dan banyak kata lagi, Ji Eun langsung mengangguk, mengiyakan segalanya.

Kemudian, Donghae bangun dan melangkah mendekati Ji Eun. Dan dengan lincah, jemari Donghae memasangkan cincin itu di salah satu jari Ji Eun.

 

***

 

“Nunaaaa!!!!!!”

JREEEB.

Aku langsung terduduk saat mendengar teriakan itu dari balik pintu kamarku. Dengan cepat aku memutar kepalaku ke arah pintu kamar.

“Mau sampai kapan kau berlibur di alam mimpimu, hah? Ini sudah siang! Bukankah nuna bilang akan bekerja di restoran Yoon Ahjumma? Cepat bangun! Jangan sampai kau di pecat bahkan sebelum menerima gaji pertamamu!” teriak seseorang di balik pintu itu lagi.

Akupun memejamkan mataku, mencoba mengatur napasku dan mengembalikan kesadaranku yang sepertinya belum benar-benar pulih.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

4 detik…

5 detik…

Dan…

“HUWAAAA AKU TERLAMBAT!”

 

***

 

Choi Minho masih sibuk memperhatikanku yang melakukan semua kegiatan pagiku dengan terburu-buru. Alasan kesiangan menjadi prioritas utama sekarang, bahkan aku selesai mandi, berpakaian, dan semuuuanya kuselesaikan dalam waktu kurang dari 20 menit. Hari ini bukan hari yang bagus.

“Apakah kau akan kenyang dengan memperhatikan wajahku?” tanyaku sebal karena Minho masih saja memperhatikanku, seolah-olah aku ini seorang yang aneh dan entah mengapa bisa berada duduk di hadapannya.

Minho menggeleng pelan, kemudian ia mengangkat bahunya dan menyandarkan dagunya di atas kepalan tangannya sendiri yang berdiri tegak di atas meja. Masih memandangku.

“Apa nuna akan kembali datang ke rumah sakit?” tanyanya kemudian. Seolah baru aja menumpahkan rasa penasaran yang mendidih menyatu dengan ketidak sukaannya, dan tertumpahkan padaku yang sedikit menyentil hatiku. Ada luka disana, dan lagi-lagi dadaku kembali sesak.

Aku kembali menghela napas panjang, kualihkan tatapan mataku dan menghindari kontak mata dengannya. Mataku mudah berair jika sudah membahas ini semua.

“4 bulan…apakah nuna yakin? Terlebih keluarganya…”

“Dia calon suamiku, adikku sayang,” sergahku cepat, “Tak ada alasan bagiku untuk menelantarkannya setelah semua yang ia lakukan untukku. Ah, aku lupa. Kau masih SMA, seharusnya aku tidak membicarakan soal ini pada anak kecil sepertimu.” Tatarku kemudian, ada nada candaan disana, tapi aku tahu, itu sama sekali tidak lucu. Apalagi menyentuh selera humor oranglain.

Minho mendengus pelan, ia kembali mengambil rotinya dan berkata sebelum melahap rotinya kembali, “Aku tidak peduli soal hubungan kalian yang sudah hampir berjamur itu, tapi keluarganya…aku tidak suka.”

Aku tahu…batinku menjawab, semua itu memang karenaku, aku yang membuat keluarganya semakin…membenciku. Oh, ayolah. Dia seorang anak pengusaha dari kalangan sosialita atas, sedangkan aku? Bahkan aku lupa rupa ayahku, dan ibuku…hah. Jangan tanya, ia juga begitu sibuk banting tulang di Meokpo sana. Ditambah satu masalah yang…terlalu besar bagiku, menekan mentalku hingga ke titik rendah, membuatku selalu merasa nyaris terpuruk, dan selalu berpikir untuk menyerah.

“Jika mereka masih merendahkanmu, menyudutkanmu, dan menolakmu, lebih baik tinggalkan Lee Donghae.” Tegas Minho kemudian. Masih menumpahkan didihan pikirannya yang menyatu dengan perasaannya. Terutama kasihan. Aku memang patut dikasihani.

Aku lelah mendengar ocehan bocah ingusan itu. Akupun menaruh rotiku yang tinggal seperempat, dan menatap matanya dengan agak tajam, lalu menegakkan bahuku dan…menunjukkan cincin yang terselip di antara jemariku.

“Aku tidak pernah bermain-main dengan hubungan. Setidaknya, Lee Donghae harus bangun ketika aku mengambil keputusan…” Aku menggeleng pelan, “Tidak, tidak akan ada keputusan semacam itu. Aku dan dia tetap akan ada dalam kesepakatan kami.” Lanjutku lagi dengan nada tegar. Meskipun aku nyaris hancur berkeping dan tak terselamatkan.

“Jika Donghae hyung tidak bangun, apa yang akan kau lakukan?”

Goal. Pertanyaan yang menohok hatiku sampai ke jantung.

“Kenapa Donghae harus tidak bangun?”

“Nuna…”

“Dia pria kuat dan keras kepala. Sudah seharusnya dia bangun dan bertanggung jawab atas semua ulahnya, terutama padaku. Mengikatku, dia telah mengikatku. Tinggal selangkah lagi menuju gerbang pernikahan, tapi takdir tengah menundanya.”

Minho pun terdiam. Mungkin ia sadar ia telah menusukkan ucapannya kedalam lukaku, sehingga ia lebih memilih diam ketimbang terus mengaduk-aduk percakapan yang selalu sama, dimenangkan oleh jalan pikiranku yang selalu dengan penuh kata optimisme…

Meskipun itu semua topeng.

Aku takut…demi apapun aku takut…aku takut kehilangan dirinya…aku takut pria itu tidak akan pernah membuka matanya lagi….

 

***

 

Namaku Choi Ji Eun, umurku 20 tahun saat ini. Aku salah satu mahasiswi Seoul National University.

Jangan tanya kenapa aku bisa berada di universitas elit, terkenal dan menjadi salah satu list universitas terbaik dan terfavorit itu. Karena kenyataannya, bukan materiil yang membawaku untuk bisa bertahan disana, tapi prestasi yang membuat cap beasiswa ada dalam garis namaku.

Yeah~ seorang mahasiswi yang saat ini tengah mencoba mencari uang tambahan. Bekerja magang di salah satu restoran kecil di tengah padatnya Myeongdong. Myeongdong, kawasan elit ini menjadi salah satu jajakanku, dan berhasil, aku patut bersyukur, karena Tuhan telah mempermudah banyak hal padaku.

“Ji Eun-a, seseorang mencarimu!” panggil Yoon Ahjumma –pemilik restoran ini— yang membuatku langsung menghentikan aktivitas kerjaku, mencuci piring.

“Siapa?”

“Aku tidak tahu, tapi kurasa dia orang penting. Atau temanmu, mungkin? Mobilnya sangat mewah, dia orang kaya pasti.” Sahut Yoon Ahjumma asal.

Aku memutar bola mataku malas. Terus terang saja, Yoon Ahjumma agak sedikit…ekhm, matre. Yah. Jangan tanyakan, ibaratnya dia Tuan Krab jika berada di kartun Spongebob. Tapi tentunya Yoon Ahjumma 1000x lebih baik dari Tuan Krab, dan tidak pelit.

Akupun menunda pekerjaanku dulu dan setelah mencuci tangan, aku langsung menghampiri seseorang dengan mobil mewah yang membuat mata Yoon Ahjumma berbinar.

 

***

 

Gadis itu, Kim Ji Hyun, dia duduk kaku di hadapanku. Tidak ada tatapan riang, dan suara cerianya yang selalu mengusik telingaku seperti dulu. Empty. Dan hanya tatapan mata gusarnya, juga desahan napas lelahnya yang membuatku selalu sadar, gadis ini berada di hadapanku.

Aku sendiri? Jangan tanya lagi. Aku bahkan tak punya deskripsi untuk perasaanku sendiri. Hanya pahit yang menjadi layout utama suasana hatiku. Tapi sebisa mungkin aku membuat diriku terlihat tenang, tidak ingin membuatku terlihat begitu lemah dimatanya.

“Eommonim kemarin mengeluh lagi, soal dirimu. Kau tahu, kesehatannya memburuk dari hari ke hari karena stress memikirkan Donghae.” Akhirnya gadis itu angkat suara, meretakkan sebagian kekauan yang tercipta saat ini.

“Dan…aku khawatir soal itu…” Ji Hyun menghentikan kata-katanya, menggantungnya seolah memberi isyarat bahwa aku perlu membacanya sendiri. Dan aku tahu, aku tahu semuanya. Dan aku ingin berteriak di depan wajahnya, jangan pernah membahas ini…lagi.

“Kau tidak mengkhawatirkan ibunya Donghae, Ji Hyun-ssi. Tapi kau khawatir Donghae bangun dan aku masih bertahan untuknya.” Balasku dingin. Aku tidak peduli dengan dirinya yang sudah dijodohkan dengan Donghae 4 bulan lalu, membuat diriku sendiri harus berperang dingin dengan dirinya yang jelas-jelas dulu adalah sahabat terdekatku.

Mata gadis itu terbelalak, tapi hanya sedetik dan setelahnya ia mengontrol ekspresi wajahnya kembali. “Dia juga ibuku.” Sahutnya lagi, masih membuat nada tenang seolah ia paling benar dan tak pernah terjadi apa-apa. Memuakkan.

“Dan kau datang kesini untuk memohon dan mengemis agar aku meninggalkan Donghae? Karena derajatku yang jauh di bawah statusnya? Kau begitu khawatir karena akulah satu-satunya gadis yang secara resmi memiliki cincin lamaran darinya, dan statusmu sebagai seseorang yang dijodohkan dengan pria itu tak menguatkanmu sama sekali. Apakah pertahanan dan perjuanganku begitu menyiksamu, Nona Kim?” sarkatis. Aku suka dengan ucapan dan nada merendahkanku. Melihat mental gadis itu mulai runtuh sedikit demi sedikit.

“Kau tahu, aku begitu dekat dengan keluarga Lee. Bahkan rasanya kami sudah menjadi keluarga.”

Aku memutar bola mataku malas ke arah sedotan yang tengah kumainkan di dalam gelas, “Dan aku hanya 5 tahun mengenal Donghae oppa. Dia yang begitu terobsesi untuk mengejar gadis ingusan sepertiku, dan justru membuatku jatuh dalam pesonanya dan mengenalnya…jauh sangat mengenalnya daripada oranglain, bahkan termasuk dirimu.” Ucapku kemudian.

Gadis itu tak bergeming, matanya menatap tajam diriku, “Aku tahu. Tapi kau tahu, dukungan kadang bisa mengubah garis nasib seseorang.” Balasnya sinis.

“Dan kita belum melihat halaman berikutnya bukan? Nasib…aku akan menyerahkannya padamu, jika memang takdir berkata seperti itu. Tapi selagi aku bisa, selagi aku mampu, aku akan memperjuangkan cintaku.”

“Apa yang membuatmu seyakin ini, Nona Choi?”

“Keyakinan tentang dirinya yang mencintaiku. Mulai dari umurku 15 tahun, hingga saat ini.”

“Dan tidak ada rasa bersalah sedikitpun?”

DEG…gadis ini…

“Aku akan membayarnya dengan memperjuangkan cintanya terhadapku.”

Gadis itu menggeleng tak percaya. Gadis itu memang tak memiliki alasan kuat, seperti diriku yang memiliki alasan Donghae yang mencintaiku. Dan gadis itu? Aku bahkan masih menerka-nerka apa yang membuat gadis itu tiba-tiba terlibat di kehidupanku. Dan nyaris merusak semuanya.

“Baiklah Ji Hyun-ssi, aku harus melanjutkan pekerjaanku. Jaga Donghae-ku baik-baik, perlihatkan bahwa dirimu memang mencintainya, siapa tahu Donghae-ku bisa berubah pikiran untuk menerima perjodohan kalian itu.” Akupun bangkit dari tempat dudukku, dan meninggalkannya yang hanyut dalam…entahlah. dalam hening dan pikirannya yang tak terendus olehku.

 

***

 

Oktober. Aku menghela napas panjang. Ini bulan ke empat untuk diriku yang mematung di hadapan tubuh seorang pria yang seolah tidak tertarik untuk bergerak normal layaknya tubuh manusia lain. Dan pikiran menyakitkan itu selalu menyentil hatiku, itu semua akibat perbuatanku.

Mataku kembali bergerilya di wajahnya, aku merindukan tatapan matanya, merindukan senyumnya, merindukan suaranya, dan…semuanya. kenapa sekarang rasanya banyak penghalang untuk hubungan ini? Sebelumnya, bahkan aku berpikir akan sangat mudah hidup bersamanya kelak. Tapi ternyata badai takdir baru saja dimulai.

“Kapan kau akan bangun?” aku bergumam pelan. Padanya. Sebenarnya aku bicara padanya. Orang bilang, orang yang tengah koma dapat mendengar ucapanmu. Dan aku percaya, karena yang tengah mengalaminya adalah Lee Donghae. Sudah seharusnya pria itu mendengarnya.

“Kau tahu, aku sangat lelah, juga takut. Bagaimanapun, kau satu-satunya yang mendukungku saat ini…tentang kita.” Sial, pandanganku memburam.

“Jangan terus seperti ini oppa. Aku…benar-benar takut…” aku memejamkan mataku, mencoba mengeringkan mataku yang sudah mendanau dan bersiap menganak sungai di pipiku. Sesuatu yang tidak nyaman, terlebih ditimpali sakit didadaku.

Aku ingat, saat Donghae datang padaku 4 bulan lalu, sebelum kecelakaan ini. Donghae yang baru saja mendapat kabar perjodohannya dengan Ji Hyun, dengan penuh emosi mendatangi rumahku. Aku tahu, sejak awal pengenalanku terhadap keluarga Lee justru memperburuk hubungan Donghae dengan keluarganya. Sekali lagi, stratifikasi penyebabnya. Dan Donghae yang sangat keras kepala, terus meyakinkan keluarganya, khususnya ibunya.

Awalnya, Donghae sudah bilang keluarganya telah setuju dan mulai luluh. Sialnya, ayah Kim Ji Hyun yang tidak tahu menahu soal hubungan Donghae denganku, dengan gamblang menawarkan perjodohan antara putri tunggalnya Kim Ji Hyun dengan putra tunggal keluarga Lee, Lee Donghae.

Sebuah kesempatan emas bagi Nyonya Besar Lee. Tanpa basa-basi dan tanpa perlu mendengar persetujuan putranya, dia langsung menerimanya dan mengabarkan bahwa Donghae telah berstatus sebagai kekasih Ji Hyun.

Jangan bercanda, Donghae tidak akan semudah itu menerimanya. Dan tentunya, dia langsung menemuiku. Bahkan dia mengajakku menikah malam itu juga. Konyol memang.

Dan…aku juga masih ingat saat aku akan menyebrangi jalan, tepat saat Minho tengah berdiri di sebrang jalan tempat aku dan Donghae bertemu, sembari mengacung-acungkan belanjaannya yang berat. Bukan belanjaan penting, aku masih mengingatnya dengan jelas, hanya cemilannya.

Menyebrang…ya, aku bermaksud untuk menyebrangi jalan dan membantu adikku yang manja itu, dan tanpa kuduga, ada kendaraan dari arah kanan, dan mobil itu benar-benar nyaris menabrakku yang begitu tuli dan lalai saat itu. Donghae bermaksud membuatku tehindar dari kecelakaan itu, tapi justru dirinyalah yang menjadi korban saat itu.

Tes…

Sial. Aku kembali menangis.

“Mianhae…” desisku kemudian, “Jeongmal mianhaeyo…” aku membekap mulutku, menahan agar isak tangisku tidak menjadi sekarang.

Dan kejadian itu, seperti kekuatan baru untuk tentangan hubunganku dan Donghae. Yah…semudah mereka meruntuhkan kekuatanku.

 

***

 

Aku terperangah saat mendapati sosok ibuku yang tengah berdiri di depan pintu dengan tatapan sayunya. Mataku terbelalak sempurna. Ini sudah hampir tengah malam, dan ibu berada disini? Kapan dia datang?

Dengan cepat aku melangkahkah kakiku untuk mendekat ke arahnya, kemudian memeluknya langsung. Membiarkan hidungku dapat mencium aroma tubuhnya ayng sangat kurindukan, pelukan hangatnya, juga kekuatan yang selalu disalurkannya dari setiap sentuhannya.

“Kapan eomma datang? Kenapa tidak memberitahuku?” tanyaku antusias, masih dengan nada keterkejutan. Sesuai dengan ekspresi yang kutunjukkan tadi.

Eomma terdiam, matanya terlalu intens menatapku, membuatku salah tingkah. Yah…aku tahu, pasti Minho bercerita macam-macam dan membuat ibuku yang cantik ini bersusah payah menghalau emosinya dan dengan tidak peduli pada segalanya, ia jauh-jauh datang ke Seoul hanya untuk melihatku, dan pastinya membahas masalahku.

“Aku harus menguatkan putri kecilku.”

Tepat. Aku selalu benar tentangnya, begitu pula dengannya.

 

***

 

Pagi ini rasanya begitu ramai dan berbeda. Rumah kecilku yang awalnya tidak memiliki kesan khusus, mendadak begitu berwarna dengan kehadiran ibuku disini. Hari ini juga tidak ada roti tawar yang menjadi pengganjal perutku dan Minho, ada beberapa menu lain di atas meja yang dibuatkan oleh tangan spesial. Dan jangan tanya bagaimana rasanya, sudah bisa dipastikan mengalahkan masakan dari restoran yang memiliki label nama.

Bukan hanya itu, canda tawa dan juga obrolan kecil di rumah ini semakin menghangatkan. Bahkan rasanya aku hampir lupa bagaimana caranya bersikap manja di depan ibuku sendiri. Ah, seandainya aku bisa menariknya agar tetap tinggal di Seoul. Sayangnya pendiriannya begitu kukuh dan sulit diruntuhkan.

“Baiklah, eomma, nuna, aku berangkat dulu.” Minho berpamitan sambil mencium pipi eomma, kemudian berlalu dengan santainya. Hari ini dia juga pasti menikmati kehangatan sebuah keluarga seperti keluarga lainnya. Bukan hanya berkelit dengan kegiatan membangunkan sang kakak yang selalu terlambat bangun, dan ketika bangun hanya menunjukkan mata sembab atau ekspresi kacaunya. Itu semua pasti membuat Minho jengah setengah mati.

“Putraku sudah tumbuh dengan pesat. Berapa tinggi badannya saat terakhir aku melihatnya? Rasanya dia sudah hampir seperti tiang listrik.” Gurau ibuku sambil duduk di sebrang meja, menghadap ke arahku dengan tangan membawa secangkir teh hangat favoritnya.

Aku tertawa kecil mendengarnya, “Entahlah, aku juga tidak terlalu memperhatikannya.”

Ibuku tersenyum mendengar jawabanku, kemudian setelah menyesap teh nya ia berkata, “Aku begitu iri padamu, terlalu memperhatikannya sampai-sampai tidak tahu apa yang telah diperhatikannya.”

“Eomma…” nada manjaku menguar…yah, aku rindu saat-saat seperti ini. Mengobrol berdua saja dengan ibuku, membicarakan banyak hal, bahkan hal-hal yang tidak perlu dibicarakan. Sosok seorang ibu dan teman yang menyatu bersamaan dalam dirinya, membuat diriku selalu terlalu nyaman.

“Hari ini kau tidak ada jadwal kuliah, sayang?” tanya ibuku disela-sela lamunanku.

Aku menegakkan bahuku kemudian menggelengkan kepalaku, “Tidak. Baru minggu depan aku masuk kembali.”

“Hari ini kau tidak sibuk?”

Aku mengetuk-ngetuk meja di hadapanku dengan telunjukku, mencoba mengurai satu per satu kegiatan yang sudah tercatat rapi di memoriku, “Bekerja di restoran Yoon ahjumma, dan…pergi ke rumah sakit,” sial…kenapa nada bicaraku melemah seperti itu? Seolah-olah putus asa dengan keadaan yang membekapku dengan kuat.

Helaan napas ibuku terdengar begitu kentara, “Masih suka kesana?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja. Sudah kewajibanku…”

“Itu bukan kewajibanmu,” tukas eomma cepat, bahunya sedikit melunak, “Jangan jadikan itu sebagai kebiasaanmu.”

Apa ini? Kenapa tiba-tiba eomma seperti ini? Nada bicaranya…

“Aku sudah mengetahui semuanya. Bisakah kau penuhi satu permintaanku? Aku tidak dapat melihatmu setiap saat, sayang. Putra putriku, bahkan begitu sulit untuk tersentuh oleh retina mataku sendiri. Tapi sebisa mungkin aku akan menjaga kalian meskipun dengan jarak yang terbentang dengan jelas, dan ini demi kebaikanmu…tinggalkan dia.”

DEG.

Eomma, aku mohon…jangan katakan…

“Lepaskan Lee Donghae, dan mulailah hidup barumu.”

 

***

 

Suasana hatiku begitu buruk sekarang. Bahkan yang lebih buruk, semua berefek pada pekerjaanku di restoran ini. Aku harus berulang kali eminta maaf pada Yoon Ahjumma karena pekerjaanku hari ini sangat jauh dari kata baik. Bahkan jika aku melihat kerjaku sendiri, sepertinya aku akan memecat diriku sendiri.

Dan untuk yang kesekian kali, aku membungkuk pada Yoon Ahjumma. Hanya saja kali ini aku membungkuk untuk berpamitan. Pekerjaanku telah selesai dan…saatnya aku kembali dengan rutinitas baruku selama 4 bulan terakhir, menemui Lee Donghae.

 

***

 

Aku menyesal telah mengindahkan ajakan Ny.Lee yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibu dari Lee Donghae. Aku tidak bisa mengatakan bahwa momen dapat diajak pergi berdua dengannya dalam keadaan ‘dingin’ ini, karena kenyataannya aku begitu kaku menghadapi wanita yang sudah berkepala 4 ini. Dan juga tatapan matanya yang terus mengaung padaku, bahwa ia tidak suka melihat diriku yang begitu rutin menjenguk putranya.

“Kau tidak sedang kuliah? Ku dengar, bahkan kadang pagi-pagi kau datang kemari, tepat ketika tidak ada siapapun di sini.” Aku menelan ludahku saat mendengar penekanan ucapan Ny.Lee di akhir kalimatnya. Memang benar, aku selalu menemui Donghae jika tidak ada siapa-siapa dikamarnya.

Aku tersenyum kaku, kemudian sedikit menegakkan bahuku yang terus saja merosot, “Ya. Minggu depan liburanku berakhir.” Jawabku dengan se rileks mungkin. Meskipun tenggorokanku begitu sesendatan, sesuatu yang tidak kusukai.

“Sampai kapan kau akan terus begini? Ah, seperti yang Ji Hyun katakan, sampai Donghae bangun. Benar, kan?” ujarnya setelah meneguk kopi kapucinonya, memandangku dengan penuh ratusan panah hitam.

Gadis itu mengatakan semuanya pada Ny.Lee.

“Ya, anda sudah tahu jawabannya.” Jawabku kaku.

“Kenapa? Kenapa kau begitu terobsesi pada putraku? Apa yang kau inginkan darinya?”

Shit. Aku benci tatapan matanya. Aku benci nada bicaranya. Aku benci semua keadaan yang terus saja menjajahku tanpa ampun.

Aku mencoba memberanikan diriku, tidak ingin memperlihatkan padanya bahwa begitu terpuruknya keadaanku saat ini.

Menatap matanya, dan menegakkan bahuku, dengan seulas senyum kecil yang dibuat setulus mungkin, “Karena dia terobsesi padaku, membuatku termagnet untuk terobsesi padanya, jatuh pada pesonanya, dan mencintainya. Dan…tidak ada yang ku inginkan dari dirinya. Aku hanya mencintainya, dan terus menerus berdoa, agar ia dapat segera bangun, untuk melanjutkan hidupnya…yang telah dijanjikannya untuk diikatkan bersamaku.”

Ny.Lee tersenyum kecut mendengar jawabanku, ia sedikit mengangguk-ngangguk, seolah menemukan makna lain dari ucapanku.

“Cinta…? benarkah putraku mencintaimu?” lagi, mata Ny.Lee menatapku dengan nada merendahkan.

“Itu yang selalu diakuinya terhadapku.”

“Dia memang anak yang unik, semua yang dilakukannya tidak pernah terduga. Termasuk dirimu yang begitu ingin dijadikannya sebagai partner hidup,”

Aku sedikit menaikkan alisku saat menyadari nada bicaranya yang melunak, juga tatapan matanya yang kembali normal. Tidak ada aura sinis yang menyudutkanku lagi.

“Aku bisa saja merestui kalian, tentu saja. Demi kebahagiaan putraku, kenapa tidak? Tapi selagi aku bisa, aku akan terus memberikan dan mencari celah yang terbaik untuk dirinya. Semuanya. Aku ingin selalu memantau dirinya dengan penuh di luar dan di dalam dirinya. Dan entah kenapa, aku selalu ragu dengan kehadiranmu Nona Choi.

“Dia putraku satu-satunya, juga satu-satunya harapanku dan penerus ayahnya dan juga diriku sebagai ibunya,” ia menghela napas panjang, “Dan kau mengacaukan kepercayaanku. Aku tahu, memang aku sengaja menerima tawaran perjodohan dari keluarga Kim saat itu, karena aku memang lebih percaya pada keluarga mereka dibandingkan dirimu. Tapi, seandainya Donghae memang menginginkan perjodohan itu tidak benar-benar terjadi, aku rasa dia bisa mengatasinya. Tapi kurasa malam itu dia sedang tidak dalam mood yang baik. Dia begitu mudah emosi dan setelah mendebatku, dia pergi begitu saja. Yang kuketahui setelahnya, dia ternyata menemuimu.

“Aku begitu ingin tahu, apa yang membuat dirinya begitu mencintaimu. Begitu menginginkanmu dan begitu terobsesi padamu. Tapi…aku, saat ini ingin bicara sebagai seorang ibu, bisakah kau menyerah?” suaranya parau, bibirnya agak sedikit bergetar. Aku juga sudah sering mendengar, Ny.Lee selalu menangis tiap kali membicarakan putranya. Membuat hatiku semakin terkoyak dengan perasaan bersalah.

“Bahkan, dokter sudah hampir tidak yakin dengan kemungkinan ia akan bangun. Kau tahu? Itu begitu menyiksa diriku. Aku benar-benar tidak ingin membenci keberadaanmu, tapi apa kau bisa mengenyahkan pikiran bahwa kau adalah penyebab putraku seperti sekarang ini?”

Kali ini bukan hanya Ny.Lee yang sudah mulai menangis, airmataku sudah membasahi pipiku. Sakit. Dadaku sakit sekarang. Dan aku tidak yakin paru-paruku terisi oleh udara sekarang.

“Bisakah kau berhenti? Aku mohon, lepaskan putraku…”

 

***

 

Airmataku tak kunjung juga menemui titik henti. Seperti ikut menumpahkan luapan rasa nyeri yang menohok hatiku terus menerus. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku sekarang, apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan. Rasanya, semua begitu gelap…begitu mencekamkan dan menakutkan.

Oppa, ketakutanku benar-benar terjadi.

Aku sedikit menundukkan kepalaku, mendekatkan kepalaku ke telinganya.

Sial, airmataku tidak kunjung berhenti meleleh.

“Oppa, saengil chukkahaeyo~ jinjja saranghae…” bisikku perih ditelinganya.

Aku tahu, bukan hanya aku yang menangis disini, tapi juga Ny.Lee yang memperhatikanku dari belakang, ditemani oleh Kim Ji Hyun yang ikut menonton drama yang begitu miris ini.

Akupun menjauhkan kepalaku, namun tetap membungkuk memperhatikan setiap lekuk wajahnya yang pastia kan sangat kurindukan, aku takut benar-benar takkan pernah bis amelihatnya lagi untuk waktu berikutnya. Tidak. Mungkin memang tidak, meskipun seandainya ia bangun.

Ah, tidak. Oppa pasti bangun.

“Oppa…terimakasih…untuk segalanya. Kau tahu oppa? Kurasa aku memang benar-benar tidak beruntung karena hanya terkungkung oleh satu pria yang memiliki sejuta pesona dan berhasil membuatku begitu terobsesi dan mengenal cinta karenanya, oppa saranghae…and…goodbye…”

Kulepas cincin yang tertaut indah di salah satu jariku. Aku ingat bagaimana ia melamarku saat itu. Masih membekas dengan hangat di memori otakku. Dan sekarang, aku akan melepaskannya, melepaskan Lee Donghae-ku dan juga mungkin akan belajar untuk hidup tanpanya, dan membukukan segala tentangnya dalam bentuk kenangan di otakku.

Ku taruh cincin itu di telapak tangannya yang tak bergeming sama sekali, diiringi dengan airmata yang tak kunjung berhenti dan malah ikut-ikutan membasahi tangannya.

“Saranghae…” bisikku sekali lagi. Begitu melelahkan jika dipikir-pikir, mencintai seseorang yang bahkan semua orang tidak berharap dia ada disisiku. Seberapa sakit? Jangan tanyakan. Ini pertamakalinya aku merasakan perasaan sesakit ini…ah, aku jadi ingat eomma. Apakah eomma merasakan sakit seperti ini juga ketika appa memutuskan untuk meninggalkannya dan tenggelam dalam…neraka dunianya?

Aku menelan ludahku yang terasa pahit.

Sial…memori itu menguar begitu saja…

 

“Hei, kau…Choi Ji Eun?” Donghae menarik bahu Ji Eun, matanya begitu sibuk menjamah papan nama Ji Eun yang berada di seragam gadis SMP itu.

“Ya, aku…oppa…siapa?” tanya gadis itu kemudian. Bingung dengan kehadiran seorang pria yang tiba-tiba datang dan langsung menebak namanya. Bukankah itu cukup menakutkan? Ia sama sekali tidak mengenal pria dihadapannya.

“Aku penggemarmu, Lee Donghae.”

“Mwo?”

 

 

“Kukira kau tidak akan mau menerima ajakanku, setelah sebelumnya beberapa kali kau menolak keberadaanku.” Celoteh Donghae sambil memperhatikan gadis kecil idamannya yang begitu sibuk berkutat dengan es krim porsi jumbonya.

Gadis kecil itu mendongak, menatap mata jernih milik Donghae, “Oppa terlalu tampan untuk menjadi orang jahat, oppa juga terlihat baik. Jadi menurutku, tidak ada salahnya untuk menerima traktiran semangkuk eskrim. Aku sangat suka eskrim.” Sahut gadis kecil itu dengan asal, sekarang gadis itu sudah memakai seragam SMA sejak seminggu lalu.

Donghae tersenyum kecil, merasa begitu bangga dan senang ketika gadis kecil itu memujinya secara tidak langsung, “Apakah benar aku tampan?” tanya Donghae semangat.

Ji Eun mengangguk kecil, “Apakah sebelumnya tidak ada yang pernah mengatakan bahwa oppa tampan?”

Polos. Gadis itu masih begitu polos, tapi entah setan apa yang berhasil membuatnya begitu terpesona pada gadis kecil itu.

“Kalau begitu, kau mau jadi pacarku?” tanya Donghae langsung. Tidak peduli bagaimana dnegan respon gadis itu yang sudah membulatkan matanya, dengan mulut menganga lebar.

“Pacar…? oppa bercanda?” gadis itu terkikik kecil, merasa Donghae begitu lucu dengan leluconnya, “Bahkan aku tidak tahu rasanya menyukai seseorang, apalagi berpacaran. Dan dengan oppa pula? Aigo~” Ji Eun menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar merasa pria yang sudah berstatus mahasiswa dihadapannya itu begitu aneh.

“Kalau begitu, kau bisa belajar menyukai seseorang dariku. Kau bisa memulainya padaku, menyukaiku pasti tidak sulit. Bagaimana?”

 

 

***

 

Satu jam setelah kepergian gadis itu, juga setelah gadis itu menangis sesenggukan di depan kamar inap putranya, Ny.Lee hanya memandang ksosong ke arah putranya yang masih di kerubuni benda-benda medis yang begitu menyakitkan matanya. Begitu menyakitkan.

Ny.Lee kemudian beralih memandnag cincin di tangan putranya, ia sengaja tak mengambilnya. Ia ingin membiarkan putranya menggenggam cinta yang sempat diberikannya pada Choi Ji Eun itu.

Tiba-tiba tanpa sengaja, ia melihat tangan putranya bergerak. Mata Ny.Lee membulat sempurna, kemudian sibuk menjelajah setiap inci wajah putranya dengan was-was. Dan tanpa diduga-duga, Lee Donghae membuka matanya, membuat sejuta kupu-kupu terbang membawa kelegaan yang teramat sangat dari Ny.Lee.

“Hae…kau bangun?”

Pria itu tersenyum lemah ke arah ibunya, ia sangat merindukan ibunya. Berapa lama ia tak melihat ibunya? Rasanya keadaan ibunya tak begitu bagus dimatanya sekarang, “Eomma…” Lirihnya kemudian.

 

***

 

The End.

05/10/13-06/10/13

10:40PM

Iklan

2 thoughts on “Losing You

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s