Regret

Title     : Regret

Author : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Genre  : molla ._.

Rating : G

Length : Oneshot

***

 

Musim Panas 2014.

Aku kembali menjatuhkan kepalaku di atas meja baca perpustakaan umum Seoul. Sedikit frustasi –ah tidak. Aku benar-benar frustasi dengan buku yang tengah menjabarkan sejarah Cina tersebut. ini lebih sulit ketimbang menyelesaikan soal matematika yang noetabennya merupakan musuh bebuyutanku sejak zaman sekolah dulu. dan sialnya, judul untuk karangan ilmiahku –yang kukira memang sedikit keren karena berbeda dari yang lain- lebih daripada sulit.

Tidak. Bukan soal pembahasannya. Tapi buku sumber dan tentunya…aku harus membaca semuanya.

Aku pun langsung menegakkan kepalaku dan kembali menatap buku dengan cover berwarna merah terang –seperti warna khas Cina, merah. Lambang keberuntungan. Dan aku hampir kembali tenggelam dalam bacaan yang sedikit membosankan ini jika saja ponselku tidak berdenting. Satu pesan Kakao dari…

Aku pun dapat merasakan napasku yang sempat terhenti saat membaca nama yang tertera di sana. Nama pengirim pesan singkat itu…

 

***

 

Aku tahu dia akan menyesal.

Aku tahu dia akan kembali.

Aku tahu dia merasakan kehilangan yang aku yakini akan jauh lebih besar daripada yang aku rasakan.

Aku tahu dia membutuhkanku.

Dan…aku sama sekali tidak pernah siap dengan hal itu karena…kenyataannya aku hanya menganggap semua itu hanya sebatas imajinasiku belaka.

Aku tersenyum kecut sambil memandangi layar ponselku yang masih menampilkan pesan Kakao tadi. Aku tahu ini kelewat konyol dan kekanakan. Mengingat pesan singkat itu tak lebih dari satu kata dengan tambahan tanda tanya di belakangnya.

‘Nuna?’

Aku menelan ludahku dengan susah payah. Dan dengan dramatis, aku membuang mukaku dan menutup layar ponsel yang menurutku agak menyebalkan itu.

Aku senang?

Tidak. Kurasa tidak. Aku masih ingat bagaimana rasanya perasaan senang dan aku tidak merasakannya tadi.

Aku kesal?

Oh, tentu. Meskipun reaksi itu baru muncul beberapa saat lalu saat aku baru menyadari satu hal…dia kembali setelah mencampakkanku setahun lalu. Baiklah. Itu berlebihan. Lalu apa namanya jika dia mengabaikanku begitu saja tanpa alasan jelas?

Dan…oke. aku bukan siapa-siapanya dan dia hanya menganggapku sebagai teman meskipun dia memanggilku nuna –meskipun umur kami hanya berjarak seminggu. Dan mengingat itu, entah kenapa rasa kesal itu berubah menjadi aura gelap yang sempat kulupakan rasanya. Perasaan yang sama dengan beberapa bulan lalu ketika aku berjanji…aku mengharamkan airmataku untuknya. Aku tidak akan membiarkannya kembali dalam kehidupanku. Aku takkan memaafkannya…

Terlepas dari kenyataan bahwa dia salah satu kelemahanku. Terlepas dari kenyataan bahwa aku menyukainya…terlalu menyukainya mungkin. Layaknya seorang idiot yang menghitung hari untuk kepulangannya padahal dia tak pernah kembali untukku…

Aku pun mendengus pelan. Kembali kutatap layar ponsel yang sedikit beraura sama dengan perasaanku itu. Dengan gerakan lamba, aku pun membalas pesan kakao tersebut…

‘ya?’

Demi Tuhan. Aku hanya membalasnya dengan satu kata yang tak kalah pendek dari yang dikirimkannya. Tapi aku tahu, sesingkat apapun, sekecil apapun dan sesepele apapun…dia bukan seseorang yang memiliki cerita singkat yang memberikan efek kecil dan dianggap sepele untuk hidupku…

 

***

 

Aku tersenyum puas saat membaca pesan singkat kakao miliknya yang masuk kemarin malam. Tidak. Aku bukan senang karena pesan singkatnya. Tapi aku tersenyum karena…dia akhirnya menyadari keberadaanku.s

Baiklah. Anggap aku ini ‘setan kecil’ yang berpura-pura baik dihadapannya. Karena aku tak lagi menyambutnya sama seperti aku menyabutnya setahun lalu.s aku tidak berpikir bahwa kami masih teman yang sama…

Dia hanya datang saat dia membutuhkanku, lalu mencampakkanku setelah ia tak lagi membutuhkanku. Aku tidak masalah, tentu saja…tapi itu pada awalnya. Aku menyukai dan dia tak pernah mempertimbangkannya. Dia bisa anggap ini lelucon…tapi aku serius…hatiku tidak pernah bisa berbohong soal perasaan.

“Lalu kenapa kau tak mengatakan padanya jika kau memang membencinya?” tanya sosok bayanganku dengan penampilan berseragam seperti 3 tahun lalu.

Aku hanya tersenyum kecut dan kembali menjatuhkan tubuhku di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang sebenarnya tidak jauh lebih menarik.

“Bagaimana caranya?” tanyaku balik tanpa menoleh pada bayanganku itu yang kini sudah ikut berbaring di sampingku.

“Kau kan ketus, keras kepala, egois. Aku tidak percaya jika kautidak bisa bersikap tegas di depannya.” Katanya setengah mengejek…atau diriku sendiri yang tengah mengejek?

“aku tahu. Jika aku bisa aku sudah melakukannya sejak lama.”

“kau hanya perlu konsisten…” tiba-tiba ia menepuk pundakku, “Jika kau ingin meninggalkannya karena telah menyakitimu, tinggalkanlah. Tapi jika kau merasa kau masih bisa bertahan dengan kondisi seperti ini, coba saja pertahankan.”

Aku pun hanya mengangguk tanpa maksud apapun.

Kemudian aku pun bangkit dan langsung membongkar laci meja belajarku. Mencoba mencari sisa-sisa buku harian lama yang sekiranya masih layak untuk kukenang. Entahlah. Kupikir, masalaluku terlalu kekanakan karena yang kutulis takkan pernah jauh dari seputar ….aku merindukan sahabatku dan aku mencintai laki-laki itu.

Dan setelah menemukan satu diari yang kucari. Aku langsung mencari-cari lembar kertas yang dulu sempat kusimpan. Sebuah lirik lagu sederhana milik 2AM yang entah mengapa begitu tepat untuk perasaanku –dan lagi-lagiitu kekanakan.

 

(2am-Regret)

It was a sunny day when our love started
We were so happy, I loved you so much
Now it’s over, everything is over, my heart hurts so much
I don’t know what to do, I still can’t get over you

You’ll regret this, I will forget you, even if I’m like a fool, I will forget you
I get determined and promise myself even though I can’t forget our love
Even though I will think of you again

I cry and cry and cry like this because it’s so frustrating
I cry and cry and cry again because I’m so angry
What do I do? Don’t go like that, I will die
What do I do? What do I do? What do I do?

I will smile, I will forget you, I will live well for all to see
I’m such a fool, I’m a fool
Because I will draw you out in tears because I can’t forget you

I cry and cry and cry like this because it’s so frustrating
I cry and cry and cry again because I’m so angry
What do I do? Don’t go like that, I will die
What do I do? What do I do? What do I do?

Today is sunny as well
Just like the day we met
But you aren’t by my side

I cry and cry and cry like this
I cry and cry and cry again and now I finally realized
What do I do? Don’t go like that, I will die
What do I do? What do I do? What do I do?

 

***

 

24/07/14 13:09PM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s