RESET

Title     : RESET

Author : Chang Nidhyun

Cast     : Cho Kyuhyun, Kim Ji Hyun

Genre  : Romance, AU

Length : Oneshot

Rating : T

Note    : Saengilchukkahaeyo Kyuhyun Oppa ^^

***

 

“Kau menyebalkan! Inikah yang Seoul lakukan padamu?! Merubahmu sejauh ini?!” Pekik seorang gadis berambut panjang dengan mata memerah menatap emosi ke arah pria di hadapannya. Dan sialnya, seberapa marah ia pada pria itu, tetap saja kenyataan berteriak bahwa pria itu bukan siapa-siapa si gadis. Membuatnya tertohok sakit jika terus mengingatnya.

Ternyata, seorang teman jauh lebih tidak berharga, bukan?

Dan si pria? Pria itu sama emosinya dengan si gadis. Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi ia benar-benar kehabisan kata-kata. Ia selalu menganggap benar apa yang diucapkan gadis itu padanya. Semuanya. Dan sayangnya, meskipun hati kecilnya membenarkan, Kyuhyun sama sekali tidak memiliki keinginan untuk memperbaiki hubungannya dengan gadis itu. Ia sudah memiliki orang lain yang jauh lebih baik daripada gadis itu, jauh lebih sempurna. Dan gadis itu, mungkin selamanya ia akan menjadikannya sebagai kenangan belaka.

“Kau memuakkan Cho Kyuhyun!” gadis itu mendesis tajam sebelum akhirnya ia pergi, meninggalkan pria itu dengan dentuman sakit yang cukup kuat. Yang sayangnya, sama sekali tidak disadari oleh pria bernama Cho Kyuhyun itu.

Dan si gadis itupun, benar-benar menjauh. Ia sudah lelah dengan segala kelakuan Kyuhyun. Persetan dengan apa yang terjadi padanya berikutnya, ia tidak mau peduli lagi. peduli pada orang yang tidak ingin di pedulikan? Gadis itu berjanji, ia tidak akan melakukannya lagi.

Dan pria itu, Cho Kyuhyun. dia hanya menyeringai kecil. Merasa konyol dan menyesal telah mengenal gadis bernama Kim Ji Hyun itu. Yang tanpa disadarinya, ada perasaan kecewa ketika sadar gadis itu benar-benar berniat meninggalkannya.

“Dasar arogan!” pekik gadis itu lagi saat jarak mereka sudah sangat jauh.

Dan Kyuhyun, benar-benar hanya bisa diam dan mencerna ucapan Ji Hyun. Dia benar-benar ingin menolak ucapan gadis itu, tapi sialnya ada bagian dari dirinya yang justru menerimanya dengan senang hati. Arogan….? benarkah…?

 

***

 

“Kau tahu, hal yang paling memuakkan dari dirimu adalah saat kau sudah berkencan dengan laptopmu dan melupakan masih banyak orang-orang yang nyata, dan berharap kau memeperhatikan mereka.” Eun Hye mengkritik asal pada Ji Hyun saat gadis itu tak juga bergeming saat Eun Hye begitu sibuknya mengoceh mengeluh ini itu soal kuliahnya. Dan sayangnya, yang di tanya sama sekali tidak terlihat tertarik.

Ji Hyun menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya. Ia mendengarkannya. Hatinya berteriak keras, hanya saja ia memiliki beberapa deadline soal tulisannya. Ia yang sudah resmi menjadi seorang penulis, dan begitu mencintai dunia tulisan, sudah pasti akan sangat menikmati waktunya yang seperti ini dan menolak jika dikatakan ia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, buktinya ia mendengarkan Eun Hye.

“Kau terlalu sering mengeluh.” Ji Hyun balas berkomentar. Namun, Eun Hye masih tidak puas karena gadis itu tetap berkutat dengan laptopnya.

“Aku tidak suka berbicara pada orang yang tidak ingin menatapku.”

Ji Hyun pun memutar bola matanya malas, come on! Sahabatnya itu 1000x lebih cerewet daripada Ji Hyun sendiri. Padahal saat zaman SMA dulu, Ji Hyun merupakan gadis paling cerewet menurut teman-temannya. Dan sekarang? Ia mungkin bisa menyeret Eun Hye dan berkata pada teman-teman SMA-nya jika Eun Hye lah gadis paling cerewet, bukan dirinya.

“Aku bukan kekasihmu, jangan gunakan kata ‘menatapku’.”

“Memangnya kenapa?”

“Aku geli mendengarnya.”

“Aku tidak.”

“Kalau begitu tutup mulutmu, aku sibuk.”

Eun Hye mendengus sebal, kemudian menyandarkan punggungnya ke punggung kursi yang di dudukinya. Gadis di hadapannya ini menjengkelkan. Kerjaannya hanya menulis, menulis, menulis.

“Kau tahu, kan? Donghae menyukaimu?” Eun Hye tiba-tiba memajukan tubuhnya ke arah Ji Hyun.

Kali ini mata Ji Hyun mau menoleh ke arah Eun Hye, “Tidak.”

Eun Hye tergelak mendengarnya. Bahkan ia berharap ia baru saja mendengarkan sebuah lelucon terlucu yang pernah di dengarnya. Namun, ia tetap melanjutkan.

“Tentu saja, karena kau terlalu sibuk dengan laptopmu,”

“Lalu?”

“Astaga Hyunnie! Kurasa kau perlu pergi ke psikiater!”

Semua orang selalu mengkritiknya. Ji Hyun tertawa kecut dalam hati. Tangannya masih begitu sibuk bermain di atas keyboard yang seolah melambai ke arah Ji Hyun. Tapi ia tidak akan lupa, bagaimana seseorang selalu mendukungnya dari belakang. Bagaimana orang itu selalu mengerti keadaan dirinya. Bagaimana orang itu selalu siap menjadi pendengarnya. Dan…Ji Hyun menyukai orang itu. Sampai Ji Hyun berada dalam puncak harapan tertingginya.

Dan sayangnya, kenyataan berkata lain. Pria itu sama sekali tidak pernah menatapnya lebih dari sekedar teman.teman teman teman. Pria itu selalu mempertahankan persepsinya soal hubungan mereka, bahkan pria itu juga masih sempat menahannya saat Ji Hyun mengakui perasaannya pada pria itu.

Dan ingin tahu apa yang dikatakannya? Teman tidak pernah berakhir, teman tidak pernah menemui kata usai. Dan kenyataannya? Pria itu yang mengakhiri hubungan pertemanan mereka. Pria itu yang menginginkan kata usai untuk pertemanan mereka. Karena obsesinya, kearoganannya, dan seorang gadis yang sempurna untuknya.

Dan itu…bukanlah Ji Hyun.

Mendadak jemari Ji Hyun kehilangan gairahnya untuk tetap menari di atas keyboard. Sakit. Dadanya mendadak sakit saat mengingat semuanya. Ia bahkan merasa, ia tidak akan pernah lupa, bagaimana ia pernah mencintai seorang pria sedalam itu. Bahkan meskipun waktu telah menginjak kata tahun, tapi perasaannya tidak tertarik untuk hengkang.

Ji Hyun…terlalu mengenal pria itu. Ia terlalu tahu banyak, ia terlalu percaya, dan ia terlalu…terobsesi pada pria itu. Berkebalikan dengan pria itu.

Tapi tetap saja hati kecil Ji Hyun tidak menerimanya. Tidak semudah itu. Ji Hyun selalu berpikir sudah cukup ia mengikhlaskan segala yang terjadi. Ini juga keputusannya bukan? Ia tidak boleh menyesalinya. Meskipun hati kecilnya menjerit frustasi, ialah yang menemani pria itu selama masa susahnya. Ia tidak meminta imbalan, tapi setidaknya…ia ingin pria itu dapat memperbaiki dirinya. Dan hari itu, Ji Hyun hanya berusaha mengatakan pada pria itu, bahwa pria itu salah. Dan kenyataannya? Ia gagal mengutarakannya.

Tes…airmata itu kembali jatuh. Ia merindukan Kyuhyun-nya. Ia merindukan pria itu…sangat. dan sialnya, pria itu takkan pernah memiliki perasaan yang sama dnegan Ji Hyun.

“Hey, kau kenapa?” tanya Eun Hye bingung saat melihat Ji Hyun justru menteskan airmatanya.

“Jangan katakan kau terlalu mengkhayati ceritamu.” Ketus Eun Hye membayangkan jika Ji Hyun menangisi cerita khayalannya sendiri. Cish! Untung dia tidak suka jenis fiksi apapun.

Tapi Ji Hyun tetap bergeming. Entah mengapa otaknya sibuk bernostalgia sekarang. Pria itu…pria yang membuatnya tidak bisa melihat pria lain. Dan sayangnya, pria itu tidak pernah mencoba melihat ke arahnya. Ia benar-benar frustasi sekarang. Tapi apa yang bisa dia lakukan?

Ah, benar. Hanya menerima keberadaan pria lain, seperti Donghae, mungkin? Pria itu saja melupakannya, lalu kenapa Ji Hyun tidak? Ya. benar. Ia hanya perlu melakukannya.

Dan mulai berhenti mencintai Cho Kyuhyun…

 

***

 

“Berhenti mengikutiku!” bentak Kyuhyun pada gadis yang mengikutinya dari belakang, membuat gadis itu hening dalam beberapa detik.

“Kau selalu saja berteriak,” sungut gadis itu emosi. Ia benar-benar merasa jengkel sekarang, pria itu tidak pernah membentaknya. Tapi sekarang? Marah, marah, dan hanya marah.

Kyuhyun mendengus panjang, menyiratkan betapa emosinya ia saat ini.

“Aku pusing, maafkan aku. Semua targetku berantakkan.” Kyuhyun pun melunak, ia sedikit menundukkan kepalanya, entah menatap apa, yang pasti ia merasakan lelah yang amat luar biasa sekarang.

“Tenang saja, semua akan baik-baik saja.” Gadis itupun menyentuh pundak Kyuhyun, mulai menyalurkan semangatnya untuk Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat kepalanya perlahan, menatap kedua manik mata gadis itu. Juga membalas senyum hangat gadis itu. Gadis yang selama ini menemaninya, gadis yang diharapkan selalu dapat berada disini dan tidak pernah meninggalkannya. Gadis yang sangat berarti untuknya.

Dan…

Deg.

Kyuhyun menggeleng pelan. Entah otaknya rusak atau apa, ia…tiba-tiba merindukan gadis itu. Gadis yang telah lama kehilangan jejak dalam dirinya. Gadis yang selalu berteriak agar Kyuhyun tidak lemah. Dan hal yang menyinggungnya, saat ia berkata bahwa Kyuhyun terlalu cengeng untuk ukuran laki-laki, dan dia tidak suka pria cengeng.

Gadis kekanakan yang sangat berisik.

“Kau kenapa?” tanya gadis itu lembut, tepat di samping telinganya.

Kyuhyun sedikit tersentak, seolah ditarik paksa untuk tetap berada di dunia nyata. Iapun mendongak ke arah gadis itu dan hanya menggeleng sambil tersenyum, “Tidak ada, mungkin aku hanya lelah.”

Ji Hyun pun mengangguk, “baiklah. Kau pulang sekarang.”

 

***

 

Donghae mendengus geli saat melihat Ji Hyun lagi-lagi memborong banyak buku. Dan setelahnya, pasti gadis itu melupakan tugas kuliahnya demi tulisan-tulisan tidak berharga itu. Dan kemudian, ia akan tenggelam pada laptopnya karena merasa terinspirasi untuk menuliskan cerita-cerita brilian –menurut pembaca novelnya- dan mengerikan untuk Donghae. Tapi Donghae suka, karena itu dapat membuat gadis itu tersenyum.

“Kau yakin, bisa menyelesaikannya sampai akhir februari nanti?” tanya Donghae tak yakin saat melihat 7 novel sekaligus yang di borong Ji Hyun. Dan perlu di garis bawahi, semua novel itu memiliki jumlah halaman yang cukup banyak.

Ji Hyun menolehke arah Donghae dengan tatapan bingung, “Apanya?” tanya gadis itu polos.

Donghae pun melipat tangannya di depan dada, “Novel itu.”

Ji Hyun menoleh ke arah novel-novelnya yang sudah duduk manis di atas keranjang belanjanya, kemudian tersenyum lebar ke arah Donghae, “Tentu saja! Bagaimanapun aku suka membaca, kau tahu itu.” Balas gadis itu bersemangat.

Gadis aneh dan membosankan. Itu penilaian Donghae soal Kim Ji Hyun. Tapi entah kenapa, ia justru tertarik pada gadis sejenis Ji Hyun.

“Tapi…Oppa, kau bilang apa? Bulan ini bulan Februari?” tanya Ji Hyun agak terkejut. Ia hampir melupakan sesuatu.

Donghae menautkan alisnya melihat ekspresi Ji Hyun, kemudian mengangguk. “Memangnya kenapa?” tanyanya penasaran.

Ji Hyun mendengus pelan. Ah, ternyata sebentar lagi ulangtahun pria itu. 2 hari lagi. dan Ji Hyun selalu terkenang bagaimana antusias dirinya ketika menghadapi bulan Februari. Tapi sekarang, Februari kehilangan daya tariknya.

“Ji Hyun…?”

Ji Hyun tersentak dan buru-buru menggeleng, “Tidak ada.” Kemudian ia menipumata Donghae dengan senyum lebarnya.

Hanya Kyuhyun yang tidak pernah bisa ditipu dengan mimik wajahku.

 

***

 

“Siapa yang akan undang di acara besok?” tanya Kyuhyun pada Jin Ah –salah satu teman kuliahnya-. Ia menanyakan soal acara bedah buku yang cukup besar-besaran untuk kampusnya. Dan tentunya, Jin Ah yang merupakan penggila buku sudah memiliki orang-orang tertentu yang akan diundangnya.

Kemudian, gadis itu mulai menyebutkan orang-orang yang akan diundang, dan jantung Kyuhyun mencelos saat mendengar satu nama yang tak asing di telinganya. Ia yang sedang sibuk dengan beberapa lembar kertas di hadapannya, langsung mendongak menatap Jin Ah.

“Tunggu dulu, siapa katamu?” tanya Kyuhyun menghentikan langkah Jin Ah saat ia hendak pamit tadi.

“Tadi, Ariel Kim? Kau mengundangnya?” tanya Kyuhyun masih dnegan ekspresi yang tidak bisa dibaca oleh Jin Ah.

Dengan agak bingung, ia mengangguk, “Hmmm. Kau mengenalnya? Novelnya cukup terkenal.”

Kyuhyun mengangguk, “Ya. aku kenal.”

Jin Ah kemudian terkikik, “Kupikir kau tidak suka novel romantis.” Jin Ah setengah meledek Kyuhyun, kemudian meninggalkan Kyuhyun yang tersenyum hambar.

Ia bukan mengenal gadis itu lewat tulisannya, tapi ia mengenal gadis itu. Ia tahu Ariel Kim, alias Kim Ji Hyun. Dia, sejak sebelum menjadi penulis sungguhan, selalu menggunakan nama Ariel Kim untuk nama penanya. Jauh sebelum ia seperti sekarang, saat ia masih berstatus sebagai siswi dan sering mengabaikan ocehan guru didepan kelas dan lebih memilih menulis cerita fiksi di buku tulisnya. Keterlaluan? Itulah Ji Hyun. Dan tidak ada yang bisa menghalanginya.

Mendadak…ia benar-benar merasa merindukan gadis itu.

 

***

 

Ji Hyun membenarkan ikata rambutnya sebelum melangkahkan kakinya masuk ke Kyunghee University. Ia tidak ingin acaranya kacau dan image-nya turun karena penampilannya berantakkan, ia bahkan memaksa Eun Hye untuk memilihkan pakaian. Demi event sederhana, sebuah bedah buku.

Entah karena ada Lee Sungmin yang merupakan sesama penulis dengannya –sekaligus penulis favorit Ji Hyun- atau yang lainnya, yang pasti ia tidak ingin terlihat mengecewakan.

Ji Hyun berjalan perlahan di antara koridor yang tidak terlalu dipadati mahasiswa, ia terus berjalan sambil mencari-cari aula yang di sms-kan oleh Choi Jin Ah, salah satu panitia di acara ini, juga gadis yang mengundangnya.

Dan sepertinya, ia akan tersesat sekarang. Hingga ia berinisiatif untuk bertanya pada salah satu mahasiswa di hadapannya.

“Cogiyo, kau tahu dimana ruangan aula? Aku diundang di acara bedah buku hari ini,” ucap Ji Hyun pada pria yang sedang memandangi mading di depannya.

Dan saat pria itu menoleh ke arahnya, Ji Hyun merasakan dunianya berhenti berputar. Napasnya terhenti seketika, begitu kontras dengan jantungnya yang berdetak menggila. Semua perasaan yang selama ini di timbunnya, seolah meledak keluar saat ia menatap mata pria itu. Mata yang selalu dirindukannya.

“Hyeong?” hyeong? Ji Hyun tertawa mengejek dalam hati. Kata bodoh macam apa itu? Itu panggilannya untuk Kyuhyun dulu. Dan sekarang ia masih memanggil pria itu dengan sebutan hyeong? Panggilan kesayangan? Mungkin setelahnya Kyuhyun akan teratwa puas. Puas karena aku tidak pernah bisa melupakannya.

Kyuhyun yang sama terpakunya dengan Ji Hyun, justru hanya berkata lirih, “Nuna?” nuna? Kyuhyun mendengus jengkel. Kenapa ia masih menyebut gadis itu dengan panggilan aneh itu? Hyeong, Nuna. Umur mereka sebenarnya sama, tapi Kyuhyun sendiri lupa bagaimana mereka bisa saling memanggil dengan panggilan aneh itu.

Ji Hyun menggeleng pelan dengan cepat, kemudian membungkukkan badan. Ia ingin mengakhiri segalanya dan pria ini muncul kembali? Kurang ajar sekali, bukan?

“Maaf, aku akan bertanya pada yang lain.” Ji Hyun berbicara formal, kemudian ia melangkah hendak meninggalkan Kyuhyun.

Dan entah atas dorongan apa, Kyuhyun justru menahan tangan Ji Hyun, seperti yang selalu dilakukanya saat Ji Hyun marah padanya dulu. Apapun itu, Kyuhyun pasti menahan Ji Hyun. Dan Kyuhyun sendiri tidak terlalu ingat dengan apa saja yang mereka pertengkarkan.

Dan sekarang, Ji Hyun mengaung dalam diam. Ia benar-benar ingin menampar Kyuhyun, ingin berkata bahwa ia membenci pria itu sekarang. Tapi lidahnya kelu, tubuhnya kaku, seolah-olah semua itu tidak layak untuk di lakukannya.

Ji Hyun berbalik perlahan, “Tolong, lepaskan.” Ucapnya dingin.

“Kau…tidak berubah.” Ucap Kyuhyun terbata. Entah apa yang ingin dikatakannya. Ia terlalu terkejut, juga…terlalu tidak siap untuk menerima jutaan terjangan rindunya saat ini. Dan entah mengapa, ada sedikit pemikiran, ia menyukai…gadis itu. Dan pemikirannya beberapa detik lalu langsung diralatnya.

Ji Hyun terkekeh hambar, “Tidak ada alasan untuk aku berubah.” Jawabnya tanpa melihat ke arah Kyuhyun, “Sekarang lepaskan aku. Aku bisa terlambat.” Ji Hyun pun menarik tangannya. Dan gesekan kulitnya dengan Kyuhyun, seperti sayatan silet yang baru saja menyayat kulitnya, juga hatinya. Perih.

“Tidak ada yang ingin kaukatakan lagi padaku?” Kyuhyun mengutuk lidahnya sendiri. Lidahnya sama sekali tak terkendali. Entah apa yang dipikirkannya, ia hanya tertarik pada gadis ini. Tertarik untuk mengulang semuanya, semua tentang mereka.

Ji Hyun mendongak, “Tidak ada.” Jawabnya singkat, dan benar-benar siap pergi kembali.

“Tapi aku membutuhkanmu. Aku…merindukanmu. bisakah kita menekan tombol reset…untuk mengulang semuanya?”

Ji Hyun merasa dunianya berhenti kembali. Entah apa yang dirasakannya sekarang. Terlalu buram. Abu-abu, dan…entahlah. ia merasa khawatir jika Kyuhyun akan membuatnya terluka kembali, seperti dulu.

Ji Hyun hanya diam, dan terus melanjutkan langkah kakinya.

“Mianhae…” desis pria iru kemudian. Namun telinga Ji Hyun masih dapat menangkapnya.

“Semua…salahku.”

 

***

 

Donghae menatap Ji Hyun dalam, ia sebenarnya ingin menarik ucapannya kembali beberapa saat lalu. Tapi terlambat. Sekarang gadis itu sudah diam tanpa kata sedikitpun, seolah begitu terpengaruh dengan ucapan Donghae.

Dan tentu saja Donghae tidak buta soal gadis itu. Ia sudah membaca tulisannya di blog pribadinya. Semuanya. Semua tentang Kyuhyun hingga ia tahu Kyuhyun mana yang dimaksud Ji Hyun. Donghae kecewa? Tentu saja, karena siang ini Ji Hyun kembali menemui cinta lamanya. Pria yang selama ini menjadi motivator tersirat Ji Hyun.

Dan di kafe ini, Ji Hyun terlihat hanya merenung. Mungkin merenungkan ucapan Donghae?

“Aku selalu tidak bisa untuk tidak melihatnya,” Ji Hyun akhirnya bersuara sembari menunduk, “Ini kenyataan memuakan. Seorang Cho Kyuhyun terlalu kuat untuk hidupku ternyata, dan dia terlalu egois untuk membuka matanya.” Ji Hyun masih melanjutkan ucapannya.

Donghae paham tanpa perlu mendengarkan kelanjutan ucapan gadis itu. Lalu ia menggenggam tangan gadis itu dan tersenyum penuh arti, “Lakukan apa kata hatimu, kau tahu? Itu ciri khas mu yang aku sukai, memaafkan seseorang dengan tulus, juga mencintai seseorang dengan tulus.”

“Aku tidak merasa tulus.” Bantah gadis itu, “Aku selalu berharap dia selalu menjadi milikku, tetap disisiku tanpa menjauh sesenti pun.”

“Kau tidak tahu? Karena kau menyukainya. Dasar penulis payah, kenapa kau tidak bisa membaca perasaanmu sendiri, eoh?” canda Donghae mencairkan suasana. Meskipunterkecap pahit.

Dan Ji Hyun kembali bergeming, dengan mata terus emnatap wajah Donghae.

 

***

 

Kyuhyun berjalan cepat menuju SMA-nya dulu. Ia tidak tahu apa yang membuatnya seantusias ini. Padahal, pagi tadi ia merasa sangat terkejut saat Ji Hyun tiba-tibamengiriminya pesan bahwa ia ingin bertemu dengan Kyuhyun di halaman belakang Sma mereka dulu.

Kyuhyun sebenarnya masih ada kelas, tapi entah mengapa ia merasa ia tidak ingin melewatkan momen ini. Dan sore ini, Kyuhyun nekat untuk meninggalkan segalanya demi seorang Ji Hyun. Bahkan melupakan Young Mi, gadis yang selama ini di gemborkan Kyuhyun sebagai ‘putri’ untuk hatinya. Namun, entah mengapa sekarang segalanya agak hambar.

Dan Kyuhyun tersenyum lebar saat benar-benar melihat Ji Hyun sedang berjongkok, menyiapkan sesuatu. Entah apa, tapi gadis itu terlihat begitu serius.

Setelah berada di dekat gadis itu, Kyuhyun sama sekali bingung. Entah karena faktor usia, atau karena ia sudah lama tidak bertemu Ji Hyun, atau juga karena…mungkin ia takut Ji Hyun masih membencinya. Menyebutnya arogan dan menyebalkan. Ah, ralat. Kyuhyun memang selalu di cap menyebalkan oleh Ji Hyun,d an Kyuhyun udah kebal dengan kata itu.

“Kau sudah datang?” Ji Hyun berdiri dan membuat Kyuhyun mengerjap beberapa kali.ternyata gadis ini menyadari kedatangan Kyuhyun?

Kyuhyun hanya mengangguk. Terlihat sangat bodoh sekali. Pasti. Dan Kyuhyun bersyukur ia tidak dapat melihat wajahnya sendiri.

Gadis itu tidak tersenyum lebar seperti biasanya, membuat Kyuhyun semakin gugup dan tidak tahu harus berbuat apa atau mengatakan apa.

“Aku masih ada urusan setelah ini, jadi…langsung saja.” Ji Hyun membalikkan badannya dan mengambil sesuatu di belakangnya.

Kyuhyun membulatkan matanya saat melihat kue tart yang berada di depan wajahnya saat ini. Ji Hyun masih tidak tersenyum, tapi tatapan itu cukup menghangatkan bagi Kyuhyun. Kemudian, Kyuhyun sadar, gadis ini akan merayakan ulangtahunnya. Betapa terharunya Kyuhyun sekarang, jadi…gadis ini tidak pernah melupakannya? Ah, ia lupa. Ji Hyun memiliki ingatan baik untuk kespesifikkan orang yang penting untuknya.

Dan itu artinya…Kyuhyun penting untuk gadis itu?

“Tiup lilinnya. Saengilchukkahaeyo Hyeongnim~”

Kyuhyun menikmatinya. Nada bicara gadis itu, juga panggilan itu. Ia sekarang takkan membantah lagi, ai memang merindukan segala yang ada pada diri gadis ini.

Kyuhyun mengangguk, kemudian meniup lilin yang berada di atas kue itu. Seolah ikut tersenyum dan merayakan kebahagiaan di hati Kyuhyun.

“Ambil ini, kau tahu aku tidak suka kue basah.”

Kyuhyun tersenyum kecil, “Kau masih tidak berubah.” Ucapnya pelan, mencoba mencairkan suasana.

Dan sekarang Ji Hyun mengambil sesuatu lagi, kali ini sebuah syal berwarna biru shappire yang berada di atas tangan mungil gadis itu, “Aku yang merajutnya sendiri. Dan ini…pasti jelek, maaf.”

Kyuhyun terkekeh pelan sekarang, merasa senang sekaligus…entahlah, ia suka hari ini. Bahkan semua kadonya yang diberikan semua orant tak lebih berarti dari hadiah yang diberikan Ji Hyun.

“Kupikir kautidak suka merajut? Bahkan tidak bisa.”

“Butuh waktu satu tahun untuk membuatnya. Aku belajar bersama In Yeong.” Aku Ji Hyuns ambil menyebut nama sahabatnya, dan juga teman SMA mereka.

“Dan kau membuatnay khusus untukku?” tanya Kyuhyun angga.

Ji Hyun memutar bola matanya malas, akhirnya suasana mulai mencair.

“Tidak juga. Aku juga tidak tahu kenapa aku mengambil warna biru.”

Karna kau menyukaiku. Kyuhyun berteriak dalam hati.

“Gomawo Ji Hyun Nuna.” Ucap Kyuhyun agak kaku. Meskipun ia mencoba mencairkan suasana tadi, tapi tetap saja suasana sangat canggung sekarang.

“Dan…aku sudah lama ingin melakukan ini denganmu,” Ji Hyun tiba-tiba menunjukan sebuah lampion yang berukuran sedang.

Kyuhyun menautkan alisnya, namun detik berikutnya ia teringat. Ji Hyun suka segala sesuatu yang berbau cina. Termasuk lampion yang berasal dari cina ini. Atau taiwan? Ah entahlah, ia tidak peduli. Ia hanya merasa sangat senang sekarang.

Dan tahu-tahu, Ji Hyuns udah menyalakan api lampion itu. Hingga lampion itu mengembang begitu saja di hadapan wajah Kyuhyun. Sesuatu yang ingin dilakukan gadis itu…bersamanya? gadis itu ternyata jauh lebih romantis daripada dirinya sendiri yangs eorang pria. Gadis itu bahkans elalu memiliki ide brilian untuk hal-hal seperti ini.

Meskipun biaa saja, tapi Kyuhyun selalu merasa gadis ini selalu melakukan hal romantis. Terutama padanya. Baik Kyuhyun menyadarinya ataupun tidak.

Kemudian Ji hyun menyodorkan sebuah spidol hitam, “Tuliskan sesuatu di lampion ini, apapun itu. Dan aku akan menuliskan milikku.” Intrupsinya.

“Memangnya kenapa?” tanya Kyuhyun penasaran.

Ji Hyun hanya mengedikkan bahunya, “Anggap saja itus emacam harapan atau ungkapan isi hatimu yang tidak diketahuioranglain.” Jelasnya kemudian.

“Apapun itu?”

Ji Hyun mengangguk.

Kemudian, Kyuhyun mulai menuliskan sesuatu, begitu juga dengan Ji Hyun.

“Kenapa kau ingin melakukan ini denganku?” tanya Kyuhyun setelah selesai menulis.

Ji Hyun tersenyum kecil, “Karena aku percaya padamu.”

Deg.

Kyuhyun di terjang rasa bersalah. Tentusaja, Kyuhyun tahu seharusnya gadis ini tak lagi mempercayai pria brengsek yangs udah menyakiti gadis itu. Mendatanginya saat membutuhkannya dan meninggalkannya saat ia tidak membutuhkannya. Pria macam apa dia ini?

“Sekarang, kita terbangkan.” Ji Hyunsudah siap melepas lampionnya.

“Boleh aku tahu isi tulisanmu?”

Ji Hyun terpaku beberapa saat, lalu menggeleng.

Kyuhyun mengangguk mengerti, mungkin belum saatnya Kyuhyun memberitahu isi tulisannya juga. Ia perlu memperbaiki segalanya dulu, baru ia siap mengaakannya pada Ji Hyun. Ide bagus.

Dan di antara matahari terbenam, Kyuhyun dan Ji Hyun menikmati keheningan mereka sambil memandang penuh harap ke arah lampion yang mulai terbang menjauh itu.

 

***

 

(Tulisan Ji Hyun di lampion) “Nan ajikdo Saranghae Cho Kyuhyun.”

(tulisan Kyuhyun did lampion) “Saranghaeyo Kim Ji Hyun, would you be my girl? Let’s press the reset for us.”

 

=FIN=

15/01/14 10:31PM

Iklan

One thought on “RESET

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s