She Doesn’t Know (1)

she-doesnt-know-copy

Title     : She Doesn’t Know

Genre  : Romance, Friendship, Sad (?)

Main Cast: Park Chanyeol as EXO K Chanyeol, Yoon Ji Sun (OC), Kim Minseok as EXO M Xiumin

Other Cast : Find by your self

Rating : T

Length : Twoshoot

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Poster by : Chocodeersh ^^

***

Yoon Ji Sun hanya gadis biasa di sekolahnya. Ia tidak sepintar Kang Seulgi yang dapat menyabet banyak prestasi di tiap semesternya. Gadis bermarga Yoon itu juga bukan gadis yang menonjol dalam bidang ekstrakulikuler manapun. Tidak. Ji Sun hanya gadis biasa yang terpaksa mengikuti Ekstrakulikuler Fotografi dengan alasan ia tidak memiliki pilihan lain, dan juga ia senang membidik sesuatu melalui kameranya –tanpa mau tahu apakah hasil bidikannya bagus atau tidak. Dia juga tidak secantik Park Luna yang setiap harinya mendapat banyak surat dari para penggemar. Ji Sun juga bukan gadis kaya seperti Park Jiyeon yang kadang cukup disegani di sekolah.

Ya. Sekali lagi setelah banyak basa-basi, Yoon Ji Sun hanya gadis biasa dari keluarga biasa. Tidak kaya dan juga tidak miskin. Ia juga tidak terlalu pintar, tidak juga memiliki paras secantik para ulzzang ataupun model. Ia hanya gadis biasa yang Chanyeol sukai.

Chanyeol mengetuk sekali pulpennya ke atas meja. Menghentikan lamunannya sejenak dan memaksakan matanya untuk menoleh pada Guru Jang yang tengah berkicau membahas pelajaran Biologi yang tak menyentuh rasa tertarik Chanyeol.

Dan sekali lagi, ia mengalihkan pandangan matanya. Kali ini ia kembali larut dalam lamunannya. Mengenang bagaimana ia bisa mengenal Jisun pertama kali. Dan itu terjadi saat mereka sama-sama mendapat gelar murid baru di sekolah mereka.

 

***

 

Chanyeol ingat bagaimana sibuknya kaki gadis itu saat melewati lantai sekolahnya. Chanyeol sendiri merasa pening karena sejak menginjakan kakinya di atas bis, gadis itu terus muncul di depan matanya dengan gaya yang…entahlah. chanyeol sendiri tidak tahu harus bagaimana mengatakannya, yang ia tahu ia cukup terganggu dengan gerak-gerik aneh gadis itu, juga cara berdandannya yang sama sekali tidak sama dengan murid SMA kebanyakan.

Aneh. Chanyeol sangat ingat aneh adalah kesan pertama yang muncul di benak Chanyeol.

Dan siapa kira, si gadis aneh itu tetap berada dalam jarak pandangannya. Saat berjalan di depan gerbang, gadis itu sempat tersandung sesuatu dan merutuki sebuah batu yang Chanyeol sendiri tidak tahu darimana asalnya. Chanyeol sebenarnya tidak harus berhenti untuk memperhatikan gadis itu, tapi Chanyeol berjalan di belakang gadis itu, membuatnya mau tak mau melihat gelagat gadis itu.

Dan lagi, mereka terus berjalan bersama di sepanjang koridor. Entah kenapa gadis itu belum juga menemukan kelasnya. Chanyeol sempat berharap gadis itu cepat-cepat menyingkir karena ia pikir, gadis itu sedikit mengganggu pandangannya.

Dan yang membuatnya cukup terperangah, saat Chanyeol berhasil menemukan kelasnya, justru si gadis aneh yang sejak tadi berada di depannya menginjakkan kakinya terlebh dahulu ke dalam kelas itu –kelasnya yang juga sepertinya adalah kelas Chanyeol.

Chanyeol tidak membencinya. Sungguh. Hanya saja ia tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis kuncir kuda itu ternyata satu kelas dengannya?

Dan yang membuat Chanyeol semakin terkejut, ketika ia hanya mendapati satu bangku kosong disana. Bangku yang berada di barisan paling depan dan salah satu kursinya sudah di duduki seseorang yang tak lain adalah si gadis aneh tadi.

Chanyeol pun mendengus pelan. Tidak masalah Yeol…dia hanya temanmu dan kau harus bisa menerimanya dengan baik. Ia sangat ingat bagaimana cara dirinya menghibur dirinya sendiri ketika tahu gadis aneh itu adalah teman sebangkunya.

 

***

 

Waktu berjalan lebih cepat dari yang Chanyeol kira. Dan hubungannya dengan Yoon Ji Sun –si gadis aneh itu- ternyata jauh lebih baik dari yang ia perkirakan. Jisun memang bukan tipe gadis yang banyak bicara, ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku –tepatnya novel- ketimbang bersosialisasid engan orang lain. Meskipun Chanyeol akui, Jisun adalah tipe gadis supel yang mudah menyesuaikan diri dengan orang lain.

Dan tidak terasa, sekarang mereka sudah duduk di bangku kelas 3 Senior High School.

Sekarang, Chanyeol dan Jisun justru bersahabat baik. Dekat. Mereka sangat dekat seperti ada sejenis magnet yang selalu membuat mereka menempel bersama sepanjang hari. Dan yang lucu adalah, saat beberapa orang justru berpikir mereka adalah sepasang kekasih –karena Chanyeol dan Jisun juga mengalami semacam fase bertengkar dan saling diam. Oh, apakah persahabatan lain juga seperti itu?

Termasuk hari ini. Sebenarnya sejak 2 hari lalu Chanyeol dan Jisun agak merenggang karena pertengkaran kecil mereka yang sebenarnya bisa dikatakan sangat sepele. Tidak. Mungkin amat sangat sepele sehingga itu seharusnya bukan jadi masalah.

Jisun meman orang yang selalu membesarkan masalah. Dan Chanyeol selalu sakit kepala menghadapi sifat buruk Jisun yang satu itu. Tidak masalah sebenarnya, hanya saja kemarin Jisun terlalu berlebihan –menurutnya.

Dan itu gara-gara seorang Oh Sehun. Adik kelas mereka yang menjadi pangeran sekolah. Oh yeah, seantero sekolah mengenalnya dan ini tidak mengada-ada. Sehun memang seterkenal itu. Dia tampan, Chanyeol akuiitu. Dia juga memiliki kharisma yang membuat para gadis langsung bertekuk lutut karenanya.

Tak terkecuali Jisun.

Chanyeol ingat bagaimana hebohnya Jisun untuk mencarinya ke kelas tepat di jam istirahat. Padahan Chanyeol sangattahu, Jisun akan lebih sudi mendamparkan diri di kantin sekolah untuk mengisi perutnya –karena Jisun sangat suka makan dan mudah lapar meskipun tubuhnya sangat kurus. Tapu kemarin itu tidak berlaku, Jisun bersusah payah mencarinya dan mendatanginya langsung ke kelas.

“Chanyeol! Kau mau dengar sesuatu?” tanyanya dengan napas yang bahkan belum teratur.

Chanyeol menaikan sebelah alisnya, “Ada apa? Nilai matematikamu 100?” tebak Chanyeol setengah asal. Karena menurutnya tingkah Jisun seperti akan mengatakan bahwa ia mendapatkan sesuatu yang amats angat langka. Seperti mendapat izin menonton konser Super Junior seperti tahun lalu.

Dengan cepat Jisun menggeleng. Ia pun langsung menarik sebuah kursi dan duduk disana, “Ini tentang Sehun!” katanya sangat semangat. Dan Chanyeol dapat melihat binar mata Jisun yang tidak bisa dikatakan biasa.

Chanyeol pun menegakan punggungnya dan menatap Jisun serius, “Ada apa dengan Sehun?”

Dan sebelum menjawa, Jisun sempat menelan ludah –gugup. Oh yeah, Jisun adalah gadis memalukan sekaligus pemalu.

“Tadi aku iseng datang ke ruang Club Dancing,” ia mulai membuka topik utamanya, “Dan kau tahu, kan Sehun ada di club itu? Tadinya aku hanya berniat latihan dance mereka untuk acara perpisahan angkatan kita, terlebih Soojung sepupuku juga akan ikut berpartisipasi dalam acaraitu,”

“Lalu?”

Dan Jisun langsung menaikan volume suaranya, “SEHUN ADA DISANA YEOL!”

Apakah Chanyeol sudah mengatakan bahwa Jisun adalah orang yang memalukan? Jika sudah, ini saah satu contohnya.

Chanyeol hanya mendengus mendengar kelanjutan cerita gadis itu yang masih meletup bersemangat.

“Dan kau tahu apa yang terjadi? Saat aku sedang menonton mereka setelah mendapat izin dari Gru Choi –pelatih mereka, tiba-tiba Sehun melihat kearahku dan tersenyum kerahku! Yeol, DIA TESENYUM!” dan Chanyeol kini sudah menatap datar Jisun.

“Dan yang lebih luar biasa, dia menghampiriku dan memberiku minuman kaleng! Astaga! Aku bahkan sempat berpikir jantungku akan melompat keluar saking senangnya! Ah –Yeol, apa menurutmu dia menyukaiku? Apa menurutmu dia akan menyatakan perasaannya padaku?”

“Tidak,” tandas Chanyeol cepat.

Dan Jisun yang sebenarnya belum menyelesaikan ceritanya langsung terdiam menatap datar Chanyeol, “A…apa?”

“Tidak. Kubilang tidak.” Tegas Chanyeol lagi.

“Kenapa kau berkata seperti itu?” tapi Jisun kembali ceria, “Ah –kau khawatir karena dia adalah seorang playboy? Tenang saja Yeol…lagipula aku tidak akan menerimanya menjadi kekasihku sebelum lelaki yang kusukai menerimaku sebagai kekasihnya,”

Dan jantung Chanyeol berdentum kuat satu kali. Apa? Apa katanya? Lelaki yang disukainya?

“Kau menyukai seseorang?” tanya Chanyeol dengan sebelah alis terangkat. Dan Jisun membalasnya dengan anggukan semangat.

“Siapa?” tanya Chanyeol lagi.

“Rahasia!!!”

Dan Chanyeol langsung berdecak sebal.

“Asal kau tahu saja ya…Sehun tidak akan menyukaimu. Terlalu mustahil. Kau tidak dengar kabar kedekatannya dengan anak kelas satu yang masuk club ballet? Siapa namanya…Min…Min…Min Jin Ri! Ya. Min Jin Ri! Dan kau tahu betapa cantiknya dia? Amat sangat cantik Sun-a. Dan soal lelaki yang kau sukai, kau harus siap-siap patah hati saja. Mana mungkin dia mau menerima gadis aneh sepertimu,” dan Chanyeol langsung tertawa setelahnya. Ia benar-benar merasa sedang mengeluarkan sebuah lelucon terlucu yang pernah ada.

Tapi Jisun justru langsung menekuk wajahnya. Senyumnya mengkerut seketika. Ia tersinggung oleh ucapan Chanyeol barusan.

“Apanya yang lucu?” tanya Jisun dingin dan membuat tawa Chanyeol lenyap secara perlahan.

“Hey…hey…aku hanya bercanda…”

Jisun langsung menepis tangan Chanyeol yang akan menyentuh pundaknya, “Apa susahnya sih ikut senang bersamaku? Bukannya mendukungku kau malah membuatku patah semangat seperti itu. Aku tahu aku tidak cantik. Tapi bukan berarti tak satupun seorang lelaki menyukaiku, kan? Kau menyebalkan Park Chanyeol!” dan seteah mengatakannya, Jisun langsung pergi meninggalkannya. Tak menghiraukan panggilan Chanyeol.

Dan satu hal yang Jisun tidak tahu, Chanyeol sebenarnya takut kehilangan gadis itu. Ia tidak ingin seorangpun memilikinya karena…Chanyeol menyukai Jisun.

 

***

 

Hari ini Chanyeol berencana untuk mengajak Jisun berbaikan. Oh, ayolah! Bertengkar sama sekali bukan kegiatan mengasyikan. Ia merasa sangat kesepian tanpa ocehan panjang Jisun mengenai banyak hal.

Dan karena Chanyeol tahu Jisun akan menghindarinya, ia pun memutuskan untuk mendatangi kelas Jisun. Bagaimanapun caranya, mereka harus berbaikan.

“Hai Chanyeol, sedang apa?” tanya seorang gadis dengan bando putih dikepalanya.

Chanyeol hanya tersenyum kecil, “Menunggu Jisun.”

Dan tanpa Chanyeol tahu, gadis itu kehilangan mood nya seketika.

“Ah…dia di dalam.” Katanya setengah tulus.

Chanyeol mengangguk pelan, “Aku tahu, terimakasih.”

Gadis itupun mengangguk dan langsung pergi. Merasa konyol telah menyapa Chanyeol yang takan menyapanya –menyapa perasaannya terhadap lelaki itu.

Dan tak lama kemudian, Jisun keluar dengan wajah yang sangat kusut. Wajah yang seperti habis menemui pelajaran Akuntansi –pelajaran favoritnya yang bisa membunuh happy virus dalam dirinya.

“Sun-a,” panggil Chanyeol sambil menahan lengan gadis itu. Jisun sepertinya dengan sengaja melewati Chanyeol begitu saja. Semarah itu kah Jisun padanya?

Chanyeol mendengus pelan mendapat reaksi seperti itu dari Jisun. Kemudian, ia pun langsung menarik Jisun kedalam pelukannya. Ia sangat suka memeluk Jisun karena tinggi Jisun yang hanya 160cm. Tubuh mungilnya seperti tenggelam dalam pelukan Chanyeol.

Jisun tidak bereaksi, ia hanya diam tanpa melakukan apapun.

“Kau masih marah padaku? Aku minta maaf, oke? Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung atau apapun itu. Aku hanya bercanda, sungguh…”

Dan setelah mendengar ucapan Chanyeol, Jisun langsung melingkarkan tagannya di pinggang Chanyeol sambil tersenyum.

“Sebenarnya aku sudah tidak marah. Aku hanya ingin kau meminta maaf padaku saja. Kau menyebalkan, sih.” Katanya dengan nada santai. Seolah hal tersebut bukan ha yang perlu dibesar-besarkan.

Tapi tidak bagi Chanyeol. Ia langsung melepas pelukannya dan menatap Jisun dengan kening berkerut, “Apa katamu?”

Jisun hanya menunjukan cengirannya dan menarik pria itu, “Ah, tidak ada. Kita jalan-jalan, oke? Aku sudah lama tidak jalan-jalan denganmu.”

 

***

 

Jisun bukan tipe orang yang suka berbelanja. Dan Chanyeol sangat tahu mengenai hal itu. Tapi hari ini, Jisun seperti kerasukan setan belanja. Bagaimana bisa Jisun menyeretnya sampai masuk ke dalam toko pernak-pernik –ugh, ini benar-benar bukan tempatnya.

Dan Jisun kini tengah tercantol pada rak bando yang terlihat sangat rapi itu. Dan mata Jisun begitu bersinar ketika memilih salah satu dari mereka –bando-bando itu.

“Yeol, menurutmu ini bagus tidak?” tany Jisun semangat.

Dan dengan tidak semangat Chanyeol menghampiri Jisun yang sedang mencoba bando tersebut. Kemudian, ia pun menarik bando itu dan memperhatikannya dengan seksama.

“Lumayan. Tumben kau mengambil warna pink? Bukankah warna Pink adaah musuhmu?” tanya Chanyeol bingung.

Dan Jisun hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Chanyeol, “Rahasia.” Sahutnya singkat dan langsung beralih ke tempat lain, memilih barang lain.

Chanyeol hanya menggeleng kepalanya, ia benar-benar tidak menangkap dengan apa yang akan dilakukan oleh Jisun.

 

***

 

Jika Korea merupakan negri yang selalu merayakan tanggal 14 di setiap bulannya, bolehkah ia merayakan hari ini sebagai hari ‘Pink Day’ ? dan tentunya, Jisun merupakan alasan utamanya. Ia masih tidak percaya jika Jisun membeli benda-benda berwarna pink.

“Yeol, besok hari minggu. Kau bisa menemuiku di cafe eskrim biasa, kan?”

Chanyeol langsung memutar kepalanya ke arah gadis itu dengan bingung. Ditambah rasa malas yang mendadak menggerayanginya. Oh, apalagi yang akan dilakukan gadis itu?

“Sun-a, kau tahu besok hari istirahatku…”

“Yeol-a, jebal. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu,” dan kali ini Jisun menatap Chanyeol serius. Dan Chanyeol semakin bingung dengan tingkah Jisun.

“Katakan sekarang saja,”

Jisun langsung menggeleng cepat, “Tidak bisa. Harus besok. Jika kau menyayangiku, kau harus datang besok, oke?”

Dan Chanyeol tidak pernah berpikir, besok yangdikatakan Jisun merupakan adalah penentuan akan kelanjutan hubungannya dengan Jisun.

 

***

 

Keesokan harinya, Chanyeol dikejutkan dengan penampilan Jisun yang sangat feminim. Dan it tentu saja sangat bertentangan dengan sifat asli Jisun yang sangat tomboy –salah satu keanehan Jisun dimata Chanyeol. Dan Chanyeol tidak pernah menyangka Jisun akan terlihat secantik itu. Secantik benda-benda yang dibelinya kemarin bersama Chanyeol.

“Hey, kau tidak berencana akan kencan dengan Sehun setelah ini, kan?” tanya Chanyeol masih bercanda. Ia tidak ingin menunjukan kegugupannya dihadapan Jisun.

Jisun tersenyum kecil. Kemudian ia memakan eskrimnya pelan-pelan, “Kau tahu Yeol, kau selalu berkata jika kau menyukai gadis feminim. Hari ini, aku ingin mencoba seperti gadis idamanmu,”

Dan Chanyeol hampir tersedak setelah mendnegar ucapan Jisun barusan. Apa? Apa katanya? Untuk menjadi gadis…idamannya?

“Kau salah makan?” tanya Chanyeol ragu. Jisun memang penuh kejutan.

Jisun menggeleng cepat. Kemudian, ia pun menggeser mangkuk eskrimnya, “Yeol. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini padamu, tapi…tapi aku rasa aku harus mengatakannya sekarang,” Jisun mendengus pelan seblum ia mengatakan satu kalimat singkat yang membuat napas Chanyeol tercekat.

“Aku menyukaimu Park Chanyeol. Dan selama ini aku selalu diam memendamnya karena aku tahu prinsipmu tentang tidak berpacaran dengan sahabatmu sendiri,” dan Jisun pun mendongak menatap mata Chanyeol, “Tapi aku tidak bisa Yeol, aku tidak bisa…aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Dan…bisakah kau mengakhiri prinsipmu? Kukira selama ini kau juga menyukaiku…”

“Tidak.” Tandas Chanyeol cepat. Dan ia baru saja berbohong –sedikit banyak menyakiti hatinya sendiri.

Mata Jisun membulat, “Y…ya?”

“Kurang jelas? Kau sahabatku Yoon Jisun. Aku tidak bisa menerimamu. Aku tidak menyukaimu.” Dan Chanyeol hampir membiarkan matanya basah karena merasa tersakiti dengan lidahnya sendiri.

Dan Jisun tetap mematung ditempatnya. Tidak. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa terhadap Chanyeol. Ia kehilangan harapannya. Kebas. Semuanya kebas. Ia harusnya ahu Chanyeol pasti akan menolaknya. Ia sudah tahus ejak awal dan ia harusnya tahu apa yang akan terjadi.

“Sun-a,”

Dan Chanyeol dapat melihat Jisun menyeka airmatanya, “Ah…Yeol. maaf. Aku pasti sangat memalukan hari ini. Dan…dan kurasa aku harus pulang sekarang. Ibuku sudah menunggu, kau tahu dia sangatcerewet. Dia sudah mewanti-wantiku agar tidak lama-lama. Jadi, aku pulang duluan, ya?”

Dan setelah itu, Jisun langsung pergi meninggalkan Chanyeol sendiri. Ia hanya diam tenggelam dalam kegelapannya. Salah. Chanyeol pasti baru saja melakukan kesalahan besar. Entah kenapa rasanya ia merasa kehilangan Jisun…

Dan Jisun tidak pernah tahu. Mungkin Chanyeol memiliki perasaan yang lebih besar daripada yang Jisun miliki. Jisun juga tidak tahu, Chanyeol juga tersakiti oleh lidahnya sendiri. Dan Jisun juga tidak tahu, Chanyeol berniat menarik ucapannya barusan.

Ia mencintai Jisun. Dan ia menyesal.

 

-to be continued-

08082014 2305

 

Iklan

One thought on “She Doesn’t Know (1)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s