She Doesn’t Know (2)

she-doesnt-know-copy

Title     : She Doesn’t Know

Genre  : Romance, Friendship, Sad (?)

Main Cast: Park Chanyeol as EXO K Chanyeol, Yoon Ji Sun (OC), Kim Minseok as EXO M Xiumin

Other Cast : Find by your self

Rating : T

Length : Twoshoot

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Poster by : Chocodeersh ^^

***

3 Years Later

 

Matahari musim panas merupakan matahari yang paling dibenci Jisun. Ia yang merupakan seorang guide, harus menelan bulat-bulat cuaca panas ang membuat otaknya bisa saja mendidih dan meledak tiba-tiba. Jika saja ia tidak bersusah payah membujuk orangtuanya agar mengizinkannya kembali ke Seoul setelah lulus kuliah dari salah satu universitas di Incheon, ia mungkin takkan sudi mengambil job yang diberikan atasannya di siang terik musim panas Seoul.

Lain kali, ia harus punya pekerjaan lain saat musim panas seperti ini.

Jisun kembali meneguk minumannya yang ia beli 10 menit lalu. Tepat saat kakinya menginjak lantai Incheon Inernational Airport –hari ini ia akan menjemput seorang turis asal Cina. Dan ia harap, orang itu bisa mengerti bahasa inggris. Ia tidak mau repot-repot menggunakan bahasa cina, ia sangat ingat bagaimana buruknya nilai bahasa cina-nya saat SMA dulu. Dan artinya, kemampuan bahasa Cina Jisun sama sekali tidak bisa diperhitungkan.

Jisun baru saja akan mencari tempat duduk untuknya. Menunggu seperti saat ini benar-benar membuat Jisun merasa pegal. Mungkin saja tamunya ini datang satu jam kemudian, kan? Dan ia harap, seoga itu hanya pikirannya saja. Bisa dibayangkan betapa menjengkelkannya jika ia harus menambah jam menunggunya

Dan jisun terpaksa berdiri kembali saat orang-orang yang melalui gerbang keluar tiba-tiba muncul. Dan sekali lagi, Jisun mengangkat kertas karton-nya yang bertuliskan nama Lu Han. Ia tidak tahu Luhan orang yang seperti apa, yang ia ingat bos-nya mewanti-wanti Jisun saat akan berangat ke bandara tadi.

Dan seorang laki-laki berambut pirang tengah menghadap ke arahnya. Dan mata pria itu mengarah ke arah karton yang Jisun angkat. Kemudian, senyum di wajah imut itu terpatri sempurna. Oh, tunggu! Apakah Jisun baru saja memuji laki-laki asing itu.

Sambil menggerek kopernya, laki-laki itu punmendekat ke arah Jisun tak lupa, masih dengan senyum yang sama.

“Annyeonghaseyo, Yoon Jisun-ssi.”

Mata Jisun terbelalak saat dialek Seoul mengalun sempurna diantara bahasa korea yang meluncur dari mulut pria itu. Keren! Laki-laki itu bisa bahasa korea! Dan artinya, ia tidak perlu kerepotan untuk menggunakan bahasa cina-nya yang pas-pasan. Huh! Ia patut merasa menang dari bos-nya yang sempat mengejek Jisun tadi.

“A…annyeonghaseyo. Kau Luhan, kan? Dari Beijing?” dan Jisun sengaja menggunakan bahasa korea. Ia sedikit ingin menguji, apakah dugaannya mengenai kemampuan bahasa korea Luhan itu benar atau tidak.

Luhan kembali tersenyum, “Ya. Namaku Luhan. Dan Kau Jisun, kan? Ah. Maaf merepotkanmu untuk datang kesini, tapi Minseok memaksaku untuk menghubungi agenmu.”

Jisun menaikkan sebelah alisnya. Otaknya tiba-tiba lamban saat dengan jujurnya Luhan mengatakan bahwa…ia membuat Jisun terjebak disini karena…Minseok? Tunangannya sendiri?

“Maksudmu…Kim Minseok? Kau mengenalnya?”

Luhan mengangguk cepat, “Ya. Aku mengenalnya. Sebenarnya aku teman kuliahnya dulu. Tapi entah kenapa dia malah menyuruhku untuk…”

Dan semua rentetan ucapan Luhan tenggelam tak menembus sedikitpun gendang telinga Jisun. Yang berkeliaran di otaknya saat ini hanyalah, ‘Minseok sialan!’ ‘beraninya dia mengerjaiku!’ ‘dia tidak tahu apa Jisun punya kerjaan lain yang harus diselesaikan?’ dan rutukan lainnya yang tertuju pada satu orang, Kim Minseok.

 

***

 

Park Chanyeol kembali menguap lebar saat ia sudah memasuki halaman bandara. Sedikit iri melihat beberapa orang dijemput orang-orang terdekat mereka, disambut wajah bahagia dan tentunya mereka juga tak perlu repot-repot memesak taksi lagi. Seperti dirinya.

Chanyeol kembali mendorong kopernya. Hari ini adalah hari pertama Chanyeol resmi kembali ke Korea setelah menyelesaikan studinya di California. Ugh! Ia masih bisa mengingat bagaimana buruknya kenangan semasa awal ia menginjakkan kaki disana. Bermodalkan bahasa inggris pas-pasan, dan ternyata Chanyeol bisa kembali dengan gelar Sarjana. Luar biasa.

Chanyeol tetap berjalan, mendekati sebuah taksi berwarna hitam. Seingatnya, taksi seperti itu agak mahal. Tapi siapa peduli, sedikit menghamburkan uang mungkin tidak apa-apa.

Dan langkahnya terhenti seketika ketika seorang gadis menghalangi jalannya. Gadis itu memunggunginya dan bicara pada supir taksi. Dan Chanyeol segera tahu, taksi yang akan didekatinya itu baru saja dipesan oleh gadis menyebalkan itu.

Dan saat Chanyeol hendak berbalik. Kakinya tiba-tiba mematung ketika suara taka sing itu menyentuh gendang telinganya. Mengusik kenagan masalalunya yang bahkan Chanyeol sendiri hampir melupakannya. Suara yang menghilang dan tenggelam diantara berlalunya waktu.

Yoon Jisun. Dan nama itu adalah nama yang diteriakkan otaknya. Ia ingat sekarang. itu adalah suara Yoon Jisun.

“Lu Han-ssi! Disini!”

2 kata itu memang terlalu singkat untuk meyakinkan apakah itu benar suara Jisun atau bukan. Tapi perasannya tidak berbohong sama sekali, ia langsung merindukan suara itu. Memeluk suara itu dengan keheningan dalam dirinya sendiri.

Tolol! Chanyeol harusnya berbalik! Setidaknya memastikan apakah itu benar Jisun atau hanya seseorang yang memang kebetulan mengingatkannya pada Jisun. Atau kalau perlu, ia menyapa gadis itu jika dia memang benar Jisun.

Tapi nyatanya, Chanyeol tetap pada posisinya. Sedikit takut. Takut akan kehilangan gadis itu lagi. Walaupun Chanyeol telah kehilangan Jisun sejak lama. Terlalu lama malah…tepatnya sejak gadis itu meninggalkan dirinya sendirian setelah pernyataan cinta yang diutarakannya.

Jisun tidak pernah menghindarinya, apalagi meninggalkannya. Tapi justru rasa bersalah Chanyeol membuatnya justru memberikan jarak antara dirinya dan Jisun. Oh ya, ia ingat betapa bodohnya seorang Park Chanyeol saat itu. Dan ia masih menyesali semua perbuatannya itu. Membuat Jisun memilih untuk tak bergeming saat didekatnya. Membuat gadis itu memberikan jarak yang benar-benar nyata diantara mereka.

Lamunan Chanyeol terhenti seketika. Akhirnya ia memutuskan untuk berbalik. Melihat gadis itu dan membungkam recokan hatinya yang entah mengarah kemana. Dan terlambat. Gadis itu telah memasuki taksi –setelah ia melihat wajah gadis itu sekilas.

Napas Chanyeol sempat terhenti tanpa sepengetahuannya.

Itu benar Jisun. Yoon Jisun. His love at the first sight…

 

***

 

Jisun duduk dengan tangan yang terlipat di depan dadanya. Tepat disamping Minseok, ia memperhatikan bagaimana akrabnya Minseok dengan lelaki yang ia jemput di bandara dengan hati dongkol.

Saat ini, mereka tengah berada di ruang praktek milik Minseok. Ah, Minseok seorang dokter jika Jisun lupa untuk menginformasikannya. Dan ia kira, Luhan juga seorang dokter yang ternyata salah besar. Lelaki imut itu ternyata seorang seniman, entah bagaimana kedua orang itu bisa bertemu tanpa berada di atas atap fakultas yang sama. Tidak ada satupun yang tertarik untuk memberitahunya.

“Oya, Jisun ini kekasihku, tunanganku dan calon istriku.” Tiba-tiba lengan Minseok sudah berada di atas pundak Jisun, merangkul gadis itu dan memperkecil jarak mereka berdua.

Mata Luhan sempat membulat, mungkin terkejut dengan informasi yang disampaikan Minseok. Tapi kemudian, Luhan malah terkekeh, “Wah wah. Hebat sekali, banyak sekali status yang kalian miliki.” Ujarnya kemudian.

Dan Minseok ikut terkekeh mendengarnya, “Tentu saja. Kami memang pasangan spesial. Dan kau juga harus datang ke pernikahan kami, oke?”

Luhan mengangguk semangat, “Tentu saja. Dengan atau tanpa undangan, aku harus datang ke pernikahan kalian,”

Dan senyum lebar langsung menghiasi wajah Minseok, dan senyum itu merupakan senyum favorit Jisun. Entah mengapa, tiap kali melihat senyum itu, jantungnya berteriak-teriak gila seolah berkata…

Aku menyukai senyum itu! Senyum itulah yang membuatku jatuh cinta!

“Lalu, kenapa kau menyuruhku datang menjemputnya, huh?” sewot Jisun saat ingat ucapan Luhan di bandara tadi. Menurutnya sangat membuang-buang waktu untuk menjemput seseorang yang sebenarnya tidak perlu dijemput. Tugasnya adala menjadi pemandu bagi orang-orang yang buta mengenai Korea, dan bukannya malah bermain-main dengan seseorang yang menjadi suruhan tunangannya.

Minseok tersenyum kecil, kemudian langsung mempererat rangkulannya, “Aku hanya inginkau datang kesini. Kau tahu, beberapa hari ini aku tidak punya waktu untuk melihatmu. Aku hampir gila karena merindukanmu tau,”

Dan Jisun pun memutar bola matanya malas, “Dasar gombal!”

Tapi Jisun tetap menyukainya, sungguh.

 

***

 

Chanyeol mungkin sekarang sedang mengalami jetlag setelah penerbangannya kemarin, dan itu adalah alasan yang dibuat-buat olehnya sendiri agar ia bisa menghindari Yura yang tak henti-hentinya merecoki Chanyeol tentang banyak hal.

Ugh! Seorang kakak harusnya memanjakan adiknya, dan bukan malah merecoki adiknya seperti itu, kan? Lagipula kakak macam apa itu?

Dan Chanyeol tetap memejamkan matanya saat Yura yang berputar-putar dikepalanya mengenai betapa menjengkelkannya gadis itu akhirnya benar-benar muncul. Entah apa yangd iinginkannya saat ini, ia harap kekasih gadis itu segera menikahinya agar Chanyeol tak lagi jadi korban seperti sekarang ini.

“Yeol-a…bangun! Kau terus saja tidur seperti kelelawar! Apa kau tidak lelah, uh?” dan Yura mulai menggoyang-goyangkan tubuh Chanyeol. Ia memang ada satu keperluan mendesak kali ini, dan ia harap Chanyeol tidak beralasan lagi mengenai jetlag atau semacamnya.

“Yeol-a…”

“Oh, ayolah nuna! Aku masih capek, tidak bisakah jam untuk menggangguku ditunda sampai aku tidak lelah lagi?”

Dan setelah mengatakannya, Chanyeol akhirnya mendapat satu pukulan mulus di kepalanya. Yura benar-benar jengkel sekarang. memangnya hanya Chanyeol yang pernah mengalami jetlag dan pergi ke luar negri? Mana ada jetlag sampai berhari-hari?

Dan Chanyeol langsung membuka matanya, dan menyesal telah membuka matanya karema hal pertama yang menyambutnya adalah mata kakaknya yang seperti akan melompat keluar. Oh, ia benar-benar malas jika sudah berhadapan dengan kakaknya yang keadaannya semenyebalkan ini.

“Hah…baiklah baiklah. Sekarang kakakku yang cantik ini menginginkan apa, hmm?” dan Chanyeol pun terpaksa bangun.

Dan sambil tersenyum, Yura mulai menarik lengan Chanyeol, “Antar aku ke rumah sakit! Aku ingin menengok calon kakak iparku…”

 

***

 

Dengan langkah malas, Jisun mencoba menjauhi ruang kerja Minseok yang tiba-tiba didatangi seorang perawat yang mengadu tentang pasien yang entah sakit apa, dan membuat Jisun akhirnya harus terdampar pada kata sendiri lagi.

Jisun pun membuang napas kasar. Memiliki kekasih seorang dokter ternyata jauh lebih sulit. Harus berbagi waktu dengan pasien, harus rela saat panggilan tugas mengejar-ngejar kekasihnya, juga harus rela tidak berkencan sampai berminggu-minggu. Untungnya Minseok bukan orang yang membosankan meskipun sedikit pendiam, setidaknya Jisun selalu merasa betah jika ia sudah berdua saja dengan Minseok.

Dan Jisun urung untuk melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar. Mungkin menunggu Minseok sebentar tidak apa-apa, toh ia tidak punya jadwal apapun hari ini. Ah, selalu begini. Bos-nya –Wu Yi Fan- selalu saja memberikan tugas saat ia sedang sibuk, bahkan meskipun Jisun sedang sibuk berbaring di atas ranjang.

Dan akhirnya, Jisun pun memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yangterpaang cantik di taman sumah sakit. Meskipun tetap saja rumah sakit adalah rumah sakit, secantik apapun Jisun tidak akan terlalu terkesan.

Dan setelah mengambil mengambil posisi nyaman, Jisun pun mengeluarkan ponselnya dan mendengarkan musik favoritnya sejak zaman SMA dulu, lagu Girls Generation ‘In To The New World’, lagunya dan juga lagu Chanyeol.

Ya. Park Chanyeol lah yang membuatnya menyukai lagu ini setelah ia mengeluhkan bagaimana seorang Chanyeol memuja SNSD meskipun ia berkoar-koar bahwa ia begitu mencintai Sandara Park 2NE1. Dan entah sejak kapan, Jisun mulai menarik kedua sudut bibirnya mengenang seorang pria yang membuatnya jatuh hati begitu mudah, seorang pria yang membuatnya tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang dengan berat.

Ternyata lagu-lagu mellow itu tidak berbohong, kata rindu adalah kata paling keramat yang teramat menyiksa. Tapi, mau bagaimana lagi? Chanyeol tetaplah masalalu yang hanya bisa ia kenang dalam memorinya, yang hanya bisa ia peluk dalam ingatannya, yang bisa ia beri senyum tanpa ia bisa mendapat balasan senyumnya.

Senyum favoritnya juga, sebelum akhirnya ia bertemu Minseok dan menggeser segala macam posisi yang dulu ia berikan pada Chanyeol walaupun ada satu keraguan besar, apakah Chanyeol benar-benar telah lengser dari posisi hatinya atau belum.

 

Disisi lain, Chanyeol tengah meniu-niup permen karet yang ada di mulutnya. Berjalan semangat menjauhi ruang inap calon kakak ipar Yura. Meskipun ia masih tidak mengerti, kenapa Yura ingin sekali diantar oleh Chanyeol jika akhirnya Chanyeol hanya menjadi benalu dalam obrolan mereka yang bahkan entah apa.

Dan meskipun ingin kabur, Chanyeol tetap tidak akan bisa, kecuali ia siap digantung oleh Yura. Alhasil, ia tetap berada di sekitar rumah sakit. Dan taman yang terlihat hijau itu menjadi pilhan Chanyeol. Mungkin sedikit menyegarkan otaknya tidak masalah.

Sambil mendengarkan musik SNSD In To The New World, tangan pemuda itu begitu sibuk memainkan game yang berada di tangannya. Entah sejak kapan ia menjadi seorang gamer, tapi memainkan game saat waktu membosankan seperti sekarang ini ternyata cukup mujarab untuk mengobati rasa bosannya.

Chanyeol membelalakan matanya saat ia hampir meraih skor tertinggi –lagi- setelah sebulan lalu ia mendapat skor tertinggi untuk permainan yang dimainkannya saat ini. Namun hampir adalah hampir, Karena ia juga melihat IPad nya hampir rusak setelah melayang terjatuh ke atas tanah.

“OMO!” pekiknya keras setelah paham apa yang terjadi. 2 hal yang membuatnya dongkol saat ini, ia kalah dalam game-nya dan anak kecil yang mengesalkan itu terlalu ceroboh saat bermain bola, dan tentunya hampir membuat IPad nya rusak.

Tapi amarah Chanyeol langsung tertekan ke titik terendah saat melihat pakaian pasien yang dikenakan anak laki-laki yang tengah menunduk dihadapannya itu. Dan pada akhirnya, dengan sebal ia pun membuang muka.

“Lain kali hati-hati. Kau tahu aku tidak punya banyak uang untuk membeli barang ini lagi,” ucapnya dengan nada ketus. Masa bodoh dengan kenyataan dia adalah anak kecil atau bukan, toh jika IPad nya rusak, tidak akan ada yang menjamin anak kecil itu akan menggantinya.

“Gwaenchana?”

Tiba-tiba tubuh Chanyeol berubah dingin ketika mendengar suara seorang wanita terlontar di belakangnya. Entah bertanya pada siapa, tapi ia jauh lebih terperangah saat otaknya menyadari siapa yang memiliki suara itu…

Yoon Jisun. Itu adalah suara Yoon Jisun.

“Lagipula apa yang kau lakukan pada anak kecil, huh? Dia tidak sengaja, tidak perlu marah begitu.” Ujarnya dengan nada membela terhadap anak kecil yang kini hampir menangis di hadapan Chanyeol.

Dan meskipun Jisun sudah berada di depan matanya –memunggunginya, Chanyeol sama sekali kehilangan keberaniannya untuk benar-benar menatap wajah itu. Wajah yang menghantui hari-harinya tanpa matanya mampu untuk melihat kembali wajah itu.

Wajah yang dulu Chanyeol ejek begitu konyol, namun disisi lain Chanyeol begitu mengagumi wajah itu. Entah kenapa, padahal dulu masih banyak selebriti sekolah yang memiliki wajah yang jauh lebih cantik daripada wajah Jisun.

“Sekarang, pergilah! Paman ini tidak marah lagi, kok.”

Dan entah sejak kapan Chanyeol sudah menjadi bahan pembicaraan bagi gadis itu membiarkan anak kecil tadi pergi begitu saja. Membuat amarahChanyeol kebas seketika tanpa sisasedikitpun.

Dan saat berbalik, Jisun sebenarnya hendak menegur laki-laki yang bersikap kekanakan tadi. Oh, ayolah. Anak kecil itu adalah pasien rumah sakit dan laki-laki tidak tahu diri itu akan marah-marah karena IPad nya jatuh? Dan Jisun tahu, IPad pemuda itu sama sekali baik-baik saja.

Namun saat matanya menoleh pada laki-laki itu, jantungnya seolah berhenti berdetak. Udara disekitarnya seolah hilang entah kemana, ditelan keterkejutan Jisun yang…baiklah, adakah seseorang yang bisa menjelaskan bagaimana perasaan Jisun saat ini?

“Chan…Chanyeol?” Jisun sempat tidak yakin dengan nama yang ia sebutkan. Tapi ia tidak pernah lupa dengan wajah itu. Jisun menghabiskan banyak waktunya dengan laki-laki itu dulu, dan melupakan wajahnya begitu saja merupakan hal yang hampir tidak mungkin.

Dan saat mendengar namanya dipanggil, Chanyeol baru memiliki keberanian untuk mendongak melihat wajah itu wajah yang…akhirnya bisa ia temukan lagi setelah 3 tahun.

Yoon Jisun. Akhirnya ia menemukannya lagi.

 

***

 

Yoon Jisun benar-benar lupa bagaimana caranya berada didekat Chanyeol. Padahal, dulu Jisun hampir tidak pernah peduli dengan apapun yang ia lakukan didepan pemuda itu. Dan dulu adalah dulu, karena sekarang Jisun berharap ia bisa ingat secuil saja bagaimana caranya untuk berhadapan dengan Chanyeol.

Bahkan meskipun hampir setengah jam bersama, baik dirinyamaupun Chanyeol seolah kehilangan topik pembicaraan. Jauh berbeda dengan dulu. Bahkan tanpa dicari, Jisun selalu tahu apa yang tepat untuk dibicarakan dengan Chanyeol.

“Jadi, bagaimana kabarmu sekarang? rasanya canggung sekali…”

Jisun mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil. Kemudian ia mengaduk pelan minumannya, meskipun ia tahu sebenarnya ia tidak perlu melakukan itu.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Kau sudah selesai dengan S1mu? Bahkan seingatku bahasa inggrismu parah sekali…”

Chanyeol tertawa pelan mendengar ejekan Jisun. Gadis itu terlalu gamblang berkata bahwa Chanyeol sangat payah dengan pelajaran bahasa, “Kau mengkhawatirkanku? Tenang saja, aku sangat baik-baik saja malah. Kau sendiri bagaimana? Aku masih tidak percaya kau mengambil jurusan sastra korea. Bahkan dulu kau hampir tidak pernah mengerjakan PR-mu,”

“Yak!”

Dan entah bagaimana obrolan itu langsung melebar kemana-mana. Pengalaman bodoh Chanyeol –dan Chanyeol tetaplah Chanyeol yang konyol, tidak berubah sama sekali. Dan Jisun tetaplah gadis si pengeluh. Ia mengeluhkan banyak hal, bahkan termasuk mengeluhkan soal bos nya yang sangat cerewet itu.

 

***

 

Minseok kembali melirik jam tangannya. Dan entah sudah yang keberapa kali Minseok mencoba menelpon Jisun. Entah gadis itu pulang karena marah, atau bos nya tiba-tiba memanggilnya, yang pasti Jisun sama sekali tidak bisa dihubungi dan inimembuat Minseok agak khawatir.

Sekali lagi, jam dinding di ruang kerjanya seolah menjadi pemandangan yang menarik bagi matanya. Sudah tepat pukul 4 sore, dan setelah ini Minseok tidak ada jadwal lagi. Minseok pun memutuskan untuk pulang lebih awal atau mungkin menemui Jisun dulu. Jarang-jarang ia punya banyak waktu kosong seperti hari ini.

Dan saat mengambil kunci mobilnya di dekat laci, tanpa sengaja ia menemukan fotonya dengan Jisun saat berlibur ke Pulau Nami beberapa bulan lalu. Dan entah dorongan darimana, tangan Minseok terulur menyentuh bingkai foto itu.

Diiringi dengan senyum kecil Minseok, dengan suara yang terlampau pelan pemuda itu berbisik…”Saranghae, jeongmal.”

 

***

 

Jisun melingkarkan tangannya di lengan panjang Chanyeol. Entah sejak kapan pemuda itu terus saja bertambah tinggi, membuat Jisun terlihat begitu mungil saat berada disisi Chanyeol. Oh, ia mendadak merindukan masalalu. Padahal beberapa jam lalu iamasih merasa canggung saat berada disisi Chanyeol, tapi entah bagaimana ia bisa kembali dekat dengan Chanyeol dengan mudah.

“Oya, well kenapa kau bisa ada di rumah sakit? Apa kau sedang sakit?” tanya Jisun ketika mereka berhenti di depan sebuah toko eskrim.

Chanyeo langsung menepuk keninnya keras. Dengan mata yang membulat sempurna, ia menatap mata Jisun seolah berkata “Aku baru saja melakukan kesalahan besar!”. Ia benar-benar melupakan Yura –tidak, ia bahkan tidak ingat ia pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan Yura.

“Kenapa? Apa kau melupakan sesuatu?”

“Kau ingat kakakku Yura?” tanya Chanyeol dengan volume suara yang tiba-tiba mengecil, seolah-olah khawatir gadis bernama Yura itu takut mendengarnya.

Jisun mengangkat sebelah alisnya, tentu saja ia ingat pada Yura. Kakak perempuan Chanyeol yang menurutnya sangat cantik itu. Bahkan ia sempat khawatir pacar Chanyeol kelak akan merasa tidak percaya diri saat melihat Yura Eonni. Dan tentu saja itu dulu, tepat saat Jisun merasa jatuh cinta pada Chanyeol sebelum akhirnya ia harus menelan perasaannya.

“Tentu saja aku ingat. Ada apa dengan Yura Eonni? Ah, aku jadi merindukannya…”

Chanyeol buru-buru mengibaskannya. Sama sekali tidak setuju jika Jisun harus merindukan Yura yang bisa berubah menjadi seorang monster, membayangkan bagaimana gadis itu mengamuk didepannya karena Chanyeol meninggalkannya di rumah sakit.

“Aku lupa, tadi aku meninggalkannya di rumah sakit…”

“Yura eonni sakit?” tanya Jisun agak khawatir. Dan ia pikir ia harus memukul Chanyeol jika benar Chanyeol meninggalkan Yura yang sedang dalam keadaan sakit. Oh, Chanyeol tetap saja selalu bodoh dan –

“Bukan! Calon kakak iparnya yang sakit! Lagipula mana mungkin monster bisa sakit…”

Dan kelakaran otak Jisun langsung terhenti saat mendengar kata “kakak ipar”. Wow, ternyata ia sudah melewatkan banyak hal. Kakak Chanyeol akan menikah? Yura Eonni akan menikah? Secepat itu?

“Yura Eonni akan…menikah?”

Chanyeol mengangguk pelan, “Pacarnya terus-terusan melamarnya. Akhirnya monste itu mau menikah juga…”

“Omo…betapa beruntungnya laki-laki itu. Yura Eonni sangat cantik, pintar, baik. Apakah kekasihnya tampan?”

Chanyeol mendesis mendengar ucapan Jisun yang menurutnya berlebihan. Entah kenapa semua orang selalu member penilaian bagus yang berlebihan untuk Yura, padahal kenyataannya gadis itu hanya gadis cerewet yang hobi merecoki dirinya, senang marah-marah dan sangat pemalas.

“Bahkan laki-laki itu tidak memiliki ketampanan yang melebihi diriku.”

Jisun terdiam beberapa saat mencerna ucapan Chanyeol hingga akhirnya sebuah oukulan keras mendarat tepat di punggung pria jangkung itu, “Yak! Aku serius!” sewotnya kesal. Apa-apaan tadi? Memangnya wajah Chanyeol setampan itu ya? Bahkan Minseok Oppa-nya lebih tampan…

Oh, tunggu! Minseok?

Jisun langsung menepuk keningnya dan buru-buru merogoh sakunya. Ia benar-benar melupakan Minseok. Bahkan ia tidak sempat mengabarinya jika ia akan pulang lebih dulu. Bagaimana jika Minseok mencarinya dan mengkhawatirkannya? Jisun bodoh!

“Kenapa panik sekali? Ada apa?” tanya Chanyeol bingung melihat gelagat aneh Jisun. Terlalu panik dan…entahlah. Sepertinya ada hal genting yang ia lewatkan.

Jisun tidak menjawab dan justru berjalan menjauhi Chanyeol sambil menempelkan ponselnya tepat di telinga kirinya. ada yang aneh dengan Yoon Ji Sun.

Dan Jisun semakin menggigit bibir bawahnya saat sambungan telepon tidak menunjukkan akan diangkat. Astaga! Apa yang ia lakukan? Minseok sudah menelponnya berkali-kali dan Jisun tidak mengangkatnya sama sekali. Pasti Minseok juga menghubungi bos-nya. Jika nanti mereka bertemu, lalu apa yang akan ia katakana? Ia sedang bersama pria lain? Apakah ia seling-

Hey! Apa-apaan? Kenapa ia harus disebut selingkuh?

Jisun pun berbalik dan menatap Chanyeol yang juga tengah menatapnya bingung. Memperhatikan wajah kekanakan itu dengan serius, hingga ia tersadar. Ia sama sekali tidak selingkuh. Ia hanya pernah jatuh cinta pada pria itu, dan tentu saja hubungannya dengan Chanyeol tetaplah teman. Apanya yang salah?

“Kenapa?” Tanya Chanyeol ketika mereka sudah berhadapan kembali.

“Aku harus segera pulang. Kita bertemu lain kali, oke?”

Chanyeol mengerutkan dahinya tidak terima, “Kenapa mendadak? Apakah terjadi sesuatu? Mau kuantar?”

Jisun buru-buru mengibaskan tangannya, “Tidak kok. Bukan apa-apa. Aku hanya ada keperluan mendesak. Dan kau tidak perlu mengantarku, aku bisa sendiri. Sampai jumpa Yeollie~”

Dan baru beberapa langkah Jisun meninggalkan Chanyeol, ia kembali berbalik, “Dan…salam untuk Yura Eonni. Katakana padanya, aku sangat merindukannya.”

 

***

 

Minseok tak bergeming ketika suara pintu apartemennya terbuka. Ia tahu siapa yang datang, Yoon Jisun. Selain ibunya, tidak ada lagi yang tahu password pintu apartemennya selain Jisun. Dan sudah dipastikan itu Jisun, karena ibunya tidak mungkin datang malam-malam begini.

“Hai Oppa!” sapa gadis itu dengan kikuk. Oh dear…pasti Minseok marah padanya gara-gara ia tidak mengangkat telponnya. Jisun benar-benar teledor.

Dan Jisun pun memilih duduk di sofa panjang ruang tengah itu, ikut-ikutan memperhatikan tayangan TV yang agak sedikit membosankan. Kemudian, dengan sengaja ia pun menyandarkan kepalanya di pundak Minseok yang masih diam.

“Kau marah padaku, Oppa?” tanya Jisun sambil memainkan kancing piyama yang Minseok kenakan. Kemudian, ia pun menghela napas panjang, “Maaf aku tidak mengabarimu. Aku juga bahkan tidak mengangkat telponmu, aku tidak tahu jika kau menelponku…”

Dan tanpa diduga-duga, Minseok melingkarkan tangannya di pinggang Jisun, mempersempit jarak mereka. dan ia pun menyandarkan kepalanya di kepala Jisun. Ia memang tidak bisa lama-lama marah pada Jisun. Apapun alasannya, semarahapapun dia, pasti Minseok akan memaafkannya juga.

“Jadi, apa yang membuatmu menghilang begitu saja, hmm?” tanyanya dengan nada lembut. Membuat seutas senyumkecil tersungging di bibir Jisun.

“Tadi aku bertemu sahabat lamaku di rumah sakit. Dan kami keasyikan ngobrol sampai aku lupa waktu –dia sudah lama di California. Padahal bahasa inggrisnya payah,” adu Jisun dengan jujur. Ia bahkan tidak sadar ada letupan semangat di dadanya saat membicarakan Chanyeol.

Minseok pun tersenyum tipis, “Oya? Sahabatmu ini sahabat yang mana? Kau tidak pernah menceritakannya.”

“Chanyeol. Park Chanyeol. Dia sahabatku semasa SMA.”

“Namja?”

“Hmm. Dia namja.”

Minseok pun mengangguk pelan. Meskipun ada rasa ketidaksukaan, tapi ia mencoba menekannya sampai rendah. Ia tidak ingin menjadi kekasih yang over protective. Ia hanya perlu menaruh kepercayaannya pada Jisun, dan semuanya akan baik-baiks aja.lagipula ia juga tahu Jisun tidak akan menikung sembarangan…

“Oya, oppa sendiri kenapa sudah pulang?” Jisun pun sedikit menjauhkan tubuhnya dari Minseok.

“Tadi aku pulang cepat. Tadinya aku ingin mengajakmu jalan-jalan, tapi sepertinya kau sibuk. Jadi…yah, aku terdampar disini.”

“Kau juga tidak mengangkat telponku,” gerutu Jisun pelan.

Minseok terkekeh pelan dan mencubit hidung Jisun, “Sengaja. Agar kau datang.”

“Ish…” Jisun pun menepis pelan tangan Minseok.

“Ah, aku masakkan sesuatu untukmu saja, ya? Anggap saja sebagai tanda permintaan maafku karena membuat kencan keinginanmu berantakan.”

 

***

 

Chanyeol tetap tersenyum sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya. Meskipun ia tahu Yura akan mengamuk padanya, tapi ia tidak peduli. Hari ini ia bertemu orang yang sangat sangat sangat penting dan sangat sangat spesial. Tentunya Chanyeol tidak akan terlalu peduli lagi jika Yura benar-benar mengamuk padanya.

Dan baru saja melangkah masuk, sebuah bantal sofa melayang sempurna ke wajah tampannya –menurut Chanyeol. Oh, siapa lagi yang akan melakukannya selain Park Yura yang mengesalkan itu?

“Dasar namja sialan! Kau meninggalkanku di rumah sakit sendirian, dank au sendiri pergi dengan gadis lain? Benar-benar bagus Park Chanyeol.” Dan Yura pun memulai cecarannya malam itu.

Tapi Chanyeol tetap memasang senyum termanisnya. Ia benar-benar kelewat senang hari ini. Dan dengan mengabaikan amarah Yura, ia pun memeluk Yura erat seperti anak kecil. Membuat Yura berpikir mungkin adiknya sakit, atau otaknya sedikit rusak.

“Hey! Hey! Kau kenapa bodoh?”

Dengan tetap memasang senyumnya, Chanyeol menyahut pelan, “Hari ini aku bertemu Jisun, Yoon Jisun. Noona ingat? Gadis yang begitu terobsesi dengan wajahmu itu, padahal wajahmu pas-pasan.” Dan alhasil Chanyeol mendapat shadiah manis di kakinya berupa injakkan yang sangat keras. Membuat pelukan Chanyeol akhirnya terlepas.

“Sialan! Tapi…kau bilang Jisun? Jisun teman SMA mu?”

Chanyeol mengangguk semangat, “Kami bertukar ponsel. Kamiakan bertemu lagi. Dan…noona mendapat salam darinya. Dia masih terobsesi padamu, sepertinya.”

Dan setelah mengatakannya, Chanyeol pun masuk ke kamarnya tidak menyadari Yura menyeringai di tempatnya. Cinta lama bersemi kembali. Meskipun tidak pernah mengatakannya, Yura sangat sangat tahu jika Chanyeol sangat mencintai Jisun. Ia juga tidak mengeryi kenapa dulu mereka sempat berjauhan. Dan ia harap, pertemuan mereka ini menjadi awal yang baik untuk hubungan mereka.

 

****

 

Hari ini Jisun beraktifitas normal kembali. Menjadi seorang guide yang dituntut mampu berbahasa inggris dan terlihat interaktif di depan pelanggannya dan hari ini, ia kedatangan tamu dari Thailand. Negara yang begitu terkenal dengan gajah putihnya. Entah gajah itu sungguhan berwarna putih atau hanya symbol belaka, tapi itulah yang dikatakan oleh orang-orang.

“Dan jika kalian pernah menonton MV Seoul Song yang dinyanyikan Super Junior dan Girls Generation, disini adalah salah satu tempat syuting mereka. ingat adegan Donghae? Tempatnya disini.” Jelas Jisun lagi pada 3 orang mahasiswi yang terlihat berbinar-binar itu. Dan tentu saja, mendnegar nama ‘Super Junior’ mereka seperti mendengar bahwa mereka akan mendapat hadiah jutaan won.

“Aku suka Donghae Oppa! Dia tampan!” pekik salah satu dari mereka. dan untungnya gadis itu tidak menggunakan bahasa ibunya.

Dan kemudian obrolan pun semakin melebar antara gadis tadi dan teman-temannya. Jisun hanya bisa tersenyum saja sambil menuntun mereka memasuki sebuah kawasan perbelanjaan. Dan tentu saja, trip berakhir disana. Kontraknya hanya mengantar mereka untuk berkeliling daerah Incheon-Insadong. Tidak lebih.

“Nah, kurasa kita harus berpisah disini.” Ucap Jisun mulai pamit.

“Oh, eonni. Saying sekali ya? Padahal aku masih ingin berjalan-jalan bersama eonni,” entah basa-basi atau apa, Jisun hanya tersenyum saja mendengarnya.

Dan setelah melihat mereka benar-benar masuk ke dalam, Jisun pun segera melangkahkan kakinya menjauhi tempat tersebut. Perutnya agak sedikit lapar, mungkin mencari jajangmyeon dan makan sebentar tidak apa-apa. Meskipun setelah ini ia harus segera kembali ke Seoul.

Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja Minseok dan Chanyeol mengirimnya sms secara bersamaan. Jisun memang agak sedikit terkejut, mengingat ini masih terlalu cepat untuk Minseok memiliki waktu luang dan Chanyeol yang tiba-tiba menghubunginya berbarengan dengan Minseok. Ya, meskipun Jisun dan Chanyeol sudah berhubungan normal lagi sejak seminggu lalu karena pertemuannya di rumahs akit.

Dan pertama-tama, ia membaca sms dari Chanyeol.

From : Stupid Chanyeol

Hai, stupid Jisun! Sore ini ada waktu? Ayo kita bertemu di Kona Beans! Katanya disana sangat ramai, aku ingin tahu menu apa saja yang disediakan disana. Temani aku, oke?

 

Masih dengan senyum yang terkembang, Jisun pun membalas cepat sms itu.

 

To : Stupid Chanyeol

Of course! Jam 4 tunggu aku disana!

 

Kemudian, Jisun pun langsung membuka sms dari Minseok.

 

From : Nae Sarang Minseok Oppa

Girl, aku pulang cepat hari ini. Kalau kau pulang cepat, kita nonton film bersama, ya?

 

Jisun harusnya senang saat tahu Minseok pulang lebih cepat. Ia selalu berdoa agar Minseok selalu pulang lebih cepat setiap harinya. Dan entah setan brengsek apa yangmembuat Jisun merasa tidak senang hari ini. Tidak. Bukan soal Minseok, tapi karena ia telah membuat janji dengan Chanyeol dan artinya tidak akan mungkin kan ia membatalkan janji itu begitu saja?

Atau ia batalkan saja janjinya dengan Chanyeol dan pergi bersama Minseok?

Jisun pun mendengus pelan. Ia tidak pernah merasa sesulit ini dalam mengambil keputusan. Ia selalu menomor satukan Minseok dalam hal apapun daripada orang lain. Tapi entah kenapa, hari ini ia malah sedikit berpikir…mungkin tidak apa-apa ia lebih memilih pergi bersama Chanyeol. Mereka sudah lama tidak bersama,kan? Sedangkan dirinya dan Minseok sudah sangat sering pergi bersama.mungkin tidak apa-apa merelakan Chanyeol untuk saat ini.

Dengan ragu, Jisun pun membalas sms Minseok.

 

“Mian Oppa. Hari ini akus udah ada janji >_< lain kali pasti kita nonton. Aku yang traktir, oke?”

 

Semoga Minseok tidak marah.

 

***

 

Jisun lari terburu-buru ke arah Kona Beans. Salahkan Chanyeol yang terus memburu-burunya, berkata bahwa ia bosan menunggu, lapar dan bla bla bla. Dasar menyebalkan! Padahal jika ingin cepat, kenapa tidak pergi sendiri saja? Membuat kesal saja.

“Kau sudah sampai?”

Jisun mendesis sebal saat CHanyeol malah menampakkan senyum bodohnya itu. Oh, setelah membuat Jisun kelelahan begini laki-laki itu masih bisa-bisanya tersenyum.

“Kenapa memburu-buru, sih? Aku kan masih ada kerjaan lain tadi, memangnya kau tidak punya pekerjaan apa?” sewot Jisun kesal sambil melenggang masuk ke dalam. Mendahului Chanyeol. Ia sedang kesal sekarang.

Chanyeol hanya tersenyum kecil dan langsung merangkul bahu Jisun. Ugh, gadis ini ternyata mungil juga.

“Tentu saja aku ada kerjaan. Aku ingin membuat calon istriku bangga,” kata Chanyeol kemudian dengan nada sedikit pamer.

Dan Jisun yang menyadarinya langsung menoleh ke arah Chanyeol. Apakah Chanyeol baru saja berkata bahwa ia akan…menikah?

“Kau…punya calon istri? Kau akan menikah?” oh, kenapa suasana hati Jisun tiba-tiba berubah buruk begini? Bukankah bagus Chanyeol akan menikah? Harusnya ia turut berbahagia, dan bukannya merasa….dongkol.

Chanyeol tertawa renya melihat reaksi Jisun yang menurutnya konyol. Apakah Jisun harus seterkejut itu?

“tentu saja!” Chanyeol pun kembali merangkul Jisun dan menuntunnya untuk duduk di tempat yang kosong, “Aku akan segera melamarnya dan menikahinya.” Dan Chanyeol masih melanjutkan meskipun mereka sudah duduk.

Jisun masih menatap Chanyeol dalam. Ia tidak menyangka akan…secepat ini? Reaksi apa yang harus ia berikan? Senang? Sedih? Atau bagaimana?

“Hei, kenapa diam? Kau tidak senang?” kata Chanyeol setengah menggoda.

Dan sadar tingkahnya tidak lazim, Jisun pun langsung menyikut perut Chanyeol, “Kenapa aku harus tidak senang? Aku hanya terkejut tahu!”

Katakana saja jika kau cemburu. Chanyeol masih tersenyum usil.

“Tapi ngomong-ngomong, siapa gadis itu? Kau tidak akan mengenalkannya padaku?” tanya Jisun lagi masih penasaran.

Kau. Gadis itu kau.

“Masih rahasia. Nanti kau akan tahu sendiri.”

Tentu saja kau akan tahu. Dan aku akan melamarmu dengan cara yang tidak biasa, Yoon Jisun.

 

***

 

Kim Minseok masih merengut sebal meskipun Jisun sudah berada tepat di depannya. Perasaan kesalnya tetap tidak hilang juga, padahal baru saja beberapa jam lalu ia merindukan gadis itu. Tapi perasaan rindunya menguap begitu saja, layaknya asap yag\ng akhirnya tak bisa terkumpul lagi.

“Oppa masih marah padaku?” tanya Jisun dengan nada bersalah.

“Masih bertanya?” sahut Minseok kesal dan membuat Jisun semakin merasa bersalah. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk merajuk seperti ini pada Jisun. Tapi ia merasa dikhianati oleh gadis itu. Oleh kekasihnya sendiri. Bagaimana bisa Jisun lebih memilih pergi dengan temnnya setelah Jisun membohonginya?

“Dia Park Chanyeol, sahabatku…”

“Aku tahu.” Sela Minseok cepat. Dan ia juga tahu, bagaimana perasaan Chanyeol pada kekasihnya. Juga perasaan Jisun…

“Kalau sudah tahu, harusnya Oppa tidak marah lagi, kan?” dan sekali lagi Jisun mencoba membujuk Minseok. Ia benar tidak tahan jika Minseok sudah mendiamkannya seperti ini.

“Begitu, ya?”

“Oppa…”

“Kau menyukainya. Dia seseorang yan kau sukai di masalalu, dan dia kembali dengan perasaan yang masih sama terhadapmu…”

“Tidak, kok! Dia tidak menyukaiku! Dia bahkan sudah memiliki calon istri…”

Kening Minseok langsung berkerut. Calon istri? Kenapa ia tidak tahu informasi yang satu ini? Ia sudah mencari tahu semua yang erkaitan dengan Chanyeol. Dan tidak ada satupun informasi mengenai gadis manapun yang dekat dengan Chanyeol. Ini aneh.

“Oppa, kalau kau tidak percaya, aku akan membuktikannya padamu. Kami tidak ada hubungan apa-apa, sungguh! Kami hanya bersahabat, tidak lebih.”

Dan akhirnya, mau tak mau Minseok memegang ucapan Jisun. Percaya pada kekasihnya, mungkin tidak ada salahnya. Lagipula ia tidak akan pernah melepaskan Jisun begitu saja. Tidak, tidak akan pernah.

 

***

 

Jisun suka lampion.

Jisun suka hal-hal berbau romantis.

Jisun suka lagu Super Junior.

Dan Jisun suka pada Donghae Super Junior.

Lagu favoritnya No Other, dan tentu saja iu lagunya Super Junior.

Dan ia sangat suka lagu First Love, lagu yang diciptakan Donghae.

Dan Jisun suka musik piano, meskipun ia sama sekali payah jika sudah berkaitan dengan musik.

Chanyeol menggeleng pelan. Mana mungkin ia membawa Donghae ke acara lamarannya? Hampir tidak mungkin. Ia tidak sekaya itu untuk mengundang Donghae,dan kalaupun dipaksakan Jisun akan jauh lebih terpesona pada Donghae, bukan padanya.

Dan Chanyeol pun langsung mencoret nama Donghae di kertas yang tengah ia pegang.

Dan soal piano…tidak. Mana mungkin ia memainkan piano? Keahliannya ada pada gitar. Akan jauh lebih terasa menyentuh jika Chanyeol memainkan gitar saja, karena ia dan gitar sudah menjadi sahabat.

Baiklah, berarti ia hanya perlu mengundang Jisun ke sebuah taman, menyiapkan banyak lampion untuk diterbangkan, kemudian ia menyediakan kursi untuknya duduk saat menyanyikan lagu First Love. Kemudian, ia akan menari lagu No Other –ugh, ia tidak percaya diri untuk yang satu ini.

Dan Chanyeol hampir kembali tenggelam dalam lamunan panjangnya saat sebuah sms masuk ke ponselnya. Jisun. Pengirimnya adalah Jisun.

“Yeollie, mala mini kita bertemu di Kona Beans, oke?”

 

***

 

Jisun masih mencintai Chanyeol. Ya. Itu benar. Jisun sangat merindukan laki-laki itu, sangat merindukan kebersamaan mereka, tawa mereka bersama, tingkah konyol Chanyeol, dan sikap bodoh mereka, juga banyak hal lain yang tidak bisa ia sebutkan satu persatu.

Jisun tidak pernah mengakui ini sebelumnya. Ia selalu berpikir, mungkin ini hanya obsesinya belaka. Chanyeol tidak pernah menyukainya. Sejak dulu hingga sekarang, Chanyeol tidak pernah membalas perasaannya sama sekali.

Jisun pun mendengus pelan. Mungkin, jika Chanyeol membalas perasaannya, ia bisa jadi melepaskan Minseok…meskipun itu uga hampir tidak mungkin. Bagaimana bisa ia melepaskan Minseok semudah itu setelah laki-laki itu berada disisinya selama ini, menemaninya, menyeka airmatanya, menyemangati Jisun…

Hidup memang sulit. Minseok lah takdirnya, bukan Chanyeol.

“Sudah siap?”

Jisun agak terkesiap saat Minseok tiba-tiba muncul. Dan Jisun pun menganggukkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa tidak enak hati hari ini. Entah soal Minseok yanga kan bertemu Chanyeol, atau karena ia mengingat semua perasannya…

 

***

 

Chanyeol merasakan tubuhnya tiba-tiba dingin. Rahangnya juga agak sedikit mengeras, matanya tak juga lepas dari pria yang sedang merangkul bahu Jisun saat ini. Seolah berkata bahwa Jisun adalah miliknya, dan laki-laki itu tidak akan melepaskan Jisun sedikitpun…

“Maaf membuatmu menunggu lama, Oppa-ku ini lama sekali,” dan perhatian Chanyeol beralih pada Jisun yang baru saja bicara setengah bercanda padanya. Dan Chanyeol hanya bisa menunjukkan senyum kakunya. Entah Jisun menyadarinya atau tidak.

“Tidak, kok. Aku juga barus ampai,”

“Baguslah,” Jisun mengangguk pelan, “Ah, iya. Kenalkan Yeollie, ini Kim Minseok, tunanganku. Orang yang membuat acara jalan-jalan kita semalam berantakkan,” ucap Jisun yang disusul delikan tajam mata Minseok.

“Dan Oppa, ini sahabatku yang selalu kuceritakan. Park Chanyeol.”

Entah bagaimana jabatan tangan itu bisa terjadi diantara kesakitan luar biasa yang dialami Chanyeol. Ia merasa seluruh dunia tengah menginjaknya, mencoba meremukkannya dan menyatu dengan tanah tanpa peduli betapa sakitnya dada Chanyeol saat ini. Tidak. Bahkan ini terlampau sakit, sangat sakit…

Dan entah bagimana Chanyeol bisa melewati waktus etengah jam nya dengan Minseok berada di sisi Jisun. Ia benar-benar terlambat, ia telah benar-benar melepaskan gadisitu, membiarkan gadisitu pergi darinya…

 

***

 

“Yeollie!”

Chanyeol sebenarnya sama sekali tidak ingin berbalik. Ia sama sekali tidak punya niatan untuk melihat wajah Jisun. Dadanya terlalu sakit. Sangat sakit. Sampai pikian liar berupa mati mungkin bisa menghilangkannya…

Dan itu gila. Chanyeol takkan pernah melakukannya.

“Apa?”

Jisun sadar ada yang berubah dari reaksi Chanyeol sejak tadi. Entah bagianmana yang salah. Yang pasti ia tahu Chanyeol tidak dalam suasana hati yang baik.

“Itu…anu…kau…kenapa?”

“Aku?”

Jisun mengangguk pelan, “Kau ada masalah? Ah, iya.. karena aku sudah mengenalkan pacarku, maka giliranmu untuk mengenalkan gadis itu padaku.”

Chanyeol tersenyum masam. Mengenalkan siapa pada siapa? Siapa yang harus dikenalkan? Ia bahkan tak punya siapa-siapa lagi untuk dijadikan harapan dalam hatinya selain Yoon Jisun. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk mencintai Jisun…

Dan beginilah akhirnya. Mungkinkah ini balasan karena ia menyakiti Jisun di masalalu?

“Tidak ada yang harus kukenalkan. Gadis itu sudah pergi dengan prianya yang lain, bukan aku.”

Mata Jisun berubah sendu. Ada sulutan emosi yang menyeruak dalam dadanya. Perempuan mana yang berani menyakiti Chanyeol-nya? Perempuan mana yang berani meninggalkan CHanyeol-nya?

“Sudah? Aku mau pulang,”

Jisun langsung menarik lengan Chanyeol yang hendak berbalik, “Apakah tidak ada ruang sedikitpun dihatimu…untukku, Chanyeol-a?”

Mata Chanyeol langsung membulat mendengar pertanyaan Jisun. Kenapa Jisun tiba-tiba bertanya seperti itu?

“Yeol-a, jawab aku dengan jujur. Sekali saja…apakah tidak pernah ada tempat untukku dihatimu…?”

Ada! Tentu saja! Tidak ada orang lain yang bisa menempati hatinya sebesar Jisun menempatinya. Ia sangat mencintai Jisun bahkan meskipun sebelum Jisun menyatakan cinta padanya. Jisun cinta pertamanya, dan bertahun-tahun ia bertahan demi rasacintanya pada Jisun…

“Tidak. Tidak ada. Kenapa?”

Jisun mendengus pelan. Ia sudah tahu jawabannya, kenapa ia harus merasa sesakit ini? Ia harusnya tidak terkejut apalagi merasakan sakit yang terlalu berlebihan. Chanyeol memang tidak pernah menyukainya.

Jisun pun menarik tangannya, “Ba…baiklah. Aku memang bodoh, kenapa juga aku bertanya seperti itu…” dan Jisun memaksakan tawa yang mengerikan bahkan di telinganya sendiri. Ini gila. ini…menyakitkan.

“Baiklah, aku harus pulang sekarang. sampai jumpa!”

Dan tanpa sepengetauan Jisun, Chanyeol menjatuhkan airmatanya saat punggung itu menjauhinya. Melihat tubuh itu menjauh, selah ada suara yang menyakiti telinganya dan berteriak bahwa Jisun takkan kembali padanya. Jisun membalas perasaannya, tapi Jisun tidak bisa mengembalikan hati Chanyeol…

Tidak…

Dia tidak tahu, betapa besarnya cinta Chanyeol.

Dia tidak tahu, betapa inginnya Chanyeol memiliki gadis itu…

“Aku…mencintaimu Jisun-a,”

 

=The End=

29082013 1430

Iklan

2 thoughts on “She Doesn’t Know (2)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s