Surprise

Surprise

Written by Chang Nidhyun (twitter : @nidariahs)

Cast : Lee Sungmin, Han In Young (OC)

Genre : AU, Romance, Sad

Rating : T

Length : Oneshot

***

 

Sungmin memandangi jalanan yang masih di sesaki gundukan esmelalui kaca transparan di sisi kanannya. Dengan bosan, ia berusaha untuk membuat titik-titik es yang berjatuhan itu agar tertarik di matanya, memandanginya. Seberapa bosanpun pria itu, ia tetap sabar untuk menunggu di salah satu sudut kafe yang terletak di kawasan Myeongdong. Meskipun udara masih sangat dingin, tapi sepertinya orang-orang masih ingin merasayakan momen tahun baru dengan memadati kawasan ini.

Sungmin menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak sama membosankannya di atas meja, berharap ada satu pesan ataupun panggilan yang tidak sengaja tidak diangkat. Tapi nihil, ponselnya sama sekali tidak menunjukkan adanya orang yang mengirimkan pesan ataupun panggilan.

Sungmin mendesah pelan. Gadis itu tidak pernah mengingkari janjinya. Gadis itu juga selalu menghubunginya dalam keadaan apapun. Tapi sejak kemarin, setelah gadis itu mengatakan mereka harus bertemu di kafe ini, justru gadis itu sama sekali tak menghubunginya. Dan yang lebih menyebalkan lagi, gadis itujuga tak menghiraukan panggilan Sungmin di telpon.

Pasti gadis itu ingin memberikan kejutan padanya. Sungmin tebak, gadis itu pasti sedang mempermainkannya demi kado ulangtahunnya. Ya. pasti ini di sengaja. Sayangnya, sepertinya Sungmin akan sedikit merajuk nanti. Bagaimana bisa ia ditelantarkan begini selama satu jam penuh? Mengesalkan sekali bukan?

Sungmin menyerah, akhirnya ia mengangkat ponselnya dan berniat menghubungi gadis itu. Hatinya terketuk khawatir, kalau-kalau gadis itu ternyata sakit dan terlalu pusing hanya untuk mengabarinya, meskipun imajinasinya itu hampir tidak mungkin. Keluarganya bisa menghubunginya, pasti. Gadis itu selalu memberikan kepastian.

“Menunggu lama?”

Sungmin mendongak saat sebuah suara yang sangat familiar itu mengetuk gendang telinganya. Dan detik berikutnya, kedua sudut bibirnya sudah tertarik sempurna. Kehawatiran konyolnya tidak terjadi, gadis itu benar-benar datang dan sepertinya dugaan Sungmin benar, gadis itu pasti sengaja membuatnya menunggu.

Sungmin menyandarkan punggungnya ke punggung kursi dan melipat tangannya di dada, “Bagus sekali, kau membuatku menunggu selama satu jam penuh.” Sungmin memulai rencananya, mencoba untuk merajuk.

Han In Young tersenyum tipis, ia tidak menggubris protes yang dilontarkan Sungmin dan memilih langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Sungmin.

“Jadi, apa rencanamu sekarang? Apakah ada kejutan besar yang akan membuatku berdecak kagum? Atau kau hanya akan mengucapkan selamat ulangtahun lalu memberi kado secara to the point?” Sungmin melipat kedua tangannya di atas meja.

In Young kembali tersenyum dan hanya menyandarkan punggungnya ke punggung kursi, “Kalau begitu langsung saja.” Dan tanpa basa-basi In Young langsung bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Sungmin yang hanya menatap punggung itu menjauhinya.

Sungmin mendengus pelan, gadis itu tidak pernah berubah dan sepertinya tidak berniat berubah barang sedikitpun. Lihat saja, bahkan untuk moment ulangtahunnya saja ia masih berpakaian biasa-biasa saja, padahal Sungmin berharap gadis itu menggunakan dress selutut atau semacamnya. Sayangnya, kemungkinan itu bahkan tidak mencapai angka 10%.

 

***

 

Sungmin memperhatikan ruangan gelap yang kini mengkungkungnya. Sungmin mengernyit, sejak kapan gadisnya itu tidak takut gelap? Bahkan berjalan sendirian di jalan saat malam saja ia bisa ketakutan.

Dan detik berikutnya, gadis dengan rambut sebahu itu mnyalakan saklar lampu. Sungmin awalnya belum bisa menangkap apa saja yang sebenarnya berada di ruangan itu, karena lampu yang dinyalakan In Young hanya lampu remang.

“Hey, kupikir kau akan melompat ketakutan padaku.” Sungmin mencoba memecah keheningan. Ia baru sadar, sejak tadi gadis di hadapannya itu berubah menjadi pendiam. Dan itu sama sekali bukan gayanya. Gadis itu terbilang cerewet. Sesuatu yang unik jika gadis itu sekarang memilih tak bergeming.

In Young masih tak menggubris. Sungmin mengerutkan dahinya bingung. Sekarang ia malahs etengah meragukan apakah gadis dihadapannya itu benar-benar Han In Young-nya atau bukan.

“Duduklah, oppa.” In Young berhenti didepan sebuah meja dan mempersilahkan Sungmin duduk di salah satu kursi kosong yang berada did ekat meja itu.

Sungmin mengedikkan bahunya, mungkin ini slaah satu kejutan yang dibuat In Young juga. Jadi, mungkin lebih baik Sungmin mengikuti alur permainan yang sengaja In Young buat disini.

Setelah duduk, Sungmin baru menangkap ada sebuah kue di atas meja itu, “Kau yang membuatnya?” tanya Sungmin kemudian. Setahunya gadisnya tidak bisa memasak apapun kecuali mie rebus. Ya, agak sedikit keterlaluan. Tapi Sungmin sama sekali tidak mempemasalahkannya.

In Young yang sudah duduk bersebrangan dengan Sungmin hanya menggeleng sambil tersenyum, “Kali ini aku mencoba membuatnya sendiri, kugharap rasanya tidak akan meracunu lidahmu oppa.”

Sungmin terkekeh pelan, “Kurasa kau tidak berniat membunuhku di hari ulangtahunku.” Sungmin mencoba balas bergurau. Tapi entah mengapa ia tetap merasa hambar dengan suasana yang terbilang…astaga. sungmin baru menyadari dinding di sekelilingnya sudah ditempeli kertas-kertas berbentuk hati berwarna merah muda.

“Yak! Sejak kapan kau mempersiapkan ini semua?” tanya Sungmin sedikit takjub, meskipun agak sedikit risih juga. Ia bukan lagi remaja yang cocok dengan kejutan seperti ini. Bisa dibilang, ini agaks edikit kekanakan.

“Menurutmu?” In Young balas menyahut dengan masih tersenyum. Senyum yang entah mengapa terasa asing di mata Sungmin. Aish. Permainan gadis ini benar-benar…

Sungmin balas tersenyum, kembali bergurau, “Setahun lalu?”

In Young kali ini terkekeh geli, “Itu artinya aku membuat kue kadaluarsa untukmu.”

“Jadi? Apalagi? Potong kue?” tanya Sungmin lagi. rasanya terlalu kaku. Meskipun ini semua cukup mengejutkan –karena In Young membuat semua ini di salah satu ruangan di lantai atas kafe dengan dekorasi unik, lalu membuat kue-, tapi Sungmin tidak merasa In Young membuatnya seperti sebuah kejutan.

In Young menggeleng pelan sambil mencebik, “dasar tidak sabaran.”

“Aku hanya ingin memastikan rasa kue buatanmu.”

“Sebelum itu, ada satu hal yang ingin aku lakukan.”

“Apa?”

In Young tidak menyahut dan langsung berdiri dan berjalan menuju salah satu kursi dengan gitar yang bersandar angkuh. Ah, sungmin sudah bisa menebaknya. Gadis itu akan menyanyikan sebuah lagu sambil memainkan sebuah gitar? Aish, pantas saja dia sebulan terakhir ini terus saja merengek minta diajari bermain gitar.

“Oppa, perhatikan baik-baik. Lagu ini kupersembahkan untukmu.”

“Kau bisa bernyanyi? Ah, harusnya seorang pria yang memberi kejutan seperti ini pada wanita, bukan wanita kepada seorang pria.”

“Kau berisik, oppa!” In Young memutar bola matanya malas. Lalu ia langsung mengambil gitar itu dan mulai mencoba memetik senarnya. Awalnya Sungmin belum menemukan nada daris ebuah lagu, sampai akhirnya ia mulai bisa menebak lagu apa yang sedang dimainkan oleh gadis ini.

Kyeoure taeeonan areumdaun dangsineun
Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin

Gyeoure taeeonan sarangseureon dangsineun
Nuncheoreom malgeun namanui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, gyeoul
Eonjena malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeeonan areumdaun dangsineun
Nunchereom kkaekkeuthan namanui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, kyeoul
Eonjena malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeona areumdaun dangsineun
Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin

Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida
Saengil chukhahamnida. Dangsinui saengireul

Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)
Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)

Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)
Happy Birthday To You
(Happy Birthday To You)

Happy Birthday To You
Happy Birthday To You
Happy Birthday To You
Happy Birthday To You

Happy Birthday To You
Happy Birthday To You
Happy Birthday To You

Happy Birthday To You(Suzy – Winter Child)

Sungmin terperangah mendengar suara gadis itu yang begitu…menakjubkan ? selama ini Sungmin tidak pernah tahu jika seorang In Young memiliki suara emas yang bahkan bisa mnyaingi Suzy Miss A. Belum lagi penghayatan gadis itu, membuat Sungmin benar-benar merasakan inti yang ingin disampaikan oleh gadis itu melalui lagunya.

“Bagaimana?” tanyanya polos setelah melihat Sungmin yang hanya menatapnya tanpa berkedip.

Sungmin sedikit mengerjap dan langsung bertepuk tangan, “Kau sepertinya bisa mengalahkan BoA.” Puji Sungmin serius dengan tepuk tangan yang masih belum berhenti mengalun di ruangan itu.

In Young kembali ke tempat duduknya dengan kepala sedikit tertunduk. Apakah dia malu? Sungmin hanya bisa menyeringai, ternyata gadisnya itu mengenal malu juga.

“Sekarang, tiup lilinnya. Tapi jangan melakukan permohonan dulu, akua kan membawamu ke suatu tempat dan kau harus melakukannya dis ana.” Interupsi In Young setelah ia menyalakan lilin di atas kue itu.

Sungmin menaikan alisnya, “Sepertinya kau sudah mempersiapkannya dengan sangat matang.”

“Aku tidak mau kau meledekku jika kejutanku tidak menarik.”

“Menurutmu ini menarik?”

“Kau belum meledekku, jadi artinya kau benar-benar menyukai semuanya.”

Sungmin mengangguk. Ia mencoba berhenti berdebat karena sekarang ia sudah tidak sabar dengan kejutan-kejutan berikutnya.

“Cha! Tiup lilinnya!”

Sungmin langsung meniup lilinnya dengan perlahan, lalu wajahnya kembali menatap In Young penasaran, “Lalu? Potong kue?”

In Young tidak menjawab dan langsung memotong kue di hadapannya dan menaruhnya pada piring plastik kecil, lalu ia menyodorkannya ke arah Sungmin, “Cobalah.” Gadis itu agak sedikit menggigit bibir bawahnya, khawatir masih menggentayanginya. Ia benar-benar tidak bisa memasak dan ia takut kenekatannya justru berubah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Sungmin menyambutnya, namun ia sekarang menyadari sesuatu yang ganjil dari gadis di hadapannya itu, “Kau sakit? Wajahmu pucat.”

In Young agak sedikit tersentak dengan penuturan Sungmin, padahal sedari tadi pria itu tidak berkomentar apa-apa. “A…aniyo, nan gwaenchana.”

“Jeongmal?” sungmin memastikan. Takut jika In Young datang kemari karena memaksakan diri dan justru akan membuatnay bertambah sakit.

In Young mengangguk meyakinkan Sungmin, “Sungguh. Aku baik-baiks aja. Cobalah. Jangan membuat suasana ini berubah tidak menyenangkan.”

Sungmin menghela napas panjang, awas saja jika gadis itu sakit parah setelah ini. Sungmin tidak akan memaafkannya.

Dan perlahan, Sungminpun mencicipi kue yang di sodorkan oleh In Young. Melihat Sungmin yang masih hening dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di baca, membuat In Young benar-benar panik. Lihatlah,s ekarang kegagalan benar-benar did epan matanya dan ia merusak suasana. Seharusnya ia tidak pernah mencoba memaksakan diri untuk memasak.

“Rasanya…bagaimana?” tanya In Young gugup. Sekarang ia benar-benar tidak berharap Sungmin akan menyukai kuenya.

“Enak!.” Sungmin tersenyum cerah dan ikut mencerahkan suasana hati In Young. Ia menghela napas lega, kekhawatirannya tidak terbukti. Ia tidak jadi membuat kelabu suasana baik ini.

Sungmin kembali memasukan potongan kue itu ke mulutnya, “Kurasa kau bis amemasak dengan baik jika belajar dengan sungguh-sungguh. Kau tahu, kerja keras itu bisa menumbuhkan bakat.”

In Young hanya tersenyum menanggapi ocehan Sungmin.

“Ah, oppa, masih adalagi.” In Young mengalihkan perhatian Sungmin.

Gadis itu mengambil sesuatu di atas meja, dan menekan benda berbentuk seperti remote itu. Detik berikutnya, sebuah layar yang di letakkan di sisi kiri meja mereka menampilkan gambar. Disana tertulis, “Untuk seseorang yang aku cintai, Lee Sungmin.”

Sungmin sudah tersenyum lebar, sekarang ia merasa hari ini terlampau spesial dengan gadis ini. Gadis ini tidak pandai membuat kejutan, tapi hari ini gadis itu memberikan banyak sesuatu yang spesial untuk dirinya.

Dan berikutnya, layar itu menampilkan foto-foto mereka berdua. Ada foto kencan pertama mereka, foto di restoran saat mereka memakan seporsi sphageti untuk kami makan berdua, ada juga foto mereka yang sedang meminum satu cup milk-shake, ada juga foto mereka saat di taman bermain dengan kaos couple dan bando dengan hiasan telinga kelinci berwarna merah muda, dan masih banyak foto-foto lainnya sampai foto itu berhenti pada foto saat Sungmin memberi kecupan rinagn di pipi gadis itu.

Dan terakhir, layar itu menunjukkan tulisan, “Happy birthday oppa, i love you so much.”

Setelah habis, Sungmin terkekeh dengan tatapan mata takjub. Gadis itu menyimpan smeua foto itu dengan baik. Hebat sekali. Padahal setahunya gadis itu sangat ceroboh dan pelupa.

“Foto itu lebih cocok kau tunjukkan saat hari jadi kita.” Komentar Sungmin akhirnya.

In Young mengangkat bahu acuh, “Yang penting kau suka.”

Sungmin tersenyum kecil. “Semua ini benar-benar kejutan untukku.”

“Oppa, kita pergi sekarang.”

“Kemana?”

Gadis itu tak menggubrisnya, dan akhirnya Sungmin kembali mengalah dan memilih mengikuti gadis itu.

 

***

 

Sungmin dan In Young berhenti di depan sebuah kolam airmancur did epan salah satu tempat belanja di kawasan Myeongdong. Sungmin tahu airmancur ini, termasuk mitos soal harapan yang akan terkabul jika kau melemparkan koin ke dalamnya dan menyatakan harapanmu dalam hati. Sungmin sebenarnya tidak begitu percaya, tapi sekarang ia justru curiga jika In Young melakukan momen permohonan harapannya disini.

“Kau tidak akan menyuruhku utnuk melakukan prmohonan disini, kan?” Sungmin memecah keheningan saat gadis itu justru tenggelam dalam diamnya du tengah ramainya Myeongdong.

In Young mendongak menatap mata Sungmin dan t ersenyum kecil, “Sayangnya begitu.”

Kemudian, gadis itu mengeluarkan 2 buah koin. Satu diberikannya pada Sungmin dan yang satu lagi ia pegang.

“Aku akan melakukannya di sana.” In Young menunjuk sebrang airmancur ini. Sungmin menaikkan alisnya, “Kenapa tidak disisiku saja?”

In Young mengedikkan bahunya, “Kupikir kau masih suka dengan permainanku.”

Sungmin sekarang tidak merasa terlalu yakin berikutnya adalah kejutan yang menarik, entah larena ia tidak suka momen airmancur ini atau karena In Young yang akan melakukan permohonan di sebrang sana.

“Baiklah, terserah padamu.” Sungmin menyerah, dan akhirnya membiarkan gadis itu melenggang berjalan menjauhinya.

Dan setelah melihat gadis itu berada di sebrang sana dan memberi isyarat pada Sungmin untuk memulai permohonannya,Sungmin langsung melemparkan koin itu dan langsung memejamkan matanya dengan kedua tangannya terkepal.

“Untuk saat ini aku hanya berharap, aku dapat selalu melihat In Young disisiku, melihatnya tersenyum di tiap-tiap waktuku, dan bersama selalu dengannya. Aku sangat mencintainya…ya. aku sangat mencintainya. Aku hanya ingin tetap bisa melihatnya di sisa umurku.”

Sungmin membuka matanya. Ia terperanjat saat tangannya yang terkepal tiba-tiba sudah terisi cincin disana. Bagaimana bisa? Ini aneh. Logika Sungmin berkecamuk hebat. Tidak masuk akal. Entah mengapa separuh dari diri Sungmin justru berubah panik. Ia mengenali cincin itu, itu milik In Young yang di berikannya setahun lalu.

Sungmin mendongak dan matanya langsung bergerilya ke arah sebranga irmancur. Matanya membelalak saat tidak menemukan sosok In Young disana. Sial, semua itu justru semakin membuat Sungmin panik. Ia terus berjalan mencari In Young, menyusuru daerah itu dan berharap gadis itu hanya sedang memberinya kejutan.

Drrrt. Drrrt.

Perhatian Sungmin teralihkan pada ponselnya yang bergetar. Panggilan masuk dari ibu In Young ? aneh sekali. Apa gadis itu tidak pamit dulu pada ibunya saat datang kemari?

Sungmin mengangkat telpon itu dengan ragu. bagaimana jika ibunya benar-benar menanyakan In Young? Masalahnya gadis itu belum ditemukannya sekarang. Dasar gadis merepotkan.

“Yeoboseyo?” Sungmin mencoba menyapa dengan suara tenang dan ramah. Bagaimanapun wanita itu calon mertuanya bukan?

“Sungmin-ah,” terdengar suara parau yang tercekat dari sebrang sana. Sungmin mengernyitkan dahinya bingung. Sialan, rasa khawatirnya semakin menjadi.

“Ne eommonim?” balas Sungmin mencoba tetap tenang.

“Datang ke rumah sakit segera, In Young…kecelakaan.”

“Mwo?!” Sungmin memekik tidak percaya. Benar-benar mustahil, gadis itu sudah bersamanya sejak 2 jam lalu, bagaimana mungkin gadis itu kecelakaan? Tidak masuk akal. Apa ini termasuk rencana In Young?

“Aku serius Sungmin-a, cepatlah datang. Dia koma. Keadaannya kritis.”

Lutut Sungmin melemas sekarang. Semua pikiran-pikiran itu mulai saling bertabrakan di dalam otaknya.

 

***

 

Sungmin memandang tak percaya ke arah seorang gadis yang masih memejamkan matanya di atas ranjang rumah sakit. Sungmin masih tidak mempercayai kejadian yang terjadi hari ini. Semuanya tidak masuk akal. Gadis itu masih bersamanya satu jam lalu, tapi bagaimana bisa oranmg-orang mengatakan gadis itu kecelakaan sebelum ia menemui Sungmin?

Sungmin menatap wajah In Young nanar. Apakah ini juga salah satu kejutanmu, Youngie? Sungmin membatin.

Dan menit berikutnya, tiba-tiba saja layar pendeteksi detak jantung di sisi ranjang In Young berdecit memekakakan telinga Sungmin. Sungmin tidak terlalu mengerti soal medis, tapi ia tahu arti dari decitan itu. Sekarang ia benar-benar panik. Tidak. Otaknya tidak berjalan normal dan hanya ada ketakutan yang tertohok disana.

Andwae. Sungmin terus mengatakan kata itu berulang-ulang dalam hatinya saat melihat orang-orang berpakaian putih berhamburan mendekati ranjangnya. Sungmin tidak berharap apa-apa, ia juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya ataupun dirasakannya. Yang ia tahu, ia hanya ingin gadis itu membuka matanya kembali. Atau, semua ini hanya mimpinya saja. Ya. semua ini hanya mimpi. Sungmin semakin mengeratkan genggamannya pada cincin di telapak tangannya.

Dan tak lama setelah itu, salah satu dokter mendekat ke arah Sungmin dan keluarga gadis itu.

Tidak. Sungmin membenci ekspresi dokter itu.

“Maaf. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Nona Han, sudah pergi.”

Selang setelah ucapan mengerikan dari sang dokter, lututnya melemas dan membuat tubuhnya benar-benar terjatuh. Seolah kakinya tidak lagi kuat untuk menopang berat tubuhnya. Atau, berat luka yang menghantam dadanya sekarang.

Ia seolah kehilangan roh nya saat itu. Matanya menatap sendu ke arah ranjang yang di tempati In Young.

“Beginikah akhirnya…? inikah kejutan terakhirmu?”

 

***

 

(Epilog)

-sebelumnya, di Myeongdong-

In Young melemparkan koinnya dan memejamkan matanya. Sebenarnya ia tidak tahu harus berharap apalagi sekarang. Ia sudah kehabisan harapan. Bahkan, ia Tuhan sudah sangat baik terhadapnya dengan tetap bisa membiarkannya menyelesaikan rencananya untuk Sungmin.

Tapi, tetap saja. Gadis itu melakukan permohonan itu.

“Aku…tidak menginginkan apapun Tuhan. Tapi jika aku memiliki harapan, saat inia ku hanya berharap aku dapat berada disamping pria itu, selamanya.”

 

=Fin=

28/12/13-30/12/13

7:33PM

Iklan

One thought on “Surprise

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s