When I was…When You were….

Title     : When I Was…When You Were…

Genre  : Temukan sendiri

Main Cast: Lee Hyun Ae, Xi Luhan

Length : Oneshot

Rating : T

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Lyric : S.M. The Ballad Chen (Exo M) & f(Krystal) – When I Was…When You Were…

***

 

Malam di bulan April, tepat ketika angka 3 yanga kan menginjak angka 4, disanalah gadisitu saat ini. Dengan seutas senyum palsu yang bisa menipu mata asing manapun yang menataonya. Gadis yang selalu di katai ramah, gadis yang selalu dikatai murah senyum dan baik hati itu saat ini tengah berjalan di salah satu jalan raya kawasan Insadong.

Kota Tua yang menjadi saksi bisu sejarah masa lampau dan mendadak menjadi rumah bagi para turis itu, selalu menjadi tempat pelarian terbaik bagi Lee Hyun Ae. Dia tidak begitu menyukai Korea, terutama tempat tua yang di sesaki oleh berbagai jenis hanok seperti di Insadong ini.

Tapi ada satu alasan yang selalu membuat otaknya bekerja di luar kendalinya. Dengan hanya bermodalkan melamun, kaki Hyun Ae sudah bisa menuntunnya dengan baik hingg aia bisa sampai di tempat ini. Tempat kedua yang didatanginya pertama kali saat ia menginjakkan kaki di Korea. Dan Seoul…justru Hyun Ae merasa bosan jika harus datang kesana.

Sekali lagi, ia tekankan bahwa ia tidak begitu menyukai Korea. Hanya saja, ia selalu merasa memiliki alasan kuat kenapa akhirnya ia perlu repot-repot datang ke tempat yang tidak di sukainya ini. Begitu konyol bukan? Dan itulah Hyun Ae. Ia tidak akan mengelak jika ada orang yang mengatainya konyol, karena itulah dia.

Dan saat ini, gadis itu sedang duduk di salah satu bangku panjang yang di letakkan di bawah atap halte. Kemana tujuannya? Ia sendiri tidak tahu. Ini kedua kalinya bagi Hyun Ae untuk memutuskan memilih Bis sebagai transportasi. Sebelumnya, ia akan memilih kereta bawah tanah. Atau yang lebih praktis lagi, ia akan memilih taksi.

Dan ketika sebuah bis berhenti tepat dihadapannya, kakinya justru enggan untuk bergerak barang sedikitpun dari sana. Hyun Ae mengingit bibir bawahnya. Ia merasa ada yang salah. Ia tidak mungkin tetap berada disini, ia perlu pergi ke Seoul sekarang juga. Dan bisa dipastikan, mungkin ini bis terakhir yang bis amengantarkannya menuju Seoul. Meskipun mungkin ia juga perlu melewati beberapa pemberhentian lagi.

Tapi hati kecilnya berteriak jangan. Dan dengan tololnya, Hyun Ae tetap tak bergeming dan justru membiarkan dirinya di buai oleh tiupan angin yang menerjangi sekujur tubuhnya. Dingin. Hyun Ae suka. Tak ada alasan bagi Hyun Ae untuk tak menyukai udara dingin Seoul. Karena di California, cuacanya akan sangat berkebalikan.dan dalam waktu dekat, ia akan kembali meninggalkan Korea dan kembali ke California. Ia tidak akan lupa dengan seabreg tugas dari dosennya yang menuntut ini itu dan pada akhirnya akan berakhir dengan denyutan ringan di kepala Hyun Ae. Walau begitu, Hyun Ae tetap menikmati statusnya sebagai mahasiswi.

Lama-lama, entah bagaimana Hyun Ae malah memejamkan matanya. Seolah menghayati setiap pergerakan udara yang benar-benar tidak menentu. Ia tidak begitu suka kimia, ia jadi tidak begitu bisa mengingat apa yang membuat molekul udara saling bergerak bebas. Apakah ia termasuk gas atau cocok di sebut molekul atau bukan, ia juga tidak ingat. Iahanya tahu, ia sebebas udara saat ini. Pergi kemanapun dan kapanpun. Meskipun hatinya tidak begitu, ada yang mencuri kuncinya dan belum juga mengembalikannya pada Hyun Ae. Mengerikan. Padahal hatinya kini sudah rusak parah.

Dan Korea salah satu alasan kenapa hatinya ikut rusak. Ada bagian-bagian didalamnya yang retak permanen, dan tak satupun cara bisa menyembuhkan luka itu. Parah sekali bukan? Dan sayangnya ini cerita lama. Cerita lama saat dirinya tengah terdampar di Chengdu –Cina, dan hatinya terhempas ketika ia berada di Incheon –Korea.

Perlahan, Hyun Ae membuka matanya. Ia masih terlalu betah untuk merelakan kenakan tak berguna itu. Ia masih sering berharap dan berharap, walaupun pada kenyataannya, harapan itu malah menyeretnya semakin jauh hingga ia tidak tahua da di bagian mana dirinya saat ini? Mengerikan. Mengerikan. Dan mengerikan.

Hingga keputusan untuk tetap tinggal di Taiwan saat itu hengkang dari pikirannya. Membuatnya memilih kembali untuk tinggal di New York. Dan saat ini, ia malah merasa bosan dan memilih Kalifornia sebagai jajakan barunya. Dan sayangnya, hatinya masih terjebak di tempat yang sama. Entah dimana, entah Cina, Korea atau bahkan Taiwan. Tapi yang pasti, hantinya tidak ada di Kalifornia ataupun New York –tempat orangtuanya tinggal.

And that moment is…when i was yours, and you were mine…

 

***

 

Lelaki dengan jaket biru yang membungkus tubuhnya itu berjalan ringan menuju halte terdekat dari tempatnya saat ini. Berlibur di Insadong bukan idenya, tapi teman-temannya begitu suka memaksanya dan yang sial, ia tidak bisa menolak karena dari 12 anggota gank-nya, hanya dirinya yang tidak setuju dengan ide itu.

Masih ada Jeju, Nami, Busan, dan tempat-tempat lain yang layak di sebut tempat liburan, tapi kenapa harus Insadong? Ah, mengingat itu hanya membuat lelaki itu bertambah sebal saja. Tidak membuat mood-nya membaiks ama sekali.

Xi Luhan –nama lelaki itu- pun dapat sedikit menarik kedua sudut bibirnya saat ia melihat halte semakin dekat. Temannya berjanji akan menjemputnya disana setelah Luhan mangkir sebentar ke restoran favoritnya. Ia sempat datang ke restoran dengan gaya kuno itu. Kuno? Katakan saja begitu. Hanok dengan dinding dan atap yang mengingatkannya pada masa-masa kerajaan Joseon, merupakan ciri kahs utama restoran itu.

Apakah Luhan suka tempat itu?

Seandainya ia tidak punya kenangan disana, ia pasti tidak akan suka tempat itu. Tapi entah kenapa ia malah menyukai kenangan yang di cap-nya pahit itu. Apalagi jika ia ingat bagaimana dirinya heboh membicarakan soal JUMP bersama orang yang berada dalam kenangannya, rasanya ia ingin berlari ke masalalu. Dan merengkuhnya tanpa melepaskannya barang sedikitpun.

Dan semua itu terlambat. Hanya sebatas angan dan takkan pernah terjadi.

Luhan menghentikan lamunannya saat ia sudah berada di bawah atap halte. Ia tidak yakin kapan tepatnya sang temana kan menjemout. Ia hanya dikabari, ia tidak perlu khawatir karena ia akan di jemput. Dan ia tahu, orang yanga kan menjemoutnya tidak akan tepat waktu. Ah,s eharusnya ia menonton atraksi di pinggir jalan tadi, setidaknya ia tidak harus berkencand engan kesepian selama beberapa waktu kedepan kan?

“Luhan?”

Luhan sedikit berjengit saat mendengar namanya di panggil sebuah suara. Ia mengenal suara itu. Suara yang sudah sangat usang dalam memori otaknya. Tapi ia masih mengenalnya meskipun otaknya bekerja lamban untuk menemukan nama dari pemilik suara itu.

“Kau…Luhan?” ucap suara itu lagi. dan Luhan pun memutar kepalanya ke arah samping kanan, tepat ke arah sumber suara yang memanggil namanya dengan nada akrab. Entah nada akrab seperti apa, tapi ia tahu nada itu terlalu akrab bahkan di telinganya sendiri.

Tubuh Luhan membeku saat ia mendapati sosok gadis itu lagi. sosok gadis yang menjadi tokoh utama dalam film kenangannya, dan Luhan selalu menyukai itu diam-diam. Letupan-letupan rindu itu kini mulai mendidih dan menggila. Luhan tidak suka, tapi ada bagian dari hatinya yang justru menerimanya. Ini gila. Tapi nyatanya Luhan malah membiarkan matanya tetap menatap lurus gadis dengan rambut sepunggung itu. Memperparah rasa rindu yang tak pernah di ucapnya barang sekali, dan baru sekarang ia mengakuinya.

 

***

 

Dan kemudian, hati mereka sama-sama diam membeku, mengikuti alur permainan sang udara yang semakin mendingin. Tidak peduli sedingin apa, hati mereka sama-sama hangat, mencoba berbicara melalui mata dan bernyanyi riang dalam hati.

Takdir tidak menempatkan mereka pada satu jalan…hanya itu permasalahannya. Dan mereka, hanya perlu sama-sama menerimanya dan terus berjalan.

I didn’t want much, you were always by my side
The way you talk and your smile always made me smile
I didn’t hate it

Really? I didn’t know because you always smiled as if you were a little annoyed
Look at my eyes, do you mean it?
Sometimes, without even knowing, I think of the cold you
It’s strange how my heart races

One season, two seasons pass and it’s been a year
But the thing I can’t forget
Is the sound of your laugh whenever I talked

Really? I didn’t know because you were always frustrated with me
You were always pouting and mad, it was so cute
Sometimes, without even knowing, I hear your voice in my ears
I try to cover my ears but it’s no use

How have you been? I’ll ask first
I’m… doing really well
Stop lying
Although we don’t know everything about each other…

For me, it was good
How we used to care for each other
For me, it’ll be painful
Even when the seasons endlessly change
But it’s alright, but it’s alright”

 

=Fin=

24/02/14 10:03PM

Iklan

2 thoughts on “When I was…When You were….

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s