With You

Title     : With You

Genre  : Romance

Main Cast: Lee Hyukjae as Eunhyuk Super Junior, Han Hyojin, Cha Sunmin

Length : Oneshot

Rating : T

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

***

 

“Sudah kubilang, aku ingin kau melupakannya, oppa. Apa kau tidak mengerti juga?” Hyukjae tersenyum kecil sambil menyesap pelan mokacino-nya. Dasar gadis pecemburu, ia bergumam dalam hati namun tetap mendengarkan gadis yang tak henti-hentinya untuk terus merecokinya. Dan yang lebih parah, gadis itu terus membahas orang yang sama.

“Dengar, kau tidak perlu khawatir, aku…”

“Aku tidak menerima sanggahan apapun draimu, oppa.” Potong gadis itu cepat. Dan Hyukjae akhirnya mengalah dan memilih diam. Tangannya kini sudah menumpu dagunya setelah sebelumnya ia meletakkan gelasnya di atas meja.

“Baiklah, baiklah. Kalau begitu, kapan kau pulang dari London?” tanya Hyukjae dengan mata menatap lurus ke arah luar melalui kaca tembus pandang di kantornya. Ia melihat titik-titik air itu mulai berjatuhan kembali dari langit. Gerimis yang hangat. Entahlah, mungkin otaknya agak sedikit rusak. Tapi baginya, gerimis memang selalu hangat. Terutama di awal musim semi seperti sekarang.

“Kubilang minggu depan. Kau sudah menanyakannya berulang kali.” Sewot gadis itu dengan nada ketus yang sangat kentara. Tapi Hyukjae tak pernah keberatan, karena itulah Cha Sunmin.

“Baiklah. Katakan padaku jika kau sudah sampai di Korea, aku akan menemuimu langsung.”

“Tentu saja kau harus! Aku akan benar-benar marah jika oppa tidak menjemputku!” suara gadis itu lagi-lagi melengking tinggi di teinga Hyukjae. Dan pria itu hanya menggeleng sambil tersenyum, tidak pernah berubah.

“Arasseo. Baiklah, aku harus menyelesaikan pekerjaanku lagi. jaga dirimu baik-baik Sunmiin-a,”

“Chagi,” ralat Sunmin cepat, “Aku sudah mengatakannya berulang kali, panggil aku chagi.” Ia masih melanjutkan dengan nada mengancam.

“Baiklah, chagi. Oke, sekarang aku akan menutup telponnya.”

Setelah benar-benar menutup telpon, kaki Hyukjae secara refleks berjalan menuju kaca bening di hadapannya itu. Seperti orang sinting, matanya menerawang ke arah kaca itu. Kaca yang mulai terkena titik-titik gerimis hangat yang sudah menyentuh retina matanya sejak tadi. Dan tangan pria itu kini sudah berpindah pada kaca yang mendadak memancing sebuah rindu yang dipendamnya.

Menarik. Ia sudah lama melupakan perasaan ini, tapi kenapa perasaan ini tiba-tiba muncul kembali? Seolah-olah ia baru mengalaminya kemarin dan mengenangnya hari ini. Padahal, ia sudah melewatinya dengan kata tahun. Dan dengan brengseknya, perasaan itu lagi-lagi meringsek masuk dengan paksa ke dalam hatinya.

Perasaan yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan.

Tapi Hyukjae tidak pernah menyalahkannya, ia hanya terus menikmati mengikuti alur isi hatinya. Karena hatinya tidak akan pernah berbohong. Dan waktu, tidak akan selamanya terus mengkungkungnya dalam situasi yang sama. Roda kehidupan itu berjalan, seperti takdir yang ikut berjalan. Dan tentunya, isi hatinya juga akan ikut berjalan, kan?

 

***

 

Hyukjae tersenyum kecut ketika kakinya baru saja menginjak lantai bis yang dipijaknya. Entah apa yang membuat dirinyatiba-tiba berpikir, menaiki bis adalah ide bagus. Meskipun Hyukjae sendiri tidak tahu, dimana letak bagusnya.s padahal, ia bisa saja menaiki mobil jaguarnya. Dan bukan berdesakan di kendaraan umum yang hanya dinaikinya ketika masa sekolah sampai kuliah itu.

Seperti bernostalgia, kaki Hyukjae kini melangkah ke belakang. Meskipun tubuhnya da aberada di masakini, tapi Hyukjae merasa dirinya berada di waktu 10 tahun lalu. Dengan kejadian yang hampir berulang kali ia lakukan, menaiki bis dan berjalan ke bangku paling belakang. Duduk disana sambil memandangi seseorang…

Tangan Hyukjae kini berlari pada dadanya. Oh, dear…ia benar-benar merasakan rindunya kembali datang. Entah apa maksudnya. Meskipun ia tidak pernah menyangkalnya, ia masih selalu menyimpan perasaannya dengan baik. Tapi ia tidak pernah mau mengungkapkannya, karena ia tahu, semua tidak akan pernah berubah…

 

***

 

Sunmin merenggut kesal saat tahu Hyukjae tak berada di kantornya. Apa-apaan ini? Padahal, kemarin pria ituu terus berceloteh tentang pekerjaannya yang menggunung. Dan sekarang, ketika Sunmin berencana membuat kejutan untuk Hyukjae, laki-laki itu malah tak ada ditempatnya. Dan yang terparah, ia meninggalkan mobil jaguarnya.

Memangnya kemana laki-laki itu pergi?

“Apa benar oppa tidak tahu Hyukjae Oppa pergi kemana?” tanya Sunmin sekali lagi pada Lee Donghae yang juga merupakan sahabat terdekat Hyukjae. Dan laki-laki itu hanya tersenyum sambil menggeleng, ia mengerti perasaan Sunmin. Dan sayangnya, ia tidak tahu kemana si monyet itu pergi.

Walaupun entah perasaannya saja atau tidak, semenjak kemarin, laki-laki itu berubah. Dan semua diawali ketika Hyukjae tiba-tiba membahas soal gerimis. Donghae yang notabennya sudah mengenal Hyukjae sejak bangku SD, sudah tahu kemana arah pikiran pri aitu jika sudah membahas soal gerimis.

Tapi…Donghae menyangkalnya juga, sudah 10 tahun. Tidak mungkin Hyukjae kembali terdampar pada masalalu.

“Kau sudah mencoba menghubunginya?” tanya Donghae yang sama sekali tak membantu Sunmin. Yang benar saja! Sunmin ingin memberi kejutan, mana mungkin ia menghubungi Hyukjae? Konyol sekali ikan dihadapannya ini.

“Oppa, nanti laki-laki itu tahu aku datang ke Korea.” Sewot gadis itu dengan nada gemas. Entah perasaannya saja atau bukan, Donghae kadang polos atau bahkan nyaris bodoh dengan jalan pikirannya.

“Ah, benar…kalau begitu kau tunggu saja disini. Dia meninggalkan mobilnya, artinya ia akan kembali kemari.”

 

***

 

Bukan hanya tubuh Hyukjae, tapi mata pria itu juga ikut menyusuri pemandangan yang tersuguhkan padanya. Dan ini yang selalu Hyukjae suka, tempat yang sudah beberapa tahun ini ia abaikan, tidak pernah berubah sedikitpun. Disepanjang jalan, ia bisa mendapati pohon sakura yang masih gundul. And well, ia juga ingat bagaimana ia tersenyum dengan seseorang di tempat itu, memandang takjub wajah orang itu. Karena dimatanya, wajah orang itu jauh lebih indah dari pohon sakura yang merupakan pohon kesukaannya.

Hyukjae kini sudah duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia. Ia juga ingat soal ini, mendengarkan musik bersama dengan teh ditangan masing-masing. Dan tentunya, Hyukjae akan selalu mencuri pandang ke arah orang itu…

Entah kenapa, orang itu seolah menjadi pusat objek yang selalu menarik dimatanya. Dan tentunya, seolah-olah tak pernah kehilangan daya tarik di mata Hyukjae…

Well, this story began when we were one…i was yours, and you were mine…

 

***

 

Sunmin mendecak kesal untuk yang kesekian kali. Ia sudah menunggu selama berjam-jam, dan hasilnya? Kemungkinan laki-laki itu muncul seolah-olah semakin kecil. Ah~ lagipula sebenarnya kemana laki-laki itu pergi?

Karena bosan menunggu, Sunmin pun berjalan ke arah meja kerja tunangannya itu. Ia ingin tahu, apa saja yang selalu di kerjakannya. Meskipun ya…ia sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti soal perusahaan, tapi tidak ada salahnya melihat-lihat,kan?

Dan setelahnya, ia justru menyesal. Karena ia sama sekali tidak mengerti apa saja yang tertera pada layar komputer Hyukjae-nya. Yang ia tahu, itu merupakan data-data penting perusahaan keluarga Lee.

Mata Sunmin kini mulai menjelajah pada meja Hyukjae yang berantakkan. Ia sempat berjengit. Parah. Padahal laki-laki itu suka kerapihan, tapi sepertinya laki-laki itu akan lupa jika ia sudah berada di balik meja kerjanya.

Kali ini, tangan Sunmin mulai mengacak-acak seisi meja Hyukjae. Tak terkecuali laci terdekat yang berada di meja itu. Ia tidak berpikir macam-macam, dan itu terjadii sebelum ia mendapat sebuah lembaran foto yang tidak terlalu asing baginya.

Napas Sunmin sempat tercekat. Kemudian ia membalik kertas foto itu, ia bisa membaca tulisan apa yang ada disana. Kali ini, justru hembusan napas sakit yang menguar, baiklah. Sekarang Sunmin tahu apa yang sedang dilakukan laki-laki itu.

 

***

 

Hyukjae memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, mata pria itu tak henti-hentinya terkagum-kagum pada beberapa bangunan yang tidak berubah dimatanya. Persis 10 tahun lalu ketika terakhir ia datang kemari. Yeah, walaupun setelahnya Hyukjae memutuskan untuk tidak pernah lagi menginjakkan kakinya kemari.

Toko bunga yang berjajar di sepanjang jalan, kemudian terselang sebuah toko buku yang sekarang sudah berubah menjadi sebuah kedai kecil, lalu tempat bermain game yang juga sudah berubah menjadi toko elektronik. Dan yang paling menyentaknya, adalah bangunan toko aksesori yang ternyata masih sama seperti yang dilihatnya dulu.

“Menurutmu, aku cantik tidak dengan bando ini?”

“Kapan kau tidak terlihat cantik, eo?”

Hyukjae kini tersenyum sendiri mengingat memori singkat itu. Dan semua pujiannya selalu sama, gadis itu tidak pernah tidak cantik dimatanya.

Hyukjae cukup terperangah ketika ia mendapati dirinya sudah berada di depan persimpangan. Dan beberapa memori itu kembali berkelabat dahsyat di kepalanya. Meskipun kali ini, efeknya berupa denyutan ringan di kepalanya. Di tambah rasa perih yang masih sama dengan 10 tahun lalu…

“Kenapa kau meninggalkanku?! Kenapa kau selalu menghindariku?!” gadis itu berteriak keras pada Hyukjae yang masih menatapnya datar.

“Kumohon, lupakan aku. Lepaskan aku. Anggap kita tidak pernah bertemu.” Balas Hyukjae dingin. Meskipun ia merasakan dentuman sakit yang teramat sangat di dadanya.

Gadis itu menggeleng keras, “Kau tidak bisa seperti ini padaku!!!”

Hyukjae memejamkan matanya, kemudian ia membuka matanya dan sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak memeluk Hyojin saat itu juga.

“Kumohon Hyojin-a, mengertilah…”

Tes…

Hyukjae langsung menghapus kasar airmatanya itu. Film lama yang menyedihkan. Layaknya film noir, itu sudah terlalu lama dan usang. Bahkan, sebut saja itu membosankan. Dan sayangnya, hatinya tak pernah sepakat dengan apa yang dipikirkannya.

Setelah menghela napas panjang, Hyukjae pun melanjutkan langkah kakinya. ada satu tempat yang masih harus dikunjunginya…

 

***

 

“Aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Tidak peduli dengan apapun yang terjadi padamu, ataupun gadis bernama Sunmin itu, aku mencintaimu Lee Hyukjae!!!” jerit Hyojin dengan linangan airmata yang tak bisa ditahannya lagi. ia sudah menahannya sejak lama, ia sudah bersama dengan Hyukjae bukan dalam kurun waktu sebentar. Mana bisa ia semudah itu melupakan Hyukjae?

Hyukjae hanya terdiam dengan tatapan kosongnya. Ia tahu, hatinya menjawab dalam diam. Tanpa gadis itu berteriak seperti itu padanya, Hyukjae tahu jika Hyojin sangat mencintainya. Persis Hyukjae mencintai gadis itu.

“Hyukjae-ya…jawab aku…” isak gadis itu.

Dan Hyukjae sama sekali tak memiliki nyali hanya untuk melihat wajah Hyojin. Apapun alasannya, ia tidak bisa. Karena hatinya ikut hancur menjadi kepingan yang tak terselamatkan. Dan jangan tanya betapa sakitnya, karena itu sangat sakit.

“Hyukjae…”

“Hyojin-a, kumohon…” kali ini Hyukjae mendongak menatap Hyojin yang berdiri di hadapannya. Dan mata pria itu beralih pada kalung yang bertuliskan ‘HH’. Apalagi artinya jika bukan ‘Hyukjae-Hyojin’ ?

Dan disanalah kesalahan Hyukjae. Seharusnya ia tidak terlalu mengindahkan keberadaan gadis itu. Seharusnya ia ingat, ia sudah memiliki cincin pertunangan yang seolah-olah memang telah tersemat manis di hidupnya, yang telah mengikatnya dengan oranglain. Dan orang itu, bukanlah Hyojin.

Dan hasilnya? Lihat, bukan hanya hatinya yang sakit. Tapi yang lebih mengerikan ia menyakiti hati oranglain.

Hyojin akhirnya menunduk pasrah. Ia tidak tahu rasanya jatuh cinta bisa sedalam ini. Bis amengendalikan hatinya sebegitu kuat, bisa membuatnya terporosok dalam satu titik perasaan bahagia yang bisa melebur menjadi sebuah kesakitan. Ia harap, di umur ke 20 Lee Hyukjae, ia bisa ikut merayakan tahun ke-3 mereka setelah berpacaran bersama.

Berpacaran? Ralat…mungkin hanya Hyojin yang berpikir Hyukjae adalah kekasihnya.

“Aku tidak akan menyerah,” desis Hyo Jin kemudian, “Selama kau belum menyematkan cincin pernikahan padanya, aku tidak akan menyerah…” tutur gadis itu lagi dengan nada menyedihkan yang pernah ada.

Kemudian, Hyukjae bangkit dari duduknya dan langsung menarik tengkuk Hyojin. Ia tidak peduli lagi dengan semuanya. Tidak. Ia tidak mau tahu, persetan dengan perjodohannya atau semua kesakitan dan juga perpisahan mereka ini.

Pria itu dengan cepat mempertemukan bibirnya dengan bibir Hyojin. Membiarkan diri mereka sama-sama tenggelam dalam kegelapan perasaan mereka masing-masing. Dan dalam hati, Hyojin berharap, takdir akan berubah dan berbelok mempersatukannya dengan Hyukjae. Ia tidak peduli perasaan itu benar atau tidak, ia hanya tahu, ia mencintai Lee Hyukjae.

 

 

“Kau merindukanku?”

Hyukjae mendengus panjang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menatap sosok yang dirindukannya diam-diam, sosok yang dicintainya dan selalu ia kenang. Tidak semudah itu untuk melepaskan seorang Han Hyojin.

Hyukjae kini bisa melihat Hyojin tersenyum, “Bukankah dulu kau yang ingin kita berpisah?” tanya gadis itu dengan nada yang sedikit angkuh. Dan sialnya, itu justru mengundang airmata Hyukjae untuk turun dan membasahi pipinya. Membuka tabir dirinya yang memang begitu lemah dlama urusan ini.

“Hyukjae-ya…seharusnya kau tidak disini,” dengan lancang, gadis itu menyentuh pipi Hyukjae dan mengusapnya. Dan tidak peduli dengan betapa menderitanya Hyukjae sekarang.

Hyojin pun menarik tangannya dan membiarkan matanya bertemu denganmata Hyukjae. Mata yang selalu Hyukjae rindukan, mata samudera yang selalu Hyukjae harap agar selalu menatap ke arahnya.

Kebas…semua tamengnya kebas…ia benar-benar menangis sekarang…

“Bagaimana aku bisa melepaskanmu? Aku bisa berjalan melewati hari-hariku dengan normal, aku bisa tersenyum dan terus tertawa melewati pergantian hari, seolah-olah aku bisa melepaskanmu. Tapi kenyataannya aku tidak pernah bisa Hyojin-a…aku…aku harus bagaimana…” tangis laki-laki itu kemudian pecah. Ia benar-benar tak lagi bisa mengendalikan perasaannya. Semuanya, semua rasa sakitnya dan semua rasa rindunya kini melebur dan terus menjajah hatinya tanpa ampun.

Dan Hyojin juga kini tak tahan untuk tidak menangis. Ia tahu rasanya. Ia tahu semua perasaan yang Hyukjae maksud. Dengan lancang, Hyojin memeluk Hyukjae dan membiarkan Hyukjae menangis di bahunya.

“Maafkan aku…seharusnya aku tidak seegois itu dulu…”

Hyukjae justru semakin terisak setelah mendengar ucapan Hyojin. Ia tidak tahu bagaimana, ia hanya tahu ia masih mencintai gadis itu dan merindukan sosoknya. Sekeras apapun ia mencoba, ia tetap terkungkung pada perasaan yang sama.

Hyojin pun melepaskan pelukannya, dan menatap mata Hyukjae dalam.

“Lepaskan aku, lupakan aku, dan mulailah melihat ke depan…”

“Hyojin-a…”

Tangan Hyojin langsung menggenggam tangan Hyukjae, kemudian ia menyodorkan sebuah korek api pada Hyukjae.

“Kau tidak akan pernah bisa melupakanku selamanya, jika kau tidak pernah mencobanya. Jika kau terus membiarkanku terus berada dalam pikiranmu…”

“Han Hyojin…”

“Caramu mencintaiku adalah….dengan mencintai gadis lain Hyukjae-ya…lakukanlah…”

Sambil memejamkan matanya, Hyukjae mulai menyalakan korek api itu dan kemudian memandangi api itu lama…

And maybe, forever i’ll loving you…with you…for you…

 

***

 

“Sunmin tidak ada disini?” tanyanya agak terkejut saat mendengar bahwa Sunmin tidak sedang berada di tempatnya. Oh, manis sekali. Gadis itu benar-benar sudah membuat Hyukjae khawatir. Dan kenapa bisa gadis itu pulang lebih cepat dari jadwal yang di katakannya?

Gadis berambut sebahu itu menggeleng, “Dia sempat kemari dan membawa kue tart besa sekali. Kurasa itu untukmu,” ucapnya kemudian.

Hyukjae menautkan alisnya bingung. Kue tart? Untuknya? Tapi kenapa?

“Kapan? Dan…kue tart apa?” tanya Hyukjae bingung.

Gadis itu mendesah kemudian melipat tangannya di depan dada, “Ulangtahunmu. Apalagi? Dan sepertinya kau harus membawanya, kue itu ada didalam kulkas.”

Hyukjae mengerjapkan matanya kaget. Benar, ia melewatkan ulangtahunnya…ia benar-benar melupakannya.

Kemudian, Hyukjae di bawa ke dapur. Well, apalagi jika bukan untuk melihat kue tart yang gadis itu maksud?

Dan hyukjae tercenung melihat kue berwarna merah muda itu. Airmata pria itu tak lagi sungkan untuk turun saat matanya membaca tulisan, “Happy birthday Hyukjae Oppa ~ I Love You!”. Gadis itu benar-benar tulus mencintainya…

 

***

 

Hyukjae mempercepat langkah kakinya di koridor rumah skait itu. Pantas saja beberapa hari ini Sunmin tidak menghubunginya juga, tidak seperti biasanya dan sama sekali bukan gayanya. Ternyta gadis itu sakit. Dan yang menjengkelkan, gadis itu sama sekali tak memberitahunya.

Setelah menemukan ruangan yang dicarinya, dengan agak kasar ia membuka pintu ruangan tersebut. dan hal yang pertama Hyukjae lihat adalah, sosok Sunmin yang terlihat menyedihkan dengan piama rumah skaitnya.

Bukannya menyambut Hyukjae, Sunmin lebih memilih untuk melihat ke arah jendela. Kekanakan? Egois? Masa bodoh dengan semua itu. Pada kenyataannya ia tetap manusia biasa. Awalnya, mungkin ia bisa mengerti jika Hyukjae masih terjerat nama Hyojin. Tapi itu sudah berlalu beberapa tahun lalu!

“Kenapa kau tidak bilang padaku? Dan kenapa kau tidak mengaktifkan ponselmu, eo?” tatar Hyukjae marah. Dan Hyukjae bis amerasakan letupan kekhawatirannya itu semakin menggila.

Sunmin hanya mendesah pelan, kemudian beralih menatap Hyukjae.

“Kenapa aku harus?”

Mata Hyukjae membulat shock mendengar jawaban Sunmin. Ada apa dengan gadis ini? Dan…apakah Hyukjae baru saja melakukan satu kesalahan? Bahkan, seingatnya mereka tidak bertengkar sama sekali. Dan kenapa Sunmin tiba-tiba dingin terhadapnya?

“Sebenarnya kau kenapa…”

“Kau yang kenapa oppa! Kau tidak tahu, bagaimana sakitnya ketika aku harus mendapati orang yang kucintai lebih mencintai gadis yang sudah mati?” kalap. Sunmin benar-benar kalap. Jangankan dibandingkan dengan gadis yang berkeliaran mengitari hidup Hyukjae, ia bahkan harus rela selalu disamakan dengan gadis yang sudah pergi bertahun-tahun lalu. Dan yang lebih menyedihkan, entah kenapa sunmin selalu merasa Hyukjae selalu membela Hyojin yang jelas-jelas sudah tiada…

Tubuh Hyukjae langsung membeku seketika. Ia tahu. Ia tahu ia selalu salah dan selalu saja menyakiti oranglain. Dan yang terparah, sekarang ia juga menyakiti Sunmin. Kali ini kepalanya berdentum lagi, sakit…

“Maaf…” ucap Hyukjae dengan suara serak. Kepalanya sudah benar-benar tertunduk sekarang…

“Kau tahu, seandainya aku memang tidak pernah mencintaimu sejak awal, aku pasti sudah lebih memilih Hyojin dibanding dirimu. Tapi sejak awal aku selalu memilihmu. Kau dan kau. Cha Sunmin…aku tetap memilihmu sampai Hyojin benar-benar pergi 8 tahun lalu…dan maaf…aku tidak pernah bisa benar-benar membuatmu bahagia…”

Hyukjae pun menarik napas panjang danmenyeka airmatanya, ia tidak bisa membohongi dirinya lagi…

“Aku memang mencintai Hyojin. Dia adalah cinta pertamaku, orang pertama yang bisa membuatku terjatuh dalam satu perasaan yang memang benar-benar asing. Tapi dia adalah masalaluku…dan takdir sudah menetapkan, aku akan tetap bersamamu…”

“meskipun kau tidak mencintaiku?” tanya Sunmin dengan sakit yang benar-benar menjadi didadanya.

Hyukjae mendongak menatap mata Sunmin lama…dan dengan lancang, pria itu langsung memeluk tubuh Sunmin yang mendadak begitu ringkih. Dan perlakuan Hyukjae tak urung membuat tangis Sunmin pecah.

“Aku sudah mencintaimu Sunmin-a, bahkan sejak sebelum kau tahu jika aku mencintaimu. Maka dari itu, tetaplah disisiku, hidup bersamaku dan jangan pernah tinggalkan aku. Maafkan atas semua kesalahanku…”

 

And i love you, because i love her…and i love her, because i don’t know that i love you…

 

=The End=

03/04/14 09:47PM

Iklan

One thought on “With You

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s