Seoul Story (What is Love?) (2)

-Part 2-

 

Ariel Lau menutup kupingnya dengan guling yang semalaman ia peluk selama tidur. Entah sudah yang keberapa kali laki-laki yang berstatus sebagai kakaknya itu terus meneriakinya seperti orang kesetanan. Demi apapun! Ini masih terlalu pagi! Dan ariel paling anti bangun pagi –meskipun hanya 5 menit sebelum waktu yang ia tentukan untuk bangun. Dan yang benar saja, Clinton membangunkannya sepagi ini?

“Bangunlah, Lau! Temanmu sudah menunggumu di bawah!” teriak Clinton sekali lagi dengan tangan masih menarik guling yang di peluk erat oleh Ariel. Sepertinya setelah ini ia akan meminta ibunya untuk menarik Ariel kembali ke Kanada. Bagaimanapun ia bukan babysitter Ariel! Ia pria dewasa yang memiliki kesibukan segudang. Dan tentunya ia tidak punya waktu hanya untuk sekedar mengurusi adik kecilnya yang tidak pernah berubah menjadi dewasa.

“Jangan panggil aku Lau! Kau juga Lau, tahu!” balas Ariel kesal. Kali ini tubuhnya sudah berubah menjadi duduk. Ia menyerah, Clinton bukan orang yang bisa ia lawan dengan mudah. Jika Clinton menyuruhnya bangun, maka Ariel tidak bisa melawan lagi untuk tidak bangun. Kecuali sakit. Dan kadang, Ariel berharap ia bisa sakit agar Clinton bisa berhenti berteriak padanya, seperti ibu-ibu Korea yang menurutnya memiliki taraf cerewet yang keterlaluan.

“Kalau begitu bangunpemalas! Aku tidak mengerti kenapa bisa ada gadis sepertimu, uh?” protes Clinton masih dengan bahasa Inggrisnya. Meskipun berdarah Cina asli, juga tinggal di Korea, mereka sama-sama lebih suka menggunakan bahasa inggris. Menganggap diri mereka masih berada di Kanada.

Ariel menatap sebal ke arah Clinton, kemudian ia menguap lebar-lebar. Kakaknya ini memang menyebalkan. Ia lebih menyukai Henry yang tidak pernah mengkritik soal apapun dan selalu sependapat dengannya. Jarang bertengkar dengannya dan lebih asyik jika diajak bicara. Berkebalikan dengan Clinton yang begitu mengerikan karena terkungkung di balik meja kerjanya, dan dalam sekejap merubahnya menjadi pria paling cerewet yang ia kenal.

“Kau selalu merecoki pagiku, Clinton! Itu mengganggu!” sungut Ariel sambil berjalan tersaruk menuju kamar mandinya. Ia tak lagi berselera untuk kembali berbaring di atas ranjangnya.

Clinton yang mendengarnya hanya mendesis pelan sambil melipat tangan di depan dadanya. Meskipun gadis yang sudah berumur 17 tahun itu kekanakan, menyebalkan dan menjengkelkan, baginya gadis itu tetap gadis kecilnya yang sangat ia sayangi. Gadis kecil yang selalu ia manja, dan yang pasti gadis kecil yang selalu ia lindungi. Tidak peduli dengan berbagai keributan yang selalu mereka ciptakan, itu salah satu bentuk kasih sayang mereka.

“Kau harus cepat, Wu menunggumu di bawah!” Clinton mengingatkan sekali lagi.

Dan ucapan Clinton kali ini berhasil membuat Ariel serius memperhatikan Clinton. Ia memutar kepalanya dengan alis tertaut, “Siapa? Wu?” tanyanya memastikan. Dan Clinton membalas dnegan anggukkan.

“Kris Wu, tetangga kita di Kanada dan disini.”

Dan Ariel semakin mengerutkan dahinya. Mau apa pria tiang listrik itu menunggunya?

 

***

 

Hinata baru selesai merapikan buku-bukunya yang berantakan di atas meja belajarnya. Hebat bukan? Semalam ia sedang kemasukan ‘setan belajar’ yang membuatnya begitu bersemangat untuk menyelesaikan beberapa PR dan juga menghapal beberapa materi pelajaran. Hal paling langka yang akan ia lakukan.

Dan setelah semua selesai, Hinata buru-buru melewati ruang makan dan betreiak pamit pada ibunya. Hal sengaja yang selalu ia lakukan untuk menghindari sarapan. Percayalah, sarapan hal yang paling mengganggunya. Entah kenapa ia mudah mengantuk jika ia sarapan dulu, membuatnya selalu menghindari kata ‘makan’ di pagi hari.

“Tidak makan lagi?” panggil sang ibu dari dalam.

Hinata menyahut seadanya. Ia ingin melewatkan ceramah pagi dari sang ibu. Dan setelah selesai mengikat tali sepatunya, gadis itupun segera berlari ringan menjauhi pekarangan rumahnya. Dan ia berhasil, ia tidak perlu mendengar ceramah pagi ibunya. Karena ia tahu, semuanya tidak akan jauh dari ceramah pagi seperti biasanya.

Dan Hinata langsung menghentikan langkah kakinya saat ponselnya berdering nyaring. Dan Hinata tidak akan begitu buru-buru menganggat telpon itu seandainya ia tidak tahu siapa yang menelponnya pagi itu. Khusus untuk 2 teman terdekatnya, Hinata menggunakan nada dering khusus. Membuatnya langsung mengenali siapa si penelepon itu, jika bukan Zooey pasti Ariel.

“Kau sudah berangkat?” dan Hinata tahu itu adalah Ariel. Gadis yang tidak pernah menggunakan sapaan dulu jika menelpon seseorang.

“Masih di gang dekat rumah, ada apa?” tanya Hinata sambil berjalan santai.

“Kita berangkat bersama, aku menunggumu di halte bis. Sekarang.”

“Apa?” Hinata mengerutkan keningnya bingung. Tumben sekali Ariel mengajaknya berangkat bersama? Padahal, Ariel sangat anti pergi ke sekolah dengan siapapun. Termasuk dirinya.

 

***

 

“Jangan dekat-dekat, kau membuatku terlihat sangat pendek!” Ariel menunjuk wajah Kris dengan muka masamnya. Ia tidak begitu nyaman jika harus dekat-dekat dengan Kris yang memiliki tinggi 187cm itu. Meskipun Ariel mengakui dirinya memang memiliki tinggi badan yang berada di bawah standar tinggi perempuan Korea, tapi ia tidak pernah mempermasalahkannya kecuali jika harus dekat-dekat dengan Kris. Pria itu benar-benar membuatnya terlihat seperti anak kecil. Dan Ariel sering tersinggung tidak jelas.

Kris yang melihat tingkah Ariel hanya terkekeh pelan, kemudian menyusul Ariel yang sudah berjalan duluan.

“Kau memang imut,” Kris mulai angkat suara lagi. Dan lagi-lagi tidak begitu diindahkan oleh Ariel.

“Bilang saja aku pendek!”

“Aku tidak bilang begitu, kau yang mengatakannya.”

“Tapi sama saja.”

“Kau mudah tersinggung, Nona Lau,”

“Lalu kenapa kau dekat-dekat denganku? Sudah tahu aku memang mudah tersinggung.”

“Aku tidak akan melakukannya seandainya aku memang tidak punya tujuan,”

Dan kali ini Ariel mendongak menatap Kris yang masih memandang lurus ke depan. Ia tidak terkejut Kris mengatakannya, hanya saja ia tidak tahu jika Kris ternyata sudah memulai masa pendekatannya pada Ishida Hinata, temannya sendiri!

“Rasanya aneh kau akan menaiki bis kesekolah demi seorang gadis.” Balas Ariel yang kini sudah menatap lurus jalanan. Dan tanpa terasa, mereka sudah sampai di halte bis.

“Tidak juga. Aku hanya ingin tahu, sampai kapan ia terus mengabaikanku.” Sahut Kris sambil menegakkan bahunya. Matanya mulai mencari-cari seseorang yang diharapkannya bisa dilihatnya sekarang.

“Kau sudah menghubunginya?” tanya Kris memastikan. Takut jika Ariel beralasan lupa dan membuat waktu mereka terbuang sia-sia untuk berdiri disana. Kris tahu betapa parahnya penyakit pelupa Ariel.

Ariel mengangguk cepat, “Kau tidak sabaran, ya.”

Mendengar itu, Kris mencibir, “Kau lebih parah. Kau bahkan selalu menunggu seseorang yang tidak pernah mengharapkanmu.”

Mata Ariel membulat lebar, dan emosinya baru saja tersulut barusan. Ia tidak suka jika seseorang sudah membahas soal masalalunya –juga rahasia kecilnya-. Ia menyesal telah menjadi teman kecil Kris dan mempercayakan banyak hal pada Kris. Karena Kris diusianya sekarang sangat menyebalkan.

“Berhenti membahasnya, Wu!”

Dan mereka pasti akan meneruskan pertengkaran mereka jika Hinata tidak tiba-tiba datang dan memanggil Ariel. Bukan hanya Ariel yang menoleh, Kris juga ikut menoleh. Dan senyumnya mengembang seketika. Akhirnya gadis itu datang juga.

“Tumben kau menyuruhku pergi bersamamu? Kau tidak sedang sakit, kan?” canda Hinata pada Ariel yang tersenyum basa-basi pada Hinata. Matanya sesekali melirik ke arah Kris yang terus memberi isyarat ‘diam kau’.

“Hanya sedang ingin ditemani saja. Ah, itu bis nya.”

Dan pagi itu Kris memulai harinya dengan senyum lebar yang membahagiakan. Dan senyum itu menggambarkan seluruh kebahagiaan yang menghinggapi dadanya. Meskipun Hinata belum juga menyadari keberadaannya, menyedihkan, bukan?

 

***

 

Zooey merenggut sebal saat melihat gerbang sekolahnya sudah tertutup rapat. Dan hembusan napas berat itu terdengar nyaring di telinganya. Dan inilah harinya yang buruk. Setelah menangis semalaman karena film bodoh yang di tontonnya, sekarang ia harus bangun kesiangan dan terlambat datang kesekolah.

Dengan enggan, Zooey mendekati gerbang sekolah. Mencoba menebak hukuman apa yang akan didapatkannya dari guru piket pagi ini. Lari keliling lapang? Bending? Atau membersihkan gudang sekolah? Ia tidak berani membayangkan hal yang lebih buruk lagi dari itu.

“Tunggu aku!” Zooey memutar kepalanya ke belakang saat ia merasa sebuah suara memanggilnya. Memanggilnya? Ah, Zooey meralatnya. Laki-laki itu tidak memanggilnya, tapi Zooey merasa terpanggil karena ia tidak merasa ada orang lain disana selain dirinya.

Dan itu…Park Chanyeol?

“Kau terlambat juga? Kita masuk bersama,” ujar Chanyeol semangat dan langsung menarik lengan Zooey seenaknya.

Dan apa-apaan itu? Kenapa Chanyeol begitu terlihat bersemangat menyadari dirinya sudah terlambat? Tingkah anak laki-laki ini memang mengerikan.

Setelah berada di depan gerbang, barulah guru pikiet yang Zooey lupa namanya itu mulai mendekat ke arah mereka, Chanyeol dan Zooey. Zooey merasakan aura buruk mulai mengelilingi dirinya. Lihatlah, pria berkepala empat itu mulai merah-marah dan menunjuk mereka berdua dengan tongkat di tangannya

Huft…akankah ada yang lebih buruk dari ini?

“Sepulang sekolah, kalian bersihkan lapang olahraga!”

Dan seruan terakhir itu membuat Zooey mendengus pasrah. Membersihkan sesuatu di sekolah ini…adalah hal paling menyedihkan yang pernah ia lakukan. Karena kenyataannya, Zooey selalu melakukannya atas dasar hukuman. Entah kenapa ia selalu merasa tertakdir melakukannya karena alasan tak bermutu, seperti kesiangan.

“Tidak apa-apa, aku juga mendapat hukuman itu.”

Zooey tersadar dari lamunannya saat Chanyeol tiba-tiba merangkul pundaknya, seolah-olah mereka adalah teman dekat yang sudah sangat dekat dan terbiasa melakukan itu. Kurang ajar sekali. Dan…kenapa laki-laki itu seolah bisa membaca pikirannya? Apakah sangat terlihat jelas jika dirinya merasa keberatan karena hukuman ini?

Ah, itu tidak penting. Zooey pun langsung melepas rangkulan Chanyeol. Ia bisa saja marah-marah pada laki-laki itu, tapi sikonnya tidak tepat. Ia akan meledak-ledak karena sebal dengan hari ini, bukan karena ketidaksopanan Chanyeol.

Dan Chanyeol hanya tersenyum tipis mendapat reaksi itu dari Zooey. Sepertinya, mungkin hanya gadis itu yang tidak tertarik didekati olehnya.

 

***

 

“Aigo ~ lihat ini! Sepatu ini sangat bagus…” Zooey berujar heboh dengan mata tidak lepas dari majalah yang dipegangnya. Dan Hinata yang duduk di sebelahnya, kini sudah ikut-ikutan bergabung untuk menyelami majalah fashion yang entah Zooey mendapatkannya darimana. Yang Ariel tahu, ia tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu.

“Sebagus harganya.” Hinata mencebikkan bibirnya saat mendapati deretan angka tak masuk akal menurutnya, itu terlalu mahal. Dan itu sama sekali tidak sesuai dengan sakunya.

“Tapi wajar saja, kan? Modelnya saja sebagus ini…” balas Zooey yang masih menatap majalah itu dengan mata binar.

Hinata mengibaskan tangannya, “Kau orang kaya. Dan aku? Ibuku pasti akan mengomel jika tahu aku akan menghabiskan uangku untuk barang-barang mahal seperti itu,”

Ariel menghentikan aktivitas membacanya dan menatap jengkel ke arah 2 temannya yang masih saja membiacarakan soal sepatu yang entah kenapa menurut mereka begitu cantik itu, padahal menurutnya sepatu-sepatu itu biasa saja. Terkesan standar. Bahkan sepatu yang dijual di Myeongdong sana masih jauh lebih bagus daripada sepatu-sepatu yang di tempel di majalah itu.

Dan hal kedua yang menjengkelkan, entah kenapa ia mendadak tidak konsentrasi sejak sejam yang lalu, tepatnya ketika ia mendapati sebuah surat dari seseorang yang tidak diketahuinya. Isi suratnya memang tidak berbelit, panjang, atau apapun itu, isinya hanya satu kalimat aneh.

‘What is Love?’

Ia ingat kalimat singkat itu. Dan entah orang iseng mana yang menaruh surat itu di lokernya. Menakutkan sekali, bukan? Ia merasa di teror.

Dan yang ketiga, hari ini ia lupa membawa headset-nya. Jika sudah begini, biasanya ia akan membaca sambil mendengarkan musik. Dan sepertinya ia lupa membawanya tadi pagi. Ini semua gara-gara Clinton yang terus saja merecokinya dan Kris yang memburu-burunya. Membuatnya melupakan beberapa benda yang seharusnya ia bawa. Bahkan, buku PR nya saja ada yang tertinggal. Untungnya guru itu tidak masuk, dan Ariel masih bisa bernapas lega.

“Ariel, hari ini kau mau ikut belanja tidak? Aku punya tas incaran baru…” suara Zooey berhasil membuyarkan lapisan lamunannya yang mulai menebal. Ariel mengerjapkan matanya beberapa kali dengan linglung, dan setelahnya ia mengangguk.

“Tapi aku akan belok ke toko buku.”

No problem. Kita bertemu di kafe bisa saja setelah selesai, bagaimana?” Zooey memandang Hinata yang kini masih sibuk dengan ketakjubannya entah pada apa ke arah majalah di depannya.

“Terserah saja. Aku ingin membeli sepatu baru…” sahut Hinata tanpa menggubris tatapan Zooey dan Ariel.

Dan setelah sepakat, Ariel pun langsung pamit pada teman-temannya. Jarang-jarang ia melakukannya, tapi ia memang membutuhkan sebuah headset sekarang. Dan ia tahu siapa orang yang bisa dimintai bantuan, Lee Taemin.

 

***

 

Kim Jong In menatap jengkel ke arah sepasang manusia yang sedang asyik mengobrolkan sesuatu. Dan Jong In tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Demi apapun, itu begitu mengganggu. Terlebih setelah Jong In tahu Ariel sama sekali tidak memberikan respon seperti yang diharapkannya.

Setelah membaca surat singkatnya, Ariel justru terlihat panik dan bukannya terkejut yang lebih mengarah pada kata terharu atau semacamnya. Itu agak menyakiti Jong In. Dan sekarang, dengan mata kepalanya sendiri Jong In melihat Taemin dan Ariel terlihat begitu dekat.

Sekarang Jong In tahu, rumor itu bukan sekedar rumor. Lihat kedekatan mereka, membuat Jong In benar-benar jengah.

Dari jarak beberapa meter di depan Jong In, Ariel langsung mengambil headphone yang disodorkan Taemin.

“Asal kau janji tidak akan merusaknya.” Canda Taemin setelah headphone-nya berpindah tangan ke tangan Ariel.

Ariel yang mendengarnya langsung meleletkan lidahnya ke arah Taemin dengan wajah kekanakannya, “Kau kira aku ini anak kecil yang suka merusak barang, huh?”

Taemin mengedikkan bahunya acuh, “Bisa saja, kan? Tidak ada yang tahu.”

Ariel mendesis kesal, “Terserahlah. Yang pasti aku akan mengembalikannya pulang sekolah nanti, tidak apa-apa, kan?” Ariel ingin segera menyudahi pertengkaran tak pentingnya ini. Ia ingin segera meneyelesaikan membaca novelnya di perpustakaan. Tempat sepi paling menyenangkan.

Taemin pun mengangguk, “Asal tidak rusak, itu saja…”

Ariel memutar bola matanya malas dan langsung melengos pergi setelah mengibaskan tangannya. Taemin yang dulunya terlihat pendiam itu mendadak menyebalkan setelah mereka semakin dekat. Bahkan, ia tidak berbeda jauh dengan Kris. Hanya saja Taemin tidak membuatnya tidak nyaman jika didekatnya, karena Taemin tidak setinggi Kris.

Setelah Ariel benar-benar pergi, Jong In langsung melangkah mendekati Taemin. Entah apa yang akan dikatakannya nanti, tapi hatinya begitu menggebu-gebu untuk berteriak di depan Taemin bahwa ia tidak suka melihatnya begitu dekat dengan Ariel. Belum lagi secercah rasa takut kehilangan Jong In terhadap gadis itu. Perasaan yang begitu menakutkan.

 

***

 

Ariel mengembungkan pipinya saat tak mendapati kursi kosong untuknya. Astaga, ini buruk sekali. Ia sedang malas untuk berjalan ke balkon sekolah ataupun halaman belakang sekolahnya yang menyediakan taman cantik lengkap dengan bangku panjangnya. Ia hanya butuh kursi di perpustakaan saat ini, titik. Dan sayangnya, disana sama sekali tak tersedia kursi kosong untuknya.

Luhan tadinya merasa terganggu dengan gerak-gerik seseorang yang sejak tadi mondar mandir di sekitar meja perpustakaan. Itu cukup mengganggu konsentrasinya. Padahal ia sedang fokus pada soal matematika dihadapannya, dan semuanya pecah begitu saja karena gerakan tak berarti itu.

Dengan kesal, Luhan mendongak ingin tahu siapa yang berhasil merusak konsentrasinya. Dan mungkin, bisa saja Luhan menegur orang itu. Tapi kemarahannya urung seketika saat ia melihat siapa yang baru saja merusak konsentrasinya…Ariel Lau.

Dan sepertinya Luhan tahu apa yang membuat gadis itu terus saja mondar-mandir, “Kau mau duduk disini?” Entah apa yang membuat Luhan melakukannya. Ia tiba-tiba berdiri dan menawarkan kursinya pada Ariel.

Untuk beberapa saat Ariel hanya diam memperhatikan Luhan. Meskipun satu kelas, Ariel terbilang tidak dekat dengan laki-laki itu. Membuatnya lebih sering merasa canggung, sangat berbeda jika ia sudah berada di dekat Kris ataupun Taemin.

“Tapi…kau…”

“Tidak apa-apa. Aku sudah selesai,” ucap Luhan bohong. Ia belum selesai dan ia tak yakin bisa menyelesaikan soal matematikanya dikelas. Tapi entah kenapa, ia merasa menjadi pahlawan dan merasa benar setelah memberikan bantuan yang seharusnya pada Ariel.

Ariel pun tersenyum pada Luhan, “Terimakasih.” Ucapnya tulus.

Dan Ariel tidak tahu, efek apa yang baru saja diberikannya pada Luhan akibat senyumannya itu. Luhan belum merasa waras meskipun ia sudah meninggalkan perpustakaan sekarang, ia merasa hatinya masih melayang-laya di udara.

Mungkin, Luhan memang bisa menemukan kesempatan untuk mendekati gadis itu…

 

-To Be Continued-

12/03/12 08:47PM

 

 

Iklan

2 thoughts on “Seoul Story (What is Love?) (2)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s