Seoul Story (What is Love?) (3)

-part 3-

 

Jong In langsung menoleh ke arah Kyungsoo yang sedang tersenyum meremehkan ke arahnya, dan laki-laki itu langsung mengalihkan pandangannya. Berpura-pura sibuk dengan hal tidak berarti setelah laki-laki itu menyulut kekesalan Jong In gara-gara pesan singkat yang dikirimkan laki-laki itu pada Jong In.

‘Kukira takdir sedang berpihak padaku. Bagaimana bisa Ariel dipasangkan denganku?’

Pesan bodoh macam apa itu? Dan lagi kenapa Jong In harus kesal? Biar saja gadis itu satu kelompok dengan siapapun. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jong In. Dan Jong In juga cukup beruntung, dia dipasangkan dengan Zooey Claire. Gadis aneh yang terkenal ketus, tapi cukup menarik perhatian banyak orang karena mata samuderanya. Dulu, Jong In juga sempat menjadikan perempuan itu sebagai incarannya. Tapi gagal karena Jong In tahu saat itu Sehun juga tertarik pada gadis itu, dan sempat mengancam Jong In jika berani macam-macam pada gadis itu.

Dan sayangnya, dulu adalah dulu. Jong In tak lagi setertarik itu pada Zooey. Dan dia lebih suka jika seandainya Ariel adalah pasangannya untuk mengerjakan tugas ini. Ah, tapi jika dipikir-pikir ini juga konyol. Memangnya mereka mahasiswa yang mendapatkan tugas meneliti sesuatu seperti itu? Jong In lebih suka belajar di kelas ketimbang meneliti ba bi bu yang menyita banyak waktu.

“Kyungsoo sepertinya senang sekali bisa satu kelompok dengan Ariel. Dia terus saja melirik ke arahmu,” canda Sehun pada Jong In yang terlihat masam sejak diumumkannya nama pasangan yang menjadi satu kelompok untuk tugas sejarah.

Jong In yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dan kembali menoleh ke arah Kyungsoo, “Dia tidak tertarik pada Ariel.” Entah kenapa Jong In mengatakannya, tapi Jong In membenarkan dalam hati jika Kyungsoo memang tidak pernah terlihat tertarik pada Ariel.

Sehun terkekeh pelan mendengarnya. Sudah lama sekali ia tidak melihat Jong In cemburu seperti ini. Dan bermain-main sebentar, mungkin akan sedikit mengasyikkan.

“Tidak ada yang tahu, kan? Ariel, Hinata dan Zooey adalah gadis-gadis unik. Dan bisa saja Kyungsoo jatuh hati pada Ariel setelah ini,”

“Aku lebih setuju jika Ariel jatuh ke tangan Taemin,”

Sehun membelalakan matanya terkejut. Cukup terperangah dengan pernyataan Jong In barusan. Jadi dugaannya benar? Jong In cemburu pada Taemin?

“Hey, kupikir Taemin tidak tertarik pada Ariel.”

“Tapi Kyungsoo jauh lebih mengerikan ketimbang Taemin,”

Sehun pun mengedikkan bahunya, “Aku hanya mengingatkanmu. Tidak menutup kemungkinan Ariel mengalahkan ketenaran Lee Hae Jin. Ariel hanya tertutup dan tidak se-feminim Hae Jin, membuat popularitasnya tidak setinggi Hae Jin.”

Jong In yang mendengarnya hanya memutar bola matanya malas. Memang benar, Hae Jin memiliki kepopularitasan yang tinggi, disukai seantero sekolah dan selalu menjadi sorotan. Dan Jong In juga tahu bagaimana rasanya berada di sisi gadis itu, bermain-main selama beberapa bulan sebelum akhirnya hubungan mereka kandas dengan tamparan telak di pipi Jong In.

Ah, ia memang salah. Tapi ia tidak ingin disalahkan sepenuhnya, Hae Jin gadis membosankan. Gadis manja yang selalu membahas hal-hal yang tidak menarik. Meskipun dia pintar, tapi Jong In tidak menjadikan kecerdasan seseorang menjadi tolok ukur daya tarik. Dan cantik? Jangan tanya, bahkan model Im Yoona saja bisa kalah cantik oleh Hae Jin. Dan seksi? Errr. Baiklah, jangan ingat-ingat soal ini, karena Jong In jatuh cinta pada Hae Jin karena menurutnya Hae Jin memiliki bentuk tubuh yang bagus.

Tapi akhirnya, semua kelebihan yang dimiliki oleh Hae Jin tidak memberikan efek apapun pada hatinya. Gadis itu tidak benar-benar membuat Jong In jatuh hati dan akhirnya membuat Jong In terdampar pada kata perselingkuhan.

Dan sekarang ia justru merasakan letupan unik itu saat melihat Ariel. Padahal, jika diperhatikan, gadis itu sangat berbeda dengan tipe idealnya. Dirinya hanya diliputi oleh satu kata, berisik. Gadis penggila penyanyi Shim Changmin itu lebih suka berkhayal daripada memiliki pacar sungguhan. Sangat aneh, kan?

Dan ia rasa, ia sudah menentukan tanggal mainnya.

 

***

 

“Kalian tunggu di lapang saja, aku harus membereskan beberapa urusan.” Ucap Zooey pada dua temannya yang kebetulan sama-sama sedang membereskan barang-barang mereka di atas meja. Rencananya, mereka akan pergi ke Myeongdong hari ini.

“Tsk. Beruntung sekali kau terjebak hukuman dengan Chanyeol,” komentar Hinata gamblang. Karena di kelas, kini hanya tersisa mereka bertiga. Dan selebihnya, semua siswa pasti sudah pulang.

Zooey langsung tertawa meremehkan, “Tetap saja, hukuman ya hukuman. Bahkan jika aku terjebak dengan aktor Choi Siwon sekalipun, aku rasa aku takkan mensyukurinya.”

Hinata langsung meringis mendengarnya. Terjebak dengan Siwon? Astaga, ia bahkan mungkin tak bisa bernapas jika melihat aktor favoritnya itu berada di dekatnya. Apalagi terjebak dengannya? Ia mungkin harus memeriksakan diri ke rumah sakit setelahnya.

“Jangan lama, oke? Dan..oya, Kris ingin ikut.”

Zooey dan Hinata secara serempak membalik tubuh mereka ke arah Ariel yang sedang memainkan ponselnya cuek, seolah ucapannya barusan sama sekali bukan masalah.

“Kau bercanda? Kau mau membawa oranglain dalam acara belanja kita?” tanya Zooey tak setuju. Ia sama sekali keberatan. Bagaimana mungkin mereka pergi dengan seorang laki-laki yang bahkan tidak Zooey kenal sama sekali? Walaupun Kris Wu memang sangat terkenal. Bahkan kepopularitasannya mengalahkan ketua OSIS Kim Jung Myeon.

“Pasti ada yang salah dengannya. Dia mengikutimu terus,” Hinata ikut menimbrung dengan kesalah pahamannya. Dalam pikirannya, ia menebak jika Kris sedang mendekati Ariel karena tadi pagi laki-laki itu juga berangkat bersama Ariel. Dan mungkin itu juga yang membuatnya diajak Ariel untuk berangkat bersama. Karena Ariel sering mengeluh jika ia tidak percaya diri jika berdiri didekat Kris, mengingat tinggi laki-laki itu yang cukup fantastis.

“Dia tidak akan mengganggu. Dia hanya ingin ikut ke Myeongdong, tapi tidak akan mengikuti kita.” Jawab Ariel masih fokus pada ponselnya, dan berikutnya gadis itu sudah memekik tidak jelas yang membuat Hinata dan Zooey merapat ke arahnya dengan rasa penasaran penuh.

“Ada apa?”

“Apa yang kau lihat?”

“Sialan! Kenapa model itu selalu saja disangkut pautkan dengan Changmin-ku! Memangnya dia kira dia secantik apa, eo?” Ariel mengumpat sendiri sambil menatap bengis ke arah layar ponselnya, tepat ke arah foto Seohyun yang terlihat bersama dengan Changmin –penyanyi favoritnya-.

Dengan sebal, Zooey langsung menoyor kepala Ariel, “Lalu kau kira kau secantik apa? Dibandingkan denganmu, Seohyun lebih cantik tahu!”

“Kukira kau harus ke psikiater, Lau.” Timpal Hinata sambil menatap kasihan ke arah Ariel.

“Memangnya kau juga lebih cantik darinya? Tetap saja, aku tidak suka. Gadis itu terlalu kecentilan, aku tidak suka.” Ariel masih membela opininya dengan rutukan tak jelas dari mulutnya.

“Sadarlah Ariel, kau dengan Changmin itu perbandingannya sangat jauh.” Hinata masih menatap kasihan ke arah Ariel.

“Siapa peduli? Magnet saja yang berbeda bisa saling menyatu. Kenapa aku dan Changmin tidak? Ah, sepertinya aku harus meminta Clinton untuk mengundangnya di acara ulangtahun perusahaan nanti.”

“Teruslah bermimpi, Ariel. Hinata, kau bilang kau mau ke kantor guru? Kita pergi bersama?”

Hinata mengangguk ke arah Zooey, kemudian menepuk pundak Ariel ringan.

“Tunggu aku di bawah nanti!” ucap Hinata sebelum pergi dan di balas anggukan oleh Ariel.

Dan setelah sepuluh menit bergelut dengan ponselnya, Ariel ingat ia harus mengambil buku hariannya yang tertinggal di dalam loker kelasnya. Dan ia juga lupa, lokernya sudah macet beberapa hari ini, dan ia juga lupa memberitahukannya pada pihak sekolah. Ah, Kris benar. Ia memang pelupa akut.

Dengan gerakan malas, Ariel pun mencoba untuk membuka lokernya. Dan hasilnya masih sama seperti beberapa hari lalu, ia tidak bisa membukanya. Sial sekali, kan? Ia sudah tidak tahan ingin curhat di buku hariannya.

Ariel pun mendengus pelan. Sepertinya malam ini ia harus melewatkan sesi curhatnya bersama sang diary tercinta. Dan entah kenapa, ia sama sekali tidak tertarik untuk curhat pada blog-nya. Padahal, tahun lalu Ariel mencurahkan segala tetek bengek perasaannya pada blog itu. Dan sekarang? Jangankan curhat disana, meliriknya saja tidak.

“Mau kubantu?” Ariel terlonjak kaget saat sebuah suara bicara padanya. Dan Ariel bisa kembali bernapas lega saat melihat Luhan tengah berjalan padanya. Laki-laki itu benar-benar membuatnya kaget.

Kemudian, Luhan ikut berjongkok di sisi Ariel. Dan tanpa meminta persetujuan Ariel, Luhan langsung membongkar paksa pintu lokernya. Ariel cukup tertegun, entah kebetulan atau tidak, Luhan sudah menyiapkan beberapa alat untuk membuka pintu lokernya yang sudah terkunci beberapa hari ini. Dan dengan cekatan, Luhan membuka pintu lokernya.

Ariel semakin terpukau saat Luhan berhasil membuka pintu lokernya, dan dengan cepat Ariel mengambil buku hariannya yang sudah kedinginan ditinggal Ariel.

“Jadi kau hanya akan mengambil itu?” tanya Luhan bingung saat tak melihat apapun di dalam loker Ariel selain buku harian itu. Dan ini salah satu poin plus untuk Ariel, gadis itu unik. Dan selalu percaya diri dengan keunikan yang dimilikinya.

Ariel hanya cengengesan mendapat pertanyaan itu. Apakah terlihat sangat jelas jika Ariel begitu senang saat menemukan buku harian sederhananya yang tergeletak sendirian di lokernya? Dan Ariel langsung menyimpulkan, bahwa itu cukup memalukan. Melihat bagaimana reaksi yang Luhan berikan padanya.

“Y…ya…hanya ini. Aku tidak bisa membukanya beberapa hari ini,” ini yang Ariel tidak suka dari dirinya. Ia selalu berpikir bahwa setiap reaksi yang diberikan padanya yang sama persis seperti Luhan lakukan, adalah tanda bahwa mereka tidak menyukai Ariel. Dan pada akhirnya, Ariel lebih memilih untuk menepi menjauhi mereka yang memiliki reaksi seperti itu untuknya.

Ariel pun langsung berdiri, “Terimakasih. Kau sudah sangat membantu,” Ariel kembali tersenyum pada Luhan. Menurutnya, senyum bisa mengobati segala macam perasaan, termasuk perasaan tidak nyaman seperti yang tengah dialami Ariel saat ini.

Luhan balas tersenyum ke arah Ariel. Dan entah sejak kapan, ia termotivasi untuk selalu membuat Ariel tersenyum seperti itu padanya. Ia memang menyukai Ariel Lau. Bukan hanya senyumnya, tapi semua yang ia lakukan dan semua sifat yang bisa ia lihat. Ia menyukai Ariel Lau.

“Tidak perlu sungkan. Jika kau membutuhkanku, katakan padaku.” Ucap Luhan pada akhirnya.

Ariel mengangguk dan masih tersenyum, kemudian ia kembali mengucapkan terimakasih.

“Kau masih lama? Taemin menunggumu, bodoh! Kau masih belum mengembalikan headphone-nya!” Ariel dan Luhan sama-sama melihat ke arah pintu, tepat ke arah Kris yang menatap mereka…entahlah. dan Ariel tahu Kris tengah menatap mengejek padanya.

Dan detik berikutnya, Ariel memberikan reaksi yang mengejutkan pada Luhan. Tanpa pamit atau apapun, gadis itu langsung berlari keluar kelas –tak lupa membawa tasnya- dan meninggalkan Luhan begitu saja. Kemudian disusul Kris yang mengikuti gadis mungil itu dari belakang.

Luhan kini hanya tersenyum kecut. Ia pernah mendengar gosip kedekatannya dengan Taemin. Dan Luhan selalu menganggap itu hanya desas-desus yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Tapi hari ini, di depan mata kepalanya sendiri gadis itu berlari ke arah Taemin.

 

-TBC-

13/03/14 09:39PM

 

 

Iklan

One thought on “Seoul Story (What is Love?) (3)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s