Seoul Story (What is Love?) (4)

-part 4-

 

“Hah. Apa di sekolah ini tidak ada pekerja yang bertugas membereskan lapang sialan ini? Dan kenapa orang-orang tidak pernah membereskan lapangan setelah memakainya? Dan memangnya mereka selalu menginjak lumpur? Kenapa lantainya kotor sekali? Aaargh ! aku benci hari ini!”

Chanyeol tersenyum kecil setelah mendengar semua umpatan Zooey yang diucapkan secara terang-terangan. Gadis itu ternyata selalu gamblang dengan apa yang dipikirkannya, bahkan ia terlihat tidak peduli dengan keberadaan Chanyeol disini.

“Shit ! kuharap mereka masih menungguku,”

Chanyeol yang masih mengelap lantai ruang olahraga indoor ini kembali menoleh ke arah Zooey dan masih tersenyum. Entah mengapa ia merasa sangat menikmati hukumannya ini, dan sepertinya ia akan mengharapkan hukuman apapun dari sekolah, asal ia bisa mengerjakannya bersama-sama dengan Zooey. Konyol? Siapa peduli, toh ia yang melakukannya, bukan oranglain.

“Aku lelah…” gerutu Zooey lagi. ia menggerutu sendiri sebenarnya, tapi ia sama sekali tidak tahan untuk tidak bersuara. Ia terlampau kesal sekarang, bukan soal hukuman ini saja, tapi karena ia merasa sangat lelah. Ia tak habis pikir, sekolah yang disebut-sebut elit ini ternyata tetap saja sekolah biasa. Buktinya GOR ini sama sekali tak terurus. Atau memang guru piket menyebalkan tadi menyuruh karyawan yang biasa membersihkan tempat ini untuk mengotorkannya, untuk mereka.

Eh? Mereka?

Zooey buru-buru menoleh ke arah Chanyeol yang masih asyik dengan alat pel-nya, masih tak bergeming. Seolah ia sama sekali tak mendengar apapun dari Zooey sejak tadi. Dan sekarang, gadis itu hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Apa saja yang sudah dikatakannya tadi? Apakah ada kata-kata kasar? Astaga. Sangat memalukan jika ia kepergok mengatakan yang tidak-tidak. Bagaimanapun Chanyeol salah satu siswa terkenal –satu gank pula dengan Jong In-, ia harap image-nya tidak turun setelah ini.

“Kenapa diam? Kau lelah?”

Zooey mengerjapkan matanya beberapa kali. Laki-laki itu tidak melihat ke arahnya, tapi laki-laki itu bersuara. Chanyeol bicara padanya?

“Tentu saja,” sahut Zooey seadanya. Kemudian ia melanjutkan aktivitasnya, mengepel lapang basket yang entah kenapa menurutnya terlalu luas sekarang. Apa ia perlu mengkritik soal luas lapang basket yang ternyata sungguh keterlaluan ini?

Chanyeol tersenyum tanpa menoleh ke arah Zooey. Ia ingin bersikap biasa tapi tetap dekat dengan Zooey. Ia tidak ingin sakit hati seperti tadi pagi, mendapat penolakan secara gamblang dari gadis itu.

“Aksenmu tidak sebagus Hinata dan Ariel, padahal kau sudah lama berada disini. Dan setahuku ibumu orang Korea, kan?” entah kenapa Chanyeol membicarakan ini, tapi mungkin lebih menyenangkan mencari tahu sesuatu yang tidak diketahui oranglain dari Zooey, kan? Dan ia harap, setelah ini ia bisa sedekat Hinata dan Ariel padanya.

Zooey tidak terlalu terkejut lagi mendapat pertanyaan itu. Jika dipikir-pikir, mengobrol mungkin jauh lebih mengasyikkan ketimbang menggerutu tidak jelas. Dan belum lagi point memalukan yang ia dapat.

“Di rumah aku tidak pernah menggunakan bahasa Korea, hanya disini saja aku menggunakannya.” Jawab Zooey jujur. Dan…selesai! ia pun segera membenahi peralatan mengerikan yang sejak tadi disentuhnya. Ia berjanji, setelah ini ia akan mengikuti peraturan sekolah dengan baik.

“Lalu, kau tinggal sengan siapa disini?” tanya Chanyeol semakin antusias saat menyadari Zooey merespon baik obrolan ini.

Zooey yang sudah duduk di tepi lapang akhirnya memperhatikan Chanyeol yang masih membersihkan beberapa bagian di lapang ini.

“Ibuku. Tapi dia juga jarang di rumah,” aku Zooey kemudian.

“Ibumu pengusaha juga?”

“Pemilik galeri lukisan,”

“Ibumu seniman?”

“Begitulah,”

“Dan ayahmu? Dia di Paris sekarang?”

Zooey mengerutkan dahinya. Kenapa Chanyeol jadi meng-interview-nya?

“Ya. dia di Paris.”

“Kenapa tidak tetap tinggal di Paris?”

“Kenapa kau terus bertanya?”

Gerakan Chanyeol langsung terhenti setelah mendapat pertanyaan itu. Memang benar, aneh sekali. Kenapa ia bertanya terus-terusan sedangkan ia sama sekali tidak dekat dengan Zooey?

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya. Kau keberatan?” tanya Chanyeol sambil berjalan menuju lemari penyimpanan alat-alat kebersihan itu. Akhirnya ia selesai juga, dan artinya sesi pendekatan pada Zooey pun ikut berakhir.

Setelah Chanyeol kembali, Zooey pun menyahut, “Tidak. Aku tidak keberatan. Hanya aneh saja, kau cerewet juga,” balas Zooey asal. Dan tanpa disadarinya Chanyeol tersenyum tipis ke arahnya.

“Kau haus? Aku membawa 2 botol,” Chanyeol pun menyodorkan sebotol air mineral yang masih disegel. Ia tidak begitu ingat kenapa ia menyediakan 2 botol air mineral, yang pasti ia hanya ingat ia membelinya bersama Luhan tadi.

Dan tanpa basa-basi, Zooey langsung menerimanya dengan senang hati.

“Terimakasih,” ucapnya kemudian.

Chanyeol hanya mengedikkan bahunya, kemudian ia duduk di samping Zooey. Ah, semua ini terasa begitu menyenangkan. Meskipun ia tidak menyangkal, Zooey masih sangat-sangat kaku didekatnya. Entah dari cara bicaranya, sikapnya, atau bahkan semuanya. Chanyeol sering memperhatikan gadis ini di kelas, dan sifatnya berbeda jauh ketika ia sedang bersama teman-temannya.

“Kau mau langsung pulang? Mau pulang bersama?” Chanyeol langsung mengatupkan bibirnya. ia lupa, Zooey bukan mantan pacarnya yang mudah ditaklukkan, dan ia langsung mengajak Zooey pulang bersama? Apa itu tidak aneh untuk Zooey?

Zooey yang mendengarnya hanya melihat ke arah Chanyeol. Dan itu membuat Chanyeol benar-benar gugup. Belum lagi tatapan yang tidak bisa diartikan itu, aish~ ini benar-benar…

“Maaf. Tapi aku harus pergi ke Myeongdong. Teman-temanku sudah menunggu,” setelah mengucapkannya Zooey pun langsung bangkit dan memboyong semua barang-barangnya, “Terimakasih untuk ini,” Zooey menggoyangkan botol air mineralnya, kemudian ia pamitan untuk segera pergi.

Entah bagus atau tidak, tapi Chanyeol merasa ia sudah maju selangkah. Meskipun gadis itu sudah hilang di balik pintu, tapi Chanyeol masih merasakan aura gadis itu disini. Dan ia harap, besok dan seterusnya ia punya kesempatan seperti itu dengan Zooey Claire.

 

***

 

Hinata berjalan cepat di koridor ke arah kelasnya. Bibirnya masih menggerutu kesal mengingat kejadian di kantor tadi. Hari ini tidak begitu bagus. Kenapa nilai bahasa inggrisnya bisa seanjlok itu? Padahal seingatnya ia baik-baik saja dengan nilainya. Perbaikan? Astaga. Ia mungkin akan mendapat hukuman dari ibunya jika sampai ibunya tahu nilainya separah ini, dan yang paling parah jika ibunya memutuskan untuk memotong uang jajannya. Itu benar-benar buruk.

“Lau, kau…” Hinata mengatupkan bibirnya saat tak mendapati gadis itu di dalam kelas, dan justru melihat Luhan yang juga tengah melihat ke arahnya. Sial, detak jantungnya mulai tidak normal lagi.

Luhan pun tersenyum ke arah Hinata, dan itu benar-benar membuat jantung Hinata mencelos begitu saja.

“Mencari Ariel?” tanya Luhan kemudian. Ia berjalan mendekat ke arah Hinata yang masih membeku di depan pintu.

Dengan linglung, Hinata mengangguk kaku.

“Tapi…sepertinya dia tidak disini,” oh! Bodoh! Memalukan! Ia harap suaranya tetap normal. Ini benar-benar akan menjadi momen paling memalukan jika ia tidak bisa mengontrol dirinya.

Luhan pun mengangguk, “Tadi Kris Wu menyusulnya, katanya Taemin menunggunya.”

Hinata pun secara refleks mengerutkan dahinya. Ada rasa tidak suka saat mendengar nama Kris. Jadi laki-laki itu akan ikut? Sungguh? Aish~ kenapa Ariel jadi memiliki stalker seperti itu?

“Sebenarnya laki-laki itu kenapa…” rutuknya pelan yang ternyata terdengar oleh Luhan.

“Apa? Kenapa?”

“Ah~ tidak-tidak,” Hinata mengibaskan tangannya cepat. Ia benar-benar mati kutu jika sudah berhadapan dengan Luhan, “Tidak ada. Kalau begitu…aku pergi. Mungkin dia sudah menungguku di bawah,” Hinata pun buru-buru meninggalkan kelas. Ia tidak ingin terkena serangan jantung di usia muda.

“Hinata! Tunggu…”

Dengan gerakan yang masih kaku, Hinata menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Luhan. Ia tidak tahu ini wajar atau tidak, tapi ia sangat senang saat Luhan memanggil namanya.

“Ke…kenapa?”

Dengan gugup, Luhan mengusap tengkuk belakangnya. Dan entah kenapa Hinata sedikit curiga dengan gelagat Luhan. Entah itu baik atau tidak, tapi itu ekspresi terbaru yang ditangkap matanya dari sosok Luhan yang selalu dikaguminya dari jauh.

“Boleh aku bertanya?” tanya Luhan masih terlihat gugup. Dan ini membuat pikiran Hinata berkelakar tidak jelas, bahkan ia sedikit geer karena tingkah Luhan.

“Tentu…”

Setelah menghela napas beberapa kali, akhirnya Hinata dapat menemukan suara Luhan. Tapi ucapan Luhan itu justru sama sekali tak membuat Hinata senang. Justru ia bingung dan…entahlah, tidak suka? Ada perasaan suka di dadanya?

“Apa Ariel memiliki hubungan khusus dengan Taemin?”

 

***

 

“Taemin-a!”

Taemin dan Jong In langsung menoleh ke arah sumber suara yang sama-sama mereka kenal. Suara Ariel Lau. Jong In sedikit menyesal mengikuti saran Taemin untuk sama-sama menunggu Ariel disini, gara-gara obrolan tadi siang tentang Ariel…Taemin justru mentertawakannya sambil berkata bahwa ia sama sekali tidak ada apa-apa dengan Ariel. Dan untuk membuktikannya, Jong In justru terdampar disini.

“Lihat, betapa payahnya ingatanmu Nona Lau.” Ledek Taemin sambil sedikit mentertawakan Ariel yang buru-buru mendapat pukulan ringan di lengan Taemin.

“Berisik kau!” tandasnya ketus sambil mengulurkan tangannya, mengembalikan headphone yang dipinjamnya tadi.

“Tidak rusak, kan? Kau tahu ini benda kesayanganku.” Ucap taemin lagi yang masih menyulut kekesalan Ariel.

Dengan sebal, Ariel memutar bola matanya, “Kau kira aku anak TK yang suka merusak barang?”

Dengan tatapan mengejek, Taemin terkekeh pelan lalu berkata, “Tubuhmu memang mungil. Kau bahkan terlihat seperti anak SD jika berdiri di smaping Kris,”

“YAK!!!”

Jong In lagi-lagi merasa jengkel. Apanya yang ingin dibuktikan Taemin? Bukannya memperbaiki jalan pikiran bodohnya, justru Taemin membuat Jong In semakin tidak suka dnegan sikap yang mereka tunjukkan secara gamblang di depannya.

Jong In…benar-benar merasa cemburu.

Dan secara refleks, sebelum Taemin dan Ariel menunjukkan kedekatan mereka, Jong In langsung menarik Taemin pergi dari tempat itu. Sebelum secara tiba-tiba ia membentak Taemin gara-gara masalah tak berarti ini.

“Yak! Hentikan! Kau membuang-buang waktu!”

Taemin mengernyitkan dahinya saat Jong In tiba-tiba menarik lengannya. Tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum, Jong In lagi-lagi cemburu. Dan menurutnya ini lucu…dan seru. Mengerjai si player ini ternyata menyenangkan juga.

“Aku pulang dulu Nona Lau! Katakan pada Clinton Hyung! Dia harus berhati-hati karena memiliki adik sepertimu!” ucap Taemin sebelum Jong In menyeretnya terlalu jauh.

Ariel yang mendengarnya lagi-lagi berteriak membalas ucapan Taemin. Ia sepertinya harus pilih-pilih teman sekarang. Entah kenapa ia merasa terjebak diantara orang-orang menyebalkan sejenis Taemin…dan Kris.

Kepalanya langsung berputar ke arah Kris yang menatapnya…hey! tatapan macam apa itu?

“Kau kenal dengan Jong In?”

Ariel semakin menautkan alisnya mendapat pertanyaan yang menurutnya tidak lazim itu.

“Kami satu kelas,” jawab Ariel seadanya. Mereka memang saling kenal, karena mereka satu kelas. Meskipun Ariel tidak dekat sama sekali dengan Jong In. Kemudian Ariel pun berjalan mendekat ke arah Kris, tidak terlalu dekat. Ingat, kan? Ia tidak suka berdiri terlalu dekat dengan Kris karena laki-laki itu terlalu tinggi.

“Kau tidak dekat dengannya?” tanya Kris lagi.

“Kenapa kau terus bertanya seperti itu?”

“Kau tidak melihat tatapannya?”

“Memangnya apa yang salah dengan tatapannya?”

Mendengar jawaban Ariel, justru Kris langsung memutar bola matanya malas sambil mendesah. Biasanya, seorang perempuan memiliki kepekaan yang tajam dan pemikiran dewasa dibanding laki-laki yang seumuran dengannya. Tapi sayangnya, Kris tidak melihat semua itu ada pada diri Ariel. Entah apa yang dimakannya sehingga gadis ini tetap seperti gadis berumur 14 tahun.

Dan merekapun sama-sama diam selama 40 menit. Ariel sibuk dengan ponselnya –memperhatikan foto Changmin-, sedangkan Kris sibuk mendengarkan musik lewat ponselnya.

“Ariel!” Ariel langsung mendongak ke arah 2 temannya yang sednag berjalan ke arahnya, kemudian ia tersenyum cerah pada mereka berdua.

“Menunggu lama?” tanya Zooey basa-basi.

“Sangaaat lama! Dan bagaimana kencanmu dengan Chanyeol? Menyenangkan?”

Zooey memutar bola matanya malas, “Mana ada kencan sambil memegang sapu dan lap,”

Mendengar jawaban ketus itu Ariel justru tertawa renyah mendnegarnya –dan Kris juga diam-diam ikut menertawakan meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi pada Zooey dan Chanyeol.

“Tetap saja kau terjebak dengan pria yang terkenal hampir seantero sekolah. Selain itu, dia juga tampan…cukup manly menurutku. Dan itu tipemu. Benar, kan Hinata?” Ariel langsung menyikut Hinata yang berada disebelahnya sekarang, mereka sama-sama berjalan keluar halaman sekolah.

Hinata hanya tersenyum kecil sambil mengangguk. Gara-gara pertanyaan Luhan tadi, ia sedikit badmood saat melihat Ariel. Entah kecurigaannya saja atau apa, yang pasti ia tidak suka dengan pertanyaan Luhan dan sikap yang ditunjukkannya.

“Hey, kau sakit? Kenapa diam? Apa yang terjadi di kantor tadi?” tanya Ariel bingung saat melihat Hinata hanya diam saja, belum lagi ekspresi wajahnya yang ditekuk begitu.

Zooey yang penasaran kini sudah ikut memperhatikan ekspresi Hinata yang benar ternyata tidak biasa.

“Apa? Aku? Aku tidak apa-apa,”

“Pasti kau bingung untuk memutuskan jadi belanja atau tidak?” tebak Zooey asal yang disusul tawa Ariel dan Zooey. Sedangkan Hinata hanya tersenyum tanpa ada gairah untuk mengikuti permainan lelucon itu.

Dasar tidak peka. Kris menggerutu dalam hati. Ia saja yang tidak dekat dengan Hinata tahu gadis itu tidak baik-baik saja. Belum lagi tatapan yang diberikannya pada Ariel saat datang tadi.

Tapi…apa yang terjadi pada gadis itu? Dan apa itu ada hubungannya dengan Ariel?

 

***

 

-TBC-

14/03/14 09:50PM

 

 

Iklan

One thought on “Seoul Story (What is Love?) (4)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s