To You (4)

Title     : To You

Genre  : Romance, Married Life, Angst

Main Cast: Suzy Bae, Kim Myungsoo, Kim Soohyun

Other Cast : Kim Jong In, Park Ji Yeon, Shin Dongho, Nara, Sonh Naeun

Length : Chaptered

Rating : PG-16

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

***

-part 4-

 

(Myungsoo POV)

“Cogiyo, anda tahu dimana ruangan Bae Suzy?” tanyaku pada seorang wanita yang kuperkirakan berusia sekitar seperempat abad ini.

Awalnya, gadis itu menilaiku dari atas hingga bawah. Dan tentunya ini cukup menggangguku. Ayolah, apakah aku terlihat seperti teroris yang dikejar tentara USA? Atau aku malah mirip seoranga rtis dan detik berikutnya gadis itu akan berteriak karena mengira aku adalah ideolanya? Dan itu memang berlebihan.

“Kau calon suaminya?” tanya gadis itu balik.

Dan aku hanya bisa menghela napas panjang sebelum menjawab ‘ya’. walaupun aku agak bingung, ternyata rekan-rekan Suzy sepertinya sudah tahu mengenai pernikahan kami.

Detik berikutnya, gadis itu langsung tersenyum lebar dengan mata berbinarnya yang agak keterlaluan. Entahlah, bukannya merasa tersanjung atau apa, aku malah merasa takut dan sedikit ngeri. Gadis yang benar-benar tidak bisa mengendalikan ekspresi wajah.

“Ya, aku Myungsoo. Dia ada dimana?”

“Astaga!” pekik gadis itu, “Beruntung sekali Sooji bisa mendapatkan calon suami sepertimu. Dia ada dilantai atas, kau tinggal belok kiri dan membaca papan bertuliskan ruang vocal. Ruangannya ada disana.”

 

***

 

Seorang Sarjana Teknik Komputer, dan bekerja sebagai guru vocals ekaligus guru musik di salah satu sekolah musik biasa di tengah hiruk pikuk Seoul. Yang meskipun perlu kuakui, bangunan disini terlalu menarik dan tidak terlalu cocok disebut sebagai sekolah musik. Tapi bukan itu yang menjadi daya tarikku saat ini, karena seorang Suzy yang bisa bekerja lebih layak justru memutuskan untuk mencari dunianya sendiri.

Dia berhasil, tentu saja. Aku tahu dan semua orang tahu. Dan dia juga berhasil membuat dirinya terjebak diantara gelapnya dunia. Oh, come on~ siapapun yang melihatnya pasti tidak akan dengan mudah percaya jika gadis itu sempat menjalani rehabilitasi narkoba, sering menghabiskan waktunya di pub dan juga pencicipi rokok.

Dia memang bukan pecandu, tapi kusebut sebagai pencicipi karena dari informasi yang aku dengar, gadis itu hanya senang mencoba, dan bukan menikmati. Tapi tetap saja, apapun itu namanya aku tidak pernah bisa membenarkannya. Dan yang entah perlu aku kecewakan atau tidak, gadis itu adalah calon istriku.

Sejak dulu, aku selalu memimpikan seorang gadis yang keibuan, dewasa dan yang pasti bisa melengkapi hidupkud engan baik. Menjadi istri yang membuat semua orang iri, dan menjadi seorang ibu yang bisa dibanggakan di mata semua orang. Bukannya aku meragukan Suzy, tapi melihat keadaan saat ini, rasa-rasanya aku malah terjerembab pada status sebagai ‘tutor pribadi’ yang benar-benar pribadi.

Dan yang lebih membuatku tidak nyaman, ketika aku sadar aku harus melepaskan seseorang yang benar-benar aku cintai dan menggantungkan hidupku pada gadis hampir tak teratur itu.

Dan, berhentilah membahas Naeun. Mataku kadang tiba-tiba berair jika mengingatnya.

Langkahku terhenti di depan sebuah pintu yang bertuliskan ‘Vocal Class’. Dan mungkin itu ruangan Suzy? Aku pun meneongok ke kanan dan ke kiri, mungkin saja ada kelas Vocal lain di lantai ini. Tapi sepertinya tidak. Hanya ruangan ini yang dinamai kelas vocal.

Dan setelah yakin, aku membuka pintu itu begitu saja. Karena kupikir diruangan itu hanya ada Suzy dan barang-barangnya yang akan dibawa. Ya, kupikir hanya da Suzy sendiri disana. Dan sayangnya itu salah sama sekali…

Tubuhku langsung membeku saat melihat wanita yang berstatuskan calon istriku itu tengah bersama lak-laki lain. Awalnya aku tidak bereaksi, sam asekali. Bahkan aku tidak merasakan paru-paruku mendapatkan sentuhan dari udara. Tapi aku refleks menghajar laki-laki itu saat dengan brengseknya ia menyelipkan tangannya ke dalam baju yang dikenakan Suzy.

Aku dapat mendengar pekikan terkejut suzy, dan sayangnya otakku sudah kelam. Yanga ku pikirkan saat ini hanya menghara priaini tanpa ampun. Tidak peduli dia siapa dan atas alasan apa ia melakukan itu pada Suzy, yanga ku tahu ia sudah kelewat batas.

“Kim Myungsoo berhenti!!!”

 

***

 

(Author POV)

“Kim Myungsoo berhenti!!!” teriak Suzy sata Myungsoo tidak berhenti memukuli Jong In.

Dan Myungsoo benar-benar berhenti. Kepala pria itu langsung menoleh ke arah Suzy dan menatap Suzy tajam. Suzy yang tadi berniat menghujati pria itu mendadak kehilangan kata-katanya. Ia sendiri tidak tahu kenapa pria itu harus marah –menurutnya mereka tidak saling mencintai dan sangat aneh jika Myungsoo marah, tapi otaknya berhenti bekerja karena ia benar-benar mendapatkan tatapan dengan kilatan marah dimana Myungsoo.

“Pulang sekarang.” Perintah Myungsoo dingin.

“Shireo…aku…”

“PULANG SEKARANG ATAU ABEONIM TAHU TENTANG INI!!!”

 

***

 

“Soohyun-a, kau tidak pulang ke Korea? Kudengar adikmu menikah hari ini?” Soohyun terperanjat saat sebuah suara tiba-tiba menerobos lamunannya. Mata pria itu langsung beralih ke arah pintu ruangannya yang baru ditutup oleh seorang gadis yangs angat familiar baginya. Dia orang korea, sama seperti Soohyun dan dia juga bekerja di perusahaannya. Sekaligus seseorang yang dekat dengannya.

Soohyun tersenyum tipis menyambut gadis itu, kemudian ia menepikan beberapa lembar kertas yang harus ditandatanganinya. Tapi ia harus menundanya dulu sepertinya, selain tidak konsentrasi, ia sekarang lebih tertarik untuk mengobrol dengan gadis bernama Jang Nara itu.

“Aku kehilangan selera untuk pulang,” sahut Soohyun jujur ketika Nara sudah duduk di salah satu sofa diruangan keraj soohyun. Dan gadis itu tersenyum kecil menanggapi soohyun, seolah mengerti maksud dari kalimat yang dilontarkan Soohyun.

“Aku bingung, jika kau masih mencintainya, kenapa kau tidak mencoba memperjuangkannya saja?”

Dan Soohyun benci pembahsan ini. Dan yang lebih memuakkan lagi, meskipun Nara sudah tahu jawaban yang akan dilontarkan Soohyun, tapi ia akan kembali bertanya, seolah tidak pernah puas mendengar jawaban dari Soohyun sebelumnya. Dan mungkin itu benar.

Soohyun pun memilih untuk diam sambil menyesap kopinya yang mulai dingin. Ia bosan memberikan jawaban, dan mungkin menunggu kalimat yang akan diucapkan Nara berikutnya jauh lebih baik.

“Dan kudengar, Myungsoo yang dijodohkan dengannya?”

Benar, kan? Nara akan kembali bicara. Dan sayangnya, topik itu masih sama.

“Kau tahu banyak,” ujar Soohyun sambil meletakkan cangkir kopinya, kemudian ia mendekati Nara yang sudah menyandarkan punggungnya dengan nyaman disandaran sofa.

Nara terkekeh kecil, “Tentu saja. Cinta pertamamu yang kau sakiti. Jika aku menjadi dia, mungkin aku sudah membuat kepalamu berlubang dengan sebuah senjata. Bukankah ayah tirimu seorang jenderal?”

Soohyun meringis mendengarnya. Astaga, Nara benar-benar sangat senang memutar memo lamanya yang sangat ingin dilupakannya. Dan Nara seolah sangat ingin mengingatkan Soohyun, apa saja kesalahannya dimasalalu.

“Itu kesalahan. Aku tidak benar-benar sengaja melakukannya,” itu bukan sebuah alasan. Demi apapun, Soohyun berani bersumpah bahwa itu bukan sebuah kesengajaan. Jika ia tahu semua akan berakhir menjadi pedang bagi Suzy, maka ia pasti akan melakukan sesuatu sebelumnya demi gadis itu.

“Tapi, bukankah kau…”

“Ayolah Nara, kau sudah terlalu jauh…”

“Baiklah, baiklah. Aku hanya ingin mengingatkanmu, sebagai formalitas kau sudah mengirimkan sesuatu untuk mereka, kan?”

“Tentu saja. Aku sudah melakukannya…”

Nara tersenyum penuh arti, “Kuharap itu bukans ejenis racun atau bom yang bisa membunuh mereka berdua.”

Soohyun tertawa hambar, “Aku tidak segila itu. Sooji adalah adikku, dan Myungsoo sudah kuanggap seperti saudara sendiri.”

“Baguslah, aku hanya khawatir. Kau tipe orang yang nekat…”

 

***

 

Dan akhirnyahari ini tiba juga.

Jika bagi semua orang hari itu adalah hari paling membahagiakan, maka bagi Suzy hari itu adalah hari paling buruk yang pernah ia lalui. Selain ia tidak menyukai Myungsoo, ia benar-benar akan kehilangan sebagian kebebasannya.

Oh Tuhan, apalagi yang akan terjadi setelah ini?

“Mana pengantin priamu? Kenapa kau sendiri?” Jiyeon menghampiri Suzy dengan wajah sumringahnya. Dan ini membuat Suzy semakin sebal saja.

Dengan malas, gadis itu menunjuk Myungsoo dengan ekor matanya. Ah, ngomong-ngomong soal Myungsoo, semenjak kejadian itu Myungsoo tidak pernah lagi menatap mata Suzy. Bahkan saat di altar tadi, pria itu lebih memilih menatap arah lain dibanding menatap matanya.

Dan ini cukup membuat Suzy tersinggung. Walau harus Suzy akui, ini juga berawal dari kesalahannya. Mungkin, seharusnya ia bis amenghindari serangan tiba-tiba Jong In saat itu. Tapi entah kenapa, Suzy tidak berpikir kejadian itu adalah sebuah kesalahan.

“Kau tidak khawatir? Dia sedang dikerumuni wanita…” goda Jiyeon sambil menatap Myungsoo.

Mata Suzy kembali menengok ke arah Myungsoo, “Siapa peduli. Aku juga punya banyak teman kencan pria, mereka semua lebih tampan dan lebih kaya dari Myungsoo. Aku tidak perlu iri,”

Jiyeon yang medengarnya langsung terperangah. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Suzy, ia kira setidaknya Suzy mulai berpikir untuk peduli atau setidaknya melihat ke arah Myungsoo. Tapi kepala batu tetap saja kepala batu, sahabatnya tidak pernah bisa dibelokkan dengan mudah.

“Sooji-ya, dia suamimu.”

Suzy mendelik malas, “Siapa bilang dia suamimu, uh?”

“Sooji!”

“Sudahlah. Jika kau hanya ingin membahasnya, kau bisa membicarakannya dengan keemap orangtuaku. Mereka senang sekali membicarakanku saat ini,”

Jiyeon meringis pelan. Sahabatnya ini benar-benar mengerikan.

 

***

 

Suzy tidak terlalu terkejut ketika ia sampai di sebuah hotel mewah dengan fasilitias nomor satu dan juga lengkap. Dan ya, sebut saja ini sebagai hadiah pernikahan. Bulan madu, hal-hal yang biasa dilewati oleh setiap pasangan pengantin. Dan salah satunya Suzy.

Meskipun sudah berjam-jam resmi menjadi sepasang suami istri, Myungsoo sama sekali belum mau menatap mata Suzy. Jika boleh jujur, ada bagian dari dirinya yang terluka. Walaupun sebenarnya ia tidak lagi marah soal kejadian Suzy dengan Jong In, tapi ada masalah lain yang ia timbulkan dari pernikahan ini…

“Kau tidak berniat tidur satu ranjang denganku, kan?”

Lamunan Myungsoo terhenti saat Suzy berjalan keluar dari arah kamar mandi, kemudian gadis itu mulai membuka hiasan yang melekat di tubuhnya satu persatu.

Myungsoo mendesah pelan, “Memangnya kenapa jika kita tidur satu ranjang? Bukankah seharusnya kau tidak risih lagi dengan hal itu?”

Suzy langsung menghentikangerakannya dan menatap tajam ke arah Myungsoo. Harga dirinya baru saja diinjak…

“Apa maksudmu?” balas Suzy sinis. Ia benar-benar tidka terima dengan ucapan Myungsoo barusan.

“Tidak ada,” Myungsoo ikut duduk disalah satu sofa di ruangan itu, “Bukankah kau hampir melakukannya dengan pria lin tempo hari? Jadi seharusnya kau tidak gugup lagi jika berdekatan dengan pria asing…atau mungkin kau pernah melakukannya sebelumnya? Tidak ada yang tahu kan,”

Dengan marah, Suzy langsung membanting sepatu yang barus aja dilepaskannya. Persetan dengan harga sepatu itu, ia benar-benar tersinggung dengan ucapan Myungsoo. Ia kira ia siapa? Ia kira ia seberapa kenal dengan Suzy? Bahkan Dongho saja tidak pernah menghinanya sejauh itu.

“Asal kau tahu Kim Myungsoo, aku tidak semurahan itu…”

Myungsoo menatap malas ke arah Suzy, “Sudah kubilang, tidak ada yang tahu, kan? Kecuali jika kita…”

“Katakan saja jika kau ingin melakukannya! Dasar pria hidung belang!” setelah mengatakannya, Suzy langsung bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar mandi, dan sebelum ia masuk ia kembali menatap Myungsoo, “Dan aku tetap tidak mau seranjang denganmu!”

 

***

 

Myungsoo baru saja menutup pintu kamar hotelnya. Kemudian, ia segera berjalan menuju ranjangnya. Harusnya itu ranjangnya, tapi ia sendiri tidak yakin untuk tidur seranjang dengan istrinya sendiri mengingat gadis itu tidak menginginkan keberadaannya sama sekali.

Dan Myungsoo tersenyum kecil mengingat pertengkaran kecilnya dengan Suzy tadi. Kecil? Menurutnya itu pertengkaran kecil, meskipun Suzy terlihat sangat marah padanya. Baiklah, ia akui ia memang keterlaluan dengan ucapannya tadi. Tapi setidaknya ia harus mencoba menampar Suzy lewat lidah. Menjabarkan kesalahannya melalui ucapan. Niatnya sesimpel itu. Dan ia tidak peduli Suzy akan menyadarinya tau tidak.

Langkah Myungsoo terhenti ketika ia melihat Suzy sudah terlelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia pun mendnegus pelan dan duduk di salah satu kursi.

Ia tahu gadis itu gadis baik-baik. Ia tahu gadis itu tidak pernah benar-benar menikmati kehidupan gelapnya. Setiap orang memiliki alasan, hanya saja alasan itu bisa diteriam atau tidak. Dan posisi Suzy saat ini memang beralasan, tapi ia masih belum tahu apa yang membuat Suzy berbelok sejauh itu.

Myungoo kehilangan jejak gadis itu sejak ia memasuki bangku SMP. Dan siapa kira, setelah ia kembali ke Seoul untuk jenjang Senior High School-nya, ia malah harus terpisah dengan Suzy? Dirinya yang tinggal bersama Tn.Bae dan Suzy dengan Ny.Han.

Myungsoo pun mendekat ke arah Suzy, kemudian ia mengusap pelann kepala gadis itu. Ia tidak yakin bisa menjadi seseorang yang diinginkan Suzy, tapi setidaknya ia harus mengembalikan Suzy yang dikenalnya…walaupun mungkin ia harus merelakan pernikahan ini berakhir.

Hey, mereka tidak saling mencintai, kan? Bukan hal yang tidak mungkin jika akhirnya pernikahan mereka berakhir dengan kata perceraian.

 

***

 

“London?!” pekik Suzy kaget ketika Myungsoo memberikannya 2 lembar tiket pesawat. Tidak. Bukan karena ia terkejut karena senang atau karena ia suka London. Ia benar-benar tidak yakin soal negri raja itu…

“Kenapa harus London? Apa tidak ada tempat lain?” tanya Suzy berharap Myungsoo mau membatalkan rencananya.

Mendengar itu, Myungsoo hanya menyeringai kecil, “Kau ingin tempat yang lebih bagus untuk bulan madu kita?”

Suzy mengerjapkan matanya. Apa? Apa katanya? Astaga…Myungsoo salah paham. Dasar bodoh! Lagipula siapa peduli dengan perjalanan konyol ini! Bahkan ia tidak peduli jika seandainya tidak ada bulan madu sekalipun.

“Bukan itu! Aku…”

“Kau tidak bisa menolaknya Nona Bae…” Myungsoo menyela cepat, “Ini sudah keputusan ayahmu.”

Abeoji abeoji abeoji. Suzy benar-benar akan dibuat frustasi oleh ayahnya sendiri.

“Jika aku tidak mau?”

“Kau harus mau.”

“Kau tidak bis amemaksaku!”

“Aku bisa! Aku suamimu sekarang…”

Dan Suzy benci kata-kata keramat itu…

Ia pun mendengus pelan. Karena London yang membuat Soohyun meninggalkannya…

 

=TBC=

14/04/14 09:21PM

Iklan

5 thoughts on “To You (4)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s