Seoul Story (What is Love?) (6)

-part 6-

Musim semi Seoul bagi Hinata merupakan momen yang paling ditunggu olehnya. Bukan karena keindahan atau semacamnya yang biasanya menjadi patokan dari musim semi, tapi karena musim semi ini ia mulai kembali duduk di depan kasir sambil menghitung pendapatan kafe yang sudah resmi diatasnamakan namanya.

Hinata tersenyum lebar saat mendapati pendapatannya dari hari ke hari terus bertambah. Ide brilian sederhananya soal makanan yang disesuaikan dengan berbagai musim ternyata cukup menarik perhatian pelanggan. Dan yang pasti ia juga harus berterimakasih pada pamannya yang sudah repot-repot mau mengajarkan soal memasak dan mencari resep baru.

“Nona, seseorang ingin dilayani oleh anda,”

Hinata mendongak pada salah satu pelayannya yang berusia 5 tahun lebih tua darinya itu, “Olehku? Siapa?” tanya Hinata refleks dengan bahasa jepangnya, mengingat gadis tadipun merupakan orang jepang yang tinggal di Korea.

“Saya tidak tahu, tapi sepertinya dia mengenal anda,”

Hinata menautkan alisnya bingung. Memangnya siapa yang mencarinya sampai kesini? Zooey? Ah~ tidak! Zooey bilang dia ada acara menonton film terbari di bioskop hari ini. Dan Ariel? Tidak mungkin juga, tadi dia bilang dia akan menyelesaikan tugas sejarahnya. Dan sudah dipastikan Kyungsoo menahannya sampai mereka selesai mengerjakan tugas.

Jadi siapa?

Dengan langkah malas, Hinata pun berjalan mendekati salah satu meja yang berada di sisi ruangan kafe ini. Tepat di sebelah kaca tembus pandang besar yang dijadikan sebagai dinding pembatas dengan luar.

Tunggu…bukankah itu…

Laki-laki itu tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah Hinata, “Hai~”

Apa? Apa katanya? Hai? laki-laki itu menyapanya? Dia datang kesini? Dia datang mencarinya atau…? ada yang tidak beres disini. Kenapa Kris tahu tempat ini?

Membuang semua lamunannya, Hinata pun melanjutkan langkah kakinya yang semakin melamban. Kemudian, dengan santai ia duduk berhadapan dengan Kris yang masih saja tersenyum padanya.

“Kau mencariku? Ada apa?” tanya Hinata tanpa basa-basi, melupakan kesopanan ataupun tatakrama pelayanan di kafenya sendiri. Tidak. Hinata sama sekali tidak kesal pada Kris, itu sikap refleksnya. Bagaimanapun ia masih dikerubuni rasa bingung.

Kris pun menyandarkan punggungnya dengan santai. Dan bibirnya masih melengkung tersenyum ke arah Hinata, “Aku tidak bilang mencarimu, kan? Aku pelanggan biasa disini. Hanya saja…” Kris melipat tangannya di atas meja tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Hinata, “Aku ingin kau yang melayaniku.”

Hinata mendengus pelan saat mendengar ucapan Kris. Dalam hati ia mengakui jika ia memang salah, tapi ia terlalu malas mengakuinya saat ini. Tapi bukankah itu tetap sama saja? Jika Kris memang tidak berniat menemuinya, harusnya ia mau saja,kan jika bukan dia yang melayaninya? Dasar pria aneh.

“Siapa yang mengatakan padamu bahwa aku ada disini? Ariel?” tebak Hinata langsung dengan tangan terlipat di depan dada. Terdengar sekali jika gadis berdarah asli jepang itu sedang jengkel sekarang. Dan Kris lah penyebab utamanya.

Kris pun memundurkan tubuhnya, dan mengikuti gaya Hinata yang melipat tangan di dadanya, “Aku tidak mungkin bertanya pada Zooey, kan? Kami sama sekali tidak dekat.” Balasnya tak acuh.

“Jadi benar Ariel?”

“Menurutmu?”

Hinata mendengus panjang. Berbicara dengan Kris ternyata sama saja dengan berbicara dengan nenek-nenek cerewet yang merasa dirinya muda, dan Kris sepertinya menyamai level tipe nenek-nenek seperti itu, dan itu adalah neneknya.

“Kau menyogoknya dengan apa sampai dia mau buka mulut?” Hinata sedikit menegakkan tubuhnya, matanya masih menelisik ke arah Kris yang berpura-pura sibuk pada buku menu di hadapannya.

“Tiket konser Changmin.”

Hinata langsung terkikik mendengarnya, benar-benar lucu. Yang benar saja Ariel mau disogok dengan selembar tiket? Ariel adalah anak orang kaya, dia bahkan sanggup memanggil Changmin untuk menyanyikan lagu sebelum ia tidur jika ia mau. Dan Changmin? Dasar bodoh! Changmin baru saja menyelesaikan konsernya seminggu lalu, dan tentu saja Ariel sudah menonton konsernya. Bahkan meskipun sudah menontonnya di Seoul, gadis itu tetap mengejar Changmin sampai ke Osaka. Gadis mengerikan.

Kris cukup tertegun melihat reaksi yang diberikan Hinata. Gadis itu terkikik di depannya? Wow, ini poin kemajuan yang sangat baik, bukan? Ia bahkan tidak pernah memimpikan gadis itu akan tertawa lepas sepertiitu didepannya. Meskipun dia tertawa karena mentertawakan Kris.

“Apa ada yang lucu disini?” tanya Kris setelah Hinata benar-benar berhenti tertawa.

“Kau gila? Bahkan Ariel tidak melewatkan satupun konser Changmin. Bahkan 3 hari berturut-turut ia menonton konser itu. Bahkan ia mengejarnya ke Osaa. Benar-benar fans yang menakutkan,”

Kris menghela napas geli. Benar juga. Tolol sekali ia berpikir ide itu bisa menipu Hinata. Hinata teman dekat Ariel, dan tentunya gadis itu juga akan tau tetek bengek tentang Ariel dan pangeran pujaannya itu.

“Baiklah, aku memang tidak menyogoknya dengan tiket konser. Tapi aku menyogoknya dengan novel terbaru milik Rebecca Harley. Kau tahu,kan? Penulis yang satu itu selalu mendapatkan peringkat nomor satu dalam tulisan-tulisannya. Dan Ariel terlambat mendapatkan cetakan pertama dari buku Rebecca, dan aku mendapatkannya.”

Wow. Novel Rebecca Harley? Diam-diam Hinata ikut takjub. Sepertinya Kris juga sama kayanya dengan Ariel. Ia tahu harga novel milik Rebecca tidak akan semurah novel picisan yang beredar di Korea, juga manga Jepang yang sering dibeli adiknya.

“Kau serius? Rebecca Harley? Bukannya novelnya berbahasa Prancis?”

Kris terkekeh geli mendengar jawaban Hinata. Lalu apa masalahnya dengan berbahasa Prancis? Tapi yang membuatnya terkekeh bukan soal pertanyaannya saja, tapi ekspresi yang ditunjukkan Hinata. Kris menyukainya.

“Kau lupa Ariel berasal dari Kanada? Prancis juga salah satu bahasa di Kanada jika kau lupa. Kukira karena ayahmu duta Jepang, kau pasti banyak tahu.”

Hinata terkesiap dengan jawaban Kris barusan. Tunggu dulu…Kris tahu jika ayahnya seorang duta?

“Kau tahu…”

“ya aku tahu,” tandas Kris cepat, “Ariel juga mengatakannya. Dan aku menyogoknya dengan boneka teddy bear yang selama ini dicarinya.”

Hinata menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak. Ia sama sekali tidak suka karena Kris tahu semuanya tentang dirinya. Dan ia juga kesal karena dengan brengseknya Ariel membuka mulut pada laki-laki aneh ini. Tapi dikatakan tidak senang pun…ia biasa saja. Ia jauh lebih terpana karena Kris terlihat begitu tertarik membahas tentang dirinya. Kehidupannya yang bahkan tak pernah terendus oleh siapapun, kecuali Ariel dan Zooey.

“Jadi, aku bisa pesan sekarang? Aku lapar. Kita sudah lama mengobrol,”

 

***

 

“Ah~ aku mengerti. Kau hebat sekali. Bagaimana caramu menghapal semua tanggal-tanggal itu?” tanya Jong In takjub –yang tentunya dibuat-buat- dan tak lupa dengan tatapan berbinarnya. Dan sialnya, mata itu menipu Ariel yang dengan polosnya menyambut semua sikap palsu Jong In.

Kyungsoo terus saja bersungut sebal melihat tingkah Jong In. Dasar player. Sekali player tetap saja player. Dan sepertinya tabiat itu memang sudah mendarah daging sampai ke urat nadi milik Jong In. Disela-sela pengerjaan tugas babak final dengan Ariel, pria tengik itu tiba-tiba muncul dan meminta dijelaskan tentang salah satu judul yang katanya ia tidak mengerti.

Cih~ alasan macam apa itu? Memangnya Luhan tidak bisa menjelaskannya pada Jong In? Memalukan sekali jika itu memang benar, mengingat Luhan adalah si juara kelas. Hampir tidak mungkin jika Luhan tidak mengerti.

Dan Jong In datang kemari –ke perpustakaan utama Seoul- dengan alasan menjijikkan itu. Lihatlah, bagaimana gelagatnya saat mendekati Ariel. Benar-benar menyakiti mata siapapun yang melihatnya.

“Kenapa kau tidak belajar dengan Luhan?”

Kyungsoo langsung membekap mulutnya dengan tangan kanannya. Bagus sekali, ia suka pertanyaan Ariel. Membuat Jong In gugup dan terus menatapnya. Berharap dapat bantuan? Bermimpilah Kim Jong In~ itu tidak akan terjadi.

“Itu…”

“Hai Ariel! Kukira kau sudah pulang,”

Serempak, Kyungsoo, Jong In dan Ariel menoleh ke arah sumber suara. Dan hebat! Luhan ada disini! Dengan sebuah buku yang disembunyikan, Luhan berjalan mendekat ke arah teman-temannya itu, dan gadis yang mencuri hatinya.

“Kau mau mencari Jong In?” tanya Ariel –masih dengan polosnya-. Dan ini membuat Kyungsoo jengkel.

Sama jengkelnya dengan Jong In. Ia tidak habis pikir kenapa Luhan muncul disaat seperti ini? Benar-benar tidak tepat. Apa Luhan tidak tahu jika ia sedang dalam tahap pendekatan dengan Ariel?

Dengan tatapan malas, Luhan mengalihkan pandangannya ke arah Jong In yang menatapnya tajam. Kemudian memutar bola matanya malas, “Jadi kau disini? Kau bilang kau ada acara keluarga. Ini yang kau maksud dengan acara keluarga?” sindir Luhan kesal. Jong In baru saja membohonginya. Dasar bocah tengik.

“Aku sedang belajar,” bela Jong In dengan nada ketusnya. Membuat Kyungsoo semakin suka dengan film gratis didepannya ini.

Dan tanpa menggubris Jong In lagi, Luhan langsung menunjukkan buku yang sedari tadi disembunyikannya. Dengan senyum lebar –dan kali ini senyum tulus Luhan, laki-laki itu menunjukkan buku dengan tulisan kriting di cover bukunya.

Kyungsoo bergidik ngeri. Kenapa Luhan membawa buku dengan tulisan cina? Seingatnya mereka tidak ada tugas yang berhubungan dengan negri kelahiran Luhan itu.

“Whoa~ Anchee Min? Kau membawa novelnya?”

Jong In dan Kyungsoo sama-sama mengernyitkan dahinya. Cukup terkejut dengan reaksi yang diberikan Ariel. Ternyata gadis itu suka dengan buku dengan tulisan mandarin?

“Kau suka buku seperti itu?” tanya Jong In dengan nada bingungnya. Juga agak jengkel, ia tidak merasa sedang bersaing dengan Luhan, tapi ia benar-benar merasa dikalahkan Luhan. Bagaimana bisa Luhan tahu tentang Ariel sebaik itu sedangkan dirinya tidak? Apa ia harus bertanya pada Taemin agar ia mendapat bocoran lebih banyak?

“Hmm. Anchee Min salah satu penulis favoritku,” balas Ariel semangat.

“Selain Rebecca Harley, kan?” tanya Luhan masih dengan senyum terhangatnya. Dan lagi-lagi Ariel mengangguk semangat, tak lupa tersenyum lepas pada Luhan yang seperti memberi kejutan besar pada Ariel.

“Aku baru mendapat buku terbarunya! Dia memang benar-benar keren!”

“ya…sayangnya aku tidak bisa membaca novel aslinya. Kecuali jika kau dengan senang hati mau menerjemahkannya langsung padaku,” canda Luhan kemudian.

Ariel terkekeh mendengarnya, “Tenang saja. Novel Rebecca selalu diterjemahkan ke bahasa inggris,”

Jong In memutar bola matanya kesal. Apa-apaan itu? sebenarnya siapa yang mereka bicarakan? Dan tentang apa? Rebecca? Anchee? Nama-nama apa itu? Dan kenapa Luhan bisa tahu semuanya? Padahal seingatnya Luhan tak pernah dekat dengan Ariel.

Kyungsoo tersenyum geli. Hebat sekali Luhan bisa mendahului Jong In satu langkah. Entah apa yangdilakukan Luhan sampai ia mendapatkan beberapa informasi penting itu? Membuatnya bisa mengobrol banyak dengan Ariel –dan tidak menyadari ada seorang pria yang diringkuk rasa cemburu berat.

Ini benar-benar menarik.

 

***

 

Chanyeol baru saja keluar dari restoran cepat saji yang didatanginya bersama teman kencan butanya. Matanya sangat sibuk memperhatikan orang-orang sekitar, berharap ia bisa menemukan Zooey lagi. karena tadi ia melihat Zooey sedang masuk kedalam bioskop. Dan seharusnya gadis itu sudah keluar sekarang.

“Kau sedang mencari apa?” Chanyeol mengalihkan pandangannya pada gadis yang setahun lebih muda darinya itu, kemudian Chanyeol menggeleng pelan. Tapi matanya masih tetap mencari sosok gadis itu.

Dan itu dia! Gadis itu sedang berjalan di trotoar.

“Oppa?”

“Mianhae. Tapi sepertinya kencan kita sampai disini. Aku harus pergi, sampai jumpa.” Setelah mengatakannya, Chanyeol langsung berlari mengejar Zooey. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Bahkan ia tidak peduli dengan suara gadis tadi di belakang, juga mengabaikan hujan yang mulai berubah deras.

“Zooey!”

 

***

 

‘To : Ariel Lau ; Ishida Hinata

Besok white day, kan? Kurasa aku akan menjadi gadis paling bahagia besok. Dan kuharap kalian tidak menangis terharu karena iri padaku,’

Setelah mengetik itu, Zooey langsung menyentuh icon kirim dilayar ponselnya. Zooey masih tersenyum meskipun ponselnya telah dimasukan kedalam tas-nya. Ia tidak sabar untuk besok. Ia begitu penasaran, apa yang akan dikatakan Jong In padanya. Apakah laki-laki itu benar menyukainya? Ah~ itu benar-benar akan menjadi hari yang hebat! Zooey tidak sbaar untuk itu.

“Zooey!”

Zooey sedikit menghentikan langkah kakinya. Ia merasa seseorang memanggilnya barusan.

“Zooey!”

Zooey pun berbalik, dan ternyata benar ada orang yang memanggilnya. Dan orang itu adalah Chanyeol. Dan kenapa Chanyeol disini?

Setelah berada didepan Zooey, Chanyeol begitu sibuk mengatur napasnya yang sesendatan. Lagipula kenapa harus berlarian begitu? Dasar aneh.

“Kenapa?” tanya Zooey dengan nada tak pedulinya. Dan ini agak sedikit menyakiti perasaan Chanyeol. Zooey terlalu gamblang menunjukkan ketidaktertarikannya pada Chanyeol. Padahal ia berharap, setidaknya Zooey bisa lebih manis.

“Tidak, aku hanya melihatmu dan ingin…pulang denganmu.” Ucap Chanyeol sambil menegakkan punggungnya. Meskipun ia merasa tidak sepenuhnya ucapannya benar, tapi pulang bersama tidak ada salahnya, kan?

“Pulang bersama?”

Chanyeol mengangguk semangat, “Kau mau, kan? Aku juga akan naik bis. Dan rumah kita searah,”

Zooey langsung menautkan alisnya, “Kau tahu rumahku?”

Chanyeol lagi-lagi mengangguk, tak lupa dengan senyum bahagianya yang tak bisa disembunyikan.

“Tentu saja.”

“Tapi…”

Belum selesai Zooey berbicara, tangan Chanyeol tiba-tiba langsung menarik tubuhnya mendekat ke arah Chanyeol. tepat saat tiba-tiba hujan berubah menjadi deras. Dan dengan cekata, Chanyeol membuka jaketnya dan langsung meneduhi mereka berdua dengan jaket Chanyeol itu.

“Tidak apa-apa, kan? Aku tidak bawa payung. Sepertinya kita harus seperti ini sampai ke halte bis. Atau kau mau naik taksi?”

Zooey tidak langsung menjawab. Entah kenapa detak jantungnya melumpuhkan sebagian sarafnya. Entah perasaanya saja atau apa. Tapi ia merasa tidak beres dengan organnya yang bekerja lain gara-gara melihat Chanyeol sedekat ini.

“Zooey?”

Zooey mengerjapkan matanya kaget. Ia melamun tentang apa tadi?

“Ah~ tentu saja. Tidak apa-apa,”

“Jadi? Naik taksi atau bis?” tanya Chanyeol lagi.

“Kurasa taksi,”

“Baiklah.”

Dan merekapun mulai berjalan meninggalkan tempat itu.

Dalam diam, Zooey terus menepis perasaan aneh yang menghinggapinya barusan. Ia terus mengingatkan dirinya soal Jong In yang akan menyatakan perasaannya. Dan ia tidak mungkin jatuh cinta pada 2 laki-laki sekaligus, kan?

 

=TBC=

17/03/14 09:08PM

 

 

Iklan

One thought on “Seoul Story (What is Love?) (6)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s