To You (6)

-part 6-

Pagi ini, Suzy mengawalinya dengan menghirup udara sejuk pagi di London. Ya. saat inii ia benar-benar berada di London. Dan entah bagaimana ia harus bereaksi, yang pasti Suzy cukup atau bahkan sangat menikmati semua ini. Dan yang perlu diacuingi jempol, Myungsoo mengambil letak apartemen yang strategis. Dan ia yakin, apartemen ini sudah pernah di renovasi, apalagi jika ia mengingat bahwa Myungsoo adalah seorang arsitek.

Suzy kembali memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin yang menerpanya, oh dear…suasana nyaman ini bahkan hampir selalu ia lewatkan setiap paginya. Tentu saja jadwal mengajar, hang out dan beberapa pekerjaan lainnya langsung menarik semua kegiatan santainya seperti ini. Walaupun ya…sejujurnya Suzy sendiri merindukan dunia malamnya. Bahkan kemarin, ia benar-benar melewatkan harinya tanpa alkohol. Padahal, biasanya ia lewatkan harinya dengan alkohol. Minimal, ia menikmati beberapa kaleng beer jika ia tidak benar-benar bisa pergi clubbing.

Dan yang kedua ia rindukan, adalah ceramahan Dongho. Biasanya, saat pulang ke rumah ia akan di ceramahi ataupun sekedar mengobrol ringan dengan Dongho. Atau, setidaknya laki-laki itu menatap Suzy. Ya ya…hanya sekedar menatap, untuk memastikan bagaimana keadaan Suzy hari itu. Errr…siapa kira ia akan merindukan laki-laki itu juga?

Dan selama bersama Myungsoo, ia bahkan hampir tak pernah bisa diam. Entah sengaja atau bagaimana, laki-laki itu selalu membuatnyaberhasil untuk mengomentari sesuatu. Dan yang dikomentari tentunya tidak menyenangkan di mata Suzy. Dan dengan sekali tembakan, Myungsoo selalu berhasil membuatnya terdampar pada kata kalah. Dan itu ia masukkan ke dalam kategori menyebalkan.

“Kau sedang apa?”

Kepala Suzy berputar sebentar ke arah Myungsoo, lalu ia kembali membalikkan kepalanya dan menikmati angin yang menerpanya. Ia harap, laki-laki itu tidak mengajaknya bertengkar lagi hari ini, di hari ke-3 pernikahan mereka.

“Hey, aku bicara padamu…” kata Myungsoo lagi sambil menaruh handuk kecilnya sembarangan, lalu mendekat ke arah Suzy. Tadinya ia ingin mengomel, tapi lidahnya mendadak kelu ketika ia merasakan hembusana ngin musim gugur London.Ia bahkan hampir lupa, karena terakhir ia berkunjung ke apartemen ini saat sedang musim panas.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan lokasi bagus seperti ini?” komentar Suzy tanpa melihat ke arah Myungsoo. Ia malah sempat berpikir, mungkin London tempat yang bagus untuk dijadikan tempat tinggal. Dan hey, ia juga sepertinya bisa berkencan dengan para pria eropa. Kedengarannya keren…

“Soohyun Hyung yang membantuku. Ia memang tahu seleraku,”s

Mata Suzy langsung terbuka ketika lagi-lagi ia mendapati nama Soohyun disebut-sebut. Oh, good. Sekarang ia kehilangan mood nya di pagi musim gugur ini. Myungsoo mungkin diciptakan untuk merusak mood-nya.

“Oya, kau harus siapkan sarapan pagi. Aku lapar…” ucap Myungsoo sambil mengusap perutnya, kemudian ia berjalan masuk meninggalkan Suzy yang masih melongo di tempatnya.

Suzy tidak salah dengar? Sarapan? Suzy bahkan tidak pernah sarapan…kecuali kemarin. Myungsoo memaksanya. Dan lagi ia tidak bisa masak…

“Aku tidak mau,” jawab Suzy cepat sebelum Myungsoo menjauh, “Aku tidak bisa masak. Aku juga tidak pernah sarapan, kalau kau mau kau cari makanan saja sendiri…” tolaknya lagi. dengan mentah-mentah.

Suzy kembali membalikkan tubuhnya dan ingin kembali menikmati udara pagi, tapi sialnya Myungsoo langsung menarik lengan Suzy dan membalikan tubuh gadis itu.

“Setidaknya siapkan roti, atau apapun itu. Kau seorang istri sekarang, mana mungkin ada seorang istri yang menelantarkan suaminya seperti itu?”

Suzy tersenyum sinis dan melepaskan pegangan tangan Myungsoo, “Tapi sejak awala ku tidak mau menjadi istrimu. Pegang saja resikomu sendiri,”

Myungsoo mendnegus pelan. Gadis ini benar-benar…

“Kau harus belajar menjadi seorang istri mulai sekarang…”

“Aku tidak mau.”

“Bae Sooji,”

“Panggil aku Suzy.”

“Baik,” Myungsoo pun memasukkan kedua tangannya ke dalam sakuu celananya, “Pokoknya, di rumah ini tidak ada makanan selama kau tidak mau masak,”s

Suzy memejamkan matanya, benar-benar laki-laki menyebalkan.

“Dan tidak ada yang mencuci selama kau tidak mencuci, tidak ada yang membereskan rumah jika kau tidak membereskannya, dan juga…”

“Kau mau menjajahku?!” tubuh Suzy sudah berbalik menghadap ke arah Myungsoo dengan tatapan tidak percaya. Laki-laki itu benar-benar ingin menyiksanya!

Myungsoo menautkan sebelah alisnya, “Memangnya kenapa? Sudah kukatakan, itu tugas istri. Dan aku tidak mau melakukannya,”

“Kim Myungsoo…”

“Dan panggil aku oppa. Aku lebih tua darimu,”

“Shireo!”

 

***

 

“Tuan, seseorang mencari anda…”

Soohyun mendongak sebentar, menatap pada sekretarisnya yang melongokkan kepalanya dari balik pintu.

“Siapa?”

“Kim Myungsoo.”

Deg.

Tubuh Soohyun membeku ketika ia mendengar nama itu. Bukan. Bukan soal Myungsoo, tapi karena Myungsoo sudah menikahi gadis yang dicintainya. Memilikinya seutuhnya dan memutuskan harapannya yang kebas…walaupun perlu diakui Soohyun tidak pernah benar-benar mencoba untuk memperjuangkan gadis itu.

“Tuan?”

Dan yang benar-benar ia lupakan, adalah janji yang dibuatnya dengan Myungsoo.

“Suruh dia masuk,”

Dan dalam selang beberapa detik, pria itu sudah benar-benar masuk dengan menampakkan senyum cerahnya. Dan ini benar-benar membuat mental Soohyun mengkerut. Ternyata, tanpa melihat gadis itupun dan menyadari pria di depannya telah memiliki gadis itu, sudah cukup menyakitinya. Ia bersyukur, ia tidak datang ke pernikahan mereka dan membatalkan penerbanyannya ke Korea. Akan jauh lebih buruk jika Soohyun berada disana.

“Hai Hyung! Apa kabar?”

Kim Soohyun langsung berdiri menyambut kedatangan anak angkat ayah tirinya ini, kemudian membiarkan pria itu memeluknya.

“Lama sekali tidak melihatmu,” ucap pria itu lagi, masih dengan senyum hangatnya. Sebahagia itukah ia dengan Sooji?

“Kau yang tidak pernah mengunjungiku,” canda Soohyun kemudian. Ia harap candaannya tidak benar-benar terdengar hambar.

Kemudian, mereka pun duduk di sofa yang tersedia di ruangan Soohyun. Dan dalam hati Soohyun berharap, semoga semuanya tetap terlihat normal. Meskipun ada satu keengganan yang menusuk hatinya saat ini.

“Maaf, saat itu aku tidak bisa datang ke pernikahanmu,” kata Soohyun basa-basi, hey, sangat kurang ajar sekali jika Soohyun tidak membahas soal itu.

Myungsoo hanya tersneyum dan mengibaskan tangannya, “No problem. Aku mengerti betapa sibuknya dirimu,”

“Jadi…bagaimana dengan istrimu?” Soohyun kembali berbasa-basi.

Myungsoo tersenyum sebentar, “Baik. Hanya saja ia belum terbiasa berada di dekatku,”

Soohyun tertawa hambar, “Bukankah kalian sudah mengenal sejak lama?”

Myungsoo menggeleng pelan, “Tidak. Kami hanya saling kenal saat kami masih kecil, sebelum orangtuanya berpisah.”

Soohyun menganggukkan kepalanya mengerti.

“Kau tidak merindukannya? Mungkin lain kali aku harus membawanya,”

Soohyun menelan ludahnya, ia bahkan berharap agar pria itu tak membawa Suzy kehadapannya. Demi apapun. Ia tidak akan pernah siap…

“Ya…tentu saja…sudah sangat lama…” dan Soohyun baru saja berbohong, “Jadi, kau sudah punya ide untuk rancangan gedungku?”

Dan Soohyun dengan cepat mengakhiri topik mengenai pernikahan Myungsoo. Sungguh, mentalnya mengkerut total.

 

***

 

Suzy menggigit bibir bawahnya. Ia baru saja selesai dengan ritual membersihkan dirinya, dan tiba-tiba ia merasakan perutnya lapar. Sial sekali…sepertinya Myungsoo menyumpahinya agar lapar gara-gara ia tidak mau menyiapkan sarapan.

Suzy pun berjalan ke arah dapur, dan ia langsung mengorek-ngorek isi kulkas disana. Sekarang, ia juga Nyonya Kim, kan? Berarti apa yang menjadi milik Myungsoo adalah miliknya juga. Dan ia bebas melakukan apapun di apartemen ini…

Suzy mendengus frustasi, pria itu ternyata tidak menyimpan apapun di kulkasnya. Benar-benar kosong dan hanya ada botol air mineral disana…astaga. apakah selama kuliah laki-laki itu juga seperti itu? Tsk~ menyebalkan sekali!

Suzy pun segera berjalan menuju kamarnya, lalu ia langsung mencari kopernya. Ia harus menemukan dompet dan ponselnya. Ia agak rindu pada Jong In, bermain sebentar dengan pria itu mungkin tidak ada salahnya. Juga, ia ingin menemukan dompetnya. Setidaknya ia harus membeli sesuatu meskipun ia hanya memiliki uang won. Mungkin ia bisa menukarkannya ke bank, kan?

Mata Suzy membulat ketika ia tak menemukan kopernya dimana-mana. Tidak. Tidak mungkin ia melupakannya ataupun ketinggalan. Suzy pun mencari ke ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang tengah apartemen itu. Dan sialnya, ia tak menemukan kopernya. Suzy tidak langsung menyerah, ia menyisir seluruh ruangannya dan nihil, ia tak menemukan kopernya yang satu itu. Dan ia benar-benar panik sekarang.

“Tidak mungkin…lalu bagaimana aku sekarang? Bahkan aku tidak tahu Myungsoo kemana…” gumam Suzy benar-benar panik.

Dan tiba-tiba lampu dikepalanya baru saja menyala, mungkin ia bisa menemukan Myungsoo diluar. Ia pun segera berjalan menuju pintu dan mengambil baju hangatnya dulu, ia tidak akan lupa ini sedang musim gugur dan udara tidak semenyenangkan tadi pagi.

Belum sempat Suzy membuka pintu apartemennya, tiba-tiba seseorang muncul darisana. Suzy terlompat kaget karena seorang pria dengann topi hitam tiba-tiba masuk. Ia hampir berteriak jika Myungsoo tidak segera membuka topinya segera.

Suzy mendengus pelan. Berada dinegri orang ternyata cukup menakutkan. Tapi detik berikutnya kepanikannya kembali muncul.

“Myungsoo-ya, koperku hilang, aku tidak menemukannya dimana-mana. Kau melihatnya? Semua benda pentingku ada disana…”

Myungsoo mengigit bibir bawahnya. Akhirnya gadis ini menyadarinya juga.

“Kenapa diam? Bantu aku…ponselku juga ada disana…”

“Semuanya kutinggal di Korea.” Sela Myungsoo cepat.

Dan berhasil, kalimat singkat itu membuat mulut Suzy terkunci rapat. Otak gadis itu kini bekerja agak lamban. Sedikit tidak percaya, dan berharap apa yang ia dengar barusan adalah salah, atau setidaknya pria itu hanya sedang bercanda padanya.

“Mworago?”

“Kutinggal kopermu yang itu di Korea. Ayahmu bilang, kau bisa saja kabur…jadi, ayahmu memintaku untuk mencari cara agar kau tidak kabur. Dan mungkin, tanpa barang-barang itu kau bisa…”

PLAK

Suzy menampar pipi Myungsoo dengan keras. Mata gadis itu benar-benar melotot sekarang. Ia benar-benar tidak percaya dengan ap ayang baru dikatakan Myungsoo. Meninggalkan semua barangnya di Korea? Ayolah, apa ada yang lebih gila dari ini? Setelah pria itu mengikatnay, menjajahnya, pria itu juga ingin membuatnya sengsara?

Myungsoo sedikit tersulut emosinya. Entahlah, semenjak Naeun menamparnya, ia agak sensitif dengan kata ‘tampar’ atau ‘pukul’. Dan gadis di depannya ini, gadis yang berstatus sebagai istrinya menamparnya begitu saja…dengan keras…

“Kau gila?” desis Suzy emosi, “KAU BENAR-BENAR INGIN MEMBUATKU FRUSTASI, HAH? KAU KIRA PA YANG KAU LAKUKAN?! APAKAH TIDAK CUKUP DENGAN SEMUA YANG KAU LAKUKAN?!” suzy mengatur napasnya yang tersenggal. Ia benar-benar emosi sekarang.

Gadis itu menunduk pasrah. Ia benar-benar akan merasa gila sekarang…

“Kalau begitu buktikan kau bisa menjadi gadis-gadis baik,” ucap Myungsoo dingin, “Kau harusnya bisa berpikir dua kali dengan apa yang aku lakukan padamu. Orang-orang meragukanmu, apa kau tidak tersinggung sama sekali? Bahkan kau sepertinya santai saja saat aku menghinamu. Kau harus membangun harga dirimu lagi Nona Bae. Dan mulai saat ini, cobalah lakukan…setidaknya kau melakukan tugasmu dengan benar di rumah ini.” Lanjutnya lagi.

Suzy langsung mendongak menatap Myungsoo dengan tatapan menantangnya, “Lalu, kau ingin apa sekarang? Ingin aku memasak? Baik…”

Dengan kasar, Suzy melepas banu hangatnya dan melemparnya asal. Ia benar-benar merasa terhina sekarang…

 

***

 

Myungsoo menatap punggung Suzy dengan perasaan bersalah. Apakah ia terlalu kasar? Apakah ia terlalu berlebihan? Entahlah…ia sendiri tidak pernah menghadapi gadis sejenis Suzy, ia selalu dihadapkan pada gadis anggun dan lemah lembut. dan dihadapkan pada gadis seperti Suzy benar-benar membuatnya harus ekstra berpikir. Belum lagi gadis itu adalah istrinya sendiri, membuatnya harus menghadapi gadis itu setiap hari, mengenali sifatnya dan mempelajarinya dengan baik. Itu lebih sulit dibandingkan dnegan menghitung untukukuran untuk sebuah patung yang akan di buatnya.

“Aah…”

Myungsoo terperanjat, kemudian ie segera mendekat ke arah Suzy yang terlihat kesakitan. Dan benar saja, ternya jari gadis itu teriris pisau. Dan…lihat hasil irisan daging yang tadi dibelinya, gadis ini benar-benar tidak bisa masak…

“Berikan jarimu,”

“Jangan sentuh aku,” Suzy dengan cepat menepis tangan Myungsoo yang hendak menyentuhnya. Kemudian, gadis itu mendekat ke arah wetafel dan langsung mencuci jarinya yang terasa perih itu disana.

Myungsoo mendesah pelan. Benar. Mungkin ia terlalu kelewatan pada Suzy tadi…

“Dimana kotak obatnya?” tanya Suzy dengannada ketus. Gadis itu sama sekali tidak berniat membiarkan Myungsoo membantunya. Ia terlanjur sakit hati pada pria itu. Benar-benar malaikat kegelapannya.

Myungsoo pun segera mengambil kotak obatnya, lalu meletakkannya dia tas meja, tapi saat Suzy akan mengambilnya Myungsoo segera menjauhkannya dari Suzy.

Suzy pun mengernyit, “Apa yang kau lakukan? Berikan padaku!”

Myungsoo langsung menjauhkan kotak obat itu dari suzy, “Biar aku yang melakukannya,”

“Tidak mau. Berikan padaku! Aku tidak mau kau menganggapku gadis manja!”

Myungsoo mendesah pelan. Gadis ini benar-benar membuatnya merasa bersalah.

“Jebal, biar aku yang melakukannya. Aku minta maaf jika sikapku terlalu kasar, aku…”

Belum selesai Myungsoo bicara, tiba-tiba Suzy langsung menangkupkan wajahnya di balik tangannya yang terlipat di atas meja. Dan detik berikutnya gadis itu benar-benar menangis. Meskipun merasa konyol, tapi ia benar-benar tidak tahan dengan sikap Myungsoo. Pria itu sangat mengekangnya.

“Kau tidak tahu aku, kau tidak mengerti hidupku! Bagaimana bisa abeoji mempercayakanmu untuk mengubahku?! Kenapa ia tidak menjodohkanku dengan Dongho saja sekalian? Dia jauh lebih mengerti diriku, dia jauh lebih mengenalku, dia tahu hidupku, dia tidak pernah memaksaku, dia benar-benar mengerti dan bisa membantuku jauh lebih baik. Kenapa harus kau…aku membencimu!”

Myungsoo tercenung. Gadis itu benar. Ia sama sekali tidak mengenal suzy sampai sedalam itu. Ia bahkan tidak tahu alasan Suzy berubah sejauh itu. Dan dirinya datang dan tiba-tiba diminta menjadi tutor hidupnya?

Myungsoo mendengus pelan. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Perlahan, tangan pria itu mulai menyentuh punggung Suzy. Dan entah dorongan darimana, dengan lancangnya pria itu menarik bahu Suzy dan langsung memeluknya. Ia hanya benar-benar merasa bersalah sekarang.

“Mianhae…jeongmal mianhae…”

 

***

 

Satu minggu. Dan Suzy mulai membiasakan diri dengan kehidupan barunya di London. Menjadi seorang istri Kim Myungsoo sekaligus ibu rumah tangga. Oh, this is very nice ~ benar-benar membosankan. Dan ini jauh lebih membosankan daripada melatih seorang anak TK agar bisa stabil saat menyanyikan sebuah lagu wajib.

Tapi ia sudah bertekad untuk membuktikan pada semua orang, ia bisa menjadi orang baik-baik. Ia bukan gadis tak bermartabat yang hanya menghabiskan waktunya di club malam dan berdansa erotis dengan teman kencannya, terutama Jong In. kemudian minum 2-3 botol alkohol, dan tak jarang ia pulang dengan keadaan benar-benar mabuk. Untungnya Jong In tidak pernah mencari kesempatan saat dia mabuk berat, laki-laki itu cukup menghargainya di banding pria hidung belang lain.

Ah, tiba-tiba saja ia merindukan Jong In ~

Dan lagi, Myungsoo terus mengajarkannya memasak. Aneh sekali, bukan? Ternyata diam-diam laki-lakii tu juga cukup pandai memasak. Dengan senang hati, setiap pagi laki-laki itu memberi resep baru dan mempraktikannya bersama-sama. Awalnya Suzy jengah, tentu saja. Ia tidak berpikir tangannya tercipta untuk menciptakan sebuah makanan di dapur, melainkan menciptakan sebuah not not baru untuk lagu yang akan dimainkan dengan pianonya. Dan itu jauh lebih menarik ketimbang memasak.

“Siang nanti, kau tidak perlu memasak. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” kata Myungsoo sambil mengancingkan kancing kemeja bagian atasnya, kemudian ia duduk di depan meja makan dan meneguk segelas air putih di depannya.

Suzy pun menghampiri pria itu dengan sepiring nasi goreng di tangannya, ini masakan yang paling mudah selain memasak mie rebus tentunya. Kemudian ia menaruhnya di hadapan Myungsoo dan ikut duduk di depannya.

Dan ajaibnya pagi ini, belum ada pertengkaran yang terjadi antara Myungsoo dan Suzy. Padahal, biasanya mereka terus saja memperdebatkan sesuatu. Apapun itu, bahkan saat salah satu dari mereka terlambat bangun, maka yang dibangunkan akan merutuki orang yang membangunkan. Lucu sekali bukan? Ini jauh lebih kekanakan.

“Sebenarnya kau pergi kemana saja setiap hari? Bukankah kau hanya seorang arsitek?”s tanya Suzy penasaran, mengingat laki-laki itu pergi setiap hari. Bukannya ia selama ini tinggal di Korea? Harusnya, pria itu tidak punya kantor di London, kan?

Yang ditanya hanya tersenyum kecil, “Kenapa? Kau mulai penasaran tentang suamimu?”

Suzy memutar bola matanya malas, “Kau terlalu percaya diri.”

Myungsoo terkekeh mendengarnya, “Kau akan tahu sendiri. Dan tenang saja, aku tidak akan selingkuh,”

Suzy berjengit ngeri, “Siapa peduli kau selingkuh atau tidak. Aku juga bisa saja selingkuh dengan tetangga sebelah kita, dia juga cukup tampan.”

Myungsoo kembali tersenyum dan kembali menyuapkan makanan di depannya, “Hati-hati, yang tampan bisa saja seorang gay.” Candanya kemudian. Ia hanya terkenang pada satu momen dimana ia sempat bertetangga dengan seorang pria bule yang bisa dikatakan tampan, dan ia cukup terkejut saat tahu pria itu adalah seorang gay. Ia bersyukur, ketika pria itu mengajaknya berkunjung ke apartemennya ia menolak. Ia tidak bisa membayangkan akan bagaimana jadinya ia jika ia benar-benar berkunjung kesana dulu.

Suzy mendesis pelan. Ancaman yang bagus sekali, “Sok tahu sekali. Aku bahkan sering melihatnya membawa gadis ke apartemennya,”s

Myungsoo membulatkan matanya, “Jadi kau masih tertarik pada pria semacam itu? Kau ini benar-benar. Bisakah kau menyukai pria yang lebih normal?”

“Yak! Apa maksudmu?”

Myungsoo pun melipat tangannya, “Apakah tidak keterlaluan kau selalu tertarik pada pria yang senang berkencan dengan sembarangan gadis? Dan membawanya ke apartemen? Astaga. Apa Jong In juga pernah melakukannya padamu?”

Alis Suzy langsung tertarut, “Melakukan apa?”

“Apalagi? Bukankah kita belum pernah melakukannya…”

Tak!

Myungsoo langsung menyesali kelancangan lidahnya barusan. Dengan tega, Suzy memukul kepalanya dengan sendok. Padahal ia tidak bermaksud apa-apa sama sekali, sungguh…

“Dasar mesum!”

“Bisakah kau tidak memukulku seperti itu?”

“Memangnya kenapa? Kau ingin kupukul lagi?”

“Yak! Berhenti!”

Dan akhirnya, pagi itu kembali berakhir dengan keributan.

 

***

 

Suzy masih menatap kagum pada mobil yang saat ini sedang dinaikinya. Bahkan, ia sama sekali tidak tahu jika Myungsoo memiliki mobil semewah ini…mobil sport yang harganya bisa dikatakan selangit. Dan ya, jangan lupakan soal Suzy yang menyukai benda-benda mewah.

Belum lagi, sebelumnya ia diajak untuk makan di sebuah restoran kecil. Restoran korea…dan siapa kira itu adalah milik Myungsoo? Laki-laki ini benar-benar kaya. Dan ternyata ia benar-benar menikahi seorang pria kaya.

“Aku baru pertama kali menaiki mobilmu,” gumam Suzy tanpa sadar. Ia benar-benar kagum pada mobil ini.

Myungsoo menoleh sebentar ke arah Suzy, “Kenapa? Kau suka?”

Suzy refleks mengangguk, “Begitulah. Oya, ngomong-ngomong sekarang kau akan membawaku kemana?”

“Belanja dan menjelajahi Kota London. Aku tidak bisa seterusnya menemanimu kemana-mana,”

Suzy langsung tersenyum cerah, “Kau mulai membebaskanku?”

Myungsoo mendelik sebentar setelah mendengar nada ceria itu, benar-benar nada bicara yang menakutkan.”Tapi jika kau macam-macam, kau tahu akibatnya Nona Bae.”

“Arrasseo!!!”

 

***

 

“Jadi, aku harus membelinya untuk persediaan berapa hari?” tanya Suzy lagi sambil melihat catatan belanjaannya. Dan ia benar-benar belum terbiasa dengan semua ini. Ini sama sekali bukan di Korea.

“Ikuti saja nalurimu,” sahut Myungsoo sekenanya.

“Lalu jika nanti aku salah?”

“Jangan berpikir kau akan salah…”

Merekapun terus berjalan menyusuri rak demi rak, Suzy yang berjalan didepan Myungsoo dan Myungsoo di belakang Suzy sambil mendorong trolinya.

Tiba-tiba, Myungsoo berhenti di depan rak cemilan. Dan ia langsung memborong beberapa cemilan itu. Sudah berapa lama ia tidak menikmati maknan ringan ala Inggris? Ia jadi terkenang ke masa-masa kuliahnya dulu. menghabiskan uangnya dengan cemilan seperti ini. Meskipun bisa masak, ia sangat malas sekali memasak. Membuang-buang waktunya.

“Apa yang kau lakukan?” sewot Suzy dengan mata tertuju pada beberapa bungkus cemilan yang terdampar di dalam troli.

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya, “Memangnya apa yang salah?”

Suzy mendengus pelan, “Kenapa kau membeli makanan seperti ini?”

Myungsoo mengikuti arah telunjuk Suzy, “Aku hanya ingin membelinya,”

“Kim Myungsoo, kau bukan anak kecil lagi.” suzy pun mulai menyingkirkan cemilan itu dari troli mereka.

“Yak! Yak! Apa yang kau lakukan?” protesMyungsoo sambil menahan tangan Suzy.

“Ini tidak ada dalam daftar belanja,”

“Tapi aku ingin membelinya,”

“Kubilang tidak ya tidak. Kau harus konsisten dengan apa yang kau rencanakan.”

“tapi itu….”

“Tidak ada tapi-tapian.”

Suzy pun langsung mengambil alih troli tersebut dan mendorongnya seorang diri, meninggalkan Myungsoo yang mencibir sebal ke arah Suzy. Dasar wanita pengatur.

“Whoa~”

Mata Suzy langsung berbinar ketika ia mendapati beberapa botol wine. Keren! Ia sudah lama tidak memanjakan lidahnya dengan minuman sejenis ini. Membelinya 1 atau 2 botol mungkin tidak masalah.

Tapi, mata Suzy langsung terhenti pada seorang pria yang sedang menatapnya tajam.

“Apa yang kau lihat?” tanya Suzy bingung.

“Tidak ada wine…”

“Tapi ini…”

“Konsisten dengan apa yang kau rencanakan,”

Suzy pun segera menyembunyikan 2 botol wine itu ke belakang tubuhnya, “Baiklah! Ambil cemilan yang kau mau.”

Myungsoo terkekeh mendengarnya, dania tetap mengambil 2 botol wine itu dari tangan Suzy, “Alkohol tidak bagus untuk tubuhmu. Kau ingin membuat orga-organmu rusak?”

“Kim Myungso!!!”

“Tidak membeli atau Tidak ada kartu kredit.”

Suzy mendesah pelan. Baiklah. Ia hampir merasa frustasi larena tidak memegang uang sendiri, dan ia baru bisa bernapas lega karena tadi tiba-tiab Myungsoo mengizinkannya memegang kartu itu. dan sekarang Myungsoo mau mengambilnya lagi?

“Baiklah…”

“Ingat, sekali saja aku tahu kau membeli barang-barang yang kularang, kau benar-benara kan kehilangan kartu kreditmu.”

Suzy bergidik ngeri membayangkannya. Hidupnya sudah cukup susah setelah tinggal di London, dan ia tidak mau menambah beban pikirannya lagi. hah…sepertinya ayahnya akan benar-benar menang…

 

=TBC=

16/04/14 05:32PM

Iklan

6 thoughts on “To You (6)

  1. Sudah mulai banyak Myungzy momentnya, apakah akan jadi awal yg baik buat hubungan Myungzy? semoga saja, sangat berharap Myungzy bisa jd pasangan yg saling mencintaSudah mulai banyak Myungzy momentnya, apakah akan jadi awal yg baik buat hubungan Myungzy? semoga saja, sangat berharap Myungzy bisa jd pasangan yg saling mencintaSudah mulai banyak Myungzy momentnya, apakah akan jadi awal yg baik buat hubungan Myungzy? semoga saja, sangat berharap Myungzy bisa jd pasangan yg saling mencintaSudah mulai banyak Myungzy momentnya, apakah akan jadi awal yg baik buat hubungan Myungzy? semoga saja, sangat berharap Myungzy bisa jd pasangan yg saling mencintai.

    Suka

  2. Sudah mulai banyak Myungzy momentnya, apakah akan jadi awal yg baik buat hubungan Myungzy? semoga saja, sangat berharap Myungzy bisa jd pasangan yg saling mencintai.

    Suka

  3. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s