To You (7)

-part 7-

 

Suzy tersenyum cerah dengan mata terarah sempurna pada tubuhnya yang terpatut di depan cermin. Setelah kembali mencermati rambut panjangnya yang terikat rapi, ia pun segera meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju sofa, tempat Myungsoo berlabuh di dunia mimpi.

Hari ini Suzy memang bangun lebih cepat daripada biasanya, bukan apa-apa. Hanya saja mulai saat ini ia memutuskan untuk mengikuti kursus memasak. Well, ini kedengarannya begitu konyol bukan? Sama sekali bukan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi? london tetap bukan rumahnya. Saat semua pekerjaan selesai, ia biasanya terdampar di depan televisi atau ranjang. Dan 2 hal itu malah membuatnya semakin sakit kepala, tidak-ada-kerjaan-sama-sekali.

Dan yang menjengkelkan, Myungsoo sama sekali tidak mengizinkan Suzy untuk mengakses internet. Apa laki-laki itu juga takut Suzy kabur? Pikiran konyol. Bagaimana ia bisa kabur, sedangkan seluruh hartanya disita Myungsoo. Dan paspornya saja Myungsoo yang memegang, tanpa Suzy tahu dimana pria itu meletakkannya.

Dan Suzy sama sekali tidak tefbiasa dengan tayangan televisi di sini. Come on ~ semuanya berbahasa inggris dan sama sekali bukan tayangan yang cocok untuk disentuh retina matanya. Dan akhirnya, jika tidak tidur Suzy akan mendengarkan musik atau menulis lagu. Dan yang menyebalkan nomor dua, tidak ada alat musik apapun disini. Percayalah, ia tidak benar-benar merasa karyanya adalah sebuah karya jika tidak mempraktekannya langsung.

Suzy mendesah pelan saat menatap tubuh Myungsoo yang masih terbungkus selimut, ia sebenarnya tidak tega membangunkan Myungsoo sekarang. Tapi ia tidak akan lupa, setelah begadang beberapa malam, pria ii juga terus mengumpat soal pekerjaannya dan janji pagi ini.

Catat dan garis bawahi, pagi ini. Dan ini sudah pagi. Suzy jauh lebih tidak tega jika Myungsoo harus marah-marah karena Myungsoo melupakan janjinya, terutama karena Suzy tidak membangunkannya.

“Yak! Ini sudah pagi,” Suzy mencoba menggoyangkan bahu Myungsoo.

“Ayolah…aku masih ngantuk,”

Bukannya bangun, pria itu malah menggerutu dan menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya.

“Kim Myungsoo! Aku serius! Ini sudah pagi! Kau bilang kau ada janji hari ini…” Suzy tidak mau kalah, ia masih mencoba membangunkan Myungsoo dengan mengguncang tubuh pria itu, yang masih diabaikan.

“5 menit lagi, aku mohon…”

Cih, permohonan macam apa itu?

“Kim…”

Mulut Suzy terkunci ketika dering ponsel Myungsoo mengalahkan volume suaranya. Jika benda itu adalah manusia, mungkin Suzy sudah mengumpatnya habis-habisan dan mengadu volume suara mereka. Sayangnya Suzy masih waras dan ia tidak berniat melakukan itu.

Ia pun segera mengambil ponsel Myungsoo, ia hampir saja mengangkat telpon itu jika saja ia tidak membaca nama si penelepon. Kim Soohyun.

Suzy menghela napas sejenak. Dan reaksi tubuhnya jauh lebih baik, meskipun napasnya sempat tercekat, tapi ia bisa mengendalikan dirinya dengan cepat. Walaupun akhirnya Suzy sama sekali tidak ada niatan untuk mengangkat telpon itu.

Kim Soohyun. Laki-laki itu adalah Kim Soohyun…

“Kenapa tidak diangkat?!” erang Myungsoo dengan wajah lusuhnya. Pria itu baru saja menegakkan punggungnya karena tidak tahan dengan teriakan ponselnya yang menurutnya bisa membuatnya gila.

Suzy hanya menggeleng dan tersenyum kikuk, mana mungkin Suzy bisa mengangkat telpon itu begitu saja?

“Soohyun oppa,” ucap Suzy kemudian sambil mengangsurkan ponsel itu ke arah Myungsoo.

Myungsoo hanya menatap sebal, namun detik berikutnya mata pria itu membulat dan langsung menyambar ponsel tersebut.

“Siapkan pakaianku! Aku harus bertemu dengannya sekarang,”

Suzy mensibir. Manis sekali suaminya iti, menitahnya seperti seorang raja menitah dayangnya.

 

***

 

Suzy tidak berpikir hari ini adalah hari yang sibuk untuknya. Ia juga merasa cukup snatai dan menikmati tenangnya pagi ini, dan semua terhenti karena Myungsoo sejak tadi terus saja menggerutu tidak jelas.

Suzy mendengus pelan dan duduk di depan sofa, mendengarkan berita pagi dengan bahasa inggris yang membuatnya agak mual. Terlalu cepat, terlalu kental, dan Suzy tidak begitu pandai berbahasa inggris. Dan meskipuns udah lebih dari sebulan tinggal di London, Suzy sama sekali tidak terbiasa untuk semua ini.

“Ahh! Kenapa tidak bisa menyala?!”

Suzy menutup matanya kesal dan memutar kepalanya ke arah ruang kerja Myungsoo. Sudah cukup, pria itu terus saja berteriak seolah-olah yang ia lakukan bisa menyelesaikan semuanya. Lagi pula suruh siapa susah sekali dibangunkan.

Suzy pun berjalan ke arah ruang kerja pria itud an berniat balas berteriak agar mau berhenti menggerutu tidak jelas. Itu sangat mengganggu paginya dan, ayolah…bahkan pria itu juga sudah menghambat paginua.

“Komputerku tidak mau menyala Sooji-ya, bagaimana ini…” serunya panik dengan mata bergerilya liar ke arah layar komputernya.

Suzy mengernyitkan dahinya. Komputer pria itu rusak? Sebenarnya ia sangat ingin tertawa dan berkata “Itu karena kau selalu membuatku menderita, akhirnya komputermu mati.” Tapi Suzy masih cukup waras untuk tidak membangunkan singa yangs edang mengamuk, di paginya yang tenang.

Suzy pun mendekat ke arah Myungsoo dan ikut memperhatikan komputer pria itu.

“Eottokhe…” desis pria itus etengah frustasi.

“Bukannya semalam masih menyala?” tanya Suzy agak simpati, ia ingat bagaimana pria itu berkencan semalaman dengan komputernya. Bukan hanya satu malam, tapi bermalam-malam dan membuat Myungsoo bangun terlambat hampir setiap paginya.

“Aku tahu, tapi ini tidak mau menyala…” racau pria itu lagi.

“Ada apa disana?”

“Desainku ada disana semua,”

Suzy menautkan alisnya, “Kau mendesain lewat komputer?”

Bukannya menjawab, pria itu justru berdiri dan mendesah panjang. Menampakkan wajahnya yang paling menyedihkan, seolah ia baru di vonis mendapat satu penyakit yang pengobatannya sangat sulit.

“Sini, biar aku periksa…” Suzy pun menggeser tubuh Myungsoo dan mencoba mengotak-atik komputer pria itu.

“Apa yang kau lakukan?”

Suzy mendelik dan menatap pria itu malas, “Jangan lupa, komputer adalah bidangku. Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk kuliah di SNU dengan jurusan benda ini…”

Mata Myungsoo sedikit berbinar, “Jadi kau bisa memperbaikinya?” tanyanya dengan nada penuh harapan.

Suzy hanya mengangguk singkat, “Katakan saja kemana aku harus mengantarkan datamu,”

“Astaga Sooji-ya!!!”

Suzy terperangah saat Myungsoo tiba-tiba menangkup wajahnya, dan membiarkan jarak mereka menjadi begitu minim. Dan entah kenapa, Suzy agak gugup ketika melihat wajah pria itu begitu dekat dengannya.

“Jinjja gomawo!!!” Suzy semakin tenggelam dalam keterkejutannya ketikaMyungsoo dengan seenaknya memeluknya erat. Baiklah. Dia bahagia. Dan…mungkin itu wajar saja, mengingat selama ini mereka hanya ada berdua di rumah ini.

“Kau benar-benar menolongku…” kata Myungsoo setelah melepaskan pelukannya.

Suzy hanya tersenyum kaku, dan mengangguk. Setekahnya, ia sadar ekspresi apa yang barus aja ditunjukkannya pada Myungsoo. Yaitu ekspresi tertolol yang pernah ada.

 

***

 

Suzy menghela napas panjang, kemudian ia meregangkan kedua tangannya. Akhirnya ia selesai juga. Dan mau tahu apa yang terjadi pada komputer ini? Baling-baling di CPU ini tidak berputar karena tersangkut. Ini lebih daripada konyol, kan?

Lalu Suzy pun langsung menyambar USB yang menyimpan akan data-data milik Myungsoo dan menancapkannya pada CPU didepannya. Gara-gara Myungsoo, ia harus membatalkan rencananya pagi ini. Ia terlambat satu jam demi CPU yang mengalami cacat, yang hanya bisa diperbaiki bahkan dalam waktu satu menit.

Jemari Suzy mulai menari di atas mouse, mencari data yang dimaksud Myungsoo tadi. Dan…ketemu! tanpa pikir panjang, ia langsung meng-copy satu folder penuh yang diberitahu Myungsoo tadi. Dan saat dalam proses pengkopian, tanpa sengaja Suzy membaca satu folder yang menurutnya agak ganjil.

“M&N”. Aneh? Baiklah, itu tidak aneh sama sekali. Tidak ganjil dan tidak mencurigakan. Tapi rasa penasaran Suzy malah berkata, bahwa folder itu terlalu unik dan sayang untuk dilewatkan. Oh dear…setan memang pandai sekali menggoda.

Tapi…bukankah ini komputer milik suaminya? Jadi, tidak ada salahnya jika Suzy berkeliling sebentar di komputer pribadi Myungsoo ini, kan? Dan akhirnya, jari Suzy tetap mengklik folder tersebut. dan siapa kira, ternyata disana ada banyak foto perempuan.

Suzy berjengit, ternyata selain mesum, Myungsoo juga seorang player –sepertinya. Dan dengan liar, mata gadis itu memperhatikan foto gadis yang sama sekali asing dimatanya itu. Cantik. Tentu saja, Suzy tidak akan dengan bodohnya berkata gadis itu tidak cantik. Dan tangan Suzy membeku ketika layar komputer menampilkan foto gadis itu…dengan suaminya.

Ia tahu tempat itu, Namsan Tower. Dan Myungsoo terlihat sedang memasang sebuah gembok pada pagar yang dipenuhi dengan gembok itu. Dan tentu saja ia tahu maknanya, meskipun ia merasa geli sendiri jika sudah mendengar tentang gembok cinta itu, tapi otak Suzy sudah berkelakar jauh dan mendeskripsikan semuanya dengan cepat. Gadis itu adalah kekasih Myungsoo. Atau mungkin mantan?

Dan di foto berikutnya, ia kembali menemukan foto Myungsoo dengan gadis yang sama. Kali ini, ia tebak lokasinya di Nami Island. Ia pernah berwisata kesana –tepatnya berkencan, dengan Jong In tentunya. Mereka menginap 2 malam dan ya…ia juga mengunjungi lokasi yang menjadi background utama foto tersebut. terutama patung berbentuk hati itu. Jong In dan Suzy juga pernah berfoto disana.

Dan difoto-foto seterusnya, ia terus menemukan foto mereka. Dan di foto terakhir, Suzy melihat gambar mereka yang diambil di depan Menara Eiffel. Dengan tulisan…”Myungsoo&Naeun”, tak lupa tanggal pengambilan foto tersebut. dan napas Suzy sempat tersendat ketika menyadari tanggal tersebut….foto itu diambil satu bulan sebelum pernikahannya dengan Myungsoo.

 

***

 

Soohyun tersenyum masam dengan mata terfokus pada gambar yang tertera tepat di layar ponselnya. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, sudah sangat lama. Dan anehnya, Soohyun justru dengan senang hati masih mau menyimpannya, setelah ia menyakiti hati gadis itu sangat dalam. Dan yang lebih gila, gadis itu telah menikah…

“Hyung, maaf aku terlambat.”

Soohyun terkesiap saat Myungsoo tiba-tiba masuk. Denganw ajah lusuhnya…

Dengan cepat, Soohyun memasukkan ponselnya ke dalam saku dan tersenyum menyambut kedatangan Myungsoo.

“Ada apa dengan wajahmu? Kusut sekali…” canda soohyun sambil terkekeh pelan melihat ekspresi Myungsoo yang tidak bisa dikatakan bagus.

Pria itu hanya tersenyum kecil, “Komputerku rusak, dan semua data ada disana…”

“Mwo?” kali ini Soohyun juga ikut merasakan naluri buruk. Semua data? Termasuk beberapa gambar yang akan didiskusikan untuk hari ini?

“Tapi tenang saja, Sooji akan mengantarkannya, jika komputernya sudah benar…”

Soohyun tersenyum untuk satu detik, dan ia juga merasakannapasnya tercekat did etik berikutnya.

 

***

 

Suzy terus saja menekuk wajahnya sepanjang perjalanan menuju kantor Soohyun. Baiklah, ini bukan hanya soal kemungkinan dirinya yang akan bertemu Soohyun nanti, tapi…entahlah. ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang pasti, mood nya berubah drastis sejak ia mengotak-atik komputer milik Myungsoo.

Entahlah, ia tidak tahu detailnya. Yang pasti, ia sama sekali tidak berselera untuk melakukan serangkaian rencana yang akan dilakukannya hari ini. Dan yang memuakkan, ia harus memulainya dengan menginjakkan kakinya di kantor Soohyun.

Suzy mendesah pelan saat taksi yang dinaikinya tiba-tiba berhenti. Dia sudah sampai? Dan sekarang dia harus turun? Sekarang?

Suzy mengerjapkanmatanya saat sang supir taksi mengatakan sesuatu. Errr.seharusnya Myungsoo mempertimbangkan bahasa inggrisnya sebelum ia berencana mengajak Suzy tinggal di inggris. Untungnya, ia paham dengan yang orang-orang katakan, walaupun belum tentu ia bisa menjawab dengan benar.

Setelah membayar dan turun, Suzy pun berdiri di depan gedung yang tidak bisa dikatakan kecil ini. Kakinya membeku. Ia serius, ia bahkan hampir tidak ingin menggerakkan kakinya untuk melangkah masuk, barang satu langkahpun.

Gadis berambut panjang itu pun menunduk, jika tadi ia memikirkan masalah bad mood-nya, maka sekarang ganti Kim Soohyun yang memadati kepalanya, dan juga kesakitannya…

 

***

 

“Tuan, maaf. Seseorang menitipkan ini,”

Soohyun dan Myungsoo sontak menoleh bersamaan ke arah pintu, tepat ke arah sekretaris Soohyun yang memegang benda kecil di tangannya. Myungsoo yang tahu siapa pengantar benda itu langsung mendekati pintu dan mengambil USB-nya.

“Dia tidak datang?” tanya Myungsoo pada wanita korea itu. Soohyun hebat, kan? Bisa merekrut karyawannya yang sebagian besar adalah orang Asia, padahal ia sedang berada di London saat ini.

Wanita itu hanya menggeleng, kemudian ia menghilang di balik pintu.

“Sopan sekali gadis itu,” gerutu Myungsoo sambil melangkah ke tempat duduknya semula.

Soohyun yang mendengarnya hanya tersenyum keci, sedikit bersyukur karena gadis itu tidak bertemu dengannya. Dan ia juga tidak bisa menyangkal, ada rasa kecewa karena gadis itu benar-benar menghindarinya…

“Maaf Hyung, dia memang menyebalkan. Seharusnya dia berkunjung dulu,” kata Myungsoo penuh penyesalan. Dan ia benar-benar tulus. Bagaimanapun Soohyun adalah kakak Suzy, kan? Meskipun ada embel-embel tiri di belakangnya.

Soohyun kembali tersenyum, “No problem…”

Sungguh, Soohyun tidak keberatan. Meskipun ia benar benar kecewa…

 

***

 

Suzy mendesis kesal dengan mata menatap tajam ke arah rintikan air yang baru saja membasahi tanah london. Percayalah, musim gugur tetap dingin dan hujan justru akan memperparah cuaca dingin ini. Dan sialnya, ia tidak membawa payung. Poin plus yang lain, ia tidak bisa minta dijemput seperti dulu…

Suzy pun mengerucutkan bibirnya, ia merindukan Jiyeon yang akan ditelponnya untuk dijadikan teman curhat. Ia merindukan Dongho yang akan dijadikan sasaran saat situasi genting, seperti sekarang. Ia merindukan Jong In yang akan menggombal padanya, well ~ ini sedikit menghibur. Dan ia takkan menemukan mereka semua disini.

Harusnya Myungsoo membiarkannya memegang ponsel! Suzy kini berubah kesal, tangannya sudah terlipat di depan dada. Demi apapun, sebagai seorang suami seharusnya dia bertanggung jawab di sikon seperti ini, kan? Dan bukannya malah terus mengucapkan kata keramat itu saat menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah saja. Menjengkelkan…

Ia kembali menatap barang belanjaannya. Dan ia semakin kesal saja, Myungsoo sama sekali menyebalkan…dan entah kenapa, tiba-tiba ia terpikir untuk membeli beer. Ayolah, hanya beer. Dan kebetulan sekali, ia melihat sebuah bar tepat di depan toko yang dijadikan tempat berteduh.

Suzy hampir menyebrang, sungguh. Kakinya sudah hampir melangkah. Tapi tiba-tiba suara Myungsoo terngiang ditelinganya…apalagi jika bukan soal barang terlarang? Dan alkohol salah satunya…tapi beer berbeda, dan juga…

“Mrs.Kim?”

Lamunan Suzy langsung terhenti.

Awalnya, Suzy tidak yakin untuk menoleh ketika ia mendengar nama ‘Kim’ itu disebut-sebut. Tapi di teras ini hanya dia yang orang Korea dan…

“Oh! Hai George!” sapa Suzy senang ketika melihat tetangganya sedang tersenyum ramah ke arahnya. Ia mendapat firasat baik.

Dan ia lupa satu hal, ia Nyonya Kim sekarang…

 

***

 

Myungsoo buru-buru menutup pintu apartemennya dan memakai sandal rumah. Entah kenapa kepalanya agak pusing. Padahal, saat di kantor Soohyun tadi kepalanya masih baik-baik saja, bahkan sampai ia datang ke lokasi pembangunan ia juga masih kuat berdiri. Tapi mendadak kepalanya berdenyut ringan, dan berubah membuatnya pusing.

Ia pun segera berjalan ke dapur dan mengambil minuman dari sana, dan setelah meminumnya, itu tetap saja tidak meredakan sakit kepalanya.

“Sooji-ya…” panggil Myungsoo sambil berjalan ke arah kamar. Tidak tahu kenapa, seharusnya ia tidur saja, atau malah ia berniat untuk mengomel pada gadis itu karena sudah tidak sopan tadi. Tapi niatnya bukan itu sama sekali sekarang.

Dan saat membuka pintu kamar, dahi Myungsoo langsung berkerut karena tak menemukan gadis itu. Kemana Suzy? Ia pun langsung mencari ke ruangan lainnya, dan hasilnya sama, ia tetap tidak menemukannya.

Astaga! Jangan-jangan gadis itu terjebak hujan.

Myungsoo langsung berjalan kembali keluar, berniat mencari Suzy yang mungkin sedang belanja atau mampir di restorannya. Dan setelah memakai asal baju hangatnya, Myungsoo langsung keluar dan baru satu langkah, ia sudah melihat gadis itu.

Myungsoo mendengus pulang, untung saja gadis itu tidak kehujanan. Tapi, detik berikutnya mata Myungsoo beralih pada pria jangkung yang berdiri di samping istrinya, dengan senyum yang agak mengganggu mata Myungsoo.’

Rahang pria itu langsung mengeras. Apa-apaan ini? Kenapa George pulang bersama dengan Suzy? Apa gadis itu lupa Myungsoo sudah memperingatkannya? Atau Suzy malah sengaja berkencan dengan pria itu?

Setelah George masuk, tinggalah Suzy yang sedangb erjalan ke arahnya. Dengan masih tersenyum, sisa-sisa senyumnya yang dilemparkan pada George.

Suzy yang melihat Myungsoo sedang menatapnya di depan pintu hanya mendelik malas. Entah kenapa, ia malah ingat gadis di komputer tadi. Siapa namanya? Na…Na…Naeun? yah, walaupun ia sendiri tidak tahu, bagian mana yang membuatnya kesal melihat foto-foto itu. Toh, wajar saja kan jika Myungsoo masih menyimpan fotonya atau bahkan mencintai gadis itu? Yang seharusnya bersalah adalah ayahnya.

“Kau darimana?” tanya Myungsoo dingin ketika mereka sudah berhadapan.

Dengan malas, Suzy mengedikkan bahunya lalu menggeser tubuh Myungsoo dengan mudah, tidak menyadari jika tubuh pria itu agak limbung karena perbuatannya.

Myungsoo yang melihat tingkah Suzy justru merasa tolol sekarang. Kenapa gadis itu malah mendelik padanya? Bukankah seharusnya ia yang kesal disini? Aish…otaknya pasti benar-benar rusak gara-gara sakit kepala ini.

Myungsoo pun segera menyusul Suzy ke dalam. Niatnya, ia ingin menanyakan soal sikap Suzy. Tapi ia sudah tidak tahan lagi dengan kepalanya yang nyaris pecah. Dan akhirnya, pria itu refleks berjalan dengan susah payah ke arah kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya disana.

Sedangkan Suzy, ia langsung meletakkan barang belanjaannya di atas counter. Sungguh, ia malas membereskan semuanya sekarang. Kemudian gadis itu pun memutuskan untuk berganti pakaian dulu.

Dan gadis itu benar-benar terkejut ketika melihat Myungsoo yang menurutnya sangat seenaknya. Bisa-bisanya pria itu tidur dikamarnya? Apa pria itu lupa dengan perjanjian mereka soal tempat tidur? Myungsoo harusnya tidak tidur disana –meskipun itu memang ranjang milik Myungsoo.

“Yak! Kenapa tidur disana?!” sewot Suzy kesal sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Myungsoo.

Tapi anehnya, pria itu tidak melawan –sama sekali. Dan itu sama sekali bukan gayanya.

“Yak! Yak! Jangan diam saja, cepat bangun…” mulut Suzy langsung terkatup rapat saat tanpa sengaja kulitnya bersentuhan dengan kulit Myungsoo. Panas.

“Myungsoo-ya, kau sakit?”

 

***

 

“Kau terus saja mengomeliku soal kesehatan, tapi kau sendiri malah tidak bisa menjaga kesehatanmu sendiri. Kau terlalu memporsir dirimu. Kau kira kau ini super hero, hah?” omel Suzy sambil meletakkan mangkuk obat dan segelas air hangat yang baru diminum Myungsoo di atas nakas.

Pria itu tak bergeming, dan ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas bantal. Ia terlalu pusing hanya untuk sekedar mendnegarkan omelan istrinya itu.

Suzy pun mendengus pelan, kmeudian ia menaikkan selimut Myungsoo dan kembali menyentuh kening Myungsoo. Well, ini agak aneh rasanya, tapis emua itu terjadi begitu saja. Naluriah, sebut saja begitu. Agar tidak terlalu aneh.

Suzy baru akan beranjak keluar kamarnya, tapi ia mengurungkan niatnya saat ponsel Myungsoo tiba-tiba berdering. Aigo ~ menjengkelkan sekali. Entah kenapa ia sangat bernapsu untuk menghancurkan ponsel itu karena bunyinya.

Suzy pun segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas itu. Dan reaksi tubuhnya lagi-lagi selalu sama saat membaca nama Soohyun disana. Ia langsung melirik Myungsoo yang sepertinya sudah tertidur. Tidak mungkin ia membangunkan Myungsoo, kan? Atau membiarkan ponsel ini diam sendiri? Itu sangat brilian untuknya, tapi tidak untuk Myungsoo.

Dengan ragu, Suzy pun mengangkat telpon itu dan menempelkannya di telinga kiri Suzy.

“Myungsoo? Kau bisa kemari sebentar,a ku ingin ada perubahan untuk pancuran di bagian tengah. Juga ukuran jendelanya, kau bisa datang sekarang, kan?”

Suzy mengigit bibir bawahnya. Napasnya benar-benar tercekat. Ini benar suara Soohyun…

“Myungsoo-ya, kau disana?”

Suzy mendengus pelan, kuatkan ia Tuhan…

“Ini aku, Suzy. Myungsoo sedang sakit, ia tidak bisa diganggu.”

Untuk beberapa saat, Suzy tidak mendengar apapun dari sebrang sana, sampai telinganya mendengar satu kalimat singkat dengan nada bicara yang…entahlah.

“Bae Sooji?”

 

=TBC=

17/04/14 08:37PM

Iklan

6 thoughts on “To You (7)

  1. Myungzy sama2 merasa cemburu saat melihat pasangannya dgn orang lain? Suzy dah mulai ada interaksi dgn Soohyun, penasaran bagaimana kalo mereka berdua Myungzy sama2 merasa cemburu saat melihat pasangannya dgn orang lain? Suzy dah mulai ada interaksi dgn Soohyun, penasaran bagaimana kalo mereka berdua Myungzy sama2 merasa cemburu saat melihat pasangannya dgn orang lain? Suzy dah mulai ada interaksi dgn Soohyun, penasaran bagaimana kalo mereka berdua Myungzy sama2 merasa cemburu saat melihat pasangannya dgn orang lain? Suzy dah mulai ada interaksi dgn Soohyun, penasaran bagaimana kalo mereka berdua bertemu.

    Suka

  2. Myungzy sama2 merasa cemburu saat melihat pasangannya dgn orang lain? Suzy dah mulai ada interaksi dgn Soohyun, penasaran bagaimana kalo mereka berdua bertemu.

    Suka

  3. Suzy cmburu tuh waktu liat foto Myung bareng yeoja lain, sdangkan Myung juga kesal mlihat Suzy jalan bareng namja lain, MyungZy bnr2 naif!
    Skarang Suzy udah mulai ada contact dngan Soohyun, kira2 apa yg akan trjadi y?
    Next Thor! ^^

    Suka

  4. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s