To You (8)

-part 8-

“Bae Sooji?”

Untuk beberapa saat, Suzy perlu menahan napas. Suara itu, ia ingat suara itu. Bahkan, meskipun Suzy berusaha sekeras mungkin untuk mengenyahkan suara itu, Suzy tidak akan pernah lupa bahwa ia pernah mencintai pemilik suara itu, bahkan menggantungkan hampir seluruh harapannya, hingga ia berada di titik terpuruk. Tepat ketika pria itu meninggalkannya, begitu saja. Setelah kesalahan yang ia lakukan padanya…

Suzy tersenyum kecut. Dadanya bergemuruh hebat saat ini, ia membenci pria ini. Tapi ia juga tidak bisa mengenyahkan satu kenyataan bahwa ia juga mencintai pria ini. Sebesar apapun rasa sakit dan kecewa yang ditinggalkan laki-laki itu, ia tetap akan terjebak pada pria bermarga Kim itu.

“Soohyun-ssi, mungkin kau bisa menghubungi Myungsoo besok. Hari ini, dia benar-benar tidak bisa diganggu.” Setelah mengucapkannya, Suzy buru-buru menutup telponnya.

Entah kenapa takdir malah membuatnya kembali terjebak pada pria itu. Seseorang yang ia sebut sebagai masalalu, namun tetap mengurungnya tanpa mau melepasnya sedikitpun…sepertinya.

 

***

 

Malam ini, Soohyun kembali menghabiskan waktunya dengan beer. Ia hampir tidak pernah menyentuh lagi minuman beralkohol itu. Selain peringatan dari dokter, Nara yang selama ini menemaninya di London puns eolah ikut-ikutan menyibukkan diri untuk mengurusinya tentang ini itu, termasuk membatasinya dengan alkohol.

Soohyun pun mengangkat kembali gelasnya, dan sedikit menggoyangkan isi dari gelas tersebut. entah kenapa, kepalanya terus saja dihantui nama Suzy. Seolah-olah, suara gadis itu terus mengejarnya. Sama seperti dulu, ketika ia memutuskan pergi ke London dan meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.

Bibir Soohyun tertarik kecil, kesan pahit dimasalalunya ternyata menuntutnya jauh lebih buruk dari yang ia kira. Keluarganya tidak tahu, tentu saja. Sooji melindunginya. Meskipun ia ingat saat Dongho dan teman-temannya datang dan menghajarnya habis-habisan, tentunya setelah mereka juga membuat teman-teman Soohyun babak belur.

Kesalahan fatal…

Akankah Soohyun bisa memperbaikinya? Walaupun hanya dengan kata maaf, walaupun mungkin ia tidak bisa mengubah situasi berbalik, menjadikan Suzy menjadi miliknya kembali, meneruskan sesuatu yang tertunda dan menggenggam tangan gadis itu, di sisa hidupnya.

 

***

 

Soohyun mengerjapkan matanya saat sebuah cahaya mengusik pandangannya. Silau. Pusing.Myungsoo kembali memejamkan matanya untuk memulihkan kesadarannya yang belum terkumpul, kemudian dengan kepala masih agak sakit, Myungsoo pun menegakkan punggungnya.

Dan ia langsung terkesiap ketika sadar ia tertidur di kamarnya, yang seharusnya di tempati oleh Suzy. Ia langsung menoleh ke arah samping dan memperhatikan seisi kamar. Tidak ada tanda-tanda Suzy disana. Kemudian, ia langsung menoleh ke arah jam dinding.

Pukul 7?! Astaga! Lagi-lagi ia terlambat! Myungsoo pun segera bangkit dan menuju kamar mandi.

 

***

 

Suzy menautkan alisnya ketika ia baru membuka pintu apartemennya, lagi-lagi pemandangan Myungsoo yang begitu heboh dengan dunianya sendiri menyambut mata Suzy pagi ini. Ia agak bergidik ngeri, padahal jika ia sakit biasanya akan memakan sampai waktu 3 hari untuk beristirahat di atas ranjang.

Dan Myungsoo? Bahkan semalam, Suzy bisa saja nekat memanggil dokter jika demam Myungsoo tidak juga turun. Tapi sepertinya kesehatan pria itu mulai pulih. Lihat saja, bahkan ia memulai sarapannya dengan terburu-buru begitu.

Suzy pun mendekat ke arah meja makan, kemudian memperhatikan wajah Myungsoo yang masih terlihat pucat.

“Kau mau pergi lagi?” tanya Suzy yang sedikit mengagetkan Myungsoo. Sedari tadi pria itu tidak menyadari keberadaan Suzy.

Hanya beberapa detik, kemudian Myungsoo langsung meminum air putih dengan tergesa-gesa.

“Aku harus ke lokasi sekarang,” jawabnya cepat. Lalu ia kembali bangun dan berjalan menuju ruang kerjanya.

Suzy mengigit bibir bawahnya. Tentu saja ia tahu lokasi mana yang dimaksud, tapi yang membuat kepalanya kembali pusing bukan soal lokasi mana yang akan didatangi Myungsoo, tapi orang yang berhubungan dengan lokasi itu. Dan tentunya jawabannya adalah Soohyun…

“Apa tidak sebaiknya kau istirahat dulu di rumah?” Suzy membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Myungsoo yang sedang mengecek ponsenya

“Tidak bisa lagipula aku sudah sehat, kau tidak lihat ini…”

Suzy mencebikkan bibirnya. Sehat apanya? Denganw ajah seperti itu ia bilang sehat? Hanya mata minus saja yang akan mengakui pria itu dalam kondisi baik.

“Kau tahu, menjaga kesehatan juga penting…”

Myungsoo tersenyum kecil, kemudian ia berjalan ke arah Suzy dan mengacak rambut gadis itu, “Tenang saja. Akan kuusahakan aku tidak akan merepotkanmu lagi, dan…terimakasih telah merawatku. Kukira kau akan memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari London,”

Plak! Suzy langsung memukul lengan Myungsoo dengan keras. Dasar tidak tahu terimakasih.

 

***

 

Nara mengetuk-ngetukan telunjuknya ke arah dagu, kemudian gadis itu berjongkok dan mengambil beberapa makanan dan memperhatikannya dulu sebelum memasukkan ke dalam troli. Setelah itu, gia kembali berjalan sambil mendorong trolinya. Dengan mata yang sibuk menjelajah rak demi rak, gadis itu diam-diam menghela napas panjang malas.

Ini sebenarnya bukan bagiannya. Maksudnya, belanja. Ia sama sekali tidak ahli untuk hal-hal seperti ini, tapi sialnya Soohyun malah meminta tolong padanya untuk membeli beberapa bahan makanan. Rencananya, pria itu akan membuat pesta kecil-kecilan atas pembangunan gedung barunya. Padahal, bulan depan pria itu juga akan mengadakan pesta yang tentunya bisa dikatakan akbar sebagai bentuk perayaan sekaligus peresmian gedung tersebut.

Nara sekarang berhenti di depan tumpukan buah-buahan. Oh dear, harusnya ia membawa beberapa rekan kerjanya untuk membantunya. Demi apapun, ia benci kata ‘terserah’ yang ditujukan untuk belanja hal-hal seperti ini.

Setelah memutuskan, Nara pun memasukkan beberapa jenis buah ke dalam trolinya. Hingga tanpa sengaja ia melihat orang asing yang sama sekali tidaka sing dimatanya. Untuk beberapa saat, Nara hanya memperhatikan gadis itu hingga ia tahu siapa dia….Suzy Bae.

Entah dorongan darimana, dengan bermodalkan nyali Nara pun mendekat ke arah Suzy yang terlihat tengah memilah-milih sayuran. Alisnya agak sedikit terangkat, tunggu dulu. suzy belanja? Sayur? Dan tanpa sepengetahuannya, Nara tersenyum samar. ternyata Myungsoo berhasil mengubah gadis itu jauh lebih baik dan lebih cepat dari yang ia duga.

Bagaimanapun, ia tahu bagaimana sifat asli Suzy walaupun hanya berdasarkan cerita Soohyun.

 

***

 

Mata Suzy kembali mengarah pada wanita berambut sebahu yang duduk anggun di depannya. Suzy sebenarnya tidak begitu mengenal gadis itu, atau bahkan bisa dibilang belum benar-benar mengingat wanita itu.

Dan siapa namanya tadi? Na…Nara. namanya Nara.

Suzy pun mengangkat gelas kopinya dan menyesapnya pelan, kemudian menaruhnya pelan dengan mata yang sama sekali tidak lepas dari wanita itu.

Nara yang menyadari dirinya sedang di perhatikan hanya menarik kedua sudut bibirnya dengan angkuh. Well, Suzy tetaplah Suzy. Tetap terlihat polos dibalik keliaran dan keangkuhannya. Lalu apa yang membuat Soohyun begitu tergila-gila pada gadis ini?

“Kau masih belum mengingatku?”s tanya Nara mencoba mencairkan suasana yang berakhir gagal.

Suzy hanya menatapnya dengan datar dan dingin, lalu ia kembali menyesap kopinya.

“Kurasa, aku hanya bisa mengingat orang-orang penting saja,” tutur Suzy dengan nada halus dibuat-buat, “Jadi, apa yang kau maksud penting dari pertemuan ini?” tanya Suzy langsung. Ia tidak punya banyak waktu jika Nara hanya ingin mengajaknya mengingat masalalu yang sepertinya tidak disimpan memori Suzy

Nara tersenyum tipis, “Sebenarnya tidak ada hal yang begitu penting, hanya saja ini mengenai Soohyun,” dan Nara menahan napasnya saat meihat tubuh Suzy sempat menegang saat Nara menyebut nama Soohyun. Benar gadis ini masih menyimpan perasaan pada Soohyun, atau malah masih menyimpan dendam pada Soohyun, “Bisakah kau memaafkannya?”

Suzy langsung menatap tajam Nara kepalanya terasa sakit sekarang tanpa perintah, otaknya langsung bekerja ekstra untuk mengingat wanita dihadapannya nada angkuh yang menyakiti telinganya, ia pasti seharusnya mengenal wanita itu mungkin di Korea. Tapi kapan?

“Kejadian beberapa tahun lalu, bukan Soohyun pelaku utamanya…”

Mata Suzy langsung membulat ketika ia menyadari kemana arah pembicaraan ini. Dan semua kenangan buruk itu kembali mencambuknya tanpa ampun.

Tidak mengizinkan gadis itu melanjutkan ucapannya, Suzy langsung mengangkat gelas kopinya dan menyiram wajah cantik milik Nara. Sekarang Suzy benar-benar kehilangan akal sehatnya, melupakan semua tatapan yang kini tertuju padanya dan tatapan kaget, marah dan semua yang ada pada mata Nara.

“Kau…kau sampah itu…” desis Suzy yang agak kalap.

 

***

 

Myungsoo membuka pintu apartemennya pelan-pelan. Entah kenapa, padahal meskipun ini sudah larut malam, Suzy belum tentu mendengar suara pintu atau bahkan langkah kakinya sekalipun. Tapi secara naluriah, Myungsoo justru ingin tidak membuat suara sedikitpun.

Dan setelah menutup pintu, mata Myungsoo mengerjap bingung. Ini sudah hampir tengah malam, dan semua lampu masih menyala. Apa Suzy belum tidur? Selarut ini? Ia pun segera memasuki kamarnya untuk memastikan, dan….

“Astaga! Suji-ya, apa yang kau lakukan?” myungsoo langsung berlari ke arah gadis itu dan merampas botol minuman yang di pegang gadis itu. Gila. Gadis itu benar-benar gila. Padahal ia sudah merasa berhasil membuat Suzy tidak menyentuh alkohol lagi, dan hari ini gadis itu malah mabuk berat.

Suzy yang merasa terganggu, sedikit menyipitkan matanya karena pandangannya yang mengabur, kemudian ia tersenyum kecil, “Hey Myungsoo-ya, kau baru pulang?”

“Kau lupa soal aturan meminum alkohol?” tanya Myungsoo dengan nada kesal.

Suzy justru terkekeh mendnegarnya, “Tenanglah…aku hanya menenangkan pikiranku. Aku benci ingatanku, dan kau sama sekali tidak mengerti, kan? Ah, andai saja Jong In disini. Ia pasti akan membuat stress ku hilang,” kemudian ucapan Suzy terhenti karena cegukannya, “Ah, Myungsoo-ya, atau kau bisa panggil Jong In kemari? Aku rasa aku harus meminta bantuannya untuk menyingkirkan satu sampah yang kutemukan.” Lanjut gadis itu dengan mata tidak fokus.

Tapi Myungsoo justru merasa ada yang ganjil dengan ucapan Suzy. Belum lagi kupingnya benar-benar terganggu oleh nama Jong In yang disebut-sebut Suzy, seolah-olah gadis itu benar-benar membutuhkan bajingan itu.

Myungsoo tidak menjawab, lalu ia langsung mengangkat tubuh Suzy yang sudah terkapar di atas meja dan membawanya ke atas ranjang.

“Aku masih tidak mengerti Kim Jong In, kenapa aku masih mencintai pria itu. Ah, atau kau mau membantuku untuk melakukan sesuatu padanya?” Suzy masih mengigau saat dibaringkan. Dan Myungsoo benar-benar kesal karena Suzy terus menyebut nama Jong In.

“Atau…kau, bagaimana jika kita bersenang-senang?”

Myungsoo mengernyitkan dahinya dan menoyor kepala Suzy pelan, “Dasar otak kotor. Tidurlah. Kau harus kuberi hukuman besok karena telah melanggar peraturanku,”

Suzy mencebik dan menatap kesal Myungsoo, “Kau suami yang cerewet ya…atau…bagaimana jika kau saja yang menemaniku? Kupikir itu tidak buruk…”

Tiba-tiba Suzy menegakkan punggungnya dengan susah payah, Myungsoo yang belum mengerti dengan apa yang akan dilakukan gadis itu hanya diam memperhatikan Suzy. Kemudian, Suzy menyuruh Myungsoo untuk duduk di tepi ranjang. Awalnya Myungsoo ragu, tapi Suzy terus memaksanya. Myungsoo pikir, orang mabuk pasti tidak akan melakukan macam-macam, kan? Belum lagi orang mabuk itu adalah perempuan yang tidak lain adalah Suzy.

Akhirnya, ia mengikuti perintah Suzy. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam dan saling berpandangan. Namun detik berikutnya, Myungsoo bahkan hampir tak bernapas saat bibir Suzy menyentuh bibirnya.

 

***

 

Perlahan, Suzy membuka matanya yang terasa sangat berat. Bukan hanya itu, kepalanya juga terasa sangat pusing. Dengan susah payah, Suzy pun menegakan punggungnya dan berjalan menuju kamar mandi. Dan baru ia sampai di depan pintu, Suzy merasakan perutnya mual.

Dan saat itu Suzy ingat, disini tidak ada penawar alkohol dan juga, semalam ia mabuk berat.

 

***

 

Myungsoo menoleh ke belakang saat mendengar langkah kaki yang sudah bisa dipastikan adalah langkah kaki Suzy. Setelah benar-benar melihat Suzy yang baru duduk di depan meja makan, Myungsoo kembali memperhatikan masakannya dan kembali fokus memasak. Ia yakin, Suzy tidak akan memasak dengan benar hari inis

Suzy mendesah pelan saat melihat Myungsoo yang menghindari tatapannya dengan gamblang. Pria itu pasti marah besar karena lagi-lagi Suzy menegak alkohol. Tapi mau bagaimana lagi? kemarin ia terlalu pusing hanya untuk sekedar memejamkan matanya, yanga khirnya membuat Suzy nekat membeli alkohol dan berharap dengan begitu ia bisa melupakan pertemuannya dengan gadis menyebalkan itu kemarin. Sampah yang harus disingkirkan.

Suzy pun mengambil sebuah gelas dan menuangkan air putih, kemudian ia langsung meminumnya sekaligus. Rasanya ia baru melewati malam yang panjang.

Myungsoo pun selesai dengan masakannya, setelah menatanya dengan cantik di atas piring, Myungsoo pun membawa menu pagi itu ke atas meja dan meletakkannya satu di depan Suzy dan satu lagi di depannya, dengan mata terus menghindari mata Suzy.

Awalnya, Suzy biasa saja dengan tingkah Myungsoo. Tapi lama-lama ia malah tidak nyaman sendiri, jika tidak suka ataumarah padanya, harusnya pria itu marah saja padanya. Bukannya malah diam dan mengindari tatapan mata Suzy. Itu terlalu mengganggunya.

Karena kesal, Suzy pun menjauhkan piringnya dan menatap kesal Myungsoo.

Melihat makanannya tidak dihabiskan, Myungsoo akhirnya angkat suara –dengan mata yang masih menghindarimata Suzy, “Aku tidak begitu suka ada orang yang tidak menghabiskan masakanku.” Katanya pelan. Tidak bermaksud memaksa Suzy, hanya saja ia memang seperti itu dari dulu. ia merasa masakannya cukup layak dimakan, jadi seharusnya tidak disisakan seperti itu. Seperti yang dilakukan Suzy.

Suzy mendengus dan memutar bola matanya, “Aku juga tidak suka kau bersikap dingin padaku. Jika kau mau marah padaku, lakukan. Aku tidak suka tingkah anehmu ini.” Ucap Suzy dengan nada kesal yang kentara.

Myungsoo akhirnya mendongak menatap Suzy, dan sialnya perasaan kesal itu lag-lagi menyerangnya. Entah di bagian mana yang membuat Myungsoo kesal, pokoknya Myungsoo kesal sejak Suzy mabuk semalam.

“Aku tidak merasa tingkahku aneh,” ralat Myungsoo kemudian. Ia pun mengambil segelas air putih dan dengan cepat meminum setengahnya.

“Tidak aneh? Setelah menghindari tatapanku?” cecar Suzy tidak terima.

“Kau ingin aku menatapmu terus?” tanya Myungsoo dengan nada tinggi. Dan detik berikutnya ia menyesali suaranya yang tak terkontrol itu, seharusnya ia tidak begitu menunjukkan kekesalannya. Entahlah, menurutnya rasa kesalnya agak sedikit tidak beralasan.

Suzy mendengus keras, sebenarnya Myungsoo ini kenapa? Ia yakin pasti Myungsoo yang memindahkannya ke tempat tidur dan membereskan semua botol minumannya. Tapi pagi ini, pria itu sama sekali tidak mencecarnya. Tidak seperti apa yang dilamunkan Suzy selama menggosok gigi tadi. Tapi pria ini malah memilih diam dan menghindari tatapannya.

“Aku tidak suka berbasa basi Kim Myungsoo.” Ucap Suzy kesal.

Dan Myungsoo hanya bisa menghela napas pelan, “Kau…” ucapan Myungsoo terputus. Demi apapun ia tidak yakin untuk mengatakannya, “Apa kau selalu melakukan itu dengan Jong In sata kau mabuk?”

Alis Suzy langsung tertaut, melakukan itu? Melakukan apa?

“Dan…sebenarnya aku tidak ingin bermain-main dengan sebuah pernikahan. Aku hanya ingin melakukannya satu kali seumur hidupku. Dan setelah kupikir-pikir, mungkin pernikahan ini bisa berlanjut seterusnya. Hanya saja, saat mendengarmu menyebut nama Jong In seolah-olah kau membutuhkannya, aku malah merasa sama sekali tidak mengenalmu dibanding bajingan itu.”

Napas Suzy langsung tercekat seketika. Astaga, apa yang terjadi semalam? Apa ia mengigau dan menyebut Jong In? atau…ia melakukan sesuatu yang…oh dear…kepalanya mendadak kembali pusing.

Tapi apa Myungsoo bilang tadi? Melanjutkan pernikahan ini?

“Kau…jika kau memang mencintai Jong In, kurasa perpisahan yang terbaik. Meskipun mungkin abeonim akan kecewa padaku. Masalah permintaan ayahmu, aku rasa aku sudah cukup melakukan yang terbaik. Selama disisiku, aku sudah melihatmu berubah. Dan kurasa itu cukup…” Myungsoo memejamkan matanya beberapa saat, entah kenapa ada dorongan penolakan yang bergejolak hebat didadanya, dan lagipula…sejak kapan ia begitu peduli pada pernikahan ini? Bahkan kemarin, ia juga masih sempat bertengkar dengan Suzy. Tapi sejak semalam, entah kenapa ia seolah baru menyadari satu hal yang tersembunyi…

“Ah, Soohyun hyung menungguku. Aku harus segera pergi.”

 

***

 

Myungsoo mendnegus pelan ketika ia hampir saja menerobos lampu merah. Ia pun mengusap wajahnya perlahan, berharap semua pikiran aneh yang terus menggentayanginya segera berhenti berputar. Karena itu sungguh mengganggu.

Myungsoo mendesah pelan dan mencoba untuk membuat punggungnya agak rileks did alam mobil. Dan setelah mobil kembali dimajukan, ia mulai berusaha berkonsentrasi kembali.

Melanjutkan pernikahan ini..entah kenapa ada sesuatu yang ganjil saat Myungsoo mengatakannya barusan. Entah apa yang salah dan di bagian mana, Myungsoo tidak tahu tepatnya. Ia memang berpikir seperti itu beberapa hari lalu, dan pikiran itu muncul tanpa alasan. Begitu saja…

Dan ia sedikit kesal…atau bahkan benar-benar kesal saat tahu Suzy masih memikirkan Jong In. baik baik, ia akui ia juga masih sering memikirkan Naeun. Bahkan sempat berpikir untuk menanyai kabarnya. Tapi semua urung saat ia mengingat siapa ia sekarang.

Bukankah itu justru akan menyakitinya? Juga menyakiti Naeun?

Dan kesimpulannya, ia juga masih menyukai Naeun…yang juga berarti, ia tak ada hak absolut untuk menyalahkan Suzy seandainya ia berpikir bahwa Suzy masih menyukai Jong In.

Lamunan Myungsoo langsung terhenti saat ia membelokkan mobilnya ke tempat seharusnya ia disana sekarang.

Saatnya memikirkan pekerjaan.

 

***

 

Nara tersenyum kecut ke arah Soohyun sambil menyodorkan secangkir kopi ke arah pria itu. Pria itu terlihat kacau sejak kebetulan membuatnya harus berbicara dengan Suzy di telepon. Hanya kebetulan, singkat, dan tidak ada yang berarti…tapi berefek besar.

Nara sendiri bingung, apakah Soohyun menyukai Suzy atau justru merasa bersalah pada gadis itu. Maksudnya, bagaimanapun Soohyun tidak benar-benar terlihat menyukai Suzy. Berkencan dengan banyak gadis, bahkan sempat tidur bersama model –dan ini memicu pertengkaran hebat dengannya dulu. karena faktanya Nara menyukai Soohyun, sejak mereka sama-sama menginjak bangku sekolah.

Tapi Nara sepertinya perlu menyerah, karena sebanyak apapun Soohyun mengencani gadis, seberapa sering ia meniduri wanita diluar sana –walau bahkan dirinya, Soohyun akan tetap terlihat terpuruk jika sudah berhubungan dengan Suzy. Tanpa Nara tahu alasan sebenarnya.

“Myungsoo sebentar lagi datang.” Nara mengingatkan, hanya mencoba mengenyahkan sedikit saja beban pikiran Soohyun.

Soohyun tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan.

“Kalau begitu kau boleh keluar,” perintahnya tanpa nada perintah. Ia kehilangan mood-nya.

Nara hanya bisa menatap nanar Soohyun. Geram. Kesal. Jengkel. Lelah. Apalagi yang bisa mendeskripsikan semuanya?

“Kau masih menyukai Suzy?” tanya Nara langsung yang membuat Soohyun agak tersentak. Ia mendongak memperhatikan wajah Nara dengan tatapan bingung. Kenapa gadis ini tiba-tiba membahas Suzy lagi?

“Nara…”

“Atau kau malah merasa bersalah padanya?” potong Nara cepat. Ia butuh kepastian, setidaknya untuk dirinya sendiri.

“Hai Hyung…”

Soohyun hampir saja menjawab ketika Myungsoo membuka pintu kantornya. Dan ini membuat Nara frustasi, kenapa Myungsoo datang disaat tidak tepat? Dilain sisi, ini keuntungan bagi Soohyun. Ia tidak bisa berbohong pada Nara, dan menghindari gadis itu jauh lebih baik, kan?

 

***

 

Suzy menggigit bibir bawahnya dengan resah. Kemudian, lagi-lagi ia mendongakkan kepalanya ke atas, memperhatikan awan tipis yang menghiasi langit biru London, sendirian. Ah, seandainya ia benar-benar memiliki teman…

Dan Suzy tak lagi bisa menyangkal saat memori tentang Nara kembali menyelusup ingatannya. Menyadap semua proses kerja positif otaknya dan berteriak gamblang, ia membenci gadis sampah itu…bersama dengan Soohyun.

Benci? Ia membencinya? Jika benar, seharusnya ayahnya tahu dengan apa yang diperbuat anak tirinya itu…

Tapi Suzy tidak pernah melakukannya, barang sedikitpun. Menghindar mengindar dan menghindar. Dan sialnya, takdir justru membuatnya semakin tersudutkan dengan kenyataan bahwa ia harus menghadapi Soohyun lagi…

Menyelesaikan? Apanya? Ia bahkan tidak pernah merasa ada yang pernah dimulai.

Dan ia semakin merasa kesal karena sadar telah membuat Myungsoo marah. Gara-gara ia mabuk…sial. ia memang penggila alkohol. Seharusnya ia tidak pernah membeli alkohol. Lihat hasilnya, kan?

Dan…kenapa ia merasa takut saat Myungsoo marah seperti tadi? Aneh. Sangat aneh. Ini bukan takut seperti ia ketahuan mengkonsumsi narkoba atau mengisap rokok oleh Dongho, atau jika ia ketahuan ayahnya ketika sedang berdansa erotis dengan teman kencannya. Bukan yang seperti itu, tapi ia sendiri tidak tahu apa…

Dan apa katanya? Melanjutkan pernikahan ini?

Suzy membuka matanya dan menghela napas panjang. Jika boleh jujur, ia juga sempat berpikiran sama…walaupun ia sendiri tidak yakin…

Suzy langsung menegakkan punggungnya saat ia merasakan tetesan air mulai menyentuh hidungnya. Astaga. Hujan lagi…

Ia buru-buru berlari dari taman itu dan mencari tempatteduh. Ia tidak membawa payung dan juga…ia tahu jarak apartemennya juga agak jauh. Benar-benar hari yang buruk.

 

***

 

Myungsoo kembali memperhatikan barang belanjaannya. Cukup. Ia rasa ini cukup. Dan Myungsoo pun segera membayar belanjaannya di kasir. Ia tidak sedang belanja dengan Suzy yang artinya, ia tidak akan dilarang membeli cemilan ini. Konyol memang, tapi Suzy memang wanita yang cerewet…

Ia pun segera berjalan ke luar setelah selesai membayar. Dan langkah kakinya terhenti saat ia menemukan sosok gadis yang sejak tadi dilamunkannya. Tengah berteduh di bawah atap sebuah toko sambil memandang kesal –mungkin?- ke arah langit.

Saat ini hujan, dan Myungsoo tahu gadis itu kesal karena tidak bisa pulang.

Myungsoo pun berlari menembus hujan dan langsung berdiri di samping Suzy. Ini memang adegan memalukan, aneh, atau apalah. Tapi Myungsoo tidak berpikir ini salah, Suzy istrinya…

“Pakai payung ini,” perintah Myungsoo yang membuat Suzy terlompat kaget.

“Kau ini apa-apaan?! Mengagetkanku saja!” sewot Suzy sambil mengelus dadanya.

Myungsoo hanya mengedikkan bahunya, “Buka saja payungnya. Kita ke parkiran.”

Suzy pun mengikuti interupsi Myungsoo, walaupun agak kesal karena…Myungsoo masih bersikap dingin padanya. Tuhan…apa yang harus dilakukannya?

23/04/14 10:06PM 25/04/14 09:06PM 27/04/14 09:57PM

Iklan

5 thoughts on “To You (8)

  1. Suzy dan Soohyun dulunya saling mencintai? pasti kesalahan Soohyun sangat besar sampe Suzy sebegitu bencinya dan Soohyun sangat merasa bersalah begitu. Bagaimana nasib hubungan Myungzy? Penasaran banget^^

    Suka

  2. Pnasaran bangt dngan masa lalu HyunZy, blm lagi ada hubungnny dngan Nara, pasti masa lalu yg sangt tdk mnyenangkan!
    Dan spertiny Suzy mmang harus brhadapan dngan masa laluny tsb!
    Myung cmburu pada Suzy krn masih ingt2 Jongin, tapi ttp aja masih naif! Heoll…
    Next Thor! ^^

    Suka

  3. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s