Seoul Story (What is Love?) (Chapter 7)

-part 7-

“Kenapa kau bawa motor hari ini?” tanya Taemin dengan nada malasnya yang tidak disembunyikan. Meskipun kejadian itu berlangsung tadi pagi, tapi rasa penasaran Taemin yang masih bercampur rasa risih itu masih bersisa di benaknya. Mengingat bagaimana para gadis justru menjadikannya sebagai trending topic sekolah pagi ini, ‘Jong In Oppa sangat keren dengan motor ninjanya’. Selain mengerikan, Taemin benar-benar merasa jijik dengan kata ‘keren’ itu.

Dengan tak acuh, Jong In hanya mengedikkan bahunya tanpa menoleh ke arah Taemin, “Aku hanya sedang merindukan motorku.” Jawabnya dengan sanga jujur. Ia sudah sangat lama meninggalkan motornya di bagasi rumah tanpa menaikinya. Bukan apa-apa, ia hanya sedang malas saja. Karena tak satupun temannya menggunakan kendaraan pribadi.

“Tapi kau membuat para gadis begitu sibuk membicarakanmu,” sambung Taemin dengan tangan terlipat di depan dada.

“Lalu? Salahku? Salahkan mereka.” Balasnya masih dengan nada tak peduli. Taemin hanya mendengus pasrah sebelum akhirnya ikut memperhatikan Jong In yang masih sibuk menata meja di hadapannya. Sesi penembakan gadis itu…

“Kau harus tahu, Ariel lebih suka laki-laki yang menaiki sepeda ketimbang motor.”

“Benarkah?” Jong In langsung mendongak menatap Taemin dengan ekspresi seriusnya. Ia cukup terkejut dengan informasi yang satu ini. Ariel lebih suka laki-laki yang menaiki sepeda? Apa ia harus beli speeda setelah ini? Oh, tidak. Itu berlebihan.

Taemin terkekeh geli saat melihat ekspresi yang ditunjukkan sahabatnya itu. Ekspresi yang sangat-sangat jujur dan selalu mengundang tawa.

“”Begitulah. Kau tahu, kan? Dia penggila cerita romantic. Dan sepertinya drama-drama picisan itu sudah memakan imajinasinya,” sahut Taemin sambil mengulum senyum.

Jong In mengangguk mengerti. Gadisitu suka hal-hal yang berbau romantis. Tidak ada salahnya untuk mencoba beberapa adegan menjijikkan dari drama-drama TV itu, kan? Karena sejauh ini, Jong In mendekatipara gadis hanya dengan kerlingan mata, senyum, mengajak berkencan dan berakhir dengan kisseu. Dan para gadis itu menyukainya. Tapi ia tidak yakin apakah ini akan manjur untuk Ariel atau tidak. Karena sejauh ini pula, Jong In tidak pernah mendapat respon yang lebih maju setelah sesi pengiriman surat itu.

“Kenapa kau tidak mengajak teman-temanmu?”

Jong In lagi-lagi mengedikkan bahu, “Ini kejutan. Dan aku juga akan memberikan kejutan pada teman-temanku.”

 

***

 

“Aku tidak bisa Kris. Hinata mengomeliku semalaman karena semua tindakkanmu. Lagipula siapa juga yang menyuruhmu untuk membongkar semua itu tepat didepan wajahnya? Dasar gila.” Suara ketus itu melengking tajam di telinga Kris. Dan Kris hanya bisa mendengus pasrah setelah sesi pertengkaran yang belum selesai juga. Ariel benar-benar marah padanya.

“Tapi kalian tidak bertengkar, kan?” ucap Kris lagi yang masih mengikuti gadis mungil itu.

Dan langkahnya terhenti seketika karena Ariel tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan langsung berbalik, “Tapi kau menyebalkan Kris. Untuk apa aku ikut-ikutan dalam sesi pendekatanmu, eo? Itu bukan urusanku. Dasar pecundang!” setelah mengatakannya Ariel langsung berbalik kembali dan menjauhi Kris.

“Tapi…”

“Saat ini aku tidak menerima kata tapi, wu! Aku sibuk!”

Kris mendesis sebal mendapat jawaban itu. Dan ia akhirnya kehilangan jejak gadis itu di depan pintu bertuliskan ‘3-5’ yang merupakan kelas Ariel. Ah ! bagaimana ia bisa mendekati Hinata tanpa bantuan Ariel? Ia sama sekali gugp jika sudah menghadapi hal-hal semacam itu. Dan Kris tidak buta soal Ariel yang cukup mahir dalam hal-hal berbau romantis, plus nya karena Ariel berteman baik dengan Hinata.

“Kau mencari seseorang?”

Kris terkesiap saat mendengar suara itu. Ia langsung menoleh ke arah samping dan mendapati gadis dengan tinggi 166cm itu tengah menatap ke arahnya. Dan…hari ini Kris sangat terpukau dengan penampilan Hinata yang anggun. Hari apa ini? Kenapa Hinata terlihat berbeda dimatanya?

“Kris?” panggil Hinata lagi karena Kris tak juga merespon.

Dan Kris? Pria itu hanya mengerjapkan matanya, kemudian tangannya berlari ke arah tengkuknya dan mengusapnya pelan.

“Ah…tidak. hanya menganta Ariel,”

Hinata menautkan alisnya bingung. Sejak kapan Ariel suka diantar-antar dan ditemani? Aneh.

“Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu,” Hinata pun segera masuk ke kelasnya. Melewatkan bagian dimana Kris melambaikan tangannya ke arah punggung Hinata dengan ekspresi bodoh dan sneyum konyolnya.

 

***

 

Bibir Ariel masih bersungut saat ia memasuki kelasnya. Mengabaikan suara Kris yang masih saja mengganggu telinganya. Hah…laki-laki payah itu tidak se-manly apa yang dilihat para gadis. Dan ia tidak bisa membayangkan, bagaiman areaksi fans dari kapten basket yang melegenda itu menyukai Ishida Hinata yang dimata mereka hanya gadis biaa. Karena kenyataannya tidak ada yang tahu jika Ishida Hinata merupakan putri sulung dari duta Jepang.

“Hai Ariel!”

Ariel menolehkan pandangannya ke arah Luhan yang tiba-tiba duduk di bangku depannya –bangku Zooey-, kemudian ia balas tersenyum pada Luhan.

“Hai,” Ariel balas menyapa.

“Kau sudah dengar soal album terbaru KRY, kan? Hari ini aku akan membelinya, kau mau ikut?” kata Luhan semangat dengan tatapan berbinar yang tak disembunyikannya.

Dan Ariel? Tentu saja gadis itu menyambut senang topik yang disuguhkan Luhan. KRY, grup vokal dengan suara emas milik ketiga pemuda yang merupakan anggota KRY itu, salah satu grup yang disukainya. Dan album yang dibicarakan Luhan adalah album ke-3 mereka.

“Tentu! Kudengar mereka mengambil konsep yang berbeda. Kau sudah lihat teaser videonya?” sambut Ariel tak kalah heboh.

Luhan mengangguk semangat, “Aku sudah men-download lagu utamanya,”

Luhan pun mengeluarkan ponselnya yang sudah tertancap headset disana, kemudian ia memasangkan sebelah headset itu ketelinga Ariel. Dann berikutnya, mereka sama-sama tersenyum dan melanjutkan obrolan yang menurut mereka itu seru.

Ishida Hinata terdiam ditempatnya saat melihat adegan itu. Romantis? Tentu saja. Meskipun Hinata tahu mereka berdua hanya teman dekat, tapi Hinata tetap merasa tidak nyaman jika melihat mereka sedekat itu. Mendengarkan musik bersama? Astaga. Itu salah satu adegan yang Ariel sukai jika membaca novel.

Dan Ariel melakukannya…dengan Luhan?

“Kenapa menghalangi jalan?”

Dengan sengaja, Zooey menabrak bahu kanan Hinata sambil meleletkan lidahnya. Dan itu membuat Hinata mendengus jengkel. Gadis tengil itu sudah membuat onar sepagi ini. Dan akhirnya Hinata pun mengikuti Zooey yang berjalan menuju bangku mereka –karena bangku mereka satu barisan dan berurutan, Hinata-Zooey-Ariel.

“Hey, kau bisa minggir? Ini bangkuku.”

Luhan mendongak menatap Zooey –yang tengah menatapnya dengan tajam, kemudian dengan malas Luhan pun beranjak.

“Memangnya tidak bisapinjamkan bangkumu?” canda Luhan yang disambut garing oleh Zooey.

“Siapa peduli?”

Luhan mendesis dan di lanjut kekehan geli dari Ariel, Zooey memang selalu seperti itu. Dan Ariel suka ekspresi wajah Luhan yang satu ini. Ekspresi yang jarang dilihatnya.

“Hey Hinata! Kemari! Luhan punya lagu terbaru KRY!” Ariel melambaikan tangannya semangat ke arah Hinata yang tanpa sengaja dilihatnya. Ia dan Hinata sama-sama suka lagu KRY, dan Ariel tentu saja tidak akan absen menggosipkan soal ini. Dan ia tentu tidak akan membawa Zooey yang notabennya lebih menggilai musik barat. Berkebalikan dengannya, meskipun ia juga berasal dari Kanada.

Hinata tersenyum, kemudian mendekati Ariel. Ia sempat berpikir ia salah dengan pemikirannya. Tentu saja Ariel tidak akan merebut Luhan –secara tersirat- tiba-tiba, kan? Ariel sama sekali tidak menyukai Luhan, dan tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seharusnya begitu. Ya. seharusnya.

Ariel pun langsung memasangkan headset yang dipakainya ke telinga Hinata, kemudian Hinata tersenyum ke arah luhan dan Ariel.

“Wow, suara mereka benar-benar…”

“Keren! Tapi tetap saja tidak mengalahkan Changmin!” tandas Ariel cepat dengan semangat berkobar. Dan ini membuat Luhan terkekeh.

“Kau juga mau ikut membeli CD mereka bersama kami? Rencananya aku dan Luhan akan pergi pulang sekolah nanti,”

Wow! Kejutan apa ini? Hinata akan pergi bersama Luhan? Matanya kini beralih ke arah Luhan, dan Luhan langsung menyambutnya dengan sneyuman tipisnya.

“Tentu kau harus ikut. Kita harus pergi bersama.” Ucap Luhan kemudian. Ia tidak berdusta, ia rela-rela saja jika Hinata ikut. Faktanya, jauh lebih aneh jika mereka tiba-tiba pergi berdua, karena Luhan belum menyiapkan apapun untuk sesi pendekatan ini.

Dan diambang pintu, Jong In sedang menatap sebal ke arah Luhan. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan pria mChina itu. Apa alibinya begitu semangat mendekati Ariel –sepertinya, karena ia belum tau pasti apakah Luhan benar-benar menyukai Ariel atau tidak.

Dan di salahs atu bangku, seorang gadis menatap Jong In dengan gugup. Zooey –gadis itu- tidak tahu apa yang sedang Jong In lihat dan makna tatapannya, hanya saja ia merasa gugup mengingat hari ini tanggal 14. Dimana ia akan bertemu dengan Jong In pulang sekolah nanti.

 

***

 

“Kau akan menyatakan perasaanmu pada seorang gadis? Siapa?” Luhan semangat saat mendengar informasi terbaru dari si player kelas satu di sekolah ini. Sehun dan Kyungsoo hanya tersenyum sambil menatap Jong In, mereka sama-sama sudah tahu siapa yang menjadi incaran Jong In.

Dan dengan sneyum misterius, Jong In hanya melipat tangannya di depan dada dan menatap meja dihadapannya dengan tatapan menerawang, “Itu kejutan. Lihat saja nanti, kalian pokoknya harus melakukan apa yang kuperintahkan.” Kata Jong In kemudian.

“Kau terlihat serius kali ini, Kim Jong In.” Chanyeol ikut mengomentari obrolan hangat ini.

Jong In kembali tersenyum, “Aku tidak sedang ingin main-main. Aku benar-benar menyukainya.”

“Whoa~ uri Jong In sedang masa pendewasaan rupanya.” Ucap Minseol yang disambut tepuk tangan dari semuanya.

“Semoga kali ini berhasil,” ucap Jongdae memberi semangat dan lagi-lagi hanya di sambut senyum oleh Jong In.

 

***

 

“Kau tidak ikut dengan kami?” tanya Sehun saat melewati bangku Luhan.

Luhan menatap Sehun kemudian menggeleng, “Aku ada acara. Jong In juga sudah tahu. Dia tidaka kan membunuhku jika aku tidak ikut,” ucapnya kemudian.

“Kau tidak penasaran dengan siapa gadis yang diincarnya?” pancing Kyungsoo pada Luhan. Ia sebenarnya tidak terlalu suka bagianini, ia tidak bisa bayangkanapa yang akan terjadi jika Luhan tahu bahwa Ariel lah yang disukai oleh Jong In.

Luhan hanya menggeleng, “Nanti aku juga akan tahu.”

Sehun pun mengangguk kemudian menepuk bahu Luhan, “Kau pasti akan terkejut.”

Luhan hanya tersenyum, kemudian ia langsung mendatangi bangku Ariel.

“Kita pergi sekarang,”

Ariel mengangguk, kemudian dengan cepat ia berdiri dan berniat mendekati Hinata. Tapi sebelumnya, ia sempat menepuk bahu Zooey untuk mengajakya juga. Siapa tahu ia juga ingin membeli CD terbaru.

“Kau tidak ikut Zooey?”

Zooey menggeleng sambil tersenyum lebar, “Kau lupa dengan sms-ku kemarin?” sahutnya masih dengan senyum cerianya.

“Ah~ siapa pria itu?” sambung Hinata cepat ketika ia tahu kemana arah pembicaraan ini. Dan Ariel justru menepuk keningnya, ia hampir lupa. Seharusnya ia menanyai Zooey sejak tadi pagi. Dasar bodoh!

“Hey! Kau belum mengatakan semuanya! Kau harus cerita!” tangan Ariel langsung mengguncang bahu Zooey dengan tidak sabaran. Dan Zooey hanya menggeleng sambil tersenyum misterius.

“Kejutan! Kau lihat saja nanti. Nanti kau akan lihat siapa laki-laki itu…”

“Whoa~ hebat sekali kau akan mendapatkan pasangan di hari White Day ini.” Kata Luhan yang sedikit tertarik dengan obrolan tiga gadis dihadapannya.

“Kuharap pria itu selalusabar menghadapi gadis tengil sepertimu Zooey,” canda Hinata yang berakhir dengan keributan ringan sepulang sekolah itu.

 

***

 

Jong In mengetuk-ngetukkan sepatunya ke tanah dengan gelisah. Ia belum melihat batang hidung siapapun yang mendekat ke arahnya. Ini memang baru lebih 10 menit dari jam pulang, tapi Jong In benar-benar dibuat gugup. Mungkin, ini adegan penembakan paling berbeda yang pernah dilakukannya.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya ia dapat mendengar langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya. Membuatnya langsung berdiri tegak dengan mata membulat. Selain itu, dibelakangnya semua gank-nya kecuali Luhan langsung bersiap untuk semua interupsi yang Jong In berikan tadi.

Jong In sudah menarik kedua sudut bibirnya, ia tersenyum gugup untuk menyambut gadis itu…tapi…tunggu? kenapa bukan Ariel? Kenapa Zooey?

Senyum itu lenyap seketika, bertukar tempat dengan alis Jong In yang tertaut sempurna untuk menggambarkan kebingungannya.

“Zooey?” panggilnya pada gadis itu.

Mendengar suara itu, Chanyeol buru-buru keluar dari persembunyiannya. Ia kaget setengah mati saat mendengar Jong In menyebut nama Zooey. Dan Kyungsoo juga Sehun langsung saling menatap satu sama lain. Ada yang salah disini.

Dan benar, Chanyeol mendapati Zooey sedang berhadapan dengan Jong In. Meskipun…ia merasa ada yang salah disini.

“Zooey? Kau…sendiri?”

Semua teman-teman Jong In pun sama-sama keluar dari persembunyian mereka. Dan semuanya berpikiran yang sama, ada yang salah. Bukan karena mereka semua tahu gadis yang dimaksud oleh Jong In, tapi nada bicara Jong In yang tidak lazim.

Dan ditempatnya, Zooey mengerutkan dahinya. Ini bukan sambutan yang seharusnya diberikan, bukan? Dan semua sikap Jong In sama sekali tidak menunjukkan…tunggu. atau jangan-jangan dugaan Zooey selama ini salah?

“Zooey…”

“Ya…aku sendiri. Memangnya kenapa?” tanya Zooey bingung karena raut wajah Jong In yang semakin berubah kelam.

“Tunggu…kau…” Jong In langsung menutup mulutnya. Baiklah. Ini salah. Apakah tempo hari suratnya jatuh ke tempat yang salah?

“Kau yang memberi surat itu, kan?” tanya Zooey dengan suara tidak tenang, apalagi setelah ia melihat Jong In memijit pelipisnya.

Jong In langsung menatap lurus ke arah Zooey, benar. Surat itu salah tempat.

“Zooey…maaf. tapi…sepertinya surat itu tidak jatuh ke tempat yang seharusnya.”

“What?”

“Ya…maksudku…tidak. Ariel dimana?”

Tenggorokan Zooey langsung tercekat. Apa? Apa katanya? Ariel? Dan surat itu? Salah? Tunggu. Ini semua tidak benar, kan? Siapapun tolong katakan ini hanya sebuah lelucon.

“Jong In…”

“Zooey, maaf…tapi…dimana Ariel?”

Dadanya benar-benar mencelos. Jadi semua khayalannya selama ini benar-benar hanya sebatas imajinasi saja? Kebas. Dadanya kebas sekarang. Dan menyisakan rasa sakit yang tidak bisa diartikan.

“Dia…dia bersama Luhan.”

Tanpa menunggu waktu lagi, Jong In langsung berlari meninggalkan tempat itu. Ia harus menemui Ariel sekarang.

Dan Jong In melupakan…

Bahwa Zooey masih berdiri disana. Dengan segala kesakitan yang ada. Ia benar-benar merasa kebas. Juga, ia benar-benar merasa tolol. Benar. Ia tolol. Seharusnya ia membuka matanya dengan sikap Jong In yang tidak berubah. Dasar bodoh…Zooey terus mengumpat dalam hati.

Dan kelima teman Jong In yang sejak tadi menonton adegan melankolis itu masih belum menutup mulut mereka. Mereka semua sama-sama syok. Bukan soal Ariel yang ternyata menjadi incaran Jong In, tapi sikap gegabah Jong In yang membuat Zooey terlihat tidak baik.

“Zooey…” panggil Chanyeol pada gadis yang masih menatap kosong ke arah tanah.

Chanyeol pun mendekat, “Zooey…”

Tapi Zooey tidak mengindahkannya, ia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Chanyeol yang sudah mendekatinya. Refleks, Chanyeol ikut mengejar Zooey.

 

***

 

“Merepotkan saja. Kasihan Luhan dan Hinata, mereka sudah menungguku.” Sewot Ariel karena Kris tiba-tiba mencegatnya di koridor tadi. Dan tentunya, apa yang mereka bahas lagi-lagi tak berguna.

Kini mereka sam-sama berjalan menuju gerbang sekolah. Luhan dan Hinata sudah menunggu Ariel disana.

“Hey,” Kris pun mensejajarkan langkah kakinya dengan Ariel, “Bagaimana perasaanmu pada Jong In?” tanya Kris langsung.

Ariel yang terkesiap langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap Kris tajam, “Pertanyaan macam apa itu?”

Kris hanya mengedikkan bahunya, “Mungkin saja kau sudah melupakan Lee Howon, kan?”

Ariel mendengus dan melanjutkan langkah kakinya. Tapi ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kris. Kim Jong In? Perasaannya? Entahlah. Ia dulunya salah satu pengemar Jong In, tapi entah sejak kapan perasaannya juga ikut hilang sejalan dengan waktu. Tapi Ariel juga tidak menyangkal, jika ia masih sering tersenyum sendiri saat melihat Jong In. Entah perasaan apa, tapi Ariel tidak pernah ambil pusing.

Karena ia selalu berpikir, bahwa dirinya masih menyukai Lee Howon…

 

***

 

Hinata berdiri dengan gugup ditempatnya. Ini gila. Ariel tiba-tiba dicegat Kris dan menyisakan dirinya dan Luhan. Hanya berdua! Bayangkan saja bagaimana gugupnya Hinata saat ini.

“Kau juga suka KRY?” Luhan mencoba memecah suasana canggung itu. Ia tidak begitu nyaman dengan situasi dimana Hinata sama sekali tidak berbicara padanya. Agak mengerikan.

Hinata yang masih terkejut dengan pertanyaan tiba-tiab dari Luhan, akhirnya dapat menemukan suaranya, “Ya…sudah lama. Aku suka suara mereka,”

Luhan tersenyum, “Benar. Seleramu dan Ariel bagus juga. Mereka artis pertama yang aku sukai di Korea.”

Hinata semakin gugup karena pembicaraan ini ternyata semakin melebar, “Oya?”

“Hmm.” Luhan mengangguk semangat dan menoleh ke arah Hinata, “Aku lebih suka penyanyi mandarin. Tapi mulai melirik K-Pop sejak mengenal KRY.”

Hinata mengangguk, “Tentu saja. Kau kan orang Cina.”

“Maaf menunggu lama. Si tiang listrik menggangguku saja,” Ariel yang baru datang menunjuk Kris dengan ekor matanya. Menunjukkan betapa malasnya ia sekarang berada didekat laki-laki itu.

Dan Kris? Jangan tanga lagi. ia sudah terlampau senang karena dapat melihat Hinata disini.

“Ariel!”

Bukan hanya Ariel, tapi semua orang yang berada disana langsung melihat ke arah sumber suara yang barus aja menyebut nama Ariel. Dan orang itu –Kim Jong In- lari tergesa-gesa seolah tidak ingin kehilangan sesuatu yang penting.

Ariel menautkan alisnya, “Aku?” tanyanya bingung ketika Jong In sudah berada dihadapannya.

Luhan yang melihat Jong In tiba-tiba datang mengerutkan alisnya dengan tidak tenang. Kenapa Jong In kemari? Bukankah dia sedang menemui gadis pujaannya? Atau…tidak. tidak mungkin. Ia tahu tipe Jong In. Dan Ariel sama sekali tidak masuk dalam tipe si player itu, kan?

Setelah menagatur napasnya yang tersenggal, Jong In pun menegakkan punggungnya dan menatap lurus ke manik mata Ariel. Ini cukup membuat Ariel gugup. Berbagai pertanyaan kini sibuk berseliweran di otaknya. Terutama kalimat ‘kenapa Jong In menatapku seperti itu?’.

Jong In pun menarik napasberkali-kali, kemudian ia memejamkan matanya. Kemudian dengan pelan namun tegas ia berkata, “Ariel Lau, aku menyukaimu.”

Ariel membulatkan matanya seketika. Tangannya refleks berlari ke arah mulutnya yang menganga. Ia terlalu terkejut dengan ucapan tiba-tiba Jong In. Ini bukan April Mop, kan? Kenapa Jong In tiba-tiba berkata seperti itu?

“Aku tahu aku memang seorang yang brengsek dimatamu. Seorang player, mungkin semua orang sudah mengetahui semua ini. Tapi…aku tidak memaksamu untuk mengubah pandanganmu soal itu, tapi aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa…aku benar-benar menyukaimu. Dan…apa kau mau menerimaku?”

Ariel benar-benar lupa cara bernapas sekarang. Mimpi apa ia semalam? Kenapa Jong In tiba-tiba menyatakan perasaannya? Dan apa yang harus ia jawab? Ah~ ini benar-benar membuatnya…sakit kepala. Ia terlalu terkejut dengan kondisi ini.

“Ariel Lau…aku ingin…kau menjawabnya sekarang.” Ucap Jong In lagi.

Luhan yang mendengar dan melihat langsung pernyataan cinta itu merasakan dadanya nyeri. Ia tidak bisa berkata apa-apa, bahkan sepertinya detak jantungnya juga ikut berubah sejak pernyataan Jong In barusan. Juga matanya, matanya terus menatap fokus 2 orang yang saling berhadapan itu. Seolah-olah ada lampu sorot yang hanya menyinari mereka berdua.

“Yes…i do.”

JLEB.

Dan Luhan akhirnya merasakan hatinya kebas.

Dilain sisi, Zooey sedang menatap nanar ke arah Jong In dan Ariel. Ia sudah hampir tidak merasakan sakit, mungkin karena ia sudah merasakan fase terparahnya tadi. Meskipun ada gejolak tidak mengenakan di dadanya saat ini. Zooey pun menunduk lemas. Entah menatap apa, yang pasti ia tidak bisa melanjutkan untuk melihat adegan itu.

Dan sepertinya…mulai saat ini ia akan membenci nama Ariel Lau…

 

***

 

=TBC=

17/03/14 07:36PM

 

Iklan

One thought on “Seoul Story (What is Love?) (Chapter 7)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s