Seoul Story (What is Love?) (Chapter 8)

-part 8-

“Yak! Kau langsung pergi kemana kemarin, eo? Kau sudah tahu soal Jong In menyatakan perasaannya pada Ariel, kan? Whoa~ aku benar-benar tidak menyangka ternyata si player itu menaruh hati pada Ariel. Dan siapa kira Ariel yang tidak pernah tertarik pada siapapun itu ternyata mau menerima Jong In ? hidup benar-benar penuh kejutan!” Hinata terus saja berceloteh dengan senyum riangnya yang tidak bisa disembunyikannya sama sekali. Dan kesalahan Hinata adalah, tidak menyadari air muka Zooey yang berubah.

Zooey hanya menghela napas panjang, ia sudah mendengar tentang itu. Bukan hanya mendengar, tapi juga melihat langsung adegan pernyataan cinta itu setelah Jong In meninggalkannya. Benar-benar tragis.

Dan benar apa kata Hinata, hidup memang penuh kejutan. Siapa kira ternyata pa yang ia bayangkan berakhir baik justru sebuah pedang yang bersiap menusuknya?

Dan inilah yang paling dibenci Zooey, seantero sekolah heboh membicarakan –Ariel Lau menjadi kekasih Kim Jong In-. Dan tentunya penggemar Jong In tidak menerima semua itu begitu saja, mengingat bagaimana kepopularitasan Jong In di sekolah sama persis dengan kepopularitasan Shim Changmin di Korea. Tapi ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi berikutnya, atau mungkin Ariel yang akan terkena imbasnya karena menerima Jong In menjadi kekasihnya. Persis seperti cerita di drama picisan TV. Begitu menjengkelkan dan membosankan.

“Dan kau sendiri, bagaimana denganmu kemarin? Siapa yang menyatakan perasaan padamu?” tanya Hinata dengan nada tak sabar. Dan sialnya, Hinata sama sekali tidak peka dengan ekspresi Zooey yang sama sekali tidak baik.

Dan Zooey? Ia hanya menggeleng sambil tersenyum. Ia juga tidak berniat mengatakan apa-apa soal kejadian kemarin. Itu terlalu konyol.

“Zooey, kita harus bicara.”

Langkah Zooey dan Hinata langsung terhenti ketika Jong In tiba-tiba mencegat didepan pintu masuk kelas mereka. Hinata sedikit mengernyitkan dahinya, kenapa Jong In seserius itu? Kemudian tatapannya beralih pada Zooey yang menatap Jong In datar…tunggu! ia baru sadar jika tatapan Zooey agak berbeda.

“Ada apa?” bisik Hinata penasaran karena Zooey tak juga bergeming. Juga wajah angkernya, seolah-olah dia adalah harimau kelaparan dan baru saja menemukan mangsanya, tepat dihadapannya.

“Zooey..” bisik Hinata sekali lagi.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Bukankah kau sudah biasa melakukannya pada semua mantan pacarmu dulu? menyakiti mereka, sesuatu yang mudah kau lakukan, kan?” Zooey akhirnya dapat menemukan suaranya. Meskipun terdengar begitu mengerikan, baik ditelinga Zooey sendiri ataupun di telinga Jong In dan Hinata.

“Zooey…”

“Siapa yang menyuruhmu bicara padaku? Chanyeol? Katakan padanya aku tidak apa-apa. Dasar pria bodoh, untuk apa mencampuri urusanku.” Ketus Zooey sambil melenggang masuk ke dalam kelas, tidak mempedulikan bisikan yang terus mengejarnya dari Hinata ataupun tatapan yang diberikan oleh Jong In.

Dan langkah Zooey terhenti saat ia menangkap sosok Ariel di bangkunya. Tepat di belakang bangkunya. Dan gadis itu tidak menyadari keberadaan Zooey, ia hanya sibuk memainkan ponselnya. Pasti kegiatan tak bergunanya lagi, memandangi wajah Shim Changmin.

“Hinata, kau mau bertukar bangku denganku?”

Hinata membulatkan matanya bingung. Tunggu, kenapa Zooey tiba-tiba ingin pindah bangku?

“Kenapa? Bukankah kau…”

“Ishida Hinata, aku mohon…”

Hinata sebenarnya tidak keberatan sama sekali, tapi ia hanya tidak mengerti apa yang terjadi dengan Zooey. Dan kenapa dia hanya menggeleng saat ditanya? Lalu, kenapa Jong In berbicara seserius itu dengannya? Lalu kenapa Zooey tiba-tiba…hey! jangan-jangan…

“Apa Jong In yang mengajakmu bertemu kemarin?”

Zooey terkesiap mendapat pertanyaan itu. Kenapa Hinata tiba-tiba menanyakannya? Tidak tidak. Tepatnya dapat menebak dengan sempurna.

“Hinata! Zooey! Kenapa diam disana?” panggil Ariel sambil melambaikan tangannya. Ia tersenyum ceria, begitu berkebalikan dengan Zooey yang masih merasa gelap dalam hatinya. Dan Hinata yang justru merasa tidak enak hati…entah kenapa. Tapi ia merasa bingung sendiri jika seandainya apa yang ia pikirkan benar.

Zooey pun kembali menatap Hinata, “Aku tidak butuh persetujuanmu. Aku ingin bertukar bangku,” kata Zooey tegas dan langsung berjalan ke arah bangku Hinata yang diakui sebagai bangku Zooey sekarang.

Ariel menautkan alisnya bingung. Ada apa dengan Zooey hari ini? Setelah semalam telponnya tidak di angkat, gadis ini juga terlihat tidak baik. Bahkan tidak membalas sapaannya seperti biasa. Dan kenapa Zooey duduk di kursi Hinata?

“Dia kenapa?” tanya Ariel penasaran pada Hinata yang baru saja duduk.

Hinata pun membalikkan tubuhnya, ia hanya menatap wajah Ariel serius. Ia memang tidak tahu detailnya. Tapi ia tahu ini lebih buruk dari yang ia bayangkan.

“Luhan! Soal kemarin maaf aku tidak bisa pergi, kau sudah membelinya?” Ariel langsung melambai ke arah Luhan yang baru saja memasuki kelas.

Tapi Luhan hanya diam sambil menatap Ariel, kemudian hanya tersenyum untuk membalas ucapannya. Hari ini, ia sama sekali tidak begitu berselera untuk bersikap seperti biasa pada Ariel. Lalu dengan tak acuh diaduduk di kursinya.

Ariel mendengus frustasi. Ada apa dengan orang-orang hari ini? Kenapa semuanya terlihat seperti tidak dalam keadaan baik? Dan ia pun kembali menatap Hinata yang masih menatapnya lurus.

 

***

 

“Luhan mana?” tanya Jong In yang baru datang ke kantin, dan langsung duduk di salah satu tempat kosong dimana teman-temannya berkumpul disatu meja.

Dan suasana mendadak hening. Terutama Kyungsoo yang hanya bisa mendesah tiap kali melihat wajah Jong In. Ia bisa menebak berapa lama Luhan patah hati, seminggu. Dulu, terakhir karena ia dicampakkan ia berubah pendiam selama seminggu.

“Kau sudah minta maaf pada Zooey? Kau tahu, gadis itu pasti sangat kecewa.” Kata Sehun sambil melahap makannya.

Mendengar pembuka topik ini Chanyeol langsung melipat kedua tangannya di atas meja, matanya menelisik ke arah Jong In. Ia ingin tahu sejauh mana laki-laki itu menyakiti perasaan gadis yang disukainya.

Jong In hanya mendengus, kemudian meneguk salah satu cola yang ada di meja itu –entah milik siapa, kemudian Jong Dae langsung protes dan menarik gelas berisi cola-nya. Merasa jengkel karena sikap Jong In yang tidak berubah.

“Dia tidak mau bicara padaku.” Tutur Jong In akhirnya.

“Tentu saja. Kau sepertinya memang sangat ahli untuk menyakiti orang lain,” Chanyeol membalas ketus tuturan Jong In.

Mendadak,seisi meja menoleh ke arah Chanyeol. Mereka semua hampir lupa –kecuali Jong In dan Kyungsoo- bahwa Chanyeol menyukai Zooey. Dan perasaan mereka mendadak tidak enak, semoga cerita konyol pertengkaran sahabat terjadi gara-gara seorang gadis tidak pernah terjadi.

“Aku tidak sengaja melakukannya. Kukira kertasnya tidak meleset ke meja Zooey,” bela Jong In. Ia memang tidak salah, kan? Ia tidak sengaja mempermainkan gadis itu. Bahkan ia berani bersumpah.

“Tapi kau meninggalkannya begitu saja,” balas Chanyeol tak terima.

“Tapi aku sudah minta maaf padanya,”

“Semudah itu? Kau selalu menggunakan maaf sebagai barang murah Kim Jong In. Kau tidak lihat bagaimana ekspresinya saat kau meninggalkannya dan mengejar Ariel?”

“Kenapa kau begtu sewot? Aku jelas-jelas menyukai Ariel. Bukan Zooey, sudah kukatakan aku tidak sengaja.”

“Tapi kau keterlaluan Kim Jong In. Ini hal terparah yang kau lakukan pada seorang gadis. Aku bersyukur kau masih seorang pelajar, jika bukan mungkin kau akan meninggalkan gadis yang kau tiduri begitu saja.”

Mendengar ucapan Chanyeol, Jong In mendadak tersulut emosinya. Ia langsung bangun dan menarik kerah baju Chanyeol dengan tatapan bengis yang ia miliki. Apa-apaan Chanyeol ini? Kenapa ia seolah mengatakan bahwa Jong In adalah manusia terbejat yang pernah ada? Dan apa katanya? Meniduri gadis?

“Bukankah kau yang hampir meniduri pacar kencan butamu, hah?” kata Jong In dengan nada dingin.

“Tapi aku tidak melakukannya dan tidak menyakiti hati siapapun seperti yang kau lakukan Kim Jong In-ssi~”

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan Lee Yu Ri yang kau jadikan sebagai bahan taruhan, hah?” Jong In langsung menyeringai ketika melihat Chanyeol yang membulatkannya.

Chanyeol langsung bangkit dan juga langsung menarik kerah Jong In.

“Tutup mulut busukmu, Jong In!” gertak Chanyeol dengan nada dinginnya.

Jong In kembali menyeringai, “Kenapa? Bukankah kita semua sama? Kita sama-sama brengsek dan semua orang tahu itu, kan? Kenapa kau harus tidak terima? Kau sama sepertiku Park Chaneyol, camkan itu!”

Tangan Chanyeol sudah terangkat diudara, dan hampir saja mengenai hidung Jong In jika saja Sehun tidak cepat-cepat menahan lengan Chanyeol.

 

***

 

Tidak seperti biasanya, hari ini Zooey duduk sendiri di bangku taman belakang dengan novel terbaru yang baru di belinya. Dan sepertinya, Zooey akan melalui hari-harinya kedepan seperti ini. Kecuali ia memang akan mendapatkan teman baru. Yang pasti Zooey masih menghindari Ariel, termasuk Hinata.

“Kenapa tidak gabung dengan yang lain?”

Zooey kenal suara itu. Kemudian kepalanya mendongak menatap laki-lai dengan rambut pirangnya. Ah~ Xi Luhan. Dan dengan tampang tidak peduli, Zooey kembali menatap bukunya. Menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak berminat menyambut kedatangan Luhan.

Luhan hanya tersenyum kecil, dan tanpa meminta izin dari Zooey ia langsung duduk di samping Zooey. Ia sudah tahu semuanya, Luhan sudah mendengar semua cerita detailnya dari Min Seok semalam. Dan ia merasa, ia dan Zooey sama-sama korban.

Menggelikan, bukan?

“Aku sudah tahu semuanya,” ucap Luhan yang tak mengagetkan Zooey sama sekali. Tentu saja ia sudah tahu, bukankah Luhan satu gank dengan Jong In? Sudah pasti ini menjadi berita bagus untuk dibicarakan gank itu.

“Kau tidak apa-apa, kan? Kau tidak marah pada Ariel, kan?”

Zooey mendengus panjang. Sekuat apapun ia mencoba berkonsentrasi, ia tetap saja tidak bisa berkonsentrasi. Apalagi laki-laki di sampingnya baru saja menyebut nama Ariel dan membahas soal dirinya dan Jong In.

“Bukan urusanmu.” Balas Zooey akhirnya.

Luhan menghela napas panjang, kemudian ia pun menyandarkan punggungnya ke belakang dengan kepala menengadah ke atas. Menatap langit yang cukup cerah hari ini.

“Aku juga menyukai Ariel,”

Dan kali ini, Zooey baru benar-benar terkejut. Ia pun langsung menoleh ke arah Luhan yang masih tengadah.

Dan Zooey dapat melihat Luhan yang tersenyum tipis, entah tersenyum karena apa. Tapi ia tetap menerawang ke atas langit, seolah ada sesuatu yang menarik di atas sana.

“Tapi sepertinya aku memang tidak sedang beruntung, padahal aku merasa sudah cukup dekat dengan Ariel.” Kata Luhan lagi, dan Zooey masih diam tidak menanggapi apapun.

“Hey, kau tahu kan jika Jong In pernah merebut kekasih Kim Jun Myeon?”

Zooey menautkan alisnya tidak mengerti, kemana arah pembicaraan ini?

“Dan kurasa, diantara kami semua hanya aku yang tidak tertarik untuk ‘bermain-main’ dengan perasaan oranglain. Mungkin…tidak ada salahnya aku mencoba ‘bermain’ dengan Jong In,”

“Maksudmu?” tanya Zooey refleks.

Luhan pun menoleh ke arah samping, “Mendapatkan Ariel kembali. Kurasa tidak apa-apa bertindak sebagai seseorang yang brengsek sesekali, kan? Aku belum tahu rasanya.”

 

Dan dilain tempat, seorang gadis justru hanya terdiam menatap Luhan dan Zooey. Ia mendensah panjang. Ia tidak ingin salah paham, tapi dirinya selalu dibuat salah paham. Dan orang-orang yang membuatnya salah paham adalah, teman-temannya sendiri.

 

=TBC=

18/03/14 06:08PM

 

 

Iklan

One thought on “Seoul Story (What is Love?) (Chapter 8)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xue Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s