Seoul Story (What is Love?) (9)

-part 9-

Pagi musim semi hari itu hampir sama seperti pagi di musim semi lainnya, dan lebih tepatnya setelah 2 minggu terakhir ini. Tepat setelah Jong In mendengar kalimat “I do” dari mulut Ariel. Meskipun di luar rencana, dan tentunya semua yang telah ia siapkan untuk membuat malam itu romantis gagal total, tapi Jong In cukup puas karena harapannya terwujud.

Dan sejak seminggu lalu, Jong In memutuskan untuk menaiki sepeda saat berangkat sekolah. Apa karena Ariel? Katakan saja begitu, karena dengan sepeda itu juga Jong In bisa semakin dekat dengan Ariel. Seperti hari ini, rencananya ia akan mengantar Ariel ke sekolah dengan sepeda yang mendadak dibelinya itu.

Dan entah kenapa, ia merasa selalu senang tiap kali tahu, jika ia berhasil memiliki Ariel Lau. Tidak ada ambisi, bukan juga obsesi. Semuanya mengikuti nalurinya, juga letupan-letupan aneh itu. Semuanya sudah terjawab, dan sekarang Jong In tinggal berjalan di dalam semua perasaannya.

 

***

 

“Kau menunggu playboy itu lagi?” tanya Kris yang tiba-tiba muncul.

Ariel yang sedang menyibukkan diri dengan buku pelajarannya mendongak menatap Kris yang tengah menatapnya, kemudian ia kembali memandang buku ditangannya tanpa minat. Dan untuk menjawab pertanyaan Kris, gadis itu cukup mengangguk.

“Kau tidak khawatir dia hanya bermain-main denganmu?” tanya Kris lagi dengan nada tidak sabar. Entah kenapa ia merasa tidak setuju jika ternyata Ariel benar-benar berhubungan dengan Jong In. Bukan karena ia cemburu atau semacamnya, mengingat bagaimana riwayat hidup Jong In yang pernah menyilet hati beberapa orang. Dan Kris tahu seberapa payahnya Ariel jika sudah jatuh cinta pada seseorang.

Ariel hanya mendesah panjang mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya ia sangat tersinggung, bahkan tangannya sangat ingin menghujam Kris dengan pukulannya. Dan sayangnya itu tidak terjadi. Karena jika dipikir-pikir…Ariel juga tetap khawatir.

Bagaimana jika Jong In sedang bertaruh dengan teman-temannya? Dan ternyata dirinya adalah alat untuk taruhan itu. Ia tidak tuli tentang kejadian di masalalu, tentang Chanyeol, Jong In dan Sehun yang bertaruh dengan memperalat Lee Yu Ri. Dan kedengarannya begitu mengerikan.

“Kau ragu?” tanya Kris lagi.

“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja, bukankah bagus jika aku jatuh hati padanya? Artinya aku sudah bisa melupakan Howon…”

Kris menautkan sebelah alisnya. Tunggu dulu…jadi Howon masih disimpan baik di sudut hati Ariel? Astaga. Gadis macam apa Ariel ini? Ia bahkan tidak pernah sesetia itu ketika menyukai seseorang. Dan Ariel?

Kemudian Kris pun menegakkan bahunya dan menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti mencari sesuatu, “Yang harus kau tahu, aku sama sekali tidak khawatir padamu. Aku jauh lebih khawatir pada Jong In bagaimana ia bisa melewati hari-harinya denganmu. Clinton saja begitu kewalahan, apalagi Jong In?”

Kris hanya bercanda. Sungguh, ucapannya hanya lelucon. Tapi pukulan yang mendarat di lengannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa Ariel sedang bercanda padanya. Meskipun bertubuh mungil, tapi tenaga gadis ini cukup besar untuk memukul seseorang. Untungnya ibunya dulu tidak pernah setuju jika Ariel ikut bela diri. Jika iya itu terjadi, mungkin Kris sudah mengalami patah tulang sekarang.

“Yak! Kau gila!” bentak Kris kesal. Tapi Ariel tak mengindahkannya sama sekali dan justru semakin parah memukulnya.jika Ariel bukan perempuan..Kris pasti sudah membalasnya.

“Ariel-a…”

Kris dapat bernapas lega ketika Jong In tiba dengan sepedanya. Karena akhirnya seluruh perhatian Ariel beralih pada laki-laki itu. Serigala yang mendadak berubah menjadi kucing. Cis…Kris jadi ingin tahu, apa benar Ariel yang merubahnya dalam 2 minggu ini? Atau Jong In ada maksud lain?

“Aku pergi tiang listrik!” pamit Ariel begitu saja.

Kris mendecak jengkel. Dan sayangnya, Ariel berubah tidak sopan ketika ia mengenal Jong In.

 

***

 

Chanyeol sudah berdiri tegak di sisi trotoar. Meskipun bus sudah 2 kali lewat, tapi ia belum beranjak sedikitpun dari tempat itu dan justru sibuk memandang ke arah kanan. Chanyeol tidak berniat untuk menunggu seseorang sebenarnya, tapi entah kenapa ia justru berinisiatif berdiri disana dan berharap seseorang datang sebelum bus ke tiga datang. Yah…jika ia melewatkan bus yang ke tiga, kemungkinan besar Chanyeol akan berakhir tragis di gudang sekolah atau di lapang indoor mereka. Dan Chanyeol sedang tidak berselera untuk itu.

1 menit…

2 menit…

3 menit…

Chanyeol mendesah panjang. 3 menit jika dipergunakan untuk menunggu ternyata cukup membosankan. Dan sepertinya Chanyeol akan melewatkan satu momen yang bisa dibilang kebetulan yang di buat-buat ini, atau mungkin gadis itus udah pergi dan kebetulan yang dipikirkan Chanyeol memang tidak akan terjadi.

Chanyeol pun langsung menegakkan bahunya ketika bus ke tiga yang sibahas otaknya muncul. Benar, sepertinya ia memang akan melewatkan momen kebetulan yang diharapkannya.

Chanyeol sudah siap melangkahkan kakinya untuk masuk. Tapi perhatiannya teralihkan pada gadis yang tiba-tiba berteriak ‘tunggu’. Sontak, Chanyeol memutar kepalanya ke arah sumber suara. Dan benar saja, gadis bermata samudra itu tengah berlari ke arah bis.

“Tenang saja, bis tidak akan meninggalkanmu.” Canda Chanyeol sambil tersenyum penuh arti pada Zooey yang masih membenarkan napasnya.

Mulut Zooey yang langsung menganga ketika mendapati pria penguntit –julukan yang diberikan Zooey pada Chanyeol- itu justru berada tepat di depannya. Astaga! Yang benar saja! Laki-laki itu menguntitnya sampai ke tempat tinggalnya?

“Masuklah! Jangan membuang waktumu untuk terpesona padaku,”

Dan kali ini Zooey langsung mengatupkan mulutnya. Meskipun ia lebih terkejut sekarang. Ah, kenapa ia harus dipertemukan dengan laki-laki seperti Park Chanyeol?

 

***

 

“Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Zooey galak tepat sata Chanyeol menjatuhkan tubuhnya di kursi yang bersebelahan dengan Zooey.

Chanyeol lagi-lagi hanya tersenyum, kemudian dengan serileks mungkin ia pun menyandarkan tubuhnya, “Aku juga harus ke halte bis ini jika akan naik bis,” sahutnya enteng. Berbeda sekalidengan Zooey yang merasa sangat keberatan dengan Chanyeol.

Tapi…tunggu. seingatnya Chanyeol selalu menggunakan bis, kan? Tapi kenapa ia baru pertama kali satu bis dengan Chanyeol? Atau laki-laki ini berbohong hanya untuk cari aman?

“Kau setiap hari selalu datang hampir terlambat. Tentu saja kau tidak akan menemukanku di dalam bis. Aku tidak mengerti, kenapa ada gadis yang suka sekali bangun kesiangan,”

Zooey mengerjapkan matanya sesaat setelah Chanyeol menyelesaikan kalimatnya. Lucu sekali, bahkan Chanyeol tahu ia suka bangun kesiangan? Benar-benar tidak lucu.

“Kau tahu darimana? Siapa yang memberitahumu?” Zooey masih berbicara dengan nada ketusnya.

Chanyeol hanya menyeringai melihat reaksi Zooey yang menurutnya terlalu berlebihan itu, dan dengan seenaknya laki-laki itumemasangkan sebelah headset-nya di telinga kiri Zooey. Dan lagi-lagi Zooey mengerjapkan matanya.

“Jangan protes dan tenanglah. Kau begitu berisik Nona Claire. Dan soal pertanyaanmu, aku hanya menebak saja. Karena biasanya aku terlambat karena bangun kesiangan, kukira itu juga berlaku untukmu.” Sahut Chanyeol lagi yang masih tersenyum pada Zooey.

Dan Zooey hanya bisa mendnegus pasrah. Entah kenapa ia malah luluh sekarang. Meskipun tidak ingin membenarkan apa yang terlintas di otaknya barusan, tapi ia sedikit mencari celah logika, bahwa berdebat di dalam bis bukan sesuatu yang bagus. Itu sangat mengganggu.

 

***

 

Ishida Hinata berjalan tergesa di koridor sekolahnya. Tidak menuju kelas, melainkan menuju ruang loker yang berada di ujung koridor. Sejak semalam Hinata sudah merencanakan semuanya, dan ia tidak ingin melewatkan satupun dari list rencananya.

Masih dengan tergesa, Hinata masuk ke dalam ruangan itu dan mulai mencari sebuah loker. Ia sebenarnya memang agaka sing dengan ruang loker itu. Meskipun ini adalah tahun ketiganya berada di seklah ini, Hinata hampir tidak pernah menaruhapapun di lokernya yang satu ini. Dan tentunya, mencari loker oranglain bukan sesuatu yang mudah untuknya.

“Kau sedang apa?”

Hinata terlompat kaget saat mendengar suara berat itu dari belakang. Hinata pun mendongak dan menatap jengkel ke arah laki-laki dengan tinggi 187cm itu.

“Kau sedang apa disini?” tanya Hinata menyelidik. Bagaimana mungkin ia tidak curiga jika Kris dengan gamblang selalu mengganggunya,dan yang terparah adalah mengikutinya. Benar-benar menakutkan.

Kris mengerutkan dahinya, kenapa gadis itu begitu sewot?

“Kau sedang membelakangi lokerku. Makanya aku bertanya,”

“Oh?”

Kris benar-benar ingin tertawa melihat ekspresi konyol Hinata.

“Jadi, kau bisa minggir?”

Mendengar ucapan Kris, Hinata buru-buru menyingkir dari tempatnya. Dasar bodoh, rutuknya dalam hati, bagaimana ia bisa dipermalukandengan mudah oleh Kris? Benar-benar menyebalkan.

“Kau pegang apa?”

Hinata kembali mendongak menatap Kris, kemudian pandangannya beralih pada benda ditangannya, kemudian dengan cepat ia menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya.

Kris kembali menyeringai, seru sekali mengerjai gadis jepang itu.

“Kau tidak berniat memberikanku coklat, kan?”

“Apa?”

Kris pun mencebikkan bibirnya, “Mungkin saja kau tadi berniat menaruh coklat itu di lokerku,”

Dengan malas, Hinata memutar bola matanya, “Kau terlalu percaya diri Tuan Wu!” ketusnya kesal. Kemudian ia beranjak dari tempat itu dengan cepat.

Rencananya gagal. Menyebalkan. Ia benar-benar tidak mengerti, kenapa Ariel mau berteman dengan Kris?

 

***

 

“Kau tahu, sebenarnya aku tidak suka saat harus berjalan bersamamu,” keluh Ariel ketika ia berjalan berdampingan dengan Jong In. Dan entah kebetulan atau apa, mendadak orang-orang seperti mengelilinginya dengan berbagai tatapan dan ekspresi. Belum lagi jika ia melihat orang yang berbisik-bisik di depannya. Benar-benar lucu.

Dan Jong In hanya tersenyum mendengar keluhan Ariel untuk yang kesekian puluh kali, “Kau harus terbiasa. Ini efek menjadi orang terkenal,” balas Jong In sekenanya dan tetap berjalan tak acuh.

Ariel memutar bola matanya, “Kau terlalu percaya diri.”

“Aku tidak bilang diriku terkenal, kan? Tapi kau.”

“Tetap saja,” protes Ariel tak terima ketika mereka mulai menaiki anak tangga menuju kelas mereka, “Seantero sekolah mengenalmu. Dan tentunya, para gadis itu sedang menggunjingku.” Lanjut Ariel lagi.

Mendengar ucapan Ariel, Jong In justru langsung menarik tangan Ariel dan menggenggamnya erat, “Siapa peduli? Yang penting aku menyukaimu dan sekarang kau resmi kekasihku. Titik.”

Mulut Ariel langsung menganga ketika ucapan itu lolos dari mulut Jong In. Lucu sekali, 2 minggu mengenalnya saja Ariel sudah harus dihadapkan dengan laki-laki keras kepala, dan juga egois ini.

Untungnya Ariel menyukainya, kalau tidak? Mungkin Ariel sudah mendepak laki-laki itu menjauh darinya. Dan…Tunggu! apa katanya tadi? Ariel menyukainya? Ariel menyukai Jong In?

Mata Ariel kini terfokus pada wajah Jong In yang masih menghadap ke depan tanpa menggubris tatapannya.

Yang benar saja…ia berhasil melupakan Howon dan beralih pada laki-laki ini?

 

***

 

Luhan tersenyum kecut saat pasangan kekasih yang tengah hangat dibicarakan itu muncul dari balik pintu. Dan yang membuat dadanya semakin mengenaskan, ketika ia melihat Ariel begitu santai ketika Jong In menggenggamnya.

Tsk ~ ia tidak bisa menyangkal jika Jong In memang serius sekarang. Ia juga tidak akan menyangkal jika Ariel dan Jong In begitu cocok. Tapi tetap saja, sesetuju apapun logikanya hatinya tidak pernah sejalan dengan semua logika yang dibuat-buat itu.

Entah kejam atau tidak, tapi Luhan merasa ia masih bisa mendapatkan Ariel kembali sebelum jari manis tangan kanannya terhias sebuah cincin. Dan ia selalu berharap, di cincin itu hanya terdapat namanya dan nama Ariel.

“Ariel-a…” Luhan pun bangkit dan mendekati meja Ariel dengan sengaja. Tidak peduli dengan tatapan teman-temannya yang sudah mulai menyadari jika dirinya sedang beraksi. Entah dengan Jong In, ia tidak peduli. Ia hanya ingin mencobanya. Dan tidak ada salahnya, kan?

Ariel mendongak dan mendapati Luhan sudah berada di depannya, dan tentunya dengan senyum favorit Arieldari laki-laki itu.

“Ada apa?” tanya Ariel antusias karena akhirnya ia mendapati Luhan-nya kembali sejak seminggu lalu. Periang, selalu bisa diajak bicara dan yang pasti selalu memiliki satu topik dengan Ariel.

“Tiket Bioskop. Film yang dimainkan oleh Changmin….”

“OMO!!!”

Zooey mendengus panjang ketika pekikan Ariel menggema di ruang kelasnya ini. Jika beberapa orang tertarik untuk berbalik dan menatap Ariel, Zooey lebih memilih untuk tetap diam di tempatnya dan mengerjakan tugasnya yang belum selesai.

Meskipun Zooey tidak menyangkal, ia tidak merasa konsentrasinya sedang dalam keadaan baik.

Dan sialnya, ingatannya lagi-lagi terdampar pada pesan yang diberikan Ariel semalam. Gadis itu mengajaknya bicara 4 mata. Mungkin gadisitu merasa tidak nyaman karena Zooey mendadak menjauhinya. Tapi entahlah, Zooey sama sekali tidak tertarik untuk berbicara dengan gadis itu.

Karena Jong In? Zooey juga tidak tahu. Nyatanya, melihat mereka yang terlihat mesra belakangan ini, justru tak mengusik dirinya sama sekali. Walaupun kenyataannya, Zooey masih enggan untuk berdekatan dengan Ariel lagi.

 

Dilain sisi, Hinata justru sedang sibuk menuliskan sesuatu di beberapa carik kertas memo miliknya. Biasanya ia akan menggunakannya untuk mengingat tugas sekolahnya. Tapi kali ini Hinata tidak keberatan jika ia harus menghabiskan kerta situ demi momen ini.

Dan setelah selesai, Hinata langsung mengangkat satu pack memo itu dan tersenyum pada memo itu, seolah-olah ia bisa melihat seseorang disana. Dan Hinata harap, ide yang muncul berkat drama Dream High yang ditontonnya semalam bisa membuahkan hasil…

Xi Luhan, wait me…

 

=TBC=

20/03/14 08:03PM

Iklan

One thought on “Seoul Story (What is Love?) (9)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xia Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s