To You (13)

-part 13-

Pagi akhir musim gugur. Suzy menarik napas panjang kemudian menghembuskannya lagi. meskipun sudah cukup lama berada di London, Suzy tetap merasa asing dan merasa berbeda. Entah dibagian mana, yang pasti ia selalu merasa dirinya adalah tamu di tempat itu. Dan Suzy rasa, ia akan berada di negri raja itu sampai akhir musim dingin. Itupun jika Myungsoo tidak memiliki pekerjaan lain lagi nanti.

Suzy pun menekan beberapa tombol password apartemennya dan segera melangkahkan kakinya masuk, dan dimanapun akhir musim dingin tetap saja memiliki cuaca dingin. Dan Suzy hampir menggigil kedinginan jika tidak cepat-cepat mengakhiri lamunannya sambil memandangi angin musim gugur yang hampir berubah menjadi angin musim dingin. Mungkin sebentar lagi salju turun? Suzy tidak sabar untuk itu.

“Kau darimana?” tanya Myungsoo dengan mata setengah terpejam, pria itu baru saja keluar dari kamar mereka –ya. sekarang mereka mulai tidur di kamar yang sama sejak seminggu lalu. Suzy sendiri tidak tahu bagaimana ceritanya ia bisa mengizinkan Myungsoo.

“Buang sampah.” Sahut Suzy seadanya, kemudian mata gadis itu beralih ke arah arlojinya, “Tumben kau bangun pagi. Biasanya jika aku sudah teriak seperti toak kau baru bangun,”

Myungsoo hanya mengedikkan bahunya dan berjalan menuju meja makan, mengambil segelas airputih dan meneguknya sekaligus, “Kau sepertinya sangat suka membangunkanku dengan cara sepertii tu. Kau ingin aku tidur lagi dan kau membangunkanku?” goda Myungsoo sambil meletakkan gelasnya.

Suzy mendelik malas, “Untuk apa? tidak ada kerjaan.”

Myungsoo hanya tersenyum kecil, gadis itu tetap sama. Galak, cerewet dan menyebalkan. Hanya saja, jika dulu Myungsoo selalu mengeluh dalam diam menghadapi gadis itu, maka sekarang Myungsoo justru menikmatinya. Entah bagaimana dan bagian mana, tapi Myungsoo rasa ia sudah mulai terbiasa menghadapi putri tunggal keluarga Bae tersebut.

“Tadi ada telpon, aku tidak sempat angkat. Sepertinya itu nomor Korea.” Ucap Suzy tiba-tiba sambil meletakkan ponsel Myungsoo di atas meja, kemudian gadis itu berlalu menuju counter.

Satu pesan dan beberapa panggilan tak terjawab. Myungsoo pasti tidak tertarik untuk mengecek siapa pemilik nomor itu, seandainya sms yang dibacanya tidak ada nama Naeun. Dan sayangnya, nama Naeun kini terbaca olehnya dan membuat napasnya tercekat untuk beberapa detik.

 

***

 

“Jadi…kau benar-benar teman dekat Suzy?” Jiyeon tersenyum ramah pada pria yang tiba-tiba ingin bertemu dengannya dan bertanya sedikit tentang Myungsoo dan Suzy. Teman. Pria itu mengatakan dirinya adalah teman Myungsoo.

“Ya, aku sudah bersahabat lama dengannya. Tapi semenjak pindah ke London, kami sangat jarang berkomunikasi,” aku Jiyeon kemudian. Tentu saja, bagaimana mungkin ia menghubungi Suzy sedangkan Myungsoo tengah dalam proses untuk menjinakkan gadis itu. Atau mungkin Suzy malah sudah berbaikan dengan Myungsoo, atau kabar baiknya dia sudah mengandung anak Myungsoo? Entahlah, Jiyeon sendiri tidak tahu pasti.

Pria itu tersenyum kecil sembari mengangguk-ngangguk, kemudian ia mengangkat gelas minumannya dan meneguknya perlahan.

Dikejauhan, Kim Jong In menatap pria yang tengah duduk berhadapan dengan Jiyeon dengan tatapan tidak suka. Nekat juga…pikir Jong In. padahal ia sudah memperingati pria itu untuk mengangkat kakinya jauh-jauh dari kehidupan Suzy, tapi sepertinya dia tidak tertarik mengindahkan gertakan Jong In.

Jong In pun melangkahkan kakinya lebar-lebar, lalu ia pun mendekat langsung ke arah meja Jiyeon dan mengangkat lengan gadis itu. Membuat Jiyeon berjengit dan perlu memproses kejadian yang tengah terjadi padanya selama beberapa detik.

“Jong In?” dan akhirnya gadis itu bersuara juga.

Jong In mendengus sembari tersenyum sinis, “Masih bertanya? Aku mencarimu kemana-mana.” Ucap pemuda itu dengan nada tidak suka, kemudian matanya beralih pada pria yang tempo hari ditemuinya, “Dan kau selingkuh dengannya?”

Bukan hanya pria itu yang menautkan alisnya bingung, bahkan mulut Jiyeon sudah menganga lebar. Tunggu dulu. selingkuh? Siapa yang Jong In tudur selingkuh disini? Dan apa maksud dari semua perbuatannya?

“Apa maksudmu?” tanya Jiyeon kesal dan langsung menarik lengannya. Pemuda itu pasti sedang mabuk.

“Kenapa? Kau mau berpura-pura tidak mengenalku? Kekasihmu sendiri?”

“M..mwo?”

“Dia kekasihmu?” kali ini giliran dari kakak Naeun yang membeo terkejut.

“Ya. dia kekasihku. Maka dariitu, dengan tanpa hormat, kuminta kau menjauh dari kehidupan Suzy ataupun Jiyeon. Mengerti?”

Setelah mengatakannya, Jong In langsung menarik Jiyeon tanpa mengindahkan penolakan gadis itu. Ia pasti akan mendapat cercaan hebat dari Jiyeon setelah ini. Tapi siapa peduli? Ia tidak ingin membuat Myungsoo pergi dari kehidupan Suzy, setelah pria itu dengan lancangnya mengambil Suzy darinya.

 

***

 

‘Kau gila?! Siapa yang kau bilang kekasihmu? Dan…astaga Kim Jong In! asal kau tahu! Kau membuat oranglain salah paham! Sejak kapan aku menjadi kekasihmu? Dan selingkuh? Kau kira aku dirimu? Seandainya aku memiliki kekasihpun, aku tidak akan berkhianat asal kau tahu itu!”

Dugaan Jong In benar, kan? Gadis ini sama cerewetnya dengan Suzy jika sudah bertengkar dengannya.

“Lagipula kau ini kenapa? Tiba-tiba datang dan meracau seperti orang gila!”

Tidak tahan dengan semua cercaan Jiyeon, Jong In pun langsung mendorong Jiyeon dan mengunci gadis itu didinding dengan tangannya, “Dengar. Dia adalah kakak Naeun dan dia…dia bermaksud membawa Myungsoo untuk bertemu Naeun.” Desis Jong In dengan rahang yang mengeras.

Jiyeon menelan ludahnya dengan susah payah. Selama mengenal Jong In, ini pertama kalinya ia melihat Jong In menampakkan aura suram dengan wajah mengerikannya itu. Belum lagi tatapan tajamnya…seolah ia ingin menerkam Jiyeon saat itu juga.

“Naeun?”

“Kau tidak tahu?” Jong In semakin mendekatkan wajahnya ke arah Jiyeon, “dia kekasih Myungsoo sebelum si tengik itu menikah dengan Suzy. Jadi, berhenti menemuinya jika kau menyayangi sahabatmu.”

 

***

 

Myungsoo kembali menatap layar ponselnya untuk yang kesekian kali. Ia sebenarnya tidak tahan untuk membalas sms singkat itu. Sms yang ia sendiri tidak tahu siapa pengirimnya. Yang ia tahu, itu berkaitan dengan Naeun dan nomor yang menghubunginya adalah nomor Korea.

Myungsoo mendesah pelan. Mata pria itu terpejam beberapa saat, membiarkan film memori di otaknya berputar perlahan. Naeun. Semua tentang Naeun dan dirinya. Dan yang memukul telak hatinya adalah pertemuan terakhir mereka yang berakhir tamparan keras di pipi Myungsoo.

Myungsoo berhak mendapatkannya, kan? Atau mungkin harusnya ia mendapatkan lebih dari itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Suzy khawatir saat kembali ke dalam mobil. Entah perasaannya saja atau bagaimana, tapi Myungsoo menjadi pendiam sejak tadi pagi. Sejak pria itu membaca sms yang entah dari siapa dan entah apa isinya.

Myungsoo pun membuka matanya dan menatap ke arah Suzy, kemudian ia tersenyum ditarik-tarik sembara menatap Suzy, “Tidak ada. Aku hanya sedikit pusing.”

“Kau sakit?” tanya Suzy agak khawatir. Dan pikirannya sekarang sudah berkelakar jauh, soal kesibukan Myungsoo, pikiran pria itu dan masih banyak lagi yang mungkin menyebabkan Myungsoo menjadi sakit.

Myungsoo menggeleng cepat, “Tidak. Bukan begitu…”

“Jika kau sakit, kau kembali saja ke apartemen. Aku bisa belanja sendiri, lagipula akus udah hapal jalan disini.” Potong Suzy cepat. Dan sebelum Myungsoo kembali angkat suara, “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa sendiri. Yang justru perlu kau khawatirkan adalah dirimu sendiri. Pulanglah. Aku bisa sendiri,”

Myungsoo tersenyum kecut. Maaf. Hatinya berkata lirih…semua ini bukan karena dirinya yangs akita tau ia mengkhawatirkan Suzy yang harusnya dikhawatirkannya. Tapi ini tentang gadis lain…

Yang ia tingalkan namun masih terdampar di sudut hatinya…

 

***

Myungsoo pun melepas sepatunya dan mengganti alas kakinya dengan sandal rumah. Harusnya ia tidak meninggalkan Suzy, dan sialnya meskipun Myungsoo merutuki kebodohannya berulang kali, rasanya tetap aneh jika Myungsoo kembali kesana dan berkata pada Suzy dan berkata jika ia tidak apa-apa.

Myungsoo pun berjalan ke arah dapur, mengambil sebotol air mineral dan langsung meneguknya. Jika Suzy melihatnya dia pastia kan merecokinya selama beberapa menit. Sangat cerewet, kan?

Setelah meletakkan kembali botol mineral tersebut, mata Myungsoo terkunci pada ponselnya yang tiba-tiba menyala. Dan detik berikutnya kaki Myungsoo langsung melemas saat membaca nomor yang menghubunginya…

Myungsoo tahu salah satu kelemahannya adalah Naeun…dan haruskah kelemahannya mengusiknya sekarang? Disaat yang tidak tepat?s

Dan Myungsoo tahu apa yang akan terjadi jika ia mengangkat telpon itu, berlari ke Korea dan memeluk Naeun…

 

=TBC=

22/05/14 08:PM

Iklan

7 thoughts on “To You (13)

  1. Ish! Naeun knapa masih gangguin Myung sih? Ga malu apa gangguin nampyeon dari yeoja lain? Yahh… Walau Myung nikah ama Suzy bukan d awali dngan cinta, tapi ttp aja GAK BOLEH! Apa Naeun ga laku y, makanya trus brusaha nempeli Myung? Lol
    Myung juga harusny sadar, kalo dia udah nikah, seharusny jangn lagi mikirin Naeun skalipun masih ada cinta d hatiny! Skarang sudah ada Suzy yg jadi tanggung jawb Myung! Sadar dong Myung, Suzy itu buth cinta yg tuls , biar ga trus labil kaya’ gitu!

    Suka

  2. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xia Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s