To You (14)

-part 14-

Suzy menghentikan langkah kakinya tepat didepan sebuah etalase yang tengah memamerkan berbagai macam perhiasan cantik…secantik harganya. Suzy tersenyum kecil. Harusnya Myungsoo tidak meninggalkan dompet Suzy di Korea. Setidaknya, ia bisa belanja sesuka hatinya tanpa harus berpikir bahwa ia sekarang istri seseorang yang menggunakan uang suaminya.

Suzy mendesah pelan. Apa jika ia meminta pada ayahnya ia akan diberi uang yang cukup? Ia benar-benar tidak tahan untuk tidak belanja…

“Kau suka? Pilih saja satu.”

Suzy terperanjat kaget saat suara familiar itu mengusik lamunannya, dan berikutnya mengusik dtak jantungnya. Napas Suzy sempat tercekat untuk beberapa detik, terutama saat Soo Hyun menoleh ke arahnya.

“Tidak perlu setegang itu. Santai saja. Aku tidak bermaksud menculikmu dari suamimu itu…”

Suzy mendengus pelan setelah kalimat dengan nada mengejek itu lolos dari mulut Soo Hyun. Kenapa ia harus takut? Tidak. Suzy tidak perlu takut lagi. dia sudah dewasa sekarang, dan seharusnya pemikiran dan perasaannya pun ikut berubah…

Walaupun pada kenyataannya tangan Suzy sudah meremas tas yang dibawanya.

Ia masih tetap takut…

Ia masih tetap gugup…

Dan ia masih merasakan letupan asing yang mengusik dadanya tiap kali menatap Soohyun…

“Oh? Halo Tuan Kim!”

Suzy dan Soohyun langsung menoleh pada pria yang diperkirakan berusia 30 tahunan itu. Pria yang menyapa Soo Hyun dengan formal dan tentunya menggunakan bahasa inggris yang mengganggu telinga Suzy. Dan keluhannya tetap sama, ia masih tetap tidak biasa.

Soohyun balas tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya. Suzy agak bingung dengan tingkah Soohyun. Ia pikir pria itu bukan pria yang berasal dari Asia, otomatis Soohyun tidak perlu membungkuk seperti itu, kan? Walaupun pria itu memiliki mata sipit dan kulit asia…

“Yak!”s Suzy setengah memekik saat Soohyun tiba-tiba mendorong kepala Suzy –tepatnya membuat kepala Suzy membungkuk, seolah memberi perintah padanya agar membungkuk pada pria yang menyapanya tadi.

Suzy benar-benar ingin membentak Soohyun sebenarnya, tapi kerja otaknya melambat saat tangan Soohyun melingkar pada pundaknya.

“Apa yang sedang anda lakukan disini? Mencari sesuatu?” tanya pria itu lagi. dan lagi pria itu bicara pada Soohyun.

Soohyun pun menarik kedua sudut bibirnya, “Ya…aku dan adikku ingin melihat-lihat. Dia sepertinya ingin membeli sesuatu.”

Mata pria itu sontak membulat, “Oh…jadi ini…”

“Ya. dia adikku. Meskipun dia hanya adik tiriku, dia tetap adikku, kan?”

Suzy tertegun. Entah mengapa ia merasa terlempar ke masalalu. Tepat saat Soohyun merangkulnya seperti sekarang, memperkenalkan pada semua orang bahwa ia adalah adik kesayangannya meskipun hubungan mereka terhalang kata ‘tiri’. Memberikan perlindungan sederhana melalui tangan hangatnya.

Suzy pun menggigit bibir bawahnya. Tidak. Ia tidak bisa terpengaruh. Keadaan sudah berbeda. Soohyun yang dulu bukan lagi Soohyun yang sekarang.

 

***

 

Myungsoo menatap nanar ke arah layar komputernya. Lancang sekali kakak Naeun –Sonh Young Gi- itu mengiriminya pesan seperti ini.

Atau mungkin hatinya saja yang terlalu lemah. Terlalu payah. Rapuh. Mudah tersentuh.

Myungsoo mendengus pelan. Tangan pria itu mencengkram erat mouse yang tengah dipegangnya. Ia mengenal Younggi bukan selama beberapa hari, tapi selama beberapa tahun sejalan dengan hubungannya dengan Naeun.

Pria itu tidak salah. Tentu saja. Wajar saja jika Younggi mencecarnya seperti pesan di e-mail itu. Ia berhak mendapatkannya. Sebut saja Myungsoo pria tak bertanggung jawab, pria yang berani merengkuh kebahagiaan adik kesayangannya kemudian menghempaskannya begitu saja. Dengan alasan balas budi…

Tidak logis? Hujat dirinya karena alasan tak logis ini, karena mereka semua tidak ada dalam posisi Myungsoo. Mereka tidak merasakan apa yang Myungsoo rasakan. Mereka tidak tahu bagaimana Myungsoo melewati hidupnya. Mereka hanya oranglain dan ini adalah keputusannya…

Dan Naeun masih terlalu kekanakan untuk memahami ini. Ia tahu. Jika ia diposisikan pada posisi Naeun, ia juga akan menderita atau mungkin lebih parah daripada itu. Ia hanya diminta datang untuk bicara sekali lagi dengan Naeun. Kesehatan gadis itu memburuk…

Myungsoo benar-benar ingin menangis. Hatinya yang terluka itu kini meraung kesakitan. Seolah memutar perasaannya yang sengaja ia sembunyikan, sengaja ia timbun dan ia pikir ia telah berhasil…tapi ternyata ia justru diambang gagal.

“Myungsoo?”

Myungsoo refleks langsung menutup tab e-mailnya dan menoleh ke belakang. Ke arah Suzy yang masih berpakaian sama seperti tadi siang saat ia mengantarnya ke tempat belanja, dengan tambahan beberapa kantong belanja.

Tunggu, gadis itu belanja…lagi?

“Suzy. Aku sudah bilang padamu soal menghemat. Aku tahu kau suka belanja, tapi…”

“Soohyun yang membelikanku.” Potong Suzy cepat. Gadis itu tidak menatap Myungsoo sama sekali dan justru sibuk menatap barang belanjaannya yang ia bilang…dari Soohyun. Mereka bertemu? Lagi? setelah insiden…

Rahang Myungsoo langsung mengeras. Entah kenapa ia benar-benar merasa marah. Tapi ia sama sekali tidak ingin mentolerir semua pengakuan dan perbuatan Suzy. Soohyun adalah mantan kekasihnya, walau bagaimanapun. Dan juga, Suzy adalah istrinya! Suami mana yang suka melihat istrinya selalu diperlakukan seenaknya oleh oranglain? Terutama pria masalalunya…

“Tidak bisakah kau menghargaiku sedikit saja?”

Suzy terkejut mendengar nada dingin dari Myunsgoo tersebut. oh dear…ia lupa menjelaskan lebih jauh.

“Myungsoo…”

“Aku sudah membelamu dan berusaha melindungimu. Tapi kau sengaja membobol semua itu? Aku tahu kau masih menyukainya dan dia juga begitu, tapi sekarang kau adalah istriku dan ingat…ada banyak pengorbanan yang harus kulakukan demi dirimu. Setidaknya kau harus menghargai itu…”

Mata Suzy membulat seketika, “Myungsoo. Kau salah paham.”

“Dibagian mana?”s nada dingin itu tak juga hilang, Myungsoo pun sudah berdiri dari kursinya dan menatap Suzy kesal, “Bagian kalian saling menyukai?”

“Kau kenapa? Kenapa marah-marah begitu? Myungsoo dengar. Aku bertemu rekan kerja ayahku dan Soohyun memperkenalkanku padanya saat kami tidak sengaja bertemu. Demi formalitas…bagaimanapun aku adalah putri keluarga Bae. Aku adalah adik Soohyun oppa dan seandainya Dongho disana, ia juga akan melakukan hal yang sama…”

Mendengar penjelasan Suzy, Myungsoo hanya bisa diam sambil menatap Suzy. A terbawa emosi. Dan…itu benar-benar buruk. Tapi tetap saja, ego menekan segalanya. Myungsoo tetap diam dan memutuskan untukkeluar kamar. Dan juga kembali tidur di luar kamar.

Ia butuh sendiri…

 

***

 

“Kau bertemu Suzy hari ini?”s sahut Nara tidak tertarik sambil menuangkan minumannya ke dalam gelas. Soohyun tiba-tiba mengajaknya minum dan bercerita. Dan yang membuatnya merasa sial, ternyata ini mengenai Suzy.

“Ya…” Soohyun pun mengangkat gelas minumannya, “Hari ini kami menjadi adik kakak kembali.”

Nara terkekeh meremehkan, “Benarkah? Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa.” ujarnya sarkatik.

Soohyun mendengus pelan dan meletakkan gelasnya di atas meja, “Tidak bisakah kau mendukungku sekali ini saja? Kau orang yang selalu berada dibelakangku. Rasanya aneh jika kau bersikap seperti ini.”

Nara menarik kedua sudut bibirnya dengan angkuh, “Lalu? Aku harus bagaimana? Menyorakimu seperti gadis cheer? Berteriak ‘hwaiting’ lalu mengucapimu selamat jika kau berhasil?” Nara pun ikut meletakkan gelasnya di atas meja, dan menatap Soohyun serius, “Aku selalu mengalah untukmu. Tapi aku juga ingin memperjuangkan perasaanku. Dan juga…” Nara mulai melipat tangannya di depan dada, “Kau terlalu jahat pada Myungsoo jika kau merebut Suzy darinya.”

Soohyun mengangguk pelan, ia kembali menuangkan minumannya, “Aku tidak mengerti, kenapa semua orang selalu membela tokoh protagonis. Padahal mereka begitu membosankan.”

Nara mendengus pelan, “Karena protagonis selalu memenangkan segalanya.”

Soohyun mengangguk pelan. Dadanya terasa perih mendengar kalimat Nara tersebut, seolah membentaknya bahwa Suzy tak layak menjadinya. Seolah gadis itu berteriak bahwa ia telah kehilangan kesempatannya, wlaaupun ia hampir benar.

“Aku juga ingin memperjuangkan perasaanku,” mata Soohyun pun menatap tajam mata Nara, “Sama sepertimu.”

Nara tidak terlalu terkejut mendnegarnya. Ia seharusnya mundur sejak lama. Dan sialnya, ia dipenjara kata cinta yang memuakkan. Dan yang lebih memuakkan lagi, Soohyun terjebak pada cinta yang begitu dalam pada Suzy.

Atau rasa bersalahnya pada gadis itu…

 

***

 

Pagi itu, kediaman Myungsoo mendadak kembali dingin dan kaku. Tidak. Bahkan Myungsoo merasa semuanya jauh lebih buruk ketimbang pertama kali mereka pindah kemari. Suzy selalu marah-marah padanya, dan Myungsoo akan membalas argumen Suzy.

Tapi pagi itu, semua benar-benar berebda. Dan semua terjadi tepat setelah Myungsoo mengatakan bahwa ia…akan pergi ke Korea selama beberapa hari. Dan yang membuatnya merasa bersalah, karena ia menyebut nama Naeun sebagai alasannya. Dia begitu idiot, kan?

“Jika kau ingin ikut, aku bisa membawamu juga…” Myungsoo pun angkat suara, berharap keheningan ini segera berakhir.

Suzy mendengus kasar dan membanting garpunya kasar, “Kau menuntutku soal hak mus ebagai suami. Dan kau sama sekali tidak menghargai perasaanku? Kau kira, sikapmu itu bagus? Kau suamiku sekarang. Kau kira hanya kau saja yang berkorban? Bahkan aku meninggalkan Jong In demi dirimu!” mara Suzy tak terima.

Ahang Myungsoo langsung mengeras seketika.

“Kau ingin membandingkanku dengan bajingan itu?”s

Suzy tertawa sinis, “Bajingan? Asal kau tahu, bajingan yang kau sebut-sebut itu jauh lebih peduli, menyayangi dan menghargaiku. Dia jauh lebih mengerti diriku dibandingkan dirimu. Kauukira kau bisa membandingkan dirimu dengan Jong In? kau bahkan tidak mengenalnya.” Suzy pun kembali mengambil garpunya, “Harusnya aku tidak menolaknya. Atau mungkin setidaknya aku pernah tidur dengannya? Alasan bagus agar aku bis amenikah dengannya, dan bukannya dengan pria asing sepertimu.”

Cukup! Myungsoo benar-benar kehabisan kesabaran. Ia benci Suzy menyebut nama Jong In. ia benci dibandingkan dan dikatai tidak lebih baik dari bajingan itu.

Myungsoo pun mendekat ke arah Suzy dan menarik lengan Suzy dengan kasar hingga gadis itu berdiri, “Kau menantangku?!” desis Myunngsoo tajam dan langsung melumat bibir Suzy kasar. Tidak peduli dengan erangan dan penolakan gadis itu.

Ia ingin membuktikan pada Suzy, bahwa Suzy adalah miliknya dan tidak akan pernah bisa kembali pada Jong In atau pria manapun diluar sana yang menginginkan gadisnya. Egois? Persetan! Ia tidak pedulid engan semua luka hatinya dan sisa perasaannya terhadap Naeun. Ia jauh lebih tidak sudi jika harus membiarkan Suzy lepas begitu saja setelah semua apa yang ia korbankan demi gadis ini…

Dan Suzy harus bertanggung jawab karena telah membuatnya merasa terikat oleh gadis itu…dan tak ingin kehilangan gadis itu barang sejengkalpun.

 

***

 

Naeun bersungut sebal pada suster yang berceramah soal minum obat. Ayolah, ia bukan lagianak kecil. Ia tidak peduli jika ia sakit atau sehat. Ia tidak butuh semua itu. Ia…ia hanya perlu sendiri danmenenagkan hatinya. Dan bukan sama sekali obat yang selalu disodorkan padanya.

Dan Naeun hampir membuang kembaliobat-obat itu saat sebuah tangan kekar menahan lengannya. Naeun sempat terkejut. Ia tidak mengenal pria asing yang tiba-tiba berada di ruang inapnya dan menahan lengannya seperti sekarang, lalu dengan memaksa ia mengambil obat itu.

”Kau siapa?”s tanya Naeun takut-takut. Berbagai pikiran buruk langsung menyerbunya tanpa ampun. Penjahat? Perampok? Penculik? Pembunuh?

“Kalau kau tidak mau minum obat, kau jangan sakit.”

Naeun menyipitkan matanya, apa maksud pria itu?

Belum sempat Naeun beraksi, pria itu menyodorkan segelas air putih dan obat yang hampir dibuang oleh Naeun tadi.

Bukannya menerima, gadis itu membuang mukanya sambil tersenyum sinis, “Kau kira kau siapa bisa memaksaku seperti itu? Kubilang tidak mau ya tidak.”

“Namaku Kim Jong In. dan akuh arap kau mau meminum obat ini.” Jong In masih kukuh menyodorkan obat itu pada Naeun.

Dan Naeun masih kukuh diam, menolak meminum obat itu.

“Aku benar-benar tidak mengenalmu Kim Jong In-ssi. Maka dari itu pergilah, jangan ganggu aku.”

“Aku akan berhentijika kau mulai minum obat ini.”

“Kau…kubilang tidak ya tidak!” bentak Naeun kesal. Lagipula pria itu kira dirinya siapa? Saling kenal saja tidak dan tiba-tiba memaksanya minum obat.

Jong In menyeringai, “Kau yang memaksaku melakukan ini.”

Naeun mengerutkan dhainya ketika pria berambut coklat itu memasukkan obat yang harusnya diminum Naeun ke mulutnya, kemudian ia meminum air yang tadi disodorkan padanya. Tunggu…pria itu bukan meminumnya.

Naeun sangat terkejut ketika dengan kurangajarnya pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Naeun dan langsung menempelkan bibirnya di bibir Naeun. Dan yang terparah, pria itu menggigit bibirnya dan memasukkan obat yang berada dimulutnya ke mulut Naeun. Dan yang lebih gila, pria itu terus tidak juga menjauhkan dirinya dari Naeun sebelum Naeun menelan obatnya.

Menjijikkan.

Dan setelah menjauh, Naeun langsung emnampar pria itu keras-keras. Ia kehabisan kata-kata hanya untuk membentak pria mesum yang tiba-tiba masuk ke kemarnya itu.

Dan bukannya meminta maaf, Jong In justru tersenyum dan menatap tajam ke arah Naeun, “Kau memerlukan obat. Bukan memerlukan Myungsoo. Kau dan aku…kita sama. Aku sangat iba pada kakakmu yang terus mencari cara untuk membawa Myungsoo kehadapanmu. Dan sayangnya aku tidak menghendaki itu.”

Naeun tertegun saat mendengar penuturan Jong In.

“Kau…”

“Kau harus minum obatmu. Atau tidak, aku akan melakukan hal yang sama jika kau tidak mau minum obatmu. Myungsoo bukan segalanya, kau masih memiliki keluarga yang harus kau perjuangkan setelah mereka memperjuangkanmu. Jangan kekanakan. Lagipula apanya yang Myungsoo suka dari bocah sepertimu.”

Dan setelah Jong In pergi, Naeun baru berteriak merutuki pri agil ayang tiba-tiba masuk ke kemaranya dan melakukan tindakan tidak senonoh itu! Gila! Pria sinting! Awas saja jika diakembali, Naeun tidak segan untuk menusuknya dengan pisau!

 

***

 

=TBC=

23/05/14 08:55PM

Iklan

8 thoughts on “To You (14)

  1. Bener2 kesel dengan sikap egois Myungsoo, dia marah saat Suzy berhubungan dengan pria lain, tapi dia sendiri masih terus memikirkan Naeun. Semoga Suzy baik2 saja dan tidak harus mengalami kesedihan.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Thor maaf aku br komen disini hehe aku br baca skg dr 1-14!♥
    cerita seru. Mereka berdua udah saling terikat skg. Suzynya mulai butuh myung. Myungnya makin terikat sm suzy jg.
    lanjut thor!!

    Suka

  3. Kisah.a benar” membuat kepalaku pusing suzy dan soohyun yg msih saling mncintai ,myungsoo dan naeun yg jga msih sling cinta
    dan jga myungzy yg tanpa mereka sadari kini sudah mulai tumbah rasa suka diantara mereka
    aisshh tpi gk tw knpa q lebih sebel sma hubungan myungpa dan si naeun ,gk rela rasa.a klo myungpa sma yg lain ,egois? Ya sebut saja begitu.kekekek
    Smoga hubungan myungzy semakin dekat dan smoga jga jong ini bisa membuat si naeun gk mncari-cari myungpa.
    Next.a ditunggu thor Fighting

    Disukai oleh 1 orang

  4. Gegara Myung yg mash mikirin Naeun dan egois, padhl Suzy udah brusaha mnerima dan mnghagai Myung sbgai nampyeonny, aku malh lbh ngebela Jong In yg lbh pngertian dan punya pmikiran dwasa walau sikapny agak arogan dan liar, dari pada Myung diam2 mash ingt dan kangn ama Naeun, bukankah itu sama saja dngan slingkuh scara tak langsung?
    Kalo gni trus mnding Suzy ama Jong In aja dh, males dngan sikap labil Myung! Lol
    next Thor!
    Keep hwaiting! ^^

    Suka

  5. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xia Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s