To You (15)

-part 15-

“Kau gila?! Apa yang kau lakukan pada Naeun…dan, astaga Kim Jong In!”

Jong In tidak terlalu terkejut ketika Jiyeon tiba-tiba muncul di kantin rumah sakit dan menampakan wajah dramatisnya. Entah soal apa, tapi pasti ada satu hal yang membuat Jiyeon mau repot-repot mencarinya –atau mereka hanya kebetulan bertemu mengingat Jiyeon bekerja sebagai apoteker di rumah sakit ini.

Jiyeon pun duduk berhadapan dengan Jongin, dia menatap Jongin serius dan mendnegus sekalilagi sebelum melipat tangannya di atas meja, persis seperti anak TK yang diberi interupsi duduk rapi.

“Apa yang kau lakukan pada Naeun, huh?” Jiyeon membuka pembicaraan dengan lagak interogasi.

Jongin awalnya sedikit menautkan alis untuk mengolah nama Naeun diotaknya, namun detik berikutnya ia menarik kedua sudut bibirnya –menyeringai tipis, kemudian ia memasukan kembali satu suapan makanan yang dipesannya. Ia kira, Jiyeon akan membicarakan hal serius. Tapi ternyata gadis itu datang dengan hal tersepele.

“Jong In…”

“Menyuruhnya minum obat.” Jawab Jong In enteng. Kemudian ia menatap mata Jiyeon yang masih menatapnya tajam, “Lalu? Apa yang salah? Apa masalahmu?”

“Kau menciumnya dan…Kim Jong In. kau bias mati di tangan kakaknya. Gadis itu mengadu semua yang kau lakukanpada kakaknya. Bisakah kau tidak bertingkah disini?” tatar Jiyeon dengan nada kesalnya. Ia tak habis pikir bagaimana bias Suzy memperkenalkan seorang pria mesum yang brengsek dan kurang ajar ini.

Ugh. Adakah gelar yang lebih cocok untuk pemuda yang seumuran dengannya ini?

Jongin hanya mendengus malas mendengar penuturan Jiyeon. Berlebihan –menurutnya. Ia tidak memperkosa gadis itu. Salahkan gadis itu yang tidak mau minum obat. lagipula apa sulitnya untuk minum obat?

“Aku tidak takut dengan pria tengik itu.” Sahut Jongin lagi-lagi dengan nada enteng dan lagi-lagi membuat Jiyeon semakin kesal, tapi dengan cepat Jongin menyela, “Kau kira aku mencium gadis itu suka rela? Mencium orang sakit…astaga, mungkin setelah ini aku harus memintamu untuk membuatkanku obat untuk menghindari virus gadis itu,” Jongin terkekeh, merasa geli mengingat kejadian tadi, “Lagipula apanya yang harus dibanggakan dari ciuman tadi? Dia sama sekali bukan tipeku. Bahkan gitar saja lebih sexy dari tubuhnya yang kurus itu…aw! Yak! Kau kenapa memukulku?!” Jongin melotot kea rah Jiyeon yang baru saja melayangkan tangannya ke kepala Jongin.

“Dasar sinting!”

Jongin lagi-lagi menyeringai, “Atau kau ingin mencobanya denganku? Atau kau sudah benar-benar berpacaran dengan si idiot Chanyeol itu?”

Dan naas, lagi-lagi satu pukulan melayang ke kepala Jong In.

 

***

 

“Aku tidak bisa datang.” Sahut Suzy ketus pada seseorang di sebrang sana. tangan wanita itu sibuk dengan gagang telepon rumah dan tangan yang satu sibuk mengecek sebuah majalah yang tergeletak di sisi telepon tersebut. Sebenarnya tidak ada yang menarik minat Suzy, terlebih disana hanya ada bahasa Inggris yang membuatnya mual walaupun hanya ia lirik. Tapi ada nama Soohyun, dan entah kenapa Suzy justru malah tertarik untuk melihat isi majalah yang ternyata majalah bisnis tersebut.

“Kau putri kandung keluarga Bae. Kau harus datang. Kita adik-kakak, ingat Suji-ya…” ucap si penelepon dengan nada tegas.

Tidak ada lagi perasaan gugup atau apapun yang mengganggunya. Napasnya tidak tiba-tiba tercekat, dan degup jantungnya bisa dikatakan normal. Meskipun ia masih merasa terusik saat harus mengingat apalagi menyebut nama itu. Kim Soohyun. Dan entah mengapa, sebisa mungkin ia selalu ingin menghindari nama itu.

Suzy mendengus pelan dan melirik ke arah pintu kamar yang terbuka dan menampakan sosok Myungsoo disana. Dan tepat ketika mata Myungsoo berlari ke arah mata Suzy, Suzy buru-buru mengalihkan pandanganya. Kemanapun, asal jangan mata itu…

“Suzy?” Suzy tersentak ketika Soohyun memanggilnya.

“Tidak Oppa. Aku tidak bisa. Lagipula…”

“Kau ingin membuat semua orang bertanya-tanya, hmm? Kau boleh membawa Myungsoo. Aku juga sudah mengatakan jika kau sudah menikah.”

Dan untuk yang kesekian kali, Suzy kembali mendengus. Entah kenapa ia selalu merasa apa yang Soohyun katakan terasa konyol dan perlu dikoreksi. Tentu saja Suzy seharusnya tidak keberatan untuk datang ke acara apapun yang berhubungan dengan ayahnya –walau hubungan Suzy tidak sebaik itu dengan ayahnya.

Tapi ia tidak akan melupakan bagaimana kakunya ia terhadap Soohyun. Mungkin saja Soohyun bisa berakting sempurna didepan semua orang. Tapi Suzy? Ia pasti akan terlihat konyol dan tolol. Belum lagi jika ia harus bertemu dengan Nara. Astaga…rasanya ia baru saja diseret masuk ke dalam black hole, atau semacam kenangan pahit di masalalunya.

Masalalu? Baik. Itu masalalu. Dan silahkan tertawakan Suzy yang terlalu dramatis menghadapi masalalunya.

Masalalu yang mengejarnya.

Dan tak pernah berhenti menemuinya dimasa depan.

“Suzy?”

“Nanti kuhubungi lagi.”

Suzy pun menutup telponnya, dan tak lupa menutup majalah yang sejak tadi dibukanya. Soohyun ternyata orang terkenal di London. Seorang pemuda yang dulunya lebih suka pergi dengan teman-temannya, minum alcohol dan berdansa di atas dance floor club malam, sekarang adalah seorang yang terkenal dengan kejeniusan bisnisnya.

Tidak dapat dimengerti. Suzy yang merasa dirinya adalah korban dari Soohyun dan hampir sejalan dengan Soohyun, justru terdampar dalam dendam dan sekarang terikat dengan seorang pria yang tidak terlalu seru…

Meskipun Suzy sudah mengubah pandangannya sekarang. Walau sedikit.

”Siapa?” Suzy terkesiap ketika mendapati Myungsoo tengah berdiri dibelakangnya dengan tangan terlipat di depan dada.

Sial sekali, harusnya ia bisa bersikap angkuh seperti biasa..tapi layaknya itik yang bertemu angsa. Ia malah hanya bisa membuang muka, terlihat sangat payah, kan? Dan sekarang pikiran dan perasaannya terganggu karena kejadian kemarin pagi.

Oke. Jangan mengingatnya lagi Bae Suzy. Walaupun ia berhasil ‘mendapatkanmu’, kau tidak boleh mudah terpengaruh. Dan entah sejak kapan Suzy selalu was was tiap kali berhadapan dengan Myungsoo. Meskipun tidak melabelkannya sebagai sebuah pertengkaran, tapi Suzy terlalu tidak siap untukbersikap biasa saja. Atau hanya sekedar berteriak seperti membangunkan Myungsoo di pagi hari seperti dulu…

“Soohyun.” Sahut Suzy akhirnya. Dengan nada yang sangat datar, atau dibuat-buat datar. Ia sendiri tak yakin.

Dan mendengar nada bicara Suzy, Myungsoo merasa benar dengan tebakannya. Suzy menghindarinya. Padahal, ia kira ia akan bertengkar dengan Suzy lagi. Tapi ternyata tidak, bahkan saat menyentuhnya kemarin, Suzy tidak melakukan perlawanan lebih…entahlah. Entah apa yang ia pikirkan dan ia tebak mengenai Suzy.

Suzy pun melengos pergi. Entah kemana. Suzy juga tidak tahu harus melakukan apalagi mengingat ia tidak punya tugas rumah apapun pagi ini. Dan akhirnya ia memilih untuk duduk di atas sofa dan menyalakan televisi.

“Apa katanya?” Myungsoo pun mengikuti Suzy dari belakang, dan dengan ragu ia ikut duduk di samping Suzy.

Ini sangat kaku memang. Dan harusnya Myungsoo tidak perlu merasa seperti itu –tapi sayangnya, secara naluriah ia tetap bersikap kaku. Dan lagi, ia dan Suzy lebih sering cekcok ketimbang bicara baik-baik seperti sekarang ini.

“Rekan ayah mengundang kami untuk datang ke pestanya. Ia mengira hubunganku dan Soohyun…” Suzy pun menggantung ucapannya. Entah kenapa ia merasa tidak benar untuk mengucapkan itu pada Myungsoo meskipun pria itu sudah tahu separuh ceritanya mengenai Soohyun.

Myungsoo menautkan alisnya ketika Suzy tiba-tiba urung bicara. Ia tidak merasa ada yang salah dengan ucapan Suzy. Ia tahu. Ia mengerti. Bahkan bahunya sudah ia pinjamkan untuk menjadi tempat bersandar Suzy.

Tapi setelah itu, Myungsoo mengerti. Ya. Walaupun sedikit…

“Kukira aku akan tetap pergi ke Korea. Aku…harus menyelesaikannya.” Myungsoo harap Suzy akan memberikan sebuah reaksi, apapun itu. Tapi ternyata tidak. Gadis itu tetap hening, persis seperti keheningan yang mereka ciptakan sekarang. Sejalan dengan kekakuan mereka berdua.

“Dan…maaf untuk kejadian kemarin…” sambung Myungsoo lagi. Dan ia berani bersumpah, ia butuh reaksi Suzy. Apapun itu.

Dan ia berjanji, setelah ini ia akan memperbaiki hubungannya dengan Suzy. Meskipun ia harus menenggelamkan nama Naeun untuk selamanya.

 

***

 

“Dia memanggilku ‘oppa’,” adu Soohyun dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Matanya terlihat terang, menunjukan betapa cerahnya perasaan pria itu di tengah gelapnya langit London hari itu.

Nara yang mendengarkan tidak merespon, juga tidak balas tersenyum. Ia sudah mengatakannya, ia menyukai Soohyun dan jika perlu, ia akan mengatakan bahwa ia cemburu dengan kehadiran Suzy yang lagi-lagi merebut perhatian Soohyun.

Ia kira ia sudah berhasil merengkuh hati Soohyun. Tapi ternyata salah. Membutuhkan dan mencintai, 2 kata kerja yang berbeda. Dan mungkin, mau tak mau akhirnya Nara harus mengakui bahwa perbedaan itu tetaplah perbedaan yang menjadikan tembok pembatas bagi Soohyun dan Nara.

“Dan beberapa menit lalu ia setuju untuk ikut denganku, kurasa hubunganku dan Suzy akan kembali membaik…” Soohyun kembali berceloteh. Entah ia memang tidak tahu dengan kerisihan Nara atau memang sengaja untuk tidak mau tahu. Ia benar-benar mengabaikan perasaan Nara –untuk sebuah kenyataan bahwa Soohyun tahu perasaan Nara.

“Menurutmu, apa yang akan terjadi berikutnya? Takdir penuh kejutan…”

“Myungsoo dan Suzy akan memiliki anak, kemudian memiliki keluarga kecil yang bahagia.” Sela Nara cepat. Dan dengan cepat pula ucapan gadis itu menghentikan pergerakan Soohyun, membuat mata pria itu mau tak mau akhirnya menatap Nara.

“Kau tahu, bukan itu yang ingin kudengar…”

“Lalu apa? Kau ingin merebut dari Suzy? Lalu mengatakan pada ayahnya bahwa kau ingin menikahinya? Jangan bercanda Soo,” Nara pun dengan acuh menyuapkan makanannya. Sekarang ia yang berlagak tidak peduli pada Soohyun yang sudah menampakan wajah masamnya.

“Kau mengatakannya seolah aku penjahat,”

“Jika itu memang kebenarannya?”

“Jadi, apa yang kau inginkan dariku?” Tanya Soohyun kemudian. Begitu kentara dengan nada frustasinya. Ia tahu, Nara takkan segan meninggalkannya seandainya ia melakukan satu kesalahan fatal dimatanya.

Nara hanya mengedikkan bahunya, “Mungkin tidak mencintaimu lagi.”

“Nara…”

“Aku bertahan karena aku mencintaimu, Soo. Dan aku bisa berhenti. Entah kapan…atau mungkin tidak akan pernah sama sekali.”

 

***

 

Maybe I’m hurting your heart. Sorry. I promise, after this I’ll be back for you. And I’ll make you happy with me. Forever…

 

Tidak. Suzy sama sekali tidak mengucapkan apapun ketika Myungsoo pergi ke bandara. Suzy bahkan tak membantunya untuk menyiapkan apapun. Jangankan untuk itu, bahkan Suzy enggan menatap matanya walau hanya sedetik.

Myungsoo sendiri tidak tahu apa yang membuat Suzy seperti itu. Dan jangan bahas mengenai perasaannya sebagai istri. Myungsoo tahu, ia egois. Sangat sangat egois. Tapi ia juga harus menyelesaikan masalahnya dengan Naeun. Menghindarinya, sama sekali tidak akan menyelesaikan apapun.

Menemuinya dan menyelesaikannya. Sungguh, Myungsoo hanya merencanakan itu semua saat menginjakan kakinya di Korea. Setelah itu, ia akan kembali ke London –tidak. Mungkin ia akan membawa Suzy pulang kembali ke Korea. Bagaimanapun Suzy tidak terlihat menikmati London. Ia harus membahagiakannya. Harus.

“Suzy-ya, aku…”

Braak!

Myungsoo tersenyum miris. Ia tidak ingin menebak ini…tapi mungkin Suzy cemburu. MUNGKIN. Ia tidak tahu kebenarannya, kan? Ia mengecewakan Suzy. Dan bukannya menyelesaikan masalahnya dengan Suzy, ia malah meniduri Suzy yang ternyata sama sekali tak menyelesaikan duduk permasalahan mereka.

 

***

 

Suzy memperhatikan dirinya sekali di depan cermin. Ia sebenarnya tidak pernah seperti ini –berkali-kali mematut diri di cermin dan memberi penilaian terhadap penampilannya. Sebelumnya, ia memang pernah datang untuk sebuah acara pesta soal bisnis. Dan itu dulu, saat ia masih menjadi seorang mahasiswi. Ayah tirinya yang merupakan pebisnis sering sekali menghadiri acara semacam ini.

Dan semenjak bekerja, ia mulai menjauh dari pesta-pesta seperti itu. Entah kenapa ia merasa sudah cukup dewasa dan tidak perlu mendatangi pesta-pesta tak berguna semacam itu. Meskipun kadang, akhirnya ia berhasil dipaksa datang jika Dongho yang sudah memaksanya. Ia pernah mengatakannya, kan? Jika Dongho bisa mengaturnya dengan bik, padahal ia merasa tak pernah begitu dekat dengan lelaki dengan sikap dingin itu.

Dan entah karena ia akan datang dengan embel-embel gelar ‘Bae’ atau karena ia akan bertemu Soohyun, ia kelewat tertarik untuk membuatnya terlihat sedikit menarik. Sungguh, hanya sedikit. Ia sudah terlihat menarik –menurutnya, juga menurut Jong In. pria itu tak pernah menuntut banyak. Ia selalu berkata apapun yang berhubungan dengan Suzy, semua terlihat…manis.

Oh yeah~ mendadak ia merindukan ‘teman’nya itu. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Entah kesibukan apa yang tengah ia jalani, ia begitu penasaran mengingat begitu keras kepalanya pemuda itu.

Suzy pun mengakhiri lamunannya setelah menegakkan punggungnya. Ia tersenyum manis pada bayangannya sendiri di hadapan cermin. Kali ini, ia harus bersikap sedikit dewasa. Bagaimanapun ia sudah menikah dan tidak mungkin ia bersikap seperti gadis lajang seperti dulu…oh! Sejak kapan Suzy peduli pada pernikahan ini?

Suzy pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

Ia harus melupakan sejenak soal kemarahannya pada Myungsoo, dan menghapus sedikit rasa dendamnya pada masalalu. Setidaknya…untuk hari ini.

 

***

 

Soohyun tampak takjub ketika melihat Suzy menginjakkan kakinya di sebuah ruangan besar yang juga dipadati oleh banyak orang-orang penting. Gadis itu masih terlihat sama, mengingatkannya pada masa lalu ketika ia dan Suzy masih menjadi remaja labil yang berpikir ‘love is everything’. Dan satu hal lagi yang membuat bibir Soohyun tertarik sempurna dan mengalahkan cahaya lampur di ruangan tersebut, Suzy benar-benar datang yang artinya, hubungan mereka bisa sedikit berubah normal kembali.

“Kau datang?” sapaku pada Suzy dengan nada seolah-olah mereka tak pernah memiliki masalah apapun. Walaupun ada ceruk kekecewaan yang terbentuk saat Suzy hanya menatapnya agak tajam.

Dan mungkin inilah yang membuat Suzy berbeda dengan Suzy remaja…Suzy tak lagi menatap semangat ke arahnya. Suzy menghindarinya dan selalu membuat suasana diantara mereka menjadi canggung. Dan sangat bodoh jika Soohyun berharap Suzy tidak bersikap itu terhadapnya…

“Kau yang memintanya, kan?”

Dan satu lagi. Dia akan berbicara ketus pada Soohyun.

Tapi Soohyun tak ingin mempermasalahkannya lebih panjang, ia pun menarik keuda sudut bibirnya lagi, “Kalau begitu ayo, kau harus bertemu beberapa orang…”

 

***

 

Tidak terasa, Suzy sudah menghabiskan setengah jam waktunya disini. Ia juga tidak menyangka, ia akan terus berjalan berdampingan dengan Soohyun dan terlihat relax saat Soohyun merangkul pundaknya.

Sebenarnya, ada bagian dala dirinya yang menolak semua perlakuan Soohyun. Tapi tidak. Ia tidak melakukan apapun dan malah terlihat menikmatinya. Dan diam-diam, ia merasakan sebuah rindu kembali terukir…

Entah rindu seperti apa, yang ia tahu ia benar-benar merasakans ebuah rindu yang sangat kuat.

Mungkin karena dulu Soohyun adalah bagian terpenting hidupnya. Mungkin karena Suzy selalu menganggap Soohyun adalah kompasnya…

Dan hari ini, ia seperti bertemu dengan Soohyun yang lama. Melihat senyum itu, tawa itu, suara itu, ia menyukai semua yang Soohyun miliki…

“Kau masih menyukainya?”

Suzy terperanjat kaget saat Nara tiba-tiba muncul dengan sebuah gelas yang berisi cairan ungu du dalamnya. Suzy hanya bisa mendengus pelan, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana pada ‘sahabat’nya ini. Karena disbanding kebenciannya terhadap Soohyun, ia jauh lebih tidak menyukai gadis dihadapannya itu.

“Haruskah aku menyukainya selama itu?” balas Suzy sesantai mungkin. Ia tak boleh gentar. Ia wanita dewasa sekarang. Bukan lagi gadis SMA yang masih mengulurkan tangan untuk meminta tolong.

Nara tersenyum sinis, “Benarkah? Kalau begitu kau mengecewakan Soohyun. Karena dia menyukaimu selama itu.”

Suzy setengah terkejut mendengarnya. Tidak tahu. Ia benar-benar tidak tahu harus bereaksiseperti apa dan memberikan respon apa. Seperti orang bodoh, ia hanya mematung dan terus menatap ke arah Nara, sedikit berharap Nara mau melanjutkan ceritanya.

Nara pun menggoyangkan sedikit gelasnya, “Kau mengenal Soohyun sama baiknya denganku mengenalnya.” Dan Suzy sedikit merasa gentar ketika mendapati mata Nara yang terarah padanya, “Berhati-hatiah Sooji. Kau tahu bagaimana nekatnya Soohyun jika sudah menginginkan sesuatu.”

“Apa maksudmu?”

Dengan menyebalkan, Nara hanya mengedikkan bahunya, “Kau tidak bodoh Soo. Aku hanya bisa memperingatkanmu.”

 

***

 

“Tapi aku harus pulang. Aku tidak bisa…”

“Kau tidak percaya padaku?” Tanya Soohyun dengan nada tersinggung yang membuat mulut Suzy terkatup.

“Aku hanya khawatir padamu Suji. Diluar hujan. Dan kau tahu perjalanan dari tempat ini ke apartemenmu memakan waktu cukup lama. Menginap di hotel hanya semalam takkan menjadi masalah, kan? Lagipula Myungsoo sedang pergi ke Korea.” Timpal Soohyun lagi untuk meyakinkan Suzy.

Suzy sebenarnya tidak ingin tidak percaya pada Soohyun. Tapi kalimat yang Nara ucapkan terus saja berputar-putar dikepalanya, seolah memberi interupsi bahwa Soohyun….entahlah. ia tidak tahu bahwa Soohyun kenapa. Tapi ucapan Nara dapat dibenarkan, soal Soohyun yang selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Apapun…

Tapi harusnya kebenaran itu tidak ada hubungannya dengan Suzy, kan?

“Suji…”

“Tapi aku…”

“Dengarkan aku kali ini saja sebagai kakakmu, oke?”

Harusnya Suzy risih ketika kedua tangan itu menyentuh pundaknya, harusnya Suzy merasa tidak nyaman ketika Soohyun meyakinkannya dengan menatapnya seperti itu…tapi tidak. Hati kecil Suzy tidak menolak. Ia tidak menyalahkan tapi tidak juga membenarkan. Seorang kakak…ya. Soohyun adalah kakaknya. Sama seperti Dongho. Walaupun ada perbedaan jelas diantara mereka. Dan jika disuruh untuk memilih, Suzy tentu akan memilih percaya pada Dongho…tapi dia tidak disini dan Soohyun lah kakaknya saat ini.

“Baiklah,”

 

***

 

Myungsoo mengangkat kepalanya dan menghirup oksigen sebanyak ia bisa. Dan perlu diakui, Myungsoo begitu merindukan tanah yang kini dipijaknya. Udara yang selama ini ikut membesarkannya, dan juga aroma khas Korea yang khas.

Dan disana pula otaknya ditusuk kenangan lama. Pertemuan terakhirnya dengan Naeun yang bisa dikatakan tidak terlalu menyenangkan. Baiklah. Ia tahu dan ia mengerti. Bagaimana mungkin secepat itu Naeun melupakannya setelah tahun-tahun yang mereka lewati?

Ia kira, ia juga akan sama menderitanya seperti Naeun, atau mungkin lebih. Tapi diluar dugaannya, Myungsoo justru terlalu cepat –sangat sangat terlalu cepat untuk melupakan Naeun dan menerima kenyataan bahwa kini ia terikat dengan Suzy.

Harusnya itu bagus. Dan Myungsoo sama sekali tidak keberatan jika dirinya bisa menerima keberadaan Suzy dengan cepat. Dan harusnya disaat bersamaan ia tidak menyakiti pihak manapun. Myungsoo akui ia juga masih menyimpan perasaan terhadap Naeun, tapi ia tidak berpikir sejauh mana ia akan menyakiti gadis itu setelah ia mengiming-imingi gadis itu dengan kata cinta. Tidak. Bukan hanya sekedar kata. Tapi benar-benar cinta.

Myungsoo mencintai gadis itu, sangat mencintainya…dulu. dan ia rasa, Naeun juga berhak menemukan lelaki lain yang lebih baik dan tidak akan mengkhianatinya seperti yang Myungsoo lakukan.

 

***

 

Myungsoo tidak langsung datang ke apartemen lamanya. Ia memutuskan untuk langsung datang menemui Naeun. Persetan dengan masalah waktu atau peraturan rumah sakit. Ia hanya perlu melihat wajah naeun.

Dan tiba-tiba saja, napas Myungsoo tercekat ketika retina matanya menyentuh daun pintu yang tertutup rapat dengan papan nama ‘Sonh Naeun’ disampingnya. Dan rasa sakit itu langsung menjalar sempurna ke dadanya ketika jemari Myungsoo menyentuh gagang pintu tersebut. ini gila. Tapi inilah kenyataannya. Semua kenyataan mengenai perasaan dan pikiran yang sengaja ia timbun.

Dan yang lebih sial, Myungsoo melupakan bagaimana keyakinannya mengenai ia yang akan membahagiakan Suzy…

Dan entah sejak kapan Myungsoo sudah mulai memasuki ruangan yang agak gelap tersebut. mungkin Naeun sudah tidur. Tentu saja. Kenapa ia harus disambut oleh Naeun? Ia mendadak merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia yang tak bisa mempertahankan Naeun tiba-tiba datang dan merengkuh harapan kosong untuk gadis itu.

“Oppa? kau datang? Aku…”

Tubuh Naeun langsung membeku ketika mendapati sosok lain di hadapannya. Ia kenal siapa pemilik tubuh itu. Siapa yang memliki tatapan itu. Dan pasokan oksigennya tiba-tiba menipis ketika Myungsoo langsung menghambur ke arah Naeun tanpa memberikan izin pada gadis itu untuk sempat memberi reaksi.

Dan detik berikutnya, tangis Naeun pecah di balik pundak Myungsoo. Kenapa Myungsoo harus datang? Kenapa Myungsoo menemuinya lagi? apa tidak cukup laki-laki itu membuatnya menderita? Laki-laki itu membuat perjuangan Naeun untuk melupakannya sia-sia.

“Mianhae…Mianhe Naeun-a…”

 

=TBC=

 

21/06/14 01:00Pm

Iklan

4 thoughts on “To You (15)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xia Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s