To You (17)

-part 17-

 

Suzy menggigit bibir bawahnya saat Dongho tiba-tiba datang ke apartemennya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Dan yang lebih ‘manis’, dia memaksa menerobos masuk dengan alasan ingin menengoknya dulu sebelum ia kembali ke Korea besok.

Sebenarnya tidak buruk. Ia sama sekali tidak keberatan kalaupun Dongho ingin menginap di apartemennya sekalipun –meskipun disini hanya terdapat satu kamar. Tapi bukan itu masalahnya. Melainkan sejak pertemuan mereka kemarin, Dongho terus saja bertanya soal Kim Myungsoo. Itu amat sangat mengganggunya karena Myungsoo tidak ada di tempat.

Tidak lucu kan jika Suzy mengadu jika Myungsoo kembali ke Korea untuk sementara –meskipun ia sudah tak mengabarinya beberapa hari- dengan alasan karena mantan kekasihnya sakit keras dan Myungsoo mengkhawatirkannya. Dan yeah, ini hanya opininya. Ia tidak ingin membenarkan semua alasan kepergian Myungsoo ke Korea.

“Tidak ada foto pernikahan kalian?” tanya Dongho sambil menatap Suzy bingung. Dalam bayangannya,s etidaknya ada satu foto mereka yang akan terpajang dis alah satu dinding apartemen itu. Tapi ternyata apartemen itu tidak memiliki gambar apapun mengenai Suzy dan Myungsoo.

Suzy hanya mendesah pelan sebelum menggeleng, “Sudah kukatakan, kami tidak seakur itu…”

“Kau yakin?” tanya Dongho tak yakin. Ini agak sedikit aneh.

Dongho melanjutkan langkah kakinya dan berjalan menuju sebuah kamar. Suzy sebenarnya tidak perlu panik, ia tidak merasa perlu memiliki privasi dengan Dongho. Tapi entah kenapa hati kecilnya menjerit berharap Dongho urung dengan niatnya.

Dan sayangnya, itu hanya angannya belaka. Dongho tetap membuka pintu ruangan itu. Ruang tidur Myungsoo dan Suzy. Dan lagi-lagi Dongho menautkan alisnya bingung. Ia kembali menoleh ke arah Suzy.

“Kau…baik-baik saja dengan Myungsoo?”

“Ne?”

Dongho mendengus pelan, “Rumah tangga kalian terlihat tidak normal. Mana Myungsoo? Apa sore-sore begini dia juga bekerja?”

Suzy terdiam sambil memandang ke arah lain. Entah apa. ia ragu dengan segala jawaban yanga kan ia ajukan pada pertanyaan Dongho. Hanya saja satu hal pasti, ia tidak mungkin tidak menjawab pertanyaan Dongho.

“Bae Sooji.”

“Dia…”

“Ya, dia…?”

“Dia sedang berada di…Korea.”

Untuk beberapa saat, Dongho terdiam dengan mata tajamnya yang terus menusuk ke arah Suzy. Mencerna kalimat “Myungsoo berada di Korea”.

“Untuk apa? kenapa dia di Korea dan kau disini? Dia ada pekerjaan? Kau tidak ikut?”

Harusnya Suzy bisa mengadu segala hal yang membuatnya kesal terhadap Myungsoo. Ya. harusnya ia bisa menjadi Suzy yang dulu. lagipula bagus kan jika Dongho tahu semuanya? Artinya, ia tidak akan lama-lama terjebak dengan pernikahan yang sejak lama ia cap konyol ini.

Tapi tidak. Lidahnya kelu dan hati kecilnya melarang untuk merusak nama baik Myungsoo dihadapan kakaknya. Ada ketidakrelaan dan sebuah keharusan yang meminta Suzy untuk melindungi Myungsoo. Suzy tidak tahu kenapa.

“Suzy…”

Dan yang lebih buruk, ia tidak bisa mengelak apapun pada Dongho. Dan kalaupun Suzy berbohong, Dongho akan tahu dan akan langsung menerka semua hal buruk mengenai dirinya dan Myungsoo –yang harusnya bukan masalah sama sekali.

“Dia…dia menemui mantan kekasihnya.”

“Apa?”

Kaki Suzy sedikit melemas. Reaksi nada marah itu benar-benar mengganggunya.

“Dia harus menyelesaikan sesuatu. Gadis itu sakit dan membutuhkan Myungsoo…”

“Dan kau membiarkannya pergi?”

“Dongho…”

“Kau benar-benar membiarkannya pergi?! Jinjja baboya!”

 

***

 

“Sudah dengar? Hari ini Suzy akan kembali ke Korea.”

Soohyun mendongak ke arah Nara yang baru saja tiba di ruangannya. Ia sedang sibuk sekarang, dan ia hampir marah-marah karena Nara masuk dan membahas masalah pribadi. Tapi ternyata ini jauh lebih penting dari pekerjaan yang ditekuninya sekarang.

“Kenapa bisa?” tanya Soohyun dengan nada terkejut yang kentara. Membuat Nara terkekeh malas. Malas dengan semua tingkah berlebihan Soohyun yang ditujukan untuk Suzy.

“Dongho datang. Dan entah apa yang terjadi, semuanya sangat mendadak. Itu informasi yang kudapatkan.”

Soohyun pun meletakkan semua berkasnya dan menatap kosong ke arah lantai. Tidak. Semua itu tidak akan merusak rencananya. Hanya saja ia harus melakukan satu pengorbanan…

“Kenapa? Apa itu sangat mengganggumu?”

Soohyun pun kembali tersadar dan mengeleng pelan, “Tidak. Sama sekali tidak. Itu semua tidak merusak rencanaku. Hanya saja…aku juga harus pergi ke Korea.”

Nara tercengang dengan keputusan tiba-tiba Soohyun. Ia tak yakin apakah Soohyun yang saat ini di hadapannya adalah Myungsoo yang terkenal seantero London? Atau justru Soohyun remaja yang begitu berapi-api?

“Kim Soo Hyun.”

“Sungguh Nara-ya, aku harus pergi. Sekarang juga.”

Dan Nara kira, Soohyun perlu bantuan psikiater.

 

***

 

“Dongho, kumohon. Semua baik-baik saja. Myungsoo hanya menyelesaikan masalahnya di Korea dan setelah itu dia akan kembali…” mulut Suzy langsung terkatup saat Dongho berbalik dan membalas Suzy dengan tatapan tajamnya.

“Kau gila? Membiarkan suamimu sendiri untuk pergi menemui mantan kekasihnya? Lagipula masalah apa yang harus diselesaikannya sampai harus meninggalkanmu selama berhari-hari, huh?”

Suzy terdiam mendengar ucapan Dongho yang sarat rasa kesal itu. Padahal, dulu Dongho begitu menginginkan agar dirinya menikah dengan Myungsoo. Dan sekarang? Terkesan seolah-olah Suzy begitu melindungi suami-nya. Dan itu memang hampir benar. Ia memang mencoba melindungi Myungsoo dari amukan Dongho.

“Aku tidak mau tau. Sekarang ikut aku, dan kau harus tinggal di Korea mulai sekarang.”

Dan lagi-lagi Suzy tercengang dengan keputusan Dongho yang tiba-tiba. Tinggal di Korea? Dongho kira apa yang dikatakannya? Ia sudah tinggal di London beberapa bulan, dan artinya melakukan sebuah kepindahan bukan hal mudah, terlebih apartemen yang ia tempati saat ini bukan apartemennya melainkan apartemen Myungsoo. Banyak yang harus dibereskan dan dibenahi, belum lagi Myungsoo tidak ada disini.

“Untuk apa Dongho…” Suzy kembali menarik lengannya yang baru akan dipegang oleh Dongho, “Aku istri Myungsoo dan bagaimana bisa aku meninggalkan London tanpa sepengetahuan Myungsoo? Myungsoo akan kembali, percayalah. Dia hanya butuh waktu untuk menyelesaikan masalahnya. Bagaimanapun aku yang merebut Myungsoo dari kekasihnya, wajar saja jika mereka akan sulit saling melupakan. Mereka berpacaran bukan beberapa bulan tapi beberapa tahun, kau tahu berapa ratus atau bahkan berapa ribu hari yang mereka lalui bersama? Itu tidak mudah…”

Dongho tertegun mendengar ucapan Suzy. Suzy-nya bukanlah orang yang baru mengucapkan kata-kata barusan. Suzy-nya ternyata berubah begitu cepat, sangat cepat, lebih cepat dari yang ia perkirakan mengingat bagaimana betapa ia tidak menyukai suaminya.

Dongho harusnya tersenyum, ia harusnya senang karena myungsoo telah berhasil membuat Suzy berubah. Bahkan yang paling penting, Dongho bisa merasakan bahwa Suzy juga mulai peduli terhadap Myungsoo. Tapi sayangnya tingkah ‘adik iparnya’ itu keterlaluan. Suami mana yang rela meninggalkan istrinya sendirian di luar negri demi menemui mantan kekasihnya? Apalagi sampai mereka masih saling mencintai, siapa yang akan tahu jika Myungsoo akan goyah atau tidak?

Bagaimanapun Dongho tetap menyayangi Suzy. Suzy tetap adiknya dan ia merasa memiliki kewajiban untuk melindungi adiknya tersebut. terlebih, Suzy tidak memiliki hubungan yang terlalu baik dengan ayah ataupun ibu kandungnya.

“Dongho-ya~”

Dongho mendengus pelan dan kembali menarik lengan Suzy, “Tidak Bae Sooji. Aku tidak bisa. Pilihan ada di tanganmu sekarang, ikut denganku ke Korea atau aku kembali sendiri tapi keluarga kita tahu mengenai masalah ini…”

“Shin Dongho!” jjerit Suzy tak percaya, ia langsung menarik lengannya dari pegangan Dongho.

“Tidak ada pilihan lain. Jika ada yang mau kau salahkan, salahkan karena aku adalah kakakmu dan kau adalah adikku.”

Dan untuk saat ini, Suzy lebih suka mengakui Soohyun sebagai kakaknya ketimbang Dongho.

“Dongho-ya~” rengek Suzy lagi.

“Kubilang tidak ya tidak.”

 

***

 

Suzy baru saja menginjakkan langkah kaki pertamanya menginjak tanah Korea. Tanah kelahiran sekaligus taah tempat ia dibesarkan. Oh yeah~ ia bahkan lupa kapan terakhir ia memperhatikan bandara Incheon yang selama ini hampir tak pernah tersentuh perhatiannya. Dan yang paling beruntung, Suzy kembali tepat ketika musim semi. Musim yang paling menyenangkan ketika ia duduk di sebuah bangku di Namsan. Ugh, pasti menyenangkan. Ia harus menghubungi Jiyeon setelah ini. Dan juga…Jongin?

Sejenak, Suzy terdiam mengingat nama Jongin terlintas singkat di kepalanya. Dulu, Jongin adalah teman kencannya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata manapun. Tidak peduli mereka kekasih sungguhan atau bukan, saling mencintai atau tidak, sejak kuliah mereka sudah terbiasa untuk menemani satu sama lain.

Dan entah tahun ini ia bisa seperti itu lagi atau tidak dengan Jongin. Bahkan menemuinya saja ia kehilangan nyali. Ia…merasa bersalah. Ia mungkin menyakiti Jongin, mungkin…Jongin bukan tipe orang yang senang memperlihatkan perasaannya. Dan ia menangis saat ciuman terakhir kami saat itu…sebelum Myungsoo datang dan menghajar Jongin.

“Kenapa diam? Kau tidak berniat kabur lagi, kan?” sindir Dongho setengah mnyadarkan Suzy. Suzy hanya mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mendengus pelan.

“Kau lebih cerewet dari ibuku,” gerutu Suzy sambil mengikuti Dongho dari belakang.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Suzy penasaran sambil berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan Dongho.

Tanpa menoleh ke arah Suzy, Dongho menjawab, “Menurutmu?”

Suzy lagi-lagi mendengus, “Kuharap kau tidak melakukan kekerasan kakakku sayang…”

Dongho hanya terkekeh kecil mendengar kalimat “kakakku sayang”. Well, Suzy bukan tipe orang yang selalu mengumbar kata ‘sayang’ ‘cinta’ dan sebagainya. Salahkan Soohyun yang telah melukai perasaan Suzy sedemikian dalam.

Ah, ngomong-ngomong soal Soohyun, ia beruntung sekali tidak melihat batang hidung pria itu. Meskipun tahu cerita sebenarnya di masa lalu Suzy bukan sepenuhnya salah Soohyun, tapi Soohyun tetap akar masalah penyebab Suzy berubah menjadi sedikit…’liar’. bahkan agresif jika sedang bersama dengan teman kencannya, terutama Kim Jong In-Kim Jong In itu.

 

***

 

Suzy menatap setiap detail tempat tinggal yang sempat ia datangi untuk menyimpan barang-barangnya. Tempat tinggalnya bersama Kim Myung Soo. Bahkan belum sempat ia memperhatikan secara detil tempat ini, ia sudah diseret Myungsoo untuk melakukan penerbangan ke London.

Suzy pun mendesah pelan. Ia ingat bagaimana dongkolnya perasaan suzy terhadap mahluk bernama Kim Myung Soo itu. Sampai sekarang, ia masih tak yakin apakah ia benar-benar menyukai Myungsoo atau tidak. Tapi yang pasti, ia selalu merasakan aliran aneh menyusup di dadanya tiap kali otaknya menyebut nama Myungsoo. Terutama setelah kejadian itu.

Aish~ baiklah lupakan itu Bae Suzy!

Suzy pun meneruskan langkah kakinya menuju kamar tidur. Dan selama berjalan, ia memperhatian setiap detail ruangan apartemen ‘mereka’ itu. Sepertinya Myungsoo pernah kemari, atau mungkin Myungsoo memang menginap disini. Karena saat melewati dapur tadi, ada beberapa bungkus makanan tergeletak di atas meja makan.

Dasar jorok. Tidakpernah berubah. Ia bahkan tidak percaya ada seorang arsitek semacam Myungsoo.

Setelah berada di depan pintu kamar, Suzy pun langsung membukanya dan…yeah. sekarang ia yakin Myungsoo pasti menginap di sini. Kamar yang berantakan dan beberapa pakaian tergeletak sembarangan.

Apa Myungsoo berangkat buru-buru hari ini? Sampai-sampai lemari pakaian saja tak sempat ia tutup.

Suzy pun langsung masuk dan merapikan semua yang menurutnya tidak rapi. Ia pikir, sesampainya di Korea ia bisa langsung istirahat karena jet lag. Tapi ia urung. Ia tidak bisa tidur dengan keadaan kamar semraut seperti ini.

Dasar Kim Myungsoo merepotkan.

Dan setelah beberapa menit, Suzy pun langsung membarnginkan tubuhnya di atas ranjang dengan asal. Oa hampir saja langsung terlelap jika saja ia tidak menemukan ponselnya yang tergeletak di atas nakas, berdampingan dengan foto pernikahan mereka…

Tunggu! Foto pernikahan?

Tangan Suzy langsung meraih foto tersebut dan memperhatikan 2 orang yang terbalut dalam pakaian pengantin tanpa senyum menatap ke arah kamera. Astaga, bahkan Suzy terlalu kentara menunjukkan betapa tidak senangnya ia dengan pernikahan itu.

Bisakah ia berfoto sekali lagi? setidaknya ada sebuah senyum meskipun senyum paksaan di wajahnya.

Ah, tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah…kenapa foto ini bisa ada di atas nakas? Seingatnya ia tak pernah menyusun ini semua, bahkan saat ia datang kemari pun tidak ada satupun benda yang merujuk pada pernikahannya.

Kemudian, Suzy pun mengambil ponselnya. Oh..oh…tunggu. jangan katakan jika Myungsoo mengotak-atik ponselnya karena ponselnya menyala dan…baterai terisi penuh. Dasar menyebalkan.

Dan tanpa pikir panjang, Suzy langsung membuka kunci ponselnya dan mencari satu kontak…

Park Jiyeon.

 

***

 

Myungsoo baru saja keluar dari rumah sakit tempat Naeun di rawa. Wajah pria itu agak masam. Tidak. Ini bukan karena soal Naeun, melainkan kakaknya yang tiba-tiba datang dan mengancam Myungsoo –atau tepatnya mengingatkan Myungsoo.

Myungsoo kembali mendesah panjang. Tekanan bebannya sepertinya semakin naik. Seharusnya ia tidak merasa berat ketika memikirkan keputusan soal untuk melepaskan Naeun. Dan sialnya, hatinya seolah kembali lagi berlari pada gadis itu.

Apakah ia benar-benar salah? Kenyataan bahwa Myungsoo mencintai Naeun bukanlah salah Myungsoo sepenuhnya. Ia mencintai Naeun sejak lama. Bahkan sebelum ia kembali bertemu dengan Suzy dengan keadaan yang berbeda.

Dan yang jauh lebih menyulitkan ketika ia didera soal Suzy. Ia sama sekali tidak keberatan dengan keberadaan ataupun status pernikahannya dengan wanita itu. Tapi ia jauh lebih terbebani dengan kenyataan ia tidak bisa sepenuhnya terfokus pada istri sah-nya. Dulu mungkin ia bisa…tapi sekarang berbeda.

Naeun membutuhkannya, dan entah sejak kapan…ia merasa ia juga membutuhkan Naeun.

“Kim Myungsoo-ssi,”

Langkah Myungsoo terhenti saat sebuah suara yang tidak terlalu asing menyentuh gendang telinganya. Dan ia berbalik setelah ia yakin suara itu menyebut namanya. Dan untuk detik detik pertama, Myungsoo merasa terkejut dengan kehadiran ‘kakak iparnya’ yang berusia lebih muda darinya itu.

“Hyungnim,” dan…lidah Myungsoo agak sedikit kaku memanggil Dongho dengan panggilan ‘Hyung’. Dongho benar-benar seumuran dnegan Suzy. Tapi ia tidak tahu apakah akan sopan jika ia memanggilnya dnegan panggilan “Dongho-ssi”?

Dongho menyeringai kecil lalu melangkah maju mendekat ke arah Myungsoo, “Tidak perlu memanggilku Hyung. Kedengarannya menggelikan. Aku mencarimu untuk membicarakan sesuatu, kau ada waktu?”

 

***

 

5 menit. Myungsoo melirik jam tangannya kemudian beralih menatap Dongho yang asyik dengan kopi pesanannya. Ia sama sekali tidak dekat dengan Dongho. Dan rasanya kaku sekali ketika Dongho menemuinya secara pribadi dan secara to the point berkata bahwa ada yang harus dibicarakan. Dan Myungsoo tidak bodoh, itu pasti hal penting.

“Jadi…apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” ucap Myungsoo ragu-ragu. dan perasaannya berubah tidak enak ketika Dongho mendongak dan menatapnya.

“Tentu.” Dongho pun menjeda sesaat sebelum akhirnya melanjutkan, “Kau…bagaimana kabar istrimu?”

“Ne?” pekik Myungsoo terkejut. Namun dengan cepat ia mengendalikan dirinya dan berusaha agar tidak terlihat tidak resah, “Ah…ne…dia…dia baik-baik saja,”

“Kupikir kalian masih di London,”

Gleek.

Myungsoo menelan ludahnya pahit. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bagaimana bisaia melupakan soal ini? Semua orang tahu jika ia dan Suzy berada di London. Bagaimana bisa ia lupa? Dan…bagaimana Domgho tahu dirinya ada di Korea? Bahkan berada di rumah sakit. Kau benar-benar bodoh Kim Myungsoo.

“I…itu…”

“Sudah puas menemui mantan kekasihmu? Atau…kalian masih belum putus?”

Tubuh Myungsoo mendadak dingin mendengar ucapan Dongho. Seolah-olah ia baru saja diteriaki bahwa ia bertemu dengan kekasih gelapnya. Ini benar-benar memalukan. Meskipun Dongho hanya kakak tiri Suzy, tapi ia tidak akan lupa cerita Suzy mengenai bagaimana protektifnya Dongho terhadap Suzy.

“Kenapa diam? Kau benar-benar berselingkuh?”

“Ani..bukan begitu…aku hanya…”

Belum sempat Myungsoo meneruskan ucapannya, tiba-tiba ia merasakan rahangnya berdenyut nyeri setelah dihantam oleh pukulan Dongho. Dan sekali lagi ia dipukul hingga ia terjatuh ke atas lantai.

“Aku tidak mengerti apa yang ayah Suzy pikirkan mengenai dirimu. Tapi aku tersanjung saat aku tahu kau berhasil mengubah Suzy dengan baik. Dan sekarang, istrimu tengah menunggu di rumah kalian. Kuharap kau tidak lupa jalan pulang menuju rumah kalian karena terlalu menikmati kebersamaanmu dengan mantan kekasihmu itu Kim Myungsoo.” Desis Dongho tajam sebelum akhirnya ia berbalik dan meninggalkan Myungsoo sendirian dengan keadaan tidak baik.

Dan yang lebih menyakitkan dari hantaman Dongho, adalah informasi yang di dapatnya. Suzy ada di Korea…?

 

***

 

Myungsoo mendesah panjang sembari mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Sial! Luka yang diakibatkan pukulan Dongho tadi tidak kering juga. dan jika diingat-ingat lagi, kejadian tadi adalah kejadian paling memalukan sepanjang hidup Myungsoo. Selain ia malu di hadapan Dongho, ia juga malu pada para pengunjung yang menguping dan menonton adegan pemukulan atas dirinya. Ia bahkan tidak berani membayangkan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya.

Dan kaki Myungsoo langsung berhenti melangkah secara refleks. Tepat ketika tangan pri aitu menyentuh tombol password untuk membuka pintu apartemennya. Tiba-tiba saja, pikirannya melayang pada wanita yang sudah menemaninya selama di London beberapa bulan ini.

Harus bagaimana ia ketika bertemu dengan Suzy? Apa yang akan dikatakan Suzy? Apa yang harus ia katakan? Apa Suzy masih marah padanya? Apa Suzy akan mendiamkannya lagi? atau wanita itu akan mengomel parah seperti mereka di awal pernikahan?

Dan belum sempat Myungsoo menebak-nebak reaksi yang akan terjadi, tubuhnya mendadak dingin saat pintu apartemennya terbuka dan menampakan sosok yang tak ditemuinya seminggu terakhir, atau mungkin lebih. 10 hari mungkin? Bahkan Myungsoo tidak ingat sudah berapa lama ia meninggalkan Suzy.

Suzy terlompat kaget dengan mata membulat saat tanpa sengaja mendapati Myungsoo berada tepat di hadapannya. Untuk beberapa saat, hanya angin musim semi yang menghiasi sekitar bmereka berdua. Seolah menertawakan keduanya yang sama-sama termangu dalam kebingungan.

“Myungsoo-ya…kau…kau sudah…” dan belum selesai Suzy melanjutkan ucapannya, Myungsoo tiba-tiba langsung menarik tubuh Suzy ke dalam pelukannya. Membiarkan hidungnya dapat mencium aroma tubuh Suzy yang entah sejak kapan mendidihkan rasa rindu yang tidak disadarinya.

Myungsoo merindukannya? Myungsoo merindukan Suzy?

Mungkin ia butuh bantuan psikiater untuk menormalkan segala perasaannya. Karena tepat ia berada di samping Naeun, ia akan merasa sangat sulit melepaskan gadis itu dan ketika ia memeluk Suzy seperti ini, Myungsoo justru merasa sangat membutuhkan wanita itu. Padahal, sejauh yang ia ingat ia tidak memiliki momentum khusus yang merujuk pada kalimat ‘saling membutuhkan’. Tapi gejolak hatinya justru berkata sebaliknya, ia membutuhkan Suzy. Sangat membutuhkannya.

 

***

 

Myungsoo pikir Suzy akan membahas sedikit saja mengenai kepergiannya ke Korea. Tapi ternyata tidak, gadis itu justru begitu sibuk mengobati luka di wajah Myungsoo dengan hati-hati. Dan ini…agak membuat Myungsoo bingung.

“Dongho benar-benar tidak mendengarkanku. Awas saja jika kami bertemu nanti, dia kira aku tidak bisa melakukan apapun padanya?” gerutu Suzy tanpa memandang ke arah Myungsoo. Dan sebisa mungkin Myungsoo tidak merintih kesakitan.

“Tidak. Ini salahku, harusnya aku…”

“Harusnya kau menghubungiku. Setidaknya, jika hal ini terjadi aku bisa bohong. Tapi kau tidak memberikan kode apapun untukku.” Sahut gadis itu sambil menempelkan sebuah plester.

Myungsoo hanya termangu di tempatnya. Ini…benar-benar bukan Suzy yang dikenalnya.

“Soal itu…aku minta maaf…”

“Sudahlah,” potong Suzy cepat, “Aku mengerti. Lagipula pernikahan ini harusnya tidak pernah terjadi. Kau juga pantas mendapatkan gadis baik-baik seperti Naeun,” tutur Suzy santai. Gadis itu mulai beranjak ketika tangan Myungsoo menahan lengan Suzy.

“Apa?” tanya gadis bingung itu ketika dilempari tatapan tak suka dari Myungsoo. Menurutnya, ia tidak baru saja mengeluarkan kata-kata yang salah.

“Bisakah kau memberikan kesempatan untuk pernikahan ini?”

Suzy menautkan alisnya bingung. Apa maksud dari pria itu?

“Aku tidak ingin apa yang telah aku perjuangkan setelah pengorbanan besarku menjadi sia-sia…kumohon, bantu aku untuk melupakan Naeun…bagaimanapun caranya.”

 

***

 

Entah untuk yang keberapa kalinya Jongin lagi-lagi mendapati Jiyeon di ruang inapnya. Ia tidak pernah merasa berteman dengan gadis itu, ia juga tidak pernah merasa hubungannya sebaik itu dengan Jiyeon. Tapi entah perasaannya saja atau bagaimana, Jiyeon tiba-tiba berubah menjadi lebih perhatian dan…lembut.

Ia tidak akan lupa bagaimana ketus, dingin dan bagaimana mata tajam Jiyeon mengintimidasinya. Bagaimana cap ‘bad boy’ terpahat sempurna di otak gadis itu mengenai dirinya. Tapi kali ini, ia justru mendapati Jiyeon seperti tengah menganggapnya seorang teman. Bahkan intensitas pertemuan mereka lebih banyak ketimbang Chanyeol yang merupakan sahabat terdekatnya.

“Kau tahu? Kau membuatku takut karena begitu sering masuk ke ruanganku.” Kata Jongin cuek dengan mata menatap makanan yang baru dibawa Jiyeon.

Pergerakan Jiyeon langsung terhenti seketika. Benar juga. ia bahkan tidak sadar jika dirinya menjadi lebih sering menmui Jongin sejak sakit. Dan yang lebih lucu lagi, dalam sehari ia tidak menemuinya satu kali. Bahkan saat akan pulang saja ia sempat menengok Jongin…

“Aku…aku hanya khawatir terjadi sesuatu padamu. Suzy bilang keluargamu tidak ada di Seoul. Jadi kupikir kau mungkin akan memerlukan sesuatu…” sanggah Jiyeon cepat. Untung ia ingat cerita singkat mengenai Jongin.

“Kau tidak perlu mengkahwatirkanku. Aku baik-baik saja, sungguh…”

“Dan Suzy sudah sampai di Seoul hari ini. Sore tadi dia menghubungiku, tapi kami batal bertemu karena Myungsoo sudah pulang…” potong Jiyeon cepat. Entah kenapa ia malas sekali mendengar cara Jongin merendah tentang dirinya. Itu benar-benar sedikit mengganggunya.

Dan jangan tanyakan bagaimana reaksi Jongin. Ia kehilangan kata-kata untuk menyahuti Jiyeon. Yang ia tahu…ia merasakan rasa sakit di dadanya. Tidak sedikit, tapi banyak…

 

=TBC=

26/06/14

09:31PM

Iklan

4 thoughts on “To You (17)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xia Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s