To You (18)

-part 18-

 

“Soohyun-a, kau tidak bisa melakukan ini. Demi Tuhan, Soo. Suzy tidak mungkin kembali lagi padamu, dia sudah menjadi milik Myungsoo. Dan kalaupun ada orang yang berhak kau salahkan, itu adalah dirimu sendiri.”

Soohyun yang tadi subuk mengemasi barang-barangnya, kini berhenti dan berbalik menatap Nara sengit. Ia tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya jika ia memang menyukai Suzy. Ia memang mengharapkan gadisitu kembali, dan apa salahnya berharap? Soohyun tidak bodoh mengenai perasaan Myungsoo terhadap Naeun kekasihnya yang dikenalkan padanya 2 tahun lalu. Soohyun benar-benar tidak akan lupa bagaimana dalamnya perasaan Myungsoo terhadap gadis itu. Sungguh sebuah kejutan besar ketika Myungsoo dengan mudahnya meninggalkan gadis itu dan menikahi Suzy begitu saja.

“Myungsoo tidak benar-benar mencintai Suzy Nara-ya. aku mengenalnya sangat baik, sama seperti aku mengenal dirimu dengan baik…”

Nara terkekeh mencemooh, “Jika kau mengenalku dengan baik, kau tidak akan melakukan ini semua, Soo. Semua benar-benar salahmu dan Suzy tidak akn pernah kembali.”

Soohyun pun langsung menghampiri Nara dan mendorongnya ke dinding dengan benturan yang cukup keras, “Ini bukan salahku. Kwon Ji Young yang melakukanny dan aku sama sekali tidak terlibat dalam kasus itu. Bahkan, kau tahu kejadian yang sebenarnya…”

“Tapi kau tetap bersalah karena membuat Suzy berubah seperti ini. Kau membuang semua kepercayaan yang Suzy miliki terhadapmu. Kau bertindak pengecut meskipun kau bukan pekau tersalah disini. Kau membuat namamu tercoreng dihadapan Dongho, kau bertindak seolah-olah kau bersalah pada Suzy. Siapa yang melepaskannya? Kau kira Suzy meninggalkanmu begitu saja? Kau yang melakukannya Soo! Kau!”

“CUKUP!!!”

Nara memejamkan matanya saat kepalan tangannya membentur dinding di sebelahnya. Ia tahu ini adalah puncak emosi dari soohyun. Dan ia tahu sejauh mana ia telah mengorek emosi itu. Tapi Nara selalu merasa ia perlu memberitahu kenyataan bahwa Soohyun terlalu pengecut. Jauh lebih pengecut karena ia hanya bisa mencuri perasaan Suzy tanpa bisa membalasnya.

“Cukup Na-ya…cukup…”

“Tidak, Soo…” Nara pun mengambil kepalan tangan Soohyun, “Kau memang perlu datang ke Korea. Tapi bukan untuk mengambil Suzy padamu, melainkan memperbaiki namamu dimatanya…”

Soohyun menggeleng keras dan menjauhi Nara. Menatap mata gadis itu dengan guratan luka yang selama ini hampir tak pernah Nara lihat lagi. dan ada satu penyesalan kuat dalam hatinya, harusnya ia tidak mengusik emosi Soohyun sejauh itu.

“Aku mencintainya. Aku benar-benar mencintainya dan kau tahu betapa tersiksanya aku?”

Nara tersenyum kecut, ia pun mendekati Soohyun dan memeluk pria itu. Ia tidak mengatakan apapun, ia hanya memeluk erat Soohyun. Mungkin setelah ini, ia akan melepaskan Soohyun. Ia juga memiliki batasan untuk tetap bersama dengan pria itu.

Selama apapun mereka bersama, sesering apapun Soohyun menidurinya, sebesar apapun rasa butuhnya Soohyun pada Nara, Nara tetap tidak berhasil merengkuh hati pria itu. Soohyun tetap tidak akan mendengarkannya meskipun Nara berlutut di hadapan pria itu.

Dan mungkin saat Soohyun kembali ke Korea, saat itulah ia juga harus pergi dari London dan kembali pada keluarganya. Berlutut dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Ia juga sama gelapnya, mungkin lebih gelap dari itu.

Dan Nara sudah menyiapkannya, kembali ke California dan melepas semuanya yang saat ini menjadi dunianya.

 

***

 

Myungsoo terus saja memandangi punggung Suzy yang tengah menyiapkan sesuatu di counter dapur. Ia masih sedikit kaku dihadapan Suzy. Entah kenapa ia seolah tertangkap basah sedang berselingkuh. Padahal Suzy sama sekali biasa saja. Bahkan gadis itu tidak terlihat peduli.

“Aku tidak tahu makananku layak makan atau tidak. Setidaknya, aku sudah mencoba…” tutur Suzy sambil meletakan nasi goreng buatannya.

Selama ini, Myungsoo tidak pernah merasa berhasil mendidik Suzy yang bisa dibilang keras kepala. Gadisi tu hampir menyanggah semua ucapannya. Tapi hari ini Suzy berhasil membuatnya tersenyum karena gadis itu sukses membuatkan sesuatu untuk Myungsoo makan.

“Tidak buruk,” komentar Myungsoo setelah menelan satu sendok pertama nasinya, “Ini enak.” Lanjutnya lagi sambil tersenyum cerah ke arah Suzy.

Suzy balas tersenyum. Ia benar-benar bersyukur jika ternyata masakannya layak untuk dimakan. Ia sempat berpikir selamanya mungkin dapur bukan tempat yang cocok untuknya bereksperimen. Tapi ternyata, tangannya yang selama ini digunakan untuk memainkan alat musik sekarang bisa berguna untuk menggunakan beberapa peralatan masak.

Selama beberapa menit, Suzy dan Myungsoo sama-sama tenggelam dalam lamunan masing-masing. Hingga Myungsoo akhirya mencoba angkat suara meskipun entah kenapa, rasanya kaku sekali. Sangat berbeda ketika ia megenal Suzy kembali di awal pernikahan mereka. Ia bisa bertindak cuek…

Tapi hari ini –atau mungkin tepatnya sejak semalam, ia dibayang-bayangi rasa bersalah. Entah rasa bersalah pada Suzy karena ia merasa telah menyelingkuhi gadis itu, entah rasa bersalah pada Naeun yang sampai saat ini…menurutnya belum ada titik temu masalah ini.

Percayalah. Melupakan seseorang yang kau cintai bukan sesuatu yang mudah. Bahkan kata ‘sulit’ lebih daripada sulit yang sesungguhnya.

“Sooji-ya, hari ini kau tidak ada janji, kan?” tanya Myungsoo ragu.

Suzy mendongak dan berpikir sejenak. Sebenarnya kemarin ia sempat menghubungi Jiyeon dan berniat untuk mengajaknya bertemu. Jalan-jalan, curhat. Ugh! Pokoknya ada terlalu banyak hal yang ingin dan ia rasa perlu untuk lakukan. Tapi sekarang ia tak yakin bisa melakukannya karena Jiyeon harus bekerja.

“Kurasa tidak. Ada apa?”

Myungsoo pun menaruh sumpitnya dan melipat tangannya di atas meja, “Bagaimana jika kita jalan-jalan untuk hari ini? Maksudku…kukira aku akan sulit menemukan hari libur lagi setelah ini. Aku sudah menunda pekerjaanku untuk bulan ini, jadi sebelum aku benar-benar sibuk…kukira tidak ada salahnya mencoba untuk berlibur…”

“Namsan Tower?”

Myungsoo mengangkat sebelah alisnya.

“Sudah sangat lama aku tidak pergi kesana. Aku ingin melihat musim semi disana…”

 

***

 

Suzy tersenyum cerah saat kakinya mulai menginjak cable car yang akan membawanya ke Namsan Tower. Ini benar-benar menyenangkan! Ia bahkan lupa bagaimana rasanya saat terakhir ia datang ke Namsan. Sepertinya London sudah merenggut banyak perasaan yang tertata rapi pada kenangannya masing-masing dan membubuhkan banyak rindu pada hal-hal kecil seperti ini.

Suzy sebenarnya tidak banyak bicara pada Myungsoo. Ia sengaja melakukannya –mungkin. Ia sama sekali tidak berselera untuk banyak bicara pada laki-laki itu semenjak tahu pria itu ternyata terlalu menikmati kebersamaannya dengan Naeun.

Ia merasa konyol sendiri saat tahu kakaknya malah menghajar Myungsoo, dan ia berlagak membela Myungsoo. Padahal, dalam hati terdalamnya ia merasa sedikit puas dengan apa yang Dongho lakukan. Myungsoo kira Suzy siapa?

Tapi dibalik itu semua, Suzy tetap merasa iba pada Myungsoo ataupun Naeun. Ia tidak tahu Myungsoo ternyata sudah sangat lama berhubungan dan mengenal Naeun. Dan ia juga tidak tahu Myungsoo meninggalkan gadis itu begitu saja demi menikahi dirinya. Oh yeah, adakah yang lebih jahat dari hal itu? Merebut kekasih oranglain, dan begitu saja merenggut kebahagiaan oranglain…

Tapi bukankah posisi Suzy dan Myungsoo sama? Ia juga direnggut kebahagiaannya. Atau palig tidak, ‘pacarnya’ lah yang paling tersakiti dalam kasus pernikahan ini.

Ah, kenapa otaknya belakangan terus saja membahas hal itu? Padahal selama di London ia hampir tidak mempedulikan itu semua.

“Indah, kan?” lirih Suzy refleks dengan telunjuk menunjuk pemandangan yang tertangkap retina matanya.

Myungsoo pun mendekat ke arahnya dan memandangi apa saja yang ditunjuk oleh jari lentik Suzy dan ikut tersenyum, “Sangat indah…kau sudah sering datang kemari?”

Suzy mengangguk semangat meskipun Myungsoo tidak melihatnya, “Sangat sangat sering. Sebelum akhirnya aku terdampar di London.”

Myungsoo tersenyum masam. Entah itu berupa sindiran atau apa, tapi Myungsoo agak tersindir dengan ucapan Suzy barusan.

Dan tak lama kemudian, mereka sampai di kaki tower. Sama seperti yang lainnya, mereka menaiki lift yang memiliki kecepatan 4m/s hingga akhirnya mereka berada di puncak tower.

“Yeppuda…” lirih Myungsoo takjub dengan tangan menyentuh teropong dan memandangi kotea Seoul lewat kaca pembesar teropong tersebut.

Suzy terkekeh dan menepuk bahu Myungsoo ringan, “Payah. Mana mugkin orang Korea bahkan lebih terlihat takjub daripada turis.” Ejek Suzy tak habis pikir. Myungsoo bahkan sepertinya lupa untuk menutup mulutnya yang menganga sejak ia naik cable car tadi. Ugh. Untungnya tidak ada yang memperhatikan, jika ada maka Suzy akan merasa menjadi korban rasa malu disini.

“Aku benar-benar hampir melupaka pemandangan ini,” gumam Myungsoo tanpa mau melepaskan teropongnya.

“Yak! Gantian…”

“Shireo…”

“Kim Myung Soo…”

“Kau bilang kau sering datang kemari, kan? Jadi kau pasti sudah tahu pemandangan disini,”

Dan Kim Myung Soo benar-benar payah. Ia persis seperti turis yang berisik dengan bahasa jepangnya yang kini berdiri tak jauh drai Suzy dan Myungsoo. Sepertinya mulai sekarang Suzy bisa memulai waktu liburannya dengan Myungsoo.

 

***

 

“Banyak sekali…” gumamMyungsoo masih dengan rasa takjubnya. Entah kenapa sejak tadi ia tak habis-habisnya dibuat terperangah oeh pemandangan Namsan yang sepertinya benar-benar luput dari kenangannya.

Entah karena ia terlalu banyak menghabiskan waktunya di luar negri atau bagaimana, tapi yang pasti Myungsoo sebelumnya tidak pernah menyadari pagar gembok ini kini benar-benar begitu padat dengan berbagai macam gembok dengan tulisan yang bervariasi.

Bukan hanya itu, bahkan di dinding dalam ruangannya pun sudah terlalu banyak tulisan dari berbagai macam pasangan yang menuliskan harapan dan nama mereka disana. Myungsoo merasa geli sendiri, apakah hal seperti ini benar-benar manjur?

“Sudah dapat!” pekik Suzy semangat dengan 2 buah gembok ditangannya. Tunggu dulu, dua? Kenapa Suzy membeli dua? Bukankah mereka pasangan?

Myungsoo terkesiap dengan pikiran ringannya. Apakah barusan Myungsoo baru saja berharap hubungannya dengan Suzy ingin diakui? Oh yeah. Mungkin ia terlalu terpengaruh dengan semua gembok yang membuat otaknya pegal untuk berpikir keras, bagaimana bisa pengelola tempat ini memiliki ide konyol yang sangat brilian seperti ini. Dan yang lebih parah, Myungsoo seperti oarng tolol yangtidak tahu apa-apa sama sekali.

“Sekarang tulis apapun yang ingin kau tulis disini,” titah Suzy tak lupa menyodorkan sebuah spidol.

“Kau sendiri pernah melakukannya?” Tanya Myungsoo penasaran mengingat bagaimana sikap Suzy yang lebih menunjukkan kata rindu padatempat ini ketimbang terkagum-kagum seperti dirinya.

Suzy mendongak sekilas kemudian mengangguk, “Sangat sering.”

“Apa yang biasa kau tulis?” Tanya Myungsoo penasaran. Ia ingin tahu apakah Suzy juga salahs atu orang yang akan mudah terpengaruh takhayul mengenai gembok cinta yanga gak sedikit picisan ini.

Suzy tiba-tiba menghentikan gerak tangannya. Kemudian dengan perlahan gadisitu mengangkat kepalanya dan menatap Myungsoo serius, “Apapun itu, kukira kau tidak perlu tahu. Sejak zaman SMA aku sudah sangat sering datang dan memasangkan gembok disini. Kukira kau tidak perlu tahu isinya…” tandas Suzy halus. Gadis itu benar-benar tidak ingin member tahu Myungsoo perihal kencannya dengan Soohyun ke tempat ini. Ia juga pernah datang kemari dengan Jiyeon, dan dengan Jongin tidak perlu ditanya. Sudah sangat sangat terlalu sering. Bahkan, Dongho pun pernah ia paksa untuk datang ke tempat ini.

Myungsoo mendesah pelan, “Kukira kau bukan tipe orang yang mudah terpengaruh hal picisan begini…” gumam Myungsoo pelan. Ia pun mulai menunduk dan mulai menuliskan sesuatu…tidak tahu. Ia mendadak bingung dengan apa yang akan ia tulis berikutnya.

Apakah ia perlu mengikuti gaya para remaja sekolahan itu dengan menuliskan kalimat semacam “Myungsoo mencintai Suzy”. Ugh. Kedengarannya menjijikkan. Tidak. Bukan menjijikkan. Tapi memalukan. Demi apapun ia bukan lagi seorang remaja.

Dilain sisi, Suzy sudah selesai dengan tulisan di gemboknya. Sederhana, ia hanya menuliskan 2 nama disana. “Bae Sooji & Kim Myungsoo”. Kedengarannya memang aneh, kan? Suzy sendiri merasa aneh. Tapi ia sendiri bingung apa yang harus ia tulis. Dengan siapapunia pergi ke tempat itu, ia pasti hanya menuliskan namanya dan nama pasangan yang menemaninya ke tempat itu bahkan dengan Jongin sekalipun. Kecuali…Soohyun. Ia memang menggambar bentuk hati sebagai perantara antara namanya dan nama Soohyun. Yeah. Kekanakan. Dan mohon jangan tertawakan.

“Sudah selesai?” Tanya Suzy penasaran saat melihat Myungsoo yang terlihat sangat berpikir keras. Ia pun tersenyum geli, kenapa Myungsoo justru terlihat seperti tengah mengisi soal fisika? Ah. Tidak. Ia pasti sangat jago dengan mata pelajaran fisika, mengingat dia adalah seorang arsitek terkenal di Inggris.

Myungsoo mendongak dan menatap Suzy lama. Dan menit berikutnya, Myungsoo langsung menuliskan sesuatu disana. Entah apa. Meskipun penasaran tapi Suzy tidak berniat untuk mengintip apa yang tengah Myungsoo tulis.

Dan setelah selesai, Suzy dan Myungsoo pun langsung ke halaman pagar gembok dan mencari tempat yang strategis. Sempat terjadi perdebatan kecil mengenai tempat yang cocok, tapi akhirnya mereka memutuskan untuk memasangkan gembok mereka di tempat yang berbeda.

Dan diam-diam, setelah Myungsoo berhasil memasang gemboknya, ia mengulum senyum kecil. Entah senang atau merasa geli, tapi tulisannya agak sedikit lucu menurutnya…

“Kuharap kita selalu bahagia,
Kim Myungsoo & Bae Sooji”

Apakah itu tidak terlalu kekanakan? Apakah itu tidak konyol? Ah. Masa bodoh bukankah semua orang yang memasang gembok disana konyol dan kekanakan?

“Sudah?” Tanya Suzy sambil berjalan mendekat ke arah Myungsoo.

Myungsoo pun mengangguk dan ikut berjalan ke arah Suzy. Dan adegan picisan mereka bertambah satu, mereka bersama-sama melemparkan kunci gemboknya ke dasar tanah. Entah kenapa ada rasa puas diantara keduanya. Tapi keduanya tetap diam dan bergeming dengan doa masing-masing. Yang secara diam-diam, masing-masing keduanya berharap yang terbaik untuk keduanya.

 

***

 

Suzy mendengus keras sambil meletakkan belanjaannya di atas counter. Ia benar-benar jengkel dengan kelakuan Myungsoo yang terlihat masih seperti remaja ingusan. Lagi-lagi pria itu membeli barang-barang yang tak perlu ia beli. Dan lagi-lagi Myungsoo bisa menyanggah semua omelan Suzy dan tetap memboyong makanan ringan dan minuman soda –yang sebenarnya jumlahnya yang Suzy permasalahkan.

“Hari ini ayahmu mengundang kita ke rumahnya. Bersiap-siaplah…”

Tangan Suzy mendadak dingin seketika. Apa? Apa katanya? Ayahnya menyuruhnya datang ke rumah? Oh yeah~ pasti ada sesuatu yang kelewat penting untuk dibicarakan. Jangan katakana ayahnya berencana untuk membatalkan pernikahan Suzy –tunggu, ia termakan drama yang ia tonton semalam.

“Kau tidak berencana belanja sesuatu? Bukankah kau sudah mendapatkan kembali semua isi dompetmu?” tutur Myungsoo setengah menyindir. Dan sayangnya, sindirannya gagal karena Suzy tak tersindir sedikitpun.

Gadis itu justru mengangguk semangat sambil membereskan beberapa buah, “Ya. Aku harus membeli beberapa baju baru. Berbulan-bulan tanpa pakaian baru rasanya benar-benar aneh. Aku juga harus menemui Tiffany Hwang. Aku harus membeli perhiasan baru darinya. Oya, apakah kau punya majalah fashion terbaru? Aku ingin lihat model sepatu terbaru buatan Krystal Jung.”

Myungsoo kini sudah menganga parah. Demi apapun ia menyesal telah menyindir Suzy yang justru seolah mengingatkan gadis itu bahwa ia belum belanja sama sekali. Mungkin dari semua keberhasilan Myungsoo, satu-satunya yang belum berhasil adalah mengubah sifat boros Suzy.

Myungsoo pun duduk di salah satu kursi meja makan dan memandangi Suzy yang tengah mengupas buah mangga. Agak aneh memang, semenjak menikah dengan Suzy ini kali pertama ia melihat Suzy membeli buah mangga dan begitu bernafsu untuk memakannya.

Suzy sama sekali tak menggubris tatapan Myungsoo, ia malah beranjak menuju counter tempatnya menyimpan belanjaannya tadi dan mengambil sebuah minuman kaleng –tepatnya jus jeruk. Dan membawakan satu buah kaleng cola untuk Myungsoo.

“Kau bisa membaca pikiranku?” canda Myungsoo yang terdengar begitu garing.

Suzy hanya mengedikkan bahunya tanpa menatap Myungsoo, “Tidak. Hanya sekalian.”

Oh yeah. Jawaban yang amat sangat jujur. Dan itu merusak lelucon yang Myungsoo buat tidak dengan susah payah namun ia berharap mendapat balasan manis untuk leluconnya.

“Kau mau meminjamkanku mobilmu, kan? Aku harus belanja sore ini juga.” Kata Suzy tiba-tiba memecah lamunan Myungsoo yang mulai tumbuh di otaknya.

Myungsoo mendesah panjang, sepertinya Suzy tidak main-main dengan niat belanjanya.

“Kita pergi bersama saja,” sahut Myungsoo akhirnya.

Suzy hanya mengangguk-ngangguk kemudian melahap mangganya dengan semangat.

“Mashitta!” ucap Suzy lebih pada dirinya sendiri. Kemudian iamenusuk sepotong dadu mangga dan menyodorkannya ke mulut Myungsoo, “Ayo coba, rasanya benar-benar manis…”

Myungsoo menyerngit. Sebenarnya, harusnya itu bukan masalah. Tapi Suzy bukan gadis manis yang biasa bersikap seperti itu padanya. Mungkin ini salah satu bentuk sikap Suzy untuk menghidupkan pernikahan mereka, tiba-tiba otak Myungsoo berkelakar. Ia tersenyum sendiri dengan lamunannya dan langsung melahap mangga tersebut.

Harusnya Myungsoo tidak gugup. Tapi ia malah salah tingkah dengan tingkah Suzy yang sebenarnya terlihat biasa saja. Mungkin ada yang salah dengan kepalanya. Mungkin…

“Kapan kita pulang ke London? Kurasa kita sudah cukup lama di Korea…”

“Kau tidak betah berada di Korea?” potong Myungsoo cepat. Padahal, ia berencana untuk tetap tinggal di Korea…dengan tanpa alasan.

Suzy menggeleng cepat, “Bukan begitu. Memangnya kita takkan kembali ke London?”

Myungsoo menggeleng cepat, “Kurasa Korea lebih baik. Terutama melihatmu banyak tersenyum, kukira Korea jauh lebih baik…”

“Penggombal.”

“Aku menggombali istriku. Apa salahnya?”

“Ah, sudahlah. Lupakan.”

Myungsoo menyeringai kecil kemudian meneguk cola-nya, “Tentu. Lupakan saja. Tanpa mengingatnya saja kau akan tetap ingat.”

“Kim Myungsoo kau berisik.”

“Panggil aku ‘oppa’ Nona Bae, aku lebih tua darimu.”

Dan entah sudah berapa lama sejak perdebatan terakhir Myungsoo dan Suzy. Dan entah kenapa Suzy menyukai perdebatan mereka meskipun ia terus menyanggah ucapan Myungsoo.

 

***

 

Myungsoo berjengit ngeri ketika melirik sekali lagi bon yang baru saja disodorkan padanya. Ia tidak mengerti bagaimana ada pakaian yang harganya tidak masuk akal seperti itu. Padahal, pakaiannya biasa saja. Tapi Suzy tetap saja membelinya. Walaupun Myungsoo tidak menyangkal Suzy terlihat cantik dengan gaun barunya.

Apakah setelah ini ia perlu bekerja keras untuk mengisi tabungan Suzy mengngat gadis itus angat gila belanja? Selama ini Suzy mendapatkan semua uang itu dari ayahnya. Dan Myungsoo takkan lupa bahwa ia juga yang meminta ayah mertuanya untuk berhenti mengisi tabungan Suzy karena Suzy adalah tanggungannya sekarang.

Karena saat itu Myungsoo tidak tahu Suzy se glamour itu.

Lamunan Myungsoo langsung pecah ketika Suzy tiba-tiba memasuki mobilnya dengan pakaian yang baru saja dibelinya.

“kau langsung memakainya?” Tanya Myungsoo bingung ketika Suzy sudah berganti pakaian.

Suzy mendesah dibuat-buat, “Lalu. Kau kira untuk apa aku membelinya? Tentu saja untuk bertemu ayah mertuamu.” Ketus Suzy tak habis pikir. Ia merasa Myungsoo agak lamban berpikir hari ini.

Myungsoo mendecak pelan sebelum akhirnya menancap gas. Otaknya masih berpikir keras, bagaimana caranya untuk tetap membuat hidup Suzy normal seperti sebelum ia menikah dengan Myungsoo. Sekali lagi, gadis itu istrinya dan juga tanggung jawabnya.

 

***

 

Soohyun tersenyum masam ketika mendapati mobil Myungsoo menginjak pekarangan rumahnya. Meskipun ia tahu Suzy ada di dalam mobil itu juga, tapi mengingat nama Myungsoo membuat hatinya sedikit terusik. Pria itu lah penghalang Soohyun untuk mendapatkan Suzy. Pria itu lah yang telah merebut cinta pertamanya.

“Adikmu sudah datang?” Tanya ibu Soohyun yang membuatnya sedikit terkejut.

“Ya. Menantumu juga sudah datang, bu.”

“Tentu saja. Dia kan suami Suzy, kau ini.” Gerutu sang ibu sambil melenggang pergi.

Tidak ibunya tidak mengerti. Ibunya tidak tahu apa yang tengah dirasakan putra tunggalnya itu. Ada rasa sesak yang menjalar secara kurang ajar. Meskipun Soohyun berusaha mengenyahkannya, kenyataannya ia tetap terdampar pada satu perasaan…ia terluka dengan kenyataan yang ada.

 

***

 

Suzy begitu terkejut ketika Soohyun ikut menyambutnya di meja makan keluarga. Astaga. Ini benar-benar sudah lama sejak terakhir kali ia berkumpul dengan keluarga tirinya dari pihak sang ayah. Mungkin terakhir kali adalah saat SMA, karena semenjak kejadian buruk itu Suzy menghabiskan waktunya di rumah ibunya.

“Kau disini juga, Oppa?”

Soohyun tersenyum puas melihat reaksi yang diberikan Suzy. Lebih daripada kata baik.

“Hmm. Kejutan untuk kalian semua,” kata Soohyun sok ceria. Ia berharap aktingnya tidak terlalu buruk.

Berbeda dengan Myungsoo, pria itu tidak terlihat terlalu senang mendapati wajah Soohyun turut menghiasi meja makan. Ia tidak akan lupa bagaimana lancangnya pria itu mencoba merebut Suzy di depan mata kepalanya sendiri. Sangat tidak sopan. Tapi apa mau di kata, Myungsoo juga tidak bisa mencegah apapu saat itu.

“Lama tidak melihatmu adik ipar,” sapa Soohyun yang dibalas kaku oleh Myungsoo. Ia rasa, ia tidak bisa bersikap sama seperti dulu lagi.

“Apakah ini putri tunggalku, Bae Sooji?” dan ketika suara berat itu menyapa seisi ruangan, saat itu pula suasana di ruangan itu berubah.

Dan dalam diam, Myungsoo merasa bangga karena telah berhasil membawa Suzy dengan sikap yang lebih baik, meskipun masih jauh dari kata berhasil. Tapi setidaknya ia bisa menunjukkan pada ayah mertuanya bahwa ia mampu memanggul harapannya.

 

***

 

Makan malam itu berjalan lancar. Suasana hangat benar-benar menyelimuti keluarga Bae malam itu. Malam yang Suzy kira tidak akan pernah datang lagi mengingat bagaimana ia begitu menghindari sang ayah. Tapi diluar dugaannya, ia justru sangat merindukan ayahnya. Bahkan kelewat merindukan sang ayah.

Dan seperti yang diajarkan Myungsoo, gadis itupun membereskan meja makan –membantu ibu tirinya yang diam-diam tersenyum geli dengan tingkah Suzy yang tak biasa. Seingatnya, anak itu sangat manja dan sangat menjengkelkan. Ia bahkan hampir tidak pernah melihat suaminya tidak memarahi anak gadisnya itu. Tapi hari ini, gadis bermarga Bae itu mengalami revolusi yang sangat cepat.

“Kau akan menginap disini? Aku akan merapikan kamar tidurmu…”

“Aniyo,” Suzy memotong cepat, “Biar aku saja. Lagipula kamarku tidak berubah,”

Setelah selesai mencuci piring, Suzy pun segera menaiki anak tangga rumah yang dulu sempat ditinggalinya. Ia bahkan merasa rindu dengan tiap lantai yang kerap ia injak jika ia berjalan menuju kamarnya. Yeah. Itu sudah sangat lama.

kemudian, dengan cepat Suzy membuka pintu kamarnya dan…tada! Ia bahkan lupa bagaimana penataan kamarnya yang bertahun-tahun tak pernah ia datangi lagi. Yang membuat rindunya semakin menggila, adalah foto semasa sekolah yang masih tertara rapi di tempatnya. Fotonya dan Jiyeon lebih mendominasi.

Dan yang membuat senyumnya sedikit surut adalah foto dirinya dan Soohyun yang ikut menghiasi ruangan itu. Oh yeah. Betapa ia merindukan kamar ini…

“Sudah sangat lama, ya?”

Suzy terkesiap mendengar suara Soohyun dari arah belakang. Suzy pun berbalik dan mendapati Soohyun dengan pakaian santainya. Dadanya agak terasa sesak, ia benar-benar seperti terdampar di masa lalu.

Soohyun pun melangkahkan kakinya perlahan, ikut memandangi deretan foto yang bahkan Suzy lupa kapan ia memajangkannya sedemikian rapi. Seolah-olah ia ingin menyimpan apik semua kenangan yang sudah berlalu itu.

Soohyun menghela napas panjang ketika melihat foto mereka berdua ketika berlibur bersama ke Busan. Entah mengapa dada Soohyun begitu bergetar, ia tidak akan lupa bagaimana bahagianya ia ketika ia dapat merangkul bahu Suzy dengan ringannya. Melupakan bahwa ia adalah kakak dari Suzy dan lebih mengutamakan perasaan cintanya.

“Dulu…aku sempat berharap selamanya kita akan seperti ini. Kau tetap berada di sampingku dan aku akan terus melindungimu…” Soohyun terdiam dan tak melanjutkan ucapannya. Lidahnya terasa kelu untuk melanjutkannya. Ia lebih memilih untuk menaruh kembali foto itu dan beralih ke arah foto yang lain.

Yeah. Dan itu foto mereka saat sepulang sekolah dan hang out bersama ke sungai Han.

“Dan kupikir, selamanya mungkin senyummu itu akan terus tertuju padaku. Tapi kurasa tidak…”

Suzy menggigit bibir bawahnya mendengar semua ucapan Soohyun. Ia tahu kemana arah pembicaraan Soohyun. Karena ia juga merasakannya. Ia juga merindukan semua kenangan itu. Bahkan, ia juga berpikiran yang sama dengan Soohyun…

Tentang saling memiliki dan saling mengisi untuk selamanya. Dan sayangnya itu tak pernah terjadi.

Dengan tetap tanpa memandang Suzy, Soohyun tetap melanjutkan nostalgianya dengan foto-foto itu.

“Aku memang gagal melindungimu. Aku gagal untuk mempertahankan semua cintamu dan kepercayaanmu. Aku gagal membuatmu untuk tetap menggenggam tanganku. Aku gagal untuk membuatmu selalu tersenyum seperti itu padaku…” sial, mata Soohyun mulai basah, “Jika aku tahu hubungan kita akan berakhir karena kesalahanku membiarkanmu berada bersama dengan teman-temanku dulu, mungkin selamanya akan kusembunyikan dirimu dari mereka…”

“Oppa…”

Soohyun tersenyum kecut, “Bahkan aku hampir berpikir kau akan lupa bagaimana cara memanggilku dengan panggilan itu,” Soohyun pun menghadap ke arah Suzy, “Kau tahu…aku sangat mencintaimu. Dan dengan pengecutnya aku justru pergi meninggalkanmu dengan semua…kesalahpahamanmu.”

Salah paham? Suzy berdecak dalam hati. Ia tidak tahu apakah ia pernah berpikir ia salah paham atau tidak. Ia juga tidak ingin menyalahkan Soohyun sepenuhnya di kejadian masalalu, tapi ia hanya dicekoki dengan pikiran negatifnya bahwa Soohyun lah yang membuatnya terjebak dalam trauma keras yang merusak mentalnya dulu.

Tapi sesakit apapun, sekecewa apapun, Suzy tetap mencintai Soohyun…setidaknya sampai ia berpikir mungkin ia telah berhenti dengan semua perasaan itu…

“Kuharap aku layak untuk dimaafkan…kuharap…aku dapat kembali merengkuh hatimu Sooji-ya~”

Dan entah bagaimana, Suzy kini sudah berhadapan dengan Soohyun dengan jarak yang bisa dikatakan sangat dekat itu. Dan perlahan, Soohyun mendekatkan wajahnya ke wajah Suzy. Suzy lupa semuanya. Suzy tidak ingat ada cincin yang melingkar manis dan mengikatnya dengan seseorang. Suzy lupa, bahwa ia sudah tak mungkin lagi membuka hatinya meskipun ia menerima Soohyun kembali karena seseorang yang mengurung hatinya.

Dan sialnya, seseorang itu tengah menatap Suzy penuh luka di ambang pintu sana. Dengan tangan terkepal dan rahang yang mengeras…

 

=TBC=

30/06/14 08:55PM

Iklan

4 thoughts on “To You (18)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xia Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s