To You (19)

-part 19-

Suzy dapat merasakan hembusan napas hangat yang mulai menerpa wajahnya. Suzy hampir benar-benar memejamkan wajahnya dan membiarkan Soohyun kembali menyentuh hatinya dengan kenangan masa lalu yang masih tersisa di hatinya.
Tapi Suzy segera tersadar dan mendorong Soohyun menjauh. Tidak. Ini tidak benar. Suzy tidak akan pernah menolak siapapun, benar. Ia memang seperti itu…tapi dulu. Jauh sebelum ia akhirnya bertemu Myungsoo hingga akhirnya ia mengikuti keputusan ayahnya untuk menikah dengan Myungsoo.
“Sooji…”
“Oppa…aku…aku tidak bisa. Sebesar apapun perasaan yang kau miliki, baik saat ini ataupun di masa depan aku tidak akan pernah bisa membalasmu…”
“Meskipun kau masih mencintaiku?” lirih Soohyun hampir kehilangan tenaganya. Semuanya terserap begitu saja oleh rasa kebas yang baru saja menebas dadanya secara tersirat. Sakit. Ada rasa sakit yang mengguncang hebat di dadanya. Suzy baru saja menolaknya. Bae Sooji, cinta pertamanya benar-benar menolaknya secara gamblang.
Suzy mendongak dengan mata berkaca-kaca, “Apa oppa begitu yakin aku masih mencintaimu…”
“Kau kira aku melupakan bagaimana matamu berbicara? Kau kira aku akan melupakan bagaimana gerak-gerikmu yang menunjukkan perasaanmu? Kau pikir aku sudah lupa?”
Suzy hendak angkat suara kembali saat matanya tanpa sengaja menoleh ke arah ambang pintu. Tubuh Suzy menegang seketika. Ia mengenal pria itu. Tapi ia tidak pernah melihat tatapan terluka yang saat ini tengah ditunjukan pria itu. Tatapan penuh kekecewaan –atau mungkin terluka? Oh yeah. Untuk apa Myungsoo terluka karenanya? Itu hampir tidak masuk akan karena hati pria itu masih terikat pada gadis bernama Sonh Naeun itu.
“Myungsoo-ya ~”
Bukan hanya Suzy saja yang terkejut. Soohyun ikut terkesiap dan langsung membalikan tubuhnya, matanya mendapati wajah Myungsoo yang dingin. Wajah yang benar-benar sama sekali tidak bersahabat. Dan Soohyun mendapat firasat jika ia akan kembali bertengkar dengan Myungsoo setelah ini.
Myungsoo tersenyum kecut, kemudian melangkah masuk secara perlahan.
“Sudah selesai? Aku rasa, mungkin agak aneh jika aku tidak sekamar dengan istriku sendiri. Jadi aku harus tidur disini juga, maaf jika mengganggu momen kalian…” ucap Myungsoo dengan nada dingin dan tajam. Dan Myungsoo baru saja bicara pada Soohyun.
Soohyun tersenyum sinis, “Tentu. Aku sudah selesai. Kalau begitu selamat beristirahat. Aku juga perlu istirahat, aku belum sempat benar-benar istirahat setibanya dari London.” Balas Soohyun tak kalah dingin dan langsung melengos pergi tanpa menatap Suzy sama sekali. Dan dengan sengaja menutup pintu agak keras, dengan sengaja ingin mengatakan bahwa ada rasa kesal menjuntai di dadanya.
Kini hanya tersisa Myungsoo dan Suzy di kamar itu. Suzy benar-benar salah tingkah. Firasatnya mengatakan Myungsoo melihat apa yang hampir dilakukannya dengan Soohyun. Ia benar-benar merasa bersalah, rasanya seperti tertangkap basah tengah berselingkuh…
Tapi bukankah Myungsoo juga sama? Apa yang ia lakukan di Korea selama meninggalkannya sendirian di London pun bisa dikategorikan sebagai perselingkuhan kan? Suzy tidak bodoh. Ia tahu Myungsoo pasti belum mengambil keputusan bulat untuk meninggalkan Naeun.
“Haruskah kau menaruh semua foto-foto ini disini? Fotomu dengan mantan kekasihmu…”
“Kakak,” sanggah Suzy cepat. Kepalanya langsung mendongak menatap Myungsoo yang baru saja berputar ke arah Suzy, mengalihkan pandangannya dari deretan foto yang dulu selalu membuat Suzy tersenyum.
“Dia kakakku. Sama seperti Dongho. Aku tidak bisa menyingkirkannya begitu saja,” lanjut Suzy dengan pembelaannya. Yang benar saja, menyingkirkan semua foto itu pasti akan membuat tanda tanya besar bagi ayahnya dan ibu Soohyun. Mereka tidak pernah tahu kisah cinta yangterjadi antara Suzy dan Soohyun. Sehingga yang mereka tahu pun hanya satu, bahwa Soohyun dan Suzy begitu dekat karenamereka adalah adik kakak.
Myungsoo mendengus kesal. Kemudian ia langsung mendekati Suzy, berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengan gadis itu, “Kau kira aku tidak tahu semua cerita di balik kalian berdua? Kalian dua orang yang saling mencintai dan bukan adik kakak. Sekarang kau adalah istriku dan dengan sengaja kau ingin menunjukan masalalumu didepanku? Begitu?” dan tanpa Myungsoo sadari, nada bicara pria itu mulai meninggi.
Suzy sempat terkejut, namun detik berikutnya ia dapat mengendalikan semuanya dan membalas tatapan tajam Myungsoo, “Lalu bagaimana jika ayahku atau ibuku bertanya? Apakah aku harus menjawab karena suamiku cemburu pada kakak iparnya sendiri?”
Mulut Myungsoo langsung terkatup rapat. Benar. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu.
“Lagipula aku tidak pernah berpikir untuk kembali padanya. Sebesar apapun perasaanku…aku tidak akan pernah kembali padanya. Tidak sepertimu yang dengan mudah goyah…”
“Mworago?!”
Suzy mendengus pelan dan mendekati deretan foto yang tersimpan rapi itu, “Kau kira aku tidak akan tahu apa yang kau lakukan selama disini?” kemudian Suzy berbalik dengan tatapan kecewanya, “Kau…apa kau menikmati kencanmu dengan Naeun selama meninggalkanku? Harusnya Dongho tidak tahu mengenai kepergianmu ke Korea sehingga aku tidak perlu membuat kencan kalian rusak…”
“Aku tidak pernah begitu.”
“Tapi kau tidak bisa menyangkal jika kau masih mencintainya Kim Myungsoo. Jika gadis itu memohon berlutut dihadapanmu agar kau kembali padanya, aku bahkan tak bisa menjamin cincin yang kau sematkan dijariku itu masih menjadi ikatan kita….”
“ITU TIDAK AKAN TERJADI!!!”
Myungsoo benar-benar terpukul dengan semua keadaan yang berbalik menyalahkannya. Harusnya ia yang marah disini. Harusnya ia yang menyalahkan Suzy. Bukan dirinya yang disalahkan dan menjadi pelaku tersalah.
Walaupun ia tahu ia memang salah. Ia melakukan sebuah kesalahan besar…
“Jika memang benar begitu, harusnya kau punya komitmen dan segera kembali. Bukannya menghadapiku dengan wajah pucat setelah Dongho memukulmu.”
Dan Myungsoo kini merasakan dua kali lipat sakit didadanya. Tidak. Tapi berlipat-lipat. Naeun, Suzy, Soohyun. Tiga orang itu secara sempurna membuat hatinya merasakan sakit…

***

Dengan langkah semangat, Jiyeon mendekati sebuah kafe yang tidak terletak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Bagaimanapun hari ini adalah hari yang sangat baik. Ia tiba-tiba mendapat pesan singkat dari sahabatnya. Meskipun sebelumnya, Jiyeon selalu bimbang jika Suzy mengajaknya bertemu –karena Suzy yang terakhir ia temui adalah Suzy yang sangat bersemangat untuk mengajaknya berbelanja. Ia kira, mungkin selamanya ia akan merasa agak tidak nyaman dengan tingkah Suzy. Ia kira ia tidak akan merindukan sahabatnya itu setelah ia menginjakan kakinya di London. Tapi ternyata salah, ia sangat sangat merindukan Bae Sooji. Seseorang yang seolah tertakdir untuk menjadi sahabat di sepanjang usianya.
Setelah menginjakan kakinya did alam, mata Jiyeon langsung menyebar ke setiap meja yang dapat ia lihat ia penasaran apakah Suzy masih sama atau sudah berubah? Kalaupun berubah, ia penasaran perubahan apa yang teradi pada Suzy.
Dan senyum gadis itu merekah begitu saja ketika ia mendapati Suzy tengah duduk dengan kepala tertunduk memandangi layar ponselnya. Pasti Suzy sangat merindukan ponselnya, ia juga tahu jika Myungsoo meninggalkan barang-barang terpenting Suzy disini. Tindakan nekat. Dan siapa kira itu akan berhasil? Sesuatu yang bisa dikatakan luar biasa.
“Sooji-ya…”
Suzy yang tengah sibuk membaca beberapa halaman artikel yang memuat berita tentang Korea yang ia tinggalkan, langsung mendongak dengan buncahan rasa senang yangbercampur dengan rindu. Ia sangat mengenal suara itu. Itu suara Jiyeon. Park Jiyeon. Sahabat terbaiknya.
Dan layaknya remaja SMA, mereka setengah histeris dan langsung berpelukan. Mereka benar-benar saling merindukan. Senyum di kedua wajah itu tidak hilang sama sekali, mereka mulai sibuk bertanya mengenai kabar satu sama lain…
Hingga obrolan mereka terhenti pada obrolan tingkat serius.
“Jadi, bagaimana dengan Myungsoo Oppa? Kau mulai jatuh cinta padanya?” tanya Jiyeon semangat. Ia begitu ingin tahu bagaimana cara seorang Kim Myungsoo meluluhkan seorang Bae Sooji. Karena seorang Shin Dongho si penjinak Suzy saja tidak pernah sepenuhnya berhasil.
Suzy tersenyum kecut. Ia agak malas membicarakan Myungsoo sebenarnya. Terlalu banyak cerita, hingga ia sendiri tidak tahu harus mengemukakannya darimana dan bagaimana. Apalagi mengenai perasaannya. Rasanya menjelaskan rumus Kimia yang dibencinya lebih mudah.
“Sooji?”
Suzy mendongak kaget, ia melamun terlalu jauh sepertinya. Kemudian ia pun menggeleng dan tersenyum, “jatuh cinta? Justru hubungan kami tidak ada peningkatan. hubunganku semakin buruk dengannya…” tutur Suzy jujur. Ia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Jiyeon sekarang. Ia memang benar-benar butuh teman bicara yang dapat mengerti dirinya dengan baik.
Jiyeon yang belum menangkap maksud ucapan Suzy hanya menautkan alisnya dan langsung melipat tangannya di atas meja, “Kau…bertengkar dengannya?” tanya Jiyeon ragu.
Suzy mengangguk pelan, ah…ia benar-benar malas membahas ini.
“Dan semua berawal dari pertemuanku dengan Soohyun Oppa…”
Mata Jiyeon langsung membulat. Apa? Apa katanya? Suzy kembali berteu dengan Soohyun?
“Kau…bertemu dengannya lagi? Ke…kenapa bisa?”
Suzy mendengus pelan. Apakah perlu ia menceritakan semuanya? Sampai pertengkaran Myungsoo dan Soohyun yang hingga saat ini belum menemui titik temu untuk kata damai. Ia menjadi merasa sedikit bersalah. Bagaimanapun mereka terbilang dekat, dan dirinyalah penyebab retaknya hubungan Myungsoo dan Soohyun.
“Dia sangat dekat dengan Soohyun Oppa. Dan lama kelamaan aku dan dia bertemu kembali, hingga Myungsoo tahu semuanya dan…mereka bertengkar sampai sekarang.”
“Myungsoo menyukaimu?”
Suzy mendongak menatap Jiyeon ragu. Ia sempat berpikir mungkin Myungsoo memang menyukainya. Mungkin Myungsoo akan terus memperjuangkannya dan menomorsatukannya. Tapi melihat betapa payahnya ia saat menghadapi Naeun justru membuatnya benar-benar kehilangan percaya dirinya. Yang ada, ia terus terpikirkan dengan satu kenyataan bahwa Myungsoo hanya mencintai Naeun.
“Tidak. Dia masih menyukai mantan kekasihnya…” tangan Suzy beralih menyentuh gelas di hadapannya, “Sonh Naeun, nama gadis itu Sonh naeun.”
“A…apa? Siapa? Sonh Naeun?”
Suzy mengangguk cepat, “Kenapa? Kau mengenalnya?”
Dan akhirnya, Jiyeon pun menceritakan semuanya pada Suzy. Tidak. Mungkin tepatnya Jiyeon menceritakan semua kejadian yang berhubungan dengan Jongin. Jiyeon tidak yakin apakah Suzy perlu tahu mengenai hal ini atau tidak. Tapi tanpa ia control, lidahnya langsung menceritakan semuanya. Karena apa yang Jongin lakukan sangat berhubungan dengan Naeun.

***

Myungsoo mendecak kesal sambil memandangi arloji di tangan kirinya. suzy belum kembali sejak ia pamit untuk bertemu dengan temannya –dan ia harap orang yang ditemuinya bukan Kim Jongin. Ia benar-benar terganggu menyebut nama itu meskipun hanya dalam pikirannya, apalagi sampai Suzy benar-benar bertemu dengan laki-laki itu.
Dan lamunan pria itu terpecah saat ia merasakan sofa yang didudukinya sedikit bergerak, dan saat ia menoleh ke arah samping ia mendapati Soohyun yang memfokuskan tatapan matanya ke arah layar televisi.
Myungsoo mendengus pelan. Dan satu lagi seseorang yang membuat dirinya selalu merasa terganggu. Kim Soohyun. Mungkin dulu ia sangat dekat dengan Soohyun, tapi semua rasa percayanya pecah begitu saja karena kejadian Soohyun yang mencium Suzy tepat di depan mata kepalanya sendiri.
Itu benar-benar mengecewakan, tidak sopan, dan…memalukan. Ia merasa harga dirinya sebagai suami Suzy diinjak dengan mudah oleh Soohyun. Ia juga tidak tahu jika Soohyun akan berbuat sejauh itu untuk mendapatkan istrinya.
Cinta memang membutakan…
“Kau menunggu istrimu?” tanya Soohyun datar dengan tangan menggapai remote TV, kemudian tangannya mencoba menekan tombol disana, mengganti channel yang entah apa. Ia sudah lama sekali tidak kembali ke Korea dan menyaksikan siaran TV Korea. Tidak. Bahkan di London sana ia tidak tertarik melakukannya.
Myungsoo mendesah pelan, haruskah Soohyun kembali mengajaknya bertengkar? Sungguh, ia sedang tidak berselera untuk bertengkar sekarang.
“Bisakah kau berhenti memprovokasiku Hyung? Sungguh, bertengkar denganmu bukan hal yang sangat mengenakan. Hubungan kita merenggang begitu saja karena masalah ini…”
Soohyun menarik napas panjang, dengan tatapan lurus kedepan ia pun bersuara, “Kau merasa terprovokasi oleh ucapanku?” kemudian Soohyun pun menoleh pada Myungsoo, “Kurasa harusnya itu terjadi jika kau percaya pada Suzy. Ah…kau bukan tidak percaya padanya, tapi kau tidak mengenalnya dengan baik.”
Soohyun benar-benar memuakan, Soohyun mengumpat dalam hati. Ia tahu sifat buruk Soohyun yang satu ini, tapi ia tidak tahu jika ia akan menjadi musuh dari seorang Kim Soohyun. Seseorang yang dulu berada di belakangnya dan juga selalu melindunginya dari orang luar yang ingin menyerangnya.
Dan seseorang yang dulu begitu melindunginya, kini berbalik menjadi musuhnya sendiri. Begitu miris kan?
“Hyung, sungguh. Aku tidak ingin bertengkar dengan kakak iparku sendiri di rumah mertuaku.”
“Kau mulai mengakuiku sebagai kakak iparmu?” tanya Soohyun dengan sebelah alis terangkat.
“Tentu. Kau tetap kakak iparku, Hyung. Sama seperti Shin Dongho,”
Soohyun agak bergidik mendengar nama itu. Nama yang sangat ia hindari. Meskipun ia seumuran dengan Suzy, tapi tetap kekuatan Dongho untuk melawannya begitu kuat. Dan siapa lagi orang dibalik Dongho jika bukan Suzy? Ia sempat berpikir mungkin laki-laki itu menyukai Suzy, tapi dugaannya sangat sangat meleset.
“Kalau begitu jaga istrimu baik-baik, juga bayi yang dikandungnya saat ini.”
Tubuh Myungsoo membeku seketika. Otaknya seolah berhenti bekerja ketika ia mendengar kata ‘bayi’ yang diucapkan oleh Soohyun.
“A…apa maksudmu Hyung?”
Soohyun sebenarnya tidak bermaksud untuk membuat onar dalam rumah tangga Suzy lagi. Tapi melihat betapa lemahnya kepercayaan Myungsoo terhadap Suzy membuatnya dongkol dan benar-benar ingin menyingkirkan pria itu dari hidup Suzy. Demi Tuhan! Siapapun yang mengenal Suzy dengan baik akan tahu tipe orang seperti apa yang cocok untuk mendampingi Suzy. Dan semua orang yang tahu bagaimana kisah rumah tangga Suzy saat ini pasti akan sama pendapat dengannya, Myungsoo bukan orang yang tepat.
Soohyun pun memancarkan smirk-nya, “Kau tidak tahu? Suzy tidak memberitahumu?”
Apa? Apa yang disembunyikan Suzy? Bayi apa? Myungsoo benar-benar merasa tolol sekarang. Kenapa ia sama sekali tidak tahu apa-apa sama sekali?
“Kemarin dia datang ke dokter kandungan, dan hasilnya dia positif hamil. Dia tidak memberitahumu? Atau…jangan-jangan…” Soohyun menggantung ucapannya dan membuat Myungsoo diaduk rasa penasaran.
Sungguh, Myungsoo merasa ada letupan senang saat tahu Suzy hamil –jika itu memang benar, namun ada rasa kecewa yang tak kalah besar. Suzy mengembunyikannya. Dan yang terakhir, adalah rasa khawatirnya dengan ucapan Soohyun berikutnya.
“Bagaimana jika bayi itu adalah bayiku? Maksudku…kau tidak tahu kan jika Suzy sempat pergi berdua denganku?”
Dan sekarang hati Myungsoo hancur berantakan. Sakit. Rasanya benar-benar sakit. Ia merasa dihantam dengan batu besar dan dilempar dari ketinggian Gunung Himalaya yang menjuntai tinggi. Ini bisa membuat hatinya mati.
Tapi dibalik semua rasa sakit itu, Myungsoo justru bangkit dan langsung menghajar Soohyun tanpa rasa sangsi sedikitpun, melupakan tatakrama dan tempat ia berada saat ini.
“Jaga mulutmu Hyung. Aku tahu kau Hyung-ku, juga kakak iparku. Tapi aku tidak akan segan-segan melakukan apapun padamu.”

***

Suzy bersunpah, ia tidak berniat sedikitpun untuk menemui Jongin hari ini. Bahkan, awalnya ia berpikir untuk menjauhi Jongin selamanya. Pria itu berhak bahagia atas pilihannya sendiri, sebrengsek dan seburuk apapun mata orang lain memandangnya, mereka semua tidak tahu siapa Kim Jong In dan bagaimana dirinya yang sesungguhnya.
Suzy mendesah panjang. Mungkin ini yang membuat rasa bersalahnya bertambah. Karena ialah yang membuat Jongin menumbuhkan harapan dalam hatinya, karena dirinyalah yang membuat Jongin berubah..hanya dirinya. Dan dirinya pula lah yang mengecewakan Jongin. Dan apa? Jongin bahkan tidak melakukan apapun untuk menarik dirinya kembali pada Jongin. Dia begitu menghargai semua keputusan Suzy.
Suzy pun menatap lama pada gagang pintu pada tempat kerjanya dulu. Sebagai guru vokal…sekolah musik yang membuat Jongin dan Suzy semakin dekat setelah lulus kuliah. Agak konyol memang, karena baik Suzy ataupun Jongin tidak mengambil jurusan kuliah yang berhubungan dengan musik.
Tapi justru itu yang menjadi daya tarik dari kenangan mereka. Melawan arus namun mereka tetap bertahan…walaupun Suzy harus menghentikan langkahnya terlebih dahulu karena kenyataan dirinya yang tak memiliki daya untuk melawan keinginan sang ayah.
Terlalu dramatis bukan? Bahkan Suzy sering mencibir semua perasaan mendayu-dayunya dan kehidupannya yang mendadak serba dramatis. Haruskah ia menulis sebuah novel setelah ini?
“Hai? Kau Suzy kan?”
Suzy tersentak kaget dan langsung melepaskan tangannya dari gagang pintu tersebut. Untuk persekian detik, ia hanya diam membatu melihat sosok gadis yang seumuran dengannya itu. Namun detik berikutnya senyum di bibir gadis itu merekah sempurna.
“Lee Ji Hyun?!”

***

Tuhan baru saja menolong Suzy dari kegugupannya. Ia tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Jihyun –atau yang biasa dipanggil IU oleh murid-muridnya. Ia mungkin akan benar-benar merasa canggung dan kikuk. Tapi beruntungnya, Jihyun bisa membuatnya memiliki alasan untuk melangkahkan kakinya kembali ke dalam gedung ini. Gedung yang menjadi tempat pelariannya sekaligus tempatnya untuk menumpahkan seluruh hobi-nya yang terkungkung. Entahlah. Ia tidak merasa ada seorangpun yang benar-benar menghalanginya, tapi apapun yang Suzy ambil dulu selalu salah di matanya. Membuatnya benar-benar labil dalam urusan pekerjaan.
“Oya, kudengar Jongin sakit beberapa hari lalu, apa dia sudah kembali bekerja?” tanya Suzy berbasa-basi. Yeah, bagaimanapun semua orang tahu jika Jong In adalah ‘teman’ Suzy. Pria itu cukup tertutup dan pendiam, dan hanya dirinya yang benar-benar selalu didatangi dan diajak bicara oleh Jong In.
Jihyun tersenyum kecil dan mengikuti langkah Suzy untuk menaiki tangga menuju lantai atas, “Sepertinya kalian memang selalu disearahkan oleh takdir. Bagaimana kau bisa tahu? Padahal kukira semua orang kehilangan kontak denganmu setelah kau pergi ke London.”
Suzy tersenyum masam. Tidak. Jihyun salah. Tidak ada bagian dimana Jongin dan Suzy ada dalam arah yang sama. Tapi mereka hanya tertakdir untuk hidup dalam episode kehidupan masing-masing. Meskipun tanpa ada kata akhir bersama.
“Sahabatku yang memberitahuku. Dia kan bekerja di Seoul Hospital.” Sahut Suzy meluruskan. Ia tidak ingin Jihyun berpikir macam-macam.
Jihyun pun menjetikkan jarinya, “Apoteker itu kan? Tapi…” Jihyun pun menghentikan langkah kakinya yang membuat Suzy juga harus menghentikan langkah kakinya, “Apa sakitnya separah itu? Dia sakit apa sampai-sampai harus masuk rumah sakit?” tanyanya dengan wajah bingung.
Suzy lagi-lagi hanya memasang senyum. Ia tidak yakin apakah ia harus memberitahu Jihyun atau tidak. Hanya saja, ada segelintir rasa kecewa di dadanya. Lagi-lagi Jongin bersikap sok mandiri dengan tidak memberitahu siapapun soal sakitnya.
“Entahlah. Kurasa aku harus menanyakannya langsung sekarang. dia di ruang latihan kan?” jawab Suzy setengah berbohong. Ia akan selalu mencoba mengikuti alur permainan Jongin yang bersikap tertutup itu.
Jihyun pun mengangguk pelan, “Padahal muridnya sudah pulang sejam yang lalu. Kurasa dia latihan sendiri. Dan aku juga harus menanyakan soal sakitnya. Bagaimana bisa tak ada satu orang pun yang tahu jika ia sakit separah itu.” Gerutu Jihyun dengan nada kesal yang kentara. Dan lagi-lagi Suzy hanya tersenyum menanggapinya.

***

Berapa lama Suzy tidak menginjak lantai ini? Berapa lama ia tidak melewati koridor yang ditemani suara samar musik-musik dari tiap ruangan? Berapa lama ia tidak mencium aroma gedung ini? Ia selalu menyukainya. Dan ia bahkan sangat merindukan semuanya. Masalalunya.
Dan langkah kaki Suzy terhenti di depan sebuah pintu yang sudah lama tak disentuh retina matanya lagi. Padahal, dulu ruangan ini adalah ruangan ke dua yang selalu ia datangi setelah ruangannya sendiri. Saksi pendengar mengenai obrolan seputar musik yang sama-sama Suzy dan Jongin cintai, seputar impian dan harapan mereka untuk beberapa tahun ke depan…yeah. Mirip seperti remaja sekolahan yang berkencan di tempat-tempat romantis. Dan mereka justru melakukannya di tempat ini, ditemani alunan musik lembut yang seolah-olah mendukung hubungan mereka berdua.
Suzy pun membuka pintu tersebut dengan perlahan. Dan hal pertama yang menyambutnya adalah alunan musik keras yang menyentuh gendang telinganya. Suzy tidak langsung membuka pintu itu dengan lebar, hanya membukanya sedikit untuk melihat aktivitas Jong In.
Dan detik berikutnya, gadis itu sudah tersenyum manis…hangat. Pancaran mata dan senyum gadis itu begitu hangat dengan gejolak rindu yang menggema kuat di dadanya. Ia selalu suka ketika Jong In tengah menggerakan tubuhnya seperti itu. Suzy selalu suka ketika Jong In menari dan menyanyi. Kadang, ia pikir harusnya Jong In jadi artis saja. Mengingat Jong In juga memiliki wajah yang tampan.
Primadona kampus. Ia ingat bagaimana seantero kampus mengenal seorang Kim Jong In meskipun pemuda itu tidak menonjol dalam mata kuliahnya. Tapi para mahasiswi begitu memujanya. Dan sepertinya Suzy tidak salah untuk membanggakan dirinya sebagai gadis beruntung karena hanya dialah yang dapat berdiri did amping pria itu.
Dan di dalam ruangan, setelah ketukan terakhir musik yang menggema di ruangan itu berhenti, Jongin pun menghentikan gerakannya dan langsung terduduk di atas lantai sambil menghadap cermin besar didepannya. Ia tidak tahu apa yang ia pikirkan dan apa yang harus ia lakukan. Sejauh ini, tujuan hidupnya pun masih gelap. Dan semua berlangsung setelah Suzy meninggalkannya…
Dan oke, berhenti membahas Suzy. Gadis itu takkan kembali padanya…tidak akan.
“Sebotol lemon dingin. Kuharap aku tidak salah ingat tentang minuman favoritmu,”
Jongin terkesiap mendengar suara itu. Ia pikir ia tengah berhalusinasi karena terlalu sering dan terlalu dalam memikirkan Suzy. Tapi itu terlalu nyata dan…benar, ia dapat melihat bayangan Suzy terpantul di cermin.
Suzy pun tersenyum kecil. Kemudian duduk di samping Jongin sambil membuka tutup botol minuman yang dibawanya, “Kenapa diam? Kau tidak merindukanku? Aku bahkan sangat merindukan masa-masa seperti ini,” ujar Suzy kemudian. Lalu ia pun menyodorkan botol minuman yang sudah terbuka tutupnya itu, “Minumlah. Kau pasti lelah,”
Untuk persekian detik, Jongin tidak merasakan tubuhnya bergerak barang sedikitpun. Ia bahkan kehilangan nyalinya untuk sekedar menatap Suzy yang tersenyum hangat ke arahnya. Ini benar-benar seperti mimpi, bahkan ia tak sempat mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Suzy.
“Yak! Kau…”
Dan ucapan Suzy langsung terpotong karena pelukan Jongin yang tiba-tiba. Jongin mengutup perbuatannya saat ini…tapi untuk saat ini juga, ia hanya akan melakukannya sekali. Ia cukup terluka dengan semua keadaan yang menyerangnya secara tiba-tiba, dan mungkin tidak ada salahnya untuk mengobati lukanya oleh Suzy…sis umber rasa sakit yang selalu manis di mata Jongin.
Suzy yang awalnya terkejut, kini balik membalas pelukan Jongin.

***

“Kau jadi sangat kurus Kim Jong In. apa setelah kutinggalkan kau juga ikut meninggalkan nasi, huh?” sewot Suzy sambil memandangi lengan Jongin yang kini tengah dipegangnya. Sungguh, Suzy tidak bermaksud apapun. Ia hanya sedang menikmati waktu reuninya dengan Jongin tanpa ada maksud apapun.
Jongin hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Suzy. Bagaimana ia bisa makan dengan baik jika ia dihantui perasaannya terhadap Suzy? Dan belum lagi kecelakaan kemarin yang membuat Jongin harus bertambah stress karena harus mendekam diri di rumah sakit. Yeah. Ia benci tempat itu. Sangat-sangat membencinya.
“Sayang sekali ya, kita tidak bisa pergi ke pub seperti dulu.” kenang Jongin dengan mata terarah pada titik-titik cahaya yang mendadak begitu ramai di atas langit sana.
Suzy terkekeh pelan, “Kau bercanda? Myungsoo pasti akan menghukumku lagi. mungkin dia bukan lagi akan membawaku ke London, tapi Jamaika mungkin?”
Suzy sebenarnya tidak merasa leluconnya lucu sama sekali. Tapi Jongin justru tertawa pelan mendengar ucapan Suzy yang menurutnya tak masuk akal. Bahkan, Jongin tidak begitu tahu Jamaika ada dimana. Tapi sepertinya tempat itu tidak terlalu bagus untuk Suzy.
“Mustahil Bae Sooji. Myungsoo tidak akan melakukan hal segila itu…”
“tidak. Bukan itu maksudku…” potong Suzy cepat. Dan ia membuat senyum di bibir Jongin hilang saat ia menegakan punggungnya dan justru menatap kedua bola mata Jongin. Ia sama sekali tidak yakin untuk mengatakan ini semua terhadap Jongin…tapi hati kecilnya justru mendorong Suzy untuk mengatakan semuanya. Jongin berhak hidup bahagia. Jongin harus hidup baik-baik meskipun tanpa dirinya.
“Jongin-a, kau ingat soal gadis yang sempat akan dijodohkan padamu? Apa kau tidak tertarik untuk menemuinya lagi?” tanya Suzy hati-hati. Ia tahu Jongin sangat sangat sensitif jika harus membahas mengenai keluarganya ataupun masalah-masalah pribadi yang sangat jarang orang mendengarnya.
Dan reaksi pertama yang Jongin berikan adalah kerutan dahi. Ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Suzy, tapi tampaknya gadis itu ingin bicara serius.
“Kenapa kau tiba-tiba membahas gadis California itu?” tanya Jongin berusaha tetap biasa. Menyembunyikan rasa kesalnya karena harus menanggung rasa bebal yang disimpannya sejak lama.
Suzy hanya menggeleng pelan. Ia tahu ini salah, tapi jauh lebih salah jika membiarkan Jongin menderita karenanya. Harusnya sejak awal suzy tak pernah masuk ke dalam lingkaran hidup Jongin…karena ia sama sama sekali tidak bermaksud untuk merengkuh hati pria itu.
“Aku…aku hamil…dia bayi dari Myungsoo Oppa. dan kau tahu, aku sama sekali tidak tega membiarkanmu terus seperti ini…” Suzy pun mengangkat kepalanya menatap manik mata Jongin, “Kau berhak bahagia Kamjong-a…perlu ada seseorang yang menggenggam tanganmu lebih erat daripada ini,” Suzy pun mulai menggenggam tangan Jongin, “Menatap matamu dan mengerti apa yang kau rasakan,” mata Suzy mulai menatap manik mata Jongin. Lalu Suzy pun menarik tubuh Jongin ke dalam pelukannya, “Dan memelukmu lebih hangat daripada ini ketika kau menangis…dan aku percaya, Soojung dapat melakukannya untukmu…”
“Kau melupakan fakta bagaimana dia mengkhianatiku, hm? Perjodohan kami hanya untuk perusahaan semata. Kau tahu aku…”
“Aku tahu. Aku mengerti. Dan aku juga tahu, kau begitu mencintainya…hingga kau beralih padaku dan justru mengungkapkan segalanya padaku…tapi aku bukan dia Jongin-a. Aku bukan Soojung. Aku Sooji. Bae Sooji. Dan aku yakin, dia juga mencintaimu…”
“Tidak. Dia tidak mencintaiku…”
“Jika dia tidak mencintaimu, dia tidak akan berlutut meminta maaf padamu karena kesalahannya Jongin…”
Jongin pun mendengus pelan. Menahan airmata yang terus mendesak keluar dari kelopak matanya. Kemudian perlahan ia melepas pelukan Suzy dan kembali emnatap mata gadis itu, “Apakah ini bentuk ucapan selamat tinggal untuk kita berdua?” tanya Jongin berusaha menekan semua rasa sesak yang mencekiknya.
Suzy justru tersenyum kecil, kemudian ia memajukan tubuhnya dan menempelkan bibirnya di bibir Jongin. Mereka tak melakukan apapun, hanya menempelkan bibir mereka…mengungkapkan perasaan satu sama lain dan menelan kenyataan terpahit untuk diri mereka masing-masing.
Kemudian Suzy pun menarik kepalanya dan menatap mata Jongin kembali, “Kau harus menjadi dirimu lagi Kim Jongin. Jika kau mencintaiku, kabulkan permintaanku ini…dan soal Jiyoung ataupun kakak Naeun, aku akan mengurusnya untukmu.”

***

Suzy baru tiba di apartemennya dengan Myungsoo tepat jam 9 malam. Sebenarnya ia dan Myungsoo masih dalam situasi bertengkar, tapi ia merasa harus segera pulang ketika Myungsoo tiba-tiba mengirimnya sms singkat bahwa ia sudah berada di apartemen mereka dan ada yang harus dibicarakan. Suzy tidak yakin tentang apa yang akan Myungsoo bicarakan. Tapi firasatnya berkata bahwa itu bukan hal yang baik.
“Baru pulang? Jam 9 malam?” tanya Myungsoo dingin yang disambut dengusan malas dari Suzy. Demi Tuhan, ia sangat benci saat-saat dimana ia harus cekcok serius dengan Myungsoo. Terlebih, emosinya saat ini jauh lebih labil.
Suzy pun berjalan santai emnuju counter dapur, mengambil sebotol minuman dan meneguknya langsung –seperti yang biasa dilakukan Myungsoo. Dan entah kenapa ia justru ingin melakukannya sekarang.
“Kau ingin membicarakan apa?” balas Suzy balik bertanya pada Myungsoo. Sungguh. Ia tidak ingin ribut dan tidak ingin bertengkar dengan Myungsoo jika dia tahu jika Suzy baru saja bertemu dengan Jongin. Meskipun tanpa perasaan, ia pasti akan tetap diceramahi mengenai rumah tangga dan semacamnya. Ugh. Jika dipikir-pikir Myungsoo mirip ibunya yangs angat cerewet.
Rahang Myunsgoo tiba-tiba saja mengeras. Ia sebenarnya bisa meledak kapan saja, seperti bom waktu. Tapi kali ini ia harus menekan seluruh egonya. Ia harus bisa bicara baik-baik.
“Kudengar kau pergi ke dokter kandungan. Kenapa?”
Dan Suzy tiba-tiba tersedak mendengar penuturan Myungsoo yang tiba-tiba itu. Mata Suzy langsung membulat dan menatap Myungsoo. Kenapa Myungsoo bisa tahu? Apa dia membaca surat keterangan dokter? Atau…Soohyun? tiba-tiba saja ia teringat Soohyun. Karena hanya laki-laki itu yang mengetahuisoal kehamilannya –ditambah Jiyeon dan Jongin.
“Jadi, itu benar?”
“Kau…apa Soohyun Oppa yang memberitahumu?” tanya Suzy mengabaikan jawaban yang seharusnya ia berikan pada Myungsoo.
“Kenapa kau menyembunyikannya? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa Soohyun selalu tahu semua tentang dirimu dan aku tidak?! Kenapa kau malah bersikap seolah-olah aku tidak perlu tahu dan aku tidak penting!” Myungsoo kehilangan kontrol. Ia langsng memejamkan matanya dan tangan pria itu langsung mengejar kepalanya dan memijitnya pelan.
Dilain sisi, Suzy tak kalah terkejutnya dengan Myungsoo. Ia tahu ia slah…tapi ia tidak bermaksud buruk tentang itu. Ia hanya tidak enak karena ia sedang bertengkar dengan Myungsoo. Hanya itu. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikannya dari Myungsoo.
“Itu…aku…”
“Kenapa? Apa karena kau khawatir jika bayi itu bukan bayiku?”
Dan Suzy merasakan jantungnya seperti berhenti beberapa saat. Apa? apa Myungsoo bilang? Bayi yang dikandungnya bukan anak Myungsoo? Dadanya benar-benar sakit…ia seperti dihantam oleh jutaan batu yang ebratnya berton-ton. Sakit. Sangat sakit hingga ia kehilangan deskripsi untuk mengetahui dalamnya rasa sakit dalam hatinya.
“Kau tidak ingin mengakui anakmu? Kau tidak percaya padaku…?” tanya Suzy dengan suara parau. Ia benar-benar tidak percaya Myungsoo akan setega itu padanya. Ia tidak percaya jika Myungsoo baru saja meragukan anaknya…darah dagingnya sendiri.
Myungsoo terkesiap melihat reaksi yang diberikan Suzy. Tidak. Tidak ada nada rasa bersalah disana. Tapi amarahnya terus memuncak memaksanya untuk tidak mudah mempercayai Suzy.
“Kau kira aku tidak tahu kau pergi dengan Soohyun ke sebuah hotel saat aku ke Korea? Iya kan?”
Suzy tak lagi berkata-kata. Ia ingat kejadian itu…tapi ini benar-benar menyakiti perasaannya saat ia dituduh bahwa ia…tidur dengan Soohyun.
“Kenapa diam? Itu benar kan? Kau tidak bisa mengelaknya…” cecar Myungsoo lagi diluar kendali.
Suzy pun menegakan punggungnya. Airmatanya tiba-tiba berhenti, digantikan dengan awan kecewa dan kemarahan yang bercampur aduk yang tergambar jelas dimatanya. Ia pun melangkah mendekati Myungsoo.
“Ya. benar. Aku pergi dengan Soohyun karena hariitu hujan lebat. Aku baru saja mendatangia cara relasi Soohyun sekaligus kenalan ayahku. Dia kakakku dan semua orang tahu itu. Aku juga sempat berpikir buruk bahwa Soohyun melakukan sesuatu yang buruk padaku…tapi Nara Eonni ada disana juga. Dia langsung memberitahuku bahwa tak terjadi apapun padaku…dia menyelamatkanku.” Suzy pun menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar, “Kau…jika kau memang selalu meragukanku, kenapa kau tidak melepaskanku saja sejak awal, hm? Bukankah sudah kukatakan aku bukan gadis baik-baik?”
Myungsoo baru saja akan mengatakan sesuatu untuk membalas ucapan Suzy. Namun semuanya urung saat Myungsoo merasakan ponselnya bergetar. Dengan cepat Myungsoo mengeluarkan ponselnya untuk sedikit mengalihkan semua pertengkaran ini. Ia merasa bersalah dengan ucapannya sendiri….sungguh.
Dan ia dapat justru tambahan satu tekanan untuk masalahnya.
“Kau…kau melabrak Naeun?”
Suzy tersenyum sinis dan melipat tangannya di depan dada, “Dia menyakiti Jongin-ku. Dia membuat Jongin terkapar dirumah sakit melalui Jiyoung. Bedebah itu sepertinya harus mati agar tidak mengusik hidupku lagi. apalagi sampai mengusik seseorang yang membelaku habis-habisan…”
“Berhenti menyebut…”
“Kenapa?” tanya Suzy dengan nada meninggi, ia tidak mau lagi terlihat lemah di hadapan Myungsoo, “Bukankah kau meragukanku? Lalu kenapa kau harus tidak suka saat aku menyebut nama Jongin? Jangankan untuk membelaku, kau bahkan meragukan anakmu sendiri. Suami macam apa kau ini? Bahkan sepertinya kau lebih mengkhawatirkan pacarmu itu…”
“Suzy…”
Suzy langsung menepis tangan Myungsoo dengan kasar ketika pri aitu hendak menyentuhnya, “Jangan sentuh aku Myungsoo-ssi. Temui saja pacarmu itu. Aku baik-baik saja, sungguh. Jika Soohyun berpikir ini adalah anaknya, aku bisa meminta pertanggung jawaban darinya meskipun orangtua kamia kan sangat kecewa –ah, tidak. Mungkin aku akan mengurusnya sendiri. Aku masih punya cukup uang untuk membesarkan anak ini sendirian.”
“Bae Sooji!! Dengar…”
“Tidak Myungsoo-sii. Aku tidak mendengarkanmu. Karena sekaranga ku bukan istrimu lagi.”

***

=TBC=
06/07/14 11:08PM

Iklan

4 thoughts on “To You (19)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xia Han's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s