To You (20-END)

part 20-

Myungsoo mengerang frustasi. Jemarinya tak henti-hentinya menyentuh satu icon nomor dan mencoba memanggil nomor tersebut. Myungsoo tidak menghitung sudah yang keberapa kalinya ia menghubungi nomor tesebut, satu hal yang ia tahu, nomor tersebut sama sekali tidak menyahutinya.

“Aku bisa gila!” desis Myungsoo yang kemudian disusul garukan di kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu.

Ini adalah hari ke-3 Suzy menghilang dari apartemen mereka. Dan entah yang keberapa kali Myungsoo terus saja menghubungi nomor Suzy. Demi Tuhan, ia mengaku ia bersalah tapi ia tidak bisa jika Suzy harus tiba-tiba menghilang seperti ini. Ia tidak tahu harus kemana lagi untuk mencari Suzy.

Dia memang pengecut. Sejak awal ia memang pengecut. Ia tidak pernah bisa konsisten, ia hanya memikirkan dirinya tanpa memikirkan orang lain yangakan terkena imbas dari apa yang ia lakukan. Dan sekarang? bahkan jutaan kata maaf yang disusul rasa bersalahnya yang tulus saja takkan pernah bisa memperbaiki keadaan.

Harusnya hari itu ia bisa menahan Suzy, harusnya hari itu ia langsung meminta maaf pada Suzy, harusnya hari itu ia bertanya kemana Suzy pergi dan bukannya mendiamkan wanita itu begitu saja. Dan sekarang ia merasa membutuhkan Dongho untuk menghajarnya lagi. Ia benar-benar laki-laki brengsek yang tidak bertanggung jawab.

Ia tidak bisa diam lagi, ia harus menemukan Suzy. Wanita itu tengah mengandung dan laki-laki macam apa dirinya yang membiarkan istrinya sendiri pergi sendirian? Ia pun langsung menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.

 

***

 

Myungsoo sama sekali tak yakin ketika sekelabat nama Soohyun melintas dalam otaknya. Tapi salah satu orang yang mungkin Suzy temui adalah Soohyun. Ia terus saja menghentak-hentak kakinya ke atas lantai dengan mata terus memandangi pintu besar yang pasti memandangnya kecut. Ia telah menelantarkan putri tunggal dari pemilik rumah ini, dan dengan tanpa malu Myungsoo datang kemari…benar-benar tak tahu malu, kan?

“Myungsoo-ya? Kau kah itu?”

Myungsoo terkesiap ketika sebuah suara menyebut namanya dari arah samping. Ia pun segera memutar tubuhnya, dan detik berikutnya ia menarik paksa kedua sudut bibirnya ketika ia melihat Ibu Soohyun tengah berjalan ke arahnya.

“Eommoni…apa kabar?” Myungsoo buru-buru membungkukan tubuhnya. Ia harap aktingnya sama sekali tidak buruk, mengingat ia memang saka sekali tidak jago akting.

“Sangat baik. Ada apa tiba-tiba datang kemari?” tanyanya sambil menepukringan pundak Myungsoo.

Dan entah kenapa Myungsoo justru mengusap tengkuknya gugup, ia ingin bertemu dengan Suzy? Sungguh, pertanyaan itu benar-benar tidak pantas…kecuali Myungsoo siap ketahuan tengah bertengkar dengan Suzy.

“A…anu, eommoni apa Soohyun Hyung ada?” tanya Myungsoo akhirnya. Benar. Ia harus memastikan apakah Soohyun ada atau tidak terlebih dulu.

Wanita paruh baya itu agak mengerutkan dahinya, dan ini membuat Myungsoo justru tidak nyaman. Entah kenapa, tapi ia benar-benar merasa gugup.

“Kau tidak tahu?” tanyanya dengan nada bingung.

“Ne?”

“Soohyun sudah pulang ke London…ah, tidak. Ia pergi ke Swiss 3 hari lalu. Katanya kekasihnya sedang sakit dan Soohyun langsung pergi malam itu juga.”

Myungsoo semakin mengerutkan dahinya. Soohyun memiliki kekasih? Di Swiss? Myungsoo tahu Soohyun memang senang sekali pergi ke Swiss untuk liburan bersama Nara, tapi ia tidak tahu jika Soohyun memiliki kekasih disana…atau jangan-jangan itu Nara Noona?

“Kekasih? Hyung memiliki kekasih?”

Wanita itu justru tertawa kecil sembari mengibaskan tangannya, “Aku juga sangat shock saat ia berkata ia memiliki kekasih. Tapi hari itu Soohyun sangat panik. Kurasa kau juga mengenalnya, dia sahabat Soohyun juga dan pernah mengenalkannya padaku saat SMA dulu, jika tidak salah namanya…Na…Na…”

“Nara Noona?”

“Ah, iya. Namanya Nara. Kau juga mengenalnya, kan?”

Myungsoo termenung. Ini terlalu mendadak. Ia memang sama sekali tak keberatan jika Soohyun akhirnya menjadi kekasih Nara. Tapi ia tidak menyangka akan secepat ini bagi Soohyun untuk menerima gadis itu. Ia sangat tahu bagaimana cara Soohyun membicarakan gadis itu, hanya ‘teman’nya. Tidak peduli meskipun mereka tinggal serumah ataupun tidur diranjang yang sama, Soohyun tidak menyukai gadis itu.

“Kau mau masuk dulu?”

Myungsoo akhirnya kembali sadar dari lamunannya, ia pun langsung menggeleng dan membungkukan badannya, “Aniyo. Tidak apa-apa, lagipula aku masih ada urusan. Kalau begitu aku permisi dulu,”

 

***

 

Myungsoo sama sekali tidak fokus selama menyetir mobilnya. Pikirannya terus terbang pada ucapan ibu mertuanya mengenai Soohyun yang pergi ke Swiss 3 hari lalu. Jika Soohyun pergi 3 hari lalu, kemungkinan Soohyun bertemu dengan Suzy pun kecil.

Oh Tuhan! Ia benar-benar tidak tahu harus kemana mencari Suzy. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya? Ia benar-benar harus dihajar Dongho lagi jika hal buruk terjadi pada Suzy.

Tidak. Ia tidak boleh menyerah. Ia pasti bisa menemukan Suzy, pasti…

 

***

 

Myungsoo menatap enggan bangunan tinggi yang terlihat lebih rapi dibanding dirinya. Ia benar-benar kacau dan sekarang ia akan merasa lebih kacau jika ia harus bertemu dengan pria itu. Tapi ia harus mencobanya, ia tidak akan lupa bagaimana cara Suzy menyebut-nyebut nama Jongin dan secara bersamaan ia merasa kesal karenanya. Dan akhirnya, ia harus kembali bertemu dengan mantan kekasih Suzy tersebut…

Myungsoo pun melebarkan kakinya menuju pintu masuk bangunan Sekolah Musik yang dulunya merupakan tempat bekerja Suzy sebelum menikah dengannya tersebut. dan hal pertama yang menyambutnya adalah senyuman hangat dari seorang wanita di balik meja resepsionis.

“Permisi, apa disini ada pengajar yang bernama Kim Jong In?” tanya Myungsoo langsung. Tidak peduli apakah itu sopan atau tidak, ia mengenyampingkan itu semua.

Gadis itu sedikit mengerutkan dahinya, “Ya. dia sedang mengajar. Maaf, Anda ada keperluan apa dengan Kim Jong In-ssi?” tanyanya kemudian.

Myungsoo menghela napas panjang sebelum akhirnya ia kembali angkat suara, “Aku…aku temannya. Aku sudah ada janji untuk bertemu dengannya. Apakah aku bisa langsung menemuinya?”

 

***

 

Myungsoo beruntung sekali wanita berambut sebahu itu mau mengantarnya sampai ke lantai atas, tepat di depan sebuah ruang kelas.dengan ragu, Myungsoo pun mengulurkan tangannya, mencoba menarik kenop pintu secara perlahan. Oh yeah. Apakah ini sopan, atau apakah ini pantas atau tidak, ia benar-benar tidak mempedulikannya.

Dan hal pertama yang menyambutnya adalah alunan musik dengan volume rendah, diiringi suara Jong In yang sepertinya tengah menjelaskan sesuatu pada murid-muridnya. Myungsoo mendesah pelan, ia pasti akan mengganggu pria itu dan semoga ia tidak diseret security nantinya.

“Maaf? Ada orang disana?”

Myungsoo terkesiap saat suara itu meleburkan lamunan singkatnya. Dan belum sempat melakukan apa-apa, tiba-tiba pintu yang tadi terbuka kecil itu mendadak terbuka lebar dengan menampakan wajah Jong In yang terlihat terkejut.

“K…kau?”

Myungsoo menelan ludah pahit. Dulu ia yang menghajar pria itu, membawa pergi Suzy dari tangan pria itu tanpa mau tahu sejauh apa dan bagaimana hubungan pria itu dengan hubungan Suzy. Dan sekarang, dengan menjatuhkan seluruh harga dirinya ia kembali menemui pria itu dnegan tujuan mencari mantan kekasih pria tersebut. bahkan Myungsoo tidak berani menilai, sebrengsek apa dirinya dimata pria itu.

“Hai. Lama tidak bertemu Kim Jong In-sii,” sapa Myungsoo mencoba menetralkan suaranya.

Jong In hanya menatap Myungsoo datar, otaknya mulai berkelakar jauh mengenai tujuan pria itu mendatangi tempatnya secara langsung dan tentu saja hal itu agak tabu. Hal penting apa yang membuat pria memuakkan itu mau repot-repot muncul di hadapannya?

“Tidak usah basa-basi. Ada apa kau tiba-tiba datang kemari?” sinis Jong In mengabaikan tatapan tanda tanya dari beberapa pasang mata dari dalam ruang kelas yang menonton gratis mereka berdua.

Myungsoo pun mendengus pelan, “Baiklah. Aku hanya sebentar. Kau…apa kau sedang bersama Suzy sekarang?”

Sebelah alis Jong In langsung naik, “Suzy?”

“Y…ya. suzy. Apa dia bersamamu?”

Selama beberapa detik, Jong In sama sekali tidak bereaksi dan justru menatap datar dinding yang berada di belakang tubuh Myungsoo. Mata pria itu mulai berubah tajam dan kembali berlari menatap wajah Myungsoo bengis.

“Kau apakan Suzy?”

“Aku tidak membutuhkan pertanyaanmu Kim Jong In-ssi. Aku hanya perlu tahu…argh!” belum sempat Myungsoo menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terpental ke belakang dengan rahangnya yang terasa sangat sakit. Belum lagi suara pekikan murid-murid Jongin dari dalam yang semakin mendramatisir suasana.

“Jadi kau membiarkan Suzy pergi? Dan sekarang kau mencarinya padaku? Laki-laki macam apa kau, hah?!”

“Kau tahu dimana dia?” tanya Myungsoo lagi dengan nada memohon. Ia sangat berharap Jongin mau memberitahunya dimana keberadaan Suzy saat ini.

“Kau masih memiliki wajah untuk bertemu dengannya? Beginikah cara seorang suami menjaga istrinya yang tengah mengandung? Ah…atau kau berpikir untuk melepaskannya pergi dan kembali pada kekasihmu yang cengeng itu?”

“Tutup mulutmu Kim Jong In!!!”

Jong In benar-benar menutup mulutnya. Namun ia langsung maju mendekati Myungsoo dan menghajarnya dengan membabi buta. Melampiaskan semua rasa sakit yang menggerayanginya selama ini. Ia pikir semua sudah berakhir setelah pertemuan terakhirnya dengan Suzy. Tapi jika seperti ini keadaannya, mana mungkin ia bisa berpikir bahwa Suzy yang ia cintai bisa baik-baik saja berada di sisi pria ini?

“Songsaengnim…”

Jongin akhirnya berhenti menghajar Myungsoo setelah beberapa murid laki-laki mencoba untuk menahan Jongin yang sudah kalap. Dam mendadak koridor disana menjadi ramai karena keributan yang diakibatkan oleh Jongin dan Myungsoo.

“Kau harus bercermin dulu sebelum berpikir untuk menjadi suami Suzy, Myungsoo-ssi. Kau sama sekali tidak pantas. Dan seandainya kau berpikir kau pantas untuknya, setidaknya hari ini kau masih bisa melihat Suzy di jarak matamu dan bukannya malah mencarinya pada mantan kekasihnya. Dasar tidak tahu malu!”

Sakit. Rasa sakit itu semakin menjadid an meletup dahsyat di dadanya. Ia tidak memiliki penggambaran seperti apa mengenai sakitnya. Belum lagi ia merasa malu, malu pada dirinya sendiri yang telah menjatuhkan harga dirinya dan barusan, Jongin baru saja menginjaknya dengan mudah.

Dengan langkah tersaruk, ia pun melewati koridor itu dan memutuskan kembali ke mobilnya. Mengabaikan puluhan tatap mata yang menatapnya bingung, dan sebagian orang yang berbisik-bisik pelan sambil menatapnya tidak suka. Karena semua orang baru saja mendengar, Kim Myung Soo suami sah dari Bae Sooji baru saja mencampakan wanita itu. Wanita yang dulunya merupakan kekasih Jongin dan Myungsoo mengambilnya begitu saja…

 

***

 

Hari sudah semakin gelap. Dan Myungsoo masih kehilangan pikiran jernihnya untuk menemukan Suzy. Ia bahkan sudah menghubungi Dongho –dan tentunya ia mendapat ancaman tak lupa cacian yang juga menyertainya. Juga Jiyeon yang notabennya adalah sahabat terdekat Suzy. Tapi siapapun mereka, tidak satupun dari mereka bisa memberikan titik cerah.

Myungsoo mendengus pelan. Dan tanpa sengaja ia memperhatikan gelap malam yang ditemani bintang-bintang kecil di setiap sisinya. Dan dengan gila Myungsoo berharap, masalahnya bisa memikiki titik terang semudah ia menemukan bintang di atas langit meskipun awan hitam menutupinya.

Dan setelah memejamkan matanya, tiba-tiba Myungsoo membanting stir ke samping. Membuat mobilnya menabrak pembatas jalan dengan keras. Dan pikiran terakhir yang terlintas di kepalanya adalah, ia harap mobilnya akan benar-benar masuk jurang. Hingga akhirnya hanya gelap yang menutupi rasa sakit di sekujur tubuhnya.

 

***

 

-3 days ago-

Suzy berjalan pelan menyusuri trotoar yang masih terlihat ramai. Akhir pekan sepertinya menjadi hal menyenangkan bagi sebagian orang untuk membenahi sedikit rasa lelahnya yang ebrantakan. Suzy juga dulu seperti itu, dan itu benar-benar dulu hingga Suzyjuga merindukan semuanya. Ia benar-benar merindukan masalalunya.

Bunyi denting di ponselnya yang bunyi sedetik lalu membuat tangan Suzy merangsek masuk ke dqlam sakunya dan menarik benda persegi panjang tersebut. setelah melihat satu pesan tertera disana, Suzy pun langsung membukanya.

‘From : Soo Oppa
Baiklah, kita bertemu dimana?’

Suzy sedikit menarik kedua sudut bibirnya. Menutupi seluruh rasa sakitnya yang beberapa menit lalu masih menggentayanginya.

‘To : Soo Oppa
Baiklah. Sekarang di kafe S Coffe’

 

***

 

Soohyun sempat berpikir, mungkin ini akan menjadi pertanda bagus untuk awal hubungan dirinya dan Suzy. Tapi Soohyun tahu, setinggi apapun keinginannya untuk itu, itu hanya keinginannya belaka. Suzy bukan tipe orang yang mudah menarik ulur apa yang telah menjadi keputusan bulatnya. Dan tentunya, kemungkinan harapan Soohyun terwujud bahkan takkan sampai 1%.

“Oppa. sebenarnya apa yang kau katakan pada Myungsoo?” dan Soohyun benar-benar tersedakkarena pertanyaan Suzy barusan. Membuyarkan lamunannya dan kini mata Soohyun menatap mata Suzy lekat-lekat.

“Apa?”

Suzy mendengus pelan sebelum akhirnya ia menegakkan punggungnya –atau mungkin mencoba menyembunyikan aura hitam perasaannya. Soohyun kenal gerak-gerik itu.

“Aku tidak tahu maksudmu berkata seperti itu pada Myungsoo,” dan setelah mengucapkannya Soohyun tahu kemana arah pembicaraan ini, “Tapi kau tahu…kau membuatku berpikir dua kali mengenai hubungan kami.”

Soohyun menggeram dalam hati. Ia setengah merasa senang, berhasil membuktikan bahwa Myungsoo bukan pilihan tepat untuk Suzy –meskipun ia tidak menyangkan jika seandainy Myungsoo benar-benar berpikir buruk tentang Suzy. Tapi entah kenapa, separuh dari hatinya digerogoti rasa sakit yang entah bermakna apa.

“Apa sesuatu yang buruk menimpa hubunganmu dengannya?”

“Kau masih bertanya?” tanya Suzy sarkatik. Ia merasa muak dengan semua sikap kepura-puraan Soohyun. Apa susahnya menunjukkan gerak-gerik aslinya? Toh, nyatanya mereka saling mengenal satu sama lain sangat dalam. Bahkan Suzy tidak perlu berpura-pura tidak tahu soal kebobrokan Soohyun.

Soohyun menelan ludahnya pahit. Ternyata masalahnya cukup besar. Ia pun buru-buru mengambil sebuah botol soju dan menuangkannya ke dalam gelas dan menguknya dengan satu tegukan.

“Sudah kukatakan, Soo…kita tidak akan pernah bisa kembali. Bagian mana dari kalimat ‘kita tidak bisa kembali’ yang tidakkau mengerti?” tanyanya sekali lagi dengan jengah, “Aku pernah mencintaimu. Sangat mencintaimu. Dan jika perlu kuingatkan, kau cinta pertamaku Oppa…” dan entah sejak kapan airmata itu menggenang di pelupuk mata Suzy, “Aku akan selalu melakukan apapun untukmu. Apapun…aku selalu merasa senang saat melihatmu tersenyum karenaku. Saat itu aku berpikir, rasanya menyenangkan saat melihat seseorang yang kau sukai dapat tersenyum padamu…” suzy pun mulai mengangkat wajahnya, “Lalu siapa yang lari dari semua kebohongan yang takkuketahui itu? Aku tahu kau tidak terlibat dalam kejadian menjijikkan itu. Aku tahu Oppa…dan aku berharap kau akan datang dan menjelaskan semuanya. Kemudian berkata bahwa semuanya juga baik-baik saja…”

Dan yeah. Suzy benci bagian masalalunya dimana terdapat namanya dan nama Soohyun ada secara bersamaan.

“Aku menunggumu datang. Tapi kau justru lari…kau pergi begitu saja. Menghindariku seolah kau jijik padaku seolah kau berkata kau juga sebenarnya tahu kejadian itu akan terjadi. Kau mengecewakanku Oppa…” dan ucapannya kembali terhenti karena helaan napas panjang Suzy, “Dan aku bertemu Jongin. Dia lelaki baik…sekaligus player secara bersamaan. Semua gadis yang didatanginya 90% luluh dan bisa ia ajak berkencan di atas ranjang,” pandangan Suzy kini tertuju pada sedotan jus jeruk yang dipesannya, “Dan aku tidak begitu ingat, bagaimana akhirnya kami bisa saling mengenal dan justru terlibat satu hubungan yang…entahlah. aku dan dia tidak menyebutnya sebagai hubungan sepasang kekasih walaupun kami sering pergi bersama. Dan sayangnya aku bukan gadis murahan yang bisa jatuh ke dalam perangkapnya. Tapi kami sangat menikmati kebersamaan kami.” Dan mata Suzy kini beralih pada wajah Soohyun yang sudah menunduk.

“Kau bisa melakukan apa yang kau mau. Kau bisa mengambilku kapanpun kau bisa…dan itu hanya berlaku dulu. tidak untuk hari ini. Atau di masa depan. Aku tidak sedikitpun berpikir untuk memilihmu daripada Myungsoo,”

Dan yeah. Sekali lagi, Soohyun ditolak.

“Ingat Oppa. kita adalah adik kakak jika kau lupa. Semua orang berpikir hubungan kita tetap baik-baik saja tapi tidak pada kenyataannya. Dan kumohon, berhentilah…”

Suzy pun berdiri dari tempat duduknya saat ini.

“Dan kumohon, kembalilah pada Nara Eonni. Seandainya ada gadis yang layak kau cintai, itu adalah dirinya. Jangan lupakan bagaimana dia berkorban banyak untukmu Oppa…”

Dan setelah mengucapkannya. Suzy pun menyeret kakinya untuk menjauhi tempat itu. Sesuai dengan tujuannya sebelumnya. ia harus mengakhirinya. Benar-benar mengakhirinya. Persetan masalah yang ia lakukan dengan pernikahannya. Karena baik diriya ataupun Soohyun sama-sama korban.

 

Dan di dalam kafe. Soohyun masih diam mematung mencerna setiap ucapan yang Suzy lontarkan terhadaonya. Sakit. Tentu saja. Jangan tanyakan mengenai betapaparahnya sakit yang ia dera saat ini. Ia hanya tidak mau menggambarkannya…terlalu menyakitkan.

Dan setelah beberapa menit tenggelam dalam lamunannya. Ia kembali tertarik ke dalam dunia nyatanya saat sebuah pesan di akun socmed-nya berdenting, menandakan ada satu pesan masuk. Dari salah satu teman kuliahnya dulu, Woo Bin.

“Soohyun? Nara masuk rumah sakit. Saat ini dia di Swiss. Dia mengalami pendarahan. Syukurlah dia dan bayinya selamat. Kuharap kau segera datang, aku tidak tahu bagaimana cara menghubungi keluarganya.”

 

***

 

Suzy memtuskan untuk istirahat selama seminggu ke depan di sebuah kamar hotel yang ia sewa. Entah berapa lama. Ia hanya menikmatinya tanpa mau ambil pusing mengenai apapun. Dokter kandungan sempat mengingatkannya bahwa ia terlalu stress dan itu cukup berpengaruh terhadap kesehatan janin.

Dan siang ini, Suzy kembali bergumul dengan beberapa buku memasak. Oke, sebenarnya Suzy tidak berniat untuk mencoba belajar masak kembali. Ia sudah merasa cukup dengan segala tetek bengek pengajaran yang diberikan oleh Myungsoo padanya.

Mungkin ini…semacam mengidam? Baiklah, anggap saja begitu. Karena Suzy tiba-tiba merasa ingin belajar masak sesuatu yang berbeda. Seperti masakan cina mungkin? Mengingat saat ini Suzy tengah memegang buku masakan Cina yang cukup terkenal. Seperti sup udang asparagus atau bistik ayam.

Suzy baru akan memulai ritual memasaknya saat nama ‘Park Jiyeon’ tiba-tiba muncul dilayar ponselnya, disusul dengan suara nada dering ponselnya yang entah mengapa saat itu cukup membuat kepala suzy pusing.

“Hai Yeonie…kau…”

Belum sempat Suzy menyelesaikan omelannya, mulutnya langsung terkatup rapat saat mendengar rentetan kata yang diucapkan Jiyeon disebrang sana.

“M…mwo?” dan suzy sama sekali tidak menyadari nada suaranya benar-benar tercekat.s

Setelah mendengar penjelasan singkat Jiyeon, Suzy langsung mematikan ponselnya dan berlari ke arah pintu. Kepalanya sekarang benar-benar merasa sakit tak terkendali. Ini gila. Tidak mungkin Myungsoo nekat untuk bunuh diri…

Suzy menghela napas panjang. Mengabaikan rentetan pikiran yang membuat kepalanya pening. Apapun yang diucapkan oleh para pengopini itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting saat ini adalah keadaan Myungsoo yang baik-baik saja. Demi Tuhan. Ia hanya perlu mendengar itu maka ia juga akan merasa baik-baik saja.

Tak sabar menunggu lift yang terasa sangat lama. Suzy pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan tangga darurat. Sama sekali lupa bahwa ada satu nyawa lagi yang tengah bergantung pada dirinya. Ia sama sekali tidak mengingatnya dan terus berlari menuruni tangga. Hingga dilantai ke 2 –dari lantai 4, Suzy baru menyadari ia tidak lagi sendiri. Perutnya yang terasa sakit itu membuatnya mau tak mau harus menghentikan gerakkakinya.

Sembari menggigit bibir, Suzy buru-buru menghubungi sebuah nomor di ponselnya. Ia sangat buru-buru dan keadaan tak memungkinkan baginya untuk melakukan segala sesuatunya seolah semua normal.

“Dongho-ya…ini aku. Tolong jemput aku sekarang di Hotel X. Aku tunggu kau sekarang disini. Kumohon cepat, Myungsoo kecelakaan…”

 

***

 

Jiyeon hari itu datang agak sinag daripada biasanya. Karena hari itu datang beberapa pekerja baru, Jiyeon pikir agak mangkir sedikit pasti takkan membuat masalah besar. Lagipula semua keperluan obat-obatan sudah sesuai dan apotik baru dibuka siang nanti.

Jiyeon baru saja melewati pintu utama UGD. Bersamaan dengan datangnya sebuah ambulan, tak lupa dengan suara sirine yang menyakitkan telinganya. Satu poin khusus yang membuatnya tidak begitu betah di rumah sakit.

Jiyeon sebenarnya tidak berinisiatif untuk menoleh ke arah samping. Tapi rasa penasarannya justru membiarkan kepalanya justru berputar ke arah samping, ingin melihat pasien apa yang baru tiba di sana.

Tubuh Jiyeon membeku ketika mendapati sosok yang tak asing tengah terbaring lemah diengan darah memenuhi sekujur tubuhnya. Tunggu…bukankah itu Kim Myungsoo?

Jiyeon pun buru-buru mengikuti ranjang pasien tersebut. berjalan masuk ke dalam UGD. Dan benar saja, itu adalah Myungsoo. Kim Myungsoo.

“Astaga…apa yang terjadi padanya?” tanya Jiyeon tiba-tiba panik pada salah seorang yang tadi mengantar Myungsoo.

“Kau mengenalnya? Dia baru saja mengalami kecelakaan tunggal. Menurut saksi, sepertinya dia sengaja menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan.”

“A…apa?”

Dan yang selanjutnya, Jiyeon tidak mendapatkan jawaban. Semua orang mulai sibuk satu sama lain dan menyisakan dirinya yang terpikirkan dengan satu nama. Sooji. Bae Sooji.

 

***

 

Suzy berjalan cepat dengan tangan yang terus menyentuh perutnya yang masih terlihat rata. Dari arah belakang, Dongho sesekali menahan Suzy, mengingatkannya bahwa ia tidak bisa gegabah dengan berlari seperti itu.

Suzy sama sekali tak mengindahkannya. Ia benar-benar kelewat panik. Ia terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit sembari melepaskan cengkraman tangan dongho yang semakin kuat.

“Bae Sooji!” tegur Dongho keras. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Suzy sekarang.

Suzy pun menghentikan langkah kakinya. kedua mata basah miliknya itu menatap mata Dongho yang berubah tajam.

“Demi Tuhan, Sooji, kau harus tenang. Bagaimana jika setelah ini justru kau yang terbaring di ranjang rumah sakit?!” bentak Dongho sekali lagi.

Suzy menggeleng cepat, “Aku tidak mungkin bisa tenang. Bagaimana aku bisa tenang sedangkan aku…”

“Suzy?” ucapan suzy langsung terpotong saat sebuah suara memanggil namanya. Membuat kepala gadisitu langsung berputar cepat ke arahnya.s

Dan tepat di depan sebuah pintu, wanita yang berstatuskan sebagai Ibu Tiri suzy itu tengah menatap sayu ke arahnya. Suzy pun langsung mendekati wanita tersebut dengan wajah yang benar-benar pucat pasi, disusul Dongho yang berjalan dibelakangnya.

“Myungsoo? Dia di dalam? Dia baik-baik saja Eomma?”

“Ssst. Tenanglah. Dia baik-baik saja. Oke? Dokter bilang kita hanya perlu menunggu dia siuman.” Ucap wanita itu sembari mengusap puncak kepala Suzy. Kemudian ia tersenyum ke arah dongho yang baru saja membungkukkan tubuhnya.

“Si…siuman?” manik mata wanita paruh baya itu kembali beralih pada Suzy. Dengan helaan napas berat ia pun mengangguk, “Masuklah dulu. ayahmu juga sudah berada di dalam.”s

 

***

 

Tangan Suzy langsung berlari membekap mulutnya sendiri. Ia benar-benar kelewat shock saat melihat Myungsoo terbaring tak berdaya di atas ranjang seperti yang ia lihat. Dengan beberapa bebatan perban yang membuat tubuh Myungsoo semakin terlihat ringkih. Membuat dada Suzy semakin berdegup kencang, ia ditendang rasa penyesalan yang dalam.

Ayah Suzy yang melihat kedatangan putrinya itu tadinya akan mulai berceramah panjang karena ponselnya tidak aktif –dan memang sengaja dinonaktifkan dan hanya menggunakan ponsel lain yang hanya bisa dihubungi oleh Jiyeon. Ia mengerti bagaimana terkejutnya Suzy saat melihat Myungsoo.

Perlahan, Suzy mulai mendekati ranjang Myungsoo. Kemudian ia pun mendekatkan kepalanya ke arah Myungsoo, ia benar-benar ingin memperhatikan Myungsoo dari dekat. Kemudian tangannya menggenggam erat tangan Myungsoo.

“Kau…apa yang kau lakukan, hmm? Kekanakan. Kau kira dengan melakukan tindakan gila seperti itu bisa menyelesaikan masalah?” omel Suzy pada Myungsoo yang memejamkan matanya. Seolah-olah Myungsoo bisa mendengar semua ucapan suzy.

“Cepat bangun…Oppa. kau tahu, harusnya kau tidak boleh melewati masa trisemester kehamilanku. Bayi ini…membutuhkanmu Oppa…”

Ayah Suzy sebenarnya sangat ingin memeluk putri tunggalnya tersebut. tapi ia didahului oleh sang istri yang langsung menarik Suzy ke dalam pelukannya, “Tenanglah. Semua baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan…”

Dan tangis Suzy pecah seketika. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir bahwa semuanya baik-baik saja sedangkan ia tahu apa yang membuat Myungsoo seperti ini? Bagaimana ia bisa berpikir dengan jernih sedangkan pada kenyataannya kepalanya serasa akan meledak saat itu juga?

 

***

 

Ini merupakan hari ke 2 sejak Myungsoo yang belum juga membuka matanya. Ini benar-benar membuat Suzy takut sebenarnya, ia dihantui pemikiran-pemikiran buruk yang kadang-kadang ikut menghantui mimpinya. Dan seperti biasa, wanita itu duduk di salah satu kursi panjang di ruang inap Myungsoo sembari memperhatikan Myungsoo. Sangat berharap pria iatu akan membuka matanya secepatnya.

Dan Suzy hampir tenggelam dalam lamunannya sendiri jika seandainya ia tidak mendengar suara pintu yang di bukan. Dan disana, terdapat Jiyeon yang tengah menampilkan senyum khas nya ke arah Suzy.

“Sudah waktunya makan siang. Dan kau Nyonya Kim, kau harus segera mengisi perutmu karena anakmu juga perlu makan,” gurau Jiyeon yang Jiyeon sendiri tahu, benar-benar kaku.

Suzy hanya tersenyum kecil, kepalanya kembali berputar ke arah Myungsoo, “Semua selera makanku habis terserap dengan kekhawatiranku padanya.”s

Jiyeon pun ikut-ikutan menoleh ke arah Myungsoo dengan tatapan sedih, “Kau juga harus kuat untuknya. Jika Myungsoo bangun saat kau dalam keadaan kurus kering kerontang, dia pasti akan sangat sedih.”

Suzy pun terkekeh hambar, “Mana mungkin. Harusnya aku yang sedih melihatnya benar-benar seperti tulang,”

Jiyeon hanya menggeleng pelan, “Aku tidak peduli. Yang penting, sekarang kau harus makan. Jong In terus menelponku dan menceramahiku untuk menjagamu. Kau tidak ingin dia tiba-tiba berubah menjadi Soohyun ke dua untuk merebutmu, kan?”

Suzy mendengus pelan, “Ancaman apa-apaan itu? Dan kenapa Jong In harus melakukannya?”

Jiyeon pun mengedikkan bahunya. Ia pun langsung menariklengan Suzy, “Karena mereka mencintaimu mungkin? Dan ternyata dengan sangat tidak beruntung kau malah jatuh pada Myungsoo.”

Suzy mendelik tajam mendnegar ucapan Jiyeon, “Apa? tidak beruntung?”

Jiyeon hanya mengangguk dengan tetap menarik Suzy, “Kau yang suka mengatakannya dulu.”

 

***

 

Dan sepeninggal Suzy, Naeun kini sudah duduk di depan ranjang Myungsoo. Menatap nanar pria tersebut dengan tangan yang menggenggam erat tangan Myungsoo yang tanpa tenaga itu.

“Rasanya sangat mengerikan mendapati tanganmu yang tak lagi menggenggam tanganku…” gumam Naeun pelan, kepalanya menunduk menyembunyikan airmata yang terus tumpah membasahi pipinya, “Aku tahu, mungkin di masa depan kau juga takkan bisa menggenggam tanganku seperti dulu. dan aku juga pasti tidak bisa menggenggam tanganmu seperti ini. Buruk sekali bukan?” ucap Naeun lagi tanpa resmon siapapun.

“Aku tahu, mencintai orang lain selain dirimu itu pasti akan sulit kembali. Tapi aku akan mencobanya, untukmu Oppa…” Naeun pun mendongak dan menghapus airmatanya, “Aku pasti bisa menemukan pria yang jauh lebih tulus mencintaiku. Juga yang pasti, dia jauh lebih tampan darimu. Kau pasti menyesal.” Kemudian terdengar kekehan mengerikan dari mulutnya sendiri.s

“Aku pasti akan sangat merindukanmu Oppa. sangat. Dan aku…akan tetap mencintaimu.”

Dan setelah mengucapkannya, Naeun pun langsung mengecup pipi Myungsoo, “Cepat bangun, arra? Kasihan istrimu. Tega sekali kau membuatnya harus bermalam di rumah sakit berlama-lama saat dia tengah mengandung.” Ucapnya lagi sebelum akhirnya ia meninggalkan ruang inap Myungsoo. Dan mungkin, itu yang terakhir kalinya bagi Naeun untuk melihat Myungsoo.

“Maaf…” langkah naeun terhenti ketika ia mendengar suara Suzy. Ia pun buru-buru berbalik. Dan benar saja, Suzy ada 1i belakang Naeun saat ini.

“Maaf…karena telah mrebut ekasihmu. Seserang yang sharusnya menjadi milikmu,” kata Suzy lagi yang dibalas gelengan oleh Naeun.s

“Tidak. Itu bukan salahmu. Dia hanya tidak tertakdir bersamaku. Itu saja,”

 

***

 

Suzy menarik selimut Myungsoo hingga batas dagu, kemudian ia mengusap pelan pipi pria tersebut, “Cepat bangun. Kau jelek saat memejamkan mata terus menerus sepertiitu,” gurau Suzy sebelum mengecup kening Myungsoo.

Dan saat akan menjauhkan tubuhnya, tiba-tiba tangan Suzy tertahan oleh pegangan tangan Myungsoo. Tunggu, Myungsoo menahan lengannya?

“Myung…Myungsoo?”

Dan benar saja. Myungsoo membuka matanya perlahan, membuat Suzy merasakan kupu-kupu beterbangan heboh dari perutnya.

“H…hai Suzy…a…ak…aku me…merindukanmu…”

 

***

 

21/07/15 09:54PM

Iklan

10 thoughts on “To You (20-END)

  1. Ping-balik: Xue Han’s Library | Xia Han's Pen World

  2. ehem 😀 maapkan daku thor hihiw
    Komennya langsung numplek blek di chapt ini.
    Ini endingnya gantung, sumveh
    Epilog kek 😀 usahain ya
    Biar gak gantung kek jemuran
    Tapi asli ini keren loh

    Suka

  3. Baru coment maaf…hmmm…akhirnya mereka baikan..seneng rasanya….jgn ada yg gouah lg deh…eh dh end ya..hehehe…suka pokoknya…q pe ngebut bacanya …skali lg mf ya thor..hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s