[PROLOG] JUST ONCE

sad-lonely-girl-wallpaper-with-sunset

Title     : Just Once

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Sad

Main Cast: Kim Jong In as EXO-K Kai, Ashley Lee as Original Character

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

***

 

Ashley tidak pintar. Ashley juga tidak memiliki prestasi yang sebegitu menjulang, seperti laki-laki yang berjarak kini tengah duduk dan mendengarkan penjelasan Ashley dengan raut tidak senang. Jujur saja, Ashley cukup merasa tersinggung dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Jongin saat ini. Mereka sudah saling mengenal sejak lama, lama sekali. Bahkan Ashley tidak lagi menghitung berapa lama waktu telah membawa nama laki-laki itu ke dalam hidupnya.

“Aku tidak menyangka kau akan mengambil Jurusan Bahasa Jepang,” kata Jongin sedikit melenceng dari obrolan mereka sebelumnya.

Ashley hanya terkekeh kecil, menyembunyikan rasa kecewanya. Ia tahu seberapa besarrasa cintanya pada Jongin yang tidak pernah berubah semenjak pertama ia merasakannya pada Jongin. Ada banyak cerita, tentang perkenalan mereka yang tidak lazim, tentang persahabatan mereka yang selalu diwarnai oleh senyum dan air mata, tentunya janji-janji semu yang hancur karena perasaan Ashley…

Oh, itu sudah lama sekali. Bahkan Ashley sudah berjanji untuk tidak menyangkut pautkan masalah itu ke dalam bisnisnya hari ini, bisnis yang akan dilakukannya dengan Kim Jong In saat ini.

“Jangan berpikir bahwa aku mengejarmu karena tahu kau akan pergi ke Tohoku University,” Ashley pun menjawab dengan nada sedikit datar, “Aku dan usia 17 tahunku mungkin akan berpikir seperti itu,” Ashley memutar bola matanya dan menjatuhkannya tepat di retina mata Jongin, “Tapi sekarang usiaku sudah menginjak 21 tahun. Bahkan, Desember nanti aku sudah berusia 22 tahun. Aku tidak senaif itu lagi.”

Jongin mengangguk dengan tarikan senyum tak berarti, “Jadi, kenapa kau tiba-tiba menawariku bisnis semacam ini?” Tanya Jongin akhirnya. Akhirnya Ashley bisa mulai membahas masalah bisnis mereka, dan bukannya masa lalu mereka. Masa lalu yang hanya berkesan bagi Ashley, dan bukannya Jongin.

Ashley melipat tangannya di atas meja, membiarkan music halus berbahasa jepang menyentuh gendang telinganya lembut. Selembut sentuhan rasa kopi yang dipesannya, juga sentuhan angin musim gugur yang telah dinantikan Ashley sejak jauh-jauh hari sejak perencanaannya ke Jepang.

“Tidak ada. Aku hanya tertarik dengan semua perjalananmu. Bagaimana kau memulai mimpimu sejak sekolah menengah pertama, lalu tiba-tiba kau harus menghentikan mimpimu sebagai dokter saat dokter memvonismu mengalami buta warna parsial. Lalu kau masuk sekolah ternama di Taipei, dan semua mimpimu mulai tertaea kembali di sana. Kau terkenal, semua orang mengagumimu, dank au berhasil menembus Tohoku. Itu semua menarik di mataku,” jelas Ashley dengan jujur. Mungkin kedengarannya sedikit tidak masuk akal, terlebih Ashley mengetahui perjalanan hidup seorang Kim Jongin, setidaknya sampai perpisahan tanpa kata yang dilakukan oleh mereka berdua.

Tapi ini berbeda. Ashley sudah merencanakan tentang penulisan buku ini. Dan karena sekarang ia sudah berhasil dengan perusahaan penerbitan sekaligus percetakan buku yang didirikannya –tentunya ia juga telah menjual banyak tulisannya—ia rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memulai impiannya.

“Ini bukan tentang biografi biasa. Semuanya akan disusun berbentuk novel. Itu rencanaku. Aku akan mernjelaskannya padamu secara detil jika kau sudah sepakat. Kau bisa menceritakan atau bahkan menuliskannya, tentang perjalanan hidupmu, mimpimu, persahabatan, percintaan, atau hal-hal berkesan lainnya. Aku akan menyusunnya dengan baik,” Ashley kembali meyakinkan Jongin yang mulai terlihat menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya.

“Kau tahu banyak tentangku, kenapa tidak langsung kau tulis saja?”

Ashley tersenyum kecut, “Kau pernah bilang, aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Dan…kau benar. Saat ini kita bertemu bukan sebagai teman lama ataupun teman satu sekolah, aku benar-benar menemuimu karena sekarang kau sudah bekerja di bidang pendidikan. Aku datang sebagai tamu, sebagai penggemarmu dan seseorang yang tengah menawarimu sebuah bisnis, Tuan Kim.”

Jongin mengangguk pelan. Ia pun menarik gelas kopinya dan menatap Ashley beberpa saat. Ini sudah lama sekali sejak pertemuan terakhirnya dengan Ashley. Juga pertengkaran terakhirnya. Jongin mendesah pelan dan kembali meletakkan gelasnya setelah menyesap isinya. Ia tidak tahu kenapa ia merasa perlu menjauhi Ashley dulu. Jongin tahu Ashley sudah menyukainya sejak lama –sejak SMP. Tapi di akhir jenjang sekolah menengah atasnya, Jongin rasa semua perasaan Ashley salah. Jongin merasa kehilangan Ashley sahabatnya. Gadis itu tiba-tia penuh obsesi, penuh posesif dan…entahlah, Jongin tidak terlalu nyamand engans emua itu.

Jongin menjauhi Ashley. Itu benar, Jongin takkan menyangkalnya. Dan Jongin juga dengan sengaja menutuo mata dari rasa sakit yang dialami gadis itu setelah pertengkaran hebat mereka, tentang persahabatan, dan cinta yang dimiliki Ashley.

Tapi hari ini, entah kenapa ia tidak suka dengan cara bicara Ashley yang seolah memojokkannya. Benar, mereka memang bertemu saat ini bukan sebagai teman, tapi setidaknya Ashley bisa melihat Jongin dengan kaca mata teman, bukannya sebagai relasi kerja yang benar-benar belum saling mengenal.

Jongin tidak nyaman. Terus terang. Ia harap, ia bisa sedikit lebih cair dengan suasana aneh saat itu, tapi Ashley sudah berubah. Dia bukan lagi gadis culun yang berpenampilan asal-asalan. Dia wanita sekarang. Meskipun tetap berpenampilan santai –gadis itu tetap menyukai hal simpel—tapi Ashley terlihat lebih…apa ya? Yang pasti, itu tidak biasa. Dia juga lebih menarik, mulai dari cara bicaranya, cara menatapnya. Dulu, Jongin hanya bisa mendapati tatapan itus aat Ashley tengah mendebat sesuatu –gadis itu suka mendebat, dan juga saat Ashley menceritakan sebuah filosofi ataupun tengah mengomentari sebuah filosofi, ataupun politik. Ah, gadis itu benar-benar membuatnya harus mengabsen kenangan masa lalunya.

“Jika aku menolak?”

Ashley mengedikkan bahunya, “Itu terserah padamu. Aku tidak memaksa.”

Jongin pun memajukan tubuhnya sedikit, “Apa kau menjamin buku ini akan laris?”

Ashley mendesah pelan, “Tidak ada jaminan seperti itu. Aku tidak terlalu suka menjamin sesuatu. Terkadang, aku merasa puas dengan tulisanku, atau beberapa tulisan dari novelis yang tertarik untuk menerbitkan bukunya di tempatku. Tapi pembaca justru kadang tidak memiliki sudut pandang yang sama denganku. Jadi itu tergantung nanti. Yang bisa kujamin saat ini, aku akan mempromosikannya dengan sebaik mungkin. Membuat pembaca tertarik.”

Jongin mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja, “Berapa yang akan kudapat dari penjualan buku itu?”

“10%,” jawab Ashley tegas, “Aku anggap kau sebagai penulisnya. Jadi aku akan memberimu 10%.”

Jongin pun memutar kepalanya ke arah kaca besar di sampingnya, kaca tembus pandang yang memperlihatkan aktivitas orang-orang yang sebagian besar mulai memakai baju hangat –atau mungkin semua memang sudah menggunakan baju hangat. Dan yang benar-benar menarik perhatian Jongin, adalah pohon-pohon yang mulai menjatuhkan dedaunannya ke atanah. Sebuah pemandangan tercantik setelah bunga yang bermekaran di musim semi nanti.

“Jika kau tidak…”

“Aku terima,” Jongin pun menyela ucapan Ashley tanpa menatap gadis itu, “Sepakat. 10% dari setiap buku yang terjual,”

Ashley hanya membalas ucapan Jongin dengan sebuah senyuman.

 

***

 

Ashley kira, pertemuannya dengan Jongin 6 bulan lalu akan menjadi pertemuannya yang terakhir. Karena setelah pertemuannya itu, Ashley langsung kembali ke Korea, ke kota kelahirannya, Daegu. Dan, semua urusan bisnisnya dengan Jongin telah ia serahkan pada orang kepercayaannya. Semuanya. Ia tidak ingin lagi ada alasan untuk melihat Jongin.

Semuanya lancer. Buku yang bertemakan biografi Jongin yang ditulisnyapun akan dirilis lagi yang kedua kalinya bulan depan. Dan tentu saja, Ashley harus menahan patah hatinya saat membaca kisah cinta Jongin yang tak terendus Ashley. Ashley harus mendengus geli saat membaca tulisan itu –Jongin sempat menulisnya dulu sebelum menyerahkannya pada Ashley, semua itu membuat Ashley yakin bahwa selama ini ia hanya benalu bagi hidup Jongin.

Tapi semua prediksinya salah. Dan tanyakan saja pada ayah Ashley yang tiba-tiba mengajak Ashley pergi ke Seoul. Bertemu teman katanya. Entah teman yang mana, saat itu (tepatnya seminggu lalu) Ashley sama sekali tidak penasaran dengan teman yang akan ditemui ayahnya. Tapi ternyata, teman yang diaksud ayah Ashley adalah ayah dari Kim Jongin. Dan…itu buruk.

“Bagaimana bisa ayahku mengenal ayahmu? Bahkan profesi mereka berbeda, mereka juga tidak pernah satu sekolah, lalu kenapa tiba-tiba…” Jongin menghentikan ucapannya dan justru menggaruk kepalanya frustasi. Ini benar-benar hamper membuat Jongin gila.

Ashley merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi sekarang. Ia juga sama frustasinya, tapi Ashley hanya bisa beridiri di depan pintu masuk apartemen Jongin sambil memandangil kakinya yang sama sekali tidak menarik.

“Kau tidak merencanakan ini semua, kan? Kau tidak mencari ayahku dan berusaha membuat kita dijodohkan seperti sekarang, kan?” Jongin tiba-tiba bersuara.

Dengan gerakan cepat, Ashley mengangkat kepalanya dan menusuk mata Jongin dengan tatapan dinginnya. Apa dia bilang? Ashley yang merencanakan ini semua? Perjodohan mereka? Jongin kira siapa dirinya sampai Ashley harus melakukan hal tidak berguna semacam ini? Jongin kira Ashley perempuan macam apa yang harus mengejar cinta Jongin sampai harus berbuat hal konyol seperti itu?

Jika Ashley mau, Ashley bisa melakukannya sejak dulu Ashley memang gadis nekat,tapi Ashley tahu batasan nekat yang dimilikinya. Terlebih saat ini Ashley bukan lagi remaja yang udah termakan perasaan, Ashley memang mencintai Jongin, tapi sekarang Ashley lebih tertarik untuk mengurusi bisnisnya, semua tulisannya, juga meneruskan rencananya untuk kuliah di Shanghai Jiao Tong University.

“Kau tahu? Ini tidak masuk akal. Dan anehnya kau…”

Ashley langsung melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Jongin, dan tanpa rasa segan Ashley langsung melayangkan telapak tangannya ke pipi Jongin. Ashley tahu Ashley bukan gadis yang memiliki tabiat baik, ia hanya gadis biasa yang juga punnya banyaks ekali kekurangan dan sangat sering melakukan kesalahan. Ia tidak sempurna, terlebih jika dibandingkan dengan Jongin yang kini tengah meneruskan S2-nya di bidang Kimia, Jongin yang dulunya menjadi idola sekolah karena terus-terusan mengikuti olimpiade Kimia. Ashley sama sekali bukan gadis seperti itu. Ia hanya penulis biasa.

Ashley tidak mengatakan apapun dan justru langsung mengambil ponselnya di dalam saku celananya dan menyentuh layar ponselnya, menghubungkannya pada seseorang, “Yoo Minah? Ini aku Ashley. Aku ingin rencana percetakan kedua buku Falling Star dibatalkan…tidak, Yoo. Aku ingin semuanya dibatalkan. Semua yang berhubungan dengan buku itu.”

Jongin mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa barusan? Ashley menyebutkan uku berjudul Falling Star? Jongin bahkan tidak sadar napasnya sempat tersendat dengan nada dingin Ashley saat bicara pada seseorang bernama Yoo Minah tersebut. Falling Star adalah buku tentangnya.

“Kau bercanda?” desis Jongin tak habis piker. Ashley mengambil keputusan seolah hal itu adalah hal tersepele, “Kau telah melakukan kesepakatan denganku dan…”

“Kau brengsek Jong,” Ashley mati-matian menahan desakan air matanya, “Sejak dulu, sejak kau menjadi murid terfavorit di Seoul, kau benar-benar menjadi seorang yang brengsek. Dan aku tidak perlu repot-repot mengatakannya, kan?”

“Ashley…”

“Aku mencintaimu? Ya. Aku akan menjawabnya dengan tegas, Jong. Tapi aku tidak suka cara bicaramu tadi. Kau bukan apa-apa. Aku bisa melupakanmu, aku bisa hidup tanpamu, aku baik-baik saja. Kau harus tahu itu,” Ashley pun berbalik hendak meninggalkan Jongin, “Aku hanya menghormati keputusan ayahku. Jika kau ingin membatalkan pernikahan kita bulan depan, lakukan saja. Aku akan mencari hotel menginap malam ini. Aku akan kembali ke Seoul besok.”

 

 

20150520

 

 

Iklan

2 thoughts on “[PROLOG] JUST ONCE

  1. jongin kenapa begitu ? kasian ashley nya
    harusnya jongin berusaha mencintai ashley yg mencintai dia selama itu !! keren eonni ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s