[1] JUST ONCE

just-once

Title     : Just Once

Main Cast: Kim Jong In as EXO K Kai, Ashley Lee (OC)

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

POSTER : Arcee@PosterOrder

***

 

“Saat mengingat namamu, hanya satu hal yang selalu kulakukan, yaitu berdoa pada Tuhan agar satu kali saja, kau bisa membalas perasaanku.”—Ashley

 

Jongin memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Pusing. Ia benar-benar kelewat pusing untuk menghadapi Ashley, kuliahnya, pekerjaannya, dan perjodohan yang sama sekali tidak pernah menyentuh isi pikiran Jongin.

Jongin hanya bisa menarik lengan Ashley saat gadis itu menamparnya dengan keras –sakit sekali—dan setelahnya ia hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun. Gadis ini payah dalam menghapal jalan, dan Jongin sama sekali tidak percaya jika Ashley bisa menghapal jalan dengan cepat di Tohoku. Gadis itu bisa saja menjadi mahasiswi di Tokyo, dan sayangnya mereka bukan ada di Tokyo. Mereka ada di Tohoku, di apartemen tempat Jongin tinggal.

“Jangan gegabah! Kau ingin ayahku membunuhku karena membiarkanmu pergi sendiri?” ucap Jongin frustasi. Ia tidak tahu harus melakukan apalagi untuk membuat gadis itu sedikit saja menekan emosinya.

Dengan cepat, Ashley menghempaskan tangan Jongin, “Lalu apa urusannya denganku? Tidak ada. Jika kau akan dibunuh, maka kau yang akan mati. dan itu sama sekali tidak akan berefek apapun untukku,” sungutnya penuh emosi, tak lupa dengan telunjuk kurusnya yang sudah ia arahkan tepat ke depan wajah Jongin.

Jongin sedikit tertegun dengan adegan ini, adegan perengkaran mereka –Ashley yang menunjuk wajah Jongin dan memelototinya. Emosi gadis ini tidak berubah. Ashley masih gadis sensitif yang pemarah, gadis yang tidak mudah dan tidak mau diintimidasi oleh siapapun. Gadis yang sama sekali tidak akan mau kalah berdebat, dengan siapapun, termasuk guru Sains yang pernah dibentaknya saat kelas 3 SMP dulu –oh, itu bukan kenangan yang baik.

“Kau tidak hapal jalan di Tohoku. Ini sudah jam 9 malam. Kau kira kau bisa berkeliaran semaumu di tempat asing?” suara Jongin mulai merendah. Ia lelah, bahkan hanya untuk kembali meninggikan rasa kesalnya. Ia tidak mau ambil pusing lagi tentang keberadaan Ashley. Ia bisa menunda pikiranya yang satu ini dan harus memfokuskan pikirannya pada pekerjaannya yang belum sempat ia selesaikan.

“Lalu apa pedulimu?” kata Ashley masih dengan nada membentak. Ia pun dengan cepat melangkahkan kakinya menjauh, berjalan menuju lift yang pintunya masih tertutup.

“Setidaknya kau masih tunanganku saat ini, sampai keputusan final hubungan kita,” kata Jongin yang berhasil sedikit mengubah pikiran Ashley. Jujur saja, Ashley mudah sekali terpengaruh dengan ucapan Jongin, dan Jongin tahu betul akan hal itu. Meskipun Ashley akan memukulnya, menendangnya, tapi dari semua kejadian yang pernah mereka alami, pada akhirnya Ashley akan tetap mendnegarkan Jongin.

“Aku tidak mau jadi tunanganmu,” desis Ashley masih menghadap pintu lift, “Dan seandainya aku harus tetap bertunangan atau bahkan menikah denganmu, aku tidak akan menjadi anjingmu lagi.”

Kasar. Itu adalah kalimat terkasar yang pernah diucapkan Ashley di seumur hidupnya. Seluruh rasa sakitnya telah banyak mengubah Ashley. Gadis itu memamng sensitif, pemarah, cerewet, dan menjadi tempramen juga frontal semenjak Jongin meninggalkan Ashley begitu saja –setidaknya menurut Ashley, Jongin lah yang meninggalkannya terlebih dahulu.

“Kalau begitu jadikan aku sebagai anjingmu sampai keputusan final kita…” rahang Ashley mengeras saat mendengar suara lirih Jongin, “Kau boleh membenciku Byul…kau boleh menjadikanku sebagai anjingmu, kucingmu, atau apapun itu. Dan kumohon, mengertilah…dengarkan aku setidaknya untuk saat ini.”

 

***

 

“Kubilang aku lebih suka Junsu Oppa daripada Jaejoong Oppa. kenapa kau terus-terusan menggambar Jaejoong Oppa, sih?” sewot Ashley sambil menunjuk gambar Jongin dengan jengkel.

“Ini jauh lebih baik daripada aku tidak menggambarnya sama sekali, Zy! Makanya, sudah kubilang kau harus memintaku menggambar Super Junior dan bukannya TvXQ!” balas Jongin dengan tatapan malasnya.

“Oh, karena kau sangat tergila-gila pada Donghae? Ayolah, kau ingin bersaing mendapatkan idolamu dengan pacarmu sendiri? Aku bukan Hana, jadi…”

“Oke, oke. Aku akan membuatkan Junsu, dan berhenti mengatakan Hana adalah pacarku. Aku dan dia hanya sama-sama suka Super Junior,” tandas Jongin cepat.

“Aku ingin tahu bagaimana reaksi anak-anak di sekolah jika tahu si pendiam Jongin adalah seorang fanboy dari Super Junior. Tsk…menggelikan. dan asal kau tahu ya, ini sudah yang kelima kalinya kau membuat gambar Jaejoong. Dasar! Jong! Jong! Jong!”

Jongin mendelik saat Ashley mulai memanggilnya Jong karena ia jauh lebih mudah menggambar wajah Jaejoong daripada Junsu, “Aku bukan fanboy dan jangan panggil aku seperti itu!”

“Lalu kau ingin aku panggil apa? Hae? Donghae? Lee Donghae?”

“Dasar Byul jelek!!!”

“Ha! Itu nama penaku! Lee Byul! Dan jangan tambahkan kata jelek di belakangnya!”

“Masa bodoh! Dasar Byul Jelek!”

“Jong Fanboy!”

“Byul Jelek!”

 

“Aku tidak bisa masak, dan kau mau menyuruhku mengolah semua ini? Dan terlebih, aku tidak suka sayur!” Ashley masih saja bersuara dan membuat telinga Jongin sedikit berdengung. Di saat marah pun, Ashley tetaplah pemarah yang akan terus mengomel.

“Ada ramen, kau bisa masak sendiri, kan?” kata Jongin acuh tak acuh. entah kenapa rasanya mereka kembali menjadi remaja 15 tahun yang meributka hal tak berguna. Sifat asli mereka keluar dengan sendirinya.

Ashley mendesis geli, “Aku ingin nasi dan kau menyuruhku masak ramen? Kau ingin aku jatuh sakit? Tunangan macam apa yang tega membuat kekasihnya sakit?”

Jongin tidak menjawab dan lebih memilih tenggelam dengan proyek barunya. Masa bodoh apakah Ashley akan memilih makan atau justru akan terus mengomel tanpa henti seperti tadi. Jongin hanya bisa memastikan gadis itu tidak melarikan diri dari Tohoku dan menjadi korban orang hilang, selebihnya ia tidak mau tahu karena ia terlalu pusing.

Dan setelahnya, Ashley benar-benar tidak bersuara lagi. ia memutuskan untuk memakan ramen tanpa mau bicara lagi pada Jongin. Si pria terbrengsek yang pernah dikenalnya. Laki-laki yang selalu mengusik suasana hatinya jika mereka sudah bersama. Yang terparah, mereka sekarang malah berada di bawah satu atap. Itu benar-benar mengerikan.

“Oi! Kau kemana saja? kenapa tiba-tiba menghilang?” Ashley membuka pesan di akun Line-nya dan mendapati nama Woohyun disana.

Jongin yang mendengar dentingan dari ponsel Ashley hanya menatap Ashley sekilas, kemudian hanya menggeleng pelan saat mendapati Ashley justru tengah tersenyum sendiri dengan mata terfokus pada layar ponselnya.

Ashley masih tersenyum saat mengetikkan sesuatu di ponselnya.

“Kau yang kemana saja? kau berjanji akan menelponku sepulang dari Hong Kong. Dan ternyata kau malah menghilang.”

Ashley kembali memakan ramennya dengan semangat. Akhirnya Woohyun kembali. Meskipun ia tidak bisa melihat Woohyun secara langsung, tapi ini jauh lebih baik ketika ia harus mendapati wajah menyebalkan Jongin.

“Kau bisa tidur di kamar jika kau mau,” kata Jongin saat Ashley baru saja selesai makan dan tengah mencuci peralatan makan yang dipinjamnya dari Jongin.

Ashley hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap mangkonya yang sudah bersih, lalu ia pun meletakkannya dengan cepat, “Aku tidak akan tidur di kamarmu.”

Jongin berdecak, kemudian ia pun berbalik meninggalkan Ashley, ia benar-benar muak dengan segala kalimat yang terus dikeluarkan oleh gadis itu.

“Ah, besok kita harus membahas tentang hubungan kita…”

“Sekaramg saja,” sela Ashley dengan nada cuek, “Kenapa kita harus menundanya? Kau tahu, semakin ditunda maka akan semakin membuatku sulit mengambil keputusan dimana aku harus tinggal.”

Jongin mendengus keras, “Aku ada kerjaan. Kau kira aku hanya mengurusi masalah ini saja? ada banyak masalah yang harus kupikirkan selain masalah kita.”

“Lalu kau kira aku menganggur?” nada sarkatik itu membuat Jongin harus menghindari kontak mata dengan Ashley, “Aku meninggalkan kantor dan membuat janjiku dengan dua penulis terkenal harus batal. Ini sesuatu yang sangat memalukan. Aku juga harus menunda sebuah pertemuan yang membahas sebuah event, membuatku tidak bisa datang ke acara pameran buku, dan yang terparah…” Ashley menarik napas panjang, “Aku harus menghentikan produksi buku Falling Star.”

Jongin menggaruk kepalanya kesal, “Lalu apa yang kau inginkan?”

Ashley pun memilih duduk di sofa ruang tengah dan menatap layar televisi yang kebetulan tengah menayangkan sebuah acara penghargaan dimana TvXQ ada di sana. Oh, idolanya benar-benar keren. Meskipun telah ditinggalkan 3 personel lain dan hanya menyisakan Changmin dan Yunho dalam grup, tapi mereka tetap bisa eksis, terutama di Jepang.

“Putuskan sekarang,” mata Ashley masih terpaku pada Yunho yang tengah mengucapkan terimakasih pada penonton, “Kau ingin melanjutkann pertunangan ini, atau kau ingin mengakhirinya. Jika kau ingin meneruskannya, maka kita tidak perlu bertemu sampai pernikahan nanti dan aku bisa pulang secepatnya. Dan jika tidak, aku bisa langsung pulang besok dan kita tidak perlu bertemu lagi.”

Jongin mendengus kasar, “Kau egois! Kau kira hanya dengan memilih maka semua selesai?” teriaknya dengan nada putus asa. Demi apapun! Ini bukan hanya tentang menikah atau bertunangan, ini berhubungan langsung dengan masa depannya!

“Karena kau tidak mencintaiku,” kata Ashley masih memandang layar televisi yang tengah menampilkan TvXQ yang menyanyikan lagu Before U Go, “Kau tidak bisa menerimaku. Kau tidak siap menghabiskan sisa hidupmu bersamaku,” Ashley masih bicara seolah-olah hal itu amat biasa, “Dan karena kau tahu aku pernah mengalami gangguan bipolar.”

Jongin terhenyak. Ia mendengar nada terluka dalam kalimat Ashley. Ia memang mengabaikan Ashley, ia juga telah lama tidak melihat gadis itu lagi. tapi ia juga mengenal Ashley dengan baik. Ia tahu apa yang dia suka dan dia tidak suka. Termasuk gangguan bipolar yang dibicarakannya…

“Ini tidak ada hubungannya dengan semua itu, Byul…”

“Tentu tidak,” Ashley mengambil gelas di hadapannya dan meneguk isinya sampai habis, “Karena kau tidak menginginkan semuanya berhubungan dengan apa yang kukatakan barusan. Tapi satu hal yang harus kau tahu, Jong…”

Ashley tersenyum lebar saat Changmin mengedipkan sebelah matanya ke arah kamera. Dasar genit, gumamnya dalam hati, “Aku tetap mencintaimu meskipun kau menjauhiku, meskipun kau memcampakkanku. Dan aku akan tetap menerima semua pernikahan ini. Aku akan menunggu sampai kau yang membatalkannya…”

“Byul…”

“Kita bukan sahabat lagi, Jong. Jadi jangan harap aku akan memaksakan diriku untuk mengerti keadaanmu seperti dulu. aku tidak akan mendengar alasanmu. Batalkan semua jika kau mau, tapi jangan libatkan aku karena semua ini kemauanmu, pilihanmu, dan resiko juga ada di tanganmu.”

 

=TBC=

20150530

 

Iklan

7 thoughts on “[1] JUST ONCE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s