Married with a Gay (Kai’s Story) (Chapter 1)

Title     : Married With A Gay (Kai’s Story)

Main Cast: Kim Jong In as EXO-K Kai, Lee Haeun (OC), Park Chan Yeol as EXO-KChanyeol

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length :Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Ravenclaw | Hospital Art Design

***

“Pada pukul setengah delapan, Tuan Muda mulai berangkat sekolah dan kami akan menjemput tepat pukul 10 malam setelah jam tambahan di sekolah selesai, setelah itu Tuan Muda akan sampai di rumah pada pukul setengah sebelas malam dan mulai kembali belajar pada pukul sebelas malam dan akan selesai tepat pukul satu malam. Setelah itu Tuan Muda bisa istirahat sampai pukul enam pagi.”

Kim Jongin masih memperhatikan layar ponselnya tapa sedikitpun mau tahu dengan apa yang dikatakan oleh Sekretaris Choi—dan jangan berpikir bahwa Sekretaris Choi adalah seorang pria, dia adalah wanita berkepala 4 yang sangat dingin dan menakutkan, setidaknya di mata Jongin. Demi Tuhan, bahkan ia belum menjadi seorang direktur atau apapun yang bisa membuat perusahaan orang tuanya meenjadi setinggi langit, tapi peraturan baru yang diberlakukan padanya sejak sebulan lalu –sejak ia ditetapkan sebagai pewaris utama Misaeng Group—kehidupannya benar-benar berubah total. Terlebih lagi, sekarang ia sudah menginjak kelas tiga SMA, dan itu semakin membuat orang tuanya –tepatnya ibunya—semakin gencar untuk menjadikan Jongin sebagai sarjana ekonomi atau setara dengan itu, dan kemudian dengan permainan belakang layar, Jongin pun bisa duduk di singgasana utama Misaeng Group.

Jongin tidak ingin memikirkannya, ia bahkan lebih tertarik untuk memikirkan tentang PR Kimianya yang sengaja tidak ia kerjakan tadi malam, tapi pada akhirnya ia akan kembali diingatkan soal aktivitasnya yang begitu suram, dan akhirnya semua itu berhasil membuat mood dan kepalanya ikut suram.

“Dan…Tuan Muda, sekarang kita akan berangkat…”

“Mana Chanyeol?” tanya Jongin mengabaikan ucapan Sekretasis Choi dan menatap salah satu pelayan yang berdiri tak jauh dari Jongin.

Wanita yang berusia sekitar 25 tahun itu memutar bola matanya gugup ke arah Sekretaris Choi, namuna akhirnya ia tetap menjawab dengan nada ragu, “Tuan Muda Park sedang…”

“Suruh dia turun dan katakan padanya agar cepat. Aku tidak suka dibuat menunggu,” Jongin langsung bangun dari tenpat duduknya. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan ruang makan itu, Jongin mendekat ke arah Sekretaris Choi, “Dan Ajumma, aku mohon, sekali ini saja jangan ganggu jadwal menariku, oke?”

“Tapi Tuan Muda…”

“Ayolah…” rengek Jongin kesal, “Aku bukan putra presiden negara ini ataupun seorang pewaris tahta sebuah kerajaan besar. Aku hanya Kim Jong In yang dipaksa ibuku untuk menjadi pemilik Misaeng Group…”

“Tuan Muda…”

Jongin sama sekali tidak peduli dan tetap melanjutkan, “…Lagipula Chanyeol juga cukup cakap dalam masalah seperti ini, kau tahu nilai ekonominya yang tertinggi….”

“Tuan Muda…”

“…aku lebih tertarik untuk menjadi penari daripada menjadi boneka di balik meja kerja,”

“Tuan Muda!”

Jongin menatap malas Sekretaris Choi yang mulai memelototinya. Jongin tahu dimana letak kesalahan kata-katanya, tapi ia justru semakin tertarik untuk mengucapkan kata-kata terlarang itu, “Ayolah…Ajumma tahu Eomma tidak akan tiba-tiba muncul dan menjewerku seperti tempo hari…”

“Sudah kukatakan pergi duluan saja Jong…”

Jongin menegakan tubuhnya dan menyeringai kecil ke arah Sekretaris Choi, “Aku tidak mau punya ekor, seperti rubah saja…”

Chanyeol menatap Sekretaris Choi yang mulai jengkel dengan Jongin, namun dengan cepat ia kembali menatap Jongin, “Kalau begitu ayo…” dan dengan cepat juga ia menarik Jongin dari tempat itu. Ia tahu keberadaannya tidak terlalu disenangi disana, jadi pergi lebih cepat akan lebih baik bukan?

 

***

 

Chanyeol terus saja tertawa saat Jongin mengeluhkan soal sikap semua orang rumah terhadapnya. Sebenarnya cerita Jongin tidak benar-benar lucu, tapi entah kenapa Chanyeol semangat sekali untuk menertawakan jongin.

Menjadi seorang chaebol mungkin jadi mimpi kebanyakan orang –bahkan chaebol bisa menjadi lawan selebriti dalam masalah berita dan lain sebagainya. Tapi bagi Chanyeol, menjadi chaebol sama saja menjadi sebuah boneka, jika kau tidak bisa mengendalikan, maka kau akan dikendalikan. Dan Chanyeol merasa harus bersyukur, meskipun ia salah satu seorang chaebol, tapi ia bukan seseorang yang dituntut untuk memegangi perusahaan terbesar di Korea. Sehingga tidak ada istilah mengendalika-dikendalikan, yeah setidaknya tidak sebanyak Jongin.

Dan tentu saja semua itu berbanding terbalik dengan Jongin –sepupunya yang kini tengah duduk di sebelahnya sambil mengeluhkan banyak hal. Bahkan ia mengeluhkan soal sarapannya yang membosankan. Chanyeol ingin menyela, tentu saja. Seharusnya Jongin bisa mensyukuri itu. tapi jangan berharap bisa menasehati seorang Kim Jongin. Dia pemuda keras kepala yang selalu mau menang sendiri.

“Kudengar Haeun baru saja kembali dari Daegu. Memangnya dia diberi tugas apa sampai harus jauh-jauh ke Daegu?” tanya Chanyeol sedikit membelokan obrolan mereka. Chanyeol juga agak jenuh jika harus membahas soal istana mereka yang takkan berubah dengan rentetan keluhan kelabu.

Dan Jongin langsung menjetikkan jarinya, dan dia pun mulai berujar dengan jengkel, “Benar! Aku tak habis pikir bagaimana bisa dia harus ke luar kota saat tugasku menumpuk. Ah, aku benar-benar merindukannya…” Jongin sedikit mendramatisir sambil menjatuhkan kepalanya ke atas meja kantin, “Harusnya dia mengerjakan PR-ku semalam. Dan gara-gara dia pergi, aku harus mengerjakan lebih banyak soal…”

Chanyeol menggeleng kecil dan meneguk cola-nya, “Kau tidak merasa terlalu jahat padanya? Kau selalu saja menyuruh ini dan itu padanya…”

“Salahnya sendiri kenapa ia ikut Choi Ajumma dan tinggal di rumah kita. Tentu saja saat Ibu bilang Sekretaris Choi yang akan mengatur jadwalku, aku langsung meminta Haeun sebagai tumbalnya,” Jongin pun meyeringai kecil, “Lagipula dia bagus dalam bidang akademis. Aku bisa minta bantuannya kapanpun…”

Chanyeol mendesis. Ia sebenarnya kurang suka dengan bagian yang satu ini, bagian dimana Jongin begitu semena-mena terhadap Haeun yang sebenarnya tidak bersalah. Tapi mau bagaimana lagi? Chanyeol bukan siapa-siapa, ia hanya ikut ibunya untuk tinggal bersama sang nenek yang masih menjadi pemegang saham tertinggi di Misaeng Group. Dan dengan tidak beruntungnya –menurut Ibu Chanyeol—justru Kim Jongin lah yang menjadi pewaris utama.

“Apa menurutmu dia tidak berkencan dengan Sehun? Belakangan ini dia sering kesana-kemari dengan Sehun…”

Jongin menatap Chanyeol dengan kurang suka, ia tidak suka tiap kali Chanyeol selalu membahas Lee Haeun, seolah-olah gadis itu begitu penting. Padahal, Haeun bukan siapa-siapa dan keberadaannya juga hanya menguntungkan Jongin –karena dia adalah ‘asisten’ Jongin, tapi Chanyeol selalu membahasnya terus, membuat Jongin…jengkel.

Jongin mendengus kecil. Dan jujur dari lubuk hatinya terdalam, Jongin jauh lebih jengkel dengan perasaan jengkelnya terhadap Chanyeol yang membicarakan Haeun.

“Itu bukan urusanku. Urusaku dengannya adalah, semua tugasnya diselesaikan dengan benar…”

“Kau seperti bukan manusia…”

“Kkurasa hanya kau yang masih memiliki hati manusia di dalam keluarga Misaeng Group.”

Chanyeol tersenyum kecut. Tentu saja ia masih memiliki hati manusia. Karena satu-satunya hal yang membuatnya bisa merasa seperti manusia, adalah perasaan jatuh cinta. Setidaknya seperti yang dirasakannya terhadap Haeun, meskipun tidak ada jaminan happily ever after…

 

***

 

“Haruskah aku yang merangkum semuanya? Kau sudah banyak mengerjakan tugas kita…”

“Tidak apa-apa. Aku kan laki-laki, dan lagi kau sudah direpotkan dengan Kim Jongin,” sanggah Sehun cepat, kemudian disusul senyum tulus yang terukir di bibirnya.

Haeun mengibaskan tangannya, “Kkamjong memang seperti itu. untung dia Tuan Muda-ku, kalau bukan sudah kulempar mukanya dengan sandal,” katanya kemudian dengan nada berapi-api. Yeah, Haeun memang menaruh dendam cukup besar untuk Jongin. Tapi apa daya, akhirnya ia hanya bisa menelan mentah-mentah kekesalannya.

Sehun yang duduk di sebelah Haeun justru tertawa keras. Entah bagian Haeun yang menggebu-gebu menceritakan Jongin, atau justru karena Jongin yang menjadi topik pembicaraan mereka di halte saat ini. Tapi untungnya, Haeun tetap ikut tertawa.

Dan selama beberapa menit, Haeun dan Sehun sama-sama diam menikmati pikiran mereka masing-masing. Musim panas belum sampai pada puncakya, membuat mereka tidak perlu merasa jengkel dnegan suhu yang keterlaluan –dan justru menikmati angin yang entah bagaimana bisa menerpa mereka berdua.

“Haeun-a,” panggil Sehun dengan nada ragu, namun tetap berhasil membuat Haeun menoleh ke arah Sehun.

“Bisa kau berikan ini pada Jongin? Tapi…jangan katakan itu dariku. Bisa, kan?”

Haeun menaikan sebelah alisnya, entah harus bingung atau menaruh rasa curiga. Sehun memang bertingkah aneh pada Jongin, entah dia terobsesi pada seorang chaebol atau apa. Yang pasti, tingkahnya sangat aneh sekali jika sudah berkaitan dengan Jongin.

“Baiklah, karena kau telah mengambil tugas terberat dalam perjalanan kita, aku akan memberikannya pada idolamu itu,” Haeun mengedikan bahu dengan cuek, kemudian mengambil kotak berwarna biru muda itu dengan senang hati.

“Gomawo…”

“Umm…” Haeun mengangguk dan langsung memasukan kotak yang sedikit misterius itu ke dalam tasnya.

 

***

 

“Aku pulang My Prince~” teriak Haeun sesampainya di kamar Jongin yang sangat sangat luas. Haeun bahkan menjatuhkan rahangnya saat pertama kali memasuki kamar tersebut.

Jongin yang sedang asyik dengan komputernya, langsung memutar tubuhnya dengan cepat. Ia sangat antusias melihat Haeun ada di depannya saat ini. Bahkan jika ia tidak malu, ia mungkin sudah memeluk Haeun saking senangnya.

“Yak! Kau pulang? Kau baik-baik saja? Kenapa tidak bilang padaku jika kau sudah pulang, hah?” kata Jongin sambil mengguncang bahu Haeun dengan agak keras.

Haeun mendengus pelan dan buru-buru menepis tangan Jongin, “Munafik sekali. Tugas apa yang membuatmu harus mengkhawatirkanku begitu?” kata Haeun sambil menghampiri meja belajar Jongin, yang kemudian diikuti Jongin dan mendahului Haeun dengan cepat.

Ia pun mengangkat buku PR Kimianya yang tidak berperikemanusiaan –menurut Jongin, tugas itu sangat susah sekali sampai membuat perut Jongin mual setengah mati, “Kimia. Yook Saem sepertinya sedang patah hati sampai tega memberi tugas sesulit ini.”

“Kau saja yang payah,” ledek Haeun dnegan cuek –tidak peduli meskipun ia ditoyor oleh Jongin akhirnya.

Haeun pun mengambil buku Jongin dan langsung duduk di depan meja duduk yang ada di tengah kamar Jongin. Haeun tidak ingin membuang banyak waktu disana, ia harus mengerjakan tugasnya sendiri.

Jongin dan Haeun memang berstatus sebagai majikan dan bawahan. Tapi karena sudah enam tahun bersama-sama, Jongin tidak lagi banyak protes dengan sikap seenaknya yang selalu dilakukan Haeun. Masuk kamar Jongin, meyentuh barang Jongin, dan masih banyak lagi. Karena Jongin sudah merasa banyak bersyukur ketika Haeun mau banyak membantunya. Membantu kabur dari sekolah misalnya.

“Apa saja yang kau lakukan disana sampai tidak memberi kabar akan pulang?” tanya Jongin memecah keheningan. Ia tidak terlalu suka diam terlalu lama.

“Wawancara, meneliti, dan yang pasti berduaan dengan Oh Sehun,” Haeun mengakhiri jawabannya dengan sebuah leletan lidahnya.

Jongin mendecak pelan, “Jadi kau benar-benar berkencan dengan laki-laki berkulit pucat itu?” Jongin menyahut dengannada sedikit mengejek.

Haeun sedikit menendang kaki Jongin tidak terima, “Itu masih lebih baik daripada memiliki kulit gelap sepertimu!”

“Kau meledek majikanmu?”

“Bahkan kau tak bisa hidup tanpaku!”

“Kau saja yang terlalu kegeeran!”

“Lalu siapa yang hampir memelukku karena merindukanku?”

“Aku tidak merindukanmu! Aku hanya ingi kau menyelesaikan tugasmu!”

 

***

 

Chanyeol berjalan malas ke arah dapur. Dengan mata sedikit terjatup, ia menyesali tidur sorenya yang tak kunjung membawa kata ‘puas’ untuk menghilangkan rasa capeknya. Ia harus membuat lagu hari ini, dan sepertinya semua takkan berjalan lancar karena rasa kantuknya yang keterlaluan.

Dan Chanyeol suda berniat kembali ke kamarnya, sampai suara pertengkaran yang tak asing di telinga Chanyeol kembali terdengar. Chanyeol tersenyum kecil, juga sedih bersamaan. Ia cemburu, jujur saja. Ia merindukan Haeun-nya, dan sayangnya di hari pertama kembainya gadis itu, justru bukan Chanyeol yang menjadi orang pertama yang dicarinya, melainkan Kim Jongin –atasannya atau yang lebih cocok disebut couple. Mana ada majikan dan bawahannya yang seakrab itu? belum lagi Jongin yang tidak lagi arogan saat Haeun berada disekitarnya.

“Oppa?”

Chanyeol sudah berniat untuk sedikit merajuk pada Haeun hari ini –tapi semua buyar begitu saja saat sapaan gadis itu menyapa gendang telinganya. Chanyeol refleks berbalik dan membagikan senyumnya secara Cuma-Cuma pada Haeun –seolah rasa cemburunya tadi hanya omong kosong belaka.

“Kau baru pulang? Kenapa tidak mengabari kami sama sekali?” Chanyeol langsung mengubah arah jalannya menjadi berbalik dan menghampiri Haeun yang masih berdiri di depan pintu kamar Jongin.

Haeun mengulas senyum tipis, “Aku sibuk. Bagaimana kabar Oppa selama aku pergi? Baik-baik saja, kan?” Haeun setengah berbasa-basi. Tanpa bertanya, tentu saja ia sudah tahu kedua cucu dari atasan ibunya ini sangat baik-baik saja. Karena terjadi sesuatu sedikit saja, salah satu temannya Byun Minji akan langsung mengiriminya pesan jika majikan kesayangannya mengalami sesuatu.

“Tidak terlalu baik, aku mengkhawatirkanmu,” kata Chanyeol dengan polos.

Haeun mengernyitkan dahinya, kemudian memukul ringan lengan Chanyeol, “Sejak kapan Oppa jadi sering menggombal seperti ini, hmm?” Haeun sebenarnya tahu Chanyeol tidak bercanda. Chanyeol baru saja menyatakan cintanya seminggu lalu pada Haeun, dan Haeun sampai saat ini belum bisa memberikan jawaban apapun.

Chanyeol menyukai Haeun? Lalu mereka berpacaran? Oh, drama ini benar-benar keterlaluan membuainya. Sayangnya Haeun tidak tertarik untuk membayangkan bagaimana akhir dari dramanya ini –hidup bahagia bersama chaebol, atau justru mati menderita karena cinta yang tak sampai.

“Menurutmu aku hanya menggombal? Kau menganggap pernyataanku minggu lalu hanya omong kosong?” Chanyeol mulai merajuk –ayolah, ia bahkan harus mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menyatakan cinta seperti itu. tertawakan saja Chanyeol, karena kenyataannya Haeun adalah cinta pertamanya –seseorang yang membuat Chanyeol yakin jatuh cinta dengan nada melankolis itu memang ada.

Haeun tersenyum penuh arti. Meskipun mungkin memang benar Chanyeol menyukainya, tapi tetap saja memutuskan untuk berkencan dengan Chanyeol bukan perkara mudah. Yeah, ini hanya berkencan, bukan pernikahan, bukan pula pertunangan. Umur mereka masih belasan tahun, masih sangat memungkinkan untuk putus dan terluka, juga memulai kembali sebuah cinta yang baru dengan orang lain ataupun orang yang sama.

Tapi ini Chanyeol, seseorang dengan kedudukan yang berbeda jauh dengannya. Meskipun keluarga ini menyetujui hubungan Haeun-Chanyeol, masih ada kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Haeun cukup tahu diri dimana posisinya saat ini.

“Sejauh ini aku belum yakin dengan perasaanku…” akhirnya Haeun mencoba bicara jujur, “Tapi aku akan memikirkannya lagi. Beri aku waktu, Oppa tahu…”

“Aku bukan Jongin,” sela Chanyeol yang tahu kemana arah pikiran Haeun, “Aku mungkin akan mendapat sedikit tentangan. Tapi kita hanya berpacaran, tidak ada yang salah bukan? Aku hanya ingin kau mencoba, aku bukan pewaris utama kursi kebesaran Misaeng Group, dan tidak sulit untuk…”

“Aku mengerti,” Haeun mengulas senyum kecil, “Kumohon, biar kupikirkan lagi…”

 

***

 

Haeun kembali menguap lebar-lebar ketika memperhatikan Jongin yang tengah berlatih menggunakan senapan di tangannya. Hari itu tidak ada Chanyeol, dia sedang latihan band –sangat menyenangkan, Chanyeol menjadi satu-satunya orang yang bebas melakukan segala keinginannya di tempat mereka saat ini. Sedangkan Haeun saja yang bukan bagian dari keluarga konglomerat ini justru terikat oleh Jongin yang entah mengapa menjadikan Haeun sebagai tumbal.

Haeun pun kembali mengambil buku psikologi yang tidak sengaja ia temukan di salah satu rak perpustakaan sekolahnya. Ia meringis kecil, sedikit menyesal meminjam sebuah buku yang ternyata isinya terlalu berat untuk ukuran Haeun. Dan lebih menyesal lagi, Haeun justru membawa buku yang tak mungkin dibacanya itu ke tempat membosankan seperti tempat latihan Jongin seperti ini.

“Kau seperti orang bodoh jika menguap seperti itu,” Haeun menoleh malas saat Jongin sudah berada di sampingnya, tentunya dengan ejekan yang tidak akan berhenti mengusik Haeun.

“Dan kau selalu saja berisik,” Haeun pun sedikit merenggangkan otot-ototnya, “Setelah ini apalagi? Aku ingin tidur siang…”

“Tidur saja bersamaku, ide bagus, kan?” sela Jongin dengan nada konyol.

“Hahaha,” Haeun tertawa dibuat-buat. Kemudian ia pun menegakan punggungnya, “Kau sudah melihat kado yang kuberikan kemarin?”

Jongin yang sedang meminum kolanya melirik Haeun lewat ujung ekor matanya, “Itu darimu?” tebak Jongin tidak peduli.

“Kau bercanda.”

“Gadis yang menggemariku?”

“Kurang tepat.”

“Lalu seorang pria gay yang menyukaiku?”

Haeun mendengus panjang, “Terserahmulah. Aku hanya diminta untuk memberikan itu, tapi bukan untuk buka mulut.”

Jongin kembali mengingat-ingat isi surat yang terselip di dalam kotak berisi jam tangan yang kemarin diberikan oleh Haeun. 12 April. Itu bukan pertama kalinya Haeun memberikan hadiah dari orang misterius seperti itu, termasuk clue 12 April. Tapi baru kali ini sepertinya Jongin peduli.

Haeun tak terlalu dekat dengan siapapun di sekolah, belum lagi Haeun yang selalu saja mengekor pada Jongin –ya, Jongin yang meminta itu. dan selain Jongin, tentu saja Chanyeol yang dekat dengan Haeun. Tapi…ah, entahlah. Untuk apa ia peduli? Toh memang penggemarnya cukup banyak, dan bukan hanya si 12 April itu saja yang memperhatikannya, meskipun mungkin hanya si 12 April yang memberikan hadiah lewat Haeun.

“Kau tahu dimana Chanyeol?” tanya Jongin yang langsung bangkit dari tempat duduknya.

Haeun sedikit memicingkan matanya, “Jangan berpikir untuk pergi mencari Chanyeol, Kim Jongin…”

“Selama kau membantuku, kurasa…semua akan baik-baik saja.”

Ya, baik-baik saja. Meskipun ia membawa kabur Jongin berulang kali, dan berulang kali juga Haeun disalahkan, tapi tetap saja ia selalu selamat karena posisi penting ibunya di rumah ini, juga karena Jongin yang membutuhkan Haeun –dan untuk yang satu ini, Haeun selalu merasa bangga secara tiba-tiba.”

 

***

 

Haeun hanya tersenyum dengan nada risih pada orang-orang yang kini berada di sekitar Haeun. Ada beberapa orang pemuda seumuran Jongin dan Chanyeol, dan puluhan penonton yang tengah menyaksikan band Chanyeol. Yeah, payahnya Haeun karena ia tidak tahu jika band Chanyeol sedang konser seperti ini. Membuat semua orang ribut membicarakan Chaebol 5 besar berada di lingkungan mereka.

Ini bukan tempat Jongin. Jongin tidak suka band. Dan Jongin bersosialisasi dengan sesama chaebol saja. Sedangkan tempat ini bukan tempat dimana chaebol berada, tapi hanya tempat kumpulan pelajar biasa berkumpul.

“Apa yang membawamu kemari?” Chanyeol masih terkaget-kaget saat Jongin datang ke tempatnya. Ini pertama kalinya, karena Jongin selalu saja mengejek Chanyeol dan band yang menurut Jongin bukan tempat yang cocok untuk Chanyeol.

Jongin mengedikan bahunya, “Rasa bosan, mungkin?” katanya sangat asal. Dan tentunya dengan nada tidak peduli.

Tempat Chanyeol konser adalah sebuah kafe bernuansa eropa dengan sentuhan minimalis. Bukan kafe mewah, dan kafe ini milik Chanyeol. Kafe yang diperuntukan untuk remaja-remaja yang senang untuk menongkrong, dan tentunya sambil menonton band Chanyeol yang keseluruhan anggotanya bisa dikatakan tampan dan keren.

Chanyeol mendecak kecil, “Kau terlalu sering menjilat ludahmu sendiri, Kim Jongin.”

“Dan aku tidak peduli,” Jongin mengangkat kepalanya menatap Chanyeol. Matanya membicarakan sesuatu, dan Jongin ingin sekali menyuarakan isi pikirannya yang tiba-tiba mengusik perasaanya sejak tadi.

Tapi, sebesar apapun keinginan Jongin untuk mengatakannya, maka sebesar itu pulalah komitmennya untuk tetap diam. Ia pernah menangis sendirian karena masalah ini, masalah yang ia anggap tak ada sampai saat ini, meskipun…yeah, ia tidak tahu harus bagaimana agar ia bisa tetap bertahan jika kelak keadaan berubah.

Misalnya, seperti Chanyeol memiliki kekasih, mungkin? Menggelikan. Pasti Chanyeol akan muntah mendengar isi pikirannya saat ini.

“Kau menarik perhatian banyak orang. Kau tahu, kan, semenjak kau punya SNS kau bisa mengalahkan kepopuleran aktor Kim Soo Hyun,”

“Dan aku menyesal pernah terbawa arus musiman untuk memiliki akun sosial media seperti itu,” sahut Jongin.

Chanyeol tersenyum penuh arti. Kemudian ia pun menoleh ke arah Haeun yang duduk di sebelahnya, “Kau ingin sesuatu lagi, Nona? Ah, senang sekali kau menjadi salah satu tamuku hari ini…”

Jongin mau tak mau berjengit melihat tingkah Chanyeol yang semakin menggila seperti ini. Tapia akhirnya ia tetap diam, dan hanya bisa melihat reaksi Haeun yang hanya tersenyum yang entah bagaimana Jongin harus mengartikannya.

Di sisi lain, Chanyeol yang tidak sadar diperhatikan oleh Jongin justru mendekatkan wajahnya ke telinga Haeun, kemudian berbisik pelan, “Dengarkan lagu yang akan kubawakan sekarang. Dan jangan salahkan aku jika kau jatuh cinta dan berpikir untuk menerimaku…”

Haeun justru tertawa geli. Yeah, Chanyeol selalu seperti ini. Jenaka. Setidaknya menurut Haeun Chanyeol jenaka dengan sifat alaminya yang meskipun kadang membuat Haeun kesal.

Chanyeol pun bangun dari duduknya, kemudian menghampiri teman-temannya. Membawakan sebuah lagu baru mereka. Dengan judul dan musik sederhana yang dibuat oleh Chanyeol, Sunflower. Jika Haeun mendengar lagu ini, gadis itu pasti ingat kenangan mereka saat liburan musim panas ketika duduk di bangku Junior High School. Obrolan aneh dan tidak penting, yang justru ternyata membawa Chanyeol pada sebuah kesimpulan, bahwa ia menyukai Haeun.

 

=TBC=

2015-09-18 AM0159

Kenapa akhirnya aku bawa cerita baru? Ini ide lama sebenernya. Cuma baru bisa ketulis sekarang. Lalu gimana sama FF sebelumnya? Aku lanjutin meskipun mungkin bakalan agak lama.

Maaf ya ~

Dulu, aku juga reader yang sering bete sama auhtor yang lamaaaa banget nge-post FF nya. Tapi setelah kuliah, dengan jurusan yang ekhm, sedikit menyita banyak waktu meskipun SKS nya sedikit, dan lebih-lebih aku masih setengah hati disini *jadi curcol*, aku akhirnya bisa ngerti kenapa adanya keterlambatan semacam gitu. Aku nggak bisa nyebut aku lagi sibuk, tapi yeah…tugas udah mulai berdatangan, juga ada organisasi yang lagi ‘menaungi’.

Kepengennya sih jadi mahasiswa kupu-kupu, meskipun Cuma kuliah-pulang-kuliah-pulang, asal bisa nyampe target kita sendiri, kenapa nggak. Tapi gak ada yang pernah tau kedepannya bakalan gimana, jadi aku minta maaf dari sekarang kalau misalnya aku bakalan lebih lama lagi nge-post FF nya.

Semoga kalian tetep baca, hehe

-Nidhyun

Iklan

14 thoughts on “Married with a Gay (Kai’s Story) (Chapter 1)

  1. sehun suka sama jongin, jongin suka sama chanyeol, chanyeol suka sama haeun… terus haeun suka sama siapa? hahahaha seru niiiiih semoga ga serumit ff yg terdahulu ya hub mereka nantinya. kenapa ga di buat beda aja? coba di buat haeun nya dari awal sukanya sama jongin bukan sama chanyeol. mungkin bakal lbh ada kesan lain dari cerita ini. jd sedikit beda sama cerita sebelumnya. tapi ini juga udah bagus sih, cuma sekedar saran doang hihi
    di tunggu nextnya 🙂

    Suka

  2. seru juga ff baru nya, walau rasa suka nya agak berbelit2, Sehun menyukai Jongin, Chanyeol menyukai Haeun, lalu Haeun menyukai siapa ya? masih penasaran dengan jalan ceritanya, next lagi thor

    Suka

  3. Ceritanya seru…..
    Cintanya berantai rantai…..
    Mulai dari kai naksir chanyeol Chanyeol naksir haeun dan haeun kayaknya naksir si kai deh….
    Biarpun kai nyebelin bikin pusing tp kayaknya haeun nyaman ama kai

    Suka

  4. wow complicated new setori’y..

    sehun suka sama kai, chanyeol suka haeun, hmmm haeun sama kai sendiri suka sama siapa??

    penasaran nih haeun bakal pilih siapa ya?? akankah sehun ketauan kalo dy secret admire’y kai..

    Suka

  5. Yg bener d sini kai gay? Menurutku blm keliatan sih klo kainya gay…tp yg lain pada komen kainya suka chanyeol?? BIG NO..suka ama aku aja kai haha
    Wah ini ff nggk kalah sma dgn versinya luhan, oke d tunggu next chapnya kak

    Suka

  6. Ini yg maried with a guy siapa? Jongin? Jongin am chanyeol sepupuan kan? Jongin ga suka cwok kan ya??
    Hahaha
    Msh bingung, bukan bingung sii… Menolak fakta… Wkwkwkwk
    Semangat yaa..
    Ak ya cm bsa blg, d tunggu lanjutannya..
    Hehehehe

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s