Married with a Gay (Kai’s Story)-Chapter 2

untitled-100

Title     : Married With A Gay (Kai’s Story)

Main Cast: Kim Jong In as EXO-K Kai, Lee Haeun (OC), Park Chan Yeol as EXO-KChanyeol

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length :Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Ravenclaw | Hospital Art Design

***

Tidak biasanya Jongin mengabaikan Haeun. Dan Haeun jengkel setengah mati setelah menyadari apa yang telah ia pikirkan sejak tadi –bahwa ia terus mendumal soal Jongin yang benar-benar tak acuh padanya. Jogin pasti akan menyapanya saat pagi, Jongin pasti akan mengusili Haeun setiap kali ada kesempatan, dan jika dalam keadaan sehat dalam tanda petik, Jongin juga pasti akan meledek Haeun soal apapun.

Tapi hari ini, jangankan untuk bersikap sehat dalam tanda petik, bahkan melihat Haeun pun Jongin enggan. Padahal lelaki itu telah menjajah Haeun dengan tugas Bahasa Mandarinnya yang menghabiskan banyak tinta pulpen untuk menulis ratusan karakter huruf cina.

“Kau bertengkar dengannya?” bisik Sehun dengan tatapan bingung, dan tentunya tatapan itu juga berhasil membuat Haeun balik menatap Sehun dengan nada bingung juga. Laki-laki ini selalu saja penasaran tentang Jongin.

“Kami selalu bertengkar setiap hari,” kata Haeun dengan nada lesu. Ia tadinya ingin menjawab “Tidak! Kami baik-baik saja, kok. Dia saja yang labil dan sangat moody.” Tapi entah kenapa lidah Haeun justru mengatakan kalimat lain.

Sehun tersenyum kecil, kemudian ia pun menyeruput bubble tea-nya, minuman teraneh yang pernah Haeun cicipi krena rasa taro yang disukai oleh Sehun, “Lalu apa yang kalian ributkan sampai kau terlatar seperti kekasih yang dicampakkan…aw! yak! Kenapa menendang kakiku?!”

Haeun mendelik malas dan ikut-ikutan menyeruput minumannya, kopi latte. Rasa-rasanya kantin mendadak memuakkan karena pikirannya tentang sang majikan tercinta –Kim Jongin. Dan rasa sebalnya semakin naik level karena Sehun selalu tertarik membahas chaebol berkulit gelap itu.

“Aku tidak tertarik punya pacar sepertinya. Seperti dalam dongeng saja. Dan aku juga tidak tertarik pada dongeng,” sahut Haeun asal.

“Tapi Chanyeol membuntutimu terus. Mungkin saja dia akan membawamu pada dunia dongeng yang tak kau inginkan itu,” Sehun juga menyahut asal. Ia juga lebih setuju jika Haeun bersanding dengan Chanyeol.

Haeun memicingkan matanya. Sebenarnya ia tidak merasa sedekat itu dengan Oh Sehun, tapi Sehun selalu mengikutinya jika ada sesuatu yang ingin ia bahas mengenai Kim Jongin juga keluarganya. Dan ia menatap Sehun dengan heran, harusnya seorang gadis lah yang menginterogasinya seperti sekarang, bukannya seorang pemuda tinggi nan tampan. Rasanya ambigu saja. Belum lagi Sehun selalu mengirim benda-benda aneh untuk Jongin.

“Kenapa kau tertarik pada keluarga chaebol itu, sih?”

Napas Haeun sempat tercekat ketika Sehun tiba-tiba menyentuh punggung tangan Haeun, “Karena aku ingin tahu apakah mereka punya daya tarik yang bisa lebih memikat daripada aku di matamu…”

Deg…deg…deg…

“BWAHAHAHAHA!”

Haeun mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba menarik kesadarannya untuk utuh ketika Sehun justru tertawa kencang sekali. Seolah ada komedi yang luar biasa untuk bisa menarik rasa humornya yang payah itu. Oh Sehun sialan.

Tanpa rasa kasihan, Haeun langsung menendang kaki Sehun dengan membabi buta. Benar-benar laki-laki sialan. Berani-beraninya dia membuat jantungnya hampir melompat dan seketika mentertawakan semuanya seolah-olah detak jantungnya adalah lelucon.

 

***

 

“Kau marah padaku?” tanya Chanyeol dengan mata sayunya yang hampir tertutup. Ia menonton film semalaman, dan tadinya ia ingin curhat panjang lebar soal film yang baru ditontonnya. Bukan pada Jongin, sih, pada Haeun tentunya. Tapi ternyata Haeun tidaka da di sekitar Jongin, dana khirnya Chanyeol tetap mendekati sepupunya itu.

Jongin mengangkat kepalanya dengan malas, menatap mata Chanyeol selama beberapa detik, kemudian menggelengkan kepalanya dengan dengusan pelan, “Kenapa aku harus marah padamu?”

Chanyeol memanyunkan bibirnya saat Jongin kembali menatap bukunya. Biasanya, saat berhadapan dengan Chanyeol seperti sekarang, Jongin akan bersemangat sekali. Tapi hari ini, Jongin terus menekuk wajahnya yang sudah kusut itu.

“Haeun tidak bersamamu? Tumben?”

Jongin mendengus pelan, “Kau benar-benar menyukainya ya sampai-sampai terus membahasnya?”

“Aku baru bertanya, kok…”

“Tapi kau selalu menanyakan hal yang sama,”

“Kau perlu marah padaku karena pertanyaan itu?”

“Lalu bisakah kau berhenti menanyakan hal yang sama seperti itu? Membuat perutku mual!”

“Sebenarnya pa masalahmu Kim Jong In!” Chanyeol pun menggebrak meja di hadapannya.

“Berhenti-menanyakan-Haeun-padaku.”

“Kau menyukainya?”

Jongin sudah mengangkat bibirnya, tapi kembali terkatup disusul dengan dentuman jantungnya yang menggila. Hampir saja. Hampir saja ia mengatakan kalimat paling menakutkan dalam hidupnya. Hampir saja ia merusak semuanya…

Jongin mendengus kecil, kemudian ia pun bangun dari kursinya, “Adakah alasan untukku menyukainya?” sahut Jongin sambil memasukkan tangannya ke dalam saku seragamnya –enyembunyikan rasa gugupnya.

“Kau menyukainya.” Kata Chanyeol dengan nada tegas.

Jongin memutar bola matanya, “Terserahmu.” Kemudian ia pun melangkah pergi, menyeret kakinya menjauhi kelas, juga menjauhi Chanyeol.

Lagipula, dari sekian orang kenapa harus Haeun? Sahabat terbaiknya.

 

***

 

Haeun benar-benar hampir menangis saat mendapati mobil Jongin melenggang pergi, meninggalkan Haeun begitu saja seolah Haen adalah orang lain. Yeah, Haeun mungkin tak perlu sesakit ini jika ia juga tidak memiliki hubungan sedekat itu dengan Jongin. Tapi Haeun bahkan tahu bau kaos kaki seorang Kim Jong In. Dan fakta menyebalkannya, Jongin selalu seegois itu jika sedang dalam mood yang jelek.

Tapi Haeun tidak pernah benar-benar diabaikan sampai sebegitunya oleh Jongin. Membuat Haeun membenci fakta bahwa ada dentuman kecewa yang mengerucut pada sakit hati di dadanya.

“Ayo pulang bersama! Aku kebetulan bawa motor,” Sehun tiba-tiba datang seperti angin, entah kapan dan entah darimana. Dia tiba-tiba muncul di samping Haeun dengan genggaman tangannya yang agak hangat.

“Aku bisa naik bis kok,” Haeun mencoba menarik tangannya. Ia tidak basa-basi. Ia tidak tertarik untuk diantar oleh Sehun, atau siapapun. Ia hanya butuh sendiri untuk meredupkan rasa kecewanya yang sedang meletup-letup. Dan mungkin ia harus memikirkan ide kriminal untuk membalas dendam pada Jongin, seperti menyembunyikan sepatu favoritnya mungkin?

Sehun tersenyum penuh arti, “Aku tidak yakin kau butuh sendirian. Kau tidak biasa naik kendaraan umum, Nona Cinderella,” kata Sehun kembali menggenggam tangan Haeun.

Haeun mencibir, “Kau benar-benar bocah disney,” kata Haeun dengan mata melotot ke arah Sehun.

“Kau memang Cinderella, dalam versi lain. Bukan disiksa ibu tiri, tapi sahabatnya sendiri yang satu rumah bahkan satu kamar mungkin?”

Dan Sehun hanya bisa tersenyum miris ketika Haeun memukul lengan Sehun dengan keras sekali. Yeah, padahal dulu Sehun sempat kagum dengan wajah anggun Haeun yang senada dengan senyuman yang juga anggun itu. Tapi semua luntur setelah pertemanan mereka berjalan cukup lama.

“Baiklah, kalau begitu ayo! Kau mungkin harus mencuci pakaian dalam sang sahabat…” dan satu kali lagi, Sehun mendapatkan tendangan keras di betisnya.

 

***

 

Sehun memang perhatian. Kalimat itu terputar begitu saja di kepala Haeun ketika ingatan kejadian tadi sore terputar di kepalanya. Saat Sehun mengantar Haeun dengan senang hati –bahkan Sehun mengajak Haeun untuk mampir di sebuah kedai kopi. Yeah, bahkan Haeun tidak tahu jika Sehun memperhatikan Haeun yang sering meminum kopi.

Haeun mendesah panjang, kemudian menggelengkan kepalanya keras-keras ketika ia mengingat siapa yang sebenarnya Sehun perhatikan, Kim Jongin. Haeun sebenarnya sempat berpikir jika Sehun memiliki…kelainan. oh, itu pikiran terjahat yang pernah Haeun miliki untuk Sehun. Tapi Haeun membelokkan lagi pikiran itu ketika ia mendengar desas-desus tentang kedekatan Sehun dengan adik kelas.

Haeun sebenarnya penasaran. Adik kelas yang mana? Tapi sebesar apapun rasa penasarannya, Haeun lebih suka menelannya ketimbang menanyakannya. Itu bukan urusannya sama sekali, Haeun tidak terarik untuk ikut campur dalam urusan orang lain.

Haeun pun menggulingkan tubuhnya menghadap ke kanan. Harusnya ia suda terlelap tidur,seperti putri tidur yang terlihat cantik meskipun tertidur lama hingga pangeran datang menjemputna dengan sebuah kecupan manis –tapi tak ada pangeran dan Haeun bukan putri tidur yang cantik itu. Haeun juga sebal setengah mati karena akhirnya ia kembali teringat Jongin yang mengabaikannya hari ini.

Haeun hampir memejamkan matanya, benar-benar hampir sampai sebuah ketukan di pintu kamarnya terdengar nyaring mengusik rasa kantuk Haeun yang sulit sekali datang. Oh, sialan! Siapa yang berani mengetuk pintu kamarnya tengah malam begini?

“Iya sebentar!” teriak Haeun dengan nada sedikit kasar. Dengan langkah malas, ia pun tetap berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya. Hingga…tada! pangeran chaebol yang heboh di dunia maya itu muncul dengan mimik wajah yang aneh.

“Ada apa?” tanya Haeun dengan ketus, sedikit menyangkal jeritan hatinya saat tahu Jongin tidak benar-benar melupakan Haeun. Ia senang, tentu saja. Ia benar-benar merasa kesepian saat Jongin mengabaikannya seperti itu. Benar-benar menyakitinya.

Jongin tidak menjawab dan langsung mendorong Haeun untuk menyingkir. Dengan seenaknya, Jongin masuk dan langsung berbaring di ranjang Haeun, “Aku susah tidur.” Katanya dengan nada biasa saja. Seolah-olah tidak ada masalah apa-apa di antara mereka.

“Yak! Yak! Kau kira aku ibumu apa?!”

Jongin mencibir, “Bisa tidak sih kau diam saja dan biarkan aku benar-benar tertidur? Aku susah tidur! Bayangkana pa yang akanterjadi jika aku sampai sakit? Ugh…ibuku pasti akan sangat khawatr setengah mati.”

Haeun mengikuti gerak bibir Jongn tanpa bersuara –ia mengejeknya. Haha, lucu sekali. Lalu apa urusannya dengan Haeun jika Jongin sampai sakit sekalipun? Tidak ada hubungannya…meskipun ia bisa bayangkan kepanikan apa yang terjadi nantinya.

“Seharian ini kau menghindariku, kenapa? Apa aku melakukan salah?” Haeun pun angkat suara. Jongin memang perajuk, tapi seharian ini, menrut Haeun tidak ada alasan bagi Jongin untuk mendiamkannya seperti itu.

Jongin yang baru saja menarik selimut Haeun ke tubuhnya terpaksa membuka matanya yang sengaja ia pejamkan. Ah, pertanyaan ini lagi. Ia benar-benar malas dibanjiri pertanyaan yang sama ini. Semua orang, termasuk Chanyeol bahkan Haeun pun menanyakan hal yang sama pada Jongin.

“Kau ingin sekali bersamaku ya sampai sepanik itu tidak bersama denganku seharia ini?”

Haeun mencibir mendengar komentar Jongin yang tidak masuk akal. Siapa yang tidak bisa tanpa siapa? Jika Haeun memang tidak bisa tanpa Jongin, harusnya ia sudah mengetuk pintu kamar Jongin dan meminta maaf –tapi nyatanya malah pria itu yang datang ke kamarnya.

“Aku serius Kim Jong In, ini kali pertamanya kau merajuk tanpa alasan seperti ini,” Haeun melipat tangannya dengan jengkel, “Ah…kau seperti ini gara-gara Chanyeol menyanyikan lagu untukku. Kau cemburu padanya?”

Iya. Aku cemburu padanya karena dia lebih tertarik untuk melihatmu. Dan kau adalah sahabatku –satu-satunya yang aku punya dan yang aku percaya. Jongin tidak ingin merasa sakit hati ataupun cemburu pada Haeun. Tidak ingin sama sekali. Ia justru merasa memiliki keuntungan karena menyukai…Chanyeol, artinya ia tidak akan tertarik pada Haeun, dan tentunya tidak akan merusak hubungan mereka berdua.

Tapi jangan harap Jongin mengatakannya cuma-cuma. Ia menelan semua jawabannya seorang diri. Tidak mungkin kan ia mengatakan semuanya pada Haeun? Ia tidak mau membuat Haeun terkena serangan jantung.

“Tidur disini…” Jongin menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong. Sungguh, ia susah tidur malam ini. Dan ia tidak mungkin merengek pada ibunya untuk dipeluk malam ini.

Haeun mengerutka hidungnya, “Kau bercanda ya? Kau ingin ibumu membunuhku jika tahu outra kesayangannya tidur seranjang denganku?” Haeun memutar bola matanya. Ugh. Membayangkannya saja sudah membuat Haeun merinding, apalagi jika sampai benar terjadi.

Jongin mendengus kasar, “Memangnya apa yang kau pikirkan, huh? Tidur di sampingku, bukan tidur dan melakukan sesuatu denganku…aw! kau gila ya?”

Haeun tidak peduli, ia kembali menendang kaki Jongin tanpa rasa kasihan sama sekali. Ini yang ia tidak suka dari pertemannya denan Jongin ketika mereka remaja –laki-laki biasanya akan semakin berpikiran kotor dan membuat Haeun tidak nyaman.

“Ayolah…aku bukan mau melakukan yang tidaktidak, kok!”

“Tidak-mau. Kau kira aku perempuan macam apa yang tidur dengan laki-laki yang bukan siapa-siapaku?”

“Kau tidak akan hamil gara-gara tidur di sampingku!”

“Dasar gila!”

“Yak! Berhenti menendangku!”

“Makanya berhenti berpikiran kotor!”

 

***

 

Siang itu, Haeun terpaksa duduk di pinggir lapang dengan beberapa orang lainnya yang menikmati latihan dari pada ‘oppadeul keren’. Haeun mendengus geli. Bukannya ia mau pamer, tapi ia sudah sering sekali melihat laki-laki yang bahkan lebih keren dari mereka yang sedang ‘memainkan bola’. Ada Chanyeol disana, satu-satunya alasan kenapa ia ada disini dan bosan setengah mati. Salahkan Jongin yang tidak mengajaknya untuk latihan futsal hari ini. Entah dimana, satu-satunya kabar yang ia dapat “Pulang duluan. Aku ada latihan futsal,jangan katakan apapun pada ibuku.”

“Aaaah! Chanyeol Oppa tersenyum padaku!”

Haeun memutar bola matanya ketika jeritan tidak masuk akal itu memenuhi gendang telinganya. Memangnya harus senorak itu, ya? Dan Haeun hampir menarik perhatiannya pada ponsel di tangan kananya jika ia tidak melihat Chanyeol yang melambaikan tangan ke arahnya.

Haeun menatap ke sekeliling dengan bingung, kemudian ia menunjuk dirinya dengan isyarat ‘kau menunjukku?’. Chanyeol tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum tipis yang berhasil membuat para gadis di tempat ini lagi-lagi berteriak seperti orang gila.

Setelah dua jam menunggui Chanyeol, akhirnya anak laki-laki itu selesai juga dengan latihannya. Ia pun langsung mengajak Haeun pulang bersama. Jika Jongin akan membawa Haeun dengan mobil mewahnya yang dilengkapi dengan supir dan juga asisten, maka Chanyeol akan mengajaknya untuk menaiki motor mewahnya. Manly sekali bukan?

“Jongin kabur lagi?”

Haeun mengedikan bahunya tak peduli ketika dilempari pertanyaan itu, “Padahal olah raganya payah sekali, tapi tetap saja memaksakan diri untuk mengikuti olahraga-olahraga semacam itu.

“Pakai ini. Aku ingin membawamu ke suatu tempat,”Chanyeol memakaikan helm-nya pada Haeun.

“Kita mau kemana? Apa tidak apa-apa kita pulang larut malam?” tanya Haeun sambil membenarkan posisi helm di kepalanya agar terasa nyaman. Chanyeol jahat sekali, memakaikan helm berwarna putih itu dengan asal-asalan.

Chanyeol terkekeh kecil, “Tentu saja. Siapa yang akan peduli aku akan pulang larut atau tidak, hmm?” katanya dan langsung menaiki motornya.

Haeun hanya tersenyum kecil. Entahlah, ia tidak tahu harus memberi komentar apa untuk ucapan Chanyeol. Diskriminasi di ‘istana Jongin dan Chanyeol’ memang kental sekali. Mereka seperti punya kasta sendiri tanpa bisa diusik. Kekayaan dan kekuasaan memang selalu menjadi tujuan utama…meskipun Haeun tidak bisa membayangkan Jongin akan menjadi penerus perusahaan keluarganya.

 

***

 

“Aku kira kau akan membawaku kemana…” Haeun mendecak kecil. Dan ia semakin mengerucutkan bibirnya saat Chanyeol malah mengacak-acak rambutnya.

“Kenapa? Kau sering sekali ke sini ya?” kmentar Chanyeol sambil membuka kaleng kolanya.

Haeun mencebik, ia pun ikut membuka kolanya sambil memandang lurus Sungai Han yang terlihat begitu tenang. Tenang sekali, seola-olah suhu dingin pada permukaan air itu dapat menyejukkan hidupnya yang sedikit…pengap.

Yeah, pengap. Belakangan ini Haeun merasa bosan sekali. Entah karena selama ini ia ikut terkurung dalam sangkar emas sang majikan, atau ia hanya sedang merasa bosan saja.

“Kau belum meberikanku jawaban…tahu tidak? aku gugup sekali jika mengingat soal…”

“Kau kan bisa bertemu dengan gadis yang lebih baik, Oppa. Dan kurasan…si cengeng Jongin tidak terlalu suka aku dekat dengan laki-laki lain,” sela Haeun cepat. Gugup. Tentu saja ia pun merasakan gugup yang luar biasa besar. Ia hanya tidak ingin membuat dirinya dan Chanyeol menjadi tidak nyaman. Pangeran dan pelayan, yang benar saja.

Chanyeol pun mendengus keras, “Kau tidak mungkin selamanya bergantung pada Jongin, kan? Atau…kau juga menyukaina?” tembak Chanyeol dengan nada frustasi. Jongin. Jongin. Jongin. Ia sudah mengalah untuk nama itu selama ini, dan Jongin bisa mendapatkan apapun yang ia butuhkan…dan ia hanya butuh Haeun. Ya. Ia hanya butuh satu orang untuk saat ini, Lee Ha Eun.

Haeun pun menegakkan punggungnya. Lihat, bahkan ia juga belum membuat keputusan bulat, tapi ia dan Chanyeol sudah memiliki aura menyebalkan semacam ini. Haeun tidak tahu berapa lama lagi ia akan berada dalam sangkar emas bersama para pangeran di dalamnya. Dan Haeun sama sekali tidak ingin membuat kesan hitam di masa depan…

“Jongin kesepian. Ia tidak bebas bergerak, ia tidak bisa melakukan apapun sesukanya. Ia juga masih gegabah dan selalu ceroboh dalam mengambil keputusan. Kupikir dia hanya butuh teman,” Haeun pun mendongak menatap Chanyeol, “Dia tidak menyukaiku, begitu pun aku. Kami sama-sama terhubung karena saling membutuhkan.”

“Bukankah dia yang membutuhkanmu, Lee Ha Eun?”

Haeun mendengus kecil, “Dia juga temanku. Saat dia menjauhiku, saat itu aku tahu aku juga merasa kesepian. Bukankah itu artinya kami memang saling membutuhkan?”

“Jadi kau menolakku?”

“Bukan begitu…”

Chanyeol meletakkan kaleng kolanya dengan kasar di atas jok motornya, kemudian dengan gerakan cepat ia menarik tengkuk Haeun dan menempelkan bibir mereka. Haeun ingin melawan, sungguh, demi apapun ia merasa ini bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Tapi Chanyeol sama sekali tidak ingin melepaskan Haeun. Ia semakin menarik Haeun.

“Aku-mencintaimu. Tidakkah itu cukup untuk menyataan perasaanku?” kata Chanyeol dengan emosi. Chanyeol sama sekali belum melepaskan pinggang Haeun. Persetan.

“Oppa…”

“Aku bukan memintamu untuk menjauhi Jongin ataupun berhenti berteman dengan Jongin. Kau bisa melakukan semuanya sesukamu, aku takkan membatasimu. Tapi kumohon…” Chanyeol pun menrik tangan Haeun dan menggenggamnya kuat, “Biarkan aku yang memilikimu.”

 

=To Be Continued=

20151111 PM0915

Iklan

5 thoughts on “Married with a Gay (Kai’s Story)-Chapter 2

  1. nah loh udah lah haeun buru kasih ketegasan, mau sama siapa? tp mending sama chanyeol sih, lah dari pada sama jongin nanti yg ada makan ati mulu. jd haeun enak ga enak ya, di kelilingin cowo2 ganteng tp nya gay semua wkwk kecuali chanyeol sih. tapi sama2 rumitnya.
    klo dr apa yg di pikirin jongin, dia ga mau ada perasaan apapun ke haeun karena ga mau sakit hati dan cemburu yg akhirnya ngerubah hubungan mereka. berarti jongin semacem kayak lg membatasi diri ke haeun, lah tapi kenapa menyimpang ya jong? ckck
    aku malah bingung mau dukung haeun sama siapa? jongin, chanyeol, apa sehun? dua2 nya perhatian bgt sama dia

    Suka

  2. Haeun banyak fans nya,,,, dia suka nya sama siapa ya,,, apa Chanyeol atau Jong in,,, tapi kata2 Chanyeol keren juga,,, biarkan aku memilikimu,,, next lagi thor

    Suka

  3. Omoo.. ternyata yg gay itu kaitem.. Hmm gak krpikiran…. Kereeen dah. Gak mudah di tebak..tp Masih penasaran juga. Si sehun tuh ngapain sih sering kepoin kaitem .. Jangan2 dia tau lagi kalo si kaitem gay.. Ga taulah,, pokoknya daebak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s