Way of Two Rings (Chapter 2)

11254390_1017512361622541_3350536423931142051_n

Title     : Way Of Two Rings

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, School Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

https://xiaohyun.wordpress.com

Cover by :

 

***

Ariel kembali menendang selimutnya dengan sebal setelah ia menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga sehidung. Tapi hari ini mungkin bukan hari keberuntungannya. Ariel sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ia tidak mengantuk sama sekali. Padahal ia yakin sekali hari ini ia sudah melakukan aktivitas berat yang seharusnya membuat ia mengantuk malam ini –olahraga lari. Dan Ariel benci olahraga dan memasukkan kegiatan itu ke dalam black list kegiatan yang harus dihindari. Selain tidak suka, sesudahnya Ariel bisa menjamin rasa pegal yang menjengkelkan.

Ariel pun melirik jam dindingnya. Jam 11 malam. Dan ia sudah memejakan mata sejak jam 9 tadi –yang akhrinya berakhir sia-sia seperti ini. Ariel pun bangun dari ranjangnya dan berjalan ke luar kamar. Sedikit mengintip rumah besar yang terlihat sepi itu. Mama dan Papa Lu sedang pergi ke Jepang, mengurusi sesuatu di sana. Well, artinya hanya ada Luhan dan Ariel saja malam ini.

Ariel pun berjalan menuju dapur di bawah. Sebenarnya ia benci sih harus ditinggal berdua saja dengan Luhan. Rasanya rumah akan sepi sekali, dan Ariel benar-benar tidak suka suasana sepi. Terutama saat sedang hujan lebat ditambah petir yang menari-nari dari langit –rasanya seperti ada monster yang akan menariknya dan membuatnya hilang dari dunia.

Tapi nilai plus saat kedua orang tua Luhan tidak ada di rumah adalah, Ariel bebas melakukan apapun. Termasuk menonton TV di ruang tengah sampai tengah malam ditemani banyak cemilan yang bisa ia curi sesuka hati di kulkas. Sayangnya, hari ini Ariel tidak mood menonton ataupun mencuri makanan di kulkas. Hanya ada cake disana, Ariel tidak suka cake.

Ariel pun hanya mengambil dua kaleng kola, satu botol jus mangga, dan satu botol air mineral –jangan tuduh Ariel mencuri, ini milik Luhan. Karena Luhan tunangan Aiel, berarti apa yang menjadi milik Luhan adalah miliknya juga, kan?

Setelah mengambil beberapa minuman tersebut, Ariel pun berjalan menuju kamar Luhan. Biasanya Luhan tidak akan langsung tidur. Maklum, Luhan akan mengikuti suneung alias ujian masuk universitas. Karena Luhan tidak punya nilai yang bagus dan lebih sukaolahraga, mau tak mau dia harus mati-matian belajar untuk suneung.

Luhan sama sekali tidak bergerak dari sofa hijau yang berada di sisi kaca yang menjadi dinding pembatas ke arah balkon. Jangankan bergerak, melihat Ariel saja tidak. mungkin Luhan sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan ‘setan kecil’ di sekitarnya.

“Luhan…kau rajin sekali.” Ariel pun duduk di samping Luhan dan menusuk pipi Luhan dengan telunjuknya.

Luhan menoleh sekilas. Bukan pada Ariel, tapi pada kolanya yang dicuri oleh alien paling menyebalkan di angkasa ini, “Kau belum tidur?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku biologi di tangannya.

“Disini sepi sekali…” Ariel mulai membuka tutup kalng kolanya, “Aku susah tidur. Dan badanku pegal-pegal semua. Ah…aku benar-benar benci pelajaran olahraga…” Ariel pun bersandar di sisi tubuh Luhan sambil meluruskan kedua kakinya.

“Makanya kau gampang sakit-sakitan. Kau terlalu memanja tubuhmu yang lembek ini…” Luhan sedikit menoyor kepala Ariel dari belakang yang langsung dibalas dorongan dari punggung Ariel.

“Kau juga sakit-sakitan. Apa-apaan itu? Hanya terkena angin malam saja langsung demam dan meringkuk seharian di atas ranjang,” ejek Ariel kemudian meminum kolanya.

“Kau kira siapa yang membuatku sakit? Jelas-jelas aku meminjamkan jaketmu padamu, alien.”

“Aku kan tidak memintanya. Suruh siapa kau melepaskan jaketmu. Mau telihat keren di mataku?”

Luhan pun mendengus panjang. Oh Tuhan…kuatkan aku menghadapi makhluk yang berasal dari galaksi tetangga ini. Jika Luhan tak punya hati nurani, mungkin saat ini juga Luhan sudah melempar Ariel ke luar jendela.

“Kau benar-benar tidak mau tidur?” tanya Luhan setelah setengah jam mereka tenggelam dalam aktivitas masing-masing. Luhan dengan buku biologinya, dan Ariel yang memainkan ponselnya –dan dia telah menghabiskan dua kaleng kola yang dicurinya.

Ariel menggeleng kecil tanpa menoleh ke arah Luhan, “Aku tidak mengantuk sama sekali,” adunya dengan bibir mengerucut.

“Tapi besok kau harus sekolah, anak manja,” Luhan mendengus kasar. Luhan benar-benar tidak suka kebiasaan Ariel yang suka bangun terlambat. Tidur lebh cepat saja bisa membuat Ariel kalang kabut gara-gara bangun kesiangan, apalagi jika tidur larut sekali? Bisa-bisa gadis ini bangun tepat jam dua belas siang.

“Aku tidak bisa tidur Sunbae sayang…”

Luhan medesis geli. Sunbae katanya? Sejak kapan ada seorang hoobae yang menoyor, memukul, bahkan mengumpat sunbae nya sendiri tepat di depan hidungnya? Hanya gadis gila ini saja yang bisa melakukannya.

Luhan pun menaruh bukuna dengan jengkel, ia pun menepuk-nepuk pahanya, “Tidur disini. Mana bisa kau mengantuk jika kau terus memainkan ponselmu?”

Ariel ingin protes, tentu saja. Tapi Ariel juga sebenarnya sudah merasa pusing sekali. Ia butuh tidur, dan sepertinya fisik Ariel sedang ingin bertengkar dengan Ariel. Benar-benar menjengkelkan.

Ariel pun menuruti Luhan, melupakan rasa gengsi –ralat, Ariel memang tidak punya rasa malu dan gengsi di depan Luhan—juga pertengkaran mereka yang baru saja berlangsung beberapa saat lalu. Ariel langsung menjatuhkan kepalanya di pangkuan Luhan dan menghadapkan wajahnya ke arah perut Luhan, memeluk punggung pemuda itu –menyembunyikan wajahnya juga rasa frustasinya. Iya, dia frustasi dan merindukan kedua orang tuanya. Sejujurnya ia juga tidak terlalu suka Korea. Entahlah, Ariel juga tidak punya negara yang benar-benar pernah menjadi tempat untuk menetap. Jadi, Ariel juga tidak tahu tempat seperti apa yang ia inginkan saat ini.

Luhan mendengus kecil. Ia bisa saja marah seharian, merasa jengkel dan juga kesal ataupun benar-benar muak dengan kelakuan gadis bermarga Lau ini. Tapi Luhan juga mengenal Ariel dengan baik –sangat baik. Satu tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal siapa dan bagaimana seorang Ariel Lau. Dia kesepian. Entahlah, Luhan juga tidak tahu bagaimana bisa orang tua Ariel membuat Ariel selalu berpindah-pindah tempat tinggal dan membuatnya tidak memiliki teman sungguhan. Setidaknya, Luhan cukup mengerti bagaimana perasaan Ariel ketika ia berkata ia tidak punya teman untuk mendengarkan ceritanya, teman untuk diajak bersenang-senang, juga teman untuk menghapus air matanya saat sedih.

Ariel juga penakut. Ia takut tempa sepi dan juga gelap. Ia suka hujan, tapi ia tidak suka petir. Ariel juga sebenarnya tidak bisa tidur sendiri. Percaya atau tidak, bahkan selama beberapa bulan pertama Ariel tinggal di rumahnya, Ariel diam-diam selalu meminta pembantu rumah tangga Luhan untuk menemaninya tidur. Dan karena rasa iba, Kwon Ajumma –pembantu rumah tangga tersebut—mengatakannya pada ibu Luhan. Dan dengan baik hati, Ibu Luhan mau menemani Ariel sampai benar-benar tertidur.

Dan baru saat masuk SMA gadis itu mengaku tidak perlu ditemani tidur lagi. Mungkin gadis itu merasa tidak enak. Yeah, Luhan mengerti. Bagaimana pun ibu Luhan tetaplah orang lain. Meskipun entah bagaimana selanjutnya malah Luhan lah yang direpotkan soal ini. Gadis itu sering diam-diam merangkak ke ranjang Luhan dan ikut-ikutan bersembunyi di balik selimut Luhan.

Luhan marah? Tentu saja –awalnya. Tapi Luhan justru merasa kasihan…entahlah. Luhan hanya tidak nyaman karena bagaimana pun mereka bukan saudara dengan ikatan darah. Sebagai laki-laki normal yang dalam masa pubertas, tentu saja sering merasakan sesuatu yang…seperti itulah. Tapi alien kecil ini tidak mengerti situasi, dan terus saja bersembunyi di balik selimut Luhan. Dan karena mungkin mereka sudah lama bersama, juga karena Luhan sudah menganggapnya seperti adik, Luhan justru malah sering memeluk gadis itu sampai tertidur. Dan akhirnya Luhan terpaksa tidur di sofa.

Luhan sempat berpikir, pasti laki-laki yang akan mendampingi Ariel kelak begitu sabar melihat bagaimana tingkah gadis ini yang bisa dikatakan amazing. Tapi setelah perjodohan sebulan lalu, justru Luhan menertawakan dirinya sendiri. Benarkah dirinya yang akan menjadi pendamping Ariel?

“Selamat tidur…” bisik Luhan dengan tangan yang masih mengusap kepala gadis itu. Pegangan tangan Ariel di punggung Luhan mulai mengendur, artinya Ariel sudah tertidur.

 

***

 

“Berkemah? Aku tidak suka kemah!” Ariel menggebrak mejanya dengan jengkel. Jangan berpikir semua orang di kelas Ariel akan menoleh ke arahnya. Semua orang senang, kecuali Ariel. Dan semua orang tidak memperhatikan Ariel, kecuali Min Jung Ah yang menjadi teman sebangkunya.

Jung Ah tertawa puas sekali, “Hei. Ini momen paling seru tahu! Kenapa tidak suka?” Jung Ah hanya menggelengkan kepalanya dan menyikut lengan Ariel, “Ayo ke kantin. Perutku lapar sekali…”

Ariel mendengus keras. Tentu saja ia benci kemah. Ia benci gelap. Ia benci suasana menyeramkan terutama acara-acara yang berkaitan dengan hantu. Ugh! Ia benar-benar tidak suka momen seperti itu. Ia bisa bayangkan dirinya meringkuk terkena flu karena tidak bisa tidur bermalam-malam dengan cuara mengerikan.

Tapi akhirnya Ariel hanya menelan semua rasa kesalnya. Ia tetap mengikuti Jung Ah untuk pergi ke kantin. Yeah, ia keluhkan saja keluhannya nanti. Saat ini yang terpenting ia kenyang terlebih dahulu. Setelah itu, ia bisa mengeluhkannya lagi –kalau bisa ia memprotes acara ini pada Luhan karena dia menjadi salah satu panitianya.

“Ariel annyeong,” sapa seseorang yang membuat Ariel langsung menghentikan langkah kakinya.

Oh, lihat itu. Malaikat tampannya. Lee Chunji. Dia baru saja menyapa Ariel.

“Mau ke kantin?”

Ariel mengedikkan bahu, “Aku lapar. Kau mau kesana juga?” Ariel tidak bermaksud mengajak Chunji sih, tapi ternyata Chunji malah mengangguk semangat dan mengajak Ariel untuk pergi bersama.

 

***

 

Ariel pikir, ia hanya akan satu meja dengan Jung Ah dan Chunji. Tapi siapa sangka, Jisoo –manajer klub sepak bola, Yubi –si kutu buku, dan Taehyung –anak klub seni—juga ikut bergabung di meja mereka. Mereka semua mengobrol dengan hangat, menertawakan hal konyol, dan mengeluhkan pelajaran fisika yang keterlaluan hari ini. Ulangan mendadak. Ternyata bukan hanya Ariel saja yang benci hal itu, tapi si Chunji ketua kelas yang aktif bertanya saja ikut mengeluhkannya.

Meskipun semua orang angkat suara, tapi Ariel justru menjadi satu-satunya pendengar disana. Ariel tidak tahu harus membuat lelucon apa agar semua orang di meja ini ikut tertawa. Ariel juga tidak tahu harus membicarakan apa agar orang lain tertarik mendengarkannya. Selama ini ia hanya mengobrol dengan Jung Ah, jadi ia tidak tahu harus membicarakan apa dengan yang lainnya.

“Ariel, kudengar kau lahir di Amerika. Bagaimana rasanya tinggal di sana? Menyenangkan?” tanya Taehyung tiba-tiba sambil memasukkan beberapa kacang ke dalam mulutnya.

“Benar! Kau keren sekali berkewarganegaraan Kanada…aku benar-benar ingin datang ke Niagara…” sambung Yubi sambil memuta-mutar sedotan di dalam gelas jus jeruknya.

“Malah kudengar kau juga pernah tinggal di Hongkong, benar begitu?” tanya Jisoo seolah ikut tertarik soal masa lalu Ariel.

Ariel pun hanya tersenyum salah tingkah. Ia jarang sekali menceritakan masalah ini pada siapapun –iya ini masalah untuknya. Berpindah negara bukan sesuatu yang menyenangkan. Ariel harus berulang kali beradaptasi di tempat baru, mengenali kebudayaan juga bahasa baru. Ini mengganggunya, sungguh.

“Ceritakan…semua orang peasaran,” Jung Ah pun menyikut Ariel.

“Aku memang lahir di Kanada, tepatnya di Toronto. Tapi keluarga kami jarang menetap. Kami sering berpindah-pindah negara, dan terakhir aku singgah di Korea. Tapi karena masalah pendidikanku, akhirnya orang tuaku menitipkanku pada keluarga Luhan. Dan sekarang mereka ada di Los Angeles. Kakakku kuliah disini, dan katanya tahun depan ia akan kuliah di Australia. Kami masih punya rumah di Toronto, tapi aku tidak tahu apakah orang tuaku pernah ke sana lagi atau tidak.”

Semua orang di meja itu lansung bergumam ‘oh’ dengan nada kagum. Dan ini membuat Ariel merasa gugup, entah kenapa…

“Dari semua negara yang pernah kau datangi, kau paling suka negara apa?”

Ariel mengangkat bahunya, “Prague. Aku bukan tinggal disana sih, hanya berlibur. Tapi kupikir aku benar-benar ingin tinggal disana suatu hari nanti. Atau mungkin aku bisa datang ke sana lagi.”

Semua orang lansgung bergumam kagum, “Kau harus mengajak kami ke sana kapan-kapan,” goda Jiyoo yang disambut setuju oleh semua orang di meja itu.

“Tapi kau suka Korea, kan?” tanya Chunji lagi.

Dengan ragu, Ariel pun mengangguk pelan. Yeah, jujur saja, ia memang cukup nyaman tinggal di Korea.

“Karena ada kami, tentu saja. Iya, kan?” canda Taehyung yang membuat seisi meja kembali ribut.

Ariel tersenyum lebar. Dan tanpa sengaja matanya menangkap sosok Luhan yang kebetulan lewat dan tengah melihat ke arahnya. Secara misterius, laki-laki itu tersenyum ke arah Luhan. Tapi entah karena kebiasaan atau bagaimana, Ariel refleks menjulurkan lidahnya ke arah Luhan yang dibalas pelototan mata pria itu.

Ah, benar. Ariel jadi ingat satu hal…

Luhan. Salah satu alasan ia merasa nyaman berada di Korea adalah Luhan.

 

***

 

“Aku tidak suka kemah…” Ariel mengeluh dengan lesu. Ia hanya memandangi Luhan yang sedang sibuk membereskan barangnya yang akan dibawa untuk acara kemah tersebut. Dan yang membuatnya jengkel, Ariel justru mengeluh sejak semalam. Bukannya mengepak barangnya sendiri, Ariel justru tengkurap sambil memohon pada Luhan, padahal Luhan tak bisa melakukan apapun pada gadis itu.

“Luhan…” Ariel kembali merengek yang membuat Luhan terpaksa melihat ke arah gadis dengan rambut coklatnya itu –ugh! Gadis itu bahkanterus mempertahankan warna rambutnya sejak ia datang ke Korea.

“Demi Tuhan, Ariel Lau! Kau harusnya segera memberskan barang-barangu dan bukannya merengek seperti bayi di atas kasurku! Cepat kembali ke kamarmu!” kata Luhan dengan jengkel dan kembali membereskan barangnya.

Ariel pun bangun dengan kasar, “Karena kau panitia acara ini dan membuatku terjebak dalam acara ini, kau harus mentraktirku daging ayam dan kola selama seminggu!”

Luhan memutar bola matanya malas. Tanpa Ariel membuat permintaan itu pun, Ariel sudah sering sekali menyusahkan Luhan dan membuat uang jajan Luhan semakin sekarat saja. Lebih gila lagi, jika Ariel sudah mengambil kartu ATM Luhan dan mengambilnya untuk membeli novel ataupun manga sialan yang kini mulai menumpuk di kamarnya.

“Iya…iya…terserahmu…”

“Novel juga…”

“Hmm…”

‘Manga juga…”

“Hmm…”

Ariel pun tersenyum lebar. Ia pun melompat dari tempat tidurnya dan langsung melompat ke arah punggung Luhan dan memeluk leher pemuda itu dengan kuat, “Terimakasih banyak Luhan sayang, aku mencintaimu…”

Luhan menggeleng kecil dan tetap membereskan barangnya saat Ariel keluar dari kamarnya. Ugh! Luhan harap Ariel tidak merengek dan membuat Luhan yang harus membereskan barang-barangnya. Yeah, Ariel tipe orang yang seperti itu.

“from : Soojung
Luhan? Kau ada waktu? Bisa temani aku untuk membeli beberapa keperluan untuk besok?”

Luhan membaca pesan singkat yang dikirimkan Soojung. Dengan cepat, Luhan mengetikkan sederet kalimat untuk menyetujui gadis itu, namun saat ia akan mengirimkannya, tiba-tiba kepala alien kecil itu muncul di balik pintu.

“Luhan. Antar aku beli syal. Kau tahu kan aku tidak bisa kedinginan?” senyum Luhan pun langsung lenyap. Dan jujur saja, Luhan benar-benar jengkel setengah mati. Alien pembawa sial…

“Kau kan bisa pakai punyaku,” sahut Luhan berharap ia masih bisa melanjutkan acara kencannya dengan Soojung.

“Ayolah! Kau hanya punya satu jika kau lupa. Ya? Temani aku ya? Aku juga lapar, Kwon Ajumma sepertinya lupa tidak membuat makanan untuk makan malam. Aku ingin jajangmyun. Ya ya ya?”

Luhan mendelik frustasi. Astaga. Gadis ini benar-benar…

“Ariel, kau hilang ingatan? Kau baru saja makan dua jam lalu…”

“Tapi aku masih lapar,”

Luhan mendengus dan menggaruk kepalanya frustasi.

“Luhan…”

“Oke oke aku mengantarmu membeli syal dan jajangmyung. Puas? Sekarang pakai jaketmu dengan benar! Kita naik motorku!”

Ariel pun tersenyum lebar, “Luhan, kau tampan hari ini.”

Luhan mendelik malas, “Tampan kotoran kukumu! Dasar lintah!” gerutunya setelah gadis itu menghilang dari balik pintu.

Dengan terpaksa, Luhan pun menghapus sederet kalimat di layar ponselnya, “Maaf Soojung. Aku benar-benar ingin mengantarmu. tapi aku harus melakukan sesuatu.”

Luhan mendengus panjang. Lagipula Luhan juga naif sekali. Seandainya ia benar-benar mengantar Soojung pun, ia yakin setengah jam kemudian Ariel akan merengek karena ketakutan sendirian di rumah. Gadis itu benar-benar menyusahkan.

 

=to be continued=

20151311 PM0839

Iklan

24 thoughts on “Way of Two Rings (Chapter 2)

  1. Aku suka banget sama tingkah manja nya ariel 🙂 mereka gak ada perasaan sedikit pun eon? Kok mereka kelihatannya kaya kakak-adik aja

    Suka

  2. Hahahahha ariel ariel bisa banget bikin luhan bilang ‘engga’
    Kasian luhan tapi sebenernya mereka berdua saling suka ga sih?
    Rame kak ceritanya
    Suka abiiiis ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s