Let Me Love You

Let Me Love You

By Nidariah

 

***

 

Jia memandangi jari manisnya yang kini terhias cincin cantik berwarna putih. Emas putih. Dan Jia tahu, ia sama sekali tahu jika harga cincin yang dikenakannya bahkan tidak lebih mahal dari pakaian yang ia kenakan saat ini.

Tapi…salahkan laki-laki itu. Laki-laki yang membawa hatinya terjun ke dalam jurang bernama cinta. Yeah, ini memang lucu mungkin, seorang Meng Jia yang selama ini selalu berkata bahwa cita sejati adalah omong kosong, justru kini tengah memotong semua kartu kreditnya dan baru saja menjual apartemen mahalnya dan juga mobil mewahnya. Alasannya sederhana dan mungkin akan terdengar sedikit konyol, karena semua adalah pemberian ayahnya.

“Kau yakin akan menjual semuanya?” tanya Mia yang sedari tadi memperhatikan Jia di ambang pintu. Rasanya lucu sekali melihat seorang Jia yang sangat glamour tiba-tiba membuang semua yang ia miliki hanya karena seorang lelaki yang mengajarkannya tentang sebuah kesederhanaan –katanya.

Jia menarik sudut bibirnya, “Selama ini aku selalu membodohi kesuksesanku, padahal semua adalah milik ayahku. Bukankah itu terdengar lucu?” sahut Jia sambil menatap warna rambut barunya di depan cermin. Lelaki itu tidak suka warna rambutnya yang mencolok, alasan aneh yang menurut Jia cukup masuk akal untuk mengubah warna rambutnya.

“Kau mungkin sedikit gila,” Mia menggelengkan kepala, kemudian menyeret kakinya melenggang pergi meninggalkan Jia. Ia merasa hampr gila karena perubahan drastis Jia.

Sedangkan Jia seera mengambil tas berwarna abu miliknya, hadiah ulang tahun laki-laki bernama William Chang yang dikenalnya setahun lalu di sebuah kafe. Saat itu, ia menjadi penyanyi band indie dan berkenalan secara tidak sengaja dengan Jia. Jia juga sebenarnya hanya ikut bertaruh dengan teman-temannya saja saat menerima pernyataan cinta William. “Siapa yang berhasil menaklukan si lugu William, maka dia akan mendapatkan mobil baruku,” kata Erika saat mereka –Jia dan teman satu gengnya mengagumi ketampanan dan keluguan milik pria bernama William.

Siapa sangka William akan mendekati Jia? Jia tidak peduli, pada awalnya –setidaknya ia tidak peduli meskipun ia tersentuh dengan sikap manis yang ditunjukkan oleh William. Terutama saat Jia berada dalam posisi paling terpuruk. William selalu mendukungnya, sesuatu yang Jia hampir tidak pernah dapatkan bahkan dari kedua orang tuanya ataupun teman-temannya.

 

***

 

Jia berdiri tegak di depan sebuah kamar kost yang tidak terlalu besar. Di sanalah pria bernama William Chang tinggal. Laki-laki yang selama seminggu ini mendiami Jia setelah mendengar pengakuan Jia mengenai taruhan yang dilakukannya dan teman-temannya. Meskipun William tidak berkata bahwa ia membatalkan lamarannya pada Jia.

Jia hampir menarik kakinya masuk ke teras kost tersebut jika saja William tidak keluar dengan tas berisi gitar yang tersampir di punggungnya. Jia tetap berdiri di tempatnya sampai William berbalik dan berdiri membeku manatap Jia terkejut. Dalam pikiran William, sama sekali tidak menyangka akan mendapati Jia di tempat tinggalnya –dengan gaun putih melewati lutut, rambut panjang hitam tergerai, dan sepatu kets berwarna putih. Sama sekali bukan gaya Jia.

Dengan ragu, William pun mendekat dan sekali lagi memandangi Jia dari ujung kaki sampai ujung kepala, “Ada apa denganmu?” bukan itu yang ingin dikatakan William –tapi William juga tidak tahu haus mengatakan apa di situasi ini.

Jia hanya tersenyum kecil, “Aku ingin meminta maaf, dan memberitahumu jika aku sudah berhenti bekerja sebagai manajer hotel. Dan…”

William menaikkan sebelah alisnya, “Dan?”

“Dan aku ingin memulai semuanya denganmu. Dari awal. Aku akan mulai berjuang atas namaku sendiri. Kau ingin bertemu dengan ayahku, kan?”

William mendengus kecil, namun ia kembali angkat suara, “Aku tidak kaya, Jia. Dan…”

“Dan aku tersentuh karena kau rela menjual drum kesayanganmu demi membeli cincin ini,” potong Jia sambil mengangkat jemarinya, memamerkan cincin putih di sana, “Aku sudah lama mencintaimu. Hanya saja…kau tahu, mengakuinya bukan hal mudah. Kau boleh meninggalkanku sekarang jika kau mau, tapi terimakasih…karena kau telah mengajarkanku bahwa cinta bukan dilihat dari kemewahan, karena kau bisa membuatku mencintaimu lewat kesederhanaanmu. Kesederhanaanmu adalah kemewahan yang aku cintai.”

William ingin menyangkal. Sungguh. Ini juga terlalu murahan, seolah-olah Jia baru saja menggombal di hadapannya. William juga marah pada Jia, dan sebenarnya ia juga malu kembali melihat Jia setelah tahu jika Jia bukan gadis dari kalangan biasa. Ia tak punya apapun untuk menjamin kebahagiaan Jia di masa depan, ia tak punya apapun untuk berani tengadah di hadapan orang tua Jia.

“Kau punya ketulusan untuk membahagiakanku, William. Saat melamarku kau bilang, kau tak bisa menjamin kebahagiaanku, tapi kau bisa berusaha untuk membuatku bahagia di seumur hidupku…” Jia menarik napas panjang dan menghembuskannya.

“Jia…”

“Ayo mulai dari awal. Temui ayahku, dan biarkan aku belajar kemewahan lewat kesederhanaan. Kau mau mengajariku, kan?”

 

=The End=

 

Iklan

2 thoughts on “Let Me Love You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s