1407 (Chapter 1)

11204955_1049994305041013_4602101542243997133_n (1)

Title    : 1407

Genre  : Romance, Sad, Marriage Life

Main Cast: Ariel Lau as Ariel Park (OC), Lu Han, Irene Bae as Park Joo Hyun, EXO Chanyeol as Park Chan Yeol

Rating : PG

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

 

***

Luhan ingat saat ia dan Joo Hyun bertemu pertama kali pada sebuah festival yang diadakan di Pantai Busan. Mereka berkenalan di usia 18 tahun dan sama-sama berstatus sebagai seorang pelajar. Dan yang lebih menarik, ternyata mereka berdua sama-sama berasal dari Seoul meskipun berbeda sekolah.

Dan menginjak jenjang kuliah, Joohyun dan Luhan sekali lagi dipertemukan sebagai mahasiswa baru dengan jurusan yang berbeda, namun fakultas yang sama. Mereka mengambil unit kegiatan mahasiswa yang sama –Jurnalistik. Karena Joohyun mengambil fotografi, maka ia sebagai kameramen dan Luhan sebagai editor.

Sayangnya, Luhan hanya bisa berada di kampus itu selama enam bulan sebelum akhirnya ia pindah ke Washington DC atas perimintaan ayahnya. Dan ia kembali ke Korea delapan tahun kemudian, setelah ia berhasil mengambil gelar dokternya dan mendapat izin untuk bekerja di Korea –setelah satu tahun sebelumnya ia bekerja di salah satu RS di Boston.

Menariknya, setelah empat bulan bekerja di SNU Hospital, Luhan kembali bertemu dengan teman lamanya yang telah hilang kontak semenjak kepindahannya ke USA. Park Joohyun. Mereka bertemu lagi sebagai dua orang dengan jalan yang berbeda –Luhan yang semula berkecimpung di dunia seni kini menjadi seorang dokter dan Joohyun yang keras kepala ingin menjadi fotograper justru kini berkecimpung dalam perfilm-an dokumenter.

Luhan tidak ingat bagaimana walnya hingga ia dan Joohyun memutuskan untuk meneruskan hubungan mereka dari seorang teman, hingga menjadi sepasang kekasih –bahkan setelah berhubungan dua tahun, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.

Luhan menarik napas panjang. Ia pun menarik cangkir kopinya yang tak lagi panas dengan tatapan sedikit menerawang. Ia tidak tahu hidup bisa berubah hanya dalam sekejap mata. Bukan hanya tentang hidupnya, tapi tentang semua perasaannya yang begitu berantakkan saat ini. Luhan bahkan tidak tahu, bagaimana caranya untuk ia memulai kembali semua perasaannya yang kacau ini.

“Surat wasiat Nona Park telah dibacakan. Dan surat ini hanya ditujukan untuk Anda dan keluarga Mendiang Nona Park. Sebaiknya, Anda segera menemui keluarga Park.”

Suara Pengacara Jung seolah baru saja menusukkan pisau tajam ke arah gendang telinganya. Ini sudah lewat satu bulan semenjak Park Joohyun dinyatakan hilang dalam kecalakaan pesawat di Florida. Namun dirinya seolah tak pernah siap dengan banyak kenyataan semacam ini.

“Bagaimana bisa Joohyun menuliskan wasiat seolah-olah ia telah mengetahui tentang kematiannya?” Luhan bersuara datar. Ia bisa merasakan kerongkongannya begitu nyeri saat menyebut nama itu lagi.

Pengacara Jung menarik napas berat, “Ya…ini masih jadi pertanyaan. Namun surat wasiat ini menunjukkan bahwa…sepertinya Mendiang sudah memiliki firasat. Surat ini dibuat satu bulan sebelum kejadian. Ia membuatnya saat ia berada di Florida.”

Luhan menarik senyum kecut, “Ia selalu berkata bahwa ia begitu sibuk dengan kegiatannya di Florida. Film dokumenter terakhirnya. Tapi ia masih sempat menulis surat wasiat?”

“Ya…surat wasiat ini bukan hanya menuliskan tentang Anda dan Ariel, tapi tentang studio yang baru dibuatnya, seluruh filmnya, juga lain-lain.”

Luhan mencengkram erat cangkir kopinya, “Begitukah?”

“Ya. dan Tuan juga Nyonya besar telah menyetujui hal ini, mengingat persiapan pernikahan Anda dan Nona Park terhitung tinggall 50 hari lagi.”

“Persetan.” Desis Luhan sebelum menyesap kopinya kembali.

 

***

 

“Aku? Pulang cepat? Kenapa? aku masih ada beberapa kegiatan, Oppa.” sahut Ariel dengan dahi berkerut saat menerima telpon dari Chanyeol –kakaknya. Tepatnya, kakak angkat.

“Ayah dan Ibu memintamu datang sore ini. Ada hal penting yang ingin dibicarakan. Kau harus datang. Ada namamu dalam surat wasiat Joo.”

Ariel yang tengah sibuk menuliskan sesuatu di bukunya mendadak menghentikan seluruh aktivitas tubuhnya, “Namaku?”

“Ya. namamu. Kau harus mendengarnya. Jadi, datanglah. Harus kujemput?”

Ariel menggigit bibirnya ragu. Joohyun dan Ariel memang memiliki hubungan yang cukup baik. Tapi menurutnya, ia tidak sedekat itu dengan kakak angkat tertuanya. Tepatnya, tidak ada alasan untuk membuat namanya perlu repot-repot dituliskan oleh sang kakak.

“Apakah pencarian Eonni telah dihentikan?” topik berubah. Ariel pun memutuskan untuk menutup bukunya dengan tatapan sedikit menerawang. Suasana hatinya berubah aneh.

Terdengar desahan Chanyeol, “Satu bulan waktu yang cukup menurut mereka untuk melakukan pencarian. Maksudku…”

“Dia tidak mati. aku yakin. Joohyun Eonni adalah sosok yang kuat. Dia juga tidak mungkin meninggalkan Luhan Oppa begitu saja. ada banyak hal yang harus Eonni lakukan. Aku…”

“Ariel…”

“Ini tidak masuk akal, Oppa. bagaimana bisa Eonni pergi begitu saja?” dan entah sejak kapan Ariel sudah terisak. Ia tidak pernah berpikir jika Joohyun akan pergi begitu saja. ia yakin. Joohyun masih hidup dan baik-baik saja, “Dia punya 100 film yang harus diselesaikan. Mana mungkin ia…”

“Ariel-ya, cukup. Aku menjemputmu kesana. Sekarang.”

Ya. Park Joohyun adalah gadis dengan sejuta ambisi, 1000 cita-cita, 100 film yang tak pernah selesai dan harus selesai dengan sempurna. Ia selalu berkata bahwa ia harus selalu berhasil dengan semua ide untuk film dokumenternya. Dan Ariel sempat tertawa saat Joohyun pernah berkata, bahwa Luhan salah satu wajah yang membuat film-nya selalu berjumlah 100 karena ide baru selalu muncul setelah ia menyelesaikan satu. Ya. hanya dengan memandang wajah Luhan. Ada cinta tak terhitung yang menjadikan mereka beralasan untuk menikah. Dan bagi Ariel, kecelakaan pesawat itu tak masuk akal…atau akalnya yang tak mau menerimanya.

 

***

 

“Ariel, bagaimana jika kita mengakhiri hubungan kita?”

Ariel yang sedari tadi memilih diam dan menjatuhkan pikirannya pada lamunannya tiba-tiba memutar kepalanya dengan keras ke arah Chanyeol. Kepalanya mendadak sakit mendengar ucapan Chanyeol yang sangat ambigu di telinganya.

“Apa maksudmu?” refleks, suara Ariel meninggi.

Chanyeol tidaklangsung menjawab. Ia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Tentu saja dengan harapan ia bisa memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Ariel –kalimat yang tepat untuk menjelaskan kalimatnya. Karena nyatanya, ini bukan keinginan Chanyeol.

“Menurutmu, apakah Ayah dan Ibu akan memahami hubungan kita saat ini? Kekasih…apakah itu tidak membuatmu merasa bersalah jika kaita mengatakannya pada Ayah dan Ibu?”

Ariel menarik sudut bibirnya sinis, “Ini bukan Park Chanyeol yang menyatakan perasaannya empat tahun lalu. ada gadis lain?” sesinis tarikan sudut bibirnya, suara Ariel masih melengking sinis.

Ariel pun membuka sabuk pengamannya dengan kasar, hendak meninggalkan Chanyeol terlebih dulu. ia sudah dipusingkan dengan beberapa tugas kuliah, juga naskah teater yang terus menagihnya untuk segera selesai. Dan Ariel tidak mau menambah satu beban dengan hubungan percintaan “terlarang” mereka, terutama jika Ariel harus menghubungkan ini semua pada kedua orang tuanya.

“Aku serius, Ariel. Ini demi kita, orang tua kita, dan…”

“Dan gadis lain. Iya, kan?”

“Ini bukan seperti yang kau pikirkan, Ariel!”

Ariel tak mendengar apapun lagi dan tak mau tahu apapun lagi. Ariel menarik tangannya dari cengkraman Chanyeol dan langsung melenggang masuk menuju rumah mereka –rumah Ariel dan keluarga yang dengan baik hati mau mengangkatnya sebagai anak sebelas tahun lalu.

 

***

 

Ariel sama sekali tidak penasaran dengan surat wasiat yang Chanyeol bicarakan di telfon tadi. Yang ia pedulikan saat ini, adalah perasaannya yang berantakkan. Namun, dirinya seolah dijatuhkan ke dalam jurang yang dalam tepat saat pembacaan isi wasiat di baris terakhir mendiang kakaknya.

“Ini seperti sebuah surat, namun Nona Park menuliskannya sendiri. Ia menulis : Aku dan Luhan telah melalui banyak tahun dan sama-sama menyimpan perasaan kami, seolah-olah kami berdua hanya selingan dalam jalan masing-masing. Tapi aku tidak percaya ketika dia kembali datang ke Korea, dan justru mengajakku bermain dalam cinta seperti dongeng-dongeng lainnya. Aku ingin meminta maaf pada Ayah dan Ibu, karena aku memilih untuk tinggal bersama Luhan selama satu tahun ini hingga kami memutuskan untuk menikah. Jantungku berdebar kuat, antara percaya dan tidak percaya. Dengan komitmen yang kami buat, dan perjuanganku untuk mendapatkan hati calon mertuaku, aku selalu merasa…bangga. untuk menginjak di tangga hidup level ini sulit, bukan?

“Ini menakutkan memang. Tapi entah mengapa, Florida membuatku terpikirkan sesuatu yang tak pernah kupikirkan. Bukan hanya tentang film, studio, atau apapun harta bendaku yang kumiliki saat ini. Tapi ini tentang Luhan-ku. Pernikahan kami. Aku dan kita semua tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok, bukan? Namun, karena jalan cerita yang kubuat di Florida, aku memiliki kekhawatiran yang tak masuk akal. Jika aku tak bisa kembali ke Korea, atau ternyata terjadi sesuatu yang membuatku tak bisa memasangkan cincin ataupun memakai cincin pernikahan bersama Luhan, kuharap, Park Ariel, adik perempuanku yang begitu ambisius dalam dunia drama panggung, bersedia untuk menggantikanku.”

Luhan yang sudah tahu isi wasiat itu hanya tersenyum kecut. Merasa lucu dengan pola pikir wanitanya yang selama ini selalu bersikap sok dewsa, arogan, dan memiliki optimisme setinggi eiffel, justru mengkhawatirkan sesuatu semacam ini. Dan semua perasaan kesalnya selalu berujung pada penyesalan –harusnya tiga bulan lalu Luhan tak mengizinkan Joohyun untuk proyek dokumenternya yang dibuat di Kalifornia, Paris, dan Florida itu. Iya. Seharusnya ia bisa membuat Joohyun tetap berada di Korea.

“Itu bohong…” semua mata kini beralih ke arah Ariel yang terlihat shock. Ia tidak pernah berpikir untuk menempuh hidup semacam itu. Tidak. Bahkan ia tidak pernah berpikir bahwa kakaknya akan berpikir untuk membuat pernikahan ini berlanjut bukan atas nama Joohyun, tapi atas nama Ariel.

“Ariel…” Ariel menepis tangan Chanyeol dan menatap lelaki itu dengan nada marah, “Oppa sudah tahu hal ini?”

“Ariel. Aku tahu ini sulit, tapi…”

“Tapi aku tidak bisa melakukannya, Ayah!” Ariel langsung bangun dari tempat duduknya. Menatap ruang keluarga ini dengan nanar. Ia tidak pernah berpikir semua oranga kan menatapnya dengan tatapan yang sama –memintanya untuk melakukan sesuatu yang tak diinginkannya, “Luhan Oppa! kau tahu ini tidak mungkin terjadi, kan? Kau mencintai Joohyun Eonni dan kau tidak mungkin meneruskan pernikahan ini tanpanya, kan?”

“Ariel…”

“Cukup Chanyeol Oppa! kau tahu segalanya! Tidak biasakah kau membelaku saat ini saja? katakan semuanya…”

“Ariel…”

“Ini tidak adil!!!” jerit Ariel sekali lagi membanting tangan Chanyeol. Ini terlalu tiba-tiba dan terlalu membuatnya terkejut. Tidak. Ini bahkan sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia yang menikah dengan Lu Han?

“Ariel! Tidak bisakah kau tenang? Kita bisa membicarakan ini…”

“Membicarakan ini baik-baik dan mendesakku untuk meneruskan wasiat itu?” Ariel menggeleng keras. Hati dan otaknya secara bersamaan langsung menolak ide gila ini. Ia pun langsung mendekati sang ayah dan berlutut di hadapannya, “Ayah, aku tahu aku tak memiliki tetes darah dari keluarga ini, aku tahu aku sama sekali tidak tahu diri dengan melakukan ini. Tapi aku tidak ingin melakukan ini, Ayah. Aku tidak bisa…”

Luhan hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak bisa melihat Ariel berlutut dan memohon seperti itu. Dan diam-diam, Luhan menyeka air matanya yang hampir jatuh, “Kau lihat, Joo? Kau baru saja menorehkan air mata baru. Bukan untukku, tapi untuk adikmu yang selalu kau sebut perempuan hebat. Perempuan yang membuatmu seperti bercermin saat berhadapan dengannya. Kau baru saja menyakitiku, dia, dan juga semua orang disini.” Desisnya dalam hati tanpa melihat sedikit pun ke arah Ariel.

 

***

 

“Biaya yang sudah kita keluarkan sudah menginjak milyar won jika kau lupa, Lu Han. Selain itu, jika pernikahanmu diteruskan, maka tabungannya di Swiss bisa cair. Aku bahkan tidak tahu jika ia dibayar besar oleh perusahaan film dokumenter di New York.”

Luhan tidak menjawab saat sang ibu ikut berkomentar mengenai penolakan yang diberikan oleh Ariel, “Tidak bisakah Ibu tidak membahas uang disini?” Luhan berbicara datar, “Aku juga tidak akan meneruskan wasiat itu jika Ariel tidak menginginkannya.”

“Dan membatalkan pernikahan?” sang ibu menaruh gelas cangkirnya dengan keras, “Sejak awal aku menyuruhmu untuk meninggalkan perempuan itu. Dia bukan tipe perempuan yang tepat untukmu. Bepergian ke luar negri, mengedepankan karirnya, kau kira hubungan seperti apa yang akan kalian bangun dengan kehidupan seperti itu?”

“Tapi kami saling mencintai dan saling mempercayai!”

“Jika kau percaya dunia bisa berubah, maka seharusnya kau perlu mengkhawatirkan cinta dan rasa percaya juga bisa berubah.”

Luhan memejamkan matanya erat, “Hentikan, Bu. Joohyun tak lagi disini. Berhenti menjelekkannya.”

“Maka teruskan wasiat itu jika kau masih membelanya. Bukankah kau mencintainya?” sang ibu menoleh tajam ke arah Luhan, “Kau pikir aku peduli dengan tabungannya di Swiss? Tidak. Aku bahkan tidak akan bertanya jika uang itu benar-benar jatuh padamu. Aku hanya berpikir itu yang terbaik.”

Luhan memutar kepalanya ke arah jendela rumahnya yang lembab oleh air hujan. Yang terbaik. Luhan mengulang kalimat sang ibu di kepalanya. Luhan tidak yakin apa yang membuat ibunya begitu yakin pada Ariel –sangat berkebalikan dengan reaksi yang diberikannya untuk Joohyun.

Dan jika berbicara soal keluarga Park. Luhan sangat yakin mereka akan menyetujuinya meskipun dengan berat hati. Park Joohyun putri kesayangan mereka. Hanya tinggal menunggu apakah Ariel akan tetap menolaknya atau meneruskannya.

 

=to be continued=

20160126 PM0337

 

 

Iklan

9 thoughts on “1407 (Chapter 1)

  1. lhoo…. ini jg sm cerita ny dgn agape dan Just The Way We Love..
    beda2 cast ny aja…
    tp park chanyeol tetap… ckkkk…

    semua ny seru… baik yg versi myungso, kai, dan luhan…
    konflikny emang daebak…
    meskipun cerita ny sm tp aku nangkep feel ny agak beda, krn cast yg beda2.
    soal ny ud terbiasa dgn masing2 karakter dr myungso kai dan luhan d stiap ff yg ku baca.
    jd ke bawa2 deh ksini.. hhe….

    pengen tau ni apa alasan authorim buat ff dgn 3 judul yg berbeda, cast yg berbeda(kecuali chanyeol, ckk..) tp cerita ny sama????

    ap mungkin kedepan ny akan selalu sm?

    sorry… aku kepo… hhe…
    viss….

    Disukai oleh 1 orang

    • hihi, ceritanya emang sama, cuma judul dan cast yang beda ^^ –jujur aja, sebenernya ini menyesuaikan dengan poster yang udah ada *sungkem

      but thanks for reading ^^

      Suka

  2. Diantara 3 versi karakter.. Ak plng suka sm Luhan n Ariel..
    Ak fans mrka bdua 😊
    Klo ak jd ariel.. Ak ga mau gt aj d suruh nikah sm pacar kk ku sndr. Aneh n canggung rasany
    Trus gmn pula jika andaikata Joo sbnrrny blm meninggal n ntar dia balik lg!! Smntra ariel n luhan dh nikah… Hedehhh
    D tgg kelanjutanny

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s