#WINTERGARDENPROJECT She is…He is…

12548913_1154256464614796_9052720412831343945_n

She is…He is… by Nidhyun

***

Menurutmu, apa yang diharapkan cinta anak SMP?

Terutama jika perasaan itu ditujukan untuk perempuan berambut panjang yang selalu duduk bersila di balkon rumahnya. Dengan segelas kopi yang mengepul, headphone berwarna putih yang tidak ia ganti sejak setahun lalu, ditambah satu buah laptop yang selalu duduk di pangkuannya.

Yeah, tidak ada yang menarik, sih. Dia tidak semenarik itu sampai aku perlu tahu detail yang ia lakukan. Tapi kenyataannya, aku tahu detail tentang dirinya. Detail luarnya. Kegiatannya, pakaiannya, rambutnya, senyumnya, apa yang ia bicarakan…

Sayangnya aku tak punya nyali sebesar itu untuk menyapanya. Belum lagi, perempuan itu juga terkenal cukup buruk dalam masalah sosial. Para tetangga –termasuk ibuku—suka sekali membicarakannya. Termasuk membicarakan alasan ia sering sekali pulang ke rumah sedangkan ia sedang berkuliah saat ini.

Iya. Dia mahasiswa. Mungkin dia cerdas. Saat SMA, dia selalu membaca buku tiap pagi dan sore. Kadang, dia juga memuta musik dengan keras. Seolah tidak peduli beberapa tetangga juga sempat membicarakannya soal ini –dia aneh.

Tapi bagiku tidak. Dia normal. Dia dekat dengan adik-adiknya. Dia selalu menjadi seorang kakak yang bisa diandalkan, yang bisa dijadikan seorang panutan. Dia baik. Kesimpulan itu aku tarik begitu saja karena saking seringnya aku memperhatikan dia sejak SD.

“Jungkook, kan?”

Dan suatu hari, dia menyapaku. Menyebut namaku. Tak lupa dengan tarikan senyum di sudut bibirnya. Mungkin itu senyum yang kaku –aku sering melihatnya tersenyum, tapi bukan untukku. Dan saat tersenyum ke arahku. Akhirnya aku tahu betapa kakunya saat ia tersenyum dengan nada dipaksakan seperti itu.

“I-iya. Ada apa, Nuna?” aku tidak berani betapa buruknya wajahku ketika menyahutinya. Mungkin terlihat bodoh, idiot, tolol, semuanya…. namun yang terbaik, dia mengingat namaku. Dia tahu namaku meskipun kami belum pernah berkenalan.

Dia tersenyum lebih lebar. Kali ini, dia merogoh sesuatu dari ransel hitamnya. Kami sedang berada di halte bus yang sama, aku baru saja pulang sekolah, dan aku…tidak tahu kenapa dia bisa berada di sini.

“Harusnya aku memberikan ini pada ibumu di rumah. Tapi aku harus pergi ke Incheon hari ini, dan aku lupa untuk memberikan ini,” dia mengulurkan tangannya, menunjukkan sesuatu berwarna putih gading.

Dengan gugup, aku pun meraih benda itu –yang ternyata sebuah undangan.

“Ibuku sedang tidak di rumah. Kebetulan kita bertemu di sini. Berikan ini pada orang tuamu ya. kau juga harus datang. Aku akan senang jika kalian datang,” sekali lagi dia tersenyum ke arahku –kali ini tidak membuatku senang, tapi terluka.

Aku ingin mengatakan sesuatu padanya –apapun. Sayangnya, tak satupun kata muncul dalam kepalaku. Tahu-tahu, aku melihatnya berbalik ke arah jalan dan mengangkat kepalanya. Entah mengapa, aku terhipnotis untuk ikut melakukannya –menengadah menatap langit yang ternyata baru saja menurunkan salju putih yang menari-nari menuju tanah.

Ah, aku jadi teringat sesuatu.

Dia juga suka salju. Dia selalu memandangi salju seolah salju adalah pria tampan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Hal itu juga berlaku untuk hujan dan angin. Sampai sekarang, aku tidak tahu alasannya…

Dan kupikir, sampai kapanpun aku tidak akan tahu alasannya.

Meskipun terus terang saja, dia adalah objek terbaik retina mataku saat musim dingin.

Tapi kupikir, aku tidak tertarik lagi untuk mencari tahu seseorang yang akan memakai cincin dari orang lain…meskipun itu hanya kebohongan.

 

***

 

“Itu foto siapa, Hyo?” seorang perempuan berambut sebahu sedikit mngintip ke arah foto yang tengah dipandangi oleh Hyo Eun di ponselnya. Seorang laki-laki dengan seragam SMP yang tengah berjalan di antara salju tipis.

“Tetanggaku,” sahut Hyo Eun santai. Kemudian ia pun mengangkat ponselnya dan memamerkan foto itu dengan bangga, “Sudut pandang yang bagus, kan? Dia tetanggaku. Dia menggemaskan. Jika dia seumuranku, kurasa jatuh cinta padanya bukan hal sulit.”

Bukan hanya perempuan berambur sebahu itu saja yang tertawa, tapi ketiga teman Hyo Eun yang lain juga ikut tertawa. Hyo Eun memang seperti itu, tiap kali dia menyukai seseorang, pasti dia akan memotretnya.

“Kau sudah akan menikah dan masih melirik laki-laki lain? Dan dia adalah anak kecil? Astaga. Kau gila,” komentar teman Hyo Eun yang lain.

Hyo Eun hanya mengedikkan bahu. Ia tidak peduli meskipunia ditertawakan. Ia memang suka memperhatikan anak laki-laki yang kemarin sore berpapasan dengannya. Terutama ketika mereka tanpa sengaja berangkat bersama dan Hyo Eun berjalan di belakang nya. Dia sudut pandang yang bagus untuk berbagai musim. Objek musim dingin dan musim gugur terbaik.

Tapi dia hanya suka memperhatikannya. Dia menggemaskan. Dia menarik. Tapi apa yang diharapkannya dari seorang anak SMP? Yeah…dia hanya objek musim dinginnya –sejak empat tahun silam. Sejak dia pindah dan menjadi tetangganya.

.

.

.

Cinta bisa seaneh itu, kan?

 

=the end=

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s